「Memperkuat para murid (2)」
Oleh: Dr. Josh Ip Cho-suen (葉祖漩)
Alliance Bible Seminary H.K.
(1 Tes. 3:3-5 [TB2])
3 supaya tidak seorang pun yang digoyahkan oleh kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu bahwa kita ditentukan untuk itu. 4 Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu bahwa kita akan mengalami kesusahan. Seperti yang kamu ketahui, hal itu telah terjadi. 5 Itulah sebabnya, ketika tidak dapat tahan lagi, aku mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku khawatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia.
Dalam 1 Tesalonika 3:3-5, Paulus lebih lanjut mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam terhadap kondisi rohani murid-murid di Tesalonika selama penderitaan mereka. Motivasi utamanya untuk menulis adalah 「supaya tidak seorang pun yang digoyahkan oleh kesusahan-kesusahan ini」 (ayat 3), menunjukkan bahwa fokusnya bukanlah pada penderitaan itu sendiri, tetapi pada tanggapan dan keteguhan iman orang percaya dalam menghadapi kesulitan. Frasa 「digoyahkan oleh …」 di sini mengandung konotasi diguncang, yang secara jelas menggambarkan potensi krisis iman yang mungkin dialami orang percaya di bawah tekanan eksternal.
Paulus lebih lanjut menunjukkan bahwa orang percaya 「ditentukan untuk itu,」 yang secara harfiah bahqsa aslinya dapat diterjemahkan sebagai 「untuk inilah kita ditunjuk,」 dengan jelas menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan, tetapi pengalaman spiritual yang dapat diduga sebelumnya, bahkan normal dalam kehidupan para murid. Pandangan ini menggemakan bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru, seperti Kis. 14:22, yang menyatakan bahwa orang percaya harus menanggung banyak kesulitan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Paulus telah berulang kali menubuatkan kepada para murid di Tesalonika bahwa mereka akan mengalami penderitaan, dan sekarang kata-kata ini 「menjadi kenyataan,」 menjadi bukti yang dapat diandalkan tentang Injil yang telah mereka terima.
Berharga diperhatikan bahwa kata kerja 「mengalami kesusahan」 dalam perikop ini menggunakan bentuk waktu sekarang, yang menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah pengalaman sekali saja, melainkan bagian yang berkelanjutan dan terus-menerus dari kehidupan iman orang percaya. Hal ini sangat penting dalam konteks tersebut, karena beberapa orang Yahudi berusaha menggunakan penderitaan orang percaya sebagai bukti untuk mengklaim bahwa Injil yang mereka terima adalah palsu (lihat 1 Tes. 2:3 「Sebab, nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya」). Paulus membantah bahwa justru karena ia telah menubuatkan bahwa orang percaya akan menderita, dan kenyataan bahwa hal itu terjadi seperti yang ia nubuatkan, maka hal itu membuktikan bahwa apa yang mereka dengar dan terima memang berasal dari Firman Allah (1 Tes. 2:13 「… kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi – dan memang sungguh-sungguh demikian – sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya」).
Ayat 5, Paulus lebih lanjut mengungkapkan kekhawatiran lain yang dimilikinya ketika mengutus Timotius untuk mengunjungi para murid di Tesalonika: ia takut bahwa 「penggoda」 akan melalui penganiayaan dan kesusahan-kesusahan menggoyahkan iman mereka, sehingga pekerjaan misionaris mereka menjadi sia-sia. Di sini, 「iman」 tidak merujuk pada isi iman itu sendiri, tetapi lebih kepada kepercayaan dan kesetiaan orang percaya kepada Allah. Setan tidak hanya mencegah Paulus untuk kembali secara pribadi ke Tesalonika (1 Tes. 2:18), tetapi juga berusaha menggunakan kesusahan-kesusahan sebagai alat untuk menggoda orang percaya agar meninggalkan iman mereka. Paulus tahu bahwa jika para murid meninggalkan iman mereka di tengah jalan, semua pelayanan pastoral dan upaya misionaris yang telah dilakukannya untuk mereka akan sia-sia.
Perikop ini juga memberikan pengingat teologis yang penting: pemilihan Allah dan usaha manusia bukanlah hal yang saling bertentangan. Paulus sangat yakin bahwa murid-murid di Tesalonika dipilih oleh Allah (1 Tes. 1:4), dan bahwa pemilihan ini telah tercapai melalui pemberitaan Injil dan tanggapan setia mereka (1 Tes. 1:5-6). Namun, ia tetap dengan sungguh-sungguh mengutus Timotius untuk menguatkan dan menghibur mereka. Ini menunjukkan bahwa pemilihan Allah adalah prasyarat untuk keselamatan, tetapi ketekunan orang percaya, serta penggembalaan pastoral dan tindak lanjut gereja yang berkelanjutan, sama pentingnya. Dalam tarikan tegangan inilah orang percaya dipanggil untuk berdiri teguh dalam kesengsaraan, dan para pemimpin rohani dipanggil untuk merawat dan membangun komunitas melalui tindakan praktis.
Singkatnya, 1 Tesalonika 3:3-5 tidak hanya mengungkapkan hati Paulus sebagai rasul dan gembala, tetapi juga memberikan perspektif pastoral yang penting bagi gereja saat ini: penderitaan bukanlah tanda kegagalan iman, melainkan bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan seorang murid; tantangan sebenarnya terletak pada apakah orang percaya dapat mempertahankan kepercayaan mereka kepada Tuhan selama masa penderitaan. Kepedulian, peringatan, dan tindakan Paulus terhadap murid-muridnya telah menjadi teladan bagi para pemimpin spiritual generasi selanjutnya, menginspirasi orang percaya untuk saling mendukung dalam kesulitan dan bertumbuh bersama di dalam Tuhan.
Refleksi:
Keprihatinan Paulus dalam 1 Tes. 3:5 「aku khawatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia,」 mengingatkan kita bahwa jalan iman bukanlah jalan yang statis atau tanpa ketegangan. Bahkan setelah menerima kebenaran dan mengalami karya Allah, orang percaya mungkin masih tergoda oleh tekanan dunia nyata dan pergumulan rohani, bahkan goyah dalam kepercayaan mereka kepada Allah. Faktor apa yang paling mungkin menjadi godaan bagi kita? Apakah itu kesulitan dan penderitaan yang terus-menerus yang membuat kita merasa lelah dan putus asa? Apakah itu kesuksesan, kenyamanan, atau hubungan dalam kehidupan nyata yang secara bertahap menggantikan ketergantungan kepada Allah? Atau apakah itu ketakutan batin, keraguan, dan doa-doa yang tidak terjawab yang menyebabkan kita mempertanyakan kehadiran dan bimbingan Allah?
Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Tesalonika ditulis oleh Rev. Dr. Josh Ip Cho-suen (葉祖漩) yang dipublikasi pada bulan Mei 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.