「Apa pun yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan」
Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.
(1 Raja-raja 22:10-14 [TB2])
10 Raja Israel dan Yosafat, raja Yehuda, masing-masing duduk di atas takhtanya dengan pakaian kebesaran, di suatu tempat pengirikan di depan pintu gerbang Samaria. Semua nabi itu bernubuat di depan mereka. 11 Lalu Zedekia bin Kena’ana yang sudah menyiapkan tanduk-tanduk besi, berkata, 「Beginilah firman TUHAN: Dengan ini engkau akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan mereka.」 12 Semua nabi itu juga bernubuat demikian, katanya, 「Majulah ke Ramot-Gilead dan engkau akan berhasil. TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.」
13 Utusan yang pergi memanggil Mikha itu berkata kepadanya, 「Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat mengatakan hal yang baik bagi raja. Hendaklah perkataanmu juga seperti perkataan salah seorang dari pada mereka dan katakanlah hal yang baik.」 14 Tetapi, Mikha menjawab, 「Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa pun yang akan difirmankan TUHAN kepadaku, itulah yang akan kukatakan kepadanya.」
Pasal 22, ayat 10-12 menggambarkan gambaran dua raja yang berdiri bersama para menteri mereka, sedangkan ayat 19-21 menggambarkan gambaran TUHAN, Raja Agung, yang berdiri bersama para malaikat-Nya; yang pertama bersifat duniawi, yang kedua surgawi, yang mengontraskan pemerintahan surgawi dan duniawi. Seluruh catatan tersebut menunjukkan bahwa seolah-olah TUHAN, melalui para nabi ini, telah mengindikasikan bahwa pertempuran ini telah menjadi perang suci. 「Empat ratus orang」 ini seperti berbicara atas nama TUHAN, secara luar biasa mendukung dimulainya perang ini; namun, semua ini hanyalah ucapan yang ingin didengar Ahab dan yang menguntungkan dirinya.
Ahab hanya suka mendengar hal-hal yang menyenangkan baginya dan tidak menyukai hal-hal yang merugikan. Ia berharap dengan berkonsultasi dengan para nabi, ia dapat memperkuat konsep perang suci dalam konflik tersebut, sehingga ia dapat membenarkan klaimnya dengan menggunakan nama Allah. Gambaran dirinya dan Yosafat sebagai raja (1 Raj. 22:10) menunjukkan bahwa mereka berdua sedang menyusun strategi, dan pernyataan para nabi sesuai dengan harapan mereka (1 Raj. 22:11-12). Adegan ini berfungsi untuk menggambarkan kemunculan nabi Mikha (1 Raj. 22:13-28), sehingga pembaca memahami situasinya — suatu skenario di mana orang lain dan orang-orang yang berkuasa sangat salah memahami kehendak Allah. Apakah nabi TUHAN dapat menentang opini populer dan tetap setia pada wahyu adalah pertanyaan kunci yang ingin dijawab oleh perikop ini.
Kata-kata Ahab digambarkan dalam 1 Raja-raja 22:13-14 oleh seorang utusan yang memanggil Mikha dan berkata, 「Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat mengatakan hal yang baik bagi raja. Hendaklah perkataanmu juga seperti perkataan salah seorang dari pada mereka dan katakanlah hal yang baik」 (1 Raj. 22:13). Kata 「sepakat (satu)」 (אחד ’e·ḥāḏ), 「mulut」 (פה peh), dan 「bermanfaat」 (טוב ṭôḇ) semuanya muncul dalam kata-kata utusan ini. Tuntutan agar 「satu mulut (sepakat)」 (פה־אחד peh-’e·ḥāḏ) adalah menghendaki agar Mikha menyesuaikan diri dengan narasi arus utama dari 「empat ratus orang」 agar dapat memberikan tekanan publik; tuntutan agar 「yang baik (yang menguntungkan)」 (טוב ṭôḇ) adalah bahwa perkataan Mikha harus selaras dengan kepentingan Ahab. Oleh karena itu, seluruh bagian ini merupakan bentuk lobi politik, yang menunjukkan bahwa Mikha tidak boleh bersikap tidak konvensional tetapi harus berusaha untuk menyelaraskan dirinya dengan 「empat ratus」 orang untuk menguntungkan Ahab dan memastikan keselamatan Mikha. Namun, ini merupakan dorongan untuk mempolitisasi misi nabi. Nabi harus dengan setia berbicara untuk TUHAN sesuai dengan panggilannya; perkataannya harus berasal dari alasan teologis yang murni, bukan dari kepentingan politik apa pun. Oleh karena itu, Mikha bersumpah 「Demi TUHAN yang hidup」 bahwa ia akan mengatakan apa yang TUHAN perintahkan kepada dia (1 Raja -raja 22:14). Tanggapan Mikha menunjukkan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan kepentingan politik menentukan perkataan kenabiannya. Ia sangat percaya bahwa juru bicara adalah berbicara mewakili, tetapi bukan atas nama kelompok kepentingan politik; itu adalah berbicara mewakili TUHAN. Yang pertama bersifat politis, yang kedua bersifat teologis.
Refleksi:
Setia kepada firman Allah dan menolak berpihak dalam politik adalah sikap nabi sejati TUHAN. Apakah ini juga sikap Anda? Bagaimana Anda dapat menjalani hidup Anda dengan setia kepada firman Allah?
Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22
Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.