Author Archives: lukasleo

About lukasleo

Aku percaya kepada Allah Khalik Langit dan Bumi. Allah TriTunggal yang Maha Esa. Alkitab adalah Firman Allah yang sempurna.

Yohanes 6:71

「Kesedihan atas hal yang dinubuatkan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:71 [TB2])
71 Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot. Sebab, dialah yang akan menyerahkan Yesus, walaupun dia seorang di antara kedua belas murid itu

Ini adalah catatan yang ditulis Yohanes bertahun-tahun kemudian, merenungkan masa lalu, dan dia secara khusus menyebutkan nama Yudas Iskariot. Ini adalah catatan nama tentang kehancuran. Yudas bukanlah orang luar; dia adalah seorang di antara kedua belas murid itu, ia pernah membagi roti, mengusir setan, dan mendengar ajaran Yesus yang paling pribadi.

Tragedi dalam bagian ini bukan hanya terletak pada kejahatan Yudas, tetapi pada jurang pemisah yang sangat besar antara awal sebelumnya dan mengkhianati. Seseorang yang dipilih oleh Kristus untuk masuk ke lingkaran inti tetapi pada akhirnya menjadi dalang pengkhianatan tersebut. Ini menggambarkan satu hal: kedekatan dengan inti kuasa keagamaan dan kemampuan menguasai kosakata teologis yang paling hebat, tidak menjamin ketenangan jiwa.

Ini adalah introspeksi yang menggelisahkan. Kita semua bisa menjadi Yudas. Jika kita mengikuti Yesus karena ambisi politik, atau untuk mendapatkan kekuasaan dalam sistem, kita sedang mengatur kehancuran kita sendiri. Tragedi Yudas mengingatkan kita bahwa yang paling ditakuti iman adalah keterasingan walaupun secara jarak begitu dekat. Hari ini, saat kita masih duduk di sisi Tuhan, marilah kita memeriksa dengan penuh kewaspadaan, apakah ketaatan kita dalam mengikut Yesus telah berubah.

Mohon Tuhan melindungi kita.

Refleksi:
1. Perhatikan kemurnian pelayanan Anda di gereja. Apakah ada saat ketika Anda menggunakan identitas Anda sebagai murid untuk mencapai kepentingan pribadi Anda sendiri (uang, kekuasaan, atau dikagumi)? Ketika keegoisan ini bertentangan dengan kehendak Tuhan, apakah Anda akan memilih untuk mengkhianati Dia?
2. Bayangkan kesedihan yang dirasakan Yohanes saat menulis kata-kata ini, kesedihan atas kemunduran rekannya dulu. Di lingkungan sosial Anda, apakah ada beberapa orang yang dulunya memimpin tetapi sekarang telah tersesat? Mohon panjatkan doa khusus untuk mereka (dan untuk diri Anda sendiri), bukan untuk kesuksesan, tetapi untuk keteguhan tidak berubah hati mereka.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 6:70

「Misteri pemilihan panggilan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:70 [TB2])
70 Jawab Yesus kepada mereka, Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun, salah seorang di antara kamu adalah Iblis.

Kata-kata ini, seperti sambaran petir yang menusuk, menghancurkan ilusi romantis kita tentang persekutuan. Yesus sendiri memecah keheningan: Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Tetapi bagian kedua dari perkataan-Nya itu sangat menakutkan: Namun, salah seorang di antara kamu adalah Iblis.

Ini mengungkapkan misteri yang mendalam dalam proses panggilan. Yesus memilih Yudas bukan karena Dia salah menilainya, atau karena Dia kurang berbelas kasih. Itu adalah tindakan kedaulatan, dan juga kesendirian tertinggi dalam Kristologi. Dalam memilih sahabat-Nya, Dia sekaligus memilih orang yang akan mengkhianati-Nya. Dengan demikian, bahkan dalam panggilan yang paling suci sekalipun, kejahatan yang korup seperti itu dibiarkan hidup berdampingan.

Ini juga mengingatkan kita untuk tidak memiliki pandangan naif dan idealis tentang komunitas keagamaan. Ada orang-orang kudus di gereja, dan pasti ada iblis. Pengkhianatan yang tersembunyi di dalam panggilan seringkali lebih merusak daripada penganiayaan eksternal; namun nada bicara Yesus tidak menunjukkan kepanikan, hanya penerimaan yang tenang karena telah melihat semuanya. Dia mengizinkan musuh-musuh untuk makan bersama-Nya karena Dia tahu bahwa bahkan motif jahat pun pada akhirnya tidak dapat menghalangi kehendak Allah yang mulia.

Kedaulatan Allah maha luas bahkan sampai mencakup kedaulatan-Nya atas iblis.

Refleksi:
1. Ketika Anda menemukan skandal atau pengkhianatan iblis di dalam diri seorang penatua rohani yang sangat Anda percayai, atau di dalam komunitas gereja terkasih Anda, apakah Anda mempertanyakan panggilan Allah? Jika bahkan salah satu dari dua belas murid Yesus adalah iblis, bagaimana hal ini dapat membentuk kembali harapan Anda tentang gereja ideal?
2. Cobalah jujur menghadapi diri batin Anda: Jika ada dorongan (benih Yudas) yang tersembunyi di dalam diri Anda yang siap mengkhianati Kristus demi keuntungan pribadi, bagaimana Anda bermaksud menggunakan frasa Yesus sudah tahu untuk melakukan percakapan jujur dengan-Nya hari ini?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 6:69

「Antara tahu dan percaya」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:69 [TB2])
69 Kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.

Ayat ini mengungkapkan tatanan iman yang menarik: Kami telah percaya dan tahu … Dalam logika sekuler, kita harus terlebih dahulu mengetahui sebelum kita dapat percaya; tetapi dalam logika Allah, orang sering kali hanya setelah mereka menyerahkan kedaulatan diri mereka melalui iman barulah dapat benar-benar tahu siapa Dia.

Petrus, atas nama kedua belas murid, membuat pernyataan di sini, sebuah pernyataan tentang keyakinan percaya setelah mengalami. Di sini tahu itu mengandung pemahaman yang subjektif, mendalam, dan bahkan intim. Mereka tidak mempelajari proposisi kalimat-kalimat teologis, tetapi sebaliknya, dalam perjalanan mereka mengikuti Dia, mereka telah secara pribadi menyaksikan bagaimana Yang Kudus dari Allah menembus kegelapan dan kehausan.

Kesalahan umum yang kita lakukan adalah mencoba untuk meneliti dan mempelajari sepenuhnya terhadap Tuhan sebelum memutuskan untuk mengikuti-Nya; tetapi Yesus mengundang kita ke dalam petualangan ini. Iman bukanlah akumulasi pengetahuan, tetapi harmoni hidup bersama Dia. Hanya ketika kita percaya dan bersedia mempertaruhkan hidup kita pada firman-Nya, pengetahuan sejati tentang siapa Dia akan terbuka bagi kita. Kita tidak perlu menjadi teolog terlebih dahulu; kita hanya perlu menjadi pengikut.

Pertama adalah iman percaya, kemudian tahu.

Refleksi:
1. Apakah Anda terjebak dalam jalan buntu, mencoba membuktikan keberadaan Tuhan dan menyelesaikan semua pertanyaan teologis, yang membuat Anda ragu untuk mengambil langkah pertama? Jika Anda melepaskan beban mengetahui dan hanya iman percaya pada firman-Nya, bagaimana langkah Anda akan berubah hari ini?
2. Jika menengok kembali perjalanan Anda menuju Kristus, pengetahuan apa tentang Tuhan yang tidak Anda pelajari di dalam kenyamanan ruang kelas, melainkan Anda ketahui selama petualangan hebat dalam hidup iman?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 6:68

「Kepada siapakah kami akan pergi?」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:68 [TB2])
68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya, Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal.

Jawaban Petrus bukanlah pernyataan romantis, melainkan kesadaran timbul dari keputusasaan. Dia tidak berkata, Tuhan, kami sangat mengasihi-Mu, juga tidak berkata, Tuhan, firman-Mu sangat benar. Dia menggunakan pertanyaan yang sangat realistis: kepada siapakah kami akan pergi? Inilah satu-satunya arah setelah semua kemungkinan lain dikesampingkan.

Petrus memahami esensi dari kata-kata: hidup yang kekal (ῥήματα ζωῆς αἰωνίου, rhēmata zōēs aiōniou). Ini bukanlah informasi tentang pergi ke surga setelah kematian, melainkan satu-satunya kata yang dapat menghasilkan kuasa transformatif untuk kehidupan dalam realitas yang rusak dan fana ini. Pesan tersirat Petrus adalah: dunia luar mungkin ramai, tetapi tidak ada kehidupan; tradisi keagamaan mungkin mapan, tetapi tidak ada roh. Tidak ada tempat lain di dunia ini selain Engkau yang dapat menawarkan antidot untuk kehidupan.

Inilah esensi iman. Kita tinggal (tidak mengundurkan diri) bukan karena kita sepenuhnya memahami Yesus, tetapi karena kita mencium aroma kehidupan dalam firman-Nya. Ketika kita mendapati jalan iman sulit, ketika dunia penuh dengan godaan, pertanyaan Petrus, kepada siapakah kami akan pergi? Siapa yang akan kita ikuti? seharusnya menjadi jangkar kita. Ini bukanlah perbandingan siapa yang lebih baik, tetapi pilihan hidup dan mati tentang di mana kehidupan ditemukan.

Tidak ada cara lain.

Refleksi:
1. Ketika Anda sedang berada di titik terendah dalam hidup atau mengalami kebingungan dalam iman, apakah Anda pernah mencoba mencari jawaban dari tempat-tempat di luar Kristus? Seperti kesuksesan, hiburan, atau bahkan filosofi keagamaan lainnya? Apakah pelarian itu pada akhirnya membuat Anda merasa lebih puas atau lebih hampa?
2. Cobalah tuliskan, selain Yesus, apa yang paling menarik bagi Anda hari ini, sesuatu yang bahkan membuat Anda berpikir, Tidak ada salahnya untuk mengikutinya. Jika Anda membandingkannya dengan perkataan hidup yang kekal dari Yesus, pada titik krusial mana hal itu akan sepenuhnya gagal?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 6:67

「Satu pertanyaan krusial」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:67 [TB2])
67 Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, Apakah kamu mau pergi juga?

Jika kita berada di sana, kita akan merasakan keheningan yang mencekik. Berbalik badan secara kolektif itu seketika mengubah jalan yang tadinya ramai menjadi sepi. Yesus tidak mengejar orang-orang yang pergi itu; Dia bahkan tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan. Dia hanya berpaling kepada orang-orang terdekat-Nya dan mengajukan pertanyaan kepada mereka yang tanpa persiapan: Apakah kamu mau pergi juga?

Perhatikan kata ini: mau (θέλετε thelete). Yesus tidak bertanya tentang rencana perjalanan, tetapi tentang tekat. Yesus berkata: Mengikuti Aku, tidak pernah merupakan kewajiban agama, apalagi emosional ikut emosi massal. Jika kita tetap tinggal hanya karena kita malu untuk pergi atau terbiasa dengan kehidupan religius ini, maka keberadaan kita untuk tinggal adalah tidak memiliki makna. Kata-kata Yesus memeriksa menembus konsep kita mengikuti Dia yang kita biasa anggap sebagai hal normal.

Kita sering menyamakan tetap ikut bergereja adalah identik dengan mengikuti Kristus. Tetapi sebenarnya ada ketegangan besar antara keduanya — yaitu iman. Yesus tidak membutuhkan kerumunan penonton yang terkurung oleh mukjizat; Dia ingin kita melihat harga yang harus dibayar, menyaksikan gelombang kerumunan orang surut, dan kita tetap bertekad untuk berjalan bersama-Nya. Pertanyaan Yesus menarik kita keluar dari kerumunan, memaksa kita masing-masing untuk secara pribadi menghadapi Kristus yang sejati, sendirian.

Hanya tekat pribadi diri sendiri saja.

Refleksi:
1. Cobalah mengingat kapan terakhir kali Anda memaksa diri untuk menghadiri acara keagamaan. Apakah Anda sekadar memenuhi kontrak sosial, ataukah Anda benar-benar didorong oleh tekad batin yang tulus? Jika tidak ada orang lain yang memperhatikan Anda sekarang, apakah Anda masih akan berada bersama Yesus?
2. Bayangkan Yesus sedang berdiri di depan Anda sekarang, melihat kelelahan Anda dalam hidup, dan bertanya kepada Anda, Apakah Anda juga ingin pergi? Jangan terburu-buru memberikan jawaban standar! Pertama, rasakan dorongan sejati di dalam diri Anda, apakah ada cobaan untuk mundur selangkah, dan cobalah untuk memberi tahu Dia hal-hal apa yang sebenarnya yang tidak ingin Anda hadapi.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 6:66

「Kesunyian setelah gelombang surut」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:66 [TB2])
66 Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Ini adalah ayat yang membawakan makna seperti angin musim dingin yang bertiup menusuk. Yohanes menggunakan kata kerja yang sangat halus: mengundurkan diri (ἀπῆλθον εἰς τὰ ὀπίσω, apēlthon eis ta opisō), secara harfiah diterjemahkan sebagai berpaling berjalan mundur ke pihak belakang. Mereka yang sebelumnya pernah tergila-gila pada mukjizat, tetapi saat menghadapi kebenaran terlalu berat bagi mereka, maka kini memilih untuk membalikkan diri kembali pada asal mereka yakni yang datar biasa-biasa saja. Mereka bukan hanya mengambil jarak dimensi ruang, tetapi perpisahan jalan langit dan dunia dalam hidup.

Mereka tidak lagi mengikut Dia/tidak lagi berjalan bersama Dia (οὐκέτι μετ’ αὐτοῦ περιεπάτουν, ouketi met’ autou periepatoun), ini adalah pembersihan nilai-nilai inti. Tetapi Yesus tidak pernah mau menurunkan standar kebenaran demi mempertahankan massa, ketika Yesus menolak menjadi mesias konsumeris semacam itu, mereka yang hanya mencari berkat roti dan mentega pasti akan mengundurkan diri dan pergi, gelombang air surut adalah hal yang pasti.

Inilah persimpangan iman. Kita harus jujur bertanya pada diri sendiri: apakah saya tetap tinggal karena ingin mendapatkan keuntungan, atau karena kita mengenal Kristus ini? Yesus membiarkan orang-orang itu mengundurkan diri karena Dia tahu bahwa mengikuti tanpa karunia Bapa hanyalah ilusi keagamaan. Hari ini, saat kita menyaksikan kerumunan bubar, dapatkah dalam keheningan itu kita masih mendengar langkah kaki jiwa kita sendiri yang memilih untuk terus bergerak maju mengikut?

Murni hanya mengikuti.

Refleksi:
1. Jika Tuhan dengan jelas memberi tahu Anda hari ini bahwa mengikuti Dia tidak akan membawa peningkatan apa pun dalam keuangan, kesehatan, atau relasi bisnis Anda, dan bahkan mungkin menyebabkan Anda kehilangan lingkaran sosial Anda saat ini, mohon tuliskan secara spesifik apa satu-satunya alasan Anda untuk tetap berjalan bersama Yesus, dengan mengesampingkan manfaat materi tersebut.
2. Amati terakhir kali Anda undur diri — dorongan untuk kembali ke keadaan dahulu yang datar dan menghindari tuntutan kebenaran. Seperti apakah sebenarnya bentuk godaan yang menarik Anda berpaling ke belakang?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 6:65

「Kuasa karunia」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:65 [TB2])
65 Lalu Ia berkata, Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau tidak dikaruniakan Bapa kepadanya.

Perkataan ini adalah tanggapan teologis dari Yesus terhadap semacam ketidakpercayaan massal. Kedengarannya seperti kesimpulan yang berat: mereka yang dapat datang kepada-Ku (ἐλθεῖν πρός με, elthein pros me) adalah sebuah karunia (δεδομένον dedomenon). Yesus secara langsung membalikkan pandangan kita tentang jasa: iman bukanlah keputusan manusia, melainkan kuasa gaya tarik dari atas ke bawah dari kedaulatan Bapa.

Inilah paradoks Injil. Kita berpikir kitalah yang memutuskan untuk mengikuti Yesus, tetapi Yesus menunjukkan bahwa jika Allah Bapa tidak secara pribadi mengangkat kita, kita tidak akan sampai kepada-Nya. Ini bukan berarti memarginalkan siapa pun, tetapi menghancurkan kesombongan manusia. Kita dapat percaya bukan karena kita lebih pintar atau lebih peka daripada orang lain, tetapi semata-mata karena kita telah menerima karunia yang sebenarnya tidak layak kita terima.

Pandangan tentang karunia ini merupakan penyetabil iman. Ketika iman kita goyah, kita harus ingat: kita mengikut Yesus bukan mengandalkan antusiasme kita, tetapi oleh karunia Allah Bapa. Jika bukan dimulai oleh Bapa, kita tidak akan bertahan satu hari pun. Iman, dari awal hingga akhir, adalah kuasa gaya tarik ilahi yang berdaulat itu.

Inilah kedaulatan Allah.

Refleksi:
1. Ketika Anda melihat orang-orang yang tersandung di jalan iman, apakah reaksi pertama Anda adalah menilai keunggulan diri sendiri, atau dengan gemetar menyadari bahwa Anda saat ini mampu berdiri teguh hanya karena Anda ditahan oleh kekuatan kuasa gaya tarik ilahi dari Allah itu?
2. Periksalah pencapaian spiritual baru-baru ini yang membuat Anda bangga. Cobalah untuk menelusuri asal-usulnya dan lihat apakah ada bagian darinya yang Anda peroleh dari usaha Anda sendiri, atau apakah itu semua karena kekuatan kuasa agung Allah Bapa.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 6:64

「Tidak percaya yang transparan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:64 [TB2])
64 Namun, di antaramu ada yang tidak percaya. Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.

Ini adalah detail yang membuat orang tidak tenteram. Yohanes menulis: Yesus tahu dari semula (ἐξ ἀρχῆς ex archēs). Ini berarti bahwa sementara para murid masih bertukar basa-basi dan makan siang bersama, Yesus telah melihat melalui mata mereka yang penuh harap dan melihat lapisan ketidakpercayaan yang tipis, namun sekeras batu.

Kita harus memahami bahwa ketidakpercayaan terdalam seringkali terjadi bukan di antara kaum ateis, tetapi di antaramu. Gerakan-gerakan keagamaan yang paling umum terkadang merupakan kedok terbaik untuk ketidakpercayaan. Yesus tidak langsung mengungkapkannya; sebaliknya, Dia membiarkan orang yang akan mengkhianati-Nya tetap berada dalam kelompok. Ini adalah keheningan yang sakral, dan juga kejujuran yang paling menusuk tentang sifat manusia.

Bagi Yesus, semua akting profesional itu tidak perlu. Dia tidak membutuhkan kita untuk berpura-pura beriman; Dia menginginkan keaslian kita. Ketika Dia berkata, Namun, di antaramu ada yang tidak percaya, sebenarnya Dia sedang mengundang semua orang: berhentilah bersembunyi. Iman bukanlah pertunjukan iman, tetapi anugerah diterima oleh Dia bahkan setelah Dia menembus melihat semuanya.

Pengetahuan ilahi adalah penghakiman terbesar terhadap kemunafikan.

Refleksi:
1. Mari kita jujur pada diri sendiri: Pada saat kita paling antusias dan berbicara paling spiritual, apakah ada sudut dingin dan keras yang tersembunyi jauh di dalam diri kita yang sama sekali tidak percaya pada campur tangan Tuhan? Seperti apa tepatnya sudut itu?
2. Karena Yesus sudah tahu dari semula tentang akting diri kita, mari kita mencoba untuk menghentikan semua retorika kata-kata indah keagamaan profesional dalam doa hari ini dan sampaikan kepada-Nya secara langsung, dengan bahasa yang paling kasar, ketidakpercayaan diri kita yang sebenarnya.


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 6:63

「Kegagalan daging」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:63 [TB2])
63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

Berikut adalah pernyataan yang sangat langsung: daging sama sekali tidak berguna (ἡ σὰρξ οὐκ ὠφελεῖ οὐδέν, hē sarx ouk ōphelei ouden). Yesus bukan menganjurkan dualisme roh dan daging, melainkan mendefinisikan ulang kehidupan. Setelah mukjizat memberi makan lima ribu orang, orang banyak mencari keberlanjutan fisik; tetapi Yesus menolak hal ini, dengan menunjukkan bahwa tanpa roh (τὸ πνεῦμά, to pneuma) yang memberi kehidupan, semua kepuasan lahiriah pada akhirnya hanyalah kesia-siaan.

Kita sering kali unggul dalam mengembangkan iman kedagingan — pertemuan-pertemuan yang indah, pelayanan yang lancar, dan kata-kata rohani penuh retorika yang mengagumkan orang — dengan berpikir bahwa ini adalah kehidupan itu sendiri. Tetapi Yesus dengan jujur mengungkapkan bahwa hal-hal ini tidak bermanfaat bagi kehidupan itu sendiri. Yang benar-benar mengaktifkan kehidupan adalah Firman yang menjadi roh kehidupan, Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

Kita tidak mencari informasi, melainkan resonansi roh. Ketika Yesus berkata bahwa firman-Nya adalah hidup, Ia mengajak kita untuk beralih dari mengonsumsi mukjizat kepada menikmati kebenaran. Jika firman-Nya tidak kita izinkan menyentuh bagian terdalam jiwa kita, maka firman itu tidak bermanfaat bagi kita. Berhentilah mengejar kepuasan fisik; kejarlah roh yang memungkinkan kita untuk hidup dari dalam.

Hanya kata-kata Yesus.

Refleksi:
1. Renungkan kehidupan gereja Anda minggu ini (pelayanan, kegiatan kelompok kecil, pertemuan). Jika Anda menyingkirkan semua kesenangan sosial dan rasa pencapaian religius, seberapa banyak perasaan hidup yang sesungguhnya yang tersisa dalam roh Anda?
2. Bayangkan Anda saat ini berada dalam keadaan kesepian dan kesusahan yang mendalam, tanpa aktivitas keagamaan eksternal. Pada saat ini, ayat firman Tuhan mana yang pernah bergema dalam hidup Anda yang benar-benar dapat menjadi satu-satunya motivasi bagi Anda untuk hidup?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 6:62

「Perpindahan Kemuliaan」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 6:62 [TB2])
62 Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?

Di sini Yesus tidak sedang mengajukan teka-teki teologis, melainkan sebuah sindiran teologis yang mendalam. Beberapa saat sebelumnya, para murid bersungut-sungut merasa terguncang (Τοῦτο ὑμᾶς σκανδαλίζει, Touto hymas skandalizei) dengan perbuatan makan daging dan minum darah, merasa bahwa kata-kata ini terlalu materialistis dan terlalu sulit untuk dicerna, Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?; tetapi pada saat ini Yesus menunjuk pada masa depan yang lebih besar dan bertanya: Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik (ἀναβαίνοντα anabainonta) ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?

Ini adalah ketegangan tentang perpindahan. Kita terbiasa dengan kerendahan hati Inkarnasi Firman menjadi manusia, terbiasa dengan Yesus yang nyata dan dapat didiskusikan; tetapi Kenaikan ke Surga mengingatkan kita pada dimensi yang terlupakan: Dia datang dari kekekalan dan kembali ke kekekalan. Jika kita tidak dapat menerima kata-kata-Nya yang sulit di bumi, itu karena pada dasarnya kita tidak mengenali asal usul-Nya.

Kesulitan terbesar dalam iman seringkali adalah kita menyederhanakan Tuhan. Kita mencoba membatasi-Nya dalam logika kita sendiri, tetapi Dia menunjuk ke takhta-Nya dan berkata kepada kita: Dia bukan berasal dari sini, bukan termasuk dunia. Ketika Anda merasa pernyataan ini sangat sulit, cobalah memandang ke atas kepada Anak Manusia yang kembali pada asal-Nya penuh kemuliaan. Hanya ketika kita melihat awal dan akhir surgawi itulah kita dapat menemukan keberanian untuk berdiri teguh di tengah kebingungan kita saat ini.

Inilah Injil.

Refleksi:
1. Cobalah mengingat kapan terakhir kali Anda merasa sangat kecewa pada Tuhan. Apakah Anda menuntut agar Dia menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan logika sempit Anda? Jika Anda menempatkan dilema itu kembali ke dalam dimensi takhta kemuliaan -Nya, bagaimana kekecewaan itu akan berubah sesuatu yang lain?
2. Berapa persentase dari doa harian Anda yang meminta Tuhan untuk turun agar sesuai dengan rencana hidup Anda, lebih daripada meminta-Nya untuk menuntun Anda naik menuju perspektif kekal-Nya?


Renungan pemahaman Injil Yohanes 6:62-7:24
Renungan pemahaman Injil Yohanes

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.