Author Archives: lukasleo

About lukasleo

Aku percaya kepada Allah Khalik Langit dan Bumi. Allah TriTunggal yang Maha Esa. Alkitab adalah Firman Allah yang sempurna.

1 Raja-raja 22:15-23

「Allah mengendalikan segala sesuatu」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 22:15-23 [TB2])
15 Sesampainya ia kepada raja, bertanyalah raja kepadanya, Mikha, bolehkah kami pergi berperang melawan Ramot-Gilead atau kami batalkan saja? Jawabnya kepadanya, Majulah dan engkau akan beruntung. TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.
16 Tetapi, raja berkata kepadanya, Sampai berapa kali aku menyuruh engkau bersumpah, supaya engkau tidak mengatakan apa pun kepadaku selain kebenaran demi nama TUHAN? 17 Lalu jawabnya, Telah kulihat seluruh Israel bercerai-berai di gunung-gunung seperti kawanan domba tanpa gembala. TUHAN telah berfirman: Mereka tidak mempunyai tuan; baiklah masing-masing pulang ke rumahnya dengan selamat.
18 Kemudian raja Israel berkata kepada Yosafat, Bukankah telah kukatakan kepadamu: Ia tidak pernah menubuatkan yang baik tentang aku selain malapetaka?
19 Kata Mikha, Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN duduk di atas takhta-Nya dan segenap tentara surga berdiri di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-Nya. 20 Dan TUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab untuk maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Seorang berkata begini, yang lain berkata begitu. 21 Kemudian keluarlah suatu roh dan berdiri di hadapan TUHAN. Ia berkata: Akulah yang akan membujuknya. TUHAN bertanya kepadanya: Bagaimana caranya? 22 Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Firman-Nya: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau pasti bisa. Keluarlah dan lakukanlah demikian! 23 Jadi, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut semua nabimu ini. TUHAN telah menetapkan malapetaka atasmu.

Dalam 1 Raja-raja 22:15-16, tanggapan Mikha identik dengan tanggapan empat ratus orang itu. Namun, tanggapan Ahab (1 Raj. 22:16) mencela Mikha agar mengatakan kebenaran dalam nama TUHAN, menunjukkan bahwa ia menyadari kata-kata Mikha adalah ejekan terhadap Ahab dan empat ratus orang itu. Sama seperti Yosafat menyadari bahwa kata-kata empat ratus orang itu bermasalah (1 Raj. 22:7), Ahab sekarang menganggap kata-kata Mikha sebagai ejekan.

Kemudian, ayat 17-23 mencatat penglihatan yang dilihat Mikha, yang merupakan isi sebenarnya, dan akan diceritakannya kepada Ahab. Dari isi yang disampaikan Mikha, kita melihat setidaknya tiga pesan teologis. Pertama, Mikha mengatakan bahwa ia melihat orang Israel tercerai-berai di pegunungan tanpa gembala, jelas merupakan ironi terhadap Ahab, yang menunjukkan bahwa Ahab akan mati, meninggalkan orang Israel seperti domba tanpa gembala (atau tuan). Kedua, ayat 19-22 menunjukkan bahwa ada banyak roh di surga, yang menanggapi tuntutan TUHAN secara berbeda. Di sini kita melihat bahwa roh-roh tersebut harus memperoleh persetujuan dan otorisasi TUHAN untuk bertindak, dan tidak ada situasi di mana masing-masing bertindak secara independen.

Terakhir, gambaran surga dalam budaya Timur Dekat kuno mencerminkan hubungan antara peperangan dan surga. Orang-orang di Timur Dekat kuno percaya bahwa langit adalah tempat para dewa berkumpul dan membahas berbagai hal, dan setiap dewa adalah pelindung kota tertentu. Jika di alam surga para dewa dapat mencapai kompromi untuk mencapai keseimbangan kekuasaan, status kota yang dilindungi dewa tersebut akan dinaikkan atau diturunkan. Jika mereka tidak dapat mencapai kompromi, para dewa akan berperang di alam surgawi, dan pemenangnya akan menaikkan status kota di bumi, menandakan kemenangan kota tersebut dalam perang. Gambaran surgawi yang dijelaskan dalam 1 Raja-raja pasal 22 juga memiliki warna budaya Timur Dekat kuno ini, tetapi tidak mendukung konsep perang antar dewa. Ini karena takhta TUHAN tidak pernah perlu ditantang, dan TUHAN tidak perlu secara pribadi berperang untuk mendapatkan status transenden-Nya; sebaliknya, setiap roh membutuhkan persetujuan TUHAN untuk bertindak. Dengan demikian, dewa-dewa Timur Dekat kuno didemistifikasi (demythicization), mereka adalah para malaikat yang melayani TUHAN.

Refleksi:
Dalam penglihatan Mikha, kita melihat bahwa Allah adalah Penguasa atas segala sesuatu. Tidak peduli bagaimana dunia manusia menggunakan konflik untuk mencapai tujuannya sendiri, hal itu tidak mengubah fakta bahwa Allah berkuasa. Inilah dunia milik Allah Bapa.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 22:10-14

「Apa pun yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 22:10-14 [TB2])
10 Raja Israel dan Yosafat, raja Yehuda, masing-masing duduk di atas takhtanya dengan pakaian kebesaran, di suatu tempat pengirikan di depan pintu gerbang Samaria. Semua nabi itu bernubuat di depan mereka. 11 Lalu Zedekia bin Kena’ana yang sudah menyiapkan tanduk-tanduk besi, berkata, Beginilah firman TUHAN: Dengan ini engkau akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan mereka. 12 Semua nabi itu juga bernubuat demikian, katanya, Majulah ke Ramot-Gilead dan engkau akan berhasil. TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.
13 Utusan yang pergi memanggil Mikha itu berkata kepadanya, Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat mengatakan hal yang baik bagi raja. Hendaklah perkataanmu juga seperti perkataan salah seorang dari pada mereka dan katakanlah hal yang baik. 14 Tetapi, Mikha menjawab, Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa pun yang akan difirmankan TUHAN kepadaku, itulah yang akan kukatakan kepadanya.

Pasal 22, ayat 10-12 menggambarkan gambaran dua raja yang berdiri bersama para menteri mereka, sedangkan ayat 19-21 menggambarkan gambaran TUHAN, Raja Agung, yang berdiri bersama para malaikat-Nya; yang pertama bersifat duniawi, yang kedua surgawi, yang mengontraskan pemerintahan surgawi dan duniawi. Seluruh catatan tersebut menunjukkan bahwa seolah-olah TUHAN, melalui para nabi ini, telah mengindikasikan bahwa pertempuran ini telah menjadi perang suci. Empat ratus orang ini seperti berbicara atas nama TUHAN, secara luar biasa mendukung dimulainya perang ini; namun, semua ini hanyalah ucapan yang ingin didengar Ahab dan yang menguntungkan dirinya.

Ahab hanya suka mendengar hal-hal yang menyenangkan baginya dan tidak menyukai hal-hal yang merugikan. Ia berharap dengan berkonsultasi dengan para nabi, ia dapat memperkuat konsep perang suci dalam konflik tersebut, sehingga ia dapat membenarkan klaimnya dengan menggunakan nama Allah. Gambaran dirinya dan Yosafat sebagai raja (1 Raj. 22:10) menunjukkan bahwa mereka berdua sedang menyusun strategi, dan pernyataan para nabi sesuai dengan harapan mereka (1 Raj. 22:11-12). Adegan ini berfungsi untuk menggambarkan kemunculan nabi Mikha (1 Raj. 22:13-28), sehingga pembaca memahami situasinya — suatu skenario di mana orang lain dan orang-orang yang berkuasa sangat salah memahami kehendak Allah. Apakah nabi TUHAN dapat menentang opini populer dan tetap setia pada wahyu adalah pertanyaan kunci yang ingin dijawab oleh perikop ini.

Kata-kata Ahab digambarkan dalam 1 Raja-raja 22:13-14 oleh seorang utusan yang memanggil Mikha dan berkata, Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat mengatakan hal yang baik bagi raja. Hendaklah perkataanmu juga seperti perkataan salah seorang dari pada mereka dan katakanlah hal yang baik (1 Raj. 22:13). Kata sepakat (satu) (אחד ’e·ḥāḏ), mulut (פה peh), dan bermanfaat (טוב ṭôḇ) semuanya muncul dalam kata-kata utusan ini. Tuntutan agar satu mulut (sepakat) (פה־אחד peh-’e·ḥāḏ) adalah menghendaki agar Mikha menyesuaikan diri dengan narasi arus utama dari empat ratus orang agar dapat memberikan tekanan publik; tuntutan agar yang baik (yang menguntungkan) (טוב ṭôḇ) adalah bahwa perkataan Mikha harus selaras dengan kepentingan Ahab. Oleh karena itu, seluruh bagian ini merupakan bentuk lobi politik, yang menunjukkan bahwa Mikha tidak boleh bersikap tidak konvensional tetapi harus berusaha untuk menyelaraskan dirinya dengan empat ratus orang untuk menguntungkan Ahab dan memastikan keselamatan Mikha. Namun, ini merupakan dorongan untuk mempolitisasi misi nabi. Nabi harus dengan setia berbicara untuk TUHAN sesuai dengan panggilannya; perkataannya harus berasal dari alasan teologis yang murni, bukan dari kepentingan politik apa pun. Oleh karena itu, Mikha bersumpah Demi TUHAN yang hidup bahwa ia akan mengatakan apa yang TUHAN perintahkan kepada dia (1 Raja -raja 22:14). Tanggapan Mikha menunjukkan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan kepentingan politik menentukan perkataan kenabiannya. Ia sangat percaya bahwa juru bicara adalah berbicara mewakili, tetapi bukan atas nama kelompok kepentingan politik; itu adalah berbicara mewakili TUHAN. Yang pertama bersifat politis, yang kedua bersifat teologis.

Refleksi:
Setia kepada firman Allah dan menolak berpihak dalam politik adalah sikap nabi sejati TUHAN. Apakah ini juga sikap Anda? Bagaimana Anda dapat menjalani hidup Anda dengan setia kepada firman Allah?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 22:5-9

「Empat ratus nabi?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 22:5-9 [TB2])
5 Tetapi, Yosafat berkata kepada raja Israel, Mintalah dahulu petunjuk firman TUHAN. 6 Lalu raja Israel mengumpulkan para nabi, kira-kira empat ratus orang. Kemudian ia bertanya kepada mereka, Bolehkah aku pergi berperang melawan Ramot-Gilead atau aku batalkan saja? Jawab mereka, Majulah! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.
7 Tetapi, Yosafat bertanya, Apakah tidak ada lagi di sini seorang nabi TUHAN, supaya kita dapat meminta petunjuk dengan perantaraannya? 8 Jawab raja Israel kepada Yosafat, Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN. Tetapi, aku membenci dia, sebab ia tidak pernah menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan hanya malapetaka. Orang itu ialah Mikha bin Yimla. Kata Yosafat, Janganlah raja berkata demikian. 9 Kemudian raja Israel memanggil seorang pembesar istana, katanya, Jemputlah segera Mikha bin Yimla!

1 Raja-raja 22:5-9 menyajikan skenario tipikal (type scene) di mana fokusnya adalah mencari bimbingan ilahi melalui para nabi untuk menentukan apakah perang itu adalah perang suci (holy war) (lihat Hak. 4:12-16; 1 Raj. 20:26-30). Perang suci didefinisikan sebagai perang Allah; Allah mengeskalasi konflik antar manusia untuk dipakai menjadi konflik ilahi, sehingga menjamin kemenangan. Namun, konsep perang suci dalam Perjanjian Lama tidak bertujuan untuk membenarkan kekerasan apa pun, juga tidak menyarankan bahwa orang dapat menggunakan nama perang suci untuk menggambarkan Allah sebagai yang dapat diperalat bias kepada satu pihak. Sederhananya, Allah tidak dapat dipolitisasi atau dipaksa untuk memihak, dan manusia tidak dapat memperalat TUHAN untuk mencapai tujuan politik atau militer apa pun. Oleh karena itu, ketika Yosafat menyarankan untuk mencari petunjuk firman TUHAN dari nabi Allah (1 Raj. 22:5), ia sebenarnya berpikiran terbuka dan tulus, berharap untuk memahami kehendak Allah; Namun, Ahab setuju untuk mencari para nabi, tetapi bahkan membawa empat ratus nabi (1 Raj. 22:6).

Keempat ratus nabi ini bisa dibilang menjadi fokus penafsiran. Penulis menggunakan kitra-kira empat ratus (כארבע מאות איש ’îš mê·’ō·wṯ kə·’ar·ba‘) (ayat 6) untuk menggambarkan para nabi, sebuah perkiraan yang mengingatkan pada konfrontasi antara empat ratus lima puluh (jumlah pastinya) nabi Ba’al dan Elia di Gunung Kanaan (1 Raj. 18:22). Lalu, Mikha yang akan diperkenalkan kemudian (ayat 8), menghadapi empat ratus orang ini, sebuah situasi yang mirip dengan Elia yang menghadapi empat ratus lima puluh nabi Ba’al — keduanya termasuk dalam tema satu lawan seratus. Empat ratus orang ini dengan suara bulat mengucapkan apa yang mereka yakini sebagai pernyataan ilahi: Majulah (go up)! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja (1 Raj. 22:6). Mereka berjumlah banyak berbicara dengan kuat, berbicara seolah-olah mereka adalah wakil Allah, seolah-olah kebenaran berada di pihak mayoritas. Tentu kedua raja ini percaya bahwa Allah telah mengeskalasi pertempuran ini ke tingkat perang suci.

Namun, Yosafat meminta untuk berkonsultasi dengan nabi TUHAN; Ahab, memahami maksud Yosafat, berkata, Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN (1 Raj. 22:8a). Ahab bahkan juga mengemukakan nubuat yang dikatakan Mikha tentang dirinya sendiri, … ia tidak pernah menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan hanya malapetaka (1 Raj. 22:8b). Frasa yang baik berarti bermanfaat bagiku (עלי טוב ṭō·wḇ ‘ā·lay), sedangkan hanya malapetaka berarti benar-benar merugikan (אם־רע ’im-rā‘). Di sini kita melihat Ahab mendefinisikan bermanfaat (טוב ṭō·wḇ) dan merugikan (רע raʿ) dari sudut pandang tentang dirinya sendiri. Artinya, dalam pikirannya, nabi itu haruslah demi kepentingan dirinya sendiri; Segala sesuatu yang merugikan kepentingan dirinya, ia tanggapi dengan kebencian (שנא šonēʾ). Jelas bahwa dalam pikiran Ahab, nabi telah menjadi alat untuk membenarkan kepentingan dirinya sendiri. Empat ratus orang itu menguntungkan dirinya, jadi ia memperlakukan mereka dengan baik; Mikha merugikan kepentingan dirinya, maka ia membenci dia.

Refleksi:
Konsep perang suci mudah dieksploitasi, menjadi pembenaran atas klaim pribadi. Preferensi Ahab untuk mendengar kata-kata yang menguntungkan menunjukkan bahwa ia menganggap dirinya sebagai penguasa, mengendalikan segalanya. Ia mendukung segala sesuatu yang bermanfaat dan menekan segala sesuatu yang merugikan kepentingannya. Pendekatan yang mementingkan diri sendiri ini mereduksi Ahab ke tingkat raja-raja Timur Dekat kuno, mencegah Israel untuk menghayati identitasnya sebagai umat pilihan Allah di antara bangsa-bangsa dan membedakan dirinya dari bangsa-bangsa lain. Sementara bangsa-bangsa lain menggunakan nama perang suci untuk propaganda politik, sepatutnya Israel tidak dapat melakukannya; umat Allah, yang mengakui kedaulatan TUHAN, tidak dapat menggunakan cara politik apa pun untuk membenarkan pengejaran perang suci semau diri mereka. Konsep perang suci menyatakan bahwa hanya Allah yang merupakan Tuhan dalam pertempuran, dan Dia tidak dapat dan tidak boleh diperalat oleh orang lain. Pengingat apa yang dibawakan transendensi ilahi ini kepada Anda?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 22:1-4

「Engkau bersama aku, dan aku bersama engkau?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 22:1-4 [TB2])
1 Tiga tahun berlangsung tanpa perang antara Aram dan Israel. 2 Pada tahun yang ketiga Yosafat, raja Yehuda, pergi menemui raja Israel. 3 Sebelumnya raja Israel telah berkata kepada pegawai-pegawainya, Tahukah kamu bahwa Ramot-Gilead sebenarnya milik kita? Tetapi, kita diam saja dan tidak merebutnya dari tangan raja negeri Aram. 4 Lalu ia berkata kepada Yosafat, Maukah engkau pergi bersamaku untuk memerangi Ramot-Gilead? Jawab Yosafat kepada raja Israel, Aku dan engkau bersama-sama, rakyatku dan rakyatmu, kudaku dan kudamu.

Kitab 1 Raja-raja pasal 22 menceritakan peperangan di Ramot-Gilead dan narasi terakhir tentang kematian Ahab. Penulis menggunakan pasal ini untuk secara resmi meringkas pemerintahan Ahab, termasuk persekutuannya dengan Yosafat dari Yehuda dan bagaimana Allah menggenapi nubuat penghakiman yang telah disampaikan melalui nabi Elia.

Pasal 22, ayat 1 dimulai dengan menyatakan bahwa tidak ada perang antara Israel dan Aram selama tiga tahun. Hal ini membawa pembaca kembali ke pertempuran di Pasal 20, menjelaskan bahwa setelah pertempuran itu tidak ada perang antara Israel dan Aram selama tiga tahun. Hal ini juga menjelaskan bahwa narasi tentang penaklukan kebun anggur Nabot oleh Ahab terjadi selama periode ini. Pertempuran yang disebutkan dalam Pasal 20 diprakarsai oleh Benhadad, raja Aram; namun, pertempuran yang tercatat dalam Pasal 22 diprakarsai oleh Ahab, raja Israel, untuk merebut kembali Ramot-Gilead.

Ayat 3 menyebutkan bahwa Ramot-Gilead berada di tangan raja Aram. Mengapa demikian? Kita tahu dari 1 Raja-raja 4:13 bahwa Ramot-Gilead adalah distrik administratif pada zaman Salomo, yang awalnya dikuasai oleh Kerajaan Israel. Kita tidak tahu mengapa tempat ini jatuh ke tangan raja Aram. Mungkin karena raja Benhadad dari Aram awalnya telah berjanji untuk mengembalikan tanah yang telah direbut ayahnya dari Israel (1 Raj. 20:34 Kata Benhadad kepadanya, Kota-kota yang telah diambil ayahku dari ayahmu akan kukembalikan. Engkau juga boleh membuka pasarmu di Damsyik, seperti yang dilalukan ayahku di Samaria. Kata Ahab, Dengan perjanjian itu aku sendiri, akan membiarkan engkau pergi.』」), tetapi kemudian tidak mengembalikan Ramot-Gilead, sehingga Ahab berharap untuk merebut kembali tanah tersebut.

Ayat 4 menggambarkan bagaimana Ahab mengajak Yosafat untuk ikut berperang bersamanya di Ramot-Gilead, tetapi Yosafat menjawab, Aku dan engkau bersama-sama, rakyatku dan rakyatmu, kudaku dan kudamu. (כמוני כמוך כעמי כעמך כסוסי כסוסיך kə·sū·se·ḵā kə·sū·say ḵə·‘am·me·ḵā kə·‘am·mî ḵā·mō·w·ḵā kā·mō·w·nî) Ketika kita membandingkan ayat ini dengan versi Kitab Tawarikh, kita memahami keunikan Kitab Raja-raja. Tata letak urutan kata dalam versi Kitab Tawarikh as your people—my people (rakyatmu—rakyatku) (כעמך עמי ‘am·mî ḵə·‘am·mə·ḵā) (2 Taw. 18:3), sedangkan urutan kata dalam versi Kitab Raja-raja rakyatku—rakyatmu (כעמי כעמך ḵə·‘am·me·ḵā kə·‘am·mî) (1 Raj. 22:4) 。 Dengan demikian, versi Kitab Raja-raja digambarkan Ahab tampaknya lebih unggul, terlebih dahulu menekankan rakyatku barulah kemudian rakyat Yosafat (rakyatmu) dimasukkan sebagai rakyatnya sendiri. Frasa kudaku dan kudamu mengingatkan kita pada perintah dalam Ulangan, janganlah ia memelihara banyak kuda dan janganlah ia mengembalikan bangsa ini ke Mesir untuk mendapat banyak kuda (Ul. 17:16). Ini menunjukkan keinginan Ahab untuk memasukkan kuda-kuda Yosafat dan juga menggambarkannya sebagai raja yang melanggar hukum Ulangan, sehingga menyoroti citra negatifnya.

Refleksi:
Yosafat digambarkan sebagai raja yang melakukan apa yang benar di mata TUHAN, namun ia bersekutu dengan raja Ahab yang jahat, bahkan sampai pada titik apa yang menjadi milikmu adalah milikku, dan apa yang menjadi milikku adalah milikmu. Yosafat tidak memahami konsekuensi bersekutu dengan raja yang jahat, mungkin karena ia juga berharap Yehuda dan Israel akan berdamai, sehingga membawa kedamaian dan ketenangan bagi negaranya sendiri. Namun, tindakannya ini tidak melihat dari perspektif apa yang benar atau salah di mata TUHAN. Sekalipun sesuatu masuk akal menurut akal dan perasaan manusia, apakah itu berarti masuk akal di mata Allah? Pernahkah Anda mengalami pengalaman serupa?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:27-29

「Ahab merendahkan diri」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:27-29 [TB2])
27 Mendengar perkataan itu, Ahab mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya, dan berpuasa. Ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan lunglai. 28 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, 29 Sudahkah kaulihat betapa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, Aku tidak akan mendatangkan malapetaka semasa hidupnya. Barulah pada masa anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya.

Tiga ayat terakhir dari 1 Raja-raja 21 (1 Raj. 21:27-29) mencatat Ahab merendahkan diri di hadapan Allah dan penundaan penghukuman Allah atasnya.

Ayat 27 dimulai dengan Mendengar perkataan itu, Ahab … secara sintaksis mirip dengan permulaan ayat 15 dan 16. Ayat 15 menyebutkan bahwa Izebel bertindak segera setelah mendengar kematian Nabot; ini mirip dengan ayat 27, di mana Ahab segera merendahkan diri setelah mendengar perkataan ini. Ayat 16 menyebutkan bahwa Ahab segera merebut kebun anggur Nabot setelah mendengar kematiannya; format ini juga mirip dengan ayat 27 Ahab segera merendahkan diri. Kesamaan ini menunjukkan bahwa Ahab tampaknya adalah seorang pria tanpa penilaian sendiri, secara membabi buta mengikuti nasihat Izebel, dan pada saat yang sama merendahkan diri setelah mendengar penghakiman TUHAN yang disampaikan melalui Elia. Dengan demikian, Ahab tampaknya sekadar karena tidak memiliki prinsip diri, alih-alih benar-benar bertobat. Namun, tindakan pertobatannya relatif komprehensif, termasuk mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya, dan berpuasa. Ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan lunglai. Semua tindakan ini menunjukkan bahwa Ahab dipenuhi dengan kerendahan hati dan kesedihan, dan bahwa ia berduka atas akibat dosa-dosanya; namun, teks tersebut tidak menyebutkan tindakan pertobatan nyata apa pun dari pihaknya, seperti mengembalikan kebun anggur Nabot kepada keturunan Nabot atau menceraikan Izebel. Pertobatan Ahab tampaknya lebih seperti reaksi psikologis daripada pertobatan yang sebenarnya.

Karena Ahab merendahkan dirinya baik secara psikologis maupun dalam sikapnya, TUHAN, melalui Elia, menyatakan penghakiman baru. Pertama, ayat 29 mencatat, Sudahkah kaulihat betapa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Kata merendahkan diri yang disebutkan dalam ayat ini memang merupakan kerendahan hati di hadapan TUHAN, artinya setelah Ahab mendengar penghakiman yang telah Allah tetapkan, ia menegaskan kembali sikap rendah hatinya di hadapan TUHAN. Berdasarkan sikap ini, TUHAN tidak mendatangkan malapetaka yang dijanjikan kepadanya selagi ia masih hidup, tetapi menundanya kepada anak-anaknya dan keluarganya. Dengan kata lain, kerendahan hati Ahab tidak cukup untuk membalikkan penghakiman Allah; kerendahan hatinya hanya dapat menunda waktu penghakiman, yang akan menimpa keturunannya.

Dalam Kitab Keluaran, kita melihat bahwa berkat dan hukuman atas diri seorang ayah dapat meluas hingga keturunannya: Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat. (Keluaran 34:6-7) Ayat ini menunjukkan bahwa meskipun TUHAN adalah Allah yang penuh belas kasihan dan rahmat, Ia tidak akan membiarkan orang yang bersalah lolos dari hukuman; dan cara-Nya menghukum dosa adalah dengan memperluas hukuman tersebut hingga generasi ketiga dan keempat dari orang yang berdosa. Kitab Raja-raja melanjutkan pemahaman ini bahwa dosa akan meluas hingga tiga atau empat generasi keturunan. Penghukuman TUHAN atas Ahab benar-benar mendatangkan malapetaka atas putranya, Yoram (2 Raj. 9:25-26) dan ketujuh puluh putra Ahab (2 Raj. 10:1-11). Lebih jauh lagi, karena putri Ahab, Atalia, menikah dengan Yoram, putra Yosafat, raja Yehuda, TUHAN memperluas malapetaka ini kepada putra Yoram, Ahazia (2 Raj. 9:27-28). Peristiwa-peristiwa ini menggenapi nubuat TUHAN tentang penghukuman yang disampaikan melalui Elia.

Refleksi:
Apakah pengakuan dan perendahan diri Anda di hadapan Tuhan hanyalah reaksi psikologis, atau titik awal pertobatan yang sungguh-sungguh?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:25-26

「Engkau telah menjual diri sendiri」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:25-26 [TB2])
25 Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dihasut oleh Izebel, istrinya. 26 Bahkan ia telah bertindak sangat menjijikkan dengan mengikuti berhala-berhala, sama seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari hadapan orang Israel.

Dari perspektif susunan teks, ayat 25-26 tampaknya merupakan sisipan oleh narator, yang dimaksudkan untuk mengklarifikasi perilaku dan dosa Ahab, sehingga pembaca dapat memahami seperti apa kepribadiannya. Ayat 25 dimulai dengan Sesungguhnya, yang menunjukkan makna Sesungguhnya hanya … yang seperti ini, artinya sepanjang sejarah Kerajaan Utara, hanya Ahab yang seperti ini. Teks tersebut menggunakan empat kata yang (who) (אשר ’ă·šer) untuk menggambarkan karakteristik uniknya :

1. 「『yang (who) memperbudak diri dengan melakukan yang jahat di mata TUHAN, kata memperbudak diri berkaitan dengan menjual diri menjadi budak, dan kalimat ini menjelaskan bahwa Ahab menjual dirinya dan menjadi budak yang melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.

2. 「『yang (who) telah dihasut oleh Izebel, istrinya, kata dihasut (סות sûiṯ) dapat merujuk pada godaan dalam arti politik. Jika demikian, godaan Izebel terhadap Ahab bukanlah godaan seksual, melainkan godaan politik; karena Izebel adalah putri raja Sidon (1 Raj. 16:31), tindakan Ahab menikahinya adalah aliansi politik. Untuk mempertahankan aliansi politik ini, Ahab mengizinkan penyembahan Ba’al oleh Izebel pada aspek keagamaan. Dengan demikian, godaan politik meluas ke godaan keagamaan.

3. Ia telah bertindak sangat menjijikkan dengan mengikuti berhala-berhala, sama seperti yang (that) dilakukan oleh orang Amori, Kata menjijikkan (תועבה tôʿēḇah) sering muncul dalam Kitab Ulangan, merujuk pada hal-hal seperti: berhala dan patung-patung dewa yang diukir (Ul. 7:25-26; 12:31; 13:12-15; 17:3-4; 32:16), mempersembahkan domba dan sapi yang sakit (Ul. 17:1), berbagai mantra (Ul. 18:9-12), mengenakan pakaian lawan jenis (Ul. 22:5), menikahi wanita yang pernah diceraikannya sendiri (Ul. 24:4), dan timbangan yang tidak adil (Ul. 25:13-16), dan lain-lain. Semua ini adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang asing non Yahudi. Oleh karena itu, ayat 26 menghubungkan kedua perilaku ini (pembunuhan dan perebutan tanah serta penyembahan berhala), menunjukkan bahwa keduanya adalah perbuatan keji dan praktik umum orang Amori.

4. orang Amori yang (who) telah dihalau TUHAN dari hadapan orang Israel, pernyataan ini menunjukkan bahwa orang Amori telah diusir oleh TUHAN, dan bangsa Israel menyaksikan peristiwa ini. Hal ini mungkin didasarkan pada Imamat 18:24-30, yang menyatakan bahwa orang Kanaan (orang Amori) menajiskan tanah Kanaan karena perbuatan-perbuatan keji dan kejahatan lainnya, sehingga tanah itu memuntahkan mereka. Ini melambangkan mereka diusir oleh TUHAN, dan bangsa Israel yang menyaksikan pengusiran orang Kanaan, harus belajar dari pengalaman mereka dan diperingatkan agar tidak melakukan hal-hal keji yang sama, supaya mereka tidak diusir seperti mereka.

Refleksi:
Melalui nabi Elia, TUHAN menyatakan penghukuman-Nya atas Ahab, Izebel, dan seluruh keluarga Ahab. Keluarga Ahab akan mengalami kehancuran dan pemusnahan yang sama seperti keluarga Yerobeam dan Baesa. Lebih jauh lagi, TUHAN akan menghukum Izebel dengan berat, menyebabkan dia mati dengan kematian yang mengerikan, seperti terkutuk. Penulis mengingatkan pembaca bahwa Ahab adalah seorang yang menjual dirinya ke dalam perbudakan dosa, mengikuti orang Kanaan dalam perbuatan-perbuatan keji mereka dan tergoda oleh Izebel untuk melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Semua dosa ini dilaporkan dengan jelas untuk memperingatkan pembaca.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:20-24

「Engkau sudah mendapati aku?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:20-24 [TB2])
20 Kata Ahab kepada Elia, Jadi, aku sudah kaudapati, hai musuhku? Jawabnya, Memang aku mendapati engkau, karena engkau sudah memperbudak dirimu dengan melakukan yang jahat di mata TUHAN. 21 Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu. Aku akan menyapu habis engkau dan melenyapkan setiap laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang terikat ataupun yang bebas, di Israel. 22 Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan keluarga Baesa bin Ahia, karena engkau menimbulkan murka-Ku, dan karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa pula. 23 TUHAN juga telah berfirman mengenai Izebel: Anjing-anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizre’el. 24 Siapa saja dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara.

1 Raja-raja 21:20 mencatat tanggapan Ahab terhadap nubuat penghakiman Elia: Jadi, aku sudah kaudapati, hai musuhku? Ahab menggambarkan Elia sebagai musuhku; sebelumnya, Ahab menggambarkan Elia sebagai orang yang mencelakakan Israel (18:17), dan sekarang Elia naik tingkat menjadi musuhku, menunjukkan bahwa Ahab menganggap Elia sebagai musuh bebuyutan. Pada saat yang sama, pertanyaan Jadi, aku sudah kaudapati? dijawab sesuai oleh Elia di bagian kedua ayat 20 Memang aku mendapati engkau. Dialog tentang mendapati ini secara permukaan menggambarkan pencarian lokasi keberadaan Ahab, tetapi pada kenyataannya, itu menunjukkan bahwa jati diri Ahab yang berdosa telah didapati oleh Elia, dan bahkan oleh TUHAN. Frasa aku sudah kaudapati menunjukkan bahwa Elia telah menemukan sifat berdosa Ahab.

Ayat 21-22 mencatat penghakiman TUHAN atas keluarga Ahab, yang berfokus pada menyapu habis (ayat 21). Bahasa aslinya tampaknya mengatakan Aku akan membinasakan keturunanmu, yang menunjukkan bahwa bukan hanya Ahab sendiri yang dibinasakan, tetapi juga keturunanmu, yaitu, semua keturunan dan orang-orang dari keluarga Ahab. Daftarnya adalah setiap laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang terikat ataupun yang bebas, di Israel. Ungkapan ini mengulangi isi penghakiman TUHAN atas keluarga Yerobeam dan Baesa (1 Raj. 14:8-11, 16:3, 4, 7). Keluarga Ahab mengulangi kesalahan keluarga Yerobeam dan juga menerima nasib keluarga Yerobeam. Oleh karena itu, ayat 22 menyatakan: Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan keluarga Baesa bin Ahia.

Penghukuman TUHAN atas Izebel tercatat dalam ayat 23. Penghukuman itu menyatakan, Anjing-anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizre’el. Teks bahasa aslinya menghilangkan kata daging, yang menyiratkan bahwa anjing-anjing itu akan melahap Izebel secara utuh. Tembok luar kemungkinan merujuk pada tembok kota (Ratapan 2:8; Nahum 3:8; Yesaya 26:1), sebuah kata yang kadang-kadang dikaitkan dengan istana (Mazmur 48:14, 122:7). Tembok luar Yizre’el mungkin merujuk pada daerah dekat istana Ahab di Yizre’el. Mengenai penggenapan nubuat ini, 2 Raja-raja 9:36 menyebutkan bahwa Izebel pada akhirnya dimakan oleh anjing-anjing di ladang Yizre’el, yang mungkin merupakan kebun anggur Nabot, karena kebun anggur ini terletak tepat di dekat istana di Yizre’el.

Ayat 24 lebih lanjut menjelaskan bahwa keluarga Ahab dimakan oleh anjing di kota dan burung-burung di ladang. Artinya, baik di dalam maupun di luar kota, mereka akan dimakan oleh anjing atau burung, seperti yang akan terjadi pada Yerobeam dan keluarga Baesa (1 Raj. 14:11, 16:4). Ini adalah kematian yang memalukan, jahat, dan terhina; mereka tidak hanya akan mati tanpa penguburan yang layak, tetapi tubuh mereka juga akan dimakan oleh binatang, sehingga mereka tidak memiliki mayat yang utuh, dan menggenapi kutukan dari Allah.

Refleksi:
Apakah saya juga telah mendapati sifat dosa saya yang sebenarnya? Sekalipun seseorang memiliki kemampuan untuk menipu orang lain, pada akhirnya tidak seorang pun dapat lolos dari didapati oleh Allah. Pertanyaannya adalah, apakah kita terlebih dahulu memiliki kesadaran diri untuk segera mendapati sifat dosa kita yang sebenarnya sehingga kita dapat bertobat sesegera mungkin?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:17-19

「Hukuman yang setimpal」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:17-19 [TB2])
17 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, bunyinya, 18 Bangunlah, pergilah menemui Ahab, raja Israel yang di Samaria. Ia ada di kebun anggur Nabot. Ia pergi ke sana untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya. 19 Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Setelah membunuh, masih juga engkau merampas? Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu.

1 Raja-raja 21:17 dimulai dengan Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, sebuah ungkapan yang mirip dengan pernyataan Elia dalam 17:2 dan 18:1. Ini menunjukkan bahwa firman TUHAN datang kepada Elia tiga kali, dan ketiga kalinya menyangkut Ahab. Dengan demikian, dalam keseluruhan narasi Elia, kita menemukan setidaknya tiga contoh yang menunjukkan bahwa Elia bertindak sesuai dengan perintah TUHAN. Ketiga contoh ini ditemukan dalam pasal 17, 18, dan 21.

Ayat 21:18, tercatat bagaimana TUHAN memberi dua kata kerja perintah kepada Elia, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai: Bangunlah! Turunlah untuk menemui Ahab, raja Israel. Perintah bangunlah! secara harfiah sesuai dengan perintah Izebel kepada Ahab (1 Raj. 21:15 Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu, menjadi milikmu. …). Setelah Izebel memerintahkan Ahab untuk bangun dan mengambil alih kebun anggur Nabot, TUHAN memerintahkan Elia untuk bangun dan menemui Ahab. Bersamaan dengan itu, teks tersebut menggunakan Turunlah! untuk menggambarkan perintah kedua Allah kepada Elia. Karena Yizre’el adalah dataran utara, seseorang harus turun jika bepergian dari lokasi yang lebih tinggi, seperti barat atau tengah Kanaan. Lebih lanjut, ayat 18 menggambarkan Ahab sebagai raja Israel dan di Samaria. Kita ingat bahwa dalam pasal 21, ayat 1 Ahab digambarkan sebagai raja Samaria, sebutan ini menyoroti identitas asli daerah asal Ahab, membandingkannya dengan identitas asli Nabot sebagai orang Yizre’el, sehingga menunjukkan bahwa Ahab seharusnya tidak merebut tanah leluhur orang lain. Namun, ayat 18 mencatat bahwa TUHAN menyebut Ahab raja Israel, menunjukkan bahwa identitasnya jabatannya adalah raja Israel, tetapi pada saat yang sama juga raja Samaria. Artinya, Ahab lahir dan tinggal di Samaria, dan itu sudah cukup baginya untuk menjadi raja Israel. Lalu mengapa ia perlu merebut tanah Yizre’el di luar Samaria?

Ayat 19 dua kali menggunakan frasa Beginilah firman TUHAN untuk menunjukkan dosa dan hukuman terhadap Ahab. Pertama, dosa Ahab adalah, Setelah membunuh, masih juga engkau merampas? Di sini kata membunuh adalah kata kerja yang sama yang digunakan dalam perintah keenam dari Sepuluh Perintah Allah, Jangan membunuh, dalam Keluaran 20:13 atau Ulangan 5:17, yang menunjukkan bahwa Ahab melanggar perintah keenam. Adapun merampas warisan, ini juga merupakan konsep penting dalam Ulangan. Hanya mereka yang menaati hukum dan perintah Allah yang dapat menerima warisan dari Allah (Ul. 5:31, 33), tetapi Ahab memperoleh warisan dengan melanggar Sepuluh Perintah Allah, yang merupakan dosa Ahab. Nubuat tentang darah Ahab yang dijilat anjing akan menggantikan nubuat tentang darah Nabot yang dijilat anjing, artinya darah Nabot tidak dijilat anjing; sebaliknya, darah Ahab akan dijilat anjing. Oleh karena itu, kunci untuk menafsirkan nubuat ini bukanlah tempat anjing menjilatnya, melainkan bahwa darah Ahab akan dijilat anjing (di mana pun itu).

Refleksi:
Ahab adalah raja Israel, dan kedudukannya seharusnya ditinggikan. Mengapa kemudian ia hanya fokus pada kebun anggur Nabot? Karena Ahab menumpahkan darah, ia harus menghadapi penghakiman timbal balik yang setimpal dari TUHAN: keluarga Ahab juga akan tertumpahkan darah. Bagaimana pembalasan setimpal semacam ini bisa menjadi awal dari rasa hormat kita kepada Allah?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:5-16

「Memakai hukum melanggar hukum」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:5-16 [TB2])
5 Izebel, istrinya, datang dan berkata kepadanya, Mengapa hatimu kesal sampai-sampai engkau tidak mau makan? 6 Jawab Ahab kepadanya, Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizre’el itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi, sahutnya, Aku tidak akan memberikan kebun anggurku itu kepadamu. 7 Kata Izebel, istrinya, kepadanya, Bukankah engkau sekarang yang berkuasa sebagai raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan hendaklah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu.
8 Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat-surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang tinggal sekota dengan Nabot. 9 Dalam surat-surat itu ditulisnya demikian, Umumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 10 Suruhlah juga dua orang durjana duduk menghadapinya, dan mereka harus menjadi saksi melawan dia, dengan mengatakan, Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati.
11 Orang-orang sekotanya, tua-tua dan pemuka-pemuka yang tinggal di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, sebagaimana tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka. 12 Mereka mengumumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 13 Kemudian dua orang durjana datang dan duduk menghadapi Nabot. Orang-orang durjana itu menjadi saksi melawan Nabot di depan rakyat, katanya, Nabot telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. 14 Setelah itu mereka mengutus orang kepada Izebel dengan kabar ini, Nabot sudah dilempari dengan batu sampai mati.
15 Segera sesudah mendengar bahwa Nabot sudah dilempari dengan batu sampai mati, Izebel berkata kepada Ahab, Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu, menjadi milikmu. Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati. 16 Mendengar bahwa Nabot sudah mati, Ahab bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

Perikop ini mencatat serangkaian tindakan Izebel untuk membunuh Nabot dan kemudian merebut kebun anggur Nabot untuk Ahab. Banyak aspek dari proses ini memerlukan interpretasi dalam kerangka Hukum Musa, termasuk pengaturan untuk saksi, pengadilan, dan eksekusi. Izebel menggunakan prosedur Musa untuk menganiaya Nabot, mengubah hukum menjadi alat politik di tangannya. Dia secara terang-terangan melanggar Sepuluh Perintah Allah, termasuk memberikan kesaksian palsu (Ul. 5:20), pembunuhan (Ul. 5:17), dan mencuri tanah orang lain (Ul. 5:19). Dia mengarang tuduhan dengan menggunakan tuntutan dua saksi (Ul. 17:6, 19:15), melanggar Sepuluh Perintah Allah dalam Ulangan melalui prosedur hukum, memanipulasi hukum untuk mencapai rencana pembunuhannya yang bermotivasi politik.

Dalam suratnya, Izebel menyatakan bahwa ia akan menyuruh dua orang durjana duduk berhadapan dengan Nabot (1 Raja – raja 21:10). Dalam bahasa aslinya, kedua durjana itu dapat diterjemahkan sebagai dua orang – anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness); dan frasa anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness) itu bisa difrasakan sebagai anak-anak Belial/the men of Belial (lihat KJV, ), Belial yang sama yang disebutkan Paulus dalam Surat 2 Korintus: Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? … (2 Kor. 6:15-16). Dalam Perjanjian Baru, Belial adalah nama lain untuk Setan, sedangkan dalam Perjanjian Lama, anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness) atau anak-anak Belial biasanya digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang: memimpin orang banyak untuk menyembah dewa-dewa lain yang tidak mereka kenal (Ul. 13:13; orang durjana), semaunya mengikuti keinginan mereka dan menginginkan hubungan seksual dengan orang lain (Hakim 19:22, 20:13」), kedua putra Eli (1 Sam. 2:12), dan mereka yang menghina Saul, orang yang diurapi TUHAN (1 Sam. 10:27). Teks Alkitab menggambarkan beberapa individu, termasuk Nabal (1 Sam. 25:17, 25), dan Seba bin Bikri, orang Benyamin yang mengutuk Daud (2 Sam. 20:1). Deskripsi ini menunjukkan bahwa anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness) atau anak-anak Belial merujuk kepada mereka yang secara moral korup, membenci Allah, dan mengutuk orang lain. Dan Izebel secara khusus meminta individu-individu semacam ini untuk digunakan sebagai saksi untuk menjebak Nabot, sehingga memenuhi persyaratan hukum dua atau tiga saksi (Ul. 17:6, 19:15). Dia menggunakan individu-individu yang secara moral bangkrut ini untuk menuduh Nabot yang saleh. Di sini, kita melihat ironi: Nabot, yang seharusnya tidak dikutuk, justru dikutuk; Mereka yang mengutuk orang lain dan tidak memiliki prinsip moral menjadi saksi yang menuduh orang lain. Pembalikan antara kebaikan dan kejahatan ini, pemutarbalikan antara benar dan salah, dengan sempurna mengungkapkan kepribadian dan kelicikan Izebel.

Menurut bahasa asli ayat 15, ketika Izebel mendengar bahwa Nabot telah dirajam sampai mati, ia segera memerintahkan Ahab dengan dua kata perintah: Bangunlah! Ambil alih kebun anggur Nabot orang Yizre’el! Fakta bahwa Izebel menggunakan kata-kata perintah untuk memerintah Ahab menunjukkan ketidakseimbangan kekuasaan di antara mereka; Izebel adalah orang yang memegang kendali, dan Ahab adalah orang yang menerima perintah. Ini menunjukkan bahwa Izebel yang bertanggung jawab, dan Ahab mungkin tidak tahu apa yang sedang dilakukan Izebel. Ia hanya tahu bahwa Nabot telah mati, tetapi ia mungkin tidak tahu mengapa Nabot meninggal, dan ia tidak bertanya, hanya mengikuti instruksi Izebel, seperti para tetua dan para pemuka. Kemudian, ayat 16 mencatat bahwa Ahab, mengikuti perintah Izebel, mengambil alih kebun anggur Nabot.

Refleksi:
Izebel menggunakan hukum untuk melanggar hukum, melakukan pembunuhan dan memfitnah orang benar sebagai orang berdosa. Distorsi antara benar dan salah ini mungkin merupakan fenomena umum dalam masyarakat modern. Bagaimana Anda dapat menjaga hati Anda tetap murni agar tidak jatuh ke dalam dosa Izebel? Bagaimana Anda akan menghadapi Izebel dalam masyarakat?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:1-4

「Pergi dengan hati kesal」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:1-4 [TB2])
1 Sesudah itu terjadilah peristiwa ini. Nabot, orang Yizre’el, mempunyai kebun anggur di Yizre’el, di samping istana Ahab, raja Samaria. 2 Berkatalah Ahab kepada Nabot, Berikanlah kebun anggurmu itu kepadaku untuk kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik sebagai gantinya. Tetapi, jika engkau anggap lebih baik, aku akan memberimu uang senilai harganya. 3 Jawab Nabot kepada Ahab, Kiranya TUHAN mencegah aku memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu! 4 Lalu Ahab masuk ke dalam istananya dengan hati kesal dan gusar karena perkataan yang diucapkan Nabot, orang Yizre’el itu, kepadanya, Aku tidak akan memberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku. Ia berbaring di tempat tidurnya sambil menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan.

Ayat 1 diterjemahkan secara literal adalah: Ada kebun anggur milik Nabot orang Yizre’el, yang terletak di Yizre’el. Penekanan pada kebun anggur ini menunjukkan bahwa pasal 21 adalah narasi tentang kebun anggur, dan bahwa kebun anggur ini milik Nabot orang Yizre’el, yang terletak di Yizre’el. Gema pengulangan antara orang Yizre’el dan Yizre’el dalam teks tersebut menggarisbawahi hubungan erat antara kelahiran Nabot dan warisan pusakanya, dan juga menunjukkan bahwa kebun anggur ini adalah tanah milik Nabot ini diwarisi dari leluhurnya; detail-detail ini menjadi informasi penting untuk pengembangan narasi selanjutnya.

Kebun anggur ini berada di samping istana Ahab. Bagaimana kita memahami istana Ahab yang terletak di Yizre’el? Ibu kota kerajaan Israel utara berada di Samaria, jadi Ahab seharusnya memiliki istana di sana. Namun, ia juga memiliki istana lain di Yizre’el, untuk liburannya atau keperluan lain. Kita melihat dari ayat-ayat lain bahwa Ahab memiliki tempat tinggal di Yizre’el, terutama setelah peristiwa di Gunung Karmel, ketika ia kembali ke tempat tinggalnya di sana (ayat 46); dan putra Ahab, Yoram, setelah terluka dalam pertempuran dengan Aram, juga kembali ke Yizre’el (2 Raj. 8:29, 9:15). Catatan-catatan ini menegaskan bahwa Ahab memiliki istana yang terletak di Yizre’el.

Ayat 2 mencatat tuntutan Ahab kepada Nabot. Bagian ini dimulai dengan Berikanlah kebun anggurmu itu kepadaku, yang dalam bahasa aslinya merupakan perintah, mewakili perintah kerajaan Ahab kepada Nabot mendesaknya memberikan kebun anggurnya kepadanya. Ini juga mencerminkan pandangan Ahab terhadap kebun anggur orang lain sebagai komoditas bisnis yang dapat diperdagangkan semata, yang dapat dibeli dan dijual secara bebas (tradable commodity). Ahab kemudian menyatakan bahwa keinginannya untuk memperoleh kebun anggur Nabot adalah untuk mengubahnya menjadi kebun sayur (גן־ירק). Dalam Kitab Ulangan, kata kebun sayur memiliki konotasi negatif: Sebab negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, bukanlah negeri seperti tanah Mesir, dari mana kamu keluar, yang setelah ditabur dengan benih harus kauairi dengan jerih payah, seakan-akan kebun sayur (Ul. 11:10). Artinya, kebun sayur melambangkan tanah Mesir, tempat orang Israel hidup sebagai budak. Sebaliknya, kebun anggur dalam Perjanjian Lama sering melambangkan Israel, yang dikasihi Allah (Yesaya 3:14, 5:1-2; Yeremia 12:10). Oleh karena itu, kontras antara kebun sayur dan kebun anggur lebih lanjut melambangkan kontras antara tanah Mesir dan tanah Kanaan (Tanah Perjanjian). Jika Israel bercita-cita untuk diubah menjadi kebun sayur seperti Mesir, maka mereka akan rusak, menjadi tanah tandus, pada akhirnya hanya cocok untuk kayu bakar — situasi yang mirip dengan perumpamaan tentang pohon anggur dan ranting-rantingnya dalam khotbah Yesus Kristus (Yohanes 15:1-10).

Ahab awalnya mengusulkan kesepakatan: kebun anggur kebun anggur yang lebih baik sebagai gantinya. Namun, ayat 3 mencatat tanggapan Nabot yang sederhana dan langsung kepada Ahab, tanpa adanya tawaran balasan atau negosiasi. Ia memulai dengan Kiranya TUHAN mencegah aku, teks bahasa aslinya dapat diterjemahkan sebagai Itu adalah penghujatan bagiku, yang berarti bahwa keinginan Ahab untuk membeli kebun anggur itu adalah penghujatan di mata Nabot, dan juga penghujatan di mata TUHAN. Ini sesuai dengan frasa di matamu (בעיניך) dalam ayat 2 Tetapi, jika engkau anggap lebih baik (di matamu), aku akan memberimu uang senilai harganya; Ahab berharap untuk memperoleh tanah itu melalui kesepakatan yang baik dengan Nabot di mata manusia, tetapi di mata Allah ini adalah jahat dan menghujat. Reaksi yang sangat berbeda dari kedua orang itu menciptakan kontras.

Terakhir, ayat 4 mencatat reaksi Ahab setelah mendengar jawaban Nabot, hatinya kesal dan gusar (סר וזעף), yang mengungkapkan kekhawatiran dan kejengkelan Ahab atas terganggunya rencananya, rasa kesal, tersinggung, dan bahkan amarah. Kata ini juga muncul dalam pasal 20, ayat 43, yang menggambarkan reaksi Ahab setelah mendengar penghakiman dan teguran nabi. Tampaknya Ahab kesal hati dan gusar setiap kali segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya; bahkan ketika kehendaknya bertentangan dengan perintah Allah, ia tetap merasa tersinggung dan marah.

Refleksi:
Rasa hormat takut Nabot kepada Allah dan kekesalan hati serta kegusaran Ahab membentuk sebuah kontras. Pelajaran apa yang dapat Anda ambil dari kontras ini?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.