Tag Archives: penghakiman rumah Allah

Yehezkiel 22:6-16

Kota penumpahan darah
Oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yeh. 22:6-16 [ITB])
6 Lihat, masing-masing pemimpin Israel mengandalkan kekuatannya di tengah-tengahmu untuk menumpahkan darah.
7 Padamu ayah dan ibu dihina dan di tengah-tengahmu orang melakukan pemerasan terhadap orang asing, padamu anak yatim dan janda ditindas.
8 Engkau memandang ringan terhadap hal-hal yang kudus bagi-Ku dan hari-hari Sabat-Ku kaunajiskan.
9 Padamu berkeliaran orang-orang pemfitnah dengan maksud mencurahkan darah dan orang makan daging persembahan di atas gunung-gunung; kemesuman dilakukan di tengah-tengahmu.
10 Padamu orang menyingkapkan aurat isteri ayahnya dan memperkosa perempuan pada waktu cemar kainnya yang menajiskannya. 11 Yang satu melakukan kekejian dengan isteri sesamanya dan yang lain menajiskan menantunya perempuan dengan perbuatan mesum, orang lain lagi memperkosa saudaranya perempuan, anak kandung ayahnya.
12 Padamu orang menerima suap untuk mencurahkan darah, engkau memungut bunga uang atau mengambil riba dan merugikan sesamamu dengan pemerasan, tetapi Aku kaulupakan, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
13 Sungguh, Aku bertepuk tangan mengenai keuntunganmu yang haram yang kaudapati dan mengenai darah yang dicurahkan di tengah-tengahmu. 14 Apakah hatimu akan tetap teguh dan tanganmu merasa kuat pada masa Aku bertindak terhadap engkau? Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan yang akan membuatnya. 15 Aku akan menyerakkan engkau di antara bangsa-bangsa dan menghamburkan engkau ke semua negeri dan Aku akan mengikis kenajisanmu dari padamu. 16 Maka engkau akan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa karena kesalahanmu sendiri, dan engkau akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.

Yerusalem disebut kota penumpahan darah telah dicatat dalam banyak ayat di Yehezkiel 22 (ayat 2, 3, 4, 6, 9, 12, 13, 27), menjadi subjek fokus dari pasal ini, dan ayat 6- 16 mencatat secara rinci perbuatan jahat yang dilakukan, sebagian besar isinya berkaitan dengan Peraturan Kekudusan (Holiness Code) (Imamat 17 – 26, klik untuk membaca pengantar).

Perikop Alkitab ini dimulai dengan menumpahkan darah (ayat 6), yang sesuai dengan deskripsi dalam Imamat 17:4, sedangkan ayat 7 menyebutkan ayah dan ibu dihina, pemerasan terhadap orang asing dan anak yatim dan janda ditindas, semuanya disebutkan dalam larangan Imamat 19; memandang rendah terhadap hal-hal yang kudus suci dan pelanggaran hari Sabat (ayat 8), semua ini adalah perhatian utama dari Peraturan Kekudusan, ayat 9-11 menyebutkan dalam perilaku seksual ilegal terkait dengan inses dan percabulan yang disebutkan dalam Imamat 18 dan 20. Dengan demikian, Yehezkiel membandingkan isi dari Peraturan Kekudusan dalam Kitab Imamat dengan perbuatan jahat Yehuda saat ini, dan menemukan bahwa mereka melakukan apa yang tidak diperbolehkan oleh hukum Taurat, bahkan lebih jahat daripada bangsa- bangsa lain.

Pusat teologis dari Peraturan Kekudusan dalam Kitab Imamat 17 – 26 adalah Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus (Imamat 19:2). Alasan mengapa orang Israel menaati perintah Allah, bukan karena legalisme (ketaatan secara ketat terhadap peraturan hanya sekadar untuk memenuhi tuntutan), tetapi karena untuk menghayati menghidupi kekudusan Allah, untuk menghidupi cahaya kudus Allah melalui norma-norma moral, menjalankan hukum Allah sehingga dengan demikian dihubungkan pada identitas bangsa Israel sebagai umat yang kudus, dan juga keterhubungan dengan Allah yang kudus dan ilahi, karena identitas ilahi ini, maka mendominasi / mengarahkan semua moral, kata-kata dan perbuatan orang Israel. Namun, orang Israel dari generasi Yehezkiel tidak dapat mempertahankan pengakuan atas identitas ini, mereka menjalani hidup sesuai dengan kemauan kesenangan preferensi dan nafsu mereka sendiri, dan melakukan secara maksimal kebiasaan Kanaan, yang tidak layak untuk status mereka sebagai umat kudus. Dengan demikian, mereka seolah-olah memiliki nama sebagai umat kudus, tetapi perilaku mereka sama sekali jauh dari identitas ini, jauh seperti selatan dengan utara.

Di antara semua perbuatan jahat ini, penumpahan darah manusia adalah kejahatan yang paling serius. Hutang darah harus diperhitungkan pada diri orang yang telah menumpahkan darah, dan orang itu haruslah dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya (Imamat 17:4)). Tapi sekarang seluruh Yerusalem penuh penumpahan darah, Allah akan melenyapkan semua penduduk dan pemimpin Yerusalem sesuai dengan tuntutan hukum. Oleh karena itu, ayat 15-16 menunjukkan bahwa orang Israel akan tercerai-berai di antara bangsa-bangsa dan dipermalukan di depan bangsa-bangsa, dengan tujuan agar engkau akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN. Sering kali, ketika kita berbuat dosa dengan bodoh dan tidak mau tahu apa-apa, kita tidak mau tahu siapa penguasa kehidupan, tetapi ketika semua pembalasan datang kepada pelanggar, orang akan tahu bahwa penguasa kehidupan bukanlah diri kita sendiri, tetapi TUHAN Yahweh, itulah makna mengetahui bahwa Akulah TUHAN. Dan Akulah TUHAN juga merupakan kata yang diulang-ulang dalam Peraturan Kekudusan dalam Kitab Imamat, terutama dalam Imamat pasal 19 banyak ketetapan hukum diikuti dengan kata Akulah TUHAN, Allahmu, yakni agar orang paham bahwa tujuan taat hukum ketetapan Allah adalah untuk mengakui fakta bahwa Akulah TUHAN. Pengakuan atas Akulah TUHAN (Yahweh) juga merupakan pengakuan dan pengenalan atas identitas diri, bangsa Israel harus mengakui bahwa TUHAN (Yahweh) adalah Penguasa kehidupan, dan oleh karena itu umat Israel diingatkan untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan status mereka sebagai umat Allah yang kudus.

Renungkan:
Identitas seseorang menentukan perilaku seseorang, apa yang dilakukan seseorang berasal dan ditentukan identitas apa yang dimiliki seseorang. Seberapa besar pengakuan dan pengenalan Anda terhadap identitas Anda sebagai umat kudus Allah? Bagaimana kejahatan orang Israel dari generasi Yehezkiel menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi Anda?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 21-28 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasikan pada bulan Januari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 21:1-7

Mencabut pedang-Ku dari sarungnya
Oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yeh. 21:1-7 [ITB])
1 Datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 Hai anak manusia, tujukanlah mukamu ke Yerusalem dan ucapkanlah banyak tegoran terhadap tempat kudusnya dan bernubuatlah melawan tanah Israel. 3 Katakanlah kepada tanah Israel: Beginilah firman TUHAN:
Lihat, Aku akan menjadi lawanmu dan akan mencabut pedang-Ku dari sarungnya dan melenyapkan dari tengah-tengahmu orang benar dan orang fasik. 4 Oleh karena Aku hendak melenyapkan dari tengah-tengahmu orang benar dan orang fasik, maka pedang-Ku akan terhunus dari sarungnya terhadap semua manusia dari selatan sampai utara. 5 Dan semua manusia akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, mencabut pedang-Ku dari sarungnya, sehingga tidak akan kembali lagi ke situ.
6 Dan engkau anak manusia, mengeranglah! Mengeranglah di hadapan mereka seperti seorang yang tulang pinggangnya patah dan yang berada dalam kesengsaraan yang pahit. 7 Dan kalau mereka bertanya kepadamu: Mengapa engkau mengeluh? jawablah: Karena suatu berita! Kalau berita itu sudah tersiar, setiap hati akan menjadi tawar dan semua tangan menjadi lemah lesu, segala semangat menghilang dan semua orang terkencing ketakutan. Sungguh, pasti datang dan terjadi! demikianlah firman Tuhan ALLAH.

Bulan Januari tahun 2022 ini renungan Yehezkiel dimulai dari pasal 21.

Yehezkiel 12:1-16 mencatat drama profetik (prophetic drama)yang pertama, dan Yehezkiel 24:15-27 mencatat drama profetik yang terakhir, sehingga Yehezkiel pasal 12-24 akhir dan awal saling berkorespondensi, kedua drama profetik tersebut terkait makna lambang / tanda (môfēt, sign) (Yeh. 12:6, 11, 24:24, 27), yaitu Yehezkiel memakai gerakan tubuh non-verbal untuk menyampaikan lambang / tanda simbolis kepada orang Israel, ketika orang melihat lambang / tanda ini, mereka tahu bahwa hal-hal tertentu pasti akan terjadi dalam waktu dekat, dan hal-hal ini adalah penghakiman dari Allah. Oleh karena itu, Yehezkiel 21 terletak di paragraf besar pasal 12 – 24, mengangkat tema penghakiman TUHAN, dan pasal 21 menggunakan metafora pedang untuk menggambarkan penghakiman ini.

Yeh. 21:1-7 adalah metafora pertama tentang pedang, menggunakan mencabut pedang-Ku dari sarungnya (ayat 3 dan 5) untuk menggambarkan penghakiman dari Allah, mencabut pedang-Ku dari sarungnya membuat orang mengerti penghakiman Allah sudah siap dan akan dilakukan kapan saja. Ini adalah nubuat bahwa Yerusalem pada tahun 586 SM akan dihancurkan, dan penghakiman dari Allah akan segera datang dan menghancurkan seluruh kota. Namun, Kitab Suci menunjukkan bahwa pedang ini akan melenyapkan orang benar dan orang fasik (ayat 3 dan 4), ini membingungkan Mengapa penghakiman Allah begitu tidak adil sehingga bahkan orang benar harus dilenyapkan? Karena kesulitan dalam memahami ini, beberapa interpretasi kuno (seperti LXX dan Talmud) mencoba memahami arti tsaddiyq sebagai orang durhaka. Namun, kitab suci menggunakan orang benar dan orang fasik, merupakan gaya sastra retorik merism, menggunakan dua kata ekstrem untuk menjelaskan arti semua orang (retorik merism: kombinasi sepasang kata kontras untuk mengungkapkan totalitas atau kelengkapan). Lagi pula, dalam perang apa pun, pedang tidak membedakan orang benar atau orang fasik, hanya ada dua pihak berlawanan yang bertempur. Metode retorik merism juga tercemin di ayat 4 semua manusia dari selatan sampai utara, di sini selatan dan utara juga merupakan metode retorik merism, yang menggambarkan kelengkapan wilayah, dan semua manusia secara tepat menggambarkan makna teks, yaitu bahwa cakupan penghakiman Allah atas Yerusalem melibatkan semua orang dan semua wilayah di dalam kota, apakah mereka benar atau fasik, apakah mereka di utara atau selatan, tidak bisa melepaskan diri dari penghakiman dari Allah, menunjukkan bahwa ini adalah penghakiman total.

Renungkan:
Umat manusia tidak bisa menghindarkan diri dari penghakiman dari Allah, dan penghakiman Allah akan segera datang. Jika kita semua percaya bahwa penghakiman akan datang, mengapa kita harus melakukan semua kejahatan untuk menyakiti hati Allah? Bagi Anda, apa arti fakta bahwa manusia tidak dapat lolos dari penghakiman?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 21-28 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasikan pada bulan Januari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Lukas 23:26-31

「Percaya Tindakan Ajaib Tuhan」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 23:26-31 [ITB])
26 Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus. 27 Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia.
28 Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! 29 Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui. 30 Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami! 31 Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?

Dalam ayat hari ini, Lukas secara khusus menyebutkan tindakan mengikuti dari banyak perempuan, terutama di jalan Yesus menuju salib. Kecuali Simon orang Kirene, yang dipaksa memikul salib bagi Yesus, tidak tersisa berapa murid Yesus yang bersedia mengikuti bersama-Nya. Meskipun Kitab Suci menggambarkan bahwa banyak orang mengikuti Yesus, menurut Luk. 23:35, orang-orang ini hanya berdiri di situ dan melihat semuanya (menonton). Mereka mungkin memiliki maksud lain menunggu adakah mukjizat datang dari Yesus, dapat dilihat bahwa hanya ratap tangisan para wanita ini adalah penghiburan terbesar bagi Yesus di jalan penderitaan.

Dalam Luk. 8:3, Lukas telah menyebutkan bahwa para wanita ini menggunakan harta milik mereka sendiri untuk menyokong kebutuhan Yesus dan para murid. Sampai pada tahap akhir, mungkin kelompok wanita inilah yang masih setia di samping Yesus.

Tetapi yang mengejutkan, Yesus tidak mengatakan sesuatu yang menyedihkan tentang bencana yang Ia hadapi ini. Sebaliknya, Dia menghibur para wanita ini, jangan menangis untuk-Nya, tetapi menangislah untuk para wanita Yerusalem dan anak-anak mereka. Bagi Yesus, kematian-Nya akan membawakan penghakiman hari akhir zaman, dijatuhkannya keputusan dosa kedua belas suku Yakub (Lukas 22:30 kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel), dan Bait Suci Yerusalem ke tangan orang-orang non Israel lagi. Jika merujuk pada Yer. 9:17-19 beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perhatikanlah! Panggillah perempuan-perempuan peratap, supaya mereka datang, dan suruhlah orang kepada perempuan-perempuan yang bijaksana, supaya mereka datang! Biarlah mereka bersegera dan meratap karena kita, supaya mata kita mencucurkan air mata, dan kelopak mata kita melelehkan air! Sebab terdengar ratapan dari Sion: Wahai binasalah kami! Kami sangat dipermalukan! Sebab kami harus meninggalkan negeri ini, karena rumah-rumah kediaman kami dirobohkan orang. Tidak sulit untuk menemukan bahwa kehancuran Bait Suci di zaman Yeremia merupakan prafigur (typos / pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak) akan segera terjadi lagi sesuai perkataan Yesus.

Karena pada hari-hari Yerusalem dihancurkan, jiwa-jiwa dilumuri kekelaman, dan mereka yang tidak pernah melahirkan serta mengandung tidak perlu mengalami momen perpisahan dengan anak-anak mereka, sama seperti rasa sakit yang dirasakan Maria dipisahkan dari Yesus. Dapat dilihat bahwa pengorbanan Yesus dan keras kepala Yudaisme membawa penghakiman Allah kepada umat-Nya.

Penghakiman ini tidak hanya terjadi pada zaman Yeremia, tetapi juga terjadi di zaman Hosea. Ketika Lukas mengutip ayat-ayat Hosea 10:8 … mereka akan berkata kepada gunung-gunung: Timbunilah kami! dan kepada bukit-bukit: Runtuhlah menimpa kami! Pada saat yang sama juga menyatakan bahwa orang-orang Yahudi menyembah berhala dan meninggalkan keselamatan TUHAN (Yahweh), mereka akan menerima penghakiman yang sangat menakutkan.

Ketika penyaliban datang kepada Yesus (kayu hidup, lih. Luk. 23:31), dapat dipercaya bahwa penghakiman yang lebih mengerikan pada akhirnya akan datang kepada orang-orang Yahudi (kayu kering). Karena itu, Yesus tidak menaruh kesedihan pada diri-Nya sendiri, karena yang lebih mengerikan akan mendatangi diri orang-orang durhaka.

Renungkan:

Ketika para wanita berduka atas eksekusi pada diri Yesus, malapetaka dan penghakiman yang besar telah datang kepada mereka yang menganiaya Yesus.

Sejarah mengulang diri. Ketika kita melihat bahwa orang-orang benar ini dianiaya, jangan lupa bahwa Tuhan yang melakukan keadilan akan membawa penghukuman kepada mereka yang tidak benar, sehingga orang benar tidak akan menderita sia-sia.

Dengan tenang menunggu Tuhan yang menghakimi yang hidup dan yang mati, karena Dia hidup di antara kita.


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 21:20-28

「Dengan Kenyamanan Menantikan Tuhan Datang Lagi?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 21:20-28 [ITB])
20 Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat.
21 Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, 22 sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis.
23 Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, 24 dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.
25 Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. 26 Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.
27 Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
28 Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.

Perikop kemarin membuat kita merenungkan interpretasi ulang Yesus tentang pandangan akhir zaman orang Yahudi. Apa yang Ia katakan tidak sama persis dengan yang disajikan dalam literatur apokaliptik Yahudi. Di antaranya, di akhir zaman orang-orang tidak murni menunggu kedatangan kembalinya Mesias, dan dengan tenang menikmati semuanya. Sebaliknya, umat Tuhan menghendaki pembaruan dan perubahan menyeluruh untuk Mesias Yesus Kristus.

Sampai di perikop hari ini, Yesus dengan tegas menubuatkan berkembangnya akhir zaman, yakni ketika Yerusalem dikepung, umat Allah hendaknya melarikan diri ke pegunungan, mereka yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota. Lalu bagi Yesus, ini adalah salah hal yang harus digenapi dalam Kitab Suci.

Untuk mengetahui penggenapannya di sini, tidak hanya bagian nubuatan dari teks-teks Perjanjian Lama (ayat 22 itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis). Sebenarnya, kata masa pembalasan mengacu pada perjalanan sejarah umat Allah dalam Perjanjian Lama, sebagian besar dari mereka mengabaikan kehendak dan kepemimpinan Allah, menyimpang menyembah dewa-dewa lain. Karena itu, hari pembalasan datang ke Bait Suci dan kepada umat-Nya (lihat Yer. 51:11 Lancipkanlah anak-anak panah, siapkanlah perisai-perisai! TUHAN telah membangkitkan semangat raja-raja Media, sebab rencana-Nya terhadap Babel ialah untuk memusnahkannya: itulah pembalasan TUHAN, pembalasan karena bait suci-Nya!) Oleh karena itu, topik teologis tentang penghakiman atas keluarga rumah Allah ini menjadi prafigur / penggambaran yang terulang kelak (typos, tipologi), dalam kejadian sejarah yang berbeda, ketika Israel mecampakkan dan meninggalkan anugerah keselamatan dari Allah, prafigur penghakiman atas keluarga rumah Allah ini digunakan kembali untuk menyerukan pertobatan dan kepulangan kembalinya umat Allah.

Berharga untuk diperhatikan bahwa Herodes Agung menghabiskan beberapa dekade waktu, uang, tenaga dan tangan manusia untuk membangun Bait Suci yang megah, ternyata diberi tahu oleh Yesus bahwa sekali lagi akan diinjak-injak oleh orang asing, mengulangi situasi dahulu zaman Yeremia. Dapat dipercaya bahwa di dalam hati orang-orang Yahudi belum pernah memikirkan hal yang dikatakan Yesus ini dan merasa itu tidak mungkin. Sampai tahun 70 Masehi, orang-orang Romawi membakar Bait Suci, prafigur penghakiman atas keluarga rumah Allah (typos) yang Yesus katakan benar-benar terulang di zaman itu.

Lalu, dalam ayat 21:25-28, Yesus sekali lagi menyatakan dengan tegas bahwa setelah Ia mati, bangkit, dan naik ke surga — Ia akan kembali datang dalam awan dengan segala kekuasaan serta kemuliaan-Nya, dan berbagi kemuliaan-Nya dengan orang-orang kudus.

Renungkan:

Hari ini, apakah kita mengulangi kesalahan Israel, yakni perlahan-lahan melupakan anugerah Tuhan, dan berpikir bahwa keselamatan Tuhan akan datang kepada diri kita sendiri, dan lupa bagaimana berjuang untuk Firman Tuhan, dan melakukan yang terbaik di dunia, rela mengorbankan semuanya, bahkan dianiaya dan disakiti?
Hidup nyaman orang Kristen (Easy Christian Life) adalah gelar kosong yang palsu. Kenyamanan hidup tenteram tidak pernah bisa digunakan pada orang Kristen. Kehidupan nyaman tenteram hanya membuat orang terperanjat pucat ketika Tuhan datang kembali. Sebaliknya, orang-orang yang setia pada pelayanan Injil dapat berdiri dan menikmati hari penebusan yang telah lama menunggu.

Apakah kenyamanan merupakan masalah umum dan musuh yang mematikan kita?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan ini untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa beaya.