「Menjadi Kudus (1)」
Oleh: Dr. Josh Ip Cho-suen (葉祖漩)
Alliance Bible Seminary H.K.
(1 Tes. 4:1-3 [TB2])
1 Akhirnya, Saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. 2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. 3 Karena inilah kehendak Allah: Pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
Dalam 1 Tesalonika 4:1-3, Paulus memulai pengajarannya yang spesifik tentang kehidupan moral gereja. Ia menyapa orang-orang percaya sebagai 「saudara-saudara,」 melanjutkan nada pastoralnya yang penuh perhatian, 「dalam Tuhan Yesus」 secara bersamaan memohon dan menasihati mereka, menunjukkan bahwa pengajarannya bukanlah pendapat pribadi tetapi didasarkan pada otoritas Tuhan. Paulus menunjukkan bahwa orang-orang percaya di Tesalonika telah menerima pengajaran darinya dan rekan-rekannya tentang bagaimana berperilaku dan menyenangkan Allah; sekarang, mereka tidak hanya harus melanjutkan dengan cara ini tetapi juga berusaha untuk maju lebih jauh, bekerja lebih keras 「lebih bersungguh-sungguh lagi,」 menunjukkan bahwa kehidupan Kristen adalah proses pertumbuhan yang berkelanjutan yang tidak dapat stagnan.
Pada bagian kedua, Paulus lebih lanjut menekankan sifat ajaran-ajaran ini, dengan menunjukkan bahwa ajaran-ajaran tersebut adalah petunjuk-petunjuk (commandments KJV) yang diberikan 「atas nama Tuhan Yesus.」 Perintah-perintah ini bukanlah saran-saran lembut atau bimbingan yang asal-asalan, melainkan tuntutan yang dijiwai dengan otoritas ilahi, yang harus ditaati oleh para murid. Paulus bukanlah sumber otoritas, melainkan hanya juru bicara-Nya; perintah yang sebenarnya berasal dari Tuhan Yesus Kristus. Hal ini sangat penting dalam konteks budaya pada masa itu, karena orang-orang percaya di Tesalonika hidup dalam masyarakat Heroik di mana kebiasaan sosial dan konsensus kolektif berfungsi sebagai standar moral utama. Paulus dengan jelas menunjukkan bahwa prinsip tertinggi yang membimbing kehidupan orang-orang percaya bukanlah standar yang diakui oleh masyarakat kontemporer, melainkan kehendak Allah. Frasa 「berkenan kepada Allah」 muncul berulang kali dalam surat ini, menunjukkan bahwa inilah orientasi inti dari ajaran etika Paulus.
Ayat ketiga lebih lanjut mengungkapkan dasar fundamental dari perintah-perintah ini:「kehendak Allah.」 Di sini, 「kehendak」 merujuk pada satu sisi kepada rencana Allah — apa yang Ia maksudkan dan secara pribadi wujudkan, seperti sejarah penebusan dan panggilan kepada gereja; di sisi lain, itu juga merujuk pada hati Allah — apa yang Ia sukai dan hendaki akan terjadi, dan dalam hal-hal ini, tanggapan proaktif dan ketaatan manusia sangat penting. Paulus dengan jelas menunjukkan di sini bahwa kehendak Allah adalah agar orang percaya 「dikuduskan,」 yang bukanlah cita-cita spiritual yang abstrak, tetapi arahan konkret dan praktis untuk hidup.
「Menjadi kudus」 mengacu pada proses pengudusan, yang dimulai ketika orang percaya dengan tulus bertobat dan percaya kepada Kristus, dan terus berkembang melalui karya Roh Kudus yang penuh kuasa. Meskipun pengudusan pada akhirnya adalah karya Allah, orang percaya sendiri juga memikul tanggung jawab yang tak terhindarkan, yang mengharuskan mereka untuk secara aktif menanggapi, menaati, dan bekerja sama. Inisiatif ini bukanlah pengudusan melalui kekuatan sendiri, melainkan, berdasarkan karya Allah sebelumnya, mengandalkan bimbingan dan kuasa Roh Kudus untuk menjalani kehidupan yang dikhususkan sebagai kudus.
Kemudian Paulus mengkonkretkan 「pengudusan」 menjadi tuntutan moral yang jelas:「menjauhi perbuatan cabul.」 Di sini, 「perbuatan cabul」 secara luas merujuk pada semua aktivitas seksual di luar pernikahan, termasuk seks pranikah. Dalam budaya Heroik pada masa itu, perilaku seperti itu sering dianggap dapat diterima, bahkan normal dalam perkembangan laki-laki; namun, Paulus mengharuskan orang percaya yang baru bertobat untuk sepenuhnya memutuskan hubungan dengan standar moralitas seksual masyarakat pagan masa lalu, dengan jelas menunjukkan bahwa mereka telah dipanggil ke dalam cara hidup yang sama sekali baru. Pergeseran moralitas ini justru merupakan hasil yang tak terhindarkan dari keselamatan yang datang ke dalam kehidupan manusia.
Refleksi:
Sebagai orang Kristen, tindakan praktis apa yang dapat kita lakukan untuk membantu diri kita sendiri menjauhi dan melindungi diri dari berbagai godaan seksual? Dalam menghadapi masyarakat kontemporer dengan sikap yang semakin terbuka terhadap seksualitas dan komitmen terhadap pernikahan yang secara bertahap memudar, apakah nilai-nilai atau pilihan praktis Anda telah terpengaruh? Apakah Anda merasa bertanggung jawab untuk secara aktif mengejar pengudusan dalam kehidupan iman Anda (lihat 1 Tes. 4:3 「Karena inilah kehendak Allah: Pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan」)?
Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Tesalonika ditulis oleh Rev. Dr. Josh Ip Cho-suen (葉祖漩) yang dipublikasi pada bulan Mei 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.