Tag Archives: Kitab Ratapan

Ratapan 5:19-22 (2)

「Pulihkanlah hari-hari seperti dahulu kala」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 5:19-22 [ITB])
19 Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa!
20 Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama?
21 Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala!
22 Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?

Dua ayat terakhir dari kitab Ratapan (5:21-22) adalah salah satu ayat yang paling sulit dijelaskan dalam Perjanjian Lama, ayat 21 secara positif menyatakan bahwa orang Israel bersedia untuk bertobat kepada Tuhan, dan Allah akan mengikuti janji dalam Perjanjian (Ul. 30:1-6) mengijinkan mereka untuk kembali dan memulihkan kondisi mereka seperti sebelum mereka ditawan. Namun, ayat 22 sebaliknya secara antiklimaks menggambarkan orang Israel mempertanyakan dan mengeluh kepada Tuhan, berpikir bahwa TUHAN akan sepenuhnya menolak mereka. Di satu sisi kita melihat ada ketegangan antara ayat 21 dan ayat 22, di sisi lain, kita agak sulit menerima bahwa kitab Ratapan Yeremia berakhir dengan keluhan yang sangat negatif (ayat 22) bukan diakhiri dengan harapan (ayat 21). Sebenarnya akhir dalam pengharapan (happy ending) atau akhir dalam kesedihan (sad ending)?

Kunci untuk menjawab pertanyaan ini bergantung pada kata pertama dalam teks Ibrani ayat 22, yaitu kata meskipun / kecuali (kî ‘im), dapat diartikan sebagai jikalau atau meskipun (ITB menerjemahkan sebagai atau). Jika diartikan sebagai jikalau, maka ayat 21-22 memiliki makna bahwa umat itu memohon dan bertobat kepada Allah, dan Allah akan berbalik untuk memulihkan hari-hari mereka, tetapi jikalau TUHAN murka selamanya, maka …. Oleh karena itu, bila kata tersebut diartikan sebagai jikalau, itu semacam kalimat yang berujung terbuka yang tidak dilanjutkan, sehingga kalimat diakhiri dengan maka …, kalimat yang berujung terbuka yang tidak dilanjutkan ini lebih cenderung berakhir dalam kesedihan (sad ending). Jika diartikan sebagai meskipun, maka ayat 21-22 memiliki makna bahwa meskipun TUHAN telah marah kepada orang-orang dan meninggalkan mereka dalam waktu yang lama, mereka dalam murka Tuhan tetap bersedia untuk bertobat dan kembali, dan percaya bahwa Allah akan berbalik untuk memulihkan hari-hari mereka. Dengan demikian, ini menganggap ayat 21 sebagai klausa hasil (apodosis), sedangkan ayat 22 dianggap sebagai klausa syarat (protasis), maka ini merupakan semacam akhir dalam pengharapan (happy ending). Penulis lebih memilih penjelasan kata kî ‘im tersebut sebagai meskipun, karena lebih sejalan dengan makna teologi penawanan. Karena penawanan hanya merupakan halte di tengah perjalanan, dan hukuman penawanan suatu saat akan berakhir, hari pemulangan dan pemulihan hari-hari yang dahulu itulah titik tujuan akhirnya, maka kitab Ratapan ini diakhiri dengan harapan, ini lebih sejalan dengan pemahaman teologi penawanan yang konsisten. Oleh karena itu, kitab suci menunjukkan bahwa meskipun penderitaan dan murka Tuhan demikian luar biasa, tetapi murka ini bukanlah murka tanpa tujuan. Tujuan di balik murka adalah untuk berharap membawa pertobatan umat Allah, dan kehendak Tuhan adalah berharap untuk memulihkan keadaan masa lalu sebelum penawanan, tetapi inti masalahnya adalah tergantung apakah orang-orang itu mau bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Renungkan:
Penyair Ratapan meyakini bahwa murka Allah dan Allah telah meninggalkan (ayat 22) ternyata menjadi pendorong penyesalan dan pertobatan (ayat 21). Dihadapkan pada Allah yang telah meninggalkannya, penyair Ratapan tidak meninggalkan Allah. Sebaliknya, itu menjadi motivasinya untuk memegang erat dan kembali kepada Allah.Tidak masuk akalnya penderitaan menyatakan tidak masuk akalnya Allah (tidak dapat dipahami pikiran), tetapi tidak peduli seberapa tidak masuk akal situasinya, penyair Ratapan memilih untuk mengandalkan iman yang tidak masuk akal (tidak dapat dipahami pikiran), di tengah penderitaan yang tidak beraturan, bertekad untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, sampai suatu saat, penyair Ratapan akan menemukan bahwa Allah yang tampaknya tidak masuk akal ini akan memenuhi janji-Nya yang tidak pernah berubah, Ia membuat umat Allah dapat kembali ke Yerusalem, memulihkan dan membangun kembali menjadi seperti dahulu kala. Ketika kita melihat tekad dan iman penyair Ratapan, apakah kita juga bisa melihat di mana letak harapan dan berjalan bersama nyanyian ratapan?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 5:19-22 (1)

「TUHAN bertakhta selama-lamanya」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 5:19-22 [ITB])
19 Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa!
20 Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama?
21 Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala!
22 Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?

Ratapan 5:19-22 adalah empat ayat terakhir dari kitab Ratapan Yeremia yang merupakan ringkasan dari keseluruhan kitab. Kita dapat terlebih dahulu menggunakan perspektif negatif atau positif untuk menjelaskan isi keempat ayat ini dalam arti yang luas: ayat 19 adalah pesan dalam perspektif positif karena menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) bertakhta selama-lamanya, ayat 20 adalah perspektif negatif karena mempertanyakan mengapa Tuhan telah melupakan kami, ayat 21 adalah perspektif positif karena menggambarkan kesediaan untuk bertobat dan Allah akan memulihkan kami seperti sebelumnya. Ayat 22 adalah perspektif negatif, karena mempertanyakan Allah apakah sepenuhnya telah membuang kami dan murka. Pertanyaannya: bagaimana kita menafsirkan pola positif (ayat 19), negatif (ayat 20), positif (ayat 21), dan negatif (ayat 22)? Hari ini kita akan lebih dahulu jelaskan ayat 19-20, dan besok penjelasan ayat 21-22.

Ayat 19 menunjukkan bahwa takhta TUHAN (Yahweh) akan berlangsung selama-lamanya generasi ke generasi (masa ke masa), pemerintahan Allah, kuasa Kerajaan, takhta-Nya serta kehadiran penyertaan-Nya tidak akan pernah berubah. Ini adalah pengakuan iman teologi Sion, penyair Ratapan mengakui bahwa TUHAN akan selama-lamanya menjadi Raja, selaras dengan ayat-ayat lain dalam Perjanjian Lama (Yesaya 57:15; Mazmur 9:7, 29:10, 102:12), TUHAN (Yahweh) memerintah selamanya, karena TUHAN tidak tinggal di dalam Bait Suci buatan tangan manusia, dan tidak mengharuskan orang menyembah Dia terbatas di tempat tertentu saja, Ia begitu independen tidak terikat, tidak tergantung atau dibatasi apapun yang terjadi di dunia. Sekalipun Bait Suci dihancurkan dan umat ditawan, TUHAN (Yahweh) akan selalu menjadi Raja, bahkan jika penderitaan di bumi merupakan keadaan konstan yang terus terjadi, perang terus berlanjut, penindasan dan kekerasan terus terjadi. Oleh karena itu, fakta bahwa TUHAN berkuasa sebagai Raja membuat orang-orang Israel mengerti bahwa penderitaan dan kesedihan yang mereka alami sekarang tidak terjadi kebetulan, tidak terjadi karena lepas kendali atau, TUHAN bukan karena tidak mampu mengendalikan keadaan saat ini, sebaliknya bangsa Israel harus memahami bahwa hanya Allah sajalah yang benar-benar mereka andalkan, dan hanya Tuhan yang bisa menjadi harapan mereka.

Ayat 20, seperti ayat 19, menyebutkan kata demikian lama / selama-lamanya. Ayat 19 menyatakan bahwa TUHAN (Yahweh) akan menjadi Raja selama-lamanya, tetapi ayat 20 mengatakan TUHAN melupakan umat itu selama-lamanya, di sini kita melihat tema khas Berapa lama? (how long?) dalam kitab Ratapan, dengan demikian sifat kekal di ayat 19 dan yang di ayat 20 menjadi kontras yang kuat, ayat 19 menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) berkuasa selama-lamanya menjadi Sandaran yang dapat diandalkan orang dalam penderitaan, namun ayat 20 mengatakan bahwa pengabaian selama-lamanya dari Allah juga menjadi pengalaman penderita. Ayat 19 menunjukkan bentuk utuh harapan, ayat 20 menunjukkan bentuk utuh kesedihan dan pertanyaan, sekali lagi kita melihat ketegangan dan kontradiksi dalam nyanyian ratapan, itu timbul karena mempertahankan dua keutuhan (double integrity), di satu sisi, penyair Ratapan percaya bahwa TUHAN (Yahweh) adalah harapan satu-satunya, dan percaya bahwa fakta bahwa suatu saat TUHAN adalah Raja akan membawa keselamatan kepadanya, di sisi lain, di tengah penderitaan serta ketidakberdayaan penyair Ratapan mempertanyakan TUHAN dan mengajukan keluhan atas ketidakhadiran dan ketidakpedulian Allah. Penyair Ratapan tidak mengingkari keutuhan salah satu aspek, dia hanya menempatkan dua aspek yang tidak bersesuaian itu ke dalam hidupnya, ia tidak berupaya untuk menyelaraskan kontradiksi ketegangan yang ada atau memakai kerangka teologis lain untuk memahaminya. Ratapan melaporkan secara apa adanya pergumulan dan kontradiksi batin, nyanyian ratapan mencerminkan bagaimana penyair yang memiliki darah dan daging teguh berpegang pada imannya, di saat yang sama juga hidup berdampingan dengan kesedihan dalam perspektif negatif tersebut (lihat penjelasan di bagian awal renungan hari ini tentang perspektif positif dan negatif yang berdampingan secara bersilangan ayat per ayat). Ternyata orang yang beriman mungkin tidak selalu bahagia dan tidak selalu bersyukur atas segala hal, ketika kita mengungkapkan kesedihan dalam hati kita kepada Tuhan dan pada saat yang sama berpegang teguh pada iman akan pengharapan perjanjian, itulah sejatinya orang yang memiliki iman (tidak mengingkari keutuhan salah satu aspek, dia menempatkan dua aspek yang tidak bersesuaian itu ke dalam hidupnya). Dengan demikian, memiliki iman dalam penderitaan, adalah tetap mengakui kedua sisi dari kemanusiaan.

Renungkan:
Apakah penderitaan menjadi hal yang terus menerus konstan terjadi dalam hidup Anda? Kita harus mengakui TUHAN (Yahweh) sebagai Raja di tengah penderitaan, sehingga kita dapat memahami bahwa apa yang terjadi di hadapan kita tidak lepas kendali, sehingga kita dapat mengandalkan fakta bahwa TUHAN (Yahweh) adalah Raja selama-lamanya, dan pada saat yang sama jika kita merasa ditinggalkan oleh Tuhan demikian lama, namun terus-menerus mengajukan pertanyaan dan keluhan kepada TUHAN, menunjukkan bahwa kita tidak mati rasa atau mematikan perasaan terhadap kesedihan kita sendiri. Ternyata kemunculan nyanyian ratapan membuat kita menemukan getaran hati yang sama, di dalam ketegangan antara dua aspek itu dalam Ratapan ini kita menemukan alasan untuk bertahan hidup dan kesaksian untuk berpegang teguh pada iman, dan dapatkah atau maukah Saudara menyanyikan ratapan seperti penyair ratapan?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 5:15-18

「Kesedihan luar dan dalam」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 5:15-18 [ITB])
15 Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan. 16 Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa!
17 Karena inilah hati kami sakit, karena inilah mata kami jadi kabur: 18 karena bukit Sion yang tandus, di mana anjing-anjing hutan berkeliaran.

Ratapan Yeremia 5:15-18 melanjutkan penggunaan kata kami sebagai ratapan kolektif, dan menggunakan bagian tubuh manusia yang berbeda untuk membandingkan pengalaman yang dialami oleh orang Israel yang tertawan, termasuk hati kami (ayat 15, 17) , kepala kami (ayat 16) dan mata kami (ayat 17), ketiga organ ini dipilih dengan cermat. Hati tidak mengacu pada perasaan seseorang, tetapi mengacu pada pikiran dan jiwa kehidupan di dalam diri. Ayat 15 dan 17 menunjukkan bahwa hati kami sakit dan remuk redam, menandakan bahwa pikiran mereka sepenuhnya didominasi oleh hal-hal yang menyedihkan. Ayat 16 mengacu pada kepala, menggambarkan pusat komando seseorang, pada saat yang sama bisa juga merujuk pada pemimpin, yakni kepala kota. Ayat 16 mengacu pada mahkota yang jatuh dari kepala, dan pada saat yang sama, itu berarti mahkota milik pemimpin jatuh ke bawah. Ayat 17 mengacu pada mata, yang mengacu pada penglihatan seseorang dan juga menunjuk pada vitalitas hidup seseorang, perikop Kitab Suci ini mengacu pada mata kami yang kabur, yang berarti bahwa mereka kekurangan vitalitas dan penglihatan mereka kabur. Oleh karena itu, di sini penggunaan berbagai organ tubuh manusia, terutama hati, mata dan kepala untuk menggambarkan bahwa umat itu menjadi tidak sehat karena penawanan dan kehancuran Sion, penuh dengan penyakit dan luka, sebuah luka trauma yang besar.

Perikop ini tidak hanya menggunakan organ tubuh sebagai metafora, tetapi juga secara harfiah mengingatkan pembaca tentang konsep ayat lain di Perjanjian Lama. Pertama, ayat 15 menjelaskan lenyaplah kegirangan hati kami (lihat terjemahan IMB sukacita hati kami telah berhenti), di mana kata berhenti (dalam bahasa Ibrani adalah shabath) bisa diartikan sebagai istirahat (lihat Kej. 2:2 … berhentilah Ia pada hari ketujuh …), ini mengingatkan kita bahwa tujuh puluh tahun lama penawanan sebagai tahun istirahatnya tanah (2 Taw. 36:21 … tanah itu tandus selama menjalani sabat, hingga genaplah tujuh puluh tahun), jadi perikop Ratapan ini mengadopsi konsep istirahat untuk menjelaskan bahwa ketika tanah itu beristirahat, juga menunjukkan berhentinya kebahagiaan di hati orang-orang yang ditawan. Kedua, ayat 16 menjelaskan bahwa mahkota jatuh dari kepala / pemimpin kami, sekaligus mencatat pengakuan dosa kolektif: Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa. Penjajaran mahkota dengan pengakuan dosa yang seperti ini mengingatkan kita pada catatan tentang nabi Samuel mengangkat seorang raja sebagai jawaban atas tuntutan rakyat di masa lalu (1 Sam. 8:1-6, klik untuk membaca). Saat itu, tuntutan ini dianggap sebagai manifestasi penolakan mereka terhadap Tuhan sebagai Raja mereka (1 Sam. 8:7). Sekarang mahkota raja telah jatuh, melambangkan bahwa secara resmi sistem monarki kerajaan Israel telah runtuh, semua itu adalah karena umat telah berdosa dan tidak menghormati Allah sebagai Raja mereka. Dengan cara ini, perikop ini menghubungkan tema istirahat (berhenti) dan sistem monarki untuk menggambarkan hukuman yang mereka hadapi.

Renungkan:
Rat. 5:15-18 menggunakan gambaran seorang yang tidak sehat hati pikiran dan jasmani untuk membandingkan penderitaan orang Israel. Ditawan telah menjadi trauma besar bagi orang Israel, dan trauma ini tidak akan pernah terhapus. Itu semua karena orang Israel telah berdosa dan melanggar Allah di masa lalu. Karena mereka tidak menganggap TUHAN (Yahweh) sebagai Raja yang sejati, pengasingan juga menghapuskan serta menghancurkan kerajaan dan semua yang diminta umat itu, memaksa orang Israel di tengah trauma dan kesedihan untuk mengakui TUHAN Yahweh adalah Raja sejati mereka, dengan demikian mereka dapat memahami pentingnya pengakuan dosa dan pertobatan. Apakah Anda mengakui TUHAN (Yahweh) sebagai Raja atas hidup Anda?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 5:2-10

「Kerugian ekonomi dan status」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 5:2-10 [ITB])
2 Milik pusaka kami beralih kepada orang lain, rumah-rumah kami kepada orang asing.
3 Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda.
4 Air kami kami minum dengan membayar, kami mendapat kayu dengan bayaran.
5 Kami dikejar dekat-dekat, kami lelah, bagi kami tak ada istirahat.
6 Kami mengulurkan tangan kepada Mesir, dan kepada Asyur untuk menjadi kenyang dengan roti.
7 Bapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka.
8 Pelayan-pelayan memerintah atas kami; yang melepaskan kami dari tangan mereka tak ada.
9 Dengan bahaya maut karena serangan pedang di padang gurun, kami harus mengambil makanan kami.
10 Kulit kami membara laksana perapian, karena nyerinya kelaparan.

Ratapan Yeremia 5:1 menyebutkan kehinaan kami, dan ayat 2-10 menjelaskan kehinaan kami terutama sebagai kerugian ekonomi dan status.

Pertama-tama, ayat 2 mengacu pada harta benda milik pusaka kami dan rumah-rumah kami, kepemilikan ini mengacu pada tanah yang ditinggalkan oleh nenek moyang (Ulangan 4:38, 25:19, 26:1), yakni tanah dan warisan yang dibagikan di masa lalu kepada kedua belas suku setelah Yosua merebut Kanaan, semua tanah ini adalah warisan yang Tuhan berikan kepada orang Israel sesuai dengan janji perjanjian, itu bukan diperoleh oleh orang Israel karena kekuatan mereka sendiri (Yosua 24:13). Lalu, Ketika orang Israel tidak mengikuti hukum Allah dan mengikuti perilaku orang Kanaan dengan melakukan hal-hal yang keji, tanah itu akan memuntahkan mereka (Imamat 18:24-30), yang berarti ditawan, oleh karena itu terjadinya penawanan itu tepat menggenapi nubuat hukum Taurat, orang-orang Israel akan kehilangan milik pusaka kami dan rumah-rumah kami.

Ayat 4 menjelaskan bahwa air kami dan kayu kami yang awalnya diperoleh oleh umat itu di Kanaan tanpa mengeluarkan uang, tetapi pada hari pengasingan, mereka harus mengeluarkan uang untuk membeli sumber alami ini. Ayat 6 menyebutkan bahwa status penduduk Sion telah turun (dihinakan) karena mengalami bencana kelaparan, sehingga mereka menjual diri ke Mesir dan Asyur serta menjadi budaknya, mengulang keadaan bangsa Israel di tanah Mesir selama empat ratus tahun, dan di ayat 8 dijelaskan orang-orang yang semula disebut para hamba ternyata memperbudak orang-orang Israel (pelayan-pelayan memerintah atas kami), dan status mereka lebih rendah daripada budak. Ayat 9 sekali lagi menyebutkan kerugian ekonomi, dahulu mudah untuk mendapatkan makanan, tetapi sekarang perlu mempertaruhkan hidup barulah bisa mendapatkan makanan. Ini semua karena adanya serangan pedang di padang gurun, dan pedang di padang gurun ini diyakini sebagai kelompok perampok orang-orang Bedouin, mereka akan menjarah Yehuda di padang gurun. Oleh karena itu, yang paling banyak dibicarakan di seluruh bagian ini adalah hilangnya ekonomi dan status, ini menjadi aib umat Israel yang ditawan.

Di masa lalu, TUHAN (Yahweh) memberikan kepada orang-orang Israel warisan, sumber daya alam, perdamaian, status yang tinggi, identitas kudus, dll., ketika mereka memiliki semua ini, mereka selalu lupa bahwa semua hal yang tampaknya dianggap sepatutnya mereka miliki ini adalah milik TUHAN (Yahweh) dianugerahkan kepada mereka. Jika bangsa Israel hanya memusatkan perhatian pada ekonomi dan status, serta membuat anugerah yang diberikan oleh TUHAN (Yahweh) menjadi berhala, maka mereka tidak akan bersyukur dan secara realitas tidak lagi hormat takut kepada Tuhan yang ada di balik anugerah. Tuhan berhak untuk mengambil kembali semua anugerah ekonomi dan status, pertanyaannya adalah apakah kita percaya bahwa anugerah ini tidak akan berguna tanpa Tuhan!

Renungkan:
Apakah kita menganggap status ekonomi dan sosial sebagai hal terpenting dalam hidup? Atau bahkan menempatkan posisi ini lebih tinggi dari TUHAN? Marilah mulai hari ini, menyesuaikan kembali posisi dari hal-hal ini, dan jangan pernah menempatkan segala sesuatu lebih tinggi dari pada diri TUHAN (Yahweh).


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 5:1

「Ya, ingatlah dan pandanglah」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 5:1 [ITB])
1 Ingatlah, ya TUHAN, apa yang terjadi atas kami, pandanglah dan lihatlah akan kehinaan kami.

Ratapan Yeremia pasal 5 berbeda dengan empat pasal sebelumnya, ini bukan puisi yang dimulai dengan urutan alfabet bahasa aslinya. Di pasal ini hampir setiap ayat memiliki kata kami, menunjukkan bahwa pasal 5 adalah ratapan kelompok, mencatat bagaimana kelompok umat menyanyikan kesedihan dan pengakuan dosa mereka.

Awal dari keseluruhan pasal 5, ayat 1 menggunakan dua doa permohonan sebagai tujuan utama. Doa pertama adalah ingatlah, ya TUHAN, dan permohonan kedua adalah pandanglah dan lihatlah. Kedua doa permohonan ini tepat merupakan doa yang sering ditemukan di keempat pasal sebelumnya. Pertama-tama, ingatlah membuat kita merenungkan kembali pada doa memohon Tuhan mengingat di pasal 3 ayat 19-21 (klik untuk membaca), dan itu juga merupakan doa orang dalam penderitaan untuk memohon Tuhan melakukan hal yang paling mendasar. Tentu saja orang mengharapkan Tuhan membalik penderitaannya sendiri, tetapi pada akhirnya yang paling menjadi perhatian orang yang dalam penderitaan adalah apakah TUHAN adalah Allah yang benar-benar mengingat diri orang itu, jika Tuhan tidak lagi mengingat dirinya, berdoa yang panjang seperti apapun tidak ada gunanya lagi. Maka umat berdoa agar Tuhan mengingat apa yang terjadi pada mereka, yaitu penawanan diri mereka dan kehancuran Yerusalem. Tidak ada orang yang mengingat hal-hal ini, serta tidak ada bangsa-bangsa lain dan bahkan sekutu di masa lalu juga tidak lagi memasukkannya ke dalam hati mereka. Sekarang barulah umat mengerti, manusia memang tidak bisa diandalkan, tapi bahwa Tuhan mengingat itu adalah yang terpenting.

Doa permohonan kedua adalah pandanglah dan lihatlah. Ini adalah doa permohonan umum kedua dari orang menderita, karena pertanyaan prihatin yang kedua adalah apakah TUHAN (Yahweh) adalah Allah yang memandang dan melihat pada diri orang, ketika TUHAN (Yahweh) melihat pada dirinya, TUHAN yang penuh belas kasih akan memberikan anugerah kepada dirinya. Oleh karena itu, dalam hati yang menderita, ketidakhadiran penyertaan Tuhan dan pengabaian Tuhan adalah hal yang paling tidak dapat ditahan. Jika Tuhan melihat, itu artinya Tuhan memandang berharga dan memperhatikannya, meletakkan orang yang menderita di dalam hati-Nya. Sekarang di ayat 1 ini, objek yang dimohonkan agar diperhatikan Tuhan adalah kehinaan kami. Kehinaan kami ini persis merupakan tema pasal 5 ayat 2-10 (klik untuk membaca).

Jadi asalkan ada Tuhan yang mengingat dirinya, selama ada Tuhan yang memperhatikan dirinya, betapa pun besarnya penderitaan bisa ditanggung. Tuhan mengingat, itu membuat penderita memiliki harapan, dan pandangan Tuhan membuat orang yang menderita mengerti bahwa dia dihargai. Yang pertama adalah makna keberadaan (keberadaan saya diingat Allah). Yang terakhir adalah kekuatan pendorong untuk bergerak maju. Ini mungkin menjadi perhatian yang bisa kita kita berikan kepada orang yang menderita ketika kita berjalan bersama mereka. Jika dalam kehidupan sehari-hari kita bisa memberikan kepada orang yang menderita bahwa mereka diingat dan bahwa mereka dipandang dan dilihat, kita bisa membangun rasa kemanusiaan dari orang yang menderita, sehingga memungkinkan mereka menemukan diri mereka hidup memiliki martabat.

Renungkan:
Apa perasaan penderita yang dicerminkan dari doa di ayat 1 yang memohon Tuhan mengingat dan Tuhan melihat? Bagaimana kita bisa menjadi utusan Tuhan untuk membawa ingatan dan melihat kepada setiap orang yang menderita? Dan ketika kita menjadi penderita, apakah kita berpikir di dalam hati kita bahwa Tuhan mengingat dan Tuhan melihat adalah lebih penting dari apapun? Ya TUHAN, ketika saya melihat orang-orang dalam kesulitan, berdoa agar saya dapat menjadi seorang pengingat dan pemerhati, menjadi mata air dalam generasi yang menderita, menabur kehangatan dan harapan dalam kehidupan yang dingin acuh tak acuh ini!


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 4:21-22

「Berkat bagi Sion, kutuk bagi Edom」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 4:21-22 [ITB])
21 Bergembira dan bersukacitalah, hai puteri Edom, engkau yang mendiami tanah Us, juga kepadamu piala akan sampai, engkau akan jadi mabuk lalu menelanjangi dirimu!
22 Telah hapus kesalahanmu, puteri Sion, tak akan lagi TUHAN membawa engkau ke dalam pembuangan,
tetapi kesalahanmu, puteri Edom, akan dibalas-Nya, dan dosa-dosamu akan disingkapkan-Nya.

Ratapan Yeremia 4:21-22 adalah akhir dari keseluruhan pasal 4, tetapi tema dan gaya penulisan sama sekali berbeda dengan pasal sebelumnya, karena menggambarkan harapan Sion, ayat 21 menggambarkan bencana yang dialami orang Edom, dan ayat 22 menjelaskan tentang hukuman atas Sion akan berakhir dan tak akan lagi dibawa ke dalam penawanan.

Tema ayat 21 dan 22b adalah putusan penghakiman atas Edom, ayat 21 dimulai dengan puteri Edom, bermaksud untuk dikontraskan dengan puteri Sion, keduanya adalah menggunakan kata puteri adalah untuk menjelaskan kelemahan dan kerentanan, dahulu Sion seperti puteri yang lemah dan hancur, dan Edom juga akan menjadi lemah dan hancur seperti Sion. Mengapa Kitab Suci menyebutkan Edom? Ini karena meskipun Edom (nama lain dari Esau) adalah saudara Israel sendiri, ketika Sion dihancurkan, mereka dengan senang hati berkata: Runtuhkanlah, runtuhkanlah sampai ke dasarnya! (Mazmur 137:7, klik untuk membaca), Edom bukan hanya tidak membantu Israel, ia bahkan bersukacita ketika Yerusalem dihancurkan, sehingga orang-orang Israel mengharapkan Edom mendapat balasan. Sekarang, ayat 21 menunjukkan bahwa cawan pahit Sion akan beralih kepada Edom, dan Edom akan meminumnya sampai mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, ini konsisten dengan catatan lain dalam Perjanjian Lama (Setelah ia minum anggur itu, ia mabuk, dan melepaskan pakaiannya di dalam kemah Kej. 9:21, Terkutuklah orang yang memberi minum bercampur anggur kemarahan dan berang yang memabukkan, kepada sesamanya, untuk melihat ketelanjangannya Hab. 2:15), dan menunjukkan bahwa kutukan dan penghakiman akan datang kepada Edom.

Sebaliknya, ayat 22 menegaskan bahwa hukuman Sion akan berakhir, Tuhan akan menghentikan Sion dari penawanan. Artinya hukuman Sion pada akhirnya akan berakhir. Hal ini sesuai dengan ketetapan- ketetapan perjanjian. Jika Sion mau bertobat serta segenap hati dan tenaga kembali kepada TUHAN (Yahweh), maka TUHAN akan membawa para tawanan ini kembali ke Yerusalem (Ul. 30:1-6, klik untuk membaca). Ini adalah harapan perjanjian, meskipun Sion tidak tahu tanggal pasti datangnya hari ini, tetapi Sion dapat tahu dengan pasti bahwa hari ini akan datang. Akan tetapi, ayat 22b juga menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) pasti menghukum Edom, menyingkapkan dosa-dosanya, namun tidak menunjukkan bahwa hukuman mereka suatu hari akan berlalu, sehingga menyiratkan bahwa Edom tidak memiliki kesempatan untuk kembali dari pembuangan. Ini konsisten dengan pesan Maleakhi (Maleakhi 1:1-5).

(Maleakhi 1:1-5 [ITB])
2 YAHWEH berfirman, 「Aku mengasihi kamu.
Tetapi kamu berkata: Dengan apakah Engkau mengasihi kami?
Bukankah Esau saudara Yakub? Namun Aku mengasihi Yakub, 3 dan membenci Esau, serta membuat pegunungannya menjadi tanah tandus dan tanah pusakanya menjadi padang gurun.
4 Ketika Edom berkata: Kami telah dipukul hancur, tetapi kami akan membangun kembali tempat-tempat yang runtuh.」 Beginilah YAHWEH Tsebaot, YAHWEH Semesta Alam, berfirman, 「Mereka akan membangun, tetapi Aku akan meruntuhkannya, dan mereka akan menyebutnya sebagai wilayah kejahatan, dan bangsa yang kepadanya YAHWEH murka untuk selama-lamanya.
5 Tetapi kamu akan melihat dan berkata: YAHWEH akan dimuliakan sampai di luar daerah Israel.

Renungkan:
Hari-hari kelam akan berlalu, dan hukuman atas dosa akan dihapus, karena TUHAN (Yahweh) adalah Allah yang setia, Dia akan memenuhi harapan dalam perjanjian, asalkan orang bersedia datang kepada TUHAN untuk mengakui dosa-dosanya, bertobat, pada akhirnya akan ada pembalikan kutukan. Namun, jika orang tidak bertobat, situasinya seperti Edom, dahulu dia mengolok-olok Israel, sekarang apa yang dia olok-olok akan menimpa dirinya. Apakah kita bersedia menjadi Sion yang bertobat atau Edom yang sombong dan tidak mau berubah?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 4:17-20

「Sekutu kita dapat diandalkan?」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 4:17-20 [ITB])
17 Selalu mata kami merindukan pertolongan, tetapi sia-sia; dari menara penjagaan kami menanti-nantikan suatu bangsa yang tak dapat menolong.
18 Mereka mengintai langkah-langkah kami, sehingga kami tak dapat berjalan di lapangan-lapangan kami; akhir hidup kami mendekat, hari-hari kami sudah genap, ya, akhir hidup kami sudah tiba. 19 Pengejar-pengejar kami lebih cepat dari pada burung rajawali di angkasa mereka memburu kami di atas gunung-gunung, menghadang kami di padang gurun.
20 Orang yang diurapi TUHAN, nafas hidup kami, tertangkap dalam pelubang mereka, dia yang kami sangka: Dalam naungannya kami akan hidup di antara bangsa-bangsa.

Ratapan 4:17-20, menggunakan kata kami sebagai nyanyian ratapan komunitas, di perikop ini terdapat banyak penggunaan kata kami, termasuk mata kami, penolong kami, dan penjaga kami (ayat 17),langkah kami, lapangan-lapangan kami, akhir hidup kami,hari-hari kami(ayat 18),pengejar kami(ayat 19) dannafas hidup kami(ayat 20), semua ini menunjukkan ini adalah ratapan kelompok. Selain itu perikop ini diawali dengan suatu bangsa (ayat 17), dan diakhiri dengan bangsa-bangsa (ayat 20) membentuk awal dan akhir yang saling berkorespondensi, membuat kita memahami bahwa bangsa-bangsa adalah salah satu temanya. Bangsa-bangsa ini adalah sekutu Israel di masa lalu. Mereka membentuk aliansi dengan bangsa-bangsa ini, tetapi ketika umat ini berada dalam kesulitan, sekutu yang tampaknya dapat diandalkan ini tidak membantu Israel. Tuhan membuat umat Israel mengerti bahwa sekutu yang benar dan dapat diandalkan bukanlah bangsa-bangsa ini, tetapi adalah TUHAN (Yahweh).

Ayat 17 menunjukkan bahwa umat itu mencari sekutu untuk mendapatkan keselamatan, pandangan kedua pasang mata mereka berpikir bahwa negara-negara ini dapat diandalkan, tetapi mereka memiliki pandangan mata yang tidak sehat, semua harapan itu adalah sia-sia. Ternyata semua negara-negara itu adalah bangsa-bangsa yang tak dapat menyelamatkan orang, tak dapat ini mencakup tidak punya kemampuan dan tidak punya keinginan, para sekutu ini tidak punya keinginan menyelamatkan kerajaan Yehuda seperti yang dijanjikan. Bahkan jika mereka melakukannya, mereka tidak mampu melakukan keselamatan apa pun. Ayat 18-19 menjelaskan bagaimana musuh memperlakukan Sion, dan kata-kata yang digunakan menunjukkan bahwa penghakiman akan segera datang, dan Yerusalem tidak dapat memprediksi pemburu berbahaya ini.

Ayat 20 mengacu pada orang yang diurapi TUHAN dan menggambarkan ia sebagai nafas hidup kami, yang kemudian tertangkap dalam pelubang mereka, ini menunjuk pada raja Zedekia, ketika dia ditangkap oleh orang Babilonia (Yeremia 52:7-11, klik untuk membuka). Frasa 「nafas hidup kami (atau terjemahan KJV lebih harafiah the breath of our nostrils, IMB nafas hidung kami)」 berarti bahwa dia adalah kehidupan yang diandalkan rakyat, dan itu mengingatkan orang-orang pada Kejadian 2:7 TUHAN menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia, umat yang bebal itu hanya mengandalkan keputusan raja untuk menghadapi musuh, tetapi raja ini tidak mengandalkan TUHAN (Yahweh), sehingga membawa akibat buruk bagi negara. Ternyata yang paling tidak bisa diandalkan adalah Zedekia, raja Yehuda, ia memimpin orang-orang Yehuda untuk bergantung mengandalkan bangsa-bangsa sekutu yang tidak bisa diandalkan.

Renungkan:
Pengasingan adalah peristiwa yang merefleksikan hal-hal yang selama ini kita andalkan. Penawanan dapat membuat kita memahami bahwa apa yang kita yakini sebagai dapat diandalkan di masa lalu pada akhirnya akan menjadi yang tidak dapat diandalkan. Di saat yang sama, itu juga membuat kita memahami bahwa keputusan untuk mengandalkan para sekutu dan Zedekia di masa lalu adalah keputusan yang salah, itu juga sekali lagi menunjukkan bahwa hanya TUHAN (Yahweh) yang paling dapat diandalkan. Renungkan siapakah yang menjadi sekutu dan Zedekia tempat Anda bergantung hidup? Marilah kita bertobat!


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 4:12-16

「Sion tidak akan dimusnahkan?」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 4:12-16 [ITB])
12 Tidak percaya raja-raja di bumi, pun seluruh penduduk dunia, bahwa lawan dan seteru dapat masuk ke dalam gapura-gapura Yerusalem.
13 Hal itu terjadi oleh sebab dosa nabi-nabinya dan kedurjanaan imam-imamnya yang di tengah-tengahnya mencurahkan darah orang yang tidak bersalah.
14 Mereka terhuyung-huyung seperti orang buta di jalan-jalan, cemar oleh darah, sehingga orang tak dapat menyentuh pakaian mereka.
15 Singkir! Najis!, kata orang kepada mereka, Singkir! Singkir! Jangan sentuh!; lalu mereka lari dan mengembara, maka berkatalah bangsa-bangsa: Mereka tak boleh tinggal lebih lama di sini.
16 TUHAN sendiri mencerai-beraikan mereka, tak mau lagi Ia memandang mereka. Para imam tidak mereka hormati, dan orang-orang tua tidak mereka kasihani.

Ratapan Yeremia 4:12 berbicara tentang pemikiran bahwa Sion tidak akan dimusnahkan, dikatakan bahwa semua raja di bumi tidak percaya bahwa Sion akan ditawan, seluruh penduduk dunia tidak percaya bahwa musuh dapat masuk ke dalam pintu gerbang Yerusalem. Gagasan bahwa Sion tidak akan dihancurkan ini tercermin dalam kitab Yeremia 7:4 terkait dengan para pemimpin agama di Yerusalem yang sebelum penawanan berkata Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN, dan membuat ini menjadi mantra ajaib mereka, dan percaya bahwa selama mereka terus mengucapkannya, percaya bahwa bait Allah ini tidak akan hancur, mereka tidak perlu bertobat, tidak perlu mengubah tindakan mereka, terus melakukan dosa dalam hidup mereka tanpa perlu ada perubahan, asalkan terus percaya bahwa bait ini adalah bait TUHAN, maka TUHAN (Yahweh) tidak akan pernah mencampakkan bait-Nya dan tidak akan mengabaikannya. Namun, Yeremia menyerang gagasan ini, ia menunjukkan bahwa setiap orang harus memperbaiki tindakan mereka dan bertobat agar mereka masih dapat tinggal di tanah itu.

Lalu, ayat 12 menjelaskan kembali pemikiran bahwa Sion tidak akan dimusnahkan, namun umat ditawan dan penghancuran Sion telah mematahkan semua gagasan tersebut. Ini adalah pemikiran yang di masa lalu belum dipertimbangkan dan diverifikasi oleh hukum Taurat, orang-orang ini tidak benar-benar mempelajari hukum TUHAN (Yahweh) dan menempatkan tuntutan hukum Taurat dalam hidup mereka, maka bencana pengasingan menghancurkan pemikiran yang bertentangan dengan hukum Taurat ini. Ayat 13 menunjukkan bahwa para penganjur gagasan Sion tidak akan dihancurkan adalah nabi dan imam-imam, mereka tidak memperbaiki tindakan mereka dan tidak akan bertobat. Saat mereka memimpin persembahan korban di Bait Allah, mereka menumpahkan darah orang-orang saleh di kota. Ayat 14 menunjukkan bahwa mereka seperti orang buta yang penuh noda darah, dan ayat 15 menjelaskan bahwa ketika orang melihat mereka, akan memperlakukan mereka seperti penderita kusta yang najis, namun penderita kusta sendiri yang harus berteriak, Aku najis! Aku najis! (Im. 13:45, klik untuk membaca), tetapi sekarang orang lain yang meneriaki najis kepada nabi dan imam yang berbuat dosa (ayat 15), ini adalah penghinaan yang lebih serius. Terakhir ayat 16 berbicara tentang para imam dan tua-tua, Tuhan tidak akan lagi menghargai mereka, karena mereka munafik, memiliki standar ganda, mereka hanya akan memahami kebohongan gagasan yang mereka andalkan ketika mereka ditawan.

Renungkan:
Bukankah para pemimpin gereja kita saat ini banyak yang hidup dalam berbagai gagasan dan ideologi yang aneh? Mengejar persembahan, angka-angka, gedung-gedung besar, pengembangan pelayanan, dan program dan musik berkualitas tinggi, tetapi kita menutup mata terhadap keadilan dan moralitas yang diwajibkan oleh hukum Allah. Kita membuat hal-hal yang tidak penting menjadi penting, dan yang benar-benar penting menjadi nomor dua. Kita berpikir bahwa dengan persembahan dan angka-angka, kita bisa mempromosikan gagasan mitos yang kita ciptakan bahwa Sion tidak akan dimusnahkan. Namun, Tuhan akan menghakimi para pemimpin agama yang munafik, yang berbeda dalam dan luar, dan penghakiman datang melalui penawanan, sehingga mereka yang salah membuat nilai-nilai sekuler menjadi nilai-nilai kudus akan mendapatkan hukuman, menjadi penderita kusta najis. Apakah ini menjadi peringatan bagi kita?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 4:5-8

「Ketidakcocokan para elite」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 4:5-8 [ITB])
5 Yang biasa makan yang sedap-sedap, mati bulur di jalan-jalan;
yang biasa duduk di atas bantal kirmizi, terbaring di timbunan sampah.
6 Kedurjanaan puteri bangsaku melebihi dosa Sodom, yang sekejap mata dibongkar-bangkir tanpa ada tangan yang memukulnya.
7 Pemimpin-pemimpin lebih bersih dari salju dan lebih putih dari susu, tubuh mereka lebih merah dari pada merjan, seperti batu nilam rupa mereka. 8 Sekarang rupa mereka lebih hitam dari pada jelaga, mereka tidak dikenal di jalan-jalan, kulit mereka berkerut pada tulang-tulangnya, mengering seperti kayu.

Ratapan Yeremia 4 berlanjut berbicara tentang tema ketidakcocokan kombinasi, ayat 5-8 menggambarkan ketidakcocokan para pemegang kuasa.

Dilihat dari segi budaya waktu itu, rakyat berpendapat bahwa orang kaya, berkuasa, pejabat pembesar dan raja adalah orang-orang yang memiliki moral tinggi dan berkemampuan baik, adalah para elite masyarakat, orang-orang yang menjalankan keadilan dan menjalankan hukum Taurat. Alasan mengapa mereka begitu kaya adalah karena Allah menganugerahkan berkat kepada mereka karena kesalehan dan ketaatan mereka pada perintah Tuhan, yakni berkat termasuk kekuasaan, uang, status, reputasi, dll. Oleh karena itu, orang biasa yang tidak mampu membaca serta tidak mengerti hukum Taurat Tuhan hanya dapat mengandalkan para elite komunitas tersebut untuk memimpin. Namun, penawanan dan penghancuran Yerusalem mengungkapkan sifat asli mereka yang mengejutkan.

Mengapa di sini berbicara tentang para elite ini? Alasannya adalah karena kata pemimpin-pemimpin (ITB) yang dijelaskan pada ayat 7, kata ini dalam bahasa asli dapat diterjemahkan menjadi Nazir (lihat juga KJV Nazarites), tetapi orang Nazir yang dijelaskan di kitab Bilangan pasal 6 tidak menggambarkan keadaan jasmani mereka sebagaimana yang diuraikan di ayat 7 ini, sehingga dapat diterjemahkan ke dalam pengertian lain: bangsawan atau pangeran (lihat ESV sebagai princes), yang lebih sesuai dengan apa yang diuraikan ayat 5-8, yaitu deskripsi tentang orang-orang pemegang kuasa (seperti terjemahan ITB)

Ayat 5 menunjukkan bahwa para elite bangsawan ini selalu makan makanan enak dan duduk di atas bantal merah kirmizi, di masa lalu mereka diberkati oleh Tuhan, sehingga mereka memiliki harta dan benda-benda yang indah. Ayat 7 membandingkan keluhuran moral mereka sebagai lebih murni dari salju dan lebih putih dari susu, dan tubuh mereka lebih merah dari permata (merjan), metafora ini menggambarkan bahwa mereka memiliki status dan reputasi yang berharga, dan mereka disebut pemimpin / bangsawan atau pangeran, pada saat yang sama kata ini dapat diartikan sebagaiNazir, yang berarti bahwa mereka adalah kudus dan didedikasikan untuk Tuhan sama seperti Nazir.

Namun kehancuran Yerusalem dan penawanan pengasingan mengembalikan mereka itu ke wujud aslinya, ternyata dosa mereka lebih besar dari pada dosa Sodom (ayat 6), dan wajah mereka lebih gelap dari pada jelaga, sehingga tidak ada yang mengenal mereka (ayat 8). Penampilan luar yang indah tidak bisa mengemas kotoran batin mereka, betapapun baiknya reputasi, status, kekayaan dan kesucian mereka di masa lalu, tetapi suatu hari nanti kotoran batin mereka akan terungkap, dan hari itu adalah hari TUHAN, ketika penghakiman TUHAN datang, saat itu adalah ketika mereka dinyatakan kembali ke bentuk aslinya. Pada hari itu, tidak ada yang akan mengenal mereka, artinya mereka sama sekali tidak memiliki nama reputasi lagi, hanya malu dan dijungkirbalikan.

Renungkan:
Perikop ini secara khusus ditujukan kepada para pemimpin, pejabat, orang-orang yang berkuasa dan pemimpin agama, untuk waspada hidup dalam kemunafikan berbeda luar dan dalam. Jika orang-orang ini hanya meminta orang lain untuk menghargai mereka, tetapi mereka mengabaikan moral di dalam diri dan hati mereka, bahkan penampilan indah lahiriah untuk menyembunyikan malu batin, orang-orang ini suatu hari akan dihukum oleh Tuhan, dan pada hari itu, kegelapan mereka akan terungkap dan dinyatakan kembali ke sifat asli mereka. Apakah ini ketidakcocokan kombinasi? Ternyata kehidupan di masa lalu yang berkelimpahan yang tidak konsisten antara dalam dan luar adalah ketidakcocokan kombinasi, tetapi sekarang ditawan di pengasingan itu menjadi kecocokan (kombinasi yang cocok)!


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 4:1-4

「Ketidakcocokan anak-anak di Sion」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 4:1-4 [ITB])
1 Ah, sungguh pudar emas itu, emas murni itu berubah; batu-batu suci itu terbuang di pojok tiap jalan.
2 Anak-anak Sion yang berharga, yang setimbang dengan emas tua, sungguh mereka dianggap belanga-belanga tanah buatan tangan tukang periuk.
3 Serigalapun memberikan teteknya dan menyusui anak-anaknya, tetapi puteri bangsaku telah menjadi kejam seperti burung unta di padang pasir. 4 Lidah bayi melekat pada langit-langit karena haus; kanak-kanak meminta roti, tetapi tak seorangpun yang memberi.

Tema Ratapan Yeremia pasal 4 adalah ketidakcocokan di Sion, ayat Alkitab menunjukkan banyak ketidakcocokan kombinasi untuk menjelaskan hal-hal mengejutkan yang tidak boleh terjadi pada umat di Sion. Ketika konsekuensi buruk ini menimpa sebagian orang, dibandingkan masa lalu orang-orang ini, ditemukan banyak ketidakcocokan yang serius. Ayat 1 dimulai dengan ah!, membawakan kontras yang kuat antara situasi masa lalu dan kesengsaraan saat ini membentuk jurang perbedaan yang besar, ketidakcocokan ini sungguh membuat orang menghela napas. Ayat 1-2 menjelaskan bahwa anak-anak Sion seperti emas, tetapi ini adalah emas pudar yang kehilangan warnanya, ketika emas yang luntur ini disandingkan dengan emas, ini adalah ketidakcocokan kombinasi. Ayat 3-4 menjelaskan bahwa anak-anak Sion seharusnya mendapat pemeliharaan, tetapi sekarang mereka tidak terpelihara, bahkan hewan jahat tahu untuk memelihara anak-anaknya, tetapi wanita Sion tidak memberi makan anak-anak mereka sendiri, ini juga ketidakcocokan yang serius.

Ayat 1-2 menjelaskan bahwa anak-anak Sion itu berharga seperti emas murni, emas itu dalam ayat 1 adalah emas murni, dan emas dalam ayat 2 adalahemas tua. Deskripsi ini bukan dimaksudkan untuk menekankan berharganya emas. Juga tidak bermaksud menjelaskan bahwa anak-anak Sion memiliki harta kekayaan, tetapi menekankan pada kemurnian dan kualitas baik (emas tua) emas itu, untuk menggambarkan bahwa anak-anak Sion itu berharga seharusnya adalah akhlak moral yang baik dan kudus, tetapi hal-hal kekudusan ini dangkal di permukaan, dan sifat asli batin mereka diungkapkan oleh Allah ketika mereka ditawan. Ternyata sebenarnya mereka adalah tembikar tanah buatan tangan tukang periuk, dan belanga-belanga ini dapat dipecahkan setelah tidak dapat digunakan (Imamat 11:33), tidak ada arti untuk disimpan. Oleh karena itu, anak-anak yang tampaknya suci dan mulia sekarang sama hina seperti tembikar, ketidakcocokan yang serius.

Ayat 3-4 pertama-tama memakai kata serigala, tetapi sebenarnya itu adalah binatang laut (KJV sebagai sea monsters), dalam mitologi daerah Timur Dekat zaman kuno merupakan kekuatan jahat, (kata yang sama dapat diterjemahkan sebagai binatang-binatang laut Kejadian 1:21, atau ular naga Yeremia 51:34), ayat 3 menunjukkan bahwa binatang laut yang jahat ini mengerti menyusui anak-anaknya sendiri, jika kekuatan jahat juga memiliki sifat keibuan, namun wanita Sion tidak pantas dibandingkan dengan binatang laut, mereka tega tidak menyusui anak-anak mereka sendiri. Mereka seperti burung unta di padang gurun, sering mengabaikan anak-anak mereka (Ayub 39:13-19), yang menunjukkan bahwa kelaparan yang terjadi ketika Yerusalem dihancurkan sangat serius, dan semua anak-anak kelaparan tanpa makanan (ayat 4). Dengan demikian, wanita itu sepatutnya memiliki kasih sayang tetapi menjadi kejam. Anak itu seharusnya disusui, tetapi dia kelaparan, menjadi ketidakcocokan yang serius.

Renungkan:
Apakah hidup kita seperti anak-anak Sion yang di permukaan kulit tampak seperti emas? Mereka nampaknya mulia secara moral di hari-hari penuh kemudahan, tetapi suatu hari ketika hukuman datang, mereka akan menampilkan hakikat asli dirinya. Kita berpikir bahwa mereka yang di permukaan tampak mulia seperti emas mendapatkan hidup yang menderita dan sulit ini adalah ketidakcocokan kombinasi, tetapi kehidupan yang tampaknya tidak cocok ini sebenarnya adalah kombinasi yang sempurna, karena penawanan menbuat sifat asli jahat mereka terlihat, jadi ini adalah kombinasi ketidakcocokan yang sempurna. Apakah perikop Kitab Suci ini juga menjadi peringatan kewaspadaan kita, memanggil kita menjauh dari kehidupan yang dangkal? (yang hanya terlihat mulia di permukaan lahiriah saja.)


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.