Featured post

1 Raja-raja 22:10-14

「Apa pun yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 22:10-14 [TB2])
10 Raja Israel dan Yosafat, raja Yehuda, masing-masing duduk di atas takhtanya dengan pakaian kebesaran, di suatu tempat pengirikan di depan pintu gerbang Samaria. Semua nabi itu bernubuat di depan mereka. 11 Lalu Zedekia bin Kena’ana yang sudah menyiapkan tanduk-tanduk besi, berkata, Beginilah firman TUHAN: Dengan ini engkau akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan mereka. 12 Semua nabi itu juga bernubuat demikian, katanya, Majulah ke Ramot-Gilead dan engkau akan berhasil. TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.
13 Utusan yang pergi memanggil Mikha itu berkata kepadanya, Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat mengatakan hal yang baik bagi raja. Hendaklah perkataanmu juga seperti perkataan salah seorang dari pada mereka dan katakanlah hal yang baik. 14 Tetapi, Mikha menjawab, Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa pun yang akan difirmankan TUHAN kepadaku, itulah yang akan kukatakan kepadanya.

Pasal 22, ayat 10-12 menggambarkan gambaran dua raja yang berdiri bersama para menteri mereka, sedangkan ayat 19-21 menggambarkan gambaran TUHAN, Raja Agung, yang berdiri bersama para malaikat-Nya; yang pertama bersifat duniawi, yang kedua surgawi, yang mengontraskan pemerintahan surgawi dan duniawi. Seluruh catatan tersebut menunjukkan bahwa seolah-olah TUHAN, melalui para nabi ini, telah mengindikasikan bahwa pertempuran ini telah menjadi perang suci. Empat ratus orang ini seperti berbicara atas nama TUHAN, secara luar biasa mendukung dimulainya perang ini; namun, semua ini hanyalah ucapan yang ingin didengar Ahab dan yang menguntungkan dirinya.

Ahab hanya suka mendengar hal-hal yang menyenangkan baginya dan tidak menyukai hal-hal yang merugikan. Ia berharap dengan berkonsultasi dengan para nabi, ia dapat memperkuat konsep perang suci dalam konflik tersebut, sehingga ia dapat membenarkan klaimnya dengan menggunakan nama Allah. Gambaran dirinya dan Yosafat sebagai raja (1 Raj. 22:10) menunjukkan bahwa mereka berdua sedang menyusun strategi, dan pernyataan para nabi sesuai dengan harapan mereka (1 Raj. 22:11-12). Adegan ini berfungsi untuk menggambarkan kemunculan nabi Mikha (1 Raj. 22:13-28), sehingga pembaca memahami situasinya — suatu skenario di mana orang lain dan orang-orang yang berkuasa sangat salah memahami kehendak Allah. Apakah nabi TUHAN dapat menentang opini populer dan tetap setia pada wahyu adalah pertanyaan kunci yang ingin dijawab oleh perikop ini.

Kata-kata Ahab digambarkan dalam 1 Raja-raja 22:13-14 oleh seorang utusan yang memanggil Mikha dan berkata, Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat mengatakan hal yang baik bagi raja. Hendaklah perkataanmu juga seperti perkataan salah seorang dari pada mereka dan katakanlah hal yang baik (1 Raj. 22:13). Kata sepakat (satu) (אחד ’e·ḥāḏ), mulut (פה peh), dan bermanfaat (טוב ṭôḇ) semuanya muncul dalam kata-kata utusan ini. Tuntutan agar satu mulut (sepakat) (פה־אחד peh-’e·ḥāḏ) adalah menghendaki agar Mikha menyesuaikan diri dengan narasi arus utama dari empat ratus orang agar dapat memberikan tekanan publik; tuntutan agar yang baik (yang menguntungkan) (טוב ṭôḇ) adalah bahwa perkataan Mikha harus selaras dengan kepentingan Ahab. Oleh karena itu, seluruh bagian ini merupakan bentuk lobi politik, yang menunjukkan bahwa Mikha tidak boleh bersikap tidak konvensional tetapi harus berusaha untuk menyelaraskan dirinya dengan empat ratus orang untuk menguntungkan Ahab dan memastikan keselamatan Mikha. Namun, ini merupakan dorongan untuk mempolitisasi misi nabi. Nabi harus dengan setia berbicara untuk TUHAN sesuai dengan panggilannya; perkataannya harus berasal dari alasan teologis yang murni, bukan dari kepentingan politik apa pun. Oleh karena itu, Mikha bersumpah Demi TUHAN yang hidup bahwa ia akan mengatakan apa yang TUHAN perintahkan kepada dia (1 Raja -raja 22:14). Tanggapan Mikha menunjukkan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan kepentingan politik menentukan perkataan kenabiannya. Ia sangat percaya bahwa juru bicara adalah berbicara mewakili, tetapi bukan atas nama kelompok kepentingan politik; itu adalah berbicara mewakili TUHAN. Yang pertama bersifat politis, yang kedua bersifat teologis.

Refleksi:
Setia kepada firman Allah dan menolak berpihak dalam politik adalah sikap nabi sejati TUHAN. Apakah ini juga sikap Anda? Bagaimana Anda dapat menjalani hidup Anda dengan setia kepada firman Allah?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 22:5-9

「Empat ratus nabi?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 22:5-9 [TB2])
5 Tetapi, Yosafat berkata kepada raja Israel, Mintalah dahulu petunjuk firman TUHAN. 6 Lalu raja Israel mengumpulkan para nabi, kira-kira empat ratus orang. Kemudian ia bertanya kepada mereka, Bolehkah aku pergi berperang melawan Ramot-Gilead atau aku batalkan saja? Jawab mereka, Majulah! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.
7 Tetapi, Yosafat bertanya, Apakah tidak ada lagi di sini seorang nabi TUHAN, supaya kita dapat meminta petunjuk dengan perantaraannya? 8 Jawab raja Israel kepada Yosafat, Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN. Tetapi, aku membenci dia, sebab ia tidak pernah menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan hanya malapetaka. Orang itu ialah Mikha bin Yimla. Kata Yosafat, Janganlah raja berkata demikian. 9 Kemudian raja Israel memanggil seorang pembesar istana, katanya, Jemputlah segera Mikha bin Yimla!

1 Raja-raja 22:5-9 menyajikan skenario tipikal (type scene) di mana fokusnya adalah mencari bimbingan ilahi melalui para nabi untuk menentukan apakah perang itu adalah perang suci (holy war) (lihat Hak. 4:12-16; 1 Raj. 20:26-30). Perang suci didefinisikan sebagai perang Allah; Allah mengeskalasi konflik antar manusia untuk dipakai menjadi konflik ilahi, sehingga menjamin kemenangan. Namun, konsep perang suci dalam Perjanjian Lama tidak bertujuan untuk membenarkan kekerasan apa pun, juga tidak menyarankan bahwa orang dapat menggunakan nama perang suci untuk menggambarkan Allah sebagai yang dapat diperalat bias kepada satu pihak. Sederhananya, Allah tidak dapat dipolitisasi atau dipaksa untuk memihak, dan manusia tidak dapat memperalat TUHAN untuk mencapai tujuan politik atau militer apa pun. Oleh karena itu, ketika Yosafat menyarankan untuk mencari petunjuk firman TUHAN dari nabi Allah (1 Raj. 22:5), ia sebenarnya berpikiran terbuka dan tulus, berharap untuk memahami kehendak Allah; Namun, Ahab setuju untuk mencari para nabi, tetapi bahkan membawa empat ratus nabi (1 Raj. 22:6).

Keempat ratus nabi ini bisa dibilang menjadi fokus penafsiran. Penulis menggunakan kitra-kira empat ratus (כארבע מאות איש ’îš mê·’ō·wṯ kə·’ar·ba‘) (ayat 6) untuk menggambarkan para nabi, sebuah perkiraan yang mengingatkan pada konfrontasi antara empat ratus lima puluh (jumlah pastinya) nabi Ba’al dan Elia di Gunung Kanaan (1 Raj. 18:22). Lalu, Mikha yang akan diperkenalkan kemudian (ayat 8), menghadapi empat ratus orang ini, sebuah situasi yang mirip dengan Elia yang menghadapi empat ratus lima puluh nabi Ba’al — keduanya termasuk dalam tema satu lawan seratus. Empat ratus orang ini dengan suara bulat mengucapkan apa yang mereka yakini sebagai pernyataan ilahi: Majulah (go up)! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja (1 Raj. 22:6). Mereka berjumlah banyak berbicara dengan kuat, berbicara seolah-olah mereka adalah wakil Allah, seolah-olah kebenaran berada di pihak mayoritas. Tentu kedua raja ini percaya bahwa Allah telah mengeskalasi pertempuran ini ke tingkat perang suci.

Namun, Yosafat meminta untuk berkonsultasi dengan nabi TUHAN; Ahab, memahami maksud Yosafat, berkata, Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN (1 Raj. 22:8a). Ahab bahkan juga mengemukakan nubuat yang dikatakan Mikha tentang dirinya sendiri, … ia tidak pernah menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan hanya malapetaka (1 Raj. 22:8b). Frasa yang baik berarti bermanfaat bagiku (עלי טוב ṭō·wḇ ‘ā·lay), sedangkan hanya malapetaka berarti benar-benar merugikan (אם־רע ’im-rā‘). Di sini kita melihat Ahab mendefinisikan bermanfaat (טוב ṭō·wḇ) dan merugikan (רע raʿ) dari sudut pandang tentang dirinya sendiri. Artinya, dalam pikirannya, nabi itu haruslah demi kepentingan dirinya sendiri; Segala sesuatu yang merugikan kepentingan dirinya, ia tanggapi dengan kebencian (שנא šonēʾ). Jelas bahwa dalam pikiran Ahab, nabi telah menjadi alat untuk membenarkan kepentingan dirinya sendiri. Empat ratus orang itu menguntungkan dirinya, jadi ia memperlakukan mereka dengan baik; Mikha merugikan kepentingan dirinya, maka ia membenci dia.

Refleksi:
Konsep perang suci mudah dieksploitasi, menjadi pembenaran atas klaim pribadi. Preferensi Ahab untuk mendengar kata-kata yang menguntungkan menunjukkan bahwa ia menganggap dirinya sebagai penguasa, mengendalikan segalanya. Ia mendukung segala sesuatu yang bermanfaat dan menekan segala sesuatu yang merugikan kepentingannya. Pendekatan yang mementingkan diri sendiri ini mereduksi Ahab ke tingkat raja-raja Timur Dekat kuno, mencegah Israel untuk menghayati identitasnya sebagai umat pilihan Allah di antara bangsa-bangsa dan membedakan dirinya dari bangsa-bangsa lain. Sementara bangsa-bangsa lain menggunakan nama perang suci untuk propaganda politik, sepatutnya Israel tidak dapat melakukannya; umat Allah, yang mengakui kedaulatan TUHAN, tidak dapat menggunakan cara politik apa pun untuk membenarkan pengejaran perang suci semau diri mereka. Konsep perang suci menyatakan bahwa hanya Allah yang merupakan Tuhan dalam pertempuran, dan Dia tidak dapat dan tidak boleh diperalat oleh orang lain. Pengingat apa yang dibawakan transendensi ilahi ini kepada Anda?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 22:1-4

「Engkau bersama aku, dan aku bersama engkau?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 22:1-4 [TB2])
1 Tiga tahun berlangsung tanpa perang antara Aram dan Israel. 2 Pada tahun yang ketiga Yosafat, raja Yehuda, pergi menemui raja Israel. 3 Sebelumnya raja Israel telah berkata kepada pegawai-pegawainya, Tahukah kamu bahwa Ramot-Gilead sebenarnya milik kita? Tetapi, kita diam saja dan tidak merebutnya dari tangan raja negeri Aram. 4 Lalu ia berkata kepada Yosafat, Maukah engkau pergi bersamaku untuk memerangi Ramot-Gilead? Jawab Yosafat kepada raja Israel, Aku dan engkau bersama-sama, rakyatku dan rakyatmu, kudaku dan kudamu.

Kitab 1 Raja-raja pasal 22 menceritakan peperangan di Ramot-Gilead dan narasi terakhir tentang kematian Ahab. Penulis menggunakan pasal ini untuk secara resmi meringkas pemerintahan Ahab, termasuk persekutuannya dengan Yosafat dari Yehuda dan bagaimana Allah menggenapi nubuat penghakiman yang telah disampaikan melalui nabi Elia.

Pasal 22, ayat 1 dimulai dengan menyatakan bahwa tidak ada perang antara Israel dan Aram selama tiga tahun. Hal ini membawa pembaca kembali ke pertempuran di Pasal 20, menjelaskan bahwa setelah pertempuran itu tidak ada perang antara Israel dan Aram selama tiga tahun. Hal ini juga menjelaskan bahwa narasi tentang penaklukan kebun anggur Nabot oleh Ahab terjadi selama periode ini. Pertempuran yang disebutkan dalam Pasal 20 diprakarsai oleh Benhadad, raja Aram; namun, pertempuran yang tercatat dalam Pasal 22 diprakarsai oleh Ahab, raja Israel, untuk merebut kembali Ramot-Gilead.

Ayat 3 menyebutkan bahwa Ramot-Gilead berada di tangan raja Aram. Mengapa demikian? Kita tahu dari 1 Raja-raja 4:13 bahwa Ramot-Gilead adalah distrik administratif pada zaman Salomo, yang awalnya dikuasai oleh Kerajaan Israel. Kita tidak tahu mengapa tempat ini jatuh ke tangan raja Aram. Mungkin karena raja Benhadad dari Aram awalnya telah berjanji untuk mengembalikan tanah yang telah direbut ayahnya dari Israel (1 Raj. 20:34 Kata Benhadad kepadanya, Kota-kota yang telah diambil ayahku dari ayahmu akan kukembalikan. Engkau juga boleh membuka pasarmu di Damsyik, seperti yang dilalukan ayahku di Samaria. Kata Ahab, Dengan perjanjian itu aku sendiri, akan membiarkan engkau pergi.』」), tetapi kemudian tidak mengembalikan Ramot-Gilead, sehingga Ahab berharap untuk merebut kembali tanah tersebut.

Ayat 4 menggambarkan bagaimana Ahab mengajak Yosafat untuk ikut berperang bersamanya di Ramot-Gilead, tetapi Yosafat menjawab, Aku dan engkau bersama-sama, rakyatku dan rakyatmu, kudaku dan kudamu. (כמוני כמוך כעמי כעמך כסוסי כסוסיך kə·sū·se·ḵā kə·sū·say ḵə·‘am·me·ḵā kə·‘am·mî ḵā·mō·w·ḵā kā·mō·w·nî) Ketika kita membandingkan ayat ini dengan versi Kitab Tawarikh, kita memahami keunikan Kitab Raja-raja. Tata letak urutan kata dalam versi Kitab Tawarikh as your people—my people (rakyatmu—rakyatku) (כעמך עמי ‘am·mî ḵə·‘am·mə·ḵā) (2 Taw. 18:3), sedangkan urutan kata dalam versi Kitab Raja-raja rakyatku—rakyatmu (כעמי כעמך ḵə·‘am·me·ḵā kə·‘am·mî) (1 Raj. 22:4) 。 Dengan demikian, versi Kitab Raja-raja digambarkan Ahab tampaknya lebih unggul, terlebih dahulu menekankan rakyatku barulah kemudian rakyat Yosafat (rakyatmu) dimasukkan sebagai rakyatnya sendiri. Frasa kudaku dan kudamu mengingatkan kita pada perintah dalam Ulangan, janganlah ia memelihara banyak kuda dan janganlah ia mengembalikan bangsa ini ke Mesir untuk mendapat banyak kuda (Ul. 17:16). Ini menunjukkan keinginan Ahab untuk memasukkan kuda-kuda Yosafat dan juga menggambarkannya sebagai raja yang melanggar hukum Ulangan, sehingga menyoroti citra negatifnya.

Refleksi:
Yosafat digambarkan sebagai raja yang melakukan apa yang benar di mata TUHAN, namun ia bersekutu dengan raja Ahab yang jahat, bahkan sampai pada titik apa yang menjadi milikmu adalah milikku, dan apa yang menjadi milikku adalah milikmu. Yosafat tidak memahami konsekuensi bersekutu dengan raja yang jahat, mungkin karena ia juga berharap Yehuda dan Israel akan berdamai, sehingga membawa kedamaian dan ketenangan bagi negaranya sendiri. Namun, tindakannya ini tidak melihat dari perspektif apa yang benar atau salah di mata TUHAN. Sekalipun sesuatu masuk akal menurut akal dan perasaan manusia, apakah itu berarti masuk akal di mata Allah? Pernahkah Anda mengalami pengalaman serupa?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 21:27-29

「Ahab merendahkan diri」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:27-29 [TB2])
27 Mendengar perkataan itu, Ahab mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya, dan berpuasa. Ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan lunglai. 28 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, 29 Sudahkah kaulihat betapa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, Aku tidak akan mendatangkan malapetaka semasa hidupnya. Barulah pada masa anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya.

Tiga ayat terakhir dari 1 Raja-raja 21 (1 Raj. 21:27-29) mencatat Ahab merendahkan diri di hadapan Allah dan penundaan penghukuman Allah atasnya.

Ayat 27 dimulai dengan Mendengar perkataan itu, Ahab … secara sintaksis mirip dengan permulaan ayat 15 dan 16. Ayat 15 menyebutkan bahwa Izebel bertindak segera setelah mendengar kematian Nabot; ini mirip dengan ayat 27, di mana Ahab segera merendahkan diri setelah mendengar perkataan ini. Ayat 16 menyebutkan bahwa Ahab segera merebut kebun anggur Nabot setelah mendengar kematiannya; format ini juga mirip dengan ayat 27 Ahab segera merendahkan diri. Kesamaan ini menunjukkan bahwa Ahab tampaknya adalah seorang pria tanpa penilaian sendiri, secara membabi buta mengikuti nasihat Izebel, dan pada saat yang sama merendahkan diri setelah mendengar penghakiman TUHAN yang disampaikan melalui Elia. Dengan demikian, Ahab tampaknya sekadar karena tidak memiliki prinsip diri, alih-alih benar-benar bertobat. Namun, tindakan pertobatannya relatif komprehensif, termasuk mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya, dan berpuasa. Ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan lunglai. Semua tindakan ini menunjukkan bahwa Ahab dipenuhi dengan kerendahan hati dan kesedihan, dan bahwa ia berduka atas akibat dosa-dosanya; namun, teks tersebut tidak menyebutkan tindakan pertobatan nyata apa pun dari pihaknya, seperti mengembalikan kebun anggur Nabot kepada keturunan Nabot atau menceraikan Izebel. Pertobatan Ahab tampaknya lebih seperti reaksi psikologis daripada pertobatan yang sebenarnya.

Karena Ahab merendahkan dirinya baik secara psikologis maupun dalam sikapnya, TUHAN, melalui Elia, menyatakan penghakiman baru. Pertama, ayat 29 mencatat, Sudahkah kaulihat betapa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Kata merendahkan diri yang disebutkan dalam ayat ini memang merupakan kerendahan hati di hadapan TUHAN, artinya setelah Ahab mendengar penghakiman yang telah Allah tetapkan, ia menegaskan kembali sikap rendah hatinya di hadapan TUHAN. Berdasarkan sikap ini, TUHAN tidak mendatangkan malapetaka yang dijanjikan kepadanya selagi ia masih hidup, tetapi menundanya kepada anak-anaknya dan keluarganya. Dengan kata lain, kerendahan hati Ahab tidak cukup untuk membalikkan penghakiman Allah; kerendahan hatinya hanya dapat menunda waktu penghakiman, yang akan menimpa keturunannya.

Dalam Kitab Keluaran, kita melihat bahwa berkat dan hukuman atas diri seorang ayah dapat meluas hingga keturunannya: Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat. (Keluaran 34:6-7) Ayat ini menunjukkan bahwa meskipun TUHAN adalah Allah yang penuh belas kasihan dan rahmat, Ia tidak akan membiarkan orang yang bersalah lolos dari hukuman; dan cara-Nya menghukum dosa adalah dengan memperluas hukuman tersebut hingga generasi ketiga dan keempat dari orang yang berdosa. Kitab Raja-raja melanjutkan pemahaman ini bahwa dosa akan meluas hingga tiga atau empat generasi keturunan. Penghukuman TUHAN atas Ahab benar-benar mendatangkan malapetaka atas putranya, Yoram (2 Raj. 9:25-26) dan ketujuh puluh putra Ahab (2 Raj. 10:1-11). Lebih jauh lagi, karena putri Ahab, Atalia, menikah dengan Yoram, putra Yosafat, raja Yehuda, TUHAN memperluas malapetaka ini kepada putra Yoram, Ahazia (2 Raj. 9:27-28). Peristiwa-peristiwa ini menggenapi nubuat TUHAN tentang penghukuman yang disampaikan melalui Elia.

Refleksi:
Apakah pengakuan dan perendahan diri Anda di hadapan Tuhan hanyalah reaksi psikologis, atau titik awal pertobatan yang sungguh-sungguh?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 21:25-26

「Engkau telah menjual diri sendiri」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:25-26 [TB2])
25 Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dihasut oleh Izebel, istrinya. 26 Bahkan ia telah bertindak sangat menjijikkan dengan mengikuti berhala-berhala, sama seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari hadapan orang Israel.

Dari perspektif susunan teks, ayat 25-26 tampaknya merupakan sisipan oleh narator, yang dimaksudkan untuk mengklarifikasi perilaku dan dosa Ahab, sehingga pembaca dapat memahami seperti apa kepribadiannya. Ayat 25 dimulai dengan Sesungguhnya, yang menunjukkan makna Sesungguhnya hanya … yang seperti ini, artinya sepanjang sejarah Kerajaan Utara, hanya Ahab yang seperti ini. Teks tersebut menggunakan empat kata yang (who) (אשר ’ă·šer) untuk menggambarkan karakteristik uniknya :

1. 「『yang (who) memperbudak diri dengan melakukan yang jahat di mata TUHAN, kata memperbudak diri berkaitan dengan menjual diri menjadi budak, dan kalimat ini menjelaskan bahwa Ahab menjual dirinya dan menjadi budak yang melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.

2. 「『yang (who) telah dihasut oleh Izebel, istrinya, kata dihasut (סות sûiṯ) dapat merujuk pada godaan dalam arti politik. Jika demikian, godaan Izebel terhadap Ahab bukanlah godaan seksual, melainkan godaan politik; karena Izebel adalah putri raja Sidon (1 Raj. 16:31), tindakan Ahab menikahinya adalah aliansi politik. Untuk mempertahankan aliansi politik ini, Ahab mengizinkan penyembahan Ba’al oleh Izebel pada aspek keagamaan. Dengan demikian, godaan politik meluas ke godaan keagamaan.

3. Ia telah bertindak sangat menjijikkan dengan mengikuti berhala-berhala, sama seperti yang (that) dilakukan oleh orang Amori, Kata menjijikkan (תועבה tôʿēḇah) sering muncul dalam Kitab Ulangan, merujuk pada hal-hal seperti: berhala dan patung-patung dewa yang diukir (Ul. 7:25-26; 12:31; 13:12-15; 17:3-4; 32:16), mempersembahkan domba dan sapi yang sakit (Ul. 17:1), berbagai mantra (Ul. 18:9-12), mengenakan pakaian lawan jenis (Ul. 22:5), menikahi wanita yang pernah diceraikannya sendiri (Ul. 24:4), dan timbangan yang tidak adil (Ul. 25:13-16), dan lain-lain. Semua ini adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang asing non Yahudi. Oleh karena itu, ayat 26 menghubungkan kedua perilaku ini (pembunuhan dan perebutan tanah serta penyembahan berhala), menunjukkan bahwa keduanya adalah perbuatan keji dan praktik umum orang Amori.

4. orang Amori yang (who) telah dihalau TUHAN dari hadapan orang Israel, pernyataan ini menunjukkan bahwa orang Amori telah diusir oleh TUHAN, dan bangsa Israel menyaksikan peristiwa ini. Hal ini mungkin didasarkan pada Imamat 18:24-30, yang menyatakan bahwa orang Kanaan (orang Amori) menajiskan tanah Kanaan karena perbuatan-perbuatan keji dan kejahatan lainnya, sehingga tanah itu memuntahkan mereka. Ini melambangkan mereka diusir oleh TUHAN, dan bangsa Israel yang menyaksikan pengusiran orang Kanaan, harus belajar dari pengalaman mereka dan diperingatkan agar tidak melakukan hal-hal keji yang sama, supaya mereka tidak diusir seperti mereka.

Refleksi:
Melalui nabi Elia, TUHAN menyatakan penghukuman-Nya atas Ahab, Izebel, dan seluruh keluarga Ahab. Keluarga Ahab akan mengalami kehancuran dan pemusnahan yang sama seperti keluarga Yerobeam dan Baesa. Lebih jauh lagi, TUHAN akan menghukum Izebel dengan berat, menyebabkan dia mati dengan kematian yang mengerikan, seperti terkutuk. Penulis mengingatkan pembaca bahwa Ahab adalah seorang yang menjual dirinya ke dalam perbudakan dosa, mengikuti orang Kanaan dalam perbuatan-perbuatan keji mereka dan tergoda oleh Izebel untuk melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Semua dosa ini dilaporkan dengan jelas untuk memperingatkan pembaca.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 21:20-24

「Engkau sudah mendapati aku?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:20-24 [TB2])
20 Kata Ahab kepada Elia, Jadi, aku sudah kaudapati, hai musuhku? Jawabnya, Memang aku mendapati engkau, karena engkau sudah memperbudak dirimu dengan melakukan yang jahat di mata TUHAN. 21 Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu. Aku akan menyapu habis engkau dan melenyapkan setiap laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang terikat ataupun yang bebas, di Israel. 22 Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan keluarga Baesa bin Ahia, karena engkau menimbulkan murka-Ku, dan karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa pula. 23 TUHAN juga telah berfirman mengenai Izebel: Anjing-anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizre’el. 24 Siapa saja dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara.

1 Raja-raja 21:20 mencatat tanggapan Ahab terhadap nubuat penghakiman Elia: Jadi, aku sudah kaudapati, hai musuhku? Ahab menggambarkan Elia sebagai musuhku; sebelumnya, Ahab menggambarkan Elia sebagai orang yang mencelakakan Israel (18:17), dan sekarang Elia naik tingkat menjadi musuhku, menunjukkan bahwa Ahab menganggap Elia sebagai musuh bebuyutan. Pada saat yang sama, pertanyaan Jadi, aku sudah kaudapati? dijawab sesuai oleh Elia di bagian kedua ayat 20 Memang aku mendapati engkau. Dialog tentang mendapati ini secara permukaan menggambarkan pencarian lokasi keberadaan Ahab, tetapi pada kenyataannya, itu menunjukkan bahwa jati diri Ahab yang berdosa telah didapati oleh Elia, dan bahkan oleh TUHAN. Frasa aku sudah kaudapati menunjukkan bahwa Elia telah menemukan sifat berdosa Ahab.

Ayat 21-22 mencatat penghakiman TUHAN atas keluarga Ahab, yang berfokus pada menyapu habis (ayat 21). Bahasa aslinya tampaknya mengatakan Aku akan membinasakan keturunanmu, yang menunjukkan bahwa bukan hanya Ahab sendiri yang dibinasakan, tetapi juga keturunanmu, yaitu, semua keturunan dan orang-orang dari keluarga Ahab. Daftarnya adalah setiap laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang terikat ataupun yang bebas, di Israel. Ungkapan ini mengulangi isi penghakiman TUHAN atas keluarga Yerobeam dan Baesa (1 Raj. 14:8-11, 16:3, 4, 7). Keluarga Ahab mengulangi kesalahan keluarga Yerobeam dan juga menerima nasib keluarga Yerobeam. Oleh karena itu, ayat 22 menyatakan: Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan keluarga Baesa bin Ahia.

Penghukuman TUHAN atas Izebel tercatat dalam ayat 23. Penghukuman itu menyatakan, Anjing-anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizre’el. Teks bahasa aslinya menghilangkan kata daging, yang menyiratkan bahwa anjing-anjing itu akan melahap Izebel secara utuh. Tembok luar kemungkinan merujuk pada tembok kota (Ratapan 2:8; Nahum 3:8; Yesaya 26:1), sebuah kata yang kadang-kadang dikaitkan dengan istana (Mazmur 48:14, 122:7). Tembok luar Yizre’el mungkin merujuk pada daerah dekat istana Ahab di Yizre’el. Mengenai penggenapan nubuat ini, 2 Raja-raja 9:36 menyebutkan bahwa Izebel pada akhirnya dimakan oleh anjing-anjing di ladang Yizre’el, yang mungkin merupakan kebun anggur Nabot, karena kebun anggur ini terletak tepat di dekat istana di Yizre’el.

Ayat 24 lebih lanjut menjelaskan bahwa keluarga Ahab dimakan oleh anjing di kota dan burung-burung di ladang. Artinya, baik di dalam maupun di luar kota, mereka akan dimakan oleh anjing atau burung, seperti yang akan terjadi pada Yerobeam dan keluarga Baesa (1 Raj. 14:11, 16:4). Ini adalah kematian yang memalukan, jahat, dan terhina; mereka tidak hanya akan mati tanpa penguburan yang layak, tetapi tubuh mereka juga akan dimakan oleh binatang, sehingga mereka tidak memiliki mayat yang utuh, dan menggenapi kutukan dari Allah.

Refleksi:
Apakah saya juga telah mendapati sifat dosa saya yang sebenarnya? Sekalipun seseorang memiliki kemampuan untuk menipu orang lain, pada akhirnya tidak seorang pun dapat lolos dari didapati oleh Allah. Pertanyaannya adalah, apakah kita terlebih dahulu memiliki kesadaran diri untuk segera mendapati sifat dosa kita yang sebenarnya sehingga kita dapat bertobat sesegera mungkin?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 21:17-19

「Hukuman yang setimpal」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:17-19 [TB2])
17 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, bunyinya, 18 Bangunlah, pergilah menemui Ahab, raja Israel yang di Samaria. Ia ada di kebun anggur Nabot. Ia pergi ke sana untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya. 19 Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Setelah membunuh, masih juga engkau merampas? Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu.

1 Raja-raja 21:17 dimulai dengan Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, sebuah ungkapan yang mirip dengan pernyataan Elia dalam 17:2 dan 18:1. Ini menunjukkan bahwa firman TUHAN datang kepada Elia tiga kali, dan ketiga kalinya menyangkut Ahab. Dengan demikian, dalam keseluruhan narasi Elia, kita menemukan setidaknya tiga contoh yang menunjukkan bahwa Elia bertindak sesuai dengan perintah TUHAN. Ketiga contoh ini ditemukan dalam pasal 17, 18, dan 21.

Ayat 21:18, tercatat bagaimana TUHAN memberi dua kata kerja perintah kepada Elia, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai: Bangunlah! Turunlah untuk menemui Ahab, raja Israel. Perintah bangunlah! secara harfiah sesuai dengan perintah Izebel kepada Ahab (1 Raj. 21:15 Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu, menjadi milikmu. …). Setelah Izebel memerintahkan Ahab untuk bangun dan mengambil alih kebun anggur Nabot, TUHAN memerintahkan Elia untuk bangun dan menemui Ahab. Bersamaan dengan itu, teks tersebut menggunakan Turunlah! untuk menggambarkan perintah kedua Allah kepada Elia. Karena Yizre’el adalah dataran utara, seseorang harus turun jika bepergian dari lokasi yang lebih tinggi, seperti barat atau tengah Kanaan. Lebih lanjut, ayat 18 menggambarkan Ahab sebagai raja Israel dan di Samaria. Kita ingat bahwa dalam pasal 21, ayat 1 Ahab digambarkan sebagai raja Samaria, sebutan ini menyoroti identitas asli daerah asal Ahab, membandingkannya dengan identitas asli Nabot sebagai orang Yizre’el, sehingga menunjukkan bahwa Ahab seharusnya tidak merebut tanah leluhur orang lain. Namun, ayat 18 mencatat bahwa TUHAN menyebut Ahab raja Israel, menunjukkan bahwa identitasnya jabatannya adalah raja Israel, tetapi pada saat yang sama juga raja Samaria. Artinya, Ahab lahir dan tinggal di Samaria, dan itu sudah cukup baginya untuk menjadi raja Israel. Lalu mengapa ia perlu merebut tanah Yizre’el di luar Samaria?

Ayat 19 dua kali menggunakan frasa Beginilah firman TUHAN untuk menunjukkan dosa dan hukuman terhadap Ahab. Pertama, dosa Ahab adalah, Setelah membunuh, masih juga engkau merampas? Di sini kata membunuh adalah kata kerja yang sama yang digunakan dalam perintah keenam dari Sepuluh Perintah Allah, Jangan membunuh, dalam Keluaran 20:13 atau Ulangan 5:17, yang menunjukkan bahwa Ahab melanggar perintah keenam. Adapun merampas warisan, ini juga merupakan konsep penting dalam Ulangan. Hanya mereka yang menaati hukum dan perintah Allah yang dapat menerima warisan dari Allah (Ul. 5:31, 33), tetapi Ahab memperoleh warisan dengan melanggar Sepuluh Perintah Allah, yang merupakan dosa Ahab. Nubuat tentang darah Ahab yang dijilat anjing akan menggantikan nubuat tentang darah Nabot yang dijilat anjing, artinya darah Nabot tidak dijilat anjing; sebaliknya, darah Ahab akan dijilat anjing. Oleh karena itu, kunci untuk menafsirkan nubuat ini bukanlah tempat anjing menjilatnya, melainkan bahwa darah Ahab akan dijilat anjing (di mana pun itu).

Refleksi:
Ahab adalah raja Israel, dan kedudukannya seharusnya ditinggikan. Mengapa kemudian ia hanya fokus pada kebun anggur Nabot? Karena Ahab menumpahkan darah, ia harus menghadapi penghakiman timbal balik yang setimpal dari TUHAN: keluarga Ahab juga akan tertumpahkan darah. Bagaimana pembalasan setimpal semacam ini bisa menjadi awal dari rasa hormat kita kepada Allah?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 21:5-16

「Memakai hukum melanggar hukum」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:5-16 [TB2])
5 Izebel, istrinya, datang dan berkata kepadanya, Mengapa hatimu kesal sampai-sampai engkau tidak mau makan? 6 Jawab Ahab kepadanya, Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizre’el itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi, sahutnya, Aku tidak akan memberikan kebun anggurku itu kepadamu. 7 Kata Izebel, istrinya, kepadanya, Bukankah engkau sekarang yang berkuasa sebagai raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan hendaklah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu.
8 Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat-surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang tinggal sekota dengan Nabot. 9 Dalam surat-surat itu ditulisnya demikian, Umumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 10 Suruhlah juga dua orang durjana duduk menghadapinya, dan mereka harus menjadi saksi melawan dia, dengan mengatakan, Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati.
11 Orang-orang sekotanya, tua-tua dan pemuka-pemuka yang tinggal di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, sebagaimana tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka. 12 Mereka mengumumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 13 Kemudian dua orang durjana datang dan duduk menghadapi Nabot. Orang-orang durjana itu menjadi saksi melawan Nabot di depan rakyat, katanya, Nabot telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. 14 Setelah itu mereka mengutus orang kepada Izebel dengan kabar ini, Nabot sudah dilempari dengan batu sampai mati.
15 Segera sesudah mendengar bahwa Nabot sudah dilempari dengan batu sampai mati, Izebel berkata kepada Ahab, Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu, menjadi milikmu. Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati. 16 Mendengar bahwa Nabot sudah mati, Ahab bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

Perikop ini mencatat serangkaian tindakan Izebel untuk membunuh Nabot dan kemudian merebut kebun anggur Nabot untuk Ahab. Banyak aspek dari proses ini memerlukan interpretasi dalam kerangka Hukum Musa, termasuk pengaturan untuk saksi, pengadilan, dan eksekusi. Izebel menggunakan prosedur Musa untuk menganiaya Nabot, mengubah hukum menjadi alat politik di tangannya. Dia secara terang-terangan melanggar Sepuluh Perintah Allah, termasuk memberikan kesaksian palsu (Ul. 5:20), pembunuhan (Ul. 5:17), dan mencuri tanah orang lain (Ul. 5:19). Dia mengarang tuduhan dengan menggunakan tuntutan dua saksi (Ul. 17:6, 19:15), melanggar Sepuluh Perintah Allah dalam Ulangan melalui prosedur hukum, memanipulasi hukum untuk mencapai rencana pembunuhannya yang bermotivasi politik.

Dalam suratnya, Izebel menyatakan bahwa ia akan menyuruh dua orang durjana duduk berhadapan dengan Nabot (1 Raja – raja 21:10). Dalam bahasa aslinya, kedua durjana itu dapat diterjemahkan sebagai dua orang – anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness); dan frasa anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness) itu bisa difrasakan sebagai anak-anak Belial/the men of Belial (lihat KJV, ), Belial yang sama yang disebutkan Paulus dalam Surat 2 Korintus: Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? … (2 Kor. 6:15-16). Dalam Perjanjian Baru, Belial adalah nama lain untuk Setan, sedangkan dalam Perjanjian Lama, anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness) atau anak-anak Belial biasanya digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang: memimpin orang banyak untuk menyembah dewa-dewa lain yang tidak mereka kenal (Ul. 13:13; orang durjana), semaunya mengikuti keinginan mereka dan menginginkan hubungan seksual dengan orang lain (Hakim 19:22, 20:13」), kedua putra Eli (1 Sam. 2:12), dan mereka yang menghina Saul, orang yang diurapi TUHAN (1 Sam. 10:27). Teks Alkitab menggambarkan beberapa individu, termasuk Nabal (1 Sam. 25:17, 25), dan Seba bin Bikri, orang Benyamin yang mengutuk Daud (2 Sam. 20:1). Deskripsi ini menunjukkan bahwa anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness) atau anak-anak Belial merujuk kepada mereka yang secara moral korup, membenci Allah, dan mengutuk orang lain. Dan Izebel secara khusus meminta individu-individu semacam ini untuk digunakan sebagai saksi untuk menjebak Nabot, sehingga memenuhi persyaratan hukum dua atau tiga saksi (Ul. 17:6, 19:15). Dia menggunakan individu-individu yang secara moral bangkrut ini untuk menuduh Nabot yang saleh. Di sini, kita melihat ironi: Nabot, yang seharusnya tidak dikutuk, justru dikutuk; Mereka yang mengutuk orang lain dan tidak memiliki prinsip moral menjadi saksi yang menuduh orang lain. Pembalikan antara kebaikan dan kejahatan ini, pemutarbalikan antara benar dan salah, dengan sempurna mengungkapkan kepribadian dan kelicikan Izebel.

Menurut bahasa asli ayat 15, ketika Izebel mendengar bahwa Nabot telah dirajam sampai mati, ia segera memerintahkan Ahab dengan dua kata perintah: Bangunlah! Ambil alih kebun anggur Nabot orang Yizre’el! Fakta bahwa Izebel menggunakan kata-kata perintah untuk memerintah Ahab menunjukkan ketidakseimbangan kekuasaan di antara mereka; Izebel adalah orang yang memegang kendali, dan Ahab adalah orang yang menerima perintah. Ini menunjukkan bahwa Izebel yang bertanggung jawab, dan Ahab mungkin tidak tahu apa yang sedang dilakukan Izebel. Ia hanya tahu bahwa Nabot telah mati, tetapi ia mungkin tidak tahu mengapa Nabot meninggal, dan ia tidak bertanya, hanya mengikuti instruksi Izebel, seperti para tetua dan para pemuka. Kemudian, ayat 16 mencatat bahwa Ahab, mengikuti perintah Izebel, mengambil alih kebun anggur Nabot.

Refleksi:
Izebel menggunakan hukum untuk melanggar hukum, melakukan pembunuhan dan memfitnah orang benar sebagai orang berdosa. Distorsi antara benar dan salah ini mungkin merupakan fenomena umum dalam masyarakat modern. Bagaimana Anda dapat menjaga hati Anda tetap murni agar tidak jatuh ke dalam dosa Izebel? Bagaimana Anda akan menghadapi Izebel dalam masyarakat?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 21:1-4

「Pergi dengan hati kesal」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:1-4 [TB2])
1 Sesudah itu terjadilah peristiwa ini. Nabot, orang Yizre’el, mempunyai kebun anggur di Yizre’el, di samping istana Ahab, raja Samaria. 2 Berkatalah Ahab kepada Nabot, Berikanlah kebun anggurmu itu kepadaku untuk kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik sebagai gantinya. Tetapi, jika engkau anggap lebih baik, aku akan memberimu uang senilai harganya. 3 Jawab Nabot kepada Ahab, Kiranya TUHAN mencegah aku memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu! 4 Lalu Ahab masuk ke dalam istananya dengan hati kesal dan gusar karena perkataan yang diucapkan Nabot, orang Yizre’el itu, kepadanya, Aku tidak akan memberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku. Ia berbaring di tempat tidurnya sambil menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan.

Ayat 1 diterjemahkan secara literal adalah: Ada kebun anggur milik Nabot orang Yizre’el, yang terletak di Yizre’el. Penekanan pada kebun anggur ini menunjukkan bahwa pasal 21 adalah narasi tentang kebun anggur, dan bahwa kebun anggur ini milik Nabot orang Yizre’el, yang terletak di Yizre’el. Gema pengulangan antara orang Yizre’el dan Yizre’el dalam teks tersebut menggarisbawahi hubungan erat antara kelahiran Nabot dan warisan pusakanya, dan juga menunjukkan bahwa kebun anggur ini adalah tanah milik Nabot ini diwarisi dari leluhurnya; detail-detail ini menjadi informasi penting untuk pengembangan narasi selanjutnya.

Kebun anggur ini berada di samping istana Ahab. Bagaimana kita memahami istana Ahab yang terletak di Yizre’el? Ibu kota kerajaan Israel utara berada di Samaria, jadi Ahab seharusnya memiliki istana di sana. Namun, ia juga memiliki istana lain di Yizre’el, untuk liburannya atau keperluan lain. Kita melihat dari ayat-ayat lain bahwa Ahab memiliki tempat tinggal di Yizre’el, terutama setelah peristiwa di Gunung Karmel, ketika ia kembali ke tempat tinggalnya di sana (ayat 46); dan putra Ahab, Yoram, setelah terluka dalam pertempuran dengan Aram, juga kembali ke Yizre’el (2 Raj. 8:29, 9:15). Catatan-catatan ini menegaskan bahwa Ahab memiliki istana yang terletak di Yizre’el.

Ayat 2 mencatat tuntutan Ahab kepada Nabot. Bagian ini dimulai dengan Berikanlah kebun anggurmu itu kepadaku, yang dalam bahasa aslinya merupakan perintah, mewakili perintah kerajaan Ahab kepada Nabot mendesaknya memberikan kebun anggurnya kepadanya. Ini juga mencerminkan pandangan Ahab terhadap kebun anggur orang lain sebagai komoditas bisnis yang dapat diperdagangkan semata, yang dapat dibeli dan dijual secara bebas (tradable commodity). Ahab kemudian menyatakan bahwa keinginannya untuk memperoleh kebun anggur Nabot adalah untuk mengubahnya menjadi kebun sayur (גן־ירק). Dalam Kitab Ulangan, kata kebun sayur memiliki konotasi negatif: Sebab negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, bukanlah negeri seperti tanah Mesir, dari mana kamu keluar, yang setelah ditabur dengan benih harus kauairi dengan jerih payah, seakan-akan kebun sayur (Ul. 11:10). Artinya, kebun sayur melambangkan tanah Mesir, tempat orang Israel hidup sebagai budak. Sebaliknya, kebun anggur dalam Perjanjian Lama sering melambangkan Israel, yang dikasihi Allah (Yesaya 3:14, 5:1-2; Yeremia 12:10). Oleh karena itu, kontras antara kebun sayur dan kebun anggur lebih lanjut melambangkan kontras antara tanah Mesir dan tanah Kanaan (Tanah Perjanjian). Jika Israel bercita-cita untuk diubah menjadi kebun sayur seperti Mesir, maka mereka akan rusak, menjadi tanah tandus, pada akhirnya hanya cocok untuk kayu bakar — situasi yang mirip dengan perumpamaan tentang pohon anggur dan ranting-rantingnya dalam khotbah Yesus Kristus (Yohanes 15:1-10).

Ahab awalnya mengusulkan kesepakatan: kebun anggur kebun anggur yang lebih baik sebagai gantinya. Namun, ayat 3 mencatat tanggapan Nabot yang sederhana dan langsung kepada Ahab, tanpa adanya tawaran balasan atau negosiasi. Ia memulai dengan Kiranya TUHAN mencegah aku, teks bahasa aslinya dapat diterjemahkan sebagai Itu adalah penghujatan bagiku, yang berarti bahwa keinginan Ahab untuk membeli kebun anggur itu adalah penghujatan di mata Nabot, dan juga penghujatan di mata TUHAN. Ini sesuai dengan frasa di matamu (בעיניך) dalam ayat 2 Tetapi, jika engkau anggap lebih baik (di matamu), aku akan memberimu uang senilai harganya; Ahab berharap untuk memperoleh tanah itu melalui kesepakatan yang baik dengan Nabot di mata manusia, tetapi di mata Allah ini adalah jahat dan menghujat. Reaksi yang sangat berbeda dari kedua orang itu menciptakan kontras.

Terakhir, ayat 4 mencatat reaksi Ahab setelah mendengar jawaban Nabot, hatinya kesal dan gusar (סר וזעף), yang mengungkapkan kekhawatiran dan kejengkelan Ahab atas terganggunya rencananya, rasa kesal, tersinggung, dan bahkan amarah. Kata ini juga muncul dalam pasal 20, ayat 43, yang menggambarkan reaksi Ahab setelah mendengar penghakiman dan teguran nabi. Tampaknya Ahab kesal hati dan gusar setiap kali segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya; bahkan ketika kehendaknya bertentangan dengan perintah Allah, ia tetap merasa tersinggung dan marah.

Refleksi:
Rasa hormat takut Nabot kepada Allah dan kekesalan hati serta kegusaran Ahab membentuk sebuah kontras. Pelajaran apa yang dapat Anda ambil dari kontras ini?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 20:35-43

「Pergi dengan hati kesal dan gusar?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 20:35-43 [TB2])
35 Seorang dari rombongan nabi berkata kepada temannya atas perintah TUHAN, Pukullah aku! Tetapi, orang itu menolak memukulnya. 36 Lalu ia berkata kepadanya, Karena engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, ketahuilah, segera setelah engkau meninggalkan aku, seekor singa akan menerkam engkau. Ketika orang itu meninggalkan dia, seekor singa mendapati orang itu, lalu menerkam dia.
37 Kemudian nabi itu bertemu dengan orang lain, lalu ia berkata, Pukullah aku! Orang itu memukulnya dengan keras sampai ia terluka.
38 Lalu nabi itu pergi dan berdiri menantikan raja di jalan. Ia menyamar dengan memakai penutup pada matanya. 39 Ketika raja lewat, ia berseru mengadu kepada raja, katanya, Ketika hambamu ini maju ke medan pertempuran, tiba-tiba ada seorang meninggalkan barisan dan membawa seorang kepadaku sambil berkata, Jagalah orang ini, jika sampai ia hilang, nyawamulah ganti nyawanya, atau engkau harus membayar setalenta perak. 40 Ketika hambamu ini sedang sibuk-sibuknya, orang itu menghilang. Kemudian raja Israel itu berkata kepadanya, Begitu jugalah hukumanmu, engkau sendiri telah menetapkannya.
41 Lalu ia segera membuka kain penutup matanya, sehingga raja Israel mengenali dia sebagai seorang dari rombongan nabi. 42 Kata nabi itu kepadanya, Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah membiarkan lolos orang yang dikhususkan bagi-Ku untuk ditumpas, nyawamu adalah ganti nyawanya dan rakyatmu ganti rakyatnya. 43 Raja Israel pun pulang ke istananya dengan hati kesal dan gusar, lalu ia sampai di Samaria.

1 Raja-raja 20:35-43 adalah bagian khusus yang mencatat akibat dari Ahab mengadakan perjanjian dengan Benhadad, menunjukkan bahwa seorang nabi pergi kepada Ahab untuk menjelaskan penghukuman terhadapnya karena mengadakan perjanjian tersebut. Nabi itu menggunakan metode drama kenabian atau tindakan tanda kenabian (prophetic drama or prophetic sign-acts,) yang berarti bahwa nabi itu tidak hanya menyampaikan kehendak Allah tetapi juga menyampaikan penghukuman Allah melalui tindakan simbolis atau komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal ini memungkinkan pendengar untuk memahami penghukuman dan kehendak Allah lebih dalam melalui ingatan visual (bukan hanya suara), sehingga memungkinkan mereka untuk memahami dan menerimanya dengan lebih efektif.

Ayat 35 dimulai dengan menyebutkan seorang dari rombongan nabi yang tidak disebutkan namanya, mengingatkan kita pada saat Elia merasa sendirian, dan TUHAN berbicara kepadanya tentang tujuh ribu orang yang menolak untuk sujud kepada Ba’al (1 Raj. 19:18); Allah telah memelihara bagi-Nya sekelompok nabi yang bersatu melawan Ba’al dan keluarga Ahab. Nabi ini, atas perintah TUHAN, memerintahkan teman-temannya untuk memukulnya. Kita tidak tahu apakah teman ini juga bagian dari rombongan nabi — mungkin saja — tetapi poin kuncinya adalah bahwa perintah ini atas perintah TUHAN. Karena itu adalah perintah dari Allah, teman-temannya harus taat. Ayat 36 menggambarkan bagaimana orang itu (teman nabi) tidak taat pada perintah TUHAN dan tidak memukul nabi; penghakiman konkret yang ia terima adalah seekor singa membunuhnya, yang menggambarkan betapa serius ketidaktaatan.

Kemudian, ayat 39, nabi menggambarkan raja Israel melewati jalan itu, dan menjelaskan kepadanya bahwa ia bertanggung jawab untuk menjaga seorang tawanan perang. Sebagai penjaga, ia harus memastikan perjalanan tawanan itu aman dan mencegahnya melarikan diri; jika tidak, nyawanya akan menggantikan nyawa tawanan itu. Pesan nabi adalah bahwa Ahab harus melihat penggantian nyawa untuk nyawa ini, dan melalui itu, ia harus menyampaikan kepada Ahab bahwa jika ia bertanggung jawab untuk menjaga seorang tawanan perang yakni Benhadad tetapi membiarkannya pulang, Ahab akan membayar dengan nyawanya, menggantikan Benhadad sebagai orang yang akan dimusnahkan. Jika Ahab tidak memusnahkan Benhadad, Ahab akan menjadi tawanan menggantikannya, dan tidak mungkin baginya untuk menebus dirinya dengan uang.

Terakhir, setelah mendengar pengumuman penghakiman Allah, raja Ahab dari Israel pulang ke istananya dengan hati kesal dan gusar, lalu ia sampai di Samaria (1 Raj. 20:43). Dalam bahasa aslinya, hati kesal dapat diartikan sebagai ketidakpuasan dan kejengkelan (סר וזעף). Ini mengungkapkan perasaan kompleks Ahab: di satu sisi, ia merasa terganggu dan tertekan oleh teguran nabi, tampaknya takut akan penghakiman yang akan datang; di sisi lain, ia juga merasa kesal terhadap teguran nabi, sehingga menimbulkan ketidakpuasan dan kemarahan. Keadaan pikiran yang bertentangan ini mencerminkan dengan sempurna sikap Ahab terhadap kehidupan. Di satu sisi, ia merasa sedikit kuatir dengan tindakannya; di sisi lain, ia merasa tersinggung dan bahkan marah oleh teguran nabi.

Refleksi:
Tidak menaati perintah Allah memiliki konsekuensi serius! Allah akan menggunakan para nabi untuk menjelaskan penghakiman-Nya kepada orang berdosa. Biasanya, ketika orang mendengar isi penghakiman tersebut, mereka seharusnya merasa hormat takut, dan bertobat; namun, Ahab pergi dengan hati gusar. Mentalitas macam apa yang tercermin dalam reaksinya? Bagaimana seharusnya Anda memandang perintah dan penghakiman Tuhan?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 20:31-34

「Membuat perjanjian dengan mereka yang seharusnya dihukum untuk binasa?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 20:31-34 [TB2])
31 Lalu berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya, Ketahuilah, kami telah mendengar bahwa raja-raja kaum Israel itu adalah raja-raja yang berbelas kasih. Marilah kita memakai kain kabung pada pinggang kita dan tali pada kepala kita, dan keluar menghadap raja Israel; barangkali ia akan menyelamatkan nyawamu.
32 Lalu mereka melilitkan kain kabung pada pinggang mereka dan tali pada kepala mereka. Kemudian mereka pergi menghadap raja Israel dan berkata, Demikian kata hambamu Benhadad: Biarkanlah aku hidup. Jawabnya, Masih hidupkah dia? Dia saudaraku. 33 Orang-orang itu menganggap hal itu sebagai tanda baik dan segera memegang perkataannya, lalu berkata, Benhadad itu saudaramu! Ahab pun berkata, Pergilah, ambil dia! Benhadad keluar menemui dia, lalu diminta naik ke keretanya. 34 Kata Benhadad kepadanya, Kota-kota yang telah diambil ayahku dari ayahmu akan kukembalikan. Engkau juga boleh membuka pasarmu di Damsyik, seperti yang dilalukan ayahku di Samaria. Kata Ahab, Dengan perjanjian itu aku sendiri, akan membiarkan engkau pergi. Lalu Ahab mengadakan perjanjian dengan dia dan membiarkan dia pergi.

Ketika TUHAN menyerahkan Benhadad ke tangan Ahab, Ahab seharusnya menghancurkannya untuk mengamankan kemenangan bagi Israel dan membuktikan bahwa TUHAN adalah penguasa sejati, bukan dewa gunung atau dewa dataran. Namun, 1 Raja-raja 20:31-34 menunjukkan bahwa Ahab bukan saja tidak menghancurkan Benhadad, tetapi malah membuat perjanjian dengannya, menjadi sekutu, sehingga memutarbalikkan narasi seluruh pasal tersebut.

Ayat 31 dimulai dengan mencatat pendapat para pegawai kepada Benhadad, yang menunjukkan bahwa raja-raja Israel adalah raja-raja yang murah hati. Dalam bahasa aslinya, berbelas kasih dapat diartikan sebagai teguh/berkomitmen/setia (חסד che·sed), yang berarti bahwa raja-raja Israel selalu menepati janji perjanjian mereka. Ini menunjukkan bahwa para hamba Aram percaya bahwa raja -raja Israel secara konsisten setia pada perjanjian, tetapi ini dapat diartikan dalam dua cara: (1) Para hamba Aram percaya bahwa raja-raja Israel akan menepati janji mereka. Di masa lalu, Aram dan Israel memiliki hubungan penguasa – negeri bawahan, dan mereka mengharapkan raja-raja Israel untuk mempertahankan dan tetap setia pada hubungan mereka sebelumnya; (2) Para hamba Aram menganggap raja-raja Israel sebagai sekutu yang ideal karena ia teguh / berkomitmen / setia (חסד che·sed), dan dengan demikian menasihati raja-raja Aram untuk mencari aliansi dengannya. Kedua interpretasi tersebut menunjukkan bahwa raja-raja Israel setia pada perjanjian dan akan mengakui serta menghormatinya. Namun, ini sebenarnya ironis. Dalam narasi sejarah Kitab Raja-raja, semua raja Israel melakukan kejahatan di mata TUHAN, dan hampir tidak ada satu pun dari mereka yang mengakui atau menghormati perjanjian antara bangsa Israel dengan Allah. Oleh karena itu, anggapan bahwa raja-raja Israel setia pada perjanjian adalah ironis. Ini menunjukkan bahwa Ahab berpaling dan mengadakan perjanjian dengan Aram justru karena Ahab tidak menghormati perjanjian antara Israel dengan Allah.

Ayat 33 dimulai dengan menyebutkan menganggap hal itu sebagai tanda baik dan segera memegang perkataannya (TB/TB2). Terjemahan harfiahnya adalah orang-orang sedang meramal (והאנשים ינחשו), tetapi KJV menerjemahkan the men did diligently observe whether any thing would come from him (orang-orang itu dengan cermat menyelidiki apakah akan ada sesuatu yang muncul darinya), kata meramal diterjemahkan sebagai dengan cermat menyelidiki, yang mungkin dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ramalan itu sendiri bertujuan untuk memahami kehendak para dewa (teks bahasa aslinya tidak menggunakan kata ganti dia). Mengapa mereka membutuhkan ramalan bagi perjanjian mereka? Ini bisa jadi ritual yang dipraktikkan dalam perjanjian persekutuan Timur Dekat kuno, yang membutuhkan konsultasi dengan dewa-dewa tertentu dan kesaksian terhadap perjanjian tersebut. Dalam hal ini, Ahab bukan hanya gagal menghancurkan orang-orang yang diserahkan oleh TUHAN untuk dihancurkan, tetapi juga lebih jauh berpartisipasi dalam ritual ramalan dewa-dewa asing. Hal ini mencegahnya untuk memenuhi perannya sebagai raja Israel, ia gagal menyatakan bahwa setelah perang, hanya TUHAN yang merupakan Allah yang sejati, dan juga menyebabkan orang-orang secara keliru percaya bahwa Ahab memenangkan aliansi ini melalui dukungan dewa-dewa lain.

Refleksi:
Raja Ahab dari Israel seharusnya mengikuti perintah Allah untuk membinasakan raja Aram, sehingga membuktikan bahwa TUHAN adalah Tuhan seluruh bumi. Namun, ia hanya mementingkan visinya sendiri tentang perjanjian dan secara keliru membuat perjanjian persaudaraan dengan mereka yang seharusnya ia binasakan. Ia melakukan kesalahan ini karena ia mencari keuntungan politik dan karena ia ragu-ragu dalam ketaatannya pada perintah TUHAN, yang pada akhirnya mengundang penghukuman Allah. Pelajaran apa yang dapat Anda ambil dari kisah ini?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 20:22-30

「Allah gunungkah? Allah tanah datarkah?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 20:22-30 [TB2])
22 Lalu nabi itu mendekati raja Israel dan berkata kepadanya, Pergilah, kuatkanlah hatimu, sadarilah dan pertimbangkanlah apa yang harus kaulakukan, sebab pada pergantian tahun raja Aram akan maju menyerang engkau.
23 Pegawai-pegawai raja Aram berkata kepadanya, Ilah-ilah mereka ialah ilah-ilah gunung. Itulah sebabnya mereka lebih kuat dari pada kita. Tetapi, bila kita berperang melawan mereka di tanah datar, pastilah kita lebih kuat daripada mereka. 24 Lakukanlah ini: Turunkanlah raja-raja itu masing-masing dari kedudukannya, dan angkatlah kepala-kepala daerah menggantikan mereka. 25 Lalu kerahkanlah tentara sebanyak tentara yang telah gugur dari pihakmu, demikian pula kuda dan kereta sebanyak yang dahulu. Marilah kita berperang melawan mereka di tanah datar, pasti kita lebih kuat daripada mereka. Raja mendengarkan usul mereka, dan bertindak demikian.
26 Pada tahun yang berikutnya Benhadad memeriksa barisan orang Aram, lalu maju ke Afek untuk berperang melawan orang Israel. 27 Setelah barisan orang Israel diperiksa dan dibekali, mereka berangkat menghadapi orang Aram. Orang Israel berkemah di hadapan mereka seperti dua kawanan kambing, sedang orang Aram membanjiri tanah itu. 28 Abdi Allah mendekati raja Israel dan berkata, Beginilah firman TUHAN: Oleh karena orang Aram itu telah berkata: TUHAN ialah Allah gunung dan bukan Allah lembah, maka Aku akan menyerahkan seluruh tentara yang besar itu ke dalam tanganmu, supaya kamu tahu bahwa Akulah TUHAN.
29 Selama tujuh hari mereka berkemah berhadap-hadapan dan pada hari yang ketujuh pertempuran dimulai. Dalam satu hari orang Israel menewaskan seratus ribu orang Aram, tentara berjalan kaki. 30 Yang lainnya melarikan diri ke dalam Kota Afek, tetapi temboknya roboh menimpa kedua puluh tujuh ribu orang yang masih tinggal itu.
Benhadad juga melarikan diri, masuk ke kota dan bersembunyi di sebuah ruang dalam.

1 Raja-raja 20:23-25 mencatat nasihat yang diberikan oleh para pegawai raja Aram kepada raja Benhadad. Mereka percaya bahwa Allah Israel adalah ilah gunung, dan bahwa jika mereka berperang di dataran, mereka dapat mengalahkan tentara Israel. Para pegawai tersebut memiliki pandangan ini kemungkinan karena Samaria terletak di pegunungan, sehingga mereka menganggap Allah Israel sebagai ilah gunung. Lebih jauh lagi, tentara Aram terdiri dari kereta perang dan kuda perang (1 Raj. 20:25), yang akan lebih menguntungkan di dataran, sehingga mereka lebih memilih untuk berperang di dataran.

Ayat 26 menggambarkan tentara Aram, melancarkan kampanye militer melawan Israel, dengan medan pertempuran di Afek, seperti yang telah dinubuatkan oleh nabi. Beberapa tempat dalam Alkitab disebut sebagai Afek, tetapi Afek yang disebutkan dalam 20:26 diyakini terletak di Aram, dekat dataran yang menuju ke Israel. Afek juga muncul dalam 2 Raja-raja 13:17, tempat lain di mana Aram dan Israel berkonflik. Pada zaman Ahab, Afek seharusnya terletak di perbatasan antara Aram dan kerajaan Israel utara. Fakta bahwa orang Aram mundur ke Afek di ayat 20:30 menunjukkan bahwa Afek berada di bawah kendali Aram.

Ayat 28 menyebutkan seorang hamba Allah datang kepada raja Israel. Kita tidak yakin apakah hamba Allah ini adalah nabi tanpa nama yang disebutkan sebelumnya, dan gelar hamba Allah mengingatkan kita pada hamba Allah tanpa nama dari Yehuda yang disebutkan dalam 1 Raja-raja pasal 13. Teks tersebut mungkin menggunakan gelar yang berbeda, nabi dan hamba Allah, untuk menyebut dua orang yang berbeda, menunjukkan bahwa mereka berdua termasuk di antara tujuh ribu orang yang telah diperuntukkan bagi TUHAN yang tidak sujud kepada Ba’al (1 Raj. 19:18). Mereka melayani TUHAN pada waktu dan tempat yang berbeda, bertujuan untuk memberi tahu orang lain bahwa hanya TUHAN yang adalah Allah (1 Raj. 20:28).

Dalam hal ini, ayat 28 mencatat pesan hamba Allah, sekali lagi menanggapi argumen orang Aram bahwa TUHAN adalah ilah gunung dan bukan ilah dataran. Kesalahpahaman teologis ini merupakan penghujatan terhadap TUHAN. TUHAN adalah Tuhan seluruh bumi, Pencipta, dan Penguasa segala sesuatu; Bagaimana mungkin Dia terbatas pada wilayah tertentu? Oleh karena itu, karena nama-Nya yang kudus, TUHAN menyerahkan pasukan besar tersebut ke tangan pasukan Israel yang kecil seperti dua kawanan kambing, untuk mencapai tujuan supaya kamu tahu bahwa Akulah TUHAN. Jadi, tujuan perang bukanlah semata-mata untuk menentukan kemenangan atau kekalahan. Allah tidak berkewajiban untuk memihak dalam konflik tersebut. Allah menyerahkan orang Aram ke tangan orang Israel sepenuhnya demi nama-Nya yang kudus, untuk memberi tahu orang-orang bahwa: Dialah satu-satunya Allah yang sejati!

Refleksi:
TUHAN bukanlah sekadar dewa suatu wilayah tertentu, tetapi penguasa seluruh alam semesta. Orang Aram menganggap TUHAN sebagai ilah gunung atau ilah dataran, yang merupakan penghujatan. Konsep dewa-dewa regional ini mungkin ada dalam budaya dan tradisi kita; apakah Anda terpengaruh olehnya? Bagaimana Anda memandang TUHAN sebagai Tuhan seluruh alam semesta?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 20:13-21

「Dengan yang lemah menang melawan yang kuat」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 20:13-21 [TB2])
13 Tiba-tiba seorang nabi mendekati Ahab, raja Israel, serta berkata, Beginilah firman TUHAN: Sudahkah kaulihat kerumunan yang besar itu? Sesungguhnya Aku akan menyerahkan mereka hari ini ke dalam tanganmu, supaya engkau tahu bahwa Akulah TUHAN. 14 Lalu bertanyalah Ahab, Oleh siapa? Jawabnya, Beginilah firman TUHAN: Oleh hamba-hamba para kepala daerah. Tanyanya lagi, Siapakah yang akan memulai perang? Jawabnya, Engkau! 15 Kemudian ia menghitung jumlah hamba-hamba para kepala daerah itu, jumlahnya dua ratus tiga puluh dua orang. Sesudah mereka, ia menghitung seluruh rakyat, segenap orang Israel, jumlahnya tujuh ribu orang.
16 Lalu mereka maju menyerang pada waktu tengah hari, sementara Benhadad minum-minum sampai mabuk di pondoknya bersama dengan ketiga puluh dua raja yang membantunya. 17 Hamba-hamba para kepala daerah itu maju menyerang lebih dahulu. Benhadad menyuruh orang menyelidiknya, lalu mereka memberitahukan kepadanya, Ada orang-orang maju menyerang dari Samaria. 18 Lalu katanya, Entah mereka datang dengan maksud damai atau dengan maksud perang, tangkaplah mereka hidup-hidup! 19 Sementara itu hamba-hamba para kepala daerah keluar dari dalam kota bersama tentara yang mengikuti mereka. 20 Lalu masing-masing membunuh lawannya, sehingga orang Aram itu melarikan diri dan dikejar oleh orang Israel. Tetapi, Benhadad, raja Aram dapat meluputkan diri dengan naik kuda beserta sejumlah tentara berkuda. 21 Raja Israel pun maju menyerang kuda dan kereta itu, lalu mengalahkan orang Aram dengan dahsyat.

Ayat 13 menyebutkan seorang nabi yang datang kepada Ahab. Teks tersebut tidak menyebutkan nama nabi ini atau menunjukkan dari mana ia berasal, seperti halnya hamba Allah dari Yehuda dan nabi tua dari Betel yang tidak disebutkan namanya yang disebutkan dalam 1 Raja-raja pasal 13 — semuanya tanpa nama. Mengapa nabi ini disebutkan di sini? Dalam konteksnya, kita ingat Elia percaya bahwa ia sendirian melawan Ba’al, tetapi TUHAN menunjukkan bahwa ada tujuh ribu orang yang tidak menyembah Ba’al (1 Raj. 19:18), dan nabi yang tidak disebutkan namanya ini adalah salah satunya. Bahkan, dalam pasal 20, ada lebih dari satu nabi yang tidak disebutkan namanya (1 Raj. 20:13, 35). Ini menunjukkan bahwa Elia tidak sendirian; TUHAN menggunakan nabi-nabi yang tidak disebutkan namanya untuk menyelesaikan misi-Nya melawan Ba’al dan keluarga Ahab.

Ayat 13 mencatat perkataan nabi kepada Ahab: Sudahkah kaulihat kerumunan yang besar itu? Dalam bahasa aslinya, kerumunan besar secara literal diartikan sebagai keramaian besar ini (כל־ההמון הגדול הזה haz·Zeh hag·ga·Dol he·ha·Mon), di mana keramaian (המון hamown) merujuk pada keributan sekelompok besar orang. Dikombinasikan dengan pernyataan ayat 13, Sesungguhnya Aku akan menyerahkan mereka hari ini ke dalam tanganmu, supaya engkau tahu bahwa Akulah TUHAN, ini membentuk format perang suci. TUHAN akan menyerahkan Benhadad dan tentara Aram ke tangan Ahab, sehingga semua orang akan tahu bahwa Dialah TUHAN, dan peran Ahab adalah untuk menghancurkan mereka.

Ahab bertanya siapa yang akan dipakai untuk melawan tentara Aram (ayat 14), TUHAN berkata bahwa Ia akan memakai hamba-hamba para kepala daerah. Apa artinya ini? Artinya menggunakan pemuda-pemuda yang tidak terlatih untuk mengalahkan tentara profesional, menyampaikan pesan bahwa yang lemah mengalahkan yang kuat. TUHAN ingin Ahab mengerti bahwa hanya Dia sendirilah TUHAN, dan cara Dia menunjukkan kedaulatan-Nya yang sejati adalah dengan menggunakan hamba-hamba Israel yang paling tidak berpengalaman dan yang masih muda untuk mengorganisir pasukan melawan musuh yang kuat; tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa kemenangan TUHAN bukanlah tentang jumlah orang, tetapi tentang kuasa-Nya yang besar. Pada saat yang sama, ayat 14 menyatakan bahwa Ahab sendiri harus memimpin kelompok pemuda ini, sehingga Ahab dapat menjadi saksi pertama, bersaksi tentang bagaimana Allah menggunakan pemuda-pemuda yang lemah ini untuk mencapai kemenangan di medan perang. Ayat 15 menggambarkan Ahab menghitung orang-orang; hanya ada 232 pemuda, menunjukkan bahwa mereka bukan saja tidak berpengalaman tetapi juga sedikit jumlahnya. Dibandingkan dengan pasukan yang diorganisir oleh 32 raja-raja Aram, mereka hanyalah setetes air di lautan. Namun, Ahab juga menghitung tujuh ribu orang dalam pasukannya, jumlah yang kemungkinan besar disengaja, mengingatkan penyebutan TUHAN tentang tujuh ribu orang yang tidak berlutut kepada Ba’al (1 Raj. 19:18). Tujuh ribu orang yang setia kepada TUHAN ini, meskipun kecil dibandingkan dengan seluruh penduduk, merupakan minoritas yang sangat penting; demikian pula, tujuh ribu orang yang dikumpulkan Ahab merupakan minoritas yang sangat penting dalam perang. Dengan demikian, seluruh perang akan tampak sebagai kemenangan bagi yang lemah menaklukkan yang kuat, menunjukkan bahwa TUHAN adalah Allah yang sejati.

Terakhir, ayat 20 menggunakan empat kata kerja sederhana untuk menggambarkan hasilnya: Mereka (para pemuda) membunuh lawannya (ויכו), orang Aram melarikan diri (וינסו ארם), dikejar oleh orang Israel (וירדפם ישראל), dan Benhadad meluputkan diri (וימלט בן־הדד). Teks tersebut terutama menggunakan membunuh dan mengejar untuk menggambarkan pihak Israel, sedangkan melarikan diri dan meluputkan diri menggambarkan pihak Aram. Kemenangannya jelas: orang Israel meraih kemenangan besar.

Refleksi:
Bagian ini menggunakan kalimat sederhana untuk menggambarkan hasilnya, bertujuan untuk membantu pembaca memahami bahwa Allah memakai pemuda-pemuda yang lemah dan tidak berpengalaman untuk meraih kemenangan besar atas Aram yang perkasa. Allah benar-benar memenuhi janji-Nya, seperti yang telah dinubuatkan oleh nabi, menunjukkan dalam peperangan itu bahwa hanya Dia sendirilah Allah. Apa arti penting dari peperangan yang lemah mengalahkan yang kuat semacam ini bagi Anda?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 20:1-12

「Minum-minum dan mengirimkan utusan」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 20:1-12 [TB2])
1 Benhadad, raja Aram, menghimpun seluruh tentaranya, tiga puluh dua orang raja bersama dia beserta kuda dan kereta. Lalu ia maju mengepung Samaria dan memeranginya. 2 Ia mengirim utusan ke kota itu, kepada Ahab, raja Israel, 3 dengan pesan, Beginilah pesan Benhadad: Emas dan perakmu adalah milikku, dan juga istri-istri dan anak-anakmu yang terbaik adalah milikku. 4 Jawab raja Israel, Seperti perkataanmu, ya tuanku raja. Aku dan segala yang ada padaku adalah milikmu! 5 Utusan-utusan itu kembali lagi dan berkata, Beginilah pesan Benhadad: Memang aku telah menyuruh orang kepadamu untuk mengatakan: Emas dan perakmu, istri-istri dan anak-anakmu harus kauserahkan kepadaku, 6 tetapi besok kira-kira pada waktu ini, aku akan menyuruh pegawai-pegawaiku kepadamu dan mereka akan menggeledah rumahmu dan rumah pegawai-pegawaimu. Segala yang berharga di matamu akan mereka ambil dan bawa.
7 Lalu raja Israel memanggil semua tua-tua negeri itu dan berkata, Camkanlah, orang ini berikhtiar mencelakakan kita, sebab ia telah menyuruh orang kepadaku meminta istri-istriku, anak-anakku, emas dan perakku, dan aku tidak menolaknya. 8 Kata semua tua-tua dan segenap rakyat itu kepadanya, Jangan dengarkan, jangan turuti!
9 Sebab itu, ia berkata kepada utusan-utusan Benhadad, Katakanlah kepada tuanku raja: Segala yang kaupesankan pertama kali kepada hambamu ini, akan kulakukan, tetapi tuntutan yang terakhir ini tidak dapat kupenuhi. Utusan-utusan itu pun pergi menyampaikan jawaban itu kepada Benhadad. 10 Benhadad mengutus orang kepada Ahab dengan pesan, Kiranya para ilah menghukum aku dengan berat bahkan lebih lagi, jika banyaknya debu puing Samaria masih dapat digenggam oleh rakyat yang mengikut aku. 11 Tetapi, raja Israel menjawab, katanya, Katakanlah! Orang yang baru menyandangkan pedang janganlah memegahkan diri seperti orang yang sudah menanggalkannya. 12 Mendengar perkataan itu, Benhadad yang sedang minum-minum dengan raja-raja di pondok, berkata kepada pegawai-pegawainya, Siapkan barisanmu! Mereka menyiapkan barisannya melawan kota itu.

Kitab 1 Raja-raja pasal 20 menceritakan peperangan antara Aram dan Israel, yang berujung pada penghukuman keluarga Ahab. Pada waktu itu, Benhadad, raja Aram, mengumpulkan seluruh pasukannya, bersama dengan tiga puluh dua raja menyertainya. Tiga puluh dua raja ini bukanlah raja-raja yang terorganisir seperti yang mungkin kita bayangkan, melainkan lebih seperti kepala suku. Benhadad tidak hanya mengorganisir pasukannya sendiri tetapi juga menggabungkan pasukan dari tiga puluh dua raja tersebut. Meskipun organisasi ini relatif longgar, kekuatan yang tampak jelas tetap menimbulkan ancaman bagi Israel.

Ayat 2 menggunakan kata mengirim (שלח shalach), kata ini digunakan untuk menggambarkan komunikasi bolak-balik antara utusan-utusan Aram dan raja Israel, menjadi kata kunci dari seluruh pasal ini (1 Raj. 20:2, 5, 6, 7, 9, 10, 17, 34 [x2], 42). Pengiriman utusan pertama raja Aram disambut dengan tanggapan positif dari raja Israel (1 Raj. 20:4). Kemudian, raja Aram mengirim utusan untuk kedua kalinya untuk menyampaikan pesan (1 Raj. 20:5), tetapi kali ini raja Israel tidak mengindahkan pesannya (1 Raj. 20:7-9). Kemudian, raja Aram mengirim utusan untuk ketiga kalinya untuk menyatakan perang (1 Raj. 20:10), dan raja Israel tidak mundur (1 Raj. 20:11). Dengan demikian, bagian ini menggunakan kata mengirim (שלח shalach) untuk menggambarkan tiga putaran dialog antara raja Aram dan raja Israel, yang semuanya dimulai dengan raja Aram mengirim (שלח shalach) utusan. Namun, di akhir pasal, bagian ini menggambarkan bagaimana, setelah kekalahan raja Aram, Ahab mengirim (שלח shalach) Benhadad untuk pulang (1 Raj. 20:34). Ini menunjukkan bahwa kuasa mengirim (שלח shalach) telah berpindah tangan, beralih kepada Ahab yang mengirim (שלח shalach), menggulingkan Benhadad yang merasa hebat sendiri. Bagian ini menggunakan kata mengirim (שלח shalach) untuk menggambarkan bahwa pihak yang tampaknya pasti akan menang pada akhirnya sebaliknya menjadi pihak yang kalah yang dikirim (שלח) oleh pihak yang awalnya tampaknya pasti kalah.

Ayat 6 menjelaskan bahwa Benhadad akan mengirim pegawai-pegawainya untuk menggeledah rumah Ahab, dan tujuan penggeledahan itu adalah untuk mengambil semua yang dipandang berharga oleh Ahab. Frasa semua yang berharga di matamu (כל־מחמד עיניך ‘ei·Nei·cha kol-mach·Mad), mirip dengan yang digunakan dalam Kitab Yehezkiel (Yehezkiel 24:16, 21, 25). Dalam Kitab Yehezkiel, ini merujuk pada istri Yehezkiel; Allah menyebabkan kematiannya yang tiba-tiba sebagai metafora bagi bangsa Israel yang kehilangan Bait Suci, yang mereka anggap berharga (Yehezkiel 24:21). Dengan demikian, frasa semua yang berharga di matamu (כל־מחמד עיניך ‘ei·Nei·cha kol-mach·Mad) menunjukkan peningkatan penghinaan yang ditujukan kepada Ahab; Benhadad sengaja menargetkan kelemahan Ahab dalam penggeledahan tersebut. Namun, raja Ahab dari Israel menolak untuk menyerah dan bersiap untuk melawan raja Aram.

Ayat 12 mencatat reaksi Benhadad setelah menerima jawaban dari raja Israel, dengan mengatakan, Mendengar perkataan itu, Benhadad yang sedang minum-minum dengan raja-raja di pondok. Teks tersebut sengaja menggambarkan Benhadad mendengar pesan dari raja Israel sambil minum bersama tiga puluh dua raja. Dalam teks aslinya, kata minum (שתה shathah) adalah partisip, yang menunjukkan tindakan yang sedang berlangsung. Meskipun teks tidak menyebutkan secara spesifik apa yang mereka minum, kata ini muncul dalam pasal 19, yang menggambarkan Elia menerima pemeliharaan Allah melalui makan dan minum (1 Raj. 19:6, 8), dan juga dalam pasal 17, yang menggambarkan Elia minum air (1 Raj. 17:4, 6, 10), menunjukkan bahwa apa yang mereka minum belum tentu anggur. Namun, kita dapat percaya mereka sedang minum-minum anggur, karena kata ini juga muncul dalam ayat 16, dan konteksnya menunjukkan bahwa Benhadad sedang mabuk. Oleh karena itu, ayat 12 menggambarkan Benhadad minum-minum bersama tiga puluh dua raja. Mengapa menggambarkan Benhadad minum bersama tiga puluh dua raja? Ini bisa untuk menggambarkan mereka memandang remeh
terhadap lawan-lawan mereka, percaya bahwa mereka akan menang bahkan saat mabuk. Selain itu, kata minum (שתה) muncul dalam kisah Elia (1 Raj. 17:4, 6, 10; 19:6, 8), digunakan untuk menggambarkan bagaimana TUHAN menyediakan kebutuhan nabi-Nya Elia dan menyelamatkan hidupnya; sebaliknya, Benhadad dan ketiga puluh dua raja minum (שתה shathah) akan menyebabkan kematian mereka.

Refleksi:
Penggambaran atas raja Aram yang minum dan mengutus adalah deskripsi yang digunakan penulis untuk menggambarkan kekalahannya yang akan segera terjadi dalam pertempuran. Kesombongan dan meremehkan musuh seringkali menjadi awal kehancuran suatu bangsa. Bagaimana pembukaan narasi ini dapat menjadi pengingat bagi Anda?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 19:19-21

「Memanggil Elisa」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 19:19-21 [TB2])
19 Elia pergi dari sana dan mendapati Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu. Elisa sendiri di belakang pasangan lembu yang kedua belas. Ketika Elia melintas di dekatnya, Elia melemparkan jubahnya kepadanya. 20 Elisa lalu meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya, Izinkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau. Jawabnya kepadanya, Pergilah, lalu kembalilah, karena apa yang telah kuperbuat kepadamu. 21 Elisa pun berbalik meninggalkan Elia. Ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya, dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api. Ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, lalu mereka makan. Sesudah itu ia berangkat mengikuti Elia dan melayani dia.

1 Raja-raja 19:19-21 mencatat bahwa Elia segera pergi kepada Elisa dan mengurapinya sebagai nabi penggantinya. Oleh karena itu, bagian ini adalah tentang panggilan Elisa.

Elisa sedang membajak tanah, dan teks dua kali menyebutkan dua belas pasang lembu (ayat 19). Angka dua belas pasang ini tidak hanya melambangkan dua belas suku tetapi juga merupakan latar umum untuk membajak. Deskripsi dua belas pasang lembu menunjukkan bahwa Elisa adalah seorang pemilik tanah atau orang kaya; bagi orang-orang pada waktu itu, dua belas pasang lembu melambangkan kekayaan dan sumber daya yang hanya dapat dimiliki oleh orang kaya, menunjukkan bahwa ia memiliki produktivitas yang cukup besar. Ketika Elia pergi kepada Elisa, ia melemparkan jubahnya kepadanya. Kita tahu bahwa kata jubah (אדרת ‘addereth) muncul beberapa kali dalam Kitab Raja-raja (1 Raj. 19:13, 19; 2 Raj. 2:8, 13, 14), semuanya merujuk pada jubah Elia. Elia menggunakan jubah ini untuk menutupi wajahnya ketika ia bertemu dengan TUHAN (1 Raj. 19:13); Kemudian, ia juga menggunakan jubah ini untuk membelah air ke kanan dan ke kiri (2 Raj. 2:8); suatu hari, jubah ini akan diberikan kepada Elisa sehingga ia pun dapat membelah air ke kanan dan ke kiri, seperti yang telah dilakukan Elia (2 Raj. 2:13, 14). 1 Raj. 19:19 menjelaskan bahwa jubah (אדרת ‘addereth) ini hendak dikenakan pada Elisa. Ketika kita mengintegrasikan isi di atas tentang pakaian (אדרת), kita memahami bahwa penulis Kitab Raja-raja menggunakan jubah (אדרת ‘addereth) untuk menggambarkan makna bahwa Elia mewariskan pelayanan dan kuasa nabi atau hamba Allah kepada Elisa.

Ayat 20 dimulai dengan Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, teks bahasa aslinya secara literal berarti Ia mencampakkan ternak itu (ויעזב את־הבקר ‘et-hab·ba·Kar vai·ya·’a·Zo). Ini menunjukkan bahwa itu bukan sekadar kepergian biasa, tetapi meninggalkan (עזב `azab), yang melambangkan pelepasan harta miliknya (dua belas pasang lembu). Teks tersebut kemudian menggunakan kata berlari (רוץ ruwts) untuk menggambarkan bagaimana Elisa mengikuti Elia, menunjukkan bahwa tindakannya segera dan tegas, dan menyampaikan kesediaannya untuk mengikuti Elia dalam pelayanan kenabiannya. Kemudian Elisa berkata, Izinkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau (ayat 20). Kita tahu bahwa kata mencium (נשק nashaq) hanya muncul dua kali di seluruh Kitab Raja-raja, dan kedua kali itu terdapat dalam 1 Raja-raja pasal 19 (1 Raj. 19:18, 20). Dari sini, kita memahami bahwa penulis sengaja menghubungkan tujuh ribu orang yang mulutnya tidak mencium Ba’al dengan Elisa mencium ayah dan ibunya. Para penyembah Ba’al mencium Ba’al melambangkan tindakan meninggalkan TUHAN (ayat 18, 19:10, 14); ciuman Elisa kepada ayah dan ibunya melambangkan ia meninggalkan rumahnya demi TUHAN. Hal ini membawakan perbandingan Elisa dan tujuh ribu orang menjadi konkret.

Refleksi:
Dalam bagian di mana Elisa mengambil alih pelayanan kenabian Elia, kita melihat bagaimana teks tersebut memerinci tanggapannya secara konkret terhadap pelayanan Elia dan poin demi poin, termasuk perintah untuk kembali dan berjalan, serta representasi simbolis dari jubah. Teks tersebut juga menunjukkan kesediaan Elisa untuk segera menanggapi. Di era yang didominasi oleh Ba’al, apa arti panggilan seperti Elisa bagi Anda?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 19:15-18

「Tujuh ribu orang」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 19:15-18 [TB2])
15 Firman TUHAN kepadanya, Pergilah, kembalilah pada jalanmu ke padang gurun Damsyik. Sesampainya engkau di sana, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. 16 Engkau juga harus mengurapi Yehu, cucu Nimsi, menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola menjadi nabi menggantikan engkau. 17 Siapa yang luput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu. Siapa yang luput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa. 18 Tetapi, Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, semua orang yang tidak berlutut menyembah Ba’al dan yang mulutnya tidak mencium dia.

1 Raja-raja 19:15 mencatat tanggapan TUHAN kepada Elia. TUHAN tidak menghibur perasaan Elia, juga tidak menanggapi rasa kasihan diri dan kesepiannya. Ia hanya memberikan dua perintah: Pergilah dan Kembalilah, yaitu, memerintahkan Elia untuk kembali ke kerajaan Israel utara, tempat ia akan melayani. Ini karena Elia telah meninggalkan Tanah Perjanjian dan mencapai Gunung Horeb di Padang Gurun Sinai; sekarang perjalanannya ke selatan harus dibalik, kembali ke perjalanannya ke utara — jalannya melayani Allah sebagai nabi dan memerangi Ba’al — kembali ke Tanah Perjanjian Kanaan.

Ayat 15-17, TUHAN memerintahkan Elia untuk mengurapi tiga orang: Hazael (raja Aram), Yehu (raja Israel), dan Elisa (untuk menggantikan Elia sebagai nabi). Mengapa mengurapi ketiga orang ini? Melihat sejarah yang tercatat dalam Kitab 2 Raja-raja, kita memahami bahwa ketiga orang ini adalah tokoh kunci dalam perjuangan melawan Ba’al dan keluarga Ahab.

Elia sendiri akan mengurapi Elisa sebagai nabi untuk menggantikannya (ayat 19-21), tetapi ia tidak secara langsung mengurapi Hazael dan Yehu; tugas ini kemudian diselesaikan oleh Elisa atas nama Elia. Elisa sendiri pergi ke Damsyik dan bernubuat bahwa Hazael akan menjadi raja Aram (2 Raj. 8:7-15) dan akan menyerang Israel: Pada zaman itu mulailah TUHAN menggunting daerah Israel, sebab Hazael mengalahkan mereka di seluruh daerah Israel (2 Raj. 10:32). Dari catatan ini kita mengetahui bahwa Hazael akan menjadi agen TUHAN dalam menghancurkan tanah Israel; ia akan melemahkan bangsa Israel secara militer, sehingga secara tidak langsung ia menjadi salah satu kekuatan yang menentang Ba’al. Lebih jauh lagi, Elia tidak secara langsung mengurapi Yehu sebagai raja Israel; tugas ini dilakukan oleh orang yang diutus oleh Elisa (2 Raj. 9:1-10). Setelah Yehu diurapi, ia harus membersihkan keluarga Ahab dan semua penyembah Ba’al, dan akhirnya, membunuh Izebel (2 Raj. 9:14-10:27), secara resmi mengakhiri dinasti Omri. Yehu akan mencabut semua kekuasaan Ba’al secara menyeluruh, lebih menyeluruh daripada ketika Elia dan rakyat membunuh para nabi Ba’al di Gunung Karmel.

TUHAN memerintahkan Elia untuk mengurapi Hazael, Yehu, dan Elisa untuk membangun tatanan baru, sepenuhnya memberantas kekuasaan Ba’al dan menggantikan upaya Elia melawan Ahab. Memang benar, generasi Elia mencapai hal-hal besar dan melayani dengan sangat baik di Gunung Karmel, tetapi rencana TUHAN melawan kuasa Ba’al tidak membutuhkan pahlawan individu, melainkan membangkitkan generasi baru; TUHAN membangkitkan bukan satu orang, melainkan sekelompok orang (Hazael, Jehu, dan Elisa). TUHAN menggunakan hal ini untuk menanggapi perasaan Elia bahwa ia melayani sendirian, untuk menunjukkan bahwa dalam rencana besar Allah, itu bukanlah upaya satu orang saja, melainkan Allah membangkitkan orang-orang yang Dia gunakan untuk mewujudkan rencana dan kehendak-Nya dalam dimensi politik, urusan militer, dan agama.

Ayat 18 menyebutkan bahwa TUHAN meninggalkan tujuh ribu orang di antara Israel yang tidak menyembah Ba’al. Angka tujuh ribu bersifat simbolis, bukan harfiah. Angka tujuh melambangkan kelengkapan, yang menunjukkan bahwa Allah memelihara jumlah penuh pengikut TUHAN di Israel; demikian pula, seribu mungkin tidak merujuk pada angka harfiah, tetapi lebih kepada satuan kekuatan militer atau kelompok dalam suatu suku. Angka tujuh ribu juga berkali-kali lebih besar daripada seratus nabi yang diselamatkan Obaja (ayat 4, 13), yang memperjelas bagi Elia bahwa ia tidak berperang sendirian, tetapi adalah salah satu dari tujuh ribu orang ini, bagian dari rencana besar Allah.

Refleksi:
TUHAN menjelaskan kepada Elia bahwa ada tujuh ribu orang yang telah TUHAN siapkan untuk diri-Nya sendiri, orang-orang yang bertekad untuk tidak menyembah Ba’al, juga tidak menaati atau mengikuti Ba’al. Walau tidak seorang pun dari orang-orang ini menghadapi Ba’al di Gunung Karmel seperti Elia, tetapi masing-masing memiliki peran mereka sendiri. Masalah Elia bukanlah karena ia percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya yang setia kepada TUHAN, tetapi karena ia percaya bahwa orang lain harus sama bersemangatnya seperti dirinya dalam melayani TUHAN. Jika orang lain tidak dengan cara ini menunjukkan kesetiaan mereka, ia merasa bahwa dialah satu-satunya yang melakukannya. Perasaan kesepian inilah yang menjadi alasan ia mempertanyakan dan mengeluh kepada Allah. Namun, tanggapan TUHAN kepadanya memberi tahu kita bahwa yang dibutuhkan orang-orang seperti itu bukanlah penghiburan atau konfrontasi, tetapi perintah untuk melakukan tindakan pengurapan, sehingga menunjukkan kepadanya bahwa kehendak Allah tidak terbatas pada cara pelayanannya sendiri; Allah akan menggunakan orang-orang yang berbeda di posisi yang berbeda, dengan cara yang berbeda, untuk menghadapi Ba’al, bahkan tujuh ribu orang yang tidak menyembah atau berlutut di hadapan Ba’al, walau mereka mungkin tidak bertindak seberani Elia.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 19:9-14

「Suara embusan yang lembut」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 19:9-14 [TB2])
9 Di sana ia masuk ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Lalu datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: Apa kerjamu di sini, hai Elia?
10 Jawabnya, Aku sangat giat bekerja bagi TUHAN, Allah Semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu, dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang. Hanya aku sendiri yang masih hidup dan mereka berusaha mencabut nyawaku. 11 Lalu firman-Nya, Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!
Lalu melintaslah TUHAN. Angin besar dan kuat membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi, TUHAN tidak ada dalam angin itu. Sesudah angin datanglah gempa. Tetapi, TUHAN tidak ada dalam gempa itu. 12 Sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi, TUHAN tidak ada dalam api itu. Sesudah api itu, datanglah suara embusan yang lembut.
13 Ketika Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Datanglah suara kepadanya demikian, Apakah kerjamu di sini, hai Elia? 14 Jawabnya, Aku sangat giat bekerja bagi TUHAN, Allah Semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang. Hanya aku sendiri yang masih hidup, dan mereka berusaha mencabut nyawaku.

Elia melakukan perjalanan selama empat puluh hari empat puluh malam sebelum akhirnya sampai di Gunung Horeb. Di gunung itu, TUHAN bertanya kepadanya dua kali, Apakah kerjamu di sini, hai Elia? (ayat 9, 13).

Jawaban Elia atas pertanyaan pertama TUHAN tercatat dalam ayat 10. Pertama, Elia berkata, Aku sangat giat bekerja bagi TUHAN, Allah Semesta alam. Ini berarti Elia memiliki hati yang penuh antusias kepada TUHAN, ia cemburu karena orang Israel menyembah Ba’al. Elia tidak tahan melihat umat perjanjian melanggar kemurnian yang dituntut oleh TUHAN dan perjanjian-Nya dengan menyembah dewa-dewa lain, dan ia sepenuhnya bertekad untuk memerangi Ba’al karena kecemburuan ini. Selanjutnya, Elia menyatakan, orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu, dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang (ayat 10). Orang Israel memang telah melanggar perjanjian mereka dengan Allah, menghancurkan mezbah-mezbah TUHAN, dan Izebel memang telah membunuh nabi-nabi TUHAN. Pernyataan Elia selanjutnya adalah Hanya aku sendiri yang masih hidup dan mereka berusaha mencabut nyawaku (ayat 10), yang mungkin merupakan ingatan selektif, karena ia pernah mendengar Obaja mengatakan bahwa ia telah memelihara seratus nabi TUHAN (ayat 13). Elia sendiri bukanlah satu-satunya nabi TUHAN, tetapi ia merasakan kesepian yang mendalam.

Setelah TUHAN lewat, terjadilah tiga hal: Angin besar dan kuat membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, gempa bumi, dan api (ayat 11-12). Tetapi TUHAN tidak hadir dalam fenomena-fenomena ini. Kita sering berpikir bahwa ketika kita melayani Tuhan, Tuhan akan menampakkan diri dalam mukjizat-mukjizat besar, termasuk dalam angin, gempa bumi, dan api, tetapi ini bukanlah tanda utama kehadiran Tuhan.

Ayat 12 menyebutkan setelah api lalu datanglah embusan suara lembut dan tenang. Bagaimana kita harus memahami suara ini? Frasa suara embusan yang lembut tidak diragukan lagi mengungkapkan kekudusan TUHAN, tetapi dalam kerangka teologi Ulangan, penekanannya adalah untuk menggambarkan bahwa bentuk manifestasi TUHAN yang paling penting tetap melalui firman-Nya. Ini mengingatkan kita pada tradisi dalam Ulangan dan Keluaran di mana Musa mendengarkan firman Allah di Gunung Sinai; TUHAN berbicara kepada Musa dan umat di dalam api (Ulangan 4:11-12, 5:24-26). Ini bertepatan dengan suara embusan yang lembut setelah api yang disebutkan dalam 1 Raja-raja 19:12, tetapi satu-satunya perbedaan adalah bahwa yang pertama di dalam api, sedangkan yang kedua setelah api. Oleh karena itu, pendengaran Elia akan suara kecil ini, sama seperti Musa dan umat mendengar suara Allah dari dalam api, memperkuat citra Elia sebagai Musa kedua. Pada saat yang sama, fakta bahwa suara kecil ini muncul setelah api (bukan di dalam api) menyoroti pentingnya suara tersebut, membuat Elia mengerti bahwa manifestasi utama TUHAN bukanlah dalam mukjizat atau hal-hal besar seperti angin, api, dan gempa bumi, seperti yang dialami Elia ketika ia mengalami mukjizat api dari surga di Gunung Karmel (ayat 38). Sebaliknya, bentuk manifestasi Allah yang paling utama adalah suara yang keluar dari Dia; firman Allah adalah yang terpenting.

Refleksi:
Fokus pelayanan bukanlah pada angin, gempa bumi, dan api, tetapi pada suara lembut Tuhan. Jika Tuhan benar-benar berbicara kepada Anda, menurut Anda seperti apa suara itu? Dan apa yang akan Dia katakan kepada Anda?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 19:1-8

「Allah pemberi kehidupan」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 19:1-8 [TB2])
1 Ahab memberitahukan kepada Izebel semua yang dilakukan Elia dan bagaimana ia membunuh semua nabi dengan pedang. 2 Izebel lalu mengirim utusan kepada Elia dengan pesan, Kiranya para ilah menghukum aku dengan berat, bahkan lebih lagi, jika besok sekitar waktu ini aku tidak menghabisi nyawamu sama seperti salah seorang dari mereka itu.
3 Elia pun ketakutan, lalu pergi menyelamatkan dirinya. Setelah sampai ke Bersyeba, di wilayah Yehuda, ia meninggalkan hambanya di sana. 4 Tetapi, ia sendiri pergi ke padang gurun sejauh satu hari perjalanan.
Ia tiba dan duduk di bawah sebuah pohon arar. Ia memohon supaya ia mati, katanya, Cukuplah sudah! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku.
5 Ia lalu berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya, Bangunlah, makanlah! 6 Ketika ia melihat sekitarnya, tampaklah di dekat kepalanya ada roti bakar, dan kendi berisi air. Ia makan dan minum, lalu berbaring lagi. 7 Tetapi, malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata, Bangunlah, makanlah! Sebab perjalanan itu nanti terlalu jauh bagimu. 8 Ia pun bangun, lalu makan dan minum. Karena makanan itu ia kuat berjalan selama empat puluh hari empat puluh malam sampai ke Horeb, gunung Allah.

Ketika Izebel mendengar apa yang telah dilakukan Elia di Gunung Karmel, ia segera mengirim utusan kepada Elia dengan sebuah pesan: Kiranya para ilah menghukum aku dengan berat, bahkan lebih lagi, jika besok sekitar waktu ini aku tidak menghabisi nyawamu sama seperti salah seorang dari mereka itu (ayat 2). Dari perspektif sastra, kata utusan juga muncul dalam ayat 5 dan 7, yang menggambarkan utusan yakni malaikat yang menyediakan makanan bagi Elia dalam perjalanan di padang gurun. Hal ini kontras dengan konteks sebelumnya: utusan Izebel menyampaikan ancaman kematian (ayat 2), sedangkan utusan yakni malaikat yang diutus TUHAN menyediakan air dan roti untuk menopang hidup Elia (ayat 5 dan 7). Yang pertama adalah utusan kematian, yang kedua adalah utusan kehidupan. Ketika Elia melarikan diri karena pesan dari utusan kematian, ia akan bertemu dengan utusan kehidupan.

Utusan itu menyampaikan pesan Izebel kepada Elia, aku menghabisi nyawamu sama seperti salah seorang dari mereka itu (ayat 2). Kita melihat kata nyawa (נפש nephesh) sebagai titik fokus, muncul tujuh kali dalam pasal 19 (ayat 2 [x2], 3, 4 [x2], 10, 14), menjadi salah satu tema pasal tersebut. Izebel menjadi simbol kematian, tetapi TUHAN dapat memberikan nyawa kepada nabi-Nya bahkan dalam bayang-bayang kematian. Di bawah ancaman kematian, TUHAN selalu menjadi Allah yang memberikan nyawa hidup. Dihadapkan dengan ancaman kematian Izebel, Elia memutuskan untuk melarikan diri, pergi ke Bersyeba di Yehuda (ayat 3). Bersyeba adalah kota paling selatan di Yehuda (Hakim 20:1; 1 Sam. 3:20; 2 Sam. 3:10, 17:11, 24:2, 15; 1 Raj. 5:5), jauh dari kerajaan Israel yang di bawah pemerintahan Izebel dan Ahab, dan dengan demikian jauh dari tempat Elia melayani sebagai nabi, sehingga menimbulkan kesan bahwa ia telah meninggalkan pelayanan kenabiannya. Setelah itu, ia sampai di pohon arar.

Ketika Elia meminta kematiannya, ia mengucapkan kata-kata ini: Cukuplah sudah! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku (ayat 4). Karena Elia meminta kematian, tema kematian menjadi kunci untuk menafsirkan pernyataan ini. Kita melihat bahwa setiap kali penulis Kitab Raja-raja menggambarkan kematian seorang raja, mereka sering menulis tidur bersama nenek moyangnya (1 Raj. 14:20, 31; 15:24; 16:6, 28; 22:40). Oleh karena itu, Elia menganggap dirinya tidak lebih baik daripada nenek moyangnya, yang berarti bahwa ia akan mati dan tidur bersama mereka, dan tidak dapat melampaui mereka dalam kematian. Pada saat yang sama, teks berikut (ayat 5) menyebutkan bahwa Elia tertidur di bawah pohon arar, yang juga mengingatkan pembaca pada tema tidur bersama nenek moyangnya, meskipun tidur seperti itu bukanlah kematian yang sebenarnya.

Kemudian, teks tersebut menyebutkan seorang utusan yakni malaikat yang datang untuk menyentuh Elia (ayat 5), dan Elia terbangun dan mendapati air dan roti. Ayat 6 menggunakan lima kata kerja berurutan untuk menggambarkan reaksi Elia: ia melihat, makan, minum, dan mengulang lagi, berbaring. Tema air dan roti ini segera mengingatkan kita pada pengalaman Elia yang diberi makan oleh sungai Kerit dan burung gagak dalam 1 Raja-raja pasal 17 (1 Raj. 17:2-6), dan juga pada pengalaman janda dari Sarfat, bagaimana Allah melalui dia memberi Elia air dan roti, dan sekaligus menghidupkan kembali dia dan anaknya (1 Raj. 17:12-16), yang menyoroti tema bahwa Allah adalah Tuhan pemberi nyawa hidup.

Refleksi:
Ketika kita kecil hati dalam melayani Tuhan, bahkan sampai pada titik merenungkan kematian, lihatlah perhatian Tuhan pada kebutuhan dasar kita akan makan dan minum. Ini karena Tuhan adalah Tuhan yang memberi kehidupan; Dia lebih menghargai kehidupan manusia daripada pelayanan manusia. Apa refleksi yang muncul dalam diri Anda? Bagaimana Tuhan yang memberi kehidupan ini menjadi pengingat dan dorongan bagi Anda?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 18:41-46

「Dari kecil hingga menjadi besar」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 18:41-46 [TB2])
41 Kemudian Elia berkata kepada Ahab, Pergilah, makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran. 42 Lalu Ahab pergi untuk makan dan minum,
sedangkan, Elia naik ke puncak Gunung Karmel. Lalu ia membungkuk ke tanah dengan mukanya di antara kedua lututnya. 43 Setelah itu ia berkata kepada hambanya, Naiklah, lihatlah ke arah laut. Hamba itu pun naik dan melihat, lalu berkata, Tidak ada apa-apa. Kata Elia, Pergilah sekali lagi. Tujuh kali Elia berkata demikian. 44 Pada ketujuh kalinya hamba itu berkata, Lihat, awan kecil setelapak tangan timbul dari laut.
Lalu kata Elia, Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasanglah keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan. 45 Dalam sekejap mata langit menjadi gelap oleh awan dan badai, lalu turunlah hujan lebat. Ahab naik ke keretanya dan pergi ke Yizre’el. 46 Tetapi, tangan TUHAN berkuasa atas Elia. Ia mengikat pinggangnya dan berlari mendahului Ahab sampai ke jalan yang menuju Yizre’el.

1 Raja-raja 18:41-46, bagian terakhir dari pasal ini, mencatat tentang hujan. Teks ini menggunakan pola perintah – ikuti, artinya setelah Allah atau seseorang memberi perintah, orang lain mengikuti dan bertindak sesuai dengan perintah tersebut. Kita melihat Elia memerintahkan Ahab untuk pergi naik (עָלָה `alah, tidak terlihat dalam TB) dan makan serta minum (ayat 41), lalu Ahab pergi naik dan makan serta minum (ayat 42); Elia memerintahkan hambanya untuk naik dan melihat laut, dan hamba itu naik dan melihat, melihat tujuh kali (ayat 43-44). Dengan demikian, kita melihat pola perintah – ikuti setidaknya dua kali.

Dalam ayat 43-44, disebutkan bahwa Elia memerintahkan hambanya untuk melihat ke arah laut, sebanyak tujuh kali (tujuh adalah bilangan sempurna). Setiap kali Elia memerintahkan hambanya, ia menggunakan kata yang sama naiklah (עָלָה `alah). Mengapa melihat ke arah laut? Ini karena sisi barat Palestina adalah Laut Mediterania, dan arah laut adalah barat. Sebagian besar hujan dan awan datang dari arah laut, jadi ia memerintahkan hambanya untuk melihat ke arah laut. Pada kali ketujuh, hambanya melihat awan kecil, kira-kira sebesar telapak tangan manusia, naik dari laut. Pertama, deskripsi tentang Ahab pergi naik, Elia naik ke puncak Gunung Karmel, dan hambanya naik untuk melihat ke arah laut, semua selaras dengan naiknya awan kecil tersebut; Kedua, deskripsi awan kecil bertujuan untuk menggambarkan bahwa hujan yang diberikan TUHAN adalah petunjuk dari kecil ke besar, yang sangat sesuai dengan tema setelah pasal tujuh belas, di mana Allah menggunakan burung gagak yang lemah, sungai Kerit, janda dari Sarfat, dan Obaja untuk menyediakan kebutuhan para nabi TUHAN, membawa kehidupan ke tanah yang kering. Demikian pula, Allah menggunakan awan kecil untuk memberikan petunjuk dari kecil ke besar, sebagai pertanda hujan lebat yang akan datang. Sesungguhnya, ayat 18:45 mencatat bahwa dalam sekejap, hujan lebat turun, dan Ahab mengendarai keretanya pergi ke Yizreel.

Terakhir, ayat 46 mencatat suatu peristiwa ajaib, tangan TUHAN berkuasa atas Elia. Ia mengikat pinggangnya dan berlari mendahului Ahab sampai ke jalan yang menuju Yizre’el. Teks tersebut menyebutkan bahwa tangan TUHAN turun ke atas Elia, memungkinkannya untuk berlari mendahului kereta-kereta Ahab — yaitu, Elia dapat berlari lebih cepat dari kereta-kereta Ahab. Apa artinya ini? J. J. M. Roberts menerbitkan sebuah artikel yang sering dikutip orang tentang Tangan TUHAN, di mana ia menunjukkan bahwa Tangan TUHAN melambangkan manifestasi dahsyat Allah, terutama mengenai penyakit dan wabah, dengan bukti yang ditemukan khususnya dalam sepuluh wabah Keluaran dari Mesir. Ketika Tangan TUHAN menimpa seorang nabi, nabi tersebut memasuki keadaan luar biasa; ini tidak menunjukkan bahwa nabi tersebut telah tertular wabah, tetapi lebih menunjukkan bahwa nabi tersebut berada dalam keadaan menerima firman Allah dengan sungguh-sungguh, seperti orang yang demam. (J. J. M. Roberts, “The Hand of Yahweh,” VT 21 (1971): 244–51.) Ini menegaskan identitas Elia sebagai seorang hamba Allah, dan bagian ini diakhiri dengan deskripsi ini untuk menunjukkan bahwa Elia, hamba Allah, adalah seorang nabi TUHAN.

Refleksi:
Pemeliharaan dari Allah adalah petunjuk dari yang kecil menuju yang besar; Dia menggunakan apa yang tampaknya tidak berarti bagi manusia untuk mewujudkan pemeliharaan-Nya yang besar. Pengingat dan makna apa yang terkandung dalam pesan ini bagi Anda?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 18:36-40

「TUHAN adalah Allah!」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 18:36-40 [TB2])
36 Kemudian pada waktu mempersembahkan kurban petang, tampillah Nabi Elia dan berkata, Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, biarlah diketahui pada hari ini bahwa Engkaulah Allah di Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu, dan atas firman-Mulah aku melakukan semuanya ini. 37 Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka berbalik kepada-Mu. 38 Lalu turunlah api TUHAN melahap kurban bakaran, kayu, batu, dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya. 39 Melihat kejadian itu, seluruh rakyat sujud serta berkata, TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah! 40 Kata Elia kepada mereka, Tangkaplah nabi-nabi Ba’al itu. Jangan biarkan seorang pun dari mereka luput. Setelah ditangkap, Elia membawa mereka ke sungai Kison dan menyembelih mereka di sana.

1 Raja-raja 18:36 mencatat doa Elia kepada TUHAN. Ia berdoa agar melalui persembahan kurban di Gunung Karmel, umat Israel mengetahui, Engkaulah Allah di Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu, dan atas firman-Mulah aku melakukan semuanya ini, yang persis sama dengan apa yang telah dilakukan Musa. Musa adalah hamba TUHAN (Ulangan 34:5), dan segala sesuatu yang dilakukannya sesuai dengan firman TUHAN. Dengan demikian, Elia tidak hanya berharap bahwa kurban ini akan membuat orang mengerti bahwa ia adalah hamba TUHAN, tetapi juga bahwa ia adalah Musa kedua, seorang hamba Allah yang mengikuti Musa untuk menjadi seorang nabi.

Seruan Elia kepada TUHAN berlanjut dalam ayat 37. Ia memulai dengan Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku! (ענני יהוה ענני ‘ă·nê·nî Yah·weh ‘ă·nê·nî) , yang secara langsung mengarahkan pembaca pada tema jawaban di sepanjang bagian tersebut (1 Raj. 18:21-40). Hal ini kontras dengan ketidakmampuan dan ketidakadaan Ba’al untuk memberikan jawaban apa pun (1 Raj. 18:26, 29), sementara hanya TUHAN, sebagai Allah yang sejati, yang memiliki kuasa untuk menjawab. Namun, seruan Elia kepada TUHAN untuk menjawab bukanlah demi reputasi pribadi, tetapi untuk memberi tahu orang-orang bahwa TUHAN adalah Allah.

Ayat 38, adalah puncak dari seluruh narasi, yang menggambarkan datangnya api TUHAN. Penekanannya bukanlah dari mana api ini berasal, tetapi pada kenyataan bahwa itu adalah api TUHAN, yaitu, api milik TUHAN dan berasal dari TUHAN. Menurut Imamat 6:10, 13, api dari Allah ini harus terus menyala dan tidak padam, sehingga mezbah dapat terus mempersembahkan kurban. Dengan demikian, api kudus mengaktifkan sistem kurban tabernakel (Imamat 9:24), artinya hanya setelah TUHAN memberikan api barulah bangsa Israel memiliki api kudus untuk membakar kurban bakaran. Mereka tidak dapat menggunakan api biasa untuk kurban bakaran (Imamat 10:1-2), jika tidak, tidak akan ada kuasa pengudusan untuk mengubah kurban bakaran menjadi sesuatu yang kudus. Ayat 39 mencatat bahwa setelah orang-orang melihat turunlah api TUHAN, mereka semua sujud dan berkata, TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah! Orang-orang menyatakan bahwa hanya TUHAN adalah Allah, dan tidak ada ilah lain (termasuk Ba’al). Hal ini menggemakan makna nama Elia (Allahku adalah TUHAN). Pernyataan orang-orang tersebut mencerminkan iman monoteistik teologi klasik. Ini menunjukkan bahwa orang-orang telah sepenuhnya meninggalkan iman kepada Ba’al dan beralih untuk hanya menyatakan TUHAN sebagai Allah mereka. Akhirnya, tindakan iman monoteistik orang-orang kepada TUHAN adalah membunuh nabi Ba’al seperti yang diperintahkan Elia (1 Raj. 18:40).

Refleksi:
Hormat kepada TUHAN sebagai satu-satunya Allah yang benar bukanlah sekadar pernyataan lisan selama ibadah, tetapi membutuhkan tindakan yang sesuai, termasuk menyingkirkan segala unsur yang menghalangi ibadah dan kasih kita kepada satu Allah. Tindakan apa yang akan Anda lakukan ? Pelayanan Elia berfokus pada pembuktian bahwa TUHAN adalah Allah yang benar; bagaimana hal ini dapat menginspirasi Anda untuk fokus pada tujuan pelayanan Anda?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 18:30-35

「Persembahan kurban seluruh Israel」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 18:30-35 [TB2])
30 Kata Elia kepada seluruh rakyat, Mendekatlah kepadaku! Seluruh rakyat mendekat kepadanya.
Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan. 31 Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub, yang kepadanya telah datang firman TUHAN, Engkau akan dinamai Israel. 32 Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama TUHAN dan di sekeliling mezbah itu ia membuat parit yang dapat memuat dua sukat benih. 33 Ia menyusun kayu api, memotong-motong lembu itu dan menaruhnya di atas kayu itu.
34 Sesudah itu ia berkata, Penuhilah empat kendi dengan air, tuangkan ke atas kurban bakaran dan kayu api itu! Kemudian katanya, Lakukanlah untuk kedua kalinya! Mereka melakukannya untuk kedua kalinya. Ia berkata lagi, Lakukanlah untuk ketiga kalinya! Mereka melakukannya untuk ketiga kalinya. 35 Air pun mengalir di sekeliling mezbah itu; bahkan parit itu penuh dengan air.

Ba’al tidak menanggapi seruan para nabinya; tidak ada suara, tidak ada jawaban, dan dia tidak terbangun. Ini menunjukkan bahwa Ba’al tidak berdaya, atau bahkan tidak ada. Dengan latar belakang ini, Elia berharap dapat menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan bahwa hanya TUHAN yang adalah Allah yang benar. Namun, Elia tidak ingin dirinya menjadi satu-satunya yang membuat pernyataan ini; ia ingin kedua belas suku Israel melakukannya. Karena itu, ia pertama-tama membangun sebuah mezbah atas nama kedua belas suku Israel, dengan tujuan agar semua orang mengerti bahwa TUHAN adalah Allah yang benar bagi seluruh Israel.

Ayat 31 mencatat bahwa Elia mengambil dua belas batu untuk membangun mezbah TUHAN, menjelaskan bahwa kedua belas batu ini diberi nomor menurut suku-suku keturunan Yakub, menunjukkan bahwa nama Yakub adalah Israel. Dalam tindakan simbolis ini, Elia menunjukkan kepada orang Israel bahwa identitas sejati mereka terletak bukan pada kurban Ba’al, tetapi pada iman monoteistik kepada TUHAN (YHWH); ini juga menunjukkan bahwa mezbah itu bukan hanya mezbah TUHAN, tetapi juga mezbah seluruh Israel. Kemudian, dalam ayat 18:32, disebutkan bahwa Elia menggali parit di sekitar mezbah, dan teks tersebut secara khusus menyebutkan bahwa parit ini dapat menampung dua sukat benih. Apa artinya ini? Sukat adalah satuan ukuran untuk volume padat, kira-kira sama dengan 7,3 liter. Fakta bahwa parit ini dapat menampung dua sukat benih menunjukkan bahwa area parit tersebut dapat ditanami benih sebanyak dua sukat — merupakan parit yang sangat besar.

Dalam ayat 33-34, disebutkan bahwa Elia memerintahkan orang-orang untuk mengisi empat kendi dengan air dan menuangkannya tiga kali, sehingga totalnya menjadi dua belas kendi. Ini mungkin dimaksudkan untuk menggambarkan dua belas batu mezbah, yang melambangkan dua belas suku Israel. Dalam ayat 35, teks menjelaskan bahwa air mengalir di sekitar mezbah, memenuhi semua parit. Mengapa Elia melakukan ini? Pertama, dua belas ember air melambangkan dua belas suku; kedua, beberapa orang percaya bahwa tindakan menuangkan air ini adalah persembahan kurban curahan (Sweeney, I & II Kings, 229), selama Hari Raya Pondok Daun terutama melambangkan datangnya hujan dan berakhirnya kekeringan. Oleh karena itu, tindakan menuangkan air adalah bagian dari ritual, bukan seperti yang diyakini sebagian orang, untuk membuat api lebih sulit, tetapi lebih menandakan pergantian musim dan berakhirnya kekeringan.

Refleksi:
Dua belas batu dan dua belas kendi curahan air sesuai dengan kesempurnaan dua belas suku. Kehidupan Elia didedikasikan untuk harapan bahwa seluruh Israel akan dengan sepenuh hati mengakui dan percaya bahwa hanya TUHAN yang adalah Allah mereka dan satu-satu-Nya penguasa mereka. Bagaimana dedikasi Elia untuk kebangkitan bangsanya dapat menginspirasi dan memperbarui fokus Anda?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 18:25-29

「Tidak ada suara, tidak ada yang menjawab」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 18:25-29 [TB2])
25 Lalu Elia berkata kepada nabi-nabi Ba’al itu, Pilihlah seekor lembu dan olahlah lebih dahulu, karena jumlahmu banyak. Sesudah itu panggillah nama ilahmu, tetapi kamu tidak boleh menyalakan api.
26 Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Ba’al dari pagi sampai tengah hari, katanya, Ya Ba’al, jawablah kami! Tetapi, tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Mereka berjingkrak-jingkrak di sekeliling mezbah yang mereka buat.
27 Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya, Panggillah keras-keras, bukankah dia Allah? Mungkin ia sedang merenung, mungkin ada urusannya, atau ia sedang bepergian. Barangkali ia sedang tidur dan harus dibangunkan.
28 Mereka pun memanggil-manggil dengan suara keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah mereka bercucuran. 29 Sesudah lewat tengah hari, mereka seperti kesurupan sampai waktu mempersembahkan kurban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanggapan.

1 Raja-raja 18:25-29 mencatat bagaimana Elia dan juga para nabi Ba’al menyiapkan anak lembu untuk dipersembahkan kepada ilah mereka masing-masing, dan siapa pun yang dapat menurunkan api akan menunjukkan siapa Allah yang sejati. Narasi ini menggunakan jawaban sebagai temanya, menyoroti ketidakberdayaan Ba’al, bahkan ketidakhadiran dan ketiadaannya.

Teks tersebut merinci waktu-waktu ketika para nabi Ba’al memanggilnya, termasuk sampai tengah hari (ayat 26), pada waktu tengah hari (ayat 27), sesudah lewat tengah hari (ayat 29), dan sampai waktu mempersembahkan kurban petang (ayat 29). Tengah hari merujuk pada pukul 12 siang, dan kurban petang dipersembahkan sekitar pukul 3 sore. Namun, terlepas dari waktunya, teks tersebut menyatakan dalam ayat 26 dan 29 bahwa tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, lalu ayat 29 menambahkan tidak ada tanggapan. Dari bahasa aslinya, bukan sekadar tidak ada jawaban, tetapi lebih tepatnya tidak ada seorang pun yang menjawab. Ini tidak berarti Ba’al ada tetapi tidak menjawab, tetapi lebih tepatnya keberadaan Ba’al dipertanyakan; Ba’al bukan sekadar kurang kemampuan, tetapi keberadaannya sendiri dipertanyakan.

Ayat 26 mencatat para nabi Ba’al berjingkrak-jingkrak mengelilingi mezbah yang mereka bangun dari pagi hingga siang. Kata berjingkrak-jingkrak dalam bahasa aslinya berarti timpang (פסח pacach), sebuah kata yang digunakan dalam ayat 21 untuk menggambarkan orang-orang yang berjalan dengan dua kaki di jalan antara TUHAN dan Ba’al, sebuah keputusan yang dibuat dengan pikiran yang terpecah. Ini juga menunjukkan bahwa orang-orang timpang tersebut cacat, tidak mampu dengan sepenuh hati mengikuti iman mereka kepada TUHAN. Oleh karena itu, ketika ayat 26 menggunakan berjingkrak-jingkrak untuk menggambarkan persembahan kurban yang dilakukan untuk Ba’al, itu sama saja dengan menyindir cacat ketimpangan mereka, sekaligus menghubungkan para nabi Ba’al dengan orang-orang tersebut, menunjukkan bahwa keduanya sama-sama berjalan timpang.

Ayat 27 mencatat kata-kata Elia … bukankah dia Allah? Mungkin ia sedang merenung, mungkin ada urusannya, atau ia sedang bepergian. Barangkali ia sedang tidur dan harus dibangunkan. Ejekan Elia terhadap Ba’al berfokus pada fakta bahwa ia adalah dewa yang sedang tidur, yang sama sekali berbeda dari TUHAN, yang melindungi Israel dan tidak pernah tertidur atau mengantuk (Mazmur 121:4). TUHAN tidak perlu tidur, dan Ia juga tidak mengantuk; bagi-Nya, tidak ada musim tidur. Dalam mitologi Ba’al, kekeringan melambangkan kemungkinan bahwa Ba’al mungkin sedang tidur, seolah-olah mati; tetapi bagi TUHAN, kekeringan membuktikan hari-hari TUHAN yang sebenarnya, karena Ia menggunakan kekeringan untuk mendatangkan hukuman, sehingga memberikan interpretasi teologis. Oleh karena itu, Ba’al, sebagai dewa yang sedang tidur, bukanlah Allah sejati, ia hanyalah ketiadaan dan kehampaan; bahkan jika para nabi Ba’al berusaha sekuat tenaga untuk membangunkannya, ia tidak menanggapi.

Refleksi:
Ba’al tidak dapat menjawab; keberadaannya pun dipertanyakan, dan ia lebih mungkin adalah dewa yang sedang tidur. Semua ini menunjukkan bahwa Ba’al bukanlah Allah yang sejati, melainkan kesia-siaan dan kehampaan. Namun, TUHAN adalah Allah yang sejati. Apa sebenarnya yang menjadi Ba’al saya? Dan bagaimana saya memandang kesia-siaan dan ketidakmampuan Ba’al-Ba’al ini? Kiranya Tuhan membukakan mata saya.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 18:21-24

「Bercabang hati」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 18:21-24 [TB2])
21 Elia menghampiri seluruh rakyat itu dan berkata, Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dengan mendua hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikuti Dia, dan kalau Ba’al, ikuti dia. Tetapi, rakyat tidak menjawab sepatah kata pun.
22 Lalu Elia berkata kepada rakyat itu, Tinggal aku sendiri nabi TUHAN, sedangkan nabi-nabi Ba’al itu ada empat ratus lima puluh orang. 23 Berikanlah kepada kami dua ekor lembu jantan. Biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya di atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menyalakan api. Aku juga akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya di atas kayu api dan tidak akan menyalakan api. 24 Lalu hendaklah kamu memanggil nama ilahmu dan aku akan memanggil nama TUHAN. Ilah yang menjawab dengan api, dialah Allah! Seluruh rakyat menyahut, katanya, Baiklah demikian!

Ayat 21 mencatat konfrontasi Elia dengan para nabi Ba’al di Gunung Karmel. Fokus narasi ini adalah untuk membuktikan bahwa hanya TUHAN yang merupakan Allah yang benar, sedangkan Ba’al adalah kehampaan dan kesia-siaan.

Pertama, ayat 21-24 mencatat dialog bolak-balik antara Elia dan umat Israel, yang dapat dipahami menggunakan model kipas/Kiastik berikut:
A. Elia berbicara kepada rakyat (18:21a)
……B. Rakyat tidak menjawab (18:21b)
A’ Elia berbicara kepada rakyat (18:22-24a)
……B’ Rakyat menjawab (18:24b)

Kita melihat reaksi orang-orang terhadap perkataan Elia dua kali: pertama kali mereka tidak menjawab, dan kedua kalinya mereka menjawab. Apa yang tercermin dalam tema menjawab ini?

Pertama, ayat 21 menggunakan istilah mendua hati untuk menggambarkan perpecahan teologis. Terjemahan harfiahnya adalah: Sampai kapan? Kamu berjalan timpang di atas dua jalur bercabang, yang menggambarkan bahwa orang-orang berjalan di atas dua cabang, arah langkah mereka tidak sama, sehingga menghasilkan arah jalan yang terpecah — sebuah metafora untuk perpecahan dalam kehidupan dan teologi. Lebih lanjut, kata timpang (פסח pacach) hanya muncul dua kali di seluruh Kitab Raja-raja; selain di sini (ayat 21), kata itu muncul lagi di ayat 26, menggambarkan nabi Ba’al yang melompat-lompat di sekitar mezbah yang mereka bangun. Namun, ini ironis, karena timpang (פסח pacach) sebelumnya digunakan untuk menggambarkan Mefiboset yang pincang (2 Sam. 4:4). Oleh karena itu, ketika Elia menggambarkan orang-orang itu berjalan timpang di atas dua jalur bercabang, ia dengan jelas menggambarkan bahwa praktik penyembahan keduanya kepada TUHAN dan Ba’al seperti orang pincang yang berjalan di atas dua kaki di jalan yang tidak bisa dipadukan — kehidupan yang penuh perpecahan. Penulis Kitab Raja-raja bermaksud menggunakan kata timpang (פסח pacach) untuk menggambarkan ironi, menunjukkan bahwa penyembahan orang-orang kepada TUHAN dan Ba’al mengakibatkan mereka menjadi pincang dan tertatih-tatih seperti para nabi Ba’al (1 Raj. 18:26).

Tanggapan orang-orang terhadap perkataan Elia adalah tidak menjawab (1 Raj. 18:21). Kata menjawab (ענה `anah) adalah kata kunci dalam seluruh bagian ini (1 Raj. 18:21, 24, 26, 29, 37), yang menyoroti ketidakmampuan Ba’al untuk memberikan jawaban apa pun, sementara hanya TUHAN yang dapat menjawab. Kurangnya jawaban dari orang-orang seperti ketidakmampuan Ba’al untuk menanggapi. Dengan demikian, penggunaan kata jawaban bersifat ironis bagi rakyat itu dan Ba’al; orang-orang yang percaya kepada Ba’al, seperti Ba’al, telah kehilangan kemampuan dan sarana untuk menjawab, mereka mencerminkan ketidakmampuan yang sepenuhnya dari Ba’al.

Refleksi:
Apakah hidup saya, seperti hidup orang-orang ini, terpecah bercabang? Di satu sisi, apakah saya merindukan untuk melayani TUHAN, sementara di sisi lain, saya memeluk banyak Ba’al, yang menyebabkan hidup terpecah? Yesus Kristus menunjukkan bahwa seseorang tidak dapat melayani dua tuan, karena hati kita hanya dapat menampung satu tempat: TUHAN atau Ba’al. Ba’al dapat berupa uang, ketenaran, status, harta benda, kekuasaan, dan lain-lain. Hal-hal ini, seperti Ba’al, menjadi berhala di hati kita, mencegah kita untuk sepenuhnya melayani TUHAN. Apakah hidup saya pada akhirnya terbagi seperti hidup orang-orang itu, ataukah hidup saya adalah pengabdian yang tulus sepenuhnya kepada Allah?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

1 Raja-raja 18:15-20

「Pencelaka Israel」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 18:15-20 [TB2])
15 Jawab Elia, Demi TUHAN Semesta Alam yang hidup, yang kulayani, sesungguhnya hari ini juga aku akan memperlihatkan diri kepadanya. 16 Lalu Obaja pergi menemui Ahab dan memberitahukan hal itu kepadanya. Ahab pun pergi menemui Elia.
17 Ketika Ahab melihat Elia, ia berkata kepadanya, Engkaukah itu, orang yang mencelakakan Israel? 18 Jawab Elia kepadanya, Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau dan kaum keluargamu. Kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Ba’al. 19 Sekarang, suruhlah seluruh Israel berkumpul menemuiku di Gunung Karmel, juga empat ratus lima puluh nabi Ba’al dan empat ratus nabi Asyera, yang makan dari meja Izebel.
20 Ahab mengirim pesan ke semua orang Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke Gunung Karmel.

Renungan bulan ini melanjutkan meditasi tentang 1 Raja-raja dari Agustus 2025, melalui kisah Elia membantu kita melakukan apa yang benar di mata TUHAN.

1 Raja-raja 18:1-14 menyebutkan bahwa Obaja, sebagai pengurus rumah Ahab, memiliki hormat takut akan Allah, dan menggunakan kebijaksanaan serta kemampuannya untuk mendukung dan melindungi nabi TUHAN; pada saat yang sama, percakapannya dengan Elia juga menunjukkan bagaimana di tengah kesulitan ia tetap hormat takut akan Allah.

Ayat 15 mencatat jawaban Elia kepada Obaja. Elia tidak menanggapi ketakutan Obaja, juga tidak menjawab masalah mengenai Roh TUHAN, dan tidak pula menjawab keyakinan Obaja bahwa ia bersalah; Elia hanya bersumpah, sama seperti Obaja, bahwa Ahab pasti akan bertemu Elia.

Ayat 17 mencatat kata-kata pertama Ahab saat bertemu Elia. Ahab menyatakan bahwa Elia adalah malapetaka bagi Israel (עכר ישראל yiś·rā·’êl ‘ō·ḵêr). Apa artinya ini? Kata ini digunakan untuk menggambarkan penjahat yang mendatangkan masalah bagi bangsa Israel, termasuk Akhan (Yosua 6:18, 7:25) dan Saul (1 Sam. 14:29). Kekerasan Simeon dan Lewi di masa lalu juga menimpa Yakub (Kej. 34:30). Dengan kata lain, Ahab menganggap Elia sebagai penjahat yang mendatangkan masalah bagi bangsa Israel. Namun, Elia, pada gilirannya, menunjukkan bahwa malapetaka bagi Israel (עכר ישראל yiś·rā·’êl ‘ō·ḵêr) tidak merujuk kepada Elia, tetapi kepada Ahab sendiri dan kaum keluarganya (1 Raj. 18:18). Ini berarti bahwa hal itu tidak hanya melibatkan Ahab tetapi juga ayah Ahab, Omri, dan seluruh dinasti Omri. Omri sebelumnya telah membentuk aliansi politik dengan Sidon melalui pernikahan, menikahkan putranya Ahab dengan putri Sidon, Izebel, sehingga memperkenalkan penyembahan Ba’al (1 Raj. 16:31-33). Karena itu orang Israel mengikuti Ba’al (1 Raj. 18:18), hal itu membangkitkan murka TUHAN (1 Raj. 16:33), yang membawakan bencana kekeringan.

Ayat 19 mencatat bahwa Elia memerintahkan Ahab untuk mengumpulkan seluruh Israel (כל־ישראל yiś·rā·’êl-kāl) di Gunung Karmel, dan secara khusus untuk mengumpulkan 450 nabi Ba’al. Mengapa Elia memilih Gunung Karmel sebagai lokasi konfrontasi? Gunung Karmel adalah pusat penyembahan Ba’al dan tempat tinggi yang terkenal. Terletak di tengah antara dataran Yizreel dan dataran utara, dekat perbatasan antara Israel dan Fenisia, tempat ini mudah dijangkau oleh orang-orang dari seluruh penjuru Kanaan untuk datang dan menyembah Ba’al, dan juga mudah bagi Elia untuk mengumpulkan seluruh Israel untuk menyaksikan peristiwa penting ini. Nama Gunung Karmel berarti kebun anggur Allah, sehingga melambangkan kesuburan dan kelimpahan. Ketika Elia mengumpulkan seluruh Israel di tempat tinggi yang terkenal dengan penyembahan Ba’al ini, itu sama saja dengan memasuki jantung penyembahan Ba’al, menunjukkan kepada orang Israel bahwa bukan Ba’al yang benar-benar membawa kesuburan dan kelimpahan bagi Israel, tetapi TUHAN. Demikian pula, dahulu masuknya Elia ke Sarfat di Sidon untuk menerima persembahan dari seorang janda miskin sama artinya dengan memasuki jantung penyembahan Ba’al, untuk menunjukkan bahwa TUHAN adalah satu-satunya Tuhan yang memberi hidup. Akhirnya, ayat 20 mencatat bagaimana Ahab, mengikuti instruksi Elia, mengumpulkan semua orang Israel dan semua nabi Ba’al di Gunung Karmel.

Refleksi:
Siapakah pencelaka Israel? Ahab, yang melakukan kejahatan itu, menuduh Elia sebagai pencelaka Israel, yang menggambarkan perilaku orang jahat. Apakah saya juga menunjukkan perilaku yang sama? Apakah saya, meskipun berdosa, malah menuduh orang lain?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:21-24

「Logika hari Sabat」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:21-24 [TB2])
21 Jawab Yesus kepada mereka, Hanya satu perbuatan yang Kulakukan dan kamu semua telah heran. 22 Musa menetapkan supaya kamu bersunat – sebenarnya sunat itu tidak berasal dari Musa, tetapi dari nenek moyang kita – karena itu, kamu menyunat orang bahkan pada hari Sabat! 23 Jikalau seseorang menerima sunat pada hari Sabat, supaya hukum Musa jangan dilanggar, mengapa kamu marah kepada-Ku karena Aku menyembuhkan seluruh tubuh seseorang pada hari Sabat? 24 Janganlah menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil.

Renungan bulan ini diakhiri dengan keputusan pengadilan yang sangat bernuansa teologis. Yesus menunjukkan: Kamu dapat menyunat pada hari Sabat untuk menaati hukum (memutilasi tubuh), jadi mengapa Aku, yang menyembuhkan seseorang, harus dihakimi? Ia dengan tajam menunjukkan bahwa mereka menghakimi benar dan salah berdasarkan penampilan (κατ’ ὄψιν, kat’opsin). Berdasarkan penampilan berarti hanya melihat kelengkapan aturan lahiriah, tanpa mempertimbangkan dinamika kehendak Allah.

Yesus meminta kita untuk berpaling kepada penghakiman yang adil (δικαίαν dikaian). Keadilan sejati adalah mengenali hakikat karya Allah — keselamatan, penyembuhan, dan anugerah — sekalipun tampaknya melanggar kebiasaan keagamaan kita. Apakah kita cukup berani untuk melanggar kebiasaan keagamaan yang membuat kita merasa aman, dan menerima Kristus yang melanggar aturan untuk mengasihi sesama? Jangan tertipu oleh penampilan luar yang indah; kenali karya tangan Allah dalam belas kasihan yang tidak konvensional itu.

Inilah keadilan kebenaran.

Refleksi:
1. Marilah introspeksi penilaian kita saat ini terhadap orang lain. Seberapa besar penilaian itu didasarkan pada apakah mereka sesuai dengan perilaku standar (dari segi penampilan), dan seberapa besar didasarkan pada apakah mereka benar-benar mengalami penyembuhan Kristus dalam hidup mereka (dari segi keadilan kebenaran)?
2. Apakah Tuhan sedang menuntun Anda dengan cara yang tidak konvensional dalam hidup Anda akhir-akhir ini? Cobalah untuk melepaskan keterikatan Anda pada jubah luar keagamaan, dan katakan kepada Tuhan dalam kasih anugerah-Nya: Saya bersedia.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:20

「Penghinaan yang membabi buta」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:20 [TB2])
20 Orang banyak itu menjawab, Engkau kerasukan setan! Siapa yang berusaha membunuh Engkau?

Ketika kebenaran menyentuh titik sensitif, pembalasan yang paling umum adalah stigmatisasi (pemberian label negatif kepada seseorang untuk membuat ia dipandang rendah atau dianggap membawa aib). Massa merespons dengan kesombongan kolektif dan secara membuta: Kamu kerasukan setan! Ini adalah bentuk pembelaan diri termurah; dengan hanya memberi label kepada orang yang mengatakan kebenaran sebagai orang gila, kita tidak perlu lagi mengindahkan gugatan tentang niat membunuh dan kemunafikan (lihat … tidak seorang pun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa kamu berusaha membunuh Aku? Pernyataan orang banyak itu, Siapa yang berusaha membunuh Engkau? mengungkapkan kemunafikan kolektif berupa kebohongan terang-terangan.

Yesus tetap diam di tengah tuduhan yang hiruk pikuk. Ia tidak membutuhkan pembelaan atas kondisi mentalnya. Ini mengingatkan kita bahwa mengikuti Tuhan terkadang membuat kita tampak gila. Ketika kita berpegang teguh pada nilai-nilai yang bertentangan dengan dunia, dunia berusaha menghancurkan kita dengan stigmatisasi; tetapi jangan panik, karena Tuhan kita pernah dicap Engkau kerasukan setan. Kebenaran tidak terletak di tangan manusia biasa-biasa, tetapi di tangan Kristus, yang dianggap gila oleh manusia.

Apakah kebenaran berada di tangan orang gila atau di tangan orang-orang biasa-biasa saja?

Refleksi:
1. Coba ingat kembali saat Anda dianggap tidak masuk akal oleh orang-orang di sekitar Anda karena berpegang teguh pada prinsip-prinsip iman Anda. Apakah Anda memilih untuk berkompromi saat itu, ataukah Anda mampu mempertahankan kegilaan suci itu di hadapan Tuhan?
2. Ketika Anda melihat seseorang memberikan kritik tajam terhadap keadaan gereja saat ini, apakah reaksi pertama Anda adalah melindungi reputasi organisasi, atau Anda menenangkan diri dan meminta Tuhan untuk membantu Anda membedakan apakah ada teguran dari Tuhan dalam kritik tersebut?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:19

「Kemunafikan menjalankan Taurat」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:19 [TB2])
19 Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun, tidak seorang pun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?

Ini menguakkan kemunafikan dengan sangat mendalam. Orang Yahudi selalu menganggap diri mereka sebagai penjaga hukum Taurat, tetapi Yesus secara langsung menunjukkan: Kamu memegang hukum di tanganmu, namun tidak seorang pun di antara kamu yang benar-benar menaatinya. Inti dari hukum adalah kasih, tetapi sekarang kamu menggunakannya sebagai alat untuk merencanakan membunuh Allah yang memberikan hukum itu kepadamu. Inilah bentuk sekularisasi agama yang paling menakutkan: kesalehan yang dimanfaatkan sebagai alat.

Kita telah menguasai doktrin-doktrin yang paling tepat dan mempelajari kritik moral yang paling sempurna, namun jauh di lubuk hati kita, kita melanggar esensi hukum Taurat. Ketika kita menggunakan kebenaran untuk menyerang orang lain dan menggunakan kesalehan untuk menutupi niat jahat kita, kita seperti orang-orang yang Yesus bicarakan, tidak seorang pun dari kita yang menaati hukum Allah. Jika hukum Taurat tidak dihidupi untuk mengarah pada introspeksi diri sendiri, ia menjadi pedang pembunuh. Apakah kesalehan kita benar-benar untuk menjaga kemuliaan Tuhan, ataukah demi melindungi kekuasaan kita sendiri yang merasa ditantang?

Hukum Taurat adalah cermin, bukan pedang.

Refleksi:
1. Dalam kehidupan iman Anda, pernahkah Anda atau orang menggunakan ayat Alkitab untuk menghakimi orang lain sementara tidak menerapkan penghakiman tersebut pada diri sendiri? Sebutkan jika ada, apa kebenaran yang Anda atau orang terapkan dengan standar ganda tersebut.
2. Pernahkah Anda merasakan ada niat membunuh (kebencian, rasa jijik, ingin dia menghilang) terhadap seseorang, apakah Anda mencoba merasionalisasi pikiran ini dengan alasan spiritual tertentu?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:18

「Penunjuk kemuliaan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:18 [TB2])
18 Siapa yang berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi siapa yang mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.

Yesus di sini memberikan standar emas: Kemuliaan siapa yang kamu cari? Ini adalah ujian introspeksi diri tentang motivasi. Seseorang yang berbicara atas otoritasnya sendiri, bahkan jika mereka berbicara berdasarkan Alkitab, tetap memiliki motivasi yang sejatinya adalah untuk memuliakan diri, untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri; orang ini ingin diakui dan membuktikan bahwa mereka benar. Pernyataan ini merupakan pukulan berat bagi para pelaku penampilan keagamaan masa kini.

Yesus berkata bahwa seseorang yang mencari kemuliaan Sang Pengutus adalah benar-benar otentik, ia benar (ἀληθής alēthēs). Keotentikan benar ini bukan sekadar mengatakan kebenaran, tetapi kehidupan yang bebas dari kepentingan diri sendiri, bebas dari ketidakbenaran yang mencoba menggunakan Tuhan untuk meninggikan diri sendiri. Kita benar-benar bebas ketika kita tidak lagi membutuhkan tepuk tangan orang lain untuk menegaskan nilai diri kita. Kehidupan Yesus adalah ekspresi tertinggi dari kemuliaan Allah Bapa; Ia bukan hanya menolak untuk mempertahankan terang-Nya sendiri, tetapi juga mengarahkan semua pandangan melewati Dia kepada Bapa yang tak terlihat.

Bayang-bayang tidak akan berebut cahaya.

Refleksi:
1. Amati kesuksesan terbaru Anda. Dalam kegembiraan itu, berapa persen yang berasal dari Tuhan dimuliakan dan berapa persen yang berasal dari diri saya dilihat?
2. Jika Tuhan secara eksplisit mengatakan kepada Anda hari ini bahwa kesaksian paling luar biasa dalam hidup Anda tidak akan pernah diketahui oleh siapa pun, apakah Anda masih akan tetap setia melaksanakannya seperti sebelumnya?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:17

「Bertekad untuk mengetahui」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:17 [TB2])
17 Siapa yang mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.

[CUV] Jika seseorang bertekad untuk melakukan kehendak-Nya, ia pasti akan tahu apakah ajaran ini berasal dari Allah, ataukah Aku mengatakannya atas kemauan-Ku sendiri.
[NRSV] Anyone who resolves to do the will of God will know whether the teaching is from God or whether I am speaking on my own.
[NIV] If anyone chooses to do God’s will, he will find out whether my teaching comes from God or whether I speak on my own

Hal ini mengungkapkan rahasia inti dalam sumber pengetahuan iman (epistemologi): kunci untuk mengetahui tidak terletak pada kecerdasan, tetapi pada tekad ingin (θέλῃ τὸ θέλημα, thelē to thelēma). Di jalan mengikuti Yesus, kita harus terlebih dahulu bertekad untuk taat sebelum kita benar-benar dapat mengetahui. Ketaatan bukanlah hasil dari mengetahui; ketaatan adalah prasyarat untuk mengetahui. Di sini, Yesus menghentikan semua studi teologis sekadar sebagai pengamat.

Kita tidak bisa belajar berenang hanya dengan berdiri di tepi pantai dan mengamati arus. Jika kita tidak siap mempertaruhkan hidup kita dan menaati kehendak-Nya, maka ajaran Tuhan selamanya tetap terasa kering dan tidak menarik. Keraguan kita seringkali bukan berasal dari kurangnya bukti, tetapi dari keengganan kita untuk melepaskan kendali atas hidup kita. Begitu kehendak itu beralih diserahkan kepada Tuhan, ayat-ayat suci yang sebelumnya samar akan langsung diterangi. Kepastian itu tidak dibuktikan, tetapi lebih tepatnya beresonansi jauh di dalam diri kita ketika kita mengambil langkah ketaatan itu.

Taat dulu, baru kemudian melihat.

Refleksi:
1. Apakah ada bagian dalam kitab suci dalam hidup Anda yang selalu Anda rasa tidak dapat Anda pahami? Tanyakan pada diri Anda dengan jujur: Apakah karena logika saya tidak mampu mengimbanginya, atau karena saya memang tidak berniat menyesuaikan hidup saya sesuai dengan bagian kitab suci tersebut?
2. Carilah satu bimbingan Tuhan yang saat ini membuat Anda ragukan. Cobalah berkata kepada-Nya, Aku bertekad untuk mengikuti keputusan-Mu, dan lihat apakah pengetahuan itu perlahan-lahan terbentuk.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:16

「Sumber asal pengajaran」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:16 [TB2])
16 Jawab Yesus kepada mereka, Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.

Inilah ekspresi tertinggi dari penghilangan diri/pengosongan diri. Sebagai Anak Allah, Yesus berkata, Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri. Ini bukanlah sekadar kerendahan hati, melainkan suatu keadaan batin. Yesus menolak untuk memonopoli hak cipta independen. Ia tidak mempromosikan doktrin-Nya sendiri, tetapi bertindak sebagai pemberita ajaran yang benar-benar transparan, memungkinkan pesan Bapa mengalir tanpa hambatan.

Hal yang paling sulit kita pelajari adalah bukan milik aku sendiri. Di era yang menekankan pencitraan diri, kita bahkan mencoba meninggalkan jejak kita sendiri dalam pelayanan kita; tetapi Yesus mengingatkan kita bahwa begitu suatu ajaran menjadi milik aku sendiri, ajaran itu kehilangan kuasa surgawinya. Allah hanya dapat sepenuhnya memiliki seseorang ketika mereka tidak lagi mengejar reputasi mereka sendiri atau membela pandangan milik aku sendiri. Alasan ajaran Yesus begitu kuat adalah karena kata-kata-Nya sama sekali tidak mengandung distorsi aku sendiri.

Penghilangan diri dalam pengajaran.

Refleksi:
1. Perhatikan pengajaran Anda yang terakhir. Ketika seseorang memuji Anda karena berbicara dengan baik, apakah Anda merasa bangga, ataukah Anda merasa gelisah, berharap mereka dapat menembus diri saya dan melihat Tuhan?
2. Cobalah dalam doa Anda hari ini untuk mengembalikan kebijaksanaan Anda, bahkan pengetahuan teologis Anda, kembali kepada Tuhan, dengan mengatakan, Ini bukan milikku, ambillah dan pakailah! Bagaimana hal ini akan mengurangi kecemasan Anda tentang pelayanan?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:15

「Pengetahuan yang mengherankan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:15 [TB2])
15 Para pemuka Yahudi pun merasa heran dan berkata, Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa berguru?

Ini adalah kritik elitis: orang ini tanpa berguru (μὴ μεμαθηκώς, mē memathēkōs). Bagi para elit yang telah menerima pendidikan rabbinik formal, pengetahuan harus memiliki sumber dan tersertifikasi. Mereka tidak dapat menerima semacam kebenaran non-lembaga. Di mata mereka, tanpa dukungan kualifikasi akademis, bahkan wawasan yang paling mendalam pun hanyalah kepandaian kampungan. Obsesi terhadap kualifikasi ini seringkali menjadi batu sandungan terbesar yang mencegah kita untuk bertemu dengan Tuhan.

Kita terbiasa mengukur nilai rohani seseorang berdasarkan gelar, tetapi hikmat Allah sering kali mengalir dari mulut orang-orang yang tidak berguru. Hikmat Yesus tidak berasal dari tradisi rabinik, tetapi dari kesatuan dengan Allah Bapa. Kebenaran bukanlah informasi yang dipelajari, tetapi realitas yang dihidupi. Ketika kita mengubah iman menjadi akumulasi pengetahuan, kita telah mengikuti jalan lama para pemimpin Yahudi. Kita memahami kitab itu, tetapi kita tidak mengenal Tuhan yang menulisnya.

Pengetahuan tidak bisa menyelamatkan jiwa, tetapi Roh bisa.

Refleksi:
1. Dalam pelayanan Anda, pernahkah Anda merasa rendah diri karena tingkat pendidikan Anda yang lebih rendah, atau bahkan tidak berani berbicara untuk berbagi? Cobalah untuk menemukan otoritas surgawi Anda untuk bersaksi kehidupan Anda, berdasarkan keadaan Yesus, Aku tanpa berguru.
2. Periksalah kriteria Anda dalam menilai pemimpin spiritual. Apakah Anda melihat gelar akademis mereka terlebih dahulu, atau apakah Anda melihat apakah dalam hidup mereka memiliki pengajaran yang luar biasa dari Allah Bapa?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:14

「Pengajaran dalam Bait Suc」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:14 [TB2])
14 Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ.

Saat orang banyak masih mengamati secara diam-diam, Yesus tiba-tiba masuk ke Bait Suci. Ini adalah tindakan yang sangat dahsyat. Di tempat yang paling berbahaya, pada saat yang paling ramai, Ia memilih masuk dengan cara yang paling terang-terangan di depan khalayak ramai. Inilah ritme Yesus: Ia tidak menari bersama orang banyak; Ia hanya bergerak sesuai dengan bimbingan Allah Bapa. Pengajaran Yesus di Bait Suci bukanlah diskusi akademis, tetapi kembalinya kuasa ke tempat yang seharusnya. Bait Suci ini awalnya dibangun untuk penyembahan kepada Allah, dan sekarang perwujudan Allah sendiri berdiri di dalamnya dan berbicara.

Keberanian sejati dalam iman bukanlah tindakan gegabah yang asal-asalan, melainkan ketaatan berdasarkan penyerahan diri. Yesus berani pergi ke Bait Suci karena Dia tidak memiliki agenda demi diri sendiri. Dia tidak perlu mencari keselamatan untuk diri-Nya sendiri; Dia hanya perlu menyampaikan pesan dari Dia yang mengutus-Nya. Ketika seseorang benar-benar tenggelam dalam misinya, mereka menjadi yang paling berani. Pekerjaan Allah tidak pernah terhalang oleh rasa takut manusia. Ketika waktunya tiba, Dia akan mengambil kembali hak bersuara itu dengan cara yang tidak dapat diprediksi oleh siapa pun.

Waktu tampilnya seseorang, tidak pernah dalam genggaman tangan orang itu sendiri.

Refleksi:
1. Amati perasaan ingin bersembunyi Anda saat ini. Apakah Anda menunggu Tuhan, ataukah Anda lari dari tanggung jawab yang harus dipikul di Bait Suci? Jika Tuhan memberi Anda kesempatan untuk berbicara sekarang, apa yang paling Anda takuti akan hilang?
2. Yesus hanya muncul di tengah-tengah perayaan. Bagaimana ritme yang tak terduga ini menantang rasa kendali Anda atas kemajuan hidup Anda?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:13

「Ketakutan yang terpendam dalam kesenyapan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:13 [TB2])
13 Tidak seorang pun yang berani berkata terang-terangan tentang Dia karena takut terhadap para pemuka Yahudi.

Ini adalah sketsa politik yang sangat realistis: Tidak seorang pun yang berani berkata terang-terangan tentang Dia di depan umum. Rasa takut memiliki efek membungkam; ia dapat membungkam adegan yang penuh dengan keajaiban menjadi kesenyapan. Meskipun massa memiliki berbagai gejolak batin, dalam menghadapi kekuasaan yang kuat mereka memilih untuk tutup mulut diam. Kesenyapan ini bukan karena mereka tidak memiliki pendapat, tetapi karena mereka memperhitungkan konsekuensi harga yang harus dihadapi.

Aspek paling sukses dari lembaga-lembaga keagamaan terletak pada kemampuan mereka untuk menciptakan suasana di mana kebenaran menjadi tidak baik untuk dibicarakan, membicarakan Kristus itu berarti kehilangan jaminan sosial, iman kebanyakan orang menjadi terkubur, dipaksa menjadi urusan pribadi non publik, tidak mengancam. Kelembaman lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan ini adalah belenggu terbesar bagi jiwa. Kita belajar untuk membungkam mulut pada waktu yang kita anggap tepat, untuk tidak secara terbuka membagikan karya Tuhan dalam hidup kita; tetapi kesenyapan ini beracun. Perlahan-lahan ia mengikis kerangka iman kita, mengubah kita menjadi sekelompok hantu religius tanpa kesaksian hidup.

Rasa takut adalah garis pemisah antara iman dan pertunjukkan (show).

Refleksi:
1. Dalam hidup Anda minggu ini, apakah ada momen ketika Anda bisa saja berbicara untuk kebenaran, tetapi memilih untuk tetap diam karena Anda takut akan masalah? Jelaskan secara detail pemberitaan iman atau kesaksian yang Anda tahan.
2. Bayangkan jika membicarakan Yesus menjadi pelanggaran serius di lingkungan sosial Anda, seberapa besar kehidupan iman Anda saat ini akan menyusut?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:12

「Berbagai macam perdebatan tentang Dia」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:12 [TB2])
12 Di antara orang banyak terdengar banyak bisikan tentang Dia. Ada yang berkata, Ia orang baik. Namun, ada pula yang berkata, Tidak, Ia menyesatkan orang banyak.

Tidak pernah ada area abu-abu dalam mengevaluasi Yesus. Orang-orang secara diam-diam berbisik-bisik tentang Dia (bergumam, murmuring) (γογγυσμὸς gongysmos), sebuah kata yang mengandung rasa ketidakpuasan yang terpendam dan bahkan kerancuan. Di mata mereka, Yesus adalah teladan moral yang sempurna (orang baik) atau ancaman sosial yang berbahaya (seseorang yang menyesatkan massa). Pelabelan hitam-putih ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan yang diaktifkan oleh manusia untuk mengurangi kecemasan batin.

Kerancuan penuh kekacauan campur aduk dalam penilaian ini adalah hal yang lazim terjadi terhadap karya Kristus. Yesus tidak pernah mencari prestise sosial melalui persetujuan bulat dari semua orang. Keberadaan-Nya sendiri merupakan titik balik, yang secara otomatis memecah belah orang. Ketika kita mencoba membentuk Yesus menjadi orang baik yang dapat diterima semua orang, kita sebenarnya sedang menurunkan kadar kebenaran menjadi encer. Definisi kita tentang Yesus mencerminkan keadaan jiwa kita. Jika kita mengejar kebiasaan kaku dan tradisi manusia, kita mungkin merasa bahwa Dia menipu kita; hanya jika kita merasakan dahaga dan dosa kita sendiri barulah kita akan mengenali kebaikan-Nya. Kristus yang benar-benar menantang dunia pasti akan menimbulkan reaksi yang terpolarisasi.

Labelisasi digunakan untuk penghindaran diri; iman digunakan untuk taat mengikuti.

Refleksi:
1. Apakah Yesus Kristus menimbulkan rasa canggung di lingkungan sosial atau tempat kerja Anda, apakah Anda akan memilih untuk menambahkan lapisan nilai-nilai dunia pada diri-Nya demi menjaga keharmonisan sosial? Apa bentuk konkret nilai-nilai dunia yang mungkin akan ditempelkan itu?
2. Cobalah menuliskan salah satu perasaan negatif Anda yang paling jujur, bahkan yang sedikit terpendam, tentang Yesus. Kemudian, dengan jujur tanyakan kepada Tuhan. Berdasarkan perasaan ini bertanyalah kepada Dia: Apakah Engkau sedang membentuk kembali tatanan hidup saya, ataukah saya tersesat?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:11

「Sosok yang sedang dicari」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:11 [TB2])
11 Para pemuka Yahudi mencari Dia di pesta itu dan berkata, Di manakah Dia?

Ini adalah pemandangan yang sangat ironis: orang-orang dengan panik mencari Tuhan selama hari raya yang ditetapkan Allah. Jalan-jalan Yerusalem dipenuhi dengan pertanyaan yang penuh kecemasan: Di manakah Dia? (Ποῦ ἐστιν ἐκεῖνος, Pou estin ekeinos)」Pencarian ini bukan karena kerinduan, tetapi karena keinginan untuk meneliti dan mengendalikan. Para pemimpin Yahudi mencari Dia untuk menentukan dosa Dia; dan massa mencari Dia untuk melihat mukjizat berikutnya.

Kita di masa ini juga sering mencari Yesus. Mencari Dia dalam ceramah teologis, Mencari Dia dalam kesaksian yang menyentuh hati. Kita terbiasa bertanya, Di manakah Yesus? tetapi jarang bertanya, Mengapa saya mencari Dia? Jika pencarian kita bertujuan untuk memasukkan Dia ke dalam sistem kita, pada akhirnya akan menyebabkan kegagalan religius. Yesus tidak ditemukan dalam label-label yang dengan tergesa-gesa ditempelkan itu; Dia berjalan dengan tenang di antara orang-orang, mengamati sosok-sosok yang cemas yang mencoba mengendalikan-Nya. Perjumpaan sejati seringkali tidak terjadi dalam pos-pos pemeriksaan yang telah direncanakan sebelumnya, yaitu Dia ada di sana, tetapi justru dimulai ketika kita melepaskan kendali dan bersedia ditemukan oleh-Nya dalam keheningan.

Dia tidak perlu ditemukan oleh kita; Dia ingin kita menaati-Nya.

Refleksi:
1. Coba ingat kembali kapan terakhir kali Anda merasakan ketidakhadiran Tuhan dengan sangat kuat. Apakah Anda mencari alat untuk menyelesaikan masalah Anda, atau pribadi Tuhan untuk menjadi Tuan atas hidup Anda?
2. Perhatikan aspek pencarian dalam doa Anda hari ini. Berapa persentase doa Anda yang melibatkan meminta Tuhan untuk menampakkan diri untuk membuktikan Anda benar, daripada mencari kehadiran-Nya yang tersembunyi untuk memperbaiki kesalahan Anda?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:10

「Rencana perjalanan tidak terbuka kepada umum」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:10 [TB2])
10 Namun, sesudah saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.

[ASV]
But when his brethren were gone up unto the feast, then went he also up, not publicly, but as it were in secret

Ini adalah tindakan yang sangat menarik. Setelah menolak saran saudara-saudaranya untuk menyatakan diri-Nya kepada dunia, Yesus kemudian secara diam-diam (secara rahasia) (ὡς ἐν κρυπτῷ – hōs en kryptō) pergi ke Yerusalem. Ini bukan kontradiksi, tetapi merupakan perombakan total dari motif dunia. Ia menolak untuk pergi secara terbuka sebagai pahlawan yang ingin terkenal; Ia memilih untuk pergi secara rahasia sebagai hamba yang taat.

Yesus pergi hadir secara rahasia adalah sindiran paling lucu terhadap filosofi kesuksesan duniawi. Ia tidak hadir ketika orang-orang mengharapkan kedatangan-Nya, tetapi datang ketika mereka tidak memperhatikan. Pekerjaan-Nya tidak membutuhkan panggung, dan Ia juga tidak perlu membangun identitas-Nya melalui penampilan. Kuasa-Nya tersembunyi dalam kesenyapan hening yang tak terlihat itu. Kita terlalu terikat pada pergi secara terbuka,selalu berharap pelayanan kita akan memiliki nuansa ritual, ada sesi tampil berbagi kesaksian; tetapi Yesus mengajarkan kita estetika keindahan pelayanan yang tanpa publikasi: dedikasi yang tak terlihat, kewaspadaan yang tak terlihat. Ketika kita dapat menerima kualitas yang tidak menampilkan diri itu, pelayanan kita benar-benar terbebas dari jerat egosentrisme.

Kita hanya perlu mengikuti secara diam-diam.

Refleksi:
1. Coba ingat kembali kapan terakhir kali Anda sengaja memublikasikan perbuatan baik yang Anda lakukan atau pencapaian spiritual. Jika Anda menanggalkan jubah luar publik itu dan melakukannya secara diam-diam, apakah Anda masih dapat mempertahankan antusiasme yang sama?
2. Bayangkan Yesus berjalan di tengah kerumunan orang di Yerusalem saat ini, tanpa lingkaran cahaya atau pengikut. Dia sedang memandang jiwa yang begitu ingin menunjukkan dirinya, dan dengan lembut bertanya, Apakah engkau bersedia mengasihi Aku secara diam-diam tanpa publikasi, seperti Aku mengasihimu?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:9

「Galilea yang unik」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:9 [TB2])
9 Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Ia pun tinggal di Galilea.

Ayat Alkitab ini menggunakan frasa yang sangat singkat ini untuk menggambarkan tekstur kehidupan Yesus: Ia pun tinggal di Galilea. Setelah godaan ketenaran dan semangat perayaan telah mundur, Yesus tidak mengubah perjalanan-Nya. Ia tetap tinggal di kota terpencil di utara itu, yang dipandang rendah oleh kaum elit Yerusalem. Di sanalah Ia hidup, di sanalah Ia tetap diam, di sanalah Ia berbicara dengan Bapa.

Ini adalah semacam tindakan menjaga hal-hal sehari-hari. Kita selalu berasumsi bahwa karya Tuhan harus melibatkan mukjizat dramatis dan titik balik yang luar biasa; tetapi Yesus menggunakan periode waktu tinggal (abide) ini untuk memberi tahu kita bahwa sebagian besar esensi iman terletak pada daya tahan untuk tetap berada dalam hal-hal biasa. Ia menolak logika saudara-saudaranya yang pergi untuk membuat tenar nama; Ia menjaga mempertahankan kekudusan dalam hal-hal biasa-biasa. Kesederhanaan Galilea justru merupakan tanah tempat Ia mengumpulkan kekuatan kebenaran. Yang paling kita butuhkan adalah kekuatan untuk tetap tinggal. Kita selalu mencari rangsangan berikutnya, terobosan berikutnya; tetapi Yesus mengajari kita bahwa jika kita tidak dapat mengenali Tuhan di Galilea yang biasa itu, kita tidak akan pernah dapat bertemu Tuhan di altar mezbah di Yerusalem.

Inilah pemurnian yang terjadi dalam hal-hal biasa-biasa saja.

Refleksi:
1. Amati bagian hidup Anda yang menurut Anda paling membosankan, berulang, dan kurang menarik. Jika Tuhan memberi tahu Anda bahwa Dia masih tinggal bersama Anda dalam rutinitas harian tersebut, bagaimana hal itu akan mengubah perspektif Anda tentang kehidupan yang biasa-biasa saja ini?
2. Apakah Anda memiliki pandangan yang kurang tepat bahwa hanya dengan mengubah lingkungan saya, kehidupan spiritual saya dapat berkembang? Cobalah berlatih dengan keheningan yang damai, berada di hadirat Tuhan dalam hal-hal paling biasa-biasa yang Anda lakukan hari ini.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:8

「Tinggal dan berjaga dalam kekudusan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:8 [TB2])
8 Pergilah kamu ke pesta itu. Aku tidak pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap.

[KJV] Go all of you up unto this feast: I go not up yet unto this feast: for my time is not yet full come
[MILT] Naiklah kamu ke perayaan itu! Aku belumlah naik ke perayaan itu, karena saat-Ku belum digenapi.
[ITL] Hendaklah kamu pergi memuliakan hari raya. Aku belum hendak pergi memuliakan hari raya ini, karena saat-Ku belum sampai

Ini adalah estetika keindahan tinggal dan berjaga. Sementara semua orang pergi ke Yerusalem untuk perayaan kolektif yang besar, Yesus berkata, Aku tidak akan pergi sekarang (terjemahan CUV, lihat KJV I go not up yet unto this feast). Dia menolak untuk bergabung dalam semangat kolektif itu; di mata-Nya, kota itu, yang diselimuti suasana meriah, kini dipenuhi dengan kehendak manusia dan pertunjukan keagamaan, dan juga waktu-Nya belum tiba (οὔπω πεπλήρωται – oupō peplērōtai). Dia harus dalam waktu yang ditentukan oleh Allah Bapa, Ia menjaga waktu kesendirian yang terakhir itu.

Ini membutuhkan kemauan yang sangat kuat. Melihat orang lain menghadiri konferensi khusus, menyaksikan pelayanan mereka berkembang, dan melihat semua orang merayakan Allah, sementara kita diminta untuk tetap berada di Galilea yang biasa-biasa dan agak terpencil itu, adalah ujian jiwa yang luar biasa. Kita sangat takut tertinggal; kita selalu merasa bahwa pekerjaan Tuhan harus dilakukan di tempat-tempat yang ramai dan glamor itu. Tetapi Yesus memberi tahu kita bahwa terkadang bimbingan tertinggi Tuhan adalah untuk tidak pergi ke atas. Tidak pergi ke atas ini bukanlah menghindari tanggung jawab, tetapi berpegang pada penantian terhadap yang belum genap. Sebelum waktunya tepat, kemunculan yang terlalu dini merupakan penodaan terhadap misi.

Allah sedang menunggu penggenapan penyempurnaan atas kita.

Refleksi:
1. Ketika Anda melihat kolega atau teman Anda bersinar terang di platform yang menonjol, apakah Anda merasakan persaingan yang kuat, seperti Saya tidak boleh kalah? Jika Tuhan meminta Anda untuk tetap berada di posisi yang tidak diperhatikan itu, apakah Anda akan menerima pengaturan ini?
2. Cobalah untuk memahami ketergantungan Anda saat ini pada pertemuan besar atau identitas kolektif. Jika Anda menyingkirkan semangat-semangat eksternal ini, dapatkah Anda masih merasakan persekutuan yang mendalam dengan Allah Bapa, seperti yang Yesus rasakan dalam kesendirian-Nya?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:7

「Akar dari kebencian」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:7 [TB2])
7 Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat.

Dunia tidak dapat membenci orang-orang yang menyesuaikan diri mengikuti logikanya dunia karena ada pemahaman simbiosis yang tersirat di antara mereka. Yesus memberi tahu saudara-saudara-Nya bahwa mereka beresonansi dengan frekuensi dunia, jadi mereka aman; tetapi terhadap Kristus, dunia menyimpan kebencian yang alamiah dan tak terhapuskan. Kebencian ini bukan karena Yesus kurang kasih atau belas kasihan, tetapi karena Dia memainkan peran yang paling tidak diinginkan: bersaksi tentang dia bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat.

Sebagian dari karya Yesus sangat menusuk; Ia bersaksi (μαρτυρῶ martyrō). Ketika terang bersinar ke dalam kegelapan, maka keburukan, kemunafikan, dan nafsu akan kekuasaan di dalamnya akan terungkap. Keberadaan Yesus merupakan ancaman bagi logika duniawi. Yesus menolak untuk memainkan permainan keagamaan kamu baik, aku juga baik; Ia menolak untuk bersikap sopan di hadapan dosa. Dunia membenci diri-Nya karena Ia merobek topeng-topeng keagamaan yang sangat dibanggakan orang, membuat mereka malu di hadapan kebenaran suci itu. Jika iman kita belum pernah dibenci oleh dunia, kita harus gemetar dan bertanya pada diri sendiri: Apakah kita telah menjadi bagian dari kelompok yang gampangan yang waktunya kapan pun tersedia itu? Iman tanpa kekuatan kesaksian pada akhirnya hanya akan dilihat oleh dunia sebagai hiasan pemanis yang tidak berbahaya.

Dibenci terkadang merupakan emblem kebenaran yang paling sejati.

Refleksi:
1. Renungkan kata-kata dan tindakan Anda baru-baru ini di tempat kerja, di lingkungan sosial Anda, atau di dalam gereja. Ketika dihadapkan dengan ketidakadilan atau kemunafikan yang terang-terangan, apakah Anda memilih untuk menggunakan toleransi untuk menutupi rasa takut Anda, atau apakah Anda berani menjalani hidup yang, seperti Yesus, yang bersaksi mengungkap kejahatan?
2. Bayangkan jika hari ini Anda dikucilkan atau diejek karena menjunjung tinggi nilai-nilai Kristen, apakah reaksi hati Anda akan merasa sial atau merasa terhubung dengan Tuhan karena Anda turut merasakan kebencian yang diterima oleh Tuhan?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:6

「Perbandingan waktu」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:6 [TB2])
6 Jawab Yesus kepada mereka, Waktu-Ku belum tiba, tetapi waktumu kapan pun tersedia.

Hal ini mengungkapkan dua ritme kehidupan yang sangat berbeda: satu terperangkap dalam gagasan bahwa setiap saat selalu ada, yang lain tunduk pada waktu kesempatan. Kepada saudara-saudara-Nya yang mendesak-Nya untuk membuat nama-Nya terkenal, Yesus berkata: waktumu kapan pun tersedia (ἕτοιμος hetoimos). Dalam bahasa aslinya, kata ini mengandung arti selalu tersedia secara sembrono. Bagi mereka yang tidak menyelaraskan diri dengan kedaulatan Allah, waktu hanyalah sumber daya yang dapat dikonsumsi; setiap saat adalah saat yang tepat asalkan keadaan memungkinkan dan ada manfaat yang terlibat.

Namun Yesus berpegang teguh pada batasan belum tiba. Waktu Dia (καιρὸς kairos) tidak ditentukan oleh harapan orang banyak, manfaat ketenaran, atau tekanan realitas, tetapi oleh mandat rahasia Bapa. Penantian ini sering dilihat sebagai penundaan oleh dunia yang berorientasi pada efisiensi, dan sebagai ketidakmampuan oleh kerabat dekat yang mengejar sukses; namun, justru penekanan pada saat-Nya belum tiba inilah yang melindungi pekerjaan-Nya agar tidak terdistorsi menjadi pertunjukan politik. Ia tidak mencari kenyamanan, Ia menunggu saat yang tepat. Mengikuti dengan benar sering dimulai dengan ungkapan dalam ketersendirian (lonely), Waktu belum tiba.

Ini adalah vitalitas hidup yang tenang dan stabil.

Refleksi:
1. Amati kecemasan Anda baru-baru ini dalam pekerjaan atau pelayanan. Apakah Anda terburu-buru melakukan sesuatu tanpa bimbingan Tuhan yang jelas karena Anda melihat kesempatan besar yang segera hilang begitu saja? Jika Anda berhenti sekarang dan mengatakan tidak pada kenyamanan itu, apa yang akan menjadi ketakutan terdalam dalam jiwa Anda?
2. Bayangkan Yesus berada tepat di samping Anda, mengamati keinginan Anda untuk bersiap turun tangan, dan berkata kepada Anda, waktumu kapan pun tersedia. Rasakan pedih di balik kata-kata itu.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:5

「Kerabat saudara yang tidak percaya kepada-Nya」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:5 [TB2])
5 Sebab, saudara-saudara-Nya sendiri pun tidak percaya kepada-Nya.

Ini adalah catatan yang sarat dengan tragedi mendalam. Bertahun-tahun kemudian, Yohanes menulis kata-kata ini dengan helaan nafas yang dalam: Sebab, saudara-saudara-Nya sendiri pun tidak percaya kepada-Nya. Ini mengungkapkan rasa sakit yang paling tersembunyi, namun paling sehari-hari, yang dialami Yesus saat melayani di bumi. Kerabat yang memiliki ikatan darah terdekat dengan Dia, saudara-saudara yang hidup bersama sejak masa kecil, adalah orang-orang yang jiwanya paling jauh dari-Nya. Ketidakpercayaan sering kali bukan berasal dari kurangnya bukti, tetapi dari kondisi terlalu dekat. Saudara-saudara Yesus memiliki prasangka tentang Dia; di mata mereka, Dia adalah saudara yang tumbuh bersama mereka, anak sulung tukang kayu. Ketika kedekatan ini bertentangan dengan keasingan surgawi Kristus, mereka memilih untuk berpegang teguh pada prasangka duniawi mereka.

Mereka bisa dengan penuh kasih sayang memberikan perhatian kepada Dia, menasihati-Nya dengan strategi, tetapi mereka tidak dapat memakai kehidupan jiwa mereka percaya kepada-Nya. Jurang yang dekat namun tak teratasi ini adalah lanskap iman yang paling kejam, namun juga menawarkan penghiburan yang luar biasa bagi kita. Jika kita merasakan kesepian yang berasal dari pengucilan, diperlakukan sebagai orang aneh, atau bahkan diejek oleh kerabat terdekat kita dalam keluarga, ingatlah bahwa Tuhan kita juga mengalami jalan ini. Kita tidak dapat menukar hubungan fisik dengan resonansi spiritual. Iman percaya adalah karunia ilahi; itu tidak mengalir dengan ikatan darah. Terkadang, orang-orang yang paling mencintai kita menjadi rintangan terbesar dalam perjalanan kita menuju salib. Yesus tidak marah karena ketidakpercayaan saudara-saudara-Nya; Dia hanya diam-diam mengikuti jadwal yang ditetapkan oleh Allah Bapa. Kesepian karena disalahpahami oleh orang-orang terkasih adalah bagian dari penderitaan Kristus, dan itu adalah persiapan psikologis yang diperlukan bagi kita, para pengikut-Nya.

Terkadang, orang-orang terdekat kita justru yang paling jauh dari Tuhan.

Refleksi:
1. Dalam keluarga atau lingkaran pertemanan Anda, adakah seseorang yang menolak menerima kehidupan Anda yang kini diperbarui oleh Tuhan karena mereka terlalu banyak tahu tentang masa lalu Anda? Menghadapi stereotip semacam ini dari kerabat terdekat Anda, dapatkah Anda, seperti Yesus, mengesampingkan keinginan untuk berdebat dan sekadar menjalani esensi Kristus dalam keheningan?
2. Bagaimana kesepian yang timbul dari ketidakpercayaan dari kerabat dekat ini dapat mendorong Anda untuk mengembangkan iman yang lebih mandiri dan langsung kepada Tuhan, daripada bergantung pada persetujuan manusia?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:4

「Godaan untuk memamerkan agar terlihat」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:4 [TB2])
4 Sebab, tidak seorang pun melakukan sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau dikenal luas. Jikalau Engkau melakukan hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.

Pernyataan ini secara tepat mengungkap rasa haus manusia akan keterlihatan. Saudara-saudara Yesus mengajukan sebuah logika: kemampuan sejati harus diuji oleh publik; nilai sejati harus dibangun berdasarkan keterpaparan. Di mata mereka, karunia talenta yang tak terlihat adalah sia-sia; nama yang tidak ditenarkan adalah tanda ketidakmampuan. Pemujaan terhadap mempertunjukkan diri ini adalah jebakan spiritual terbesar bagi orang percaya seperti kita. Kita hidup di era di mana tidak ada foto yang dipertontonkan di media sosial, itu sama artinya dengan tidak pernah mengunjungi tempat tersebut, era di mana bahkan devosi, pelayanan, dan ibadah telah mengambil kualitas pertunjukkan show off yang kuat. Kita takut akan ketersembunyian, karena di dalam di sana, kita tidak dapat secara langsung memperoleh respons sosial dan pengakuan publik. Alam bawah sadar kita mengejar rasa pencapaian religius — untuk dipamerkan agar dunia melihatnya.

Namun Kerajaan Kristus tumbuh dari ketersembunyian. Pengorbanan diri yang tak terlihat itu, pertobatan di tengah malam, dan pemeliharaan untuk jiwa yang terpinggirkan tanpa tepuk tangan — itulah esensi sejati Kerajaan Surga. Pekerjaan Tuhan seringkali baru benar-benar dimulai setelah lampu pentas padam. Ketika kita mulai menghitung tingkat klik jempol dari pelayanan kita dan peduli tentang luasnya reputasi kita, kita sebenarnya sedang memanfaatkan pekerjaan Tuhan, menggunakannya untuk memberi makan harga diri kita yang layu. Jika kita benar-benar melakukan pekerjaan Tuhan, kita tidak lagi membutuhkan pameran buatan itu. Kita harus belajar untuk hidup dengan perasaan tersembunyi dari mata publik. Momen-momen ketika kita tidak dipahami, tidak dilihat, atau bahkan dianggap biasa-biasa saja seringkali justru saat itulah Tuhan sedang memangkas ranting-ranting yang tidak perlu untuk memelihara jiwa kita dari dalam.

Kita tidak membutuhkan panggung pertunjukkan, karena kita sudah memiliki tatapan Bapa.

Refleksi:
1. Perhatikan unggahan terbaru Anda di media sosial. Jika Tuhan sekarang meminta Anda untuk menghapus semua catatan keberhasilan Anda dan melarang Anda menyebutkannya kepada siapa pun, apakah rasa harga diri Anda akan runtuh? Ini memberi tahu Anda, untuk siapa sebenarnya Anda bekerja?
2. Cobalah temukan tindakan minggu ini yang sepenuhnya tersembunyi, seperti membantu seseorang tanpa meninggalkan jejak, atau menjadi pendoa syafaat bagi orang yang memusuhi, tanpa diketahui siapa pun. Nikmati kebahagiaan karena hanya Tuhan yang tahu.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:3

「Godaan dari kekeluargaan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:3 [TB2])
3 Lalu kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya, Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan.

Godaan seringkali datang bukan dengan wajah yang mengancam, tetapi dengan nasihat yang bijaksana. Saudara-saudara Yesus menawarkan rencana karier yang sempurna: Jangan sia-siakan karunia talenta-Mu di wilayah perbatasan Galilea, pergilah ke Yerusalem, pusat kekuasaan dan pusat opini publik! Di balik pernyataan ini terdapat logika untuk memanfaatkan mukjizat: karena Engkau memiliki kuasa untuk bertindak, mengapa tidak mengubahnya menjadi pengaruh yang nyata? Suara ini tetap jelas dalam lingkungan iman saat ini; suara ini mendesak kita untuk meninggalkan tempat ini, pergi mengejar platform yang lebih besar, pelayanan yang lebih mencolok, dan kesuksesan yang lebih besar. Inilah infiltrasi dari apa yang disebut filsafat kesuksesan sekuler di dalam gereja; intinya bukan tentang melakukan kejahatan, tetapi tentang mempercepat dan menonjolkan; berupaya menggantikan jalan salib yang lambat dan sunyi dengan cara-cara yang lebih efisien.

Saudara-saudara Yesus mewakili semacam kepedulian daging, yang seringkali lebih sulit untuk dihindari daripada serangan musuh. Mereka peduli akan reputasi Yesus dan kemuliaan keluarga mereka; tetapi di balik demi kebaikanmu sendiri ini terdapat pengabaian total terhadap logika keselamatan Allah yang lambat, halus, dan bahkan merusak dunia. Godaan yang paling berbahaya biasanya datang dari mereka yang mengasihi kita tetapi tidak memahami panggilan kita; mereka mencoba mendorong kita ke atas takhta, tetapi tanpa sadar menjauhkan kita dari Allah. Menghadapi tekanan kasih sayang keluarga ini, Yesus dengan tenang menjaga jarak. Ia mengenali godaan di balik saran tersebut — jalan pintas menuju mahkota tanpa melalui salib. Dapatkah kita juga mencium aroma kesombongan dalam rencana pelayanan yang tampaknya masuk akal dan hangat itu, yang mendesak kita untuk meninggalkan tempat yang kita layani di Galilea untuk mengejar kesombongan Yudea?

Kasih sayang keluarga terkadang merupakan rintangan paling lembut di hadapan salib.

Refleksi:
1. Ketika orang-orang terkasih terdekat Anda menggunakan nilai-nilai dunia untuk mengukur keefektifan pelayanan Anda, apakah reaksi pertama Anda adalah merasa diperlakukan tidak adil dan ingin membuktikan diri, atau dapatkah Anda tetap diam seperti Yesus? Jelaskan secara detail ketegangan antara kasih dan panggilan.
2. Temukan sesuatu yang sedang Anda lakukan saat ini yang dianggap orang lain tidak efektif. Cobalah untuk melihat ketekunan ini dari sudut pandang Yesus. Apakah itu kesetiaan tersembunyi dalam hening yang Dia ingin Anda pegang teguh di Galilea?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:2

「Tegangan hari raya」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:2 [TB2])
2 Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu Hari Raya Pondok Daun.

Dalam ingatan Yahudi, Hari Raya Pondok Daun (Σκηνοπηγία skēnopēgia) adalah sebuah perayaan kolektif besar tentang rahmat di padang gurun. Orang-orang membangun gubuk untuk memperingati hari-hari ketika leluhur mereka bertahan hidup di tanah yang gersang dengan bersandar mengandalkan Allah. Ini adalah waktu yang dipenuhi dengan nyanyian, persembahan kurban, dan ritual suci, dan seluruh Yerusalem tenggelam dalam euforia kolektif kita adalah umat Allah. Namun, Yohanes menanamkan bayangan yang mengganggu di dalam pendahuluan yang damai menuju hari raya ini. Perasaan kolektif keagamaan ini seringkali memiliki efek halusinasi. Sementara orang-orang dengan penuh semangat membahas bagaimana merayakan mukjizat masa lalu, mereka seringkali juga merencanakan bagaimana menyingkirkan Kristus yang menantang status quo. Pembunuhan dan persembahan kurban saling teranyam dalam waktu dan ruang yang sama.

Inilah kebenaran paling absurd dari sistem keagamaan: kita dapat memperingati Allah dengan upacara yang paling khidmat, namun mengucilkan-Nya dengan logika yang paling kejam. Bagi Kristus, kedatangan hari raya semacam itu menandakan tingkat isolasi pengucilan yang lebih dalam. Dia tahu perayaan ini bukan milik-Nya, atau lebih tepatnya, Allah yang seharusnya menjadi tujuan perayaan ini telah dijadikan simbol oleh kelompok ini. Yang diinginkan mereka adalah simbol yang membawa panen, mempertahankan tradisi, dan membuat mereka merasa bangga akan bangsa, bukan Pribadi yang hidup di hadapan mereka yang bersaksi tentang dosa dan menantang inti kekuasaan. Jika iman kita juga jatuh ke dalam siklus hari-raya-isasi (festivalisasi) ini, kita harus waspada. Ketika kita merasa aman dan puas dalam suasana keagamaan kolektif itu, mungkin kita kehilangan Kristus yang tidak ingin berjalan dalam prosesi festivalisasi Yahudi? Yang paling ditakutkan iman bukanlah ketiadaan ritual, tetapi bahwa kita menyembah Kristus dalam ritual, namun membunuh Dia dalam kehidupan.

Agama adalah kuburan ritual, kecuali ada Kristus berjalan di sana.

Refleksi:
1. Coba ingat kembali konferensi besar terakhir yang Anda hadiri. Dalam semangat kolektif itu, apakah Anda merasakan rasa aman, seolah-olah Anda didorong oleh kehendak kolektif? Di bawah perasaan itu, apakah Anda benar-benar berhenti dan bertanya kepada Yesus: Apakah Engkau merasa diterima atau justru tidak ada tempat yang cocok bagi-Nya dalam kehidupan pribadi saya saat ini?
2. Cobalah membuat daftar aspek-aspek simbolis dari kehidupan iman Anda. Jika Yesus meminta Anda hari ini berbicara kepada-Nya di padang gurun secara terbuka tanpa menyembuyikan apa pun, untuk membongkar pondok-pondok keagamaan itu di hadapan-Nya, apa yang paling Anda takuti akan hilang?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 7:1

「Berjalan di tepi batas」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 7:1 [TB2])
1 Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau berkeliling di Yudea, karena di sana para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya.

Bagian ini menggambarkan sebuah penarikan diri yang diliputi ketegangan teologis yang mendalam. Setelah perdebatan sengit di pasal Enam mengenai Roti Kehidupan, kerumunan bubar, tetapi niat membunuh diam-diam terbentuk di daerah selatan, di wilayah Yudea. Yesus memilih untuk tetap tinggal di Galilea di utara, dan Alkitab menggunakan alasan sederhana yang didorong oleh naluri alamiah bertahan hidup: karena para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Penarikan diri ini sering disalahpahami sebagai kelemahan atau penundaan taktis; tetapi jika kita mempertimbangkannya dari perspektif waktu Allah, kita menemukan bahwa itu adalah penghormatan yang luar biasa terhadap kedaulatan-Nya. Yesus tidak melarikan diri dari kematian, tetapi justru bertahan menjaga definisi kematian. Jika Ia mati begitu saja dalam upaya pembunuhan oleh orang Yahudi, Ia hanya akan menjadi korban sia-sia dari pergolakan politik; Ia seharusnya mati di mezbah Hari Raya Paskah sebagai Anak Domba Allah.

Oleh karena itu, perjalanan-Nya di Galilea bukanlah persembunyian yang pengecut, melainkan kesadaran akan keterpinggirkan (marginality) di tengah tarikan ketegangan antara diancam dan tanggung jawab misi. Kita terbiasa dengan pendekatan yang heroik dan keras kepala, selalu merasa bahwa hanya dengan menghadapi musuh secara langsung seseorang dapat dianggap rohani. Tetapi Yesus di sini menunjukkan keberanian untuk tidak pamer: permusuhan terhadap diri-Nya sedang membakar di puncak, Ia menarik diri ke Galilea, masuk ke kehidupan sehari-hari yang biasa, kecil tidak penting, bahkan tampak sederhana. Di sana, Ia melanjutkan perjalanan-Nya, melanjutkan pelayanan-Nya, tidak membiarkan ritme permusuhan mengganggu jadwal waktu Allah. Penarikan diri ini, sebenarnya, merupakan kecaman diam-diam terhadap pusat kekuasaan. Yesus tidak ingin membuang waktu-Nya di kota yang membunuh para nabi; Ia ingin berada di pinggiran untuk mengumpulkan kuasa kebenaran yang memiliki kekuatan dahsyat. Ini mengingatkan kita bahwa mengikuti Tuhan terkadang berarti sabar menanggung penarikan diri mundur ke belakang yang tak terlihat, menjaga kedamaian yang terpinggirkan di tengah kebisingan dan ancaman dunia.

Ini adalah kemenangan yang tersembunyi.

Refleksi:
1. Introspeksi apakah ada keinginan untuk membuktikan diri atau ketenaran yang dipaksakan akhir-akhir ini pada diri Anda. Jika Tuhan sekarang meminta Anda untuk menghindari sorotan dan permusuhan Yudea dan kembali ke Galilea yang tidak mendapat perhatian orang, untuk bekerja dengan tenang, apakah ada rasa kehilangan yang Anda rasakan, itu sebenarnya mengungkapkan jenis keterikatan diri pada suatu kesuksesan?
2. Dalam lingkungan yang penuh permusuhan, dapatkah Anda membedakan perbedaan halus antara ketakutan akan gagal menjalankan misi dan penarikan diri dengan tunduk pada irama ilahi? Jelaskan secara detail rasa tenang yang muncul dari terus berjalan di tepi perbatasan.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 6:71

「Kesedihan atas hal yang dinubuatkan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:71 [TB2])
71 Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot. Sebab, dialah yang akan menyerahkan Yesus, walaupun dia seorang di antara kedua belas murid itu

Ini adalah catatan yang ditulis Yohanes bertahun-tahun kemudian, merenungkan masa lalu, dan dia secara khusus menyebutkan nama Yudas Iskariot. Ini adalah catatan nama tentang kehancuran. Yudas bukanlah orang luar; dia adalah seorang di antara kedua belas murid itu, ia pernah membagi roti, mengusir setan, dan mendengar ajaran Yesus yang paling pribadi.

Tragedi dalam bagian ini bukan hanya terletak pada kejahatan Yudas, tetapi pada jurang pemisah yang sangat besar antara awal sebelumnya dan mengkhianati. Seseorang yang dipilih oleh Kristus untuk masuk ke lingkaran inti tetapi pada akhirnya menjadi dalang pengkhianatan tersebut. Ini menggambarkan satu hal: kedekatan dengan inti kuasa keagamaan dan kemampuan menguasai kosakata teologis yang paling hebat, tidak menjamin ketenangan jiwa.

Ini adalah introspeksi yang menggelisahkan. Kita semua bisa menjadi Yudas. Jika kita mengikuti Yesus karena ambisi politik, atau untuk mendapatkan kekuasaan dalam sistem, kita sedang mengatur kehancuran kita sendiri. Tragedi Yudas mengingatkan kita bahwa yang paling ditakuti iman adalah keterasingan walaupun secara jarak begitu dekat. Hari ini, saat kita masih duduk di sisi Tuhan, marilah kita memeriksa dengan penuh kewaspadaan, apakah ketaatan kita dalam mengikut Yesus telah berubah.

Mohon Tuhan melindungi kita.

Refleksi:
1. Perhatikan kemurnian pelayanan Anda di gereja. Apakah ada saat ketika Anda menggunakan identitas Anda sebagai murid untuk mencapai kepentingan pribadi Anda sendiri (uang, kekuasaan, atau dikagumi)? Ketika keegoisan ini bertentangan dengan kehendak Tuhan, apakah Anda akan memilih untuk mengkhianati Dia?
2. Bayangkan kesedihan yang dirasakan Yohanes saat menulis kata-kata ini, kesedihan atas kemunduran rekannya dulu. Di lingkungan sosial Anda, apakah ada beberapa orang yang dulunya memimpin tetapi sekarang telah tersesat? Mohon panjatkan doa khusus untuk mereka (dan untuk diri Anda sendiri), bukan untuk kesuksesan, tetapi untuk keteguhan tidak berubah hati mereka.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 6:70

「Misteri pemilihan panggilan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:70 [TB2])
70 Jawab Yesus kepada mereka, Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun, salah seorang di antara kamu adalah Iblis.

Kata-kata ini, seperti sambaran petir yang menusuk, menghancurkan ilusi romantis kita tentang persekutuan. Yesus sendiri memecah keheningan: Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Tetapi bagian kedua dari perkataan-Nya itu sangat menakutkan: Namun, salah seorang di antara kamu adalah Iblis.

Ini mengungkapkan misteri yang mendalam dalam proses panggilan. Yesus memilih Yudas bukan karena Dia salah menilainya, atau karena Dia kurang berbelas kasih. Itu adalah tindakan kedaulatan, dan juga kesendirian tertinggi dalam Kristologi. Dalam memilih sahabat-Nya, Dia sekaligus memilih orang yang akan mengkhianati-Nya. Dengan demikian, bahkan dalam panggilan yang paling suci sekalipun, kejahatan yang korup seperti itu dibiarkan hidup berdampingan.

Ini juga mengingatkan kita untuk tidak memiliki pandangan naif dan idealis tentang komunitas keagamaan. Ada orang-orang kudus di gereja, dan pasti ada iblis. Pengkhianatan yang tersembunyi di dalam panggilan seringkali lebih merusak daripada penganiayaan eksternal; namun nada bicara Yesus tidak menunjukkan kepanikan, hanya penerimaan yang tenang karena telah melihat semuanya. Dia mengizinkan musuh-musuh untuk makan bersama-Nya karena Dia tahu bahwa bahkan motif jahat pun pada akhirnya tidak dapat menghalangi kehendak Allah yang mulia.

Kedaulatan Allah maha luas bahkan sampai mencakup kedaulatan-Nya atas iblis.

Refleksi:
1. Ketika Anda menemukan skandal atau pengkhianatan iblis di dalam diri seorang penatua rohani yang sangat Anda percayai, atau di dalam komunitas gereja terkasih Anda, apakah Anda mempertanyakan panggilan Allah? Jika bahkan salah satu dari dua belas murid Yesus adalah iblis, bagaimana hal ini dapat membentuk kembali harapan Anda tentang gereja ideal?
2. Cobalah jujur menghadapi diri batin Anda: Jika ada dorongan (benih Yudas) yang tersembunyi di dalam diri Anda yang siap mengkhianati Kristus demi keuntungan pribadi, bagaimana Anda bermaksud menggunakan frasa Yesus sudah tahu untuk melakukan percakapan jujur dengan-Nya hari ini?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Featured post

Yohanes 6:69

「Antara tahu dan percaya」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:69 [TB2])
69 Kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.

Ayat ini mengungkapkan tatanan iman yang menarik: Kami telah percaya dan tahu … Dalam logika sekuler, kita harus terlebih dahulu mengetahui sebelum kita dapat percaya; tetapi dalam logika Allah, orang sering kali hanya setelah mereka menyerahkan kedaulatan diri mereka melalui iman barulah dapat benar-benar tahu siapa Dia.

Petrus, atas nama kedua belas murid, membuat pernyataan di sini, sebuah pernyataan tentang keyakinan percaya setelah mengalami. Di sini tahu itu mengandung pemahaman yang subjektif, mendalam, dan bahkan intim. Mereka tidak mempelajari proposisi kalimat-kalimat teologis, tetapi sebaliknya, dalam perjalanan mereka mengikuti Dia, mereka telah secara pribadi menyaksikan bagaimana Yang Kudus dari Allah menembus kegelapan dan kehausan.

Kesalahan umum yang kita lakukan adalah mencoba untuk meneliti dan mempelajari sepenuhnya terhadap Tuhan sebelum memutuskan untuk mengikuti-Nya; tetapi Yesus mengundang kita ke dalam petualangan ini. Iman bukanlah akumulasi pengetahuan, tetapi harmoni hidup bersama Dia. Hanya ketika kita percaya dan bersedia mempertaruhkan hidup kita pada firman-Nya, pengetahuan sejati tentang siapa Dia akan terbuka bagi kita. Kita tidak perlu menjadi teolog terlebih dahulu; kita hanya perlu menjadi pengikut.

Pertama adalah iman percaya, kemudian tahu.

Refleksi:
1. Apakah Anda terjebak dalam jalan buntu, mencoba membuktikan keberadaan Tuhan dan menyelesaikan semua pertanyaan teologis, yang membuat Anda ragu untuk mengambil langkah pertama? Jika Anda melepaskan beban mengetahui dan hanya iman percaya pada firman-Nya, bagaimana langkah Anda akan berubah hari ini?
2. Jika menengok kembali perjalanan Anda menuju Kristus, pengetahuan apa tentang Tuhan yang tidak Anda pelajari di dalam kenyamanan ruang kelas, melainkan Anda ketahui selama petualangan hebat dalam hidup iman?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.