Tag Archives: Yerusalem

Yehezkiel 22:6-16

Kota penumpahan darah
Oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yeh. 22:6-16 [ITB])
6 Lihat, masing-masing pemimpin Israel mengandalkan kekuatannya di tengah-tengahmu untuk menumpahkan darah.
7 Padamu ayah dan ibu dihina dan di tengah-tengahmu orang melakukan pemerasan terhadap orang asing, padamu anak yatim dan janda ditindas.
8 Engkau memandang ringan terhadap hal-hal yang kudus bagi-Ku dan hari-hari Sabat-Ku kaunajiskan.
9 Padamu berkeliaran orang-orang pemfitnah dengan maksud mencurahkan darah dan orang makan daging persembahan di atas gunung-gunung; kemesuman dilakukan di tengah-tengahmu.
10 Padamu orang menyingkapkan aurat isteri ayahnya dan memperkosa perempuan pada waktu cemar kainnya yang menajiskannya. 11 Yang satu melakukan kekejian dengan isteri sesamanya dan yang lain menajiskan menantunya perempuan dengan perbuatan mesum, orang lain lagi memperkosa saudaranya perempuan, anak kandung ayahnya.
12 Padamu orang menerima suap untuk mencurahkan darah, engkau memungut bunga uang atau mengambil riba dan merugikan sesamamu dengan pemerasan, tetapi Aku kaulupakan, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
13 Sungguh, Aku bertepuk tangan mengenai keuntunganmu yang haram yang kaudapati dan mengenai darah yang dicurahkan di tengah-tengahmu. 14 Apakah hatimu akan tetap teguh dan tanganmu merasa kuat pada masa Aku bertindak terhadap engkau? Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan yang akan membuatnya. 15 Aku akan menyerakkan engkau di antara bangsa-bangsa dan menghamburkan engkau ke semua negeri dan Aku akan mengikis kenajisanmu dari padamu. 16 Maka engkau akan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa karena kesalahanmu sendiri, dan engkau akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.

Yerusalem disebut kota penumpahan darah telah dicatat dalam banyak ayat di Yehezkiel 22 (ayat 2, 3, 4, 6, 9, 12, 13, 27), menjadi subjek fokus dari pasal ini, dan ayat 6- 16 mencatat secara rinci perbuatan jahat yang dilakukan, sebagian besar isinya berkaitan dengan Peraturan Kekudusan (Holiness Code) (Imamat 17 – 26, klik untuk membaca pengantar).

Perikop Alkitab ini dimulai dengan menumpahkan darah (ayat 6), yang sesuai dengan deskripsi dalam Imamat 17:4, sedangkan ayat 7 menyebutkan ayah dan ibu dihina, pemerasan terhadap orang asing dan anak yatim dan janda ditindas, semuanya disebutkan dalam larangan Imamat 19; memandang rendah terhadap hal-hal yang kudus suci dan pelanggaran hari Sabat (ayat 8), semua ini adalah perhatian utama dari Peraturan Kekudusan, ayat 9-11 menyebutkan dalam perilaku seksual ilegal terkait dengan inses dan percabulan yang disebutkan dalam Imamat 18 dan 20. Dengan demikian, Yehezkiel membandingkan isi dari Peraturan Kekudusan dalam Kitab Imamat dengan perbuatan jahat Yehuda saat ini, dan menemukan bahwa mereka melakukan apa yang tidak diperbolehkan oleh hukum Taurat, bahkan lebih jahat daripada bangsa- bangsa lain.

Pusat teologis dari Peraturan Kekudusan dalam Kitab Imamat 17 – 26 adalah Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus (Imamat 19:2). Alasan mengapa orang Israel menaati perintah Allah, bukan karena legalisme (ketaatan secara ketat terhadap peraturan hanya sekadar untuk memenuhi tuntutan), tetapi karena untuk menghayati menghidupi kekudusan Allah, untuk menghidupi cahaya kudus Allah melalui norma-norma moral, menjalankan hukum Allah sehingga dengan demikian dihubungkan pada identitas bangsa Israel sebagai umat yang kudus, dan juga keterhubungan dengan Allah yang kudus dan ilahi, karena identitas ilahi ini, maka mendominasi / mengarahkan semua moral, kata-kata dan perbuatan orang Israel. Namun, orang Israel dari generasi Yehezkiel tidak dapat mempertahankan pengakuan atas identitas ini, mereka menjalani hidup sesuai dengan kemauan kesenangan preferensi dan nafsu mereka sendiri, dan melakukan secara maksimal kebiasaan Kanaan, yang tidak layak untuk status mereka sebagai umat kudus. Dengan demikian, mereka seolah-olah memiliki nama sebagai umat kudus, tetapi perilaku mereka sama sekali jauh dari identitas ini, jauh seperti selatan dengan utara.

Di antara semua perbuatan jahat ini, penumpahan darah manusia adalah kejahatan yang paling serius. Hutang darah harus diperhitungkan pada diri orang yang telah menumpahkan darah, dan orang itu haruslah dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya (Imamat 17:4)). Tapi sekarang seluruh Yerusalem penuh penumpahan darah, Allah akan melenyapkan semua penduduk dan pemimpin Yerusalem sesuai dengan tuntutan hukum. Oleh karena itu, ayat 15-16 menunjukkan bahwa orang Israel akan tercerai-berai di antara bangsa-bangsa dan dipermalukan di depan bangsa-bangsa, dengan tujuan agar engkau akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN. Sering kali, ketika kita berbuat dosa dengan bodoh dan tidak mau tahu apa-apa, kita tidak mau tahu siapa penguasa kehidupan, tetapi ketika semua pembalasan datang kepada pelanggar, orang akan tahu bahwa penguasa kehidupan bukanlah diri kita sendiri, tetapi TUHAN Yahweh, itulah makna mengetahui bahwa Akulah TUHAN. Dan Akulah TUHAN juga merupakan kata yang diulang-ulang dalam Peraturan Kekudusan dalam Kitab Imamat, terutama dalam Imamat pasal 19 banyak ketetapan hukum diikuti dengan kata Akulah TUHAN, Allahmu, yakni agar orang paham bahwa tujuan taat hukum ketetapan Allah adalah untuk mengakui fakta bahwa Akulah TUHAN. Pengakuan atas Akulah TUHAN (Yahweh) juga merupakan pengakuan dan pengenalan atas identitas diri, bangsa Israel harus mengakui bahwa TUHAN (Yahweh) adalah Penguasa kehidupan, dan oleh karena itu umat Israel diingatkan untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan status mereka sebagai umat Allah yang kudus.

Renungkan:
Identitas seseorang menentukan perilaku seseorang, apa yang dilakukan seseorang berasal dan ditentukan identitas apa yang dimiliki seseorang. Seberapa besar pengakuan dan pengenalan Anda terhadap identitas Anda sebagai umat kudus Allah? Bagaimana kejahatan orang Israel dari generasi Yehezkiel menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi Anda?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 21-28 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasikan pada bulan Januari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 16:44-52

Begitu ibu, begitu anak!

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 16:44-52 [ITB])
44 Lihat, setiap penyair akan mengatakan sindiran ini mengenai engkau: Begitu ibu, begitu anak!
45 Anak ibumu engkau,
………yang jijik melihat suaminya dan anak-anaknya lelaki,
dan adik kakak-kakakmu perempuan engkau,
………yang jijik melihat suami-suami mereka dan anak-anak mereka lelaki.
Ibumu adalah orang Heti
………dan ayahmu adalah orang Amori.
46 Kakakmu yang tertua ialah Samaria,
………yang beserta anak-anaknya perempuan diam di sebelah utaramu,
dan kakakmu yang termuda ialah Sodom,
………yang beserta anak-anaknya perempuan diam di sebelah selatanmu.
47 Bukankah engkau hidup menurut perbuatan mereka dan engkau lakukan seperti perbuatan-perbuatan mereka yang keji; sebentar lagi saja engkau berbuat lebih jahat dari mereka dalam seluruh hidupmu.
48 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, sesungguh-sungguhnya Sodom, kakakmu yang termuda beserta anak-anaknya perempuan tidak berbuat seperti engkau lakukan beserta anak-anakmu perempuan. 49 Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin. 50 Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan kekejian di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu.
51 Dan Samaria tidak membuat setengahpun dari dosa-dosamu, bahkan engkau melakukan lebih banyak kekejian dari mereka berdua, sehingga dengan segala kekejian-kekejianmu yang engkau lakukan, engkau membuat kakak-kakakmu perempuan kelihatan benar.
52 Tanggunglah nodamu, hai engkau, yang mengakibatkan hukuman lebih ringan kepada kakak-kakakmu perempuan; dengan dosa-dosamu yang lebih keji dari mereka, mereka lebih benar dari padamu.
Biarlah engkau merasa malu dan tanggunglah nodamu, oleh karena engkau membuat kakak-kakakmu perempuan kelihatan benar.

Paragraf ini Yeh. 16:44-52 dalam teks aslinya dimulai dengan Lihat, dan memakai cara sindiran untuk berbicara (ayat 44), ada pepatah pada saat itu Begitu ibu, begitu anak!, Yehezkiel memakainya untuk menjelaskan kejahatan Yerusalem.

Pertama-tama, kitab suci menyatakan bahwa ibu Yerusalem adalah orang Heti (ayat 45), dan dia memiliki dua saudara perempuan, kakak perempuannya adalah Samaria, dan Sodom (ayat 46). Mengapa ada hubungan yang aneh ini? Dipercaya bahwa Yehezkiel berbicara tentang Yerusalem sebelum ditempati oleh orang Israel, pada saat itu, Yerusalem adalah Yebus, dan Sodom juga merupakan kota penting di Kanaan, maka keduanya disebutkan sebagai kakak adik; dan orang Heti dahulunya juga merupakan penduduk utama dari tanah Kanaan, maka Yehezkiel menggunakan metafora ini adalah agar orang Israel mendengar hubungan antara kota-kota Kanaan ini, disindir bahwa tingkat moral Yerusalem yang diduduki orang Israel saat ini sama seperti Yebus dahulu , bahkan lebih buruk daripada saudara perempuannya Samaria dan Sodom. Dengan cara ini, Yehezkiel menggunakan pepatah populer Begitu ibu, begitu anak! untuk menegur bahwa hakikat Yerusalem ini adalah noda kecemaran Kanaan.

Namun, ketika Yehezkiel memberitakan perkataan ilahi ini, Samaria telah dihancurkan, dan Sodom telah ditiadakan oleh Allah karena dosa-dosanya. Mereka semua menerima pembalasan yang sepatutnya. Yerusalem yang sekarang masih ada, mungkin berpikir bahwa dirinya diberkati, terutama memiliki cinta kasih dan pemeliharaan TUHAN, siapa tahu Yehezkiel justru mengejutkan orang dengan mengatakan: dosa Yerusalem lebih besar daripada dosa Samaria dan Sodom. Kitab Suci menunjukkan bahwa dosa Sodom belum sampai taraf seperti Yerusalem (ayat 48), Samaria tidak melakukan setengah dari dosa Yerusalem (ayat 51), pada saat itu orang Israel percaya bahwa Samaria dan Sodom adalah kota dosa, tetapi tidak berpikir kejahatan diri mereka lebih bahkan lebih buruk. Yehezkiel menggunakan metafora ini untuk menggambarkan tingkat kejahatan Yerusalem, agar orang-orang memahami bahwa Yerusalem akan hancur seperti Samaria dan Sodom.

Renungkan:
Yerusalem tidak tahu hakikat asalinya, dan masih menilai diri sendiri baik. Yehezkiel ingin menggunakan ungkapan Begitu ibu, begitu anak! untuk menjelaskan sifat berdosanya, dan juga menggunakan perbandingan Sodom dan Samaria untuk menunjukkan bahwa tingkat kejahatan di Yerusalem telah mencapai titik ekstrem. Berapa banyak yang kita ketahui tentang diri kita? Apakah saya sering berpikir bahwa saya lebih baik dari orang lain? Marilah kita melihat hakikat asali diri kita dan bertobat lebih awal.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yohanes 2:13

「Yesus dan Yerusalem」

Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 2:13 [ITB])
13 Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.

Kisah Yesus membersihkan Bait Suci tidak hanya muncul dalam Injil Yohanes, tetapi juga dalam keempat kitab Injil. Namun, menurut ketiga Injil lainnya, pembersihan Bait Suci oleh Yesus adalah tahap terakhir dari kehidupan pengabaran Injil-Nya, dan hanya Injil Yohanes yang mencatat peristiwa ini di awal kehidupan pengabaran Injil-Nya. Untuk menyeimbangkan perbedaan antara kedua catatan tersebut, beberapa ahli percaya bahwa Yesus membersihkan Bait Suci dua kali, sekali di awal dan sekali lagi di akhir kehidupan pengabarannya. Tentu saja, kita belum perlu berurusan dengan perbedaan itu di sini.

Bagaimanapun, Injil Yohanes mencatat bahwa Yesus memasuki Yerusalem untuk Paskah pada tahun-tahun awal kehidupan pengabaran Injil-Nya, dan itu mengungkapkan ketegangan halus antara Yesus dan Yerusalem — Yesus menghancurkan jalannya perdagangan di Bait Suci pada Paskah di Yerusalem; kemudian, pada Paskah di Yerusalem juga Yesus dipaku sampai mati di kayu salib. Jangan lupa! Yesus adalah Mesias, Dia adalah Raja orang Yahudi; dan Yerusalem justru adalah kota suci orang Yahudi. Hubungan antara Yesus dan Yerusalem tampaknya tidak terlalu baik.

Injil Yohanes secara khusus memperlihatkan bahwa tindakan pembersihan Bait Suci setelah pesta perkawinan di Kana, membentuk kontras yang luar biasa. Pesta pernikahan Kana adalah berkat di atas sukacita. Namun, kisah pembersihan Bait Suci adalah menjungkirbalikkan dan menghancurkan sistem nilai yang ada. Jelas, Yesus menantang apa yang ada di Bait Suci ini. Kita bertanya, apa arti Yerusalem? Ada dua Paskah, pertama adalah Yesus menghancurkan perbuatan duniawi Bait Suci, dan kedua kalinya adalah perbuatan duniawi meruntuhkan Yesus — Yesus Kristus sebagai Bait Suci. Namun, dua menghancurkan dan meruntuhkan tampaknya membawa hasil yang baik. Jadi, bagaimana kita bisa memahami menghancurkan dan meruntuhkan?

Renungkan:
Apakah ada sesuatu yang dihancurkan atau diruntuhkan dalam hidup Anda? Apakah itu berkat? Atau kutukan? Mari kita renungkan kembali.


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 2:1-3:15

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 2:1-3:15 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 1:3-6

「Kesedihan puteri Sion」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 1:3-6 [ITB])
3 Yehuda telah ditinggalkan penduduknya karena sengsara dan karena perbudakan yang berat; ia tinggal di tengah-tengah bangsa-bangsa, namun tidak mendapat ketenteraman; siapa saja yang menyerang dapat memasukinya pada saat ia terdesak.
4 Jalan-jalan ke Sion diliputi dukacita, karena pengunjung-pengunjung perayaan tiada; sunyi senyaplah segala pintu gerbangnya, berkeluh kesahlah imam-imamnya; bersedih pedih dara-daranya; dan dia sendiri pilu hatinya. 5 Lawan-lawan menguasainya, seteru-seterunya berbahagia.
Sungguh, TUHAN membuatnya merana, karena banyak pelanggarannya; kanak-kanaknya berjalan di depan lawan sebagai tawanan.
6 Lenyaplah dari puteri Sion segala kemuliaannya; pemimpin-pemimpinnya bagaikan rusa yang tidak menemukan padang rumput; mereka berjalan tanpa daya di depan yang mengejarnya.

Lenyaplah segala kemuliaannya dari puteri Sion

Ratapan Yeremia 1:3-6 menggunakan dia (feminin) sebagai personifikasi untuk menggambarkan kota Sion Yerusalem sebagai puteri Sion (ayat 6). Alasan mengapa Kitab Suci menggunakan kata ganti feminin menggambarkan Sion adalah budaya saat itu untuk membawakan simbol kerapuhan. Kata ganti orang dia (feminin) ini mendominasi penulisan ayat 3-6: her persecutors (penindasnya) (ayat 3, lihat KJV), she dwelleth among the heathen (ia tinggal di tengah-tengah bangsa-bangsa) (ayat 3), memasukinya pada saat ia terdesak (ayat 3), pintu gerbangnya (ayat 4), imam-imamnya (ayat 4), dara-daranya (ayat 4), dia sendiri (ayat 4), Musuhnya (ayat 5) , seteru-seterunya (ayat 5), kanak-kanaknya (ayat 5), pelanggarannya (ayat 5), pemimpin-pemimpinnya (ayat 6), dll., jadi, ayat 3-6 ini adalah paragraf yang menggambarkan tentang penderitaan nya (feminin penuh kerapuhan).

Ayat 3 dimulai dengan Yehuda pergi ke penawanan (KJV / IMB) (kata penawanan tidak diterjemahkan dalam ITB) membawakan letak tema utama, penawanan yang menyebabkan Sion mengalami sengsara dan besarnya pekerjaan berat (affliction and great servitude). Kata besarnya pekerjaan berat dapat diartikan sebagai pekerjaan seperti budak (lihat ITB perbudakan yang berat), dan juga dapat diartikan sebagai pekerjaan pelayanan persembahan korban di Bait Suci. Kitab Suci menggunakan frasa bermakna ganda ini untuk menunjukkan bahwa ritual orang Yehuda di masa lalu yang dilakukan dalam kemunafikan mengakibatkan perbudakan yang berat di masa sekarang ini, dapat dikatakan sebagai menderita akibat buah perbuatan yang dilakukan sendiri.

Ayat 4 melanjutkan tema meratap sedih dari ayat 2, menggunakan empat sedang (tidak diterjemahkan secara eksplisit dalam bahasa Indonesia): jalan-jalan ke Sion sedang diliputi dukacita, sedang sunyi senyaplah segala pintu gerbangnya, sedang berkeluh kesahlah imam-imamnya dan sedang bersedih pedih dara-daranya. Keempatsedang ini menunjukkan bahwa semua bangunan dan orang di Kota Sion sedang mengalami berbagai macam penderitaan, apakah itu jalan atau gerbang, iman atau para dara tidak ada yang luput. Ayat 5 dimulai dan diakhiri dengan lawan-lawan, awal dan akhir yang bersahutan ini menjelaskan kondisi lawan-lawan yang berbahagia dan Sion yang sengsara. Kitab suci tidak menyebutkan identitas musuh-musuh ini, karena penyair Ratapan dengan sengaja menuliskan seluruh kitab Ratapan Yeremia sama sekali tidak menyebutkan kata-kata Babilon, Kasdim.Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Sion dihancurkan bukan karena identitas dan kekuatan musuh, tetapi hanya karena melanggar TUHAN (Yahweh) dan mengkhianati-Nya. Akhirnya, puteri Sion muncul untuk pertama kalinya di ayat 6. Alasan mengapa dia rapuh adalah karena dia telah kehilangan semua kemuliaannya. Kata kemuliaan ini sering digunakan untuk menggambarkan kehadiran Allah (Mazmur 29:4; 96:6; Yes. 2:10, 19, 21), ini menunjukkan bahwa Sion tanpa kehadiran penyertaan Allah sama saja dengan tidak memiliki apa-apa. Tidak peduli berapa banyak kekayaan dan pasukan yang dia miliki, jika semua ini tanpa penyertaan Allah, tidak peduli seberapa besar benteng itu, semuanya akan menjadi rapuh tak akan dapat bertahan. Ternyata Sion dihancurkan bukan karena kekuatan musuhnya, tetapi karena Allah sudah meninggalkannya. Karena itu, ayat 3 dimulai dengan pengasingan, dan ayat 6 diakhiri dengan tidak adanya penyertaan Allah (lenyaplah segala kemuliaan dari puteri Sion).

Renungkan:
Jika bukan karena kehadiran penyertaan Allah, semua kemuliaan seorang puteri Sion akan sia-sia, dan seberapa sering kita dibingungkan oleh kekayaan, identitas, status, dan derajat di depan kita, menempatkan makna hidup di atas semua ini, dan sama sekali melupakan Allah yang ada di balik yang memberi kita semua ini? Apakah pandangan mata kita beriman bahwa penyertaan Allah lebih menarik dari semua ini, dan lebih dari segala yang kita rindukan di dalam hati kita?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Mikha 4:1-8

「TUHAN adalah Raja」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Mikha 4:1-8 [ITB])
1 Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, 2 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem. 3 Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. 4 Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut TUHAN semesta alam yang mengatakannya.

5 Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, tetapi kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah kita untuk selamanya dan seterusnya.

6 Pada hari itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengumpulkan mereka yang pincang, dan akan menghimpunkan mereka yang terpencar-pencar dan mereka yang telah Kucelakakan. 7 Mereka yang pincang akan Kujadikan pangkal suatu keturunan, dan yang diusir suatu bangsa yang kuat, dan TUHAN akan menjadi raja atas mereka di gunung Sion, dari sekarang sampai selama-lamanya. 8 Dan engkau, hai Menara Kawanan Domba, hai Bukit puteri Sion, kepadamu akan datang dan akan kembali pemerintahan yang dahulu, kerajaan atas puteri Yerusalem.

Terdapat kontras yang sangat kuat antara Mikha pasal 3 dan 4. Ayat 3:12 baru saja menggambarkan kehancuran gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan, kemudian ayat 4:1 segera menyatakan bahwa gunung rumah TUHAN (Yahweh) akan berdiri kokoh. Ayat 3:9-12 dan 4:1-4 keduanya terkait tentang masa depan Yerusalem, satu bagian adalah prospek yang lebih dekat yang bersifat penghakiman, dan yang satu lagi adalah prospek jauh kelak yang bersifat pemulihan dibangkitkan.

Ayat 4:1-8 dapat dibagi menjadi tiga bagian: bagian pertama adalah ayat 1-4, menggambarkan keadaan kebangunan rohani; ayat 5 adalah nasihat kepada orang-orang, menunjukkan iman yang harus dimiliki oleh umat sisa; dan yang terakhir ayat 6-8 menjelaskan bagaimana TUHAN (Yahweh) mengumpulkan mereka untuk kepulangan kembali.

Dalam 4:1-4, ditunjukkan bahwa dalam pemulihan yang akan datang kelak, bukan hanya orang Israel yang akan menerima anugerah. Ketika gunung Bait Allah (Yahweh) berdiri tegak, semua bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke gunung ini, dan banyak kelompok suku bangsa akan ditarik untuk datang ke sini. Penghakiman TUHAN (Yahweh) akan dilaksanakan di antara suku-suku bangsa dan negara yang besar dan jauh sekalipun. Pada saat itu TUHAN (Yahweh) akan memimpin seluruh bumi untuk hidup dalam damai, setiap orang bisa hidup tinggal dalam ketenteraman, dan tidak ada yang menakuti mereka.

Ayat 4:6-7, TUHAN akan mengumpulkan sisa-sisa Israel untuk kembali. Di sini menggambarkan keselamatan setelah bencana, sekali lagi menunjukkan perpindahan fokus dari nasihat kepada generasi saat ini beralih kepada harapan masa depan. Perhatikan bahwa yang pincang dan yang diusir adalah partisipatif tunggal, tidak merujuk pada individu pribadi, tetapi seluruh Israel, ia menjadi lumpuh dan diusir oleh hukuman TUHAN (Yahweh), tetapi pada hari akhir Ia akan mengumpulkan mereka, dan Dia akan memerintah atas mereka di Sion, dan membangun Kerajaan yang akan berdiri selamanya.

Ayat 4:8 tiba-tiba dimulai dengan engkau sebagai panggilan secara independen terpisah. Dalam teks bahasa asli, kata engkau dan sekarang (yang muncul berulang kali dalam ayat 7, 9, 10, 11) sangat mirip secara bentuk huruf dan pengucapannya, dan mungkin memiliki efek menyatakan kontras. Di ayat 8 ini, kata Migdal-eder (Menara Kawanan Domba) dan Bukit puteri Sion tampaknya merupakan nama tempat. Migdal-eder diterjemahkan sebagai Menara Kawanan Domba dalam mayoritas terjemahan Inggris dan Indonesia (namun ITL sebagai Migdal-eder) , mewakili posisi tugas Yerusalem sebagai pengawasan dan kepemimpinan di Israel. Bukit puteri Sion dapat merujuk ke bukit antara Bait Suci dan kota Daud, yang dalam 2 Tawarikh 27:3 dan Nehemia 3:26 disebutkan Ofel , menunjukkan bahwa pusat pemerintahan ada di Yerusalem. TUHAN (Yahweh) menunjukkan di sini bahwa Yerusalem akan kembali dipulihkan kemuliaannya. (Mikha 4:8 dalam terjemahan ITL Maka engkau, hai Migdal-eder, hai Ofel puteri Sion! kemuliaanmu akan datang, bahkan, pemerintahan yang dahulu itu akan datang, yaitu kerajaan puteri Yeruzalem!)

Di antara seluruh paragraf, nasihat dalam ayat 5 tampaknya relatif berbeda dari berita yang dibicarakan dalam konteksnya (teks sebelum dan sesudahnya), dan khususnya seperti bertentangan dengan yang di atas. Yang sebelumnya adalah pengaruh kebangunan rohani secara umum terhadap dunia, bangsa-bangsa dan semua negara akan kembali berada di bawah bimbingan TUHAN (Yahweh). Di sini, penekanan sekali lagi ditempatkan pada diri orang Israel, dan bahkan manifestasi nyata yang seharusnya ditunjukkan mereka dikontraskan dengan bangsa-bangsa. Bisa jadi penulis beralih dari menggambarkan pemulihan kebangkitan dan masa depan berpindah fokus kembali terhadap orang Israel di masa itu, dan memberikan nasihat kepada mereka. Nabi Mikha menunjukkan bahwa karena TUHAN hendak menggenapkan hal-hal besar di masa depan, maka umat milik-Nya di hari ini harus bertindak dan berperilaku atas nama TUHAN (Yahweh) Allah mereka. Harapan masa depan perlu diterapkan pada kehidupan saat ini. Sebagaimana diingatkan kepada kita dalam 1 Yohanes 3:2-3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Renungkan:
Kita semua percaya bahwa Tuhan akan menggenapkan keselamatan dan pemulihan secara sepenuhnya pada hari-hari akhir, tetapi apakah kita hari ini bertindak sesuai dengan harapan ini, sehingga menghidupi kesaksian iman ini?


Renungan pemahaman Kitab Mikha

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yoel 3:16-21

「Tuhan Benteng Perlindungan Kita」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yoel 3:16-21 [ITB])
16 TUHAN mengaum dari Sion, dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya, dan langit dan bumi bergoncang. Tetapi TUHAN adalah tempat perlindungan bagi umat-Nya, dan benteng bagi orang Israel.
17 Maka kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, adalah Allahmu, yang diam di Sion, gunung-Ku yang kudus. Dan Yerusalem akan menjadi kudus, dan orang-orang luar tidak akan melintasinya lagi.
18 Pada waktu itu akan terjadi, bahwa gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, bukit-bukit akan mengalirkan susu, dan segala sungai Yehuda akan mengalirkan air; mata air akan terbit dari rumah TUHAN dan akan membasahi lembah Sitim. 19 Mesir akan menjadi sunyi sepi, dan Edom akan menjadi padang gurun tandus, oleh sebab kekerasan terhadap keturunan Yehuda, oleh karena mereka telah menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tanahnya. 20 Tetapi Yehuda tetap didiami untuk selama-lamanya dan Yerusalem turun-temurun. 21 Aku akan membalas darah mereka yang belum Kubalas; TUHAN tetap diam di Sion.

Fokus dari perikop ini adalah kembali ke Sion lagi. Di bagian pembukaan dan akhir, berulang kali secara paralel menyebutkan Yerusalem dan Sion. Di ayat 3:16, dinyatakan bahwa TUHAN pasti mengaum dari Sion dan memperdengarkan suara-Nya dari Yerusalem, menunjukkan penghakiman-Nya yang serius. Di ayat 3:20-21, tidak hanya berjanji bahwa Yehuda dan Yerusalem akan bertahan untuk selama-lamanya generasi ke generasi, tetapi juga diakhiri dengan ringkasan bahwa TUHAN (Yahweh) yang tinggal diam di Sion.

Dalam ringkasan ini, nabi Yoel tampaknya mengalihkan pandangannya dari masanya itu ke masa depan yang jauh, dan bahkan ke akhir yang kekal. TUHAN (Yahweh) mengaum dengan keagungan wibawa, dan ketika penghakiman-Nya keluar, langit dan bumi akan terguncang dan semua ciptaan akan berubah. Ini adalah harapan umat Tuhan untuk akhir zaman. Tetapi perubahan dunia hanyalah sebagian kecil dari harapan ini, yang lebih penting, setelah dunia diguncang yang kemudian diperbarui, TUHAN (Yahweh) tinggal di dalamnya.

Tuhan tinggal diam bersama, pertama-tama, memberikan jaminan perlindungan bagi umat milik-Nya. Dia menjadi benteng perlindungan bagi umat-Nya, sehingga umat milik-Nya tidak lagi takut atau khawatir tentang serangan kekuatan jahat. Tempat ini sepenuhnya dikuduskan, dan orang luar tidak bisa lewat. Karena penghakiman hari akhir sudah berakhir, hanya umat Allah yang tersisa. Nabi Yoel menggunakan kehancuran Mesir dan Edom untuk melambangkan akhir dari mereka yang menentang Tuhan dan menganiaya umat-Nya.

Tuhan tinggal diam bersama juga membawa kelimpahan di semua aspek. Anggur manis, susu, air yang mengalir, mata air, semuanya mewakili kelimpahan dalam kehidupan. Ini bukan hanya kelimpahan materi jasmaniah, tetapi juga simbol dari kelimpahan rohani yang meluap. Ini adalah harapan kekal dan tujuan akhir kita sebagai umat Allah.

Mengingat lagi pesan Kitab Yoel, kita melihat bahwa nabi Yoel mengalami bencana pada waktu itu, mengingatkan kita agar belajar dari bencana dan menyerap kebijaksanaan yang dapat bertahan tidak rusak. Kita harus memahami bagaimana mendapatkan Tuhan dalam kesulitan, dan memohon Dia. Ketika penghakiman akhir akan tiba, ditentukan bahwa hanya mereka yang memohon Dia bisa diselamatkan. Tidak hanya itu, kita juga melihat bahwa sebelum akhir hari Dia akan membangkitkan hamba-hamba-Nya laki-laki dan perempuan, melalui pencurahan Roh Kudus, kita dapat menjadi juru bicara dan saksi-Nya. Terakhir, kita melihat pemandangan penghakiman hari akhir, tetapi yang lebih penting, akhir yang dibawakan bagi umat Allah setelah penghakiman ini. Karena mengetahui akhir ini, kita dapat menjadi tenteram damai dalam menghadapi segala yang kita alami, dan bahkan mungkin dalam bencana yang kita alami. Ketika musibah itu tampaknya terjadi satu demi satu: apa yang ditinggalkan belalang pengerip telah dimakan belalang pindahan, apa yang ditinggalkan belalang pindahan telah dimakan belalang pelompat, dan apa yang ditinggalkan belalang pelompat telah dimakan belalang pelahap, sehingga tampaknya tidak ada harapan sama sekali, nabi Yoel memberi tahu kita bahwa Tuhan yang memegang kuasa, Dia adalah sandaran dan harapan kita.

Renungkan:
Di masa yang sudah kita lalui, apakah kita merasa kesulitan datang bertubi-tubi dalam hidup ini? Sulit untuk bertahan di bawah tekanan hidup? Mari kita berpaling kepada Tuhan kita, memanggil Dia untuk meminta pertolongan-Nya, dan kokoh percaya terhadap keselamatan dari-Nya sebagai harapan kita.


Renungan pemahaman Kitab Yoel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Wahyu 21:9-17

「Gereja Kristus adalah Kota Suci, adalah Bait Suci」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 21:9-17 [ITB])
9 Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba. 10 Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. 11 Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal. 12 Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. 13 Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. 14 Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.
15 Dan ia, yang berkata-kata dengan aku, mempunyai suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya. 16 Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama. 17 Lalu ia mengukur temboknya: seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat.

Kemarin kita membaca langit dan bumi baru serta membawakan serangkaian hal baru, salah satunya adalah kota suci ─ Yerusalem baru, seperti seorang pengantin perempuan berpakaian rapi, menunggu suaminya. Jadi bagaimana pakaian pengantin wanita ini? Ayat-ayat berikutnya adalah close-up (foto yang diambil dari jarak sangat dekat sehingga objek foto terlihat jelas), ini sangat penting bagi orang Kristen karena pengantin perempuan ini melambangkan Gereja Kristus. Kita akan membagi close-up yang cukup panjang ini menjadi tiga bagian: hari ini Why. 21:9-17 melihat penampilan luar kota suci ini; besok Why. 21:18-21 melihat bahan bangunan kota suci, setara dengan keindahan pengantin perempuan, mempelai Anak Domba; lusa Why. 21:22-22:5 untuk melihat kehidupan di dalam kota suci.

Ini adalah keempat kalinya Yohanes diinspirasikan oleh Roh Kudus dan dibawa ke suatu tempat untuk melihat penglihatan tersebut. Ini adalah yang terakhir yang dicatat dalam kitab ini (ayat 9-10; lihat Why. 1:10-20 dan renungan Why. 1:10-20). Sebelumnya, ia dibawa ke padang gurun untuk melihat pelacur besar itu dihukum, sekarang ini ia dibawa ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi untuk melihat pengantin perempuan yang kudus. Nabi Yehezkiel dari Perjanjian Lama pernah dibawa ke atas gunung yang tinggi sekali untuk melihat sebuah bangunan yang merupakan kota, yang juga Bait (Yeh. 40:1-48:35). Ada keserupaan dengan perikop di sini — misalnya, ada tiga gerbang di tenggara dan barat laut (Why. 21:12; lih. Yeh. 48:31-34), dan kemiripan antara keduanya membantu kita memahami bahwa Kota Suci yang turun dari langit ini pada saat yang sama juga merupakan Bait di mana Allah hadir!

Kitab Suci mengatakan: Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal (ayat 11). Ini adalah deskripsi yang sangat penting, menunjukkan bahwa Gereja Kristus hendaknya mencerminkan kemuliaan Allah; dalam pasal 4, takhta juga digambarkan bagaikan permata yaspis dan permata sardis (Why. 4:3), gambaran ini menunjukkan kemuliaan keindahan Allah. Ini sangat berbeda dengan hiasan indah pelacur besar dan Babel yang dibicarakan dalam pasal 17.

Melihat struktur Kota Suci: temboknya besar lagi tinggi memiliki dua belas gerbang, di atas pintu-pintu gerbang itu tertulis nama kedua belas suku Israel, dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu (ayat 12, 14). Ini membuatnya cukup jelas bahwa identitas mempelai wanita adalah umat Allah, termasuk umat pilihan Perjanjian Lama dan orang-orang Kristen Perjanjian Baru.

Lalu Yohanes diberitahu untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya (ayat 15); penuh dengan simbol! Pertama-tama, Why. 11:1 mengukur Bait Allah melambangkan penerimaan dan perlindungan Allah atas umat-Nya (lihat renungan Wahyu 11:1-4). Lihatlah bentuk kota suci: itu adalah sebuah kubus, panjang, lebar, dan tinggi yang sama (ayat 16). Ini tidak mungkin merupakan struktur umum sebuah kota, tetapi bagian dalam Bait Allah, setara dengan tempat maha kudus bagian dalam dari Kemah Pertemuan (1 Raj. 6:20), ini merupakan gambaran yang lebih jauh bahwa Yerusalem Baru memiliki peran Bait Suci. Panjang dan lebar sama-sama 12.000 stadia, dan tembok kota adalah 144 hasta; angka-angka ini terkait dengan umat kudus, yang juga berarti bahwa: Kota Suci dari langit baru dan bumi baru — yakni Bait Suci, dibentuk dari orang-orang kudus.

Kita percaya bahwa kehendak Allah adalah untuk memperbaharui Gereja, sampai langit baru dan bumi baru selesai sempurna maka Gereja milik Kristus siap untuk menjadi kota suci seperti yang ada dalam penglihatan Yohanes — yang menampilkan Bait Suci. Oleh karena itu, gambaran yang di sini harus menjadi pengingat yang indah bagi orang Kristen, terutama para pemimpin gereja.

Renungkan:

Teks perikop ini menekankan tingginya Kota Suci dan kokoh kuat temboknya — setebal 144 hasta, setara dengan 66 meter atau 216 kaki. Renungkan apa yang dilambangkan oleh tinggi dan kekokohan ini? Apakah ini situasi gereja Anda saat ini?

Jika bentuk kubus adalah Bait Suci, makna dari Tempat Kudus, lalu gereja sepatutnya memiliki sifat khusus atau fungsi yang bagaimana?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Wahyu 21:1-8

「Lihatlah Langit Bumi Baru, Kemah Allah Di antara Manusia」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 21:1-8 [ITB])
1 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. 3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. 4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.
5 Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru! Dan firman-Nya: Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar. 6 Firman-Nya lagi kepadaku: Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan. 7 Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku. 8 Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.

Membaca sampai paragraf ini, kitab Wahyu sudah mendekati akhir, tetapi kita tidak akan merasa bahwa langit dan bumi baru (ayat 1) yang disebutkan di sini tiba di akhir. Ya, di sini, air mata, kematian, kesedihan, tangisan, dan rasa sakit semua sudah menjadi masa lalu (ayat 4), dan pada saat yang sama, di langit serta bumi segala sesuatu dijadikan baru (ayat 5), yaitu sebuah awal baru, membawakan pengharapan kepada orang, dan itu tidak seperti akan segera berakhir.

Perikop ini dapat dibagi menjadi dua paragraf kecil. Paragraf pertama, ayat 1-4 bersifat deskriptif, menggambarkan penglihatan Yohanes, dan dalam penglihatan juga ada suara yang didengarnya. Kemudian ayat 5-8 adalah dalam bentuk pembicaraan, kata-kata yang diucapkan oleh Ia yang duduk di atas takhta, perkataan dari Allah Pencipta, kata-kata-Nya membuat penglihatan Yohanes berwibawa, dan dapat dipercaya (ayat 5). Dari kata-kata ini, kita dapat melihat bahwa langit yang baru dan bumi yang baru mengandung berkat: orang yang haus yaitu mereka yang membutuhkan keselamatan serta mereka yang haus dan merindukan hal-hal yang di atas, mereka bisa dengan cuma-cuma mendapatkan mata air kehidupan; barangsiapa menang yakni mereka yang setia berperang bagi Tuhan di bumi, mereka dapat menerima warisan di langit dan dunia baru (ayat 6-7). Secara keseluruhan, semua ini adalah anugerah dan hadiah dari Allah.

Membaca ayat 1-4 dengan seksama, kita dapat melihat bahwa ada beberapa hal yang baru di sini. Para ahli Alkitab menunjukkan bahwa Perjanjian Lama telah sejak dahulu berbicara tentang hal-hal ini.

  1. Tentang langit dan bumi baru, itu juga yang dinubuatkan Yesaya yang menunjuk kepada umat Allah dalam pembuangan yang akan dibebaskan, pulang kembali ke tempat yang diberikan oleh Allah yang menciptakan tempat yang baru bagi mereka (Yes. 65:17-25) .
  2. Kota Yerusalem yang sudah ditinggalkan sunyi sepi, tetapi nabi Yesaya membawakan janji bahwa Allah akan membangkitkan kembali kota suci itu — sama seperti seorang wanita yang ditinggalkan suami akan menjadi wanita yang bersuami (Yes. 62:1-4), dan penglihatan Yohanes adalah kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya (ayat 2). Dalam kitab Wahyu, kota yang kudus itu adalah pengantin wanita yang kudus, menjadi kontras dengan Babel, kota yang mewakili banyak bangsa-bangsa; Yerusalem yang baru adalah umat Allah yang kudus.
  3. Lalu, lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia, ini adalah hal baru lainnya. Di masa dahulu, untuk bertemu Allah maka mereka harus pergi ke Bait Suci. Sekarang, Ia akan diam bersama-sama dengan mereka (ayat 3a), sama seperti Yesus yang adalah Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita (Yoh. 1:14). Juga, mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka (ayat 3b), ini adalah bahasa zaman Perjanjian Lama dalam mengadakan perjanjian. Pada zaman kuno, Allah membuat perjanjian dengan Israel; hari ini, gereja Kristus adalah umat Allah yang membuat perjanjian dengan-Nya, kata umat Allah di sini dalam bentuk jamak, yang mencakup tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa (lih. Why. 5:9).

Begitu banyak yang baru: ciptaan baru, kota suci baru, umat baru, tabernakel atau Bait Suci baru, dan perjanjian yang baru, semuanya mewakili hubungan saya dengan Allah — yang manakah yang paling saya rindukan? Mohon Allah memberi saya iman, agar saya memegang pengharapan, menunggu Ia yang duduk di atas takhta berfirman lagi Semuanya telah terjadi (ayat 6), sampai saat itu pada akhirnya akan melihat langit dan bumi baru yang dalam kesempurnaan.

Renungkan:

Di langit dan bumi baru, laut juga hilang (ayat 1). Apakah kata laut itu dalam arti harafiah, yakni lautan samudera? Ataukah sebuah metafora, merujuk pada binatang buas, sumber dan beradanya kuasa kekuatan jahat?

2 Kor. 5:17 mengatakan: Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang, yaitu proses Allah memperbarui pada diri orang yang diselamatkan. Renungkan: aspek apa dalam hidup saya yang perlu diperbarui?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Mazmur 125:1-2

「Batu Karang yang Kokoh」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 125:1-5 [ITB])
1Nyanyian ziarah. Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya.
2Yerusalem, gunung-gunung sekelilingnya; demikianlah TUHAN sekeliling umat-Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya.
3Tongkat kerajaan orang fasik tidak akan tinggal tetap di atas tanah yang diundikan kepada orang-orang benar, supaya orang-orang benar tidak mengulurkan tangannya kepada kejahatan.
4Lakukanlah kebaikan, ya TUHAN, kepada orang-orang baik dan kepada orang-orang yang tulus hati;
5tetapi orang-orang yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit, kiranya TUHAN mengenyahkan mereka bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan. Damai sejahtera atas Israel!

Untuk memahami Maz. 125:1-2, kita perlu terlebih dahulu memahami geografi Yerusalem. Pada dasarnya, Yerusalem terletak antara pegunungan, dan itu adalah kota paling aman karena dijamin oleh banyak pegunungan. Melalui karakteristik khusus geografi Yerusalem, Pemazmur memberitahu kita bahwa orang yang percaya dalam Allah juga sehingga dikelilingi oleh TUHAN, ia kuat dan tidak berubah, aman dan benar, seperti di Yerusalem. Oleh karena itu, para peziarah harus sungguh-sungguh ingat bahwa kita hidup di dunia, tidak dalam tontonan mata khalayak ramai berjalan tanpa perlindungan, tanpa jaring pengaman kehidupan, membiarkan bahaya terjadi semaunya. Sebaliknya, peziarah – duduk dengan aman di sebuah benteng yang kokoh, di dalamnya sesungguhnya adalah memang aman dan benar. Tidak heran, kata Pemazmur: 「tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya」! (Pada kenyataannya, ini adalah subjek beberapa pasal sebelumnya dari 「Mazmur Ziarah」)

Bagaimana perasaan kita ketika Pemazmur mengatakan, 「Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya」? Mungkin kita semua adalah 「orang yang percaya」, hanya saja kita sadar kita kerap kali bimbang, bukankah demikian? Membuka lagi Perjanjian lama, bangsa Israel, melalui Laut Merah, dan menyanyikan lagu kemenangan (Kel. 15), tidak lama setelah itu, mereka 「secara keseluruhan」 mulai menggerutu (Kel. 16), dan bangsa Israel, yang baru saja telah meniupkan tanduk sangkakala, mengelilingi kota Yerikho, menaikkan puji-pujian dengan suara keras, dan tak lama kemudian, mereka sedang 「melakukan dosa yang patut dihukum mati」 (Yosua 7:1); melangkah ke dalam Perjanjian Baru, kitab Injil mencatat bagaimana para murid baru saja menghabiskan makan Paskah bersama dengan Yesus (Mat. 26), dan tidak lama kemudian beberapa dari mereka 「mengutuk dan bersumpah」 (Mat. 26:74), menyangkal bahwa mereka bersama dengan Yesus. Siapakah yang 「goyah terguncang」, sebenarnya adalah Allah, atau kita?

Renungkan: Dari kelemahan bangsa Israel di Perjanjian Lama yang berulang sampai pada para murid dalam Perjanjian Baru, mungkin kita sebagai peziarah harus sangat berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam perangkap ini dan kehilangan kepercayaan pada Allah kita. Jangan lupa, Allah adalah 「kekal tidak goyah」 ! Kiranya kita memegang erat Janji yang nyata ini, di tengah tantangan gelombang besar melingkupi, tetap terus dengan tekad tanpa ragu dan tidak bimbang berjalan menyelesaikan jalan ziarah ini sampai kita bertemu Tuhan!
* 「Hari sebelum」 dan 「tidak lama sebelum」 tidak dapat digunakan berpasangan, maka rubahlah.


(silahkan klik untuk membuka)

Mazmur 122:3-9

「Memohon Damai Sejahtera Bagi Kota Ini」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 122:1-9 [ITB])
1Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: 「Mari kita pergi ke rumah TUHAN.」
2Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.
3Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, 4ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. 5Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud.
6Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: 「Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. 7Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!」
8Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: 「Semoga kesejahteraan ada di dalammu!」
9Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.

Mengikuti ayat 1-2 penjelasan 「sukacita」 sang Pemazmur 「berdiri di bagian dalam pintu gerbang」, perjalanan ziarah tidak berakhir di sini, karena setelah mereka mengalami begitu banyak penderitaan yang pahit, bertahan atas tantangan besar dan sulit yang tak terhitung jumlahnya, masih ada urusan yang hendak mereka lakukan. Apakah itu?

Maz. 122:3-5 menggambarkan setelah para peziarah memasuki kota suci, dan apa yang mereka lihat di depan mata adalah 「kota yang bersambung rapat」 (ayat 3). Merujuk kepada KJV, ayat 3 diterjemahkan menjadi: 「Yerusalem dibangun menjadi sebuah kota terajut bergabung erat.」 Terjemahan baru CNV menerjemahkan ayat ini sebagai 「Yerusalem dibangun seolah-olah struktur kota yang terintegrasi.」

Dalam kenyataannya, tidak peduli apakah itu 「tersambung rapi」 atau 「terajut bergabung erat」, bahkan adalah 「berstruktur terintegrasi」, sang Pemazmur hendak menunjukkan bahwa setiap batu di dalam kota itu terajut tanpa lubang celah, bahan dari setiap bagian tepat sesuai tempat peruntukannya, tidak ada batu yang longgar, tidak ada bahan-bahan yang kelebihan tidak berguna. Apakah dinding kota atau menara, mereka dibangun kokoh dan kuat.

Perihal apa yang penting tentang ini? Melalui kekaguman Pemazmur pada Yerusalem, melalui integritas yang ditampilkan Yerusalem dalam arsitekturnya, yang benar-benar hendak Pemazmur katakan kepada kita adalah bahwa semua ciri-ciri istimewa arsitektur ini sama-sama dapat terlihat pada seluruh kesatuan kelompok para peziarah, karena Pemazmur kemudian berkata, 「suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel.」
Apa maksudnya ini?

Melalui ayat ini, Pemazmur hendak menunjukkan bahwa dalam seluruh proses ziarah, meskipun ada suku yang berbeda, tetapi mereka seperti satu bangsa, ada hubungan yang harmonis dan indah meskipun para peziarah datang dari daerah dan situasi yang berbeda, mereka memiliki tujuan dan tingkah laku tindakan yang sama; meskipun kekayaan, kecerdasan, latar belakang dan sebagainya dari setiap orang memiliki perbedaan, tetapi di dalam keseluruhan kelompok penyembah dapat 「tersambung rapi」. Ini dengan tepat menyatakan nilai yang paling penting dari kelompok komunitas milik Allah – membuat perbedaan, kesalahpahaman, dan perbedaan menjadi tidak signifikan.

Terjemahan baru CNV menerjemahkan Maz. 122:6-9: 「Engkau sekalian hendaklah memohon damai sejahtera untuk Yerusalem, mohonkanlah: 『Jerusalem! Mungkin semua orang yang mencintai Anda lancar beruntung. Kiranya ada damai sejahtera di bagian dalam dindingmu, kiranya istanamu ada keamanan stabil.』 Demi saudara-saudara saya dan teman-teman saya, saya hendak berkata: 『 Kiranya di antaramu ada damai sejahtera.』 Demi rumah Tuhan, aku akan berdoa memohon untuk berkat-berkatmu.」

Melalui ciri istimewa struktur kota suci, lalu dengan demikian berbicara tentang para peziarah 「tersambung rapi」, kemudian segera setelah itu, para peziarah bukanlah 「istirahat」, tapi menanggapi perintah dan tanggung jawab yang diberikan Pemazmur kepada mereka ─ yakni untuk memohon perdamaian untuk kota! (「Yerusalem」 artinya adalah 「Kota damai」, maksud yang sebenarnya dari Pemazmur: untuk membuat tempat ini benar-benar menjadi 「kota perdamaian」.)

Renungkan: tidak ada kritik, tidak ada pertengkaran, tidak ada kebencian, tidak ada sungut kebencian, tidak ada perbuatan mencelakakan, tidak ada tipu dan kemunafikan, satu hati satu pikiran berdoa untuk perdamaian dan keamanan bagi tempat ini, ini tepatnya perbedaan antara gereja dan dunia (di dalam dan di luar pintu).

Pemazmur di sini sebenarnya hendak mengingatkan kita: yang buruk … kesulitan yang ada di perjalanan jangan dibawa masuk ke 「bagian dalam pintu gerbang」, semua cara tindak jahat yang di luar itu jangan dibawa ke tempat ini, dan praktek-praktek duniawi ini jangan ditambahkan kepada diri setiap rekan-rekan yang berjalan ziarah bersama kami. Kami hendak sehati mencari perdamaian sejahtera, ini adalah salah satu kunci rahasia Gereja yang berkobar-kobar ─ membuat ketidakcocokan penampilan kulit luar, kesalahpahaman, dan perbedaan menjadi hal yang sepele, tidak signifikan.

Apakah kita semua memiliki doa yang seperti ini?