Tag Archives: Kitab Yehezkiel

Yehezkiel 36:25-27

「Ditahirkan dengan air jernih」
Panggilan dan Pembaruan Hidup


Oleh Rev. Dr. Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Yehezkiel 36:25-27 [ITB])
25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. 26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. 27 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.


Renungan pemahaman Penggilan dan Pembaruan 2026

Renungan Topikal Ěr Dào

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 「Panggilan dan Pembaruan」 ditulis oleh Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯) yang dipublikasikan pada bulan April 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 48:30-35

「TUHAN HADIR DI SITU」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 48:30-35 [ITB])
30 Inilah pintu-pintu keluar kota itu: di sisi sebelah utara, yang ukurannya adalah empat ribu lima ratus hasta, 31 terdapat tiga pintu gerbang, yaitu pintu gerbang Ruben, pintu gerbang Yehuda dan pintu gerbang Lewi, sebab pintu-pintu gerbang kota itu disebut menurut nama suku-suku Israel. 32 Di sisi sebelah timur, yang ukurannya empat ribu lima ratus hasta, terdapat tiga pintu gerbang juga, yaitu pintu gerbang Yusuf, pintu gerbang Benyamin dan pintu gerbang Dan. 33 Di sisi sebelah selatan, yang ukurannya empat ribu lima ratus hasta, terdapat tiga pintu gerbang juga, yaitu pintu gerbang Simeon, pintu gerbang Isakhar dan pintu gerbang Zebulon. 34 Di sisi sebelah barat, yang ukurannya empat ribu lima ratus hasta, terdapat tiga pintu gerbang juga, yaitu pintu gerbang Gad, pintu gerbang Asyer dan pintu gerbang Naftali. 35 Jadi keliling kota itu adalah delapan belas ribu hasta. Sejak hari itu nama kota itu ialah: 『TUHAN HADIR DI SITU』.

Ini adalah bagian terakhir dari kitab Yehezkiel, yang mencatat nama-nama pintu gerbang kota Yerusalem dalam penglihatan Bait Suci hari akhir, serta mencatat nama seluruh kota. Nama itu sangat penting, bukan sekedar nama, tapi juga mencerminkan hakikat yang sebenarnya. Inilah yang diyakini masyarakat Timur Dekat dan Israel kuno.

Kota Yerusalem mempunyai dua belas pintu gerbang, masing-masing tiga di sebelah timur, selatan, barat dan utara. Nama kedua belas pintu gerbang ini adalah pintu gerbang kedua belas anak Yakub. Perlu diperhatikan bahwa ini adalah nama kedua belas anak Yakub, bukan nama kedua belas suku, karena anak Yusuf Manasye dan Efraim telah menjadi dua suku, namun salah satu nama gerbang kota tersebut adalah Yusuf (Yeh. 48:32). Kedua belas pintu gerbang Yerusalem memuat nama kedua belas anak Yakub, menandakan bahwa seluruh bangsa Israel terhubung dengan rapi dengan kota suci Yerusalem. Jika kota di mana Allah hadir adalah tempat yang dipilih oleh Allah, maka nama kedua belas gerbang kota melambangkan bahwa seluruh bangsa Israel terhubung dengan lingkup yang dipilih Allah, menjadi umat pilihan Allah, dan sekaligus menjadi umat perjanjian.

Terakhir, kota terakhir Yerusalem ini juga berganti nama menjadi TUHAN HADIR DI SITU (ayat 35). Jika kita melihat teks bahasa aslinya, kata Yhvah Shammah (TUHAN HADIR DI SITU) terdengar mirip dengan nama Yerusalem, sepertinya keduanya hanyalah permainan kata, sehingga orang dapat berpikir bahwa kota yang damai ini juga merupakan tempat kehadiran TUHAN. Kehadiran TUHAN adalah hal yang paling penting, Yerusalem memiliki penampilan yang indah, memiliki dua belas gerbang yang terhubung dengan bangsa Israel, dikelilingi oleh tempat kudus dan tanah yang dibagikan kepada kedua belas suku, dan memiliki hasil bumi terbaik, tetapi semua ini tidak bisa menggantikan kehadiran TUHAN. Kehadiran TUHAN tidak boleh dijual, tidak boleh ditukar dan tidak boleh dialihkan pindah tangan. Kehadiran-Nya adalah anugerah. Kita tidak dapat menukar dan mengupayakan kehadiran Allah dengan usaha apa pun. Kehadiran Allah bersifat sukarela kebebasan-Nya. Kehadiran adalah milik-Nya rahmat pilihan-Nya, dan Yerusalem telah menjadi TUHAN HADIR DI SITU. Nama ini adalah sifat hakikat sejati dari Yerusalem, hakikat sebenarnya dari kasih karunia, dan apa yang dimiliki kota ini.

Renungkan:
Tanpa hadirat Allah, segalanya tidak ada artinya, termasuk nyanyian yang indah, persembahan yang mahal, jumlah orang yang banyak, dan kota yang indah. Ternyata semua ini terjadi setelah ada kehadiran Allah, bukan sebagai imbalan atas kondisi kehadiran Allah. Bukankah demikian?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 41 – 48 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan November 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 48:1-29

「Di tengah-tengahnya terdapat tempat kudus」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 48:1-29 [ITB])
1 Inilah nama suku-suku itu:
Yang paling utara: dari laut terus ke Hetlon, ke jalan masuk ke Hamat, Hazar-Enon, sehingga daerah kota Damsyik, yang berdekatan dengan Hamat, terletak di sebelah utaranya, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat terdapat bagian Dan.
2 Berbatasan dengan wilayah Dan, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Asyer.
3 Berbatasan dengan wilayah Asyer, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Naftali.
4 Berbatasan dengan wilayah Naftali, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Manasye.
5 Berbatasan dengan wilayah Manasye, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Efraim.
6 Berbatasan dengan wilayah Efraim, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Ruben.
7 Berbatasan dengan wilayah Ruben, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Yehuda.
8 Berbatasan dengan wilayah Yehuda, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat persembahan khusus yang harus kamu khususkan, yaitu dua puluh lima ribu hasta lebarnya, dan panjangnya sama dengan panjang satu bagian, yaitu dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, dan di tengah-tengahnya terdapat tempat kudus. 9 Bagian persembahan khusus yang harus kamu khususkan bagi TUHAN, panjangnya dua puluh lima ribu hasta dan lebarnya dua puluh ribu hasta.
10 Dan bagi orang-orang inilah persembahan khusus yang kudus itu: Bagian imam-imam ialah panjangnya di utara dan selatan dua puluh lima ribu hasta, dan lebarnya di timur dan di barat sepuluh ribu hasta. Dan di tengah-tengahnyalah terletak tempat kudus TUHAN. 11 Inilah bagian imam-imam, yang sudah dikuduskan, yaitu bani Zadok, yang memelihara kewajibannya terhadap Aku dan yang tidak turut sesat dalam kesesatan orang Israel, seperti orang-orang Lewi. 12 Ini adalah bagian khusus bagi mereka dari tanah yang sudah dikhususkan, suatu hal yang maha kudus, berbatasan dengan bagian orang-orang Lewi.
13 Bagian orang-orang Lewi ialah sejajar dengan wilayah imam-imam, panjangnya dua puluh lima ribu hasta dan lebarnya sepuluh ribu hasta. Jadi seluruhnya ialah: panjang dua puluh lima ribu hasta dan lebar dua puluh ribu hasta. 14 Mereka tidak boleh menjual sedikitpun dari situ atau menukarnya, dan mereka tidak boleh mewariskan yang terbaik dari negeri itu kepada orang lain, sebab itu kudus bagi TUHAN.
15 Yang tertinggal dari lebarnya, yaitu lima ribu hasta lagi, yang berbatasan dengan yang dua puluh lima ribu hasta itu adalah tidak kudus, tetapi itu untuk keperluan kota sebagai tempat tinggal dan tanah perladangan. 16 Dan ukurannya adalah begini: sebelah utara dan selatan: empat ribu lima ratus hasta, sebelah timur dan barat: juga empat ribu lima ratus hasta. 17 Sekeliling kota itu ada tanah lapang, di sebelah utara dan selatan dua ratus lima puluh hasta, serta di sebelah timur dan barat dua ratus lima puluh hasta juga.
18 Yang tertinggal dari panjangnya, yang sejajar dengan persembahan khusus yang kudus itu, adalah sepuluh ribu hasta di sebelah timur dan sepuluh ribu hasta di sebelah barat dan hasilnya ialah menjadi makanan untuk pekerja-pekerja di kota itu. 19 Pekerja-pekerja ini, yang datang dari semua suku Israel, akan mengerjakannya.
20 Seluruh persembahan khusus itu adalah dua puluh lima ribu hasta kali dua puluh lima ribu hasta. Dalam bentuk empat persegi kamu harus mengkhususkan persembahan khusus yang kudus itu bersama milik kota itu. 21 Selebihnya adalah milik raja, yaitu di sebelah timur dan barat dari persembahan khusus yang kudus dan milik kota itu, dan berbatasan dengan yang dua puluh lima ribu hasta itu, ke timur sampai di perbatasan timur dan ke barat sampai di perbatasan barat dan sejajar dengan bagian suku-suku lain, adalah untuk raja. Di tengah-tengah bagian itu adalah persembahan khusus yang kudus dan Bait Suci. 22 Terkecuali milik orang-orang Lewi dan milik kota itu, yang terletak di tengah-tengah kepunyaan raja itu, maka yang diapit oleh wilayah Yehuda dan Benyamin adalah bagi raja.
23 Mengenai suku-suku yang lain: dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Benyamin.
24 Berbatasan dengan wilayah Benyamin, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Simeon.
25 Berbatasan dengan wilayah Simeon, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Isakhar.
26 Berbatasan dengan wilayah Isakhar, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Zebulon.
27 Berbatasan dengan wilayah Zebulon, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, terdapat bagian Gad.
28 Perbatasan wilayah Gad di sebelah selatan ialah dari Tamar sampai mata air Meriba dekat Kadesh, terus ke sungai Mesir, terus ke laut besar.
29 Inilah negeri yang harus kamu bagi-bagi menjadi milik pusakamu di antara suku-suku Israel, dan itulah bagian-bagian mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH.」

Dalam penglihatan Yehezkiel, kedua belas suku Israel akan dilakukan ulang pembagian tanah, bukan lagi daftar pembagian tanah yang disebutkan dalam kitab Yosua, tetapi dibagi rata dari timur ke barat, di utara adalah dari Dan sampai Yehuda, berjumlah tujuh suku mempunyai tujuh bagian wilayah yang sama yang terbentang dari timur ke barat (Yeh. 48:1-7); di selatan, dari Benyamin sampai Gad, seluruhnya terdapat lima suku, wilayah yang terbentang dari timur ke barat dibagi menjadi lima bagian yang sama (Yeh. 48 23-29); dan antara utara dan selatan ada beberapa tanah milik tempat kudus, milik para imam dan orang Lewi (Yeh. 48:8-14), yang disebutnya tempat kudus yang di tengah-tengah.

Dalam pembagian tanah yang semula di kitab Yosua, para imam dan orang Lewi tidak akan menerima tanah apa pun. Mereka hanya bisa tinggal di kota Lewi atau di tempat-tempat tertentu di Yerusalem. Namun, pengaturan pembagian tanah dalam kitab Yehezkiel mengubah hal tersebut. Daerah yang paling dekat dengan Bait Suci di Yerusalem dibagi menjadi beberapa tempat yang disebut tempat kudus, tempat tinggal para imam dan orang Lewi. Namun konsep tempat kudus tidak diciptakan oleh kitab Yehezkiel, melainkan berasal dari peraturan dalam Imamat yang menyatakan bahwa bangsa Israel dapat memisahkan tanahnya untuk dikuduskan untuk Allah dan menjadikannya sebagai persembahan tetap, menjadi kudus milik TUHAN, bahkan saat tahun Yobel mereka tidak dapat mengambil kembali tanah tersebut, sebab tanah itu adalah tempat kudus yang dikuduskan untuk selama-lamanya (Imamat 27:16-25). Dengan demikian, seluruh hasil tanah akan dikhususkan kudus bagi Allah (tidak lagi hanya hasil sulung dan sepersepuluh saja yang dipersembahkan). Yehezkiel mengambil konsep Imamat tentang tempat kudus dan menerapkannya pada tanah untuk para imam dan orang Lewi.

Mereka tidak boleh menjual sedikitpun dari situ atau (tidak boleh) menukarnya, dan mereka tidak boleh mewariskan yang terbaik dari negeri itu kepada orang lain, sebab itu kudus bagi TUHAN (ayat 14). Kalimat ini menjelaskan makna dikuduskan bagi TUHAN. Di sini ada tiga tidak boleh yang menjelaskan kepemilikan tanah itu sepenuhnya diserahkan kepada Allah, dan keutuhan ini adalah hal yang terkait dengan Allah. Dalam kekudusan TUHAN yang kekal, tidak ada sesuatu pun yang tercemar oleh yang tidak ilahi / dunia. Segala sesuatu adalah milik Allah. Tidak ada sesuatu pun dalam kekudusan-Nya yang bukan milik-Nya. Tiga larangan tidak boleh dijual, tidak boleh ditukar, dan tidak boleh diwariskan / dipindahtangan menunjukkan bahwa lingkup kudus tidak dapat dijual, ditukar, atau berpindahtangan oleh manusia. Tidak ada suatu apa pun atau nilai apa pun di bumi yang dapat ditukar dengan kekudusan Allah. Kekudusan itu utuh sempurna dan tidak dapat ditukar.

Dengan demikian, deklarasi tempat kudus di bagian tengah-tengah mewakili esensi dari yang kekudusan Allah. Tiga instruksi tidak boleh menunjukkan bahwa tidak ada ruang untuk kompromi untuk lingkup kekudusan. Orang tidak dapat mencoba menyuap yang kudus dengan caranya sendiri. Pembagian kedua belas suku tersebut berpusat di tempat kudus ada di tengah-tengah, satu demi satu bersambung, dan memanjang menjadi ekstensi perpanjangan dari tempat kudus yang ada di tengah-tengah, masing-masing terikat satu sama lain, dan semuanya terkait pada tempat kudus yang ada di tengah-tengah, yaitu terkait dan terhubung pada tempat kudus yang dikuduskan untuk TUHAN. Pembagian tanah tersebut dengan jelas mencerminkan sifat sejati bangsa Israel sebagai umat Allah.

Renungkan:
Apakah kita juga terhubung dan terkait erta dalam hadirat penyertaan Allah? Tidak dijual, tidak ditukar, dan tidak dipindahtangankan.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 41 – 48 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan November 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 47:21-23

「Kasihilah sesamamu seperti mengasihi diri sendiri」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 47:21-23 [ITB])
21 Tanah inilah kamu harus bagi-bagi di antara kamu menurut suku-suku Israel. 22 Dan kamu harus membagi-baginya menjadi milik pusaka di antara kamu dan di antara orang-orang asing yang tinggal di antara kamu, yang melahirkan anak di tengah-tengahmu dan mereka harus kamu anggap sama seperti orang Israel asli; bersama-sama kamu mereka harus mendapat bagian milik pusaka di tengah-tengah suku-suku Israel. 23 Jadi kalau di tengah-tengah sesuatu suku ada tinggal orang asing, di situlah kamu berikan milik pusakanya, demikianlah firman Tuhan ALLAH.

Ketiga ayat ini menyebutkan bagaimana seharusnya bangsa Israel memperlakukan orang asing yang tinggal bersama mereka di antara kedua belas suku tersebut. Pertama-tama, ayat Alkitab menyatakan bahwa harus kamu anggap sama seperti orang Israel asli (ayat 22). Pernyataan ini didasarkan pada susunan Imamat 19:33-34, yang mengulangi perintah Imamat 19:18 tentang mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, dan bukan saja memperlebar batasan konsep sesama tetangga meluas kepada orang luar dan pendatang, tetapi juga menjelaskan Imamat 19:18 seperti dirimu sendiri (כמוך) mengacu kepada siapa, yaitu seperti orang Israel asli (Yeh. 47:22). Seperti orang Israel asli mengacu pada orang-orang yang sudah lama tinggal di tanah tersebut. Kita dapat melihat dalam Mazmur bahwa kata ini digunakan untuk menggambarkan pepohonan hijau yang tumbuh di daerah setempat (Mazmur 37:35 … yang tumbuh mekar seperti pohon aras Libanon), yang artinya adalah seperti orang Israel asli adalah penduduk yang telah mengakar di tanah itu. Bangsa Israel harus memperlakukan orang luar ini sebagai penduduk setempat, artinya mereka mempunyai hak yang sama dengan penduduk setempat. Ini adalah perintah kedua untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Berdasarkan perintah untuk mengasihi orang asing seperti diri sendiri, orang asing yang tinggal bersama orang Israel di antara suku-suku tersebut semuanya dapat mewarisi tanah bersama orang Israel: bersama-sama kamu mereka harus mendapat bagian milik pusaka di tengah-tengah suku-suku Israel (ayat 22) dan kalau di tengah-tengah sesuatu suku ada tinggal orang asing, di situlah kamu berikan milik pusakanya (ayat 23). Demikian penjelasan Yehezkiel tentang kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, yaitu semua orang asing akan mendapat warisan yang sama dengan orang Israel. Keduanya sama-sama mendapat pemberian yang sama. Ternyata sikap Yehezkiel terhadap bangsa asing lebih terbuka dibandingkan sikap Ezra dan Nehemia, penglihatan ini menceritakan tentang toleransi dan penerimaan terhadap bangsa asing, bahkan mereka mempunyai hak yang sama dengan bangsa Israel.

Namun, sangat sulit untuk memperlakukan orang luar dengan cara yang sama seperti seperti orang Israel asli. Nasionalisme membuat kita memiliki keresahan terhadap orang-orang yang berasal dari etnis yang berbeda. Masyarakat cenderung melindungi kepentingan dan gaya hidup kelompok etnisnya sendiri dan tidak membiarkan kelompok etnis lain mendapatkan keuntungan. sumber daya dan tanah mereka sendiri. Namun, ajaran mengasihi sesama seperti diri sendiri memungkinkan kita untuk melepaskan diri dari ketegangan nasionalistik etis ini dan menganggap umat Allah sebagai identitas yang paling utama dan paling penting. Ketika bangsa Israel menyadari bahwa mereka adalah umat Allah, mereka diwajibkan untuk menghidupi mengasihi sesama seperti dirimu sendiri.

Renungkan:
Mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri, artinya, identitas dia seperti diri sendiri dan haknya seperti hak yang dimiliki diri sendiri, mari memeriksa tentang sikap kita terhadap orang yang kita anggap sebagai orang luar, dan kemudian dengan rendah hati mari bertanya bagaimana mempraktikkan mengasihi sesamamu seperti diri sendiri.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 41 – 48 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan November 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 47:13-20

「Bagian yang dianugerahkan oleh Allah」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 47:13-20 [ITB])
13 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Inilah batas-batas tanah yang kamu harus bagi-bagi menjadi milik pusakamu di antara kedua belas suku Israel. Yusuf mendapat dua bagian. 14 Tanah itu harus kamu bagi rata, yaitu tanah yang dengan sumpah Kujanjikan memberikannya kepada nenek moyangmu dan dengan demikian tanah ini menjadi milik pusakamu.
15 Inilah perbatasan tanah itu:
di sebelah utara: dari laut besar terus ke Hetlon sampai jalan masuk ke Hamat dan terus ke Zedad, 16 Berota, Sibraim, yang terletak di antara daerah kota Damsyik dan daerah kota Hamat, terus ke Hazar-Enon yang di daerah kota Hauran. 17 Demikianlah perbatasannya itu mulai dari laut sampai di Hazar-Enon, sehingga daerah kota Damsyik dan juga daerah kota Hamat terletak di sebelah utaranya. Itulah sebelah utara.
18 Di sebelah timur: mulai dari Hazar-Enon yang terletak di antara Hauran dan Damsyik, sungai Yordan menjadi perbatasan di antara Gilead dan tanah Israel, terus ke Laut Timur sampai ke Tamar. Itulah sebelah timur.
19 Di sebelah selatan: perbatasan mulai dari Tamar sampai mata air Meriba dekat Kadesh, terus ke sungai Mesir, terus ke laut besar. Itulah di sebelah selatan perbatasan dengan Tanah Negeb.
20 Di sebelah barat laut besar merupakan perbatasan sampai tempat jalan masuk ke Hamat. Itulah sebelah barat.

Ayat ini menyebutkan batas-batas yang diberikan TUHAN kepada kedua belas suku Israel, yaitu batas utara (ayat 15-17), batas timur (ayat 18), batas selatan (ayat 19), dan batas barat (ayat 20). Ini adalah bagian kitab Yehezkiel yang menyebutkan cakupan Tanah Perjanjian, tanah yang dijanjikan Allah kepada keturunan Abraham untuk dimiliki sebagai warisan mereka.

Dalam pembagian tanah di antara kedua belas suku tersebut, masing-masing suku mendapat bagian, ciri khusus dari pembagian tersebut adalah merupakan anugerah, bangsa Israel tidak perlu mencari nafkah atau bekerja, tetapi mereka dapat menerima bagian tanah itu dengan cuma-cuma. Ini sepenuhnya seratus persen merupakan anugerah pemberian Allah. Pembagian yang diberikan Allah juga mencerminkan kedaulatan Allah. Bangsa Israel tidak berhak memilih bagian mana untuk menjadi miliknya. Allah sendiri dengan bebas membagikan tanah kepada kedua belas suku tersebut, bagaimana pembagiannya, baik itu gunung, dataran atau pantai, semua adalah anugerah yang diberikan oleh Allah. Berdasarkan premis ini, tidak seorang pun dapat memindahkan batas tersebut, dan tidak pula seorang pun dapat mengambil bagian orang lain, demi menghormati kedaulatan Allah dan kehendak-Nya dalam pembagian.

Namun cara pembagian tanah dalam kitab Yehezkiel berbeda dengan yang ada dalam kitab Yosua, ayat 14 menyebutkan bahwa seluruh tanah itu dibagi rata antara satu sama lain. Cara ini berbeda dengan pengaturan pembagian tanah dalam kitab Yosua. Bagian tanah milik pusaka yang diterima kedua belas suku bukanlah pembagian tanah secara tradisi. Bagi rata berarti setiap suku mendapat luas tanah yang sama. Kalaupun ada gunung, dataran, lembah, dan pantai, tidak penting, yang penting masing-masing suku semua mendapat luas tanah yang sama.

Hal penting yang kedua adalah Yusuf mendapat dua bagian (ayat 13), yang berarti bahwa anak-anak Yusuf, Manasye dan Efraim, masing-masing akan menerima satu bagian, dan itu juga berarti bahwa Yusuf memiliki hak anak sulung, karena hanya anak sulung yang mendapat bagian dua kali lipat. Mengenai hal ini, Tawarikh mengatakan: Anak-anak Ruben, anak sulung Israel. Dialah anak sulung, tetapi karena ia telah melanggar kesucian petiduran ayahnya, maka hak kesulungannya diberikan kepada keturunan dari Yusuf, anak Israel juga, sekalipun tidak tercatat dalam silsilah sebagai anak sulung (1 Tawarikh 5:1) maka Yusuf menerima dua bagian dalam pembagian tanah tersebut. Dari sini kita dapat melihat bahwa tanah milik pusaka juga menyangkut tuntutan etika dan moral.

Renungkan:
Bagian yang diberikan Allah adalah 100% anugerah, juga mencerminkan kedaulatan Allah dan menyangkut tuntutan moralitas. Unsur-unsur ini kelihatannya saling bertentangan. Di satu sisi, milik pusaka yang diberikan Allah adalah anugerah dan tidak bersyarat. Namun di sisi lain, milik pusaka yang diberikan Allah juga menyangkut syarat moralitas. Di tengah ketegangan ini, kita semua menikmati bagian yang Allah berikan kepada kita dengan rasa hormat dan syukur.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 41 – 48 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan November 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 47:1-12

「Air hidup yang mengalir keluar dari Bait Suci」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 47:1-12 [ITB])
1 Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. 2 Lalu diiringnya aku ke luar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan.
3 Sedang orang itu pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, ia mengukur seribu hasta dan menyuruh aku masuk dalam air itu, maka dalamnya sampai di pergelangan kaki. 4 Ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku masuk sekali lagi dalam air itu, sekarang sudah sampai di lutut; kemudian ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke dalam air itu, sekarang sudah sampai di pinggang.
5 Sekali lagi ia mengukur seribu hasta lagi, sekarang air itu sudah menjadi sungai, di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi.
6 Lalu ia berkata kepadaku: Sudahkah engkau lihat, hai anak manusia? Kemudian ia membawa aku kembali menyusur tepi sungai. 7 Dalam perjalanan pulang, sungguh, sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana.
8 Ia berkata kepadaku: Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, 9 sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.
10 Maka penangkap-penangkap ikan penuh sepanjang tepinya mulai dari En-Gedi sampai En-Eglaim; daerah itu menjadi penjemuran pukat dan di sungai itu ada berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan di laut besar, sangat banyak. 11 Tetapi rawa-rawanya dan paya-payanya tidak menjadi tawar, itu menjadi tempat mengambil garam. 12 Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.

Yehezkiel 47:1-12 mencatat air yang mengalir turun dari sisi timur Bait Suci (selatan mezbah), air ini mempunyai tiga ciri. Pertama, ayat 3-6 menunjukkan bahwa air yang mula-mula hanya setinggi mata kaki, kemudian setinggi lutut, dan akhirnya menjadi sungai yang hanya dapat dilalui dengan berenang tetapi tidak dapat dilalui dengan berjalan kaki. Hal ini menunjukkan bahwa air yang semula lemah, tidak berarti, dan telah tidak ada pengaruhnya, namun pada akhirnya menjadi air yang hanya bisa dilalui dengan berenang, menunjukkan bahwa air hidup dari Bait Suci itu sendiri awalnya nampak seperti tidak berarti, dan akhirnya menjadi air yang memancar besar. Dimensi perubahan dari kecil hingga besar ini hendak membawa kita untuk mencicipi terlebih dahulu kecilnya air hidup, dan kemudian mengalami besarnya air hidup.

Kedua, air hidup dari Bait Suci itu memiliki kekuatan menciptakan hidup, sungai ini membuat banyak pepohonan di tepiannya, membuat air laut menjadi lebih segar, membuat banyak hewan dapat bertahan hidup, dan membuat banyak ikan di dalam air, semuanya hidup, termasuk berbagai macam ikan (ayat 7-10), gambaran ini mengingatkan kita bahwa ketika Allah menciptakan langit dan bumi serta segala sesuatu, juga menyebutkan bahwa Allah membuat banyak ikan-ikan di laut, dan juga menurut jenisnya. Ternyata air hidup dari Bait Suci ini membawa kuasa Allah menciptakan, dan memberi kehidupan di mana pun mengalirnya. Ayat Alkitab di sini dua kali menggunakan kata banyak untuk menggambarkan pohon dan ikan, menandakan bahwa air hidup ini membawa bukan hanya satu atau dua jenis kehidupan, tetapi banyak kehidupan, dan juga menghilangkan garam pada air laut. Oleh karena itu, inilah air hidup yang penuh vitalitas dan daya cipta.

Ketiga, air kehidupan dari Bait Allah membawa makanan dan kesembuhan, disebutkan bahwa pohon-pohon di tepi sungai dapat dijadikan makanan, daunnya juga dapat menyembuhkan, dan menghasilkan buah baru setiap bulannya (ayat 12). Ini adalah semacam deskripsi besar yang sangat menekankan tema kesuburan makanan, makanan sangat penting dalam budaya Timur Dekat kuno. Manusia akan berjuang dan bertempur untuk mendapatkan makanan, sehingga mengakibatkan banyak korban jiwa. Kekurangan makanan juga akan menyebarkan banyak penyakit. Di bawah ancaman perang dan penyakit, manusia berjuang untuk bertahan hidup dalam kesengsaraan dan kelaparan. Namun air kehidupan dari Bait Suci benar-benar menyelesaikan masalah tersebut. Pepohonan di tepi sungai menghasilkan buah secara rutin setiap bulan untuk dimakan, dan daunnya juga dapat menyembuhkan penyakit. Karena melimpah, manusia tidak perlu bersusah payah bergulat untuk mendapatkannya, dan mereka tidak akan menderita penyakit, menderita tanpa harapan, karena kuasa kesembuhan Allah terpancar melalui daun-daun yang dibasahi air kehidupan ini.

Renungkan:
Tuhan, mohon beri saya air kehidupan ini.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 41 – 48 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan November 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 46:19-24

「Teologi dapur tempat memasak」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 46:19-24 [ITB])
19 Lalu dibawanya aku melalui pintu masuk yang di samping pintu gerbang ke bilik-bilik untuk para imam yang di sebelah utara tempat kudus, dan sungguh, di sana di bahagian barat sekali ada suatu tempat.
20 Ia berkata kepadaku: Di sinilah tempatnya imam-imam memasak korban penebus salah dan korban penghapus dosa dan membakar korban sajian, dan mereka tidak boleh membawanya ke pelataran luar, supaya dengan demikian mereka jangan menguduskan umat TUHAN.
21 Kemudian diiringnya aku ke pelataran luar dan membiarkan aku pergi ke keempat sudut pelataran itu, sungguh, di tiap sudut pelataran itu ada lagi pelataran. 22 Pada keempat sudut pelataran itu ada pelataran-pelataran kecil, empat puluh hasta panjangnya dan tiga puluh hasta lebarnya, keempatnya sama ukurannya. 23 Mengelilingi keempat pelataran kecil itu ada tembok batu dan di bagian bawah tembok-tembok batu itu sekelilingnya diperbuat tempat-tempat memasak. 24 Ia berkata kepadaku: Inilah dapur tempat memasak, di mana petugas-petugas Bait Suci memasak korban sembelihan umat TUHAN.

Yehezkiel 46:19-24 mencatat dua dapur tempat memasak di Bait Suci, yang satu adalah tempat memasak sedih yang dipimpin oleh para imam (ayat 19-20), dan yang lainnya adalah dapur tempat memasak sukacita yang dipimpin oleh orang Lewi (21 -24).

Dapur tempat memasak dukacita yang ditangani oleh para imam terletak di rumah yang menghadap ke utara, yaitu tempat di mana memasak korban penebus salah dan korban penghapus dosa dan membakar korban sajian (ayat 20). Korban penebus salah dan korban penghapus dosa adalah kurban yang harus dipersembahkan atas dosa kesalahan bangsa Israel, dosa bangsa Israel telah menajiskan Tempat Kudus, dan Tempat Kudus harus disucikan melalui darah korban penghapus dosa. Namun ada dua jenis kurban penghapus dosa, yaitu kurban penghapus dosa yang dimakan dan kurban penghapus dosa bakaran (Imamat 6:24-30). Kurban penghapus dosa yang dimakan terutama berkaitan dengan dosa-dosa kecil, dan imam harus merebus kurban tersebut di tempat kudus untuk dimakan, memakan daging artinya memusnahkan dosa dengan cara menelan kurban, kurban penghapus dosa bakaran terutama berkaitan dengan dosa berat, atau dosa yang dilakukan oleh para imam sendiri. Dosa ini akan merasuk jauh ke dalam tempat kudus dan menajiskan tempat kudus, Imamat 6:30 menyebutkan bahwa setiap korban penghapus dosa, yang dari darahnya dibawa sebagian ke dalam Bait Suci untuk penyucian dan pendamaian, maka itu adalah persembahan penghapus dosa yang dibakar, artinya ini adalah pengobatan dengan tingkat dosa yang relatif tinggi. Baik itu korban penghapus dosa yang dimakan atau korban penghapus dosa yang dibakar, semuanya melambangkan duka cita dan pengakuan dosa. Ketika para imam memasak daging kurban ini untuk dimakan, mereka memikirkan akibat dosa seseorang, jadi ini adalah dapur tempat memasak dukacita.

Dapur tempat memasak sukacita yang dikelola oleh orang-orang Lewi terletak pada keempat sudut pelataran luar. Ayat Alkitab menyebutkan bahwa petugas-petugas Bait Suci (ayat 24) mengacu pada orang-orang Lewi yang memasak kurban umat di keempat sudut pelataran luar. Ayat Alkitab tidak menjelaskan kurban ini untuk persembahan apa, tetapi karena kurban itu dilakukan di pelataran luar, bukan di tempat kudus (ditangani oleh para imam), maka ini bukan memasukkan kurban bakaran, kurban sajian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah, maka yang mungkin hanya daging kurban umat dari kurban keselamatan saja, karena hanya daging kurban pendamaian saja yang boleh dimakan umat di tempat tahir (bukan di tempat kudus). Karena suasana korban keselamatan itu mengandung ucapan syukur, nazar, dan kerelaan (Imamat 7:12-16), maka itu merupakan persembahan yang sukacita, maka tempat di mana daging kurban dimasak oleh orang Lewi adalah dapur tempat memasak sukacita.

Dukacita dan sukacita adalah dua kutub suasana pengorbanan. Korban bakaran, korban sajian, dan korban keselamatan melambangkan sukacita, sedangkan korban penghapus dosa dan korban penebus salah melambangkan dukacita atas dosa. Ada saat untuk bersukacita dan ada saat untuk bersedih. Dalam berbagai kesempatan dan tahapan kehidupan, bangsa Israel menggunakan dua macam ungkapan: persembahan yang berbeda mengungkapkan pertobatan dan ucapan syukur kepada Allah.

Renungkan:
Ada saatnya bersukacita dan ada saatnya bertobat. Dalam dua dapur tempat memasak yang berbeda, pelayanan para imam dan orang Lewi meliputi sukacita dan dukacita umat Israel. Apa arti teologi dapur tempat memasak ini bagi Anda?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 41 – 48 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan November 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 46:16-18

「Milik pusaka raja / pemimpin」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 46:16-18 [ITB])
16 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Kalau raja itu memberi sesuatu pemberian dari milik pusakanya kepada salah seorang anaknya, maka itu menjadi kepunyaan anaknya, dan milik ini menjadi pusaka mereka. 17 Kalau ia memberikan pemberian dari milik pusakanya kepada salah seorang hambanya, maka itu menjadi kepunyaannya sampai tahun kebebasan, lalu harus kembali kepada raja itu; hanya anak-anak raja itu boleh mewarisi milik pusakanya. 18 Dan janganlah raja itu mengambil sesuatu dari milik pusaka rakyat, sehingga mereka terdesak dari miliknya; hanya dari miliknya boleh ia mewariskan kepada anak-anaknya supaya jangan seorangpun dari umat-Ku didesak dari miliknya.

Yehezkiel 46:16-18 menjelaskan bahwa tanah warisan milik pusaka raja / pemimpin (našî’) pada dasarnya terbagi menjadi dua bagian. Pertama-tama, jika raja / pemimpin (našî’) membagikan tanahnya kepada anak laki-lakinya atau memberikannya kepada hamba-hambanya maka tanah tersebut akan kembali lagi kepada raja / pemimpin (našî’) pada tahun kebebasan. Ini berdasarkan Imamat 25:8-13 bahwa jika bangsa Israel karena masalah keuangan lalu menggadaikan warisannya (tanah yang diperuntukkan bagi masing-masing dua belas suku di tanah Kanaan), maka dengan sendirinya mereka dapat mengambil kembali tanahnya sendiri tanpa harus membayar lunas uang pada Tahun Yobel setiap lima puluh tahun sekali. Oleh karena itu, Tahun Yobel ini adalah tahun kebebasan, karena orang-orang yang di penjara karena masalah utang tersebut dapat dibebaskan.

Berdasarkan prinsip Tahun Yobel sebagai tahun kebebasan, seorang raja / pemimpin (našî’) tidak dapat mengambil tanah seseorang secara permanen, karena alasan teologis dalam Imamat: Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu (kepunyaan Allah), sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku (Imamat 25:23) Alasan teologis ini menunjukkan bahwa tanah Kanaan sendiri tidak dimiliki oleh siapa pun, karena kepemilikan tanah itu adalah milik Allah. Allah membagikan tanah Kanaan kepada masing-masing dua belas suku menurut kedaulatan-Nya, dan itu menjadi tanah warisan milik pusaka nenek moyang masing-masing. Jika ada yang membeli permanen tanah orang lain, sama saja dengan menantang TUHAN sebagai pemilik tanah Kanaan, menantang kedaulatan Allah. Dalam konteks teologis ini, jika seorang raja / pemimpin (našî’) merampas tanah seseorang dan menjadikannya miliknya secara permanen, hal ini sama saja dengan secara langsung menantang status Allah sebagai Penguasa tanah dan tidak menghargai pemberian Allah kepada manusia. Sebaliknya, tanah milik setiap orang hanya dapat diberikan kepada keturunannya sendiri, sehingga masing-masing dari kedua belas suku tersebut tidak akan meninggalkan tanah pemberian Allah kepadanya, jangan seorangpun dari umat-Ku didesak dari miliknya.

Renungkan:
Seorang raja / pemimpin (našî’) mempunyai kekuasaan, dan kekuasaan tersebut merupakan kekuasaan yang diberikan, jika raja / pemimpin (našî’) menggunakan kekuasaan tersebut untuk merampas harta orang lain, sama saja dengan menantang kedaulatan Allah. Sebaliknya, jika raja / pemimpin (našî’) dapat memanfaatkan kekuasaan tersebut dengan sebaik-baiknya dan setia pada nilai hukum Allah, maka hal tersebut dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Arti kekuasaan sebenarnya bukanlah kekuasaan yang menindas (authority against), melainkan kekuasaan yang melayani (authority for).


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 41 – 48 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan November 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 46:13-15

「Sebagai korban bakaran yang tetap」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 46:13-15 [ITB])
13 Tiap hari ia harus mengolah domba yang berumur satu tahun dan yang tiada bercela sebagai korban bakaran bagi TUHAN; setiap pagi ia harus melakukan itu. 14 Di samping itu setiap pagi ia harus mempersembahkan korban sajian seperenam efa tepung dengan minyak sepertiga hin untuk mencampur tepung yang terbaik itu; itulah korban sajian bagi TUHAN, dan ketetapan itu tetap selama-lamanya. 15 Demikianlah mereka harus mempersembahkan domba dan korban sajian dan minyak setiap pagi sebagai korban bakaran yang tetap.

Yehezkiel 46:13-15 menjelaskan tentang korban bakaran dan korban sajian yang tetap setiap pagi, sesuai yang diperintahkan dalam Imamat 6:8-13, dan Bait Suci Yehezkiel melanjutkan hal ini. Pengaturan untuk korban bakaran yang tetap setiap pagi adalah untuk mempersembahkan domba yang berumur satu tahun dan yang tiada bercela sebagai korban bakaran. Apa tujuan pengaturan ini?

Imamat 6:8-13 menjelaskan bahwa di atas mezbah harus ada api suci yang tetap selalu menyala, api ini dapat membakar kurban dan mengubahnya menjadi wangi yang harum ke hadapan Allah, alasan mengapa api suci ini harus selalu menyala dan tidak boleh padam karena korban bakaran harus dipersembahkan setiap hari. Jika kita memahami api yang tetap selalu menyala di atas mezbah dalam konteks ini, kita dapat mengetahui bahwa persembahan kurban merupakan kesempatan menikmati perjamuan kerajaan bersama TUHAN. Kata yang tetap (tāmid) mengandung arti kebiasaan dan terus-menerus, yang melambangkan bahwa orang yang mempersembahkan kurban senantiasa menghayati persembahan kurban ke dalam segala aspek kehidupan. Pada saat yang sama, kurban bakaran dipersembahkan pada pagi hari, korban bakaran yang tetap ini melambangkan setiap hari penciptaan, mengintegrasikan setiap hari dalam tatanan penciptaan ke dalam persembahan korban bakaran pagi hari, untuk menandai ciptaan Allah yang indah dan teratur. Oleh karena itu, yang tetap di mezbah adalah memperingati berfungsinya tatanan ciptaan yang beroperasi sehari-hari menjadi hukum yang kebiasaan, dan juga memperingati umat Allah setiap hari menikmati berbagi perjamuan raja.

Imamat 6:20 menyebutkan bahwa kurban sajian yang biasa dilakukan oleh imam harus dipersembahkan setengahnya pada pagi hari dan separuhnya lagi pada sore hari, namun dalam Yehezkiel 46:14 disebutkan bahwa kurban sajian itu dipersembahkan setiap pagi, dan tidak ada catatan mengenai korban sajian yang dipersembahkan pada waktu sore. Mengapa demikian? Hal ini mungkin menunjukkan bahwa persembahan korban di Bait Suci dalam Yehezkiel lebih ditekankan pada pelaksanaannya pada setiap awal hari, yang sejalan dengan penyelenggaraan upacara penyucian pada hari pertama bulan pertama yang disebutkan di atas (Yehezkiel 45:18). Dengan demikian, tempat kudus harus disucikan seluruhnya pada awal tahun (Yeh. 45:18), dan korban bakaran harus dipersembahkan pada awal hari (Yeh. 46:14), sehingga setiap hari dan setiap tahun dimulai dengan pengudusan dan persembahan, menjadi fokus ibadah dan persembahan Bait Suci.

Renungkan:
Korban bakaran yang yang tetap dipersembahkan setiap pagi dan menjadi dasar ibadah di Bait Suci. Dengan demikian pula kita menjalani setiap hari dengan hati yang disucikan, mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 41 – 48 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan November 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 46:1-12

「Pintu gerbang keluar masuk」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 46:1-12 [ITB])
1 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pintu gerbang pelataran dalam yang menghadap ke sebelah timur haruslah tertutup selama enam hari kerja, tetapi pada hari Sabat supaya dibuka; pada hari bulan baru juga supaya dibuka. 2 Raja itu akan masuk dari luar melalui balai gerbang dan akan berdiri dekat tiang pintu gerbang itu. Sementara itu imam-imam akan mengolah korban bakaran dan korban keselamatan raja itu dan ia akan sujud menyembah di ambang pintu gerbang itu, lalu keluar lagi. Dan pintu gerbang itu tidak boleh ditutup sampai petang hari. 3 Penduduk negeri juga harus turut sujud menyembah di hadapan TUHAN di pintu gerbang itu pada hari Sabat dan hari bulan baru.
4 Korban bakaran yang harus dipersembahkan raja itu kepada TUHAN pada hari Sabat ialah enam ekor domba yang tidak bercela dan seekor domba jantan yang tidak bercela. 5 Korban sajian dari domba jantan harus diolah dengan satu efa tepung, tetapi korban sajian dari domba-domba yang lain bergantung pada kemampuannya, serta minyak satu hin untuk satu efa.
6 Pada bulan baru harus dipersembahkan seekor lembu jantan muda yang tiada bercela, serta enam ekor domba dan seekor domba jantan yang tiada bercela. 7 Sebagai korban sajian ia harus mengolah satu efa tepung dengan seekor lembu dan satu efa tepung dengan seekor domba jantan, tetapi korban sajian dari domba-domba lain bergantung pada kemampuannya, serta minyak satu hin untuk satu efa.
8 Kalau raja hendak masuk ke dalam, ia harus masuk melalui balai gerbang dan keluar dari situ juga. 9 Tetapi kalau penduduk negeri pada perayaan-perayaan yang tetap berkumpul di hadapan TUHAN, dan yang masuk melalui pintu gerbang utara untuk turut sujud menyembah biarlah mereka keluar melalui pintu gerbang selatan, dan yang masuk melalui pintu gerbang selatan, biarlah keluar melalui pintu gerbang utara. Janganlah seorang kembali melalui pintu gerbang kemasukannya, tetapi masing-masing harus keluar dari pintu gerbang yang di depannya. 10 Mengenai raja itu, ia akan masuk bersama-sama mereka dan keluar bersama-sama mereka.
11 Pada hari-hari raya dan perayaan-perayaan yang tetap harus ada korban sajian, yaitu satu efa tepung diolah dengan seekor lembu jantan dan satu efa tepung diolah dengan seekor domba jantan, tetapi korban sajian dari domba-domba yang lain bergantung pada kemampuannya, serta minyak satu hin untuk satu efa. 12 Kalau raja mengolah korban bakaran sukarela atau korban keselamatan sukarela bagi TUHAN, maka orang harus membukakan pintu gerbang sebelah timur untuk dia dan ia akan mempersembahkan korban bakarannya dan korban keselamatannya itu seperti ia perbuat pada hari Sabat. Kemudian ia keluar, dan sesudah ia keluar pintu gerbang harus ditutup.

Ayat dalam Yehezkiel 46:1-12 menjelaskan aturan buka tutupnya pintu gerbang timur, selatan dan utara Bait Suci serta keluar masuknya manusia. Pertama-tama menyebutkan pintu gerbang timur (ayat 1-8), yang menunjukkan bahwa pintu ini hanya dibuka pada hari Sabat dan hari pertama setiap bulan. Mengapa demikian? Yehezkiel 44:1-3 menyebutkan bahwa gerbang timur akan ditutup, dan para raja / pemimpin (našî’) hanya dapat masuk melalui gerbang utara atau selatan koridor Bait Suci. Di perikop ini dijelaskan bahwa gerbang timur ditutup enam hari, dan hanya akan dibuka pada hari Sabat dan hari pertama setiap bulan (ayat 1), raja / pemimpin (našî’) dapat masuk melalui gerbang timur, dan imam harus menyiapkan berbagai kurban. Gerbang timur ditutup selama enam hari guna melaksanakan prinsip bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh sebagaimana tercantum dalam peraturan Sabat. Pada hari ketujuh yakni Sabat, raja / pemimpin (našî’) akan mempersembahkan korban atas nama rakyat, dan diakhiri dengan Kalau raja hendak masuk ke dalam, ia harus masuk melalui balai gerbang dan keluar dari situ juga (ayat 8), yang menunjukkan bahwa gerbang timur adalah jalan utama saat raja / pemimpin (našî’) masuk dan keluar, ketika raja / pemimpin (našî’) masuk dan keluar dari gerbang timur, ia berperan sebagai mempersembahkan kurban atas nama rakyat . Karena pintu gerbang ini ditutup selama enam hari dan baru dibuka pada hari ketujuh, maka berarti raja / pemimpin (našî’) adalah wakil umat dalam menjalankan hari Sabat. Pembukaan dan penutupan pintu harus dilakukan sesuai ritme yang ditentukan oleh peraturan Sabat.

Ayat 46:9-10 menjelaskan tentang tata cara orang memasuki Bait Suci untuk beribadah, boleh masuk melalui pintu gerbang utara atau pintu selatan, tetapi tidak dapat keluar melalui pintu gerbang yang semula dimasukinya, oleh karena itu bila masuk melalui pintu gerbang utara , mereka harus masuk melalui gerbang selatan. Keluar; bila masuk melalui gerbang selatan, mereka harus keluar melalui gerbang utara. Pada saat yang sama, waktu masuknya harus sama dengan waktu ketika raja / pemimpin (našî’) memasuki gerbang timur. Dengan demikian, waktu ibadah umat dapat diselaraskan dengan waktu ketika raja / pemimpin (našî’) mempersembahkan kurban, dan mereka semua bergerak maju dengan tertib agar tidak menghalangi masyarakat yang nantinya akan memasuki Bait Suci. Dengan demikian, kita bisa membayangkan umat Allah dan raja / pemimpin (našî’) beribadah dan mempersembahkan kurban secara tertib dan sesuai peraturan.

Tatanan penutupan pintu selama enam hari dan pembukaan pintu pada hari ketujuh mencerminkan pengamalan kekudusan waktu (the sanctification of time); aturan keluar masuk gerbang timur, selatan dan utara mencerminkan pengamalan kekudusan ruang (the sanctification of space). Konsep kekudusan, selain mengungkapkan kehadiran kekudusan Allah, juga menggambarkan tatanan yang teratur pada waktu dan ruang tertentu. Umat Allah yang kudus mempersembahkan kurban dalam tatanan tatanan ruang dan waktu yang ditetapkan, maka umat yang kudus hidup dalam tatanan yang didefinisikan Allah.

Renungkan:
Di era yang menekankan kebebasan dan tanpa pembatasan, orang percaya berharap untuk beribadah kepada Allah dengan bebas dan tanpa batasan, namun penglihatan Yehezkiel menunjukkan bahwa tuntutan kekudusan ilahi sering kali bertentangan dengan sikap kita yang bebas dan individualistis. Ketika kita berharap untuk bertemu dengan Allah, pertama-tama kita harus memahami perkenan Allah lebih daripada bertanya bagaimana memuaskan hiburan dan kesenangan kita.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 41 – 48 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan November 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.