Tag Archives: Langit dan Bumi

Yehezkiel 8:1-4

「Diangkat ke antara langit dan bumi」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 8:1-4 [ITB])
1 Pada tahun keenam, dalam bulan yang keenam, pada tanggal lima bulan itu, waktu aku duduk di rumahku berhadap-hadapan dengan para tua-tua Yehuda, kekuasaan Tuhan ALLAH meliputi aku di sana, 2 dan aku menerima penglihatan:
Sungguh, ada kelihatan yang menyerupai seorang laki-laki, dari yang menyerupai pinggangnya sampai ke bawah kelihatan seperti api dan dari pinggangnya ke atas kelihatan seperti cahaya, seperti suasa mengkilat.
3 Dia mengulurkan sesuatu yang berbentuk tangan dan dipegang-Nya jambul kepalaku.
Lalu Roh itu mengangkat aku ke antara langit dan bumi dan membawa aku dalam penglihatan-penglihatan ilahi ke Yerusalem dekat pintu gerbang pelataran dalam yang menghadap ke utara, di mana terdapat berhala cemburuan, yang menimbulkan cemburu itu.
4 Lihat, di sana tampak kemuliaan Allah Israel, seperti penglihatan yang kulihat di lembah itu.

Yehezkiel pasal 8 – 11 merupakan satu alinea, yang terutama menjelaskan penglihatan Yehezkiel tentang Bait Suci dan kemuliaan TUHAN yang meninggalkan Yerusalem. Perikop hari ini adalah bagian awal dari keseluruhan bagian (Yeh. 8:1-4), dan menjelaskan bagaimana Yehezkiel menerima penglihatan itu.

Ayat 1 menunjukkan bahwa hal ini terjadi pada tahun keenam, dalam bulan yang keenam, pada tanggal lima bulan itu, jika kita menghitung dari tanggal lima bulan itu, yaitu tahun kelima sesudah raja Yoyakhin dibuang (Yeh. 1:2), kita tahu bahwa hari kelima, bulan keenam tahun, itu adalah lebih dari setahun setelah Yehezkiel menerima panggilan. Saat itu, Yehezkiel sedang duduk di rumah, dan semua tua-tua Yehuda duduk di hadapannya (ayat 1), hal ini mencerminkan struktur kekuasaan komunitas diasingkan pada saat itu, karena raja Yoyakhin dan para bangsawan ditawan ke istana Babel, para tua-tua dari masing-masing suku mengambil alih mengurus penduduk sipil Israel, dan kita dapat melihat ini dalam catatan setelah kembali dari pengasingan (Ezra 1:5, 2:68, 4: 2, 8:1). Yehezkiel duduk dengan para tua-tua, menunjukkan bahwa dia memiliki posisi tertentu dalam kelompok yang diasingkan ini, dan pada saat ini, tangan kuasa TUHAN datang ke atasnya.

Ayat 2-3 menggambarkan penglihatan yang diterima Yehezkiel, menggambarkan seseorang pribadi menyerupai api, dan ada sesuatu yang berbentuk tangan (the form of an hand) yang menyerupai tangan dan roh yang mengangkat Yehezkiel, kata yang berbentuk (form) digunakan untuk menggambarkan bagaimana Daud mengikuti bentuk tempat kudus surgawi yang ditunjukkan Allah kepadanya untuk membangun Bait Suci di bumi (1 Taw. 28:11-19, karena fungsional bahasa maka ITB menerjemahkan sebagai rencana dan KJV sebagai the pattern, namun mandarin dapat secara sama menerjemahkan sebagai yang berbentuk / yang menyerupai), memunculkan analogi penyerupaan antara langit dan bumi, dan pada saat yang sama, Roh itu mengangkat Yehezkiel ke antara langit dan bumi, yang juga sama-sama menjelaskan interaksi antara langit dan bumi. Penglihatan tersebut menekankan inti mengenai antara langit dan bumi, dan juga membawakan peran Yehezkiel sebagai nabi adalah menjadi perantara antara langit dan bumi.

Pengalaman Yehezkiel diangkat oleh Roh Allah dapat dianggap unik di antara para nabi Perjanjian Lama. Kita dapat melihat di kitab Raja-raja bahwa Elia memiliki situasi yang sama (1 Raj. 18:12, 2 Raj. 2:1-12), tetapi hanya kitab Yehezkiel yang mencatat penglihatan yang dia lihat dengan sangat rinci. Roh Allah membawanya dari Babel kembali ke Yerusalem, dan situasinya tampaknya berubah seketika, membawa Yehezkiel ke Yerusalem, yang akan segera dihancurkan (saat itu tahun 592 SM, dan kehancuran Yerusalem terjadi pada tahun 586 SM), dan dari sudut pandang Allah melihat situasi Yerusalem. Oleh karena itu, Yehezkiel sebagai anak manusia, tidak hanya harus mengabarkan kehendak pikiran Allah, tetapi juga melihat sesuatu melalui sudut pandang Allah. Ketegangan tarikan antara cara pandang Allah dan manusia, perantara antara langit dan bumi, itu merupakan panggilan seumur hidup Yehezkiel.

Kitab Suci menggunakan dua kata di mana / di sana untuk memunculkan suasana hati Allah, kata di mana yang pertama (ayat 3, di mana terdapat berhala cemburuan) menunjukkan bahwa di kota suci Yerusalem ada tempat berhala yang membangkitkan kecemburuan Allah, yang kedua adalah di sana (ayat 4, di sana tampak kemuliaan Allah Israel) menunjukkan bahwa kemuliaan TUHAN juga ada di tempat itu pada saat yang bersamaan. Dua ketidaksesuaian ada di mana / di sana memberikan penjelasan atas kecemburuan Allah. Di satu sisi, kemuliaan Allah belum pergi. Di sisi lain, orang-orang menyembah berhala, mengabaikan hubungan perjanjian tunggal antara orang-orang dan Allah, yang seharusnya menjadi komitmen.

Renungkan:
Nabi Yehezkiel berdiri di antara langit dan bumi, mewartakan penglihatan dari Allah kepada dunia, tetapi sayangnya, manusia hanya memiliki penglihatannya sendiri, mengabaikan visi Allah, dan bahkan mengabaikan rasa sakit cemburu Allah. Akankah kita terlalu ego, hanya melihat diri kita sendiri dan tidak melihat pandangan Allah terhadap dosa?

(Kita duduk dan hidup di hadapan manusia, juga di hadapan Allah, lalu bentuk keserupaan apa yang kita miliki? Keserupaan yang mengikuti bentuk surgawi ataukah yang dunia? Adakah tangan kuasa Allah ataukah tangan kuasa dunia yang datang dalam hidup kita? Adakah kita seperti Salomo mengikuti bentuk tempat kudus surgawi yang ditunjukkan Allah kepada Daud untuk membangun diri kita yang adalah Bait Suci di bumi?)


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 1- 11 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Januari 202 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Wahyu 21:9-17

「Gereja Kristus adalah Kota Suci, adalah Bait Suci」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 21:9-17 [ITB])
9 Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba. 10 Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. 11 Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal. 12 Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. 13 Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. 14 Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.
15 Dan ia, yang berkata-kata dengan aku, mempunyai suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya. 16 Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama. 17 Lalu ia mengukur temboknya: seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat.

Kemarin kita membaca langit dan bumi baru serta membawakan serangkaian hal baru, salah satunya adalah kota suci ─ Yerusalem baru, seperti seorang pengantin perempuan berpakaian rapi, menunggu suaminya. Jadi bagaimana pakaian pengantin wanita ini? Ayat-ayat berikutnya adalah close-up (foto yang diambil dari jarak sangat dekat sehingga objek foto terlihat jelas), ini sangat penting bagi orang Kristen karena pengantin perempuan ini melambangkan Gereja Kristus. Kita akan membagi close-up yang cukup panjang ini menjadi tiga bagian: hari ini Why. 21:9-17 melihat penampilan luar kota suci ini; besok Why. 21:18-21 melihat bahan bangunan kota suci, setara dengan keindahan pengantin perempuan, mempelai Anak Domba; lusa Why. 21:22-22:5 untuk melihat kehidupan di dalam kota suci.

Ini adalah keempat kalinya Yohanes diinspirasikan oleh Roh Kudus dan dibawa ke suatu tempat untuk melihat penglihatan tersebut. Ini adalah yang terakhir yang dicatat dalam kitab ini (ayat 9-10; lihat Why. 1:10-20 dan renungan Why. 1:10-20). Sebelumnya, ia dibawa ke padang gurun untuk melihat pelacur besar itu dihukum, sekarang ini ia dibawa ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi untuk melihat pengantin perempuan yang kudus. Nabi Yehezkiel dari Perjanjian Lama pernah dibawa ke atas gunung yang tinggi sekali untuk melihat sebuah bangunan yang merupakan kota, yang juga Bait (Yeh. 40:1-48:35). Ada keserupaan dengan perikop di sini — misalnya, ada tiga gerbang di tenggara dan barat laut (Why. 21:12; lih. Yeh. 48:31-34), dan kemiripan antara keduanya membantu kita memahami bahwa Kota Suci yang turun dari langit ini pada saat yang sama juga merupakan Bait di mana Allah hadir!

Kitab Suci mengatakan: Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal (ayat 11). Ini adalah deskripsi yang sangat penting, menunjukkan bahwa Gereja Kristus hendaknya mencerminkan kemuliaan Allah; dalam pasal 4, takhta juga digambarkan bagaikan permata yaspis dan permata sardis (Why. 4:3), gambaran ini menunjukkan kemuliaan keindahan Allah. Ini sangat berbeda dengan hiasan indah pelacur besar dan Babel yang dibicarakan dalam pasal 17.

Melihat struktur Kota Suci: temboknya besar lagi tinggi memiliki dua belas gerbang, di atas pintu-pintu gerbang itu tertulis nama kedua belas suku Israel, dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu (ayat 12, 14). Ini membuatnya cukup jelas bahwa identitas mempelai wanita adalah umat Allah, termasuk umat pilihan Perjanjian Lama dan orang-orang Kristen Perjanjian Baru.

Lalu Yohanes diberitahu untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya (ayat 15); penuh dengan simbol! Pertama-tama, Why. 11:1 mengukur Bait Allah melambangkan penerimaan dan perlindungan Allah atas umat-Nya (lihat renungan Wahyu 11:1-4). Lihatlah bentuk kota suci: itu adalah sebuah kubus, panjang, lebar, dan tinggi yang sama (ayat 16). Ini tidak mungkin merupakan struktur umum sebuah kota, tetapi bagian dalam Bait Allah, setara dengan tempat maha kudus bagian dalam dari Kemah Pertemuan (1 Raj. 6:20), ini merupakan gambaran yang lebih jauh bahwa Yerusalem Baru memiliki peran Bait Suci. Panjang dan lebar sama-sama 12.000 stadia, dan tembok kota adalah 144 hasta; angka-angka ini terkait dengan umat kudus, yang juga berarti bahwa: Kota Suci dari langit baru dan bumi baru — yakni Bait Suci, dibentuk dari orang-orang kudus.

Kita percaya bahwa kehendak Allah adalah untuk memperbaharui Gereja, sampai langit baru dan bumi baru selesai sempurna maka Gereja milik Kristus siap untuk menjadi kota suci seperti yang ada dalam penglihatan Yohanes — yang menampilkan Bait Suci. Oleh karena itu, gambaran yang di sini harus menjadi pengingat yang indah bagi orang Kristen, terutama para pemimpin gereja.

Renungkan:

Teks perikop ini menekankan tingginya Kota Suci dan kokoh kuat temboknya — setebal 144 hasta, setara dengan 66 meter atau 216 kaki. Renungkan apa yang dilambangkan oleh tinggi dan kekokohan ini? Apakah ini situasi gereja Anda saat ini?

Jika bentuk kubus adalah Bait Suci, makna dari Tempat Kudus, lalu gereja sepatutnya memiliki sifat khusus atau fungsi yang bagaimana?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 1:1-3

「Memanggil Langit dan Bumi」

Apa makna yang mendalam dari tindakan Allah memanggil langit dan bumi, serta membandingkan Israel dengan lembu dan keledai?

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 1:1-3 [ITB])
1Penglihatan yang telah dilihat Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem dalam zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda.
2Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab TUHAN berfirman: 「Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku. 3Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.」

Kitab Yesaya dimulai dengan menggambarkan nabi Yesaya mendapatkan 「pewahyuan」 (ḥāzôn) dari Tuhan, dalam bahasa aslinya dilihat dari aturannya, kata 「pewahyuan」 (ḥāzôn) ini muncul permulaan ayat 1, makna paling utamanya adalah penglihatan (vision), pemberitahuan ilahi (oracle) atau nubuat (prophecy), mewakili bahwa komunikasi Allah dengan nabi adalah jalur yang berbeda. Berdasarkan gambaran kitab Yesaya pasal 6 tentang nabi Yesaya mendapat panggilan melihat TUHAN duduk di tahkta maha tinggi, maka kita memiliki alasan untuk percaya bahwa 「pewahyuan」 yang didapatkan nabi Yesaya tidak hanya menunjuk suara yang dapat didengar, juga menunjuk penglihatan yang dapat dilihat. Dengan demikian, kitab Yesaya 1:1 memakai kata 「pewahyuan」 sebagai permulaan, adalah untuk menjelaskan bahwa segala yang dibicarakan di seluruh kitab bukan merupakan perkataan karangan diri Yesaya sendiri, tetapi merupakan 「pewahyuan」 yang dinyatakan TUHAN Maha Kuasa, menambahkan wibawa dari isi yang dituliskan dalam kitab ini.

Kitab Yesaya 1:2-3 terlebih dahulu mengeluarkan seruan kepada langit dan bumi, adalah mengundang langit dan bumi bersaksi atas tuduhan kepada umat Israel, keadaan yang mirip saat Musa mengadakan perjanjian di hadapan orang Israel, mengumumkan perkataan kutukan dan berkat kepada langit dan bumi: 「Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.」 (Ul. 30:19); 「Pasanglah telingamu, hai langit, aku mau berbicara, dan baiklah bumi mendengarkan ucapan mulutku.」 (Ul. 32:1). Dan melihat teks sebelum dan sesudahnya dari catatan kitab Ulangan ini, seruan yang memanggil langit dan bumi seperti ini membawa perkataan yang bersifat persekutuan, menunjukkan umat Israel sebagai umat perjanjian anugerah, jika menaati perintah TUHAN akan membawakan berkat kebahagiaan, jika mereka melanggar perintah TUHAN maka akan membawakan kutukan, dan Musa tepat pada waktu mengadakan perjanjian, di saat yang kritis ini memanggil langit dan bumi, mengundang aturan penciptaan untuk bersaksi, bahwa umat Israel telah mengadakan perjanjian persekutuan dengan TUHAN, kedua pihak yang mengadakan perjanjian tidak dapat berbalik menyesalinya.

Ternyata, seruan memanggil langit dan bumi adalah seruan terhadap seluruh aturan penciptaan, tujuan dari seruan macam ini adalah demi bersaksi bahwa umat Israel telah melanggar aturan yang ditetapkan saat Allah menciptakan, telah melanggar sifat alamiah yang dianugerahkan Allah, Yes. 1:2-3 menjelaskan umat Allah telah melakukan perkara yang melanggar aturan penciptaan dan sifat alamiah, menunjukkan berdosa, sombong dan penindasan semuanya bertentangan dengan penciptaan Allah. Lembu dan keledai (Yes. 1:3) semua adalah salah satu bagian dari aturan penciptaan, mereka memiliki sifat alamiah menaati tuan pemiliknya, tetapi tragis, umat Israel tidak mampu belajar dari sifat alamiah taat lembu dan keledai! Selain itu, anak membalas ayah dan ibu atas budi mendidik serta membesarkan merupakan sifat alamiah manusia yang sepatutnya, merupakan sebagian dari aturan penciptaan Allah, sekarang TUHAN mengasuh umat Israel, mereka ternyata durhaka terhadap Allah! (ayat 2). Oleh karena itu, seruan memanggil langit dan bumi semacam ini adalah bersaksi bahwa umat Israel sama sekali tidak cocok dengan sifat alamiah ciptaan, dikatakan secara sederhana, kedurhakaan umat Israel sedemikian itu adalah tindakan dan pemikiran penjahat bandit, segala yang ada di dunia alamiah tidak ada yang sedemikian jahat seperti umat Israel.

Renungkan: kita sejak awal adalah sekelompok orang percaya yang diberikan anugerah keselamatan oleh Allah dan diperlakukan dengan kasih karunia, Allah dengan kesabaran-Nya dan belas kasihan mendidik serta membesarkan kita setiap pribadi, tetapi setelah kita dibesarkan, akan berbuat durhaka kepada TUHAN, melakukan banyak sekali hal yang melanggar kewajaran dan melanggar aturan penciptaan, hal-hal ini bahkan lembu dan keledaipun tidak akan melakukannya (atau: kita bahkan lembu dan keledaipun tidak mirip). Perlu dipahami, jalan dari berbuat dosa bukanlah satu hari saja sudah mencapai kedurhakaan, titik awalnya adalah godaan dengan tidak waspada, titik akhirnya adalah ketidaknormalan dan maut, saat kita masih tersesat tidak sadar, saat berjalan serong di jalan kita sendiri, jikalaupun tidak ada orang yang mengetahui, tidak akan mampu membohongi mata Allah, oleh karena itu, kita perlu cepat-cepat bertobat.