「Berdiri teguh (2)」
Oleh: Dr. Josh Ip Cho-suen (葉祖漩)
Alliance Bible Seminary H.K.
(1 Tes. 3:8-10 [TB2])
8 Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan. 9 Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita? 10 Siang malam kami berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.
Dalam 1 Tesalonika 3:8-10, Paulus lebih lanjut mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam terhadap kondisi rohani jemaat Tesalonika dan bagaimana kondisi ini secara langsung memengaruhi kehidupan batinnya dan rekan-rekan kerjanya. Ketika Paulus mengetahui bahwa jemaat Tesalonika 「berdiri teguh di dalam Tuhan,」 ia tidak hanya terhibur tetapi juga menggambarkan dirinya telah menerima hidup baru (1 Tes. 3:8). Ungkapan yang kuat ini mencerminkan hubungan erat antara kehidupan Paulus dan kondisi rohani komunitas yang digembalakannya. Bagi Paulus, keteguhan hati orang percaya di dalam Tuhan bukan hanya hasil dari pelayanan, tetapi juga suntikan kekuatan dan harapan baru ke dalam dirinya dan rekan-rekan kerjanya, yang memungkinkan mereka untuk terus berjalan maju dalam kesulitan dan kesengsaraan.
Perasaan ini sangat mirip dengan sukacita yang dialami orang tua ketika melihat anak-anak mereka tumbuh sehat dan kuat. Bahkan ketika orang tua sendiri menghadapi kesulitan hidup, tetapi melihat anak-anak mereka berkembang, itu memberi mereka dorongan yang sangat besar. Paulus memahami hubungannya dengan jemaat Tesalonika dengan 「hati seorang ayah dan ibu.」 Sukacitanya tidak berasal dari pencapaian pribadi, tetapi berakar pada pertumbuhan dan keteguhan hati orang percaya di dalam Tuhan, menunjukkan kesinambungan hubungan 「kehidupan rohani yang diwariskan dari generasi ke generasi.」
Dalam ayat 9, Paulus lebih lanjut menunjukkan bahwa ia dan rekan-rekannya 「penuh sukacita」 karena jemaat Tesalonika, sampai-sampai mereka tidak tahu bagaimana mengucap syukur kepada Allah atas semua itu. Sukacita yang digambarkan di sini bukanlah kepuasan diri atau kesombongan, tetapi sukacita yang dapat bertahan diuji Allah. Paulus dengan jelas menyadari bahwa semua kebaikan dan pencapaian rohani berasal dari kasih karunia dan karya Allah, oleh karena itu ia memberikan kemuliaan sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri atau usaha orang lain.
Namun, sukacita Paulus tidak membuatnya berpuas diri terhadap kebutuhan jemaat Tesalonika. Sebaliknya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh untuk mereka siang dan malam, merindukan untuk bertemu mereka lagi secara langsung agar dapat 「menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu」 (1 Tes. 3:10). Keadaan 「masih kurang」 yang disebutkan di sini tidak berarti bahwa jemaat Tesalonika kekurangan iman yang sejati, karena Paulus telah berulang kali menegaskan iman dan kasih mereka di masa-masa sulit (1 Tes. 3:6-8). Oleh karena itu, apa yang disebut 「yang masih kurang pada imanmu」 mungkin merujuk pada area-area dalam kehidupan dan pengalaman Kristen mereka secara keseluruhan yang masih perlu dimatangkan dan ditingkatkan.
Secara konkret, kekurangan-kekurangan ini mungkin termasuk pergumulan dalam kehidupan moral dan rohani, serta keterbatasan dalam pemahaman doktrin. Karena Paulus terpaksa meninggalkan Tesalonika sebelum waktunya, para jemaat pada tahap awal iman mereka belum menerima pengajaran yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, ia sangat ingin kembali kepada mereka secara pribadi untuk lebih lanjut membina, membimbing, dan menggembalakan mereka sesuai dengan kebutuhan mereka yang sebenarnya. Ini menunjukkan bahwa hati pastoral Paulus dipenuhi dengan sukacita dan rasa tanggung jawab yang kuat; ia tidak hanya mengucap syukur atas kasih karunia yang telah diterima para jemaat, tetapi juga terus-menerus berdoa syafaat dan memberi perhatian kepada mereka di bidang-bidang di mana mereka belum sepenuhnya dewasa.
Refleksi:
Dalam 1 Tes. 3:10, Paulus menyebutkan perlunya 「menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.」 「Kekurangan」 ini tidak meniadakan iman yang sudah dimiliki oleh orang-orang percaya di Tesalonika, karena Paulus telah menegaskan bahwa mereka dapat berdiri teguh di dalam Tuhan selama penderitaan (1 Tes. 3:6-8). Sebaliknya, 「kekurangan」 ini kemungkinan menunjukkan area-area dalam kehidupan dan pertumbuhan Kristen orang percaya secara keseluruhan yang masih perlu dibangun dan diperdalam, termasuk pemahaman mereka tentang kebenaran iman, praktik kehidupan moral, dan penilaian spiritual yang lebih matang dalam menghadapi kesulitan. Pertimbangkan: Apakah Anda pernah mengalami saat-saat kelemahan atau kurangnya iman? Bagaimana keadaan Anda saat itu? Bagaimana pengalaman-pengalaman ini memengaruhi iman Anda kepada Allah?
Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Tesalonika ditulis oleh Rev. Dr. Josh Ip Cho-suen (葉祖漩) yang dipublikasi pada bulan Mei 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.