「Pulihkanlah hari-hari seperti dahulu kala」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.
(Ratapan 5:19-22 [ITB])
19 Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa!
20 Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama?
21 Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala!
22 Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?
Dua ayat terakhir dari kitab Ratapan (5:21-22) adalah salah satu ayat yang paling sulit dijelaskan dalam Perjanjian Lama, ayat 21 secara positif menyatakan bahwa orang Israel bersedia untuk bertobat kepada Tuhan, dan Allah akan mengikuti janji dalam Perjanjian (Ul. 30:1-6) mengijinkan mereka untuk kembali dan memulihkan kondisi mereka seperti sebelum mereka ditawan. Namun, ayat 22 sebaliknya secara antiklimaks menggambarkan orang Israel mempertanyakan dan mengeluh kepada Tuhan, berpikir bahwa TUHAN akan sepenuhnya menolak mereka. Di satu sisi kita melihat ada ketegangan antara ayat 21 dan ayat 22, di sisi lain, kita agak sulit menerima bahwa kitab Ratapan Yeremia berakhir dengan keluhan yang sangat negatif (ayat 22) bukan diakhiri dengan harapan (ayat 21). Sebenarnya akhir dalam pengharapan (happy ending) atau akhir dalam kesedihan (sad ending)?
Kunci untuk menjawab pertanyaan ini bergantung pada kata pertama dalam teks Ibrani ayat 22, yaitu kata 「meskipun / kecuali」 (kî ‘im), dapat diartikan sebagai 「jikalau」 atau 「meskipun」 (ITB menerjemahkan sebagai 「atau」). Jika diartikan sebagai 「jikalau」, maka ayat 21-22 memiliki makna bahwa umat itu memohon dan bertobat kepada Allah, dan Allah akan berbalik untuk memulihkan hari-hari mereka, tetapi jikalau TUHAN murka selamanya, maka …. Oleh karena itu, bila kata tersebut diartikan sebagai 「jikalau」, itu semacam kalimat yang berujung terbuka yang tidak dilanjutkan, sehingga kalimat diakhiri dengan 「maka …」, kalimat yang berujung terbuka yang tidak dilanjutkan ini lebih cenderung berakhir dalam kesedihan (sad ending). Jika diartikan sebagai 「meskipun」, maka ayat 21-22 memiliki makna bahwa meskipun TUHAN telah marah kepada orang-orang dan meninggalkan mereka dalam waktu yang lama, mereka dalam murka Tuhan tetap bersedia untuk bertobat dan kembali, dan percaya bahwa Allah akan berbalik untuk memulihkan hari-hari mereka. Dengan demikian, ini menganggap ayat 21 sebagai klausa hasil (apodosis), sedangkan ayat 22 dianggap sebagai klausa syarat (protasis), maka ini merupakan semacam akhir dalam pengharapan (happy ending). Penulis lebih memilih penjelasan kata kî ‘im tersebut sebagai 「meskipun」, karena lebih sejalan dengan makna teologi penawanan. Karena penawanan hanya merupakan halte di tengah perjalanan, dan hukuman penawanan suatu saat akan berakhir, hari pemulangan dan pemulihan hari-hari yang dahulu itulah titik tujuan akhirnya, maka kitab Ratapan ini diakhiri dengan harapan, ini lebih sejalan dengan pemahaman teologi penawanan yang konsisten. Oleh karena itu, kitab suci menunjukkan bahwa meskipun penderitaan dan murka Tuhan demikian luar biasa, tetapi murka ini bukanlah murka tanpa tujuan. Tujuan di balik murka adalah untuk berharap membawa pertobatan umat Allah, dan kehendak Tuhan adalah berharap untuk memulihkan keadaan masa lalu sebelum penawanan, tetapi inti masalahnya adalah tergantung apakah orang-orang itu mau bertobat dan kembali kepada Tuhan.
Renungkan:
Penyair Ratapan meyakini bahwa murka Allah dan Allah telah meninggalkan (ayat 22) ternyata menjadi pendorong penyesalan dan pertobatan (ayat 21). Dihadapkan pada Allah yang telah meninggalkannya, penyair Ratapan tidak meninggalkan Allah. Sebaliknya, itu menjadi motivasinya untuk memegang erat dan kembali kepada Allah.「Tidak masuk akalnya」 penderitaan menyatakan 「tidak masuk akalnya」 Allah (tidak dapat dipahami pikiran), tetapi tidak peduli seberapa 「tidak masuk akal」 situasinya, penyair Ratapan memilih untuk mengandalkan iman yang 「tidak masuk akal」 (tidak dapat dipahami pikiran), di tengah penderitaan yang tidak beraturan, bertekad untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, sampai suatu saat, penyair Ratapan akan menemukan bahwa Allah yang tampaknya 「tidak masuk akal」 ini akan memenuhi janji-Nya yang tidak pernah berubah, Ia membuat umat Allah dapat kembali ke Yerusalem, memulihkan dan membangun kembali menjadi seperti dahulu kala. Ketika kita melihat tekad dan iman penyair Ratapan, apakah kita juga bisa melihat di mana letak harapan dan berjalan bersama nyanyian ratapan?
Renungan pemahaman Kitab Ratapan
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.