Tag Archives: Pengharapan

Efesus 2:11-13

「Orang luar」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 2:11-13 [ITB])
11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu sebagai orang-orang non-Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya sunat, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, 12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. 13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu jauh, sudah menjadi dekat oleh darah Kristus.

Efesus pasal 2 secara jelas dibagi menjadi dua bagian, yakni 2:1-10 (klik untuk membaca) membahas arti keselamatan pada tingkat individu, dan 2:11-22 membahas makna keselamatan dalam komunitas. Struktur dasar kedua bagian itu sama, pertama menyatakan kondisi sebelum keselamatan, kemudian menunjukkan tindakan yang telah dilakukan Allah dalam karya keselamatan ini, dan terakhir membahas identitas orang percaya saat ini.

Di ayat 2:11-12, Paulus menunjukkan bahwa orang non-Yahudi sebelum percaya kepada Tuhan Yesus berada di luar pintu dan tidak memiliki bagian dengan umat pilihan Allah. Di sini digunakan metode mengingatkan dan retrospeksi untuk menunjukkan situasi dahulu, kata ingatlah (μνημονεύετε mnēmoneuete) adalah satu-satunya kata kerja yang diungkapkan memakai bentuk perintah dalam Efesus 1 sampai pasal 3. Di satu sisi, ini mencerminkan bahwa ketiga bab ini utamanya bersifat pendidikan doktrinal. Di sisi lain, bentuk kata kerja perintah ini menunjukkan bahwa isinya adalah sesuatu yang seharusnya sudah diketahui oleh orang percaya beriman.

Ketika Paulus mengingatkan bahwa mereka adalah non-Yahudi, dia menambahkan dua suplemen. Pertama-tama, dia menunjukkan bahwa mereka adalah non-Yahudi menurut daging, yang mengungkapkan bahwa identitas non-Yahudi hanyalah gagasan jasmaniah, keadaan eksternal. Selain itu, mereka disebut tak bersunat. Terjemahan Mandarin RCUV tidak secara langsung menerjemahkan kata disebut sebagai (λεγόμενοι, λεγομένης legómenoi, legomenēs) yang muncul berulang kali dalam teks bahasa aslinya, hanya diekspresikan menggunakan tanda baca, (ITB telah menerjemahkan dengan tepat). Ungkapan yang disebut memiliki arti bahwa sebutan ini hanya tambahan, dan hanyalah merupakan sudut pandang manusia, bukan mencerminkan identitas aslinya. Digunakannya sebutan itu mencerminkan bahwa mereka didiskriminasi dan ditolak di luar pintu.

Ayat 2:12 lebih lanjut menggunakan lima kelompok kata untuk menggambarkan kondisi orang non-Yahudi ini sebelum mereka percaya. Waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia, mereka tidak memiliki sangkut paut relasi dengan Kristus, ini bukan membicarakan bahwa mereka berada di luar Kristus, karena semua orang sebelum mereka percaya kepada Tuhan Yesus berada di luar Kristus, tetapi itu menunjukkan bahwa mereka berada di luar pengharapan Kristus. Orang-orang Yahudi yang belum percaya sudah memiliki harapan akan kedatangan Mesias, tetapi orang-orang non-Yahudi yang belum percaya bahkan tidak memiliki harapan atas Juruselamat, mereka terpisah dari Israel umat pilihan dan tidak memiliki hak untuk ikut ambil bagian dalam perjanjian yang dijanjikan, tidak ada harapan, tidak ada Allah. Penjelasan terakhir ini tidak berarti bahwa mereka adalah ateis, mereka boleh menyembah para dewa, tetapi mereka tidak mengenal Allah yang satu-satunya.

Meski begitu, ayat 2:13 menunjukkan bahwa di dalam Yesus Kristus status mereka telah berubah. Mereka yang dahulu jauh dan ditolak kini sudah menjadi yang dekat. Alasan perubahan ini diungkapkan dalam dua frasa preposisi paralel dalam teks bahasa aslinya. Dalam terjemahan Mandarin RCUV dan sebagian besar terjemahan, frasa pertama digunakan sebagai bersifat tempat yakni di dalam Kristus Yesus (ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ en Christo Iesou), sedangkan frasa kedua diterjemahkan sebagai instrumental yakni oleh darah Kristus (ἐν τῷ αἵματι τοῦ Χριστοῦ en tó haimati Christoú). Terjemahan ini mencerminkan bahwa preposisi memiliki banyak makna. Di satu sisi, di dalam Kristus mengungkapkan hubungan kita dengan Yesus Kristus, dan di sisi lain, itu juga menunjukkan ketergantungan kita kepada-Nya, kita adalah melalui Dia dan di dalam Dia, kita dipindahkan dari situasi yang jauh masuk ke situasi yang dekat.

Renungkan:
Keselamatan kita tidak hanya pengampunan dosa pribadi kita, tetapi juga di bawa masuk ke dalam komunitas yang penuh harapan. Oleh karena itu, kita harus menghargai hubungan kita dengan komunitas ini.

(Tambahan penerjemah: apa yang bisa kita lakukan sebagai anggota dari komunitas Tubuh Kristus? Pertimbangkan satu atau dua bentuk kongkret yang hendak Anda lakukan untuk komunitas Tubuh Kristus ini.)


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 3:19-21

「Dari kesedihan beralih kepada pengharapan」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 3:19-21 [ITB])
19 Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.
20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap

Kemarin di ayat 18 kita membaca tentang keputusasaan, tetapi ayat 21 tiba-tiba menunjukkan bahwa ada harapan di hati, dari ayat 18 sampai ayat 21 adalah jarak yang pendek hanya tiga ayat, penyair Ratapan menggambarkan keputusasaan sampai kepada harapan, mengapa ini terjadi? Kuncinya terletak pada kata ingat.

Kata ingat yang pertama dalam teks bahasa asli adalah aku mengingat (Ratapan 3:19), dan kata ingat yang kedua dalam teks bahasa asli adalah jiwaku mengingat (Ratapan 3:20), kedua kata ingat ini dapat juga diterjemahkan sebagai mohon engkau ingat (lihat ITB ayat 19 Ingatlah akan sengsaraku …), satu penulisan kata ini bisa memiliki dua tujuan, kedua kata ingat di satu sisi bersifat deskriptif yakni menjelaskan bahwa aku mengingat, dan di sisi lain juga merupakan seruan kepada Tuhan, sebuah doa memohon agar Allah mengingat. Dalam teks bahasa asli, dua kemungkinan ini ada pada waktu yang bersamaan. Oleh karena itu di satu sisi penyair ratapan mengingat bahwa dirinya dalam kesengsaraan dan keterasingan pengembaraan, seperti kegetiran ipuh dan racun (ayat 19), di sisi lain penyair ratapan juga berseru sekaligus berdoa kepada Tuhan untuk mengingat dirinya yang seperti kegetiran ipuh dan racun (ayat 19), dua sikap ini tidak serta merta berlawanan, tetapi satu kata dua makna, menunjukkan doa kepada Allah dan ingatan penyair Ratapan sendiri, memunculkan keadaan paradoks yaitu pengharapan dalam keadaan tanpa pengharapan, iman kepada Allah dalam keputusasaan. Di satu sisi penyair Ratapan menganggap hukuman tangan Tuhan sedang tertuju kepada dirinya maka dia mengingat penderitaan dirinya sendiri, di sisi lain dia tetap berdoa mohon Tuhan mengingat, ia percaya Tuhan akan merespons. Ini adalah pengharapan dalam keputusasaan yang terkait di ayat 18.

Namun dalam kontradiksi dan tarikan tegangan ini, di ayat 20 penyair Ratapan tetap mengemukakan sebuah pengakuan, dalam bahasa aslinya adalah ingat dengan kepastian, kata ini dapat diterjemahkan sebagai engkau pasti akan mengingat, yang artinya dalam hati pikiran penyair Ratapan, Tuhan pasti tidak akan mencampakkan dirinya, Dia sungguh dan pasti akan mengingat akan segala hal tentang diri penyair Ratapan, yaitu situasi pahit seperti ipuh dan racun. Ternyata dalam penderitaan, Tuhan mengingat (Tuhan memperhatikan) itu menjadi kepastian iman dari penyair Ratapan, sekaligus penggerak dirinya untuk berubah dari keputusasaan menjadi harapan. Ketika seseorang dalam keadaan sangat menderita, orang tersebut memahami bahwa semua perhatian ingat dari manusia sudah tidak penting lagi, hanya ketika TUHAN Pengendali kehidupan dan Maha berdaulat mengingat dirinya, dalam penderitaan ia dapat memiliki harapan pasti. Harapan semacam ini bukanlah apa yang dialami dan dirasakan penyair Ratapan, tetapi pengakuan iman, pengakuan bahwa Tuhan mengingat (Tuhan memperhatikan), penderitaan tetap sama, tidak berubah membaik, hukuman tetap berat, tetapi penyair Ratapan masih bisa memiliki pengharapan.

Renungkan:
Ketika Yesus Kristus dipaku di kayu salib, seorang tahanan yang disalibkan di sampingnya berdoa agar Yesus Kristus akan mengingatnya ketika Dia datang ke Kerajaan Allah. Ternyata Tuhan mengingat (Tuhan memperhatikan) adalah doa mendesak setiap orang yang menghadapi kematian, karena penderitaan memaksa seseorang untuk memikirkan apa yang penting dan apa yang bisa diabaikan, sehingga orang akan memahami bahwa Tuhan mengingat adalah sumber pengharapan yang paling utama dan sejati ketika kematian mendekat, merupakan sesuatu yang tidak dapat dirampas oleh kematian dan penderitaan. Di zaman di mana penderitaan menjadi hal rutin, dapatkah Anda mengaku dengan pasti terhadap fakta bahwa Tuhan mengingat, dan menemukan harapan dalam keputusasaan?

Tambahan penerjemah: bacalah renungan Ratapan 3:1-18 (klik untuk membuka) yang terkait dengan Mazmur 23, lalu renungkan dalam kaitkan dengan intisari renungan hari ini.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Zefanya 2:4-15

「Meninggikan Diri akan Direndahkan」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Zefanya 2:4-15 [ITB])
4 Sebab Gaza akan ditinggalkan orang dan Askelon akan menjadi sunyi; Asdod akan dihalau penduduknya pada rembang tengah hari dan Ekron akan dibongkar-bangkirkan. 5 Celakalah kamu penduduk Daerah Tepi Laut, kamu bangsa Kreti! Terhadap kamulah firman TUHAN ini: Hai Kanaan, tanah orang Filistin! Aku akan membinasakan engkau, sehingga tidak ada lagi pendudukmu. 6 Daerah Tepi Laut akan menjadi tempat kediaman bagi gembala-gembala dan kandang berpagar bagi kambing domba. 7 Daerah Pinggir Laut akan menjadi kepunyaan sisa-sisa kaum Yehuda. Mereka akan merumput di sana dan berbaring di rumah-rumah Askelon pada malam hari; sebab TUHAN, Allah mereka, akan memperhatikan mereka dan akan memulihkan keadaan mereka.

8 Aku telah mendengar pencelaan dari pihak Moab dan kata-kata nista dari pihak bani Amon, bagaimana mereka mencela umat-Ku dan membesarkan dirinya terhadap daerah umat-Ku itu. 9 Sebab itu, demi Aku yang hidup–demikianlah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel–maka Moab akan menjadi seperti Sodom dan bani Amon seperti Gomora, yakni menjadi padang jeruju dan tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi sampai selama-lamanya. Sisa-sisa umat-Ku akan menjarah mereka dan yang masih tinggal dari bangsa-Ku itu akan memiliki mereka sebagai warisan. 10 Inilah yang menjadi bagian mereka sebagai ganti kecongkakan mereka, sebab mereka telah mencela dan membesarkan diri terhadap umat TUHAN semesta alam. 11 TUHAN akan mendahsyatkan mereka, sebab Ia akan melenyapkan para allah di bumi, dan kepada-Nya akan sujud menyembah setiap bangsa daerah pesisir, masing-masing dari tempatnya.

12 Kamupun, hai orang Etiopia, akan mati tertikam oleh pedang-Ku.

13 Ia akan mengacungkan tangan-Nya terhadap Utara, akan membinasakan Asyur, dan akan membuat Niniwe menjadi tempat yang sunyi sepi, kering seperti padang gurun. 14 Dan di tengah-tengahnya akan berbaring kawanan binatang, yakni segala macam binatang hutan; baik burung undan maupun burung bangau akan bermalam di hulu tiangnya; burung ponggok akan berbunyi di tingkap, burung gagak di ambang pintu: Pemapan dari kayu aras telah tersingkap! 15 Itulah kota yang beria-ria yang penduduknya begitu tenteram dan yang berkata dalam hatinya: Hanya ada aku dan tidak ada yang lain! Betapa dia sudah menjadi tempat yang tandus, tempat pembaringan bagi binatang-binatang liar. Setiap orang yang lewat dari padanya akan bersuit dan mengayun-ayunkan tangannya.

… menjadi padang jeruju dan tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi …

Dalam perikop ini, nabi Zefanya menunjukkan bahwa bangsa-bangsa di sekitarnya juga akan menghadapi penghukuman karena dosa-dosa mereka. Perkembangan ini menggemakan berita yang telah Zefanya sampaikan di ayat 1:2-3, menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) akan melaksanakan penghakiman atas seluruh bumi. Poin ini juga akan diulangi lagi di ayat 3:6-8, sehingga hukuman atas Yehuda harus didasarkan pada latar belakang penghakiman Allah atas di seluruh bumi. Negara-negara yang tercantum di sini mungkin mencerminkan negara-negara di daerah Timur Dekat pada akhir abad 7 SM, mereka semua akan dikalahkan oleh Babel satu per satu setelah kebangkitan Babel.

Yang pertama dalam daftar penghakiman adalah negara-kota dan suku bangsa di daerah pesisir. Ayat 2:4 Dengan cara pengucapan yang berirama, mengumumkan penghakiman atas empat kota di pesisir dari selatan ke utara, penghakiman yang akan dihadapi setiap kota dalam pengucapannya mirip dengan nama kota. Jadi fokusnya mungkin bukan pada apa yang akan terjadi pada empat kota ini, tetapi hendak menunjukkan bahwa mereka akan mengalami penghakiman yang sebagaimana yang seharusnya mereka terima. Kota-kota pesisir ini pada awalnya padat penduduk dan kaya akan kegiatan perdagangan, pada masa itu mereka termasuk tempat yang punya kekuasaan kuat, tetapi di bawah penghakiman mereka menjadi tempat yang tidak berpenghuni. Dalam 2:7, nabi Zefanya secara khusus menyebutkan sisa-sisa Yehuda dan bahwa TUHAN akan membawa mereka kembali dari pembuangan, sehingga dalam hukuman yang menyeluruh atas muka bumi ini mereka masih tetap memiliki harapan.

Dalam 2:8-11, nabi Zefanya berpindah fokus dari kota-kota pesisir barat beralih kepada Moab dan Amon di timur. Menurut kitab Kejadian, orang Moab dan Amon merupakan keturunan Lot (keponakan Abraham), tetapi sepanjang sejarah mereka terus memusuhi Israel. Kitab Suci berulang kali menunjukkan kesombongan mereka, menghina umat milik TUHAN Allah semesta alam, dan memamerkan kebanggaan mereka. Penghakiman TUHAN atas mereka adalah bahwa tanah mereka dihancurkan sepenuhnya seperti Sodom dan Gomora, menjadi hanya padang jeruju dan tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi sampai selama-lamanya (KBBI: Jeruju adalah tumbuhan semak yang batang dan daunnya berduri-duri melengkung dan tajam). Ayat 2:9 menyebutkan sisa-sisa umat-Ku dan yang masih tinggal dari bangsa-Ku, sekali lagi kepada pembaca menunjukkan adanya pengharapan dalam penghakiman.

Ayat 2:12-15, nabi Zefanya bergerak dari negara-negara di dekat Yehuda di timur dan barat Yehuda beralih ke utara dan selatan yang agak jauh. Terhadap Cush di selatan, hanya ada pernyataan sederhana, tetapi terhadap Asyur di utara, terdapat deskripsi yang lebih rinci. Khususnya dalam ayat 15 yang menuliskan sikap di dalam hati mereka: Hanya ada aku dan tidak ada yang lain selain aku! jelas mencerminkan peninggian diri mereka. Asyur adalah negara terbesar di daerah Timur Dekat di masa akhir abad 8 hingga akhir abad 7 SM, dan semua bangsa dan kerajaan berada di bawah kuasa pengaruhnya. Yehuda tidak lepas dari kendali kekuasaan Asyur sampai zaman Yosia. Mereka memiliki kekuatan militer yang kuat, dan ibukota Niniwe memiliki pertahanan yang sangat baik, tetapi dalam penghakiman TUHAN, mereka masih tidak dapat melepaskan diri dari kehancuran.

Renungkan:
Dalam perikop ini, kita melihat bahwa banyak negara yang berpikir mereka kuat dan memiliki kekuatan perdagangan, politik, dan militer yang sangat kuat, tetapi semua telah dihapuskan dalam penghakiman TUHAN dan menjadi objek tertawaan saja. Yesus Kristus pernah berkata, Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Lukas 14:11), semoga kita semua dapat belajar menjadi rendah hati dalam hidup kita.


Renungan pemahaman Kitab Zefanya

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Mikha 7:1-7

「Berharap kepada Allah」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Mikha 7:1-7 [ITB])
1Celaka aku! Sebab keadaanku seperti pada pengumpulan buah-buahan musim kemarau, seperti pada pemetikan susulan buah anggur: tidak ada buah anggur untuk dimakan, atau buah ara yang kusukai. 2Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. 3Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan! 4Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka! 5Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! 6Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
7Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!

Ayat 7:1 tampaknya menandai perubahan peran, mengekspresikan respons dari nabi Mikha sendiri. Di antara 7:1-7, nabi Mikha menyatakan perbedaan antara dirinya dan rakyat, dan juga melalui perbandingan ini menunjukkan tingkat kerusakan korupnya rakyat. Di sini, nabi Mikha dengan mendalam mengungkapkan kekecewaannya terhadap Israel, seolah-olah orang pergi ke kebun saat musim panen di musim panas, berpikir dapat menikmati buah-buahan hasil panen, tetapi ketika tiba, yang ditemukan adalah bahwa semua buah telah habis dipanen, dan tidak ada tersisa apa-apa di pohon yang bisa dimakan, hanya bisa kecewa dan pulang. Nabi Mikha di sini menggunakan kata yang jarang digunakan dalam Perjanjian Lama untuk mengungkapkan perasaannya, yakni kata celakalah aku yang hanya muncul sekali lagi dalam kitab Ayub 10:15, Ayub menyatakan keadaannya yang tanpa harapan, nabi Mikha mungkin juga merasakan hal yang sama tentang masyarakat di zamannya itu. Seperti yang dia katakan di ayat 7:2 orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia Seperti yang ditunjukkan dalam dua buah mazmur yang hampir sepenuhnya diulangi, dalam Mazmur 14:1 dan 53:1 busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik. Dan Paulus lebih lanjut menunjukkan dalam surat Roma: Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.

Ayat 7:3-6 melanjutkan menggambarkan keruntuhan masyarakat pada waktu itu, ayat 3-4 adalah keruntuhan sistem hukum, dan ayat 5-6 adalah keruntuhan hubungan keluarga. Ketika orang yang sedang memegang jabatan (petahana) meminta suap, dan orang-orang berpangkat tinggi berkolusi satu sama lain (begitulah mereka bersekongkol bersama-sama BIMK), orang-orang hanya dirampok, tidak diberikan keputusan yang adil dan benar, hanya ada kekacauan di masyarakat. Nabi Mikha menggambarkannya bahwa yang paling lurus pun seperti pagar duri, semuanya kacau dan tidak ada hukum, dan tidak dapat ditemukan jalan lurus. Ayat 7:5-6 lebih lanjut menggambarkan keruntuhan masyarakat ini, bahwa bahkan orang terdekat pun tidak dapat memiliki rasa saling percaya, bahkan ia menunjukkan bahwa musuh orang adalah orang di keluarganya sendiri. Ini bisa dibilang tragedi terbesar dalam hidup.

Di ayat 7:7, nabi Mikha beralih dari berita gugatan terhadap Israel dan kekecewaannya terhadap generasi pada zaman itu, beralih kepada pernyataan imannya sendiri. Tetapi aku adalah tanggapannya terhadap generasi saat itu. Ketika lingkungan sekitar penuh dengan kegelapan, orang-orang tidak dapat dipercaya, dan tidak ada rasa hormat takut kepada Allah, ketika masyarakat sedemikian dikendalikan oleh dosa dan dipimpin oleh kebencian, nabi Mikha dengan jelas menyatakan pendiriannya yang berlawanan dengan masyarakat, bahwa ia akan berharap kepada TUHAN (Yahweh), menunggu Allah menyelamatkannya. Karena dia masih percaya bahwa Allahnya akan menjawab dia, dan harapannya di hadapan Allah pasti akan digenapkan.

Sulit untuk berdiri melawan masyarakat karena posisi iman kita, karena apa yang kita imani bukanlah sesuatu yang dapat dilihat langsung dan instan segera dialami. Tetapi kita memiliki harapan untuk melampaui, karena kita memiliki Tuhan yang melampaui segalanya.

Renungkan:
Kita mungkin kecewa dengan masyarakat kita, tetapi kita masih membutuhkan harapan kepada Tuhan. Ketika kita tidak dapat melakukan apa pun, kita harus ingat bahwa Tuhan masih berkuasa dan Dia masih bekerja.


Renungan pemahaman Kitab Mikha

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yoel 2:1-17

「Sepenuh Hati Kembali kepada TUHAN」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yoel 2:1-17 [ITB])
1 Tiuplah sangkakala di Sion dan berteriaklah di gunung-Ku yang kudus! Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri, sebab hari TUHAN datang, sebab hari itu sudah dekat; 2 suatu hari gelap gulita dan kelam kabut, suatu hari berawan dan kelam pekat; seperti fajar di atas gunung-gunung terbentang suatu bangsa yang banyak dan kuat, yang serupa itu tidak pernah ada sejak purbakala, dan tidak akan ada lagi sesudah itu turun-temurun, pada masa yang akan datang. 3 Di depannya api memakan habis, di belakangnya nyala api berkobar. Tanah di depannya seperti Taman Eden, tetapi di belakangnya padang gurun tandus, dan sama sekali tidak ada yang dapat luput. 4 Rupanya seperti kuda, dan seperti kuda balapan mereka berlari. 5 Seperti gemertaknya kereta-kereta, mereka melompat-lompat di atas puncak gunung-gunung; seperti geletiknya nyala api yang memakan habis jerami; seperti suatu bangsa yang kuat, teratur barisannya untuk berperang. 6 Terhadapnya bangsa-bangsa gemetar, segala muka bertambah menjadi pucat pasi. 7 Seperti pahlawan mereka berlari, seperti prajurit mereka naik tembok; dan mereka masing-masing berjalan terus dengan tidak membelok dari jalannya; 8 mereka tidak berdesak-desakan, mereka berjalan terus masing-masing di jalannya; mereka menerobos pertahanan dengan tombak, mereka tidak membiarkan barisannya terputus. 9 Mereka menyerbu ke dalam kota, mereka berlari ke atas tembok, mereka memanjat ke dalam rumah-rumah, mereka masuk melalui jendela-jendela seperti pencuri. 10 Di depannya bumi gemetar, langit bergoncang; matahari dan bulan menjadi gelap, dan bintang-bintang menghilangkan cahayanya. 11 Dan TUHAN memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya. Pasukan-Nya sangat banyak dan pelaksana firman-Nya kuat. Betapa hebat dan sangat dahsyat hari TUHAN! Siapakah yang dapat menahannya?

12 Tetapi sekarang juga, demikianlah firman TUHAN, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. 13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. 14 Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu. 15 Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; 16 kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya; 17 baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?

wabah belalang gambaran segera datang 「hari TUHAN」, 「berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu …」

Pasal pertama dari Kitab Yoel terutama retrospektif melihat ke belakang atau masa lampau, bahwa bencana yang baru saja lewat memanggil orang-orang untuk kembali ke hadapan TUHAN (Yahweh), dengan menangis dan berkabung mencari rahmat anugerah Tuhan. Dalam pasal 2 ayat 1-11, nabi Yoel sekali lagi menggunakan wabah belalang gambaran hari TUHAN yang segera datang. Jika hanya sebatas melihat dari ekspresi perikop ini saja, sulit untuk menentukan apakah bencana belalang yang dijelaskan di sini adalah metafora atas pasukan penjajah. Di satu sisi, kita tidak dapat berpendapat bahwa ini bukan belalang karena yang dijelaskan di sini lebih merusak daripada belalang yang sebenarnya. Di sisi lain, kita tidak dapat karena ekspresi dalam ayat 5 seperti suatu bangsa yang kuat, teratur barisannya untuk berperanglalu kita pikir ini pasti bukan tentara (kata seperti). Karena dalam Kitab Ulangan, dalam pernyataan tentang penghakiman yang akan dihadapi Israel jika mereka melanggar perjanjian dengan TUHAN (Yahweh) mengaitkan belalang dan musuh asing secara bersama, dan di sini juga secara bersamaan menyebutkan belalang dan musuh asing.

Namun bagaimanapun kita menjelaskan bencana yang digambarkan dalam paragraf ini, pesan dasarnya tetap sama. Nabi Yoel menggunakan cara retrospektif terhadap sejarah sebagai dasar untuk memberitakan bahwa penghakiman segera akan datang. Penghakiman ini akan membawa kehancuran besar, bahkan melampaui apa yang orang bayangkan (ingat sebelumnya kita mengatakan tidak dapat berpendapat bahwa ini bukan belalang karena yang dijelaskan di sini lebih merusak daripada belalang yang sebenarnya). Nabi Yoel menggambarkan ini sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi seperti yang demikian sejak zaman kuno, dan yang tidak pernah sampai semua generasi. Dengan keadaan penghakiman yang seperti itu, orang-orang hanya bisa gemetar dan bertambah menjadi pucat pasi, karena betapa hebat dan sangat dahsyat hari TUHAN! Siapakah yang dapat menahannya? (ayat 11)

Ayat 12-13 adalah kunci perikop ini. Nabi Yoel dengan nada serius, menunjukkan tanggapan yang sepatutnya dari orang. Dalam teks bahasa aslinya (ITB juga sesuai), setelah frasa Tetapi sekarang juga, segera diikuti dengan demikianlah firman TUHAN (Yahweh) menyatakan bahwa ini adalah penglihatan / pewahyuan yang penuh otoritas Allah, merupakan tuntutan-Nya kepada manusia. Dalam dua ayat ini, berulang kali dinyatakan bahwa orang-orang harus berbalik kepada TUHAN (Yahweh) dan kembali kepada-Nya dengan sepenuh hati. Bukan sekadar memanifestasikan pertobatan dari melalui ekspresi jubah luar berpuasa, menangis, meratap, dan merobek pakaian, tetapi dengan hati yang remuk kembali kepada Tuhan. Bagian kedua dari ayat 13 merupakan kutipan dari Keluaran 34:6-7, berdasarkan pernyataan wahyu dari TUHAN (Yahweh) tentang diri-Nya di sana, sehingga mereka dapat mengenal dan beriman bahwa TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah serta teguh kasih-Nya dan setia-Nya, yang mau mengubah untuk mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa sehingga tidak menurunkan bencana. Karena iman yang merasakan kepastian dan mengakui seperti itu, orang yang merupakan milik Allah bahkan dalam kesulitan yang ekstrem dapat datang kepada Allah dengan penuh harapan, memohon rahmat anugerah-Nya, meminta Ia mengingat dan merawat umat-Nya. (Sambungkan dengan renungan kemarin: bahwa di dalam kesulitan kita makin mengenal Allah)

Renungkan:
Apakah kita merasakan kepastian dan mengakui bahwa Tuhan adalah Allah kita, dan dengan kepastian kokoh percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang berbelaskasihan dan rahmat anugerah? Dalam situasi sulit, kita harus kembali kepada hadirat Tuhan, memegang erat janji-Nya, memohon keselamatan dari Tuhan bagi kita, bagi bangsa kita, dan bagi seluruh umat manusia.


Renungan pemahaman Kitab Yoel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:3-5 (3)

「Pada Saat yang Sama, Menantikan Tuhan, juga Bekerja Sekuat Tenaga」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:3-5 [ITB])
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, 4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. 5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

Kemarin, kita sudah merenungkan bahwa bagian / warisan yang Allah telah persiapkan bagi kita bukanlah apa yang bisa binasa, bukanlah yang dapat cemar dan bukanlah yang dapat layu (degradasi). Hanya dengan iman ini barulah kita dapat melepaskan tradisi kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, masuk ke hal-hal baru yang Allah ingin kita lakukan, dan agar kita memahami kembali inti esensi sejati dari Injil untuk dibawakan kepada zaman generasi yang berbeda.

Kita sampai pada klausa partisipatif (participle clause) terakhir dalam kalimat puji-pujian ini:

Ayat 5 Di bawah kuasa besar Allah, (kamu) yang dilindungi adalah melalui iman, sampai keselamatan dinyatakan secara keseluruhan di akhir zaman. (Terjemahan penulis)

Pertama-tama, apa yang ingin kita renungkan adalah iman? Apa hubungan antara iman dan kuasa besar Allah?

Berdasarkan analisis teks bahasa aslinya, frasa διὰ πίστεως diá písteos dapat dipahami sebagai melalui iman orang percaya, dan kata iman ini sesuai konteks ayat sebelumnya adalah merujuk iman atas kebangkitan Yesus Kristus, Kristus yang bangkit dapat membuat orang melampaui cara berpikir dan tradisi spiritual yang hanya melihat yang di dunia, agar memiliki iman bahwa bagian warisan yang sesungguhnya bukanlah tanah yang berada di dunia, asalkan orang dengan sungguh hati beriman maka dapat menerobos batasan pikirannya sendiri. Dan hanya berada di dalam perlindungan kuasa besar Allah (ἐν δυνάμει Θεοῦ en dunámei Theoú) barulah iman seseorang bisa terus bertahan melampaui pembatasan pikiran diri sendiri, bahkan dalam penderitaan yang tidak bisa kita pahami, masih bisa benar-benar percaya akan apa yang tidak terlihat di depan mata saja, apa yang harus dipertahankan, yakni: keselamatan sejati yang dinyatakan secara keseluruhan pada zaman akhir. Tidak terjerat dalam kebiasaan spiritual yang berpola pikir terkait dunia saja.

Selanjutnya, kita akan merenungkan hubungan antara kata keselamatan dinyatakan secara keseluruhan (σωτηρίαν ἑτοίμην sotirían etoímin) dan akhir zaman (καιρῷ ἐσχάτῳ kairó escháto)

Bagi Petrus, penyingkapan (diberitahukan kepada manusia melalui Injil) dan dinyatakannya keselamatan yang sejati adalah untuk memungkinkan orang-orang percaya di zaman akhir mengerti serta benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan kebangkitan Yesus dan duduk di sisi kanan Bapa, kata keseluruhan / lengkap (ἑτοίμην etoímin) menunjukkan bahwa anugerah keselamatan ini telah digenapi secara lengkap di antara orang-orang percaya, jadi yang ingin diungkapkan Petrus adalah: keselamatan sejati hanya dapat dihayati pada akhir zaman, tetapi keselamatan ini telah sepenuhnya tercapai (digenapi). Dengan kata lain, keselamatan tidak pernah hanya merupakan pengharapan yang dilihat dengan sudut pandang akhir zaman kelak saja, karena keselamatan sudah digenapi secara lengkap di antara kita, zaman yang sekarang dan akhir zaman bersinggungan. Mengingatkan kita agar tidak hanya hidup untuk dunia dan sekarang ini saja (harus melihat yang kelak, ayat 5 sampai keselamatan dinyatakan secara keseluruhan di akhir zaman), namun pada saat yang sama juga mengajarkan agar saat ini hidup di dunia harus sudah menyatakan dan menghidupi karakter keselamatan yang telah sepenuhnya digenapi itu (bukan hanya menunggu kelak saja). Ini merupakan pemahaman penafsiran dan sudut pandang berbeda dibandingkan pandangan akhir zaman dari orang-orang perjanjian lama (yang membatasi diri mereka memandang janji itu sebagai tanah yang ada di dunia saja),

Dan kita orang percaya harus hidup dalam iman paradoks ini, terus menerus melatih dan mengingatkan diri kita sendiri untuk berusaha pada saat hidup di dunia sekarang ini adalah demi yang di atas yang surgawi, tetapi pada saat yang sama hidup di dunia ini adalah dengan sungguh-sungguh melakukan hal-hal nyata (bukan hanya berharap pada yang kelak tanpa berbuat apa-apa yang nyata).

Renungkan:
Sering kali, kita sering jatuh ke dalam pergumulan dan tunggu yang Tuhan turun tangan bekerja, terutama ketika kita kehabisan kekuatan dan kebijaksanaan. Menunggu Allah tentu saja tidak perlu diragukan, tetapi ingat ada kuasa Tuhan dan keselamatan yang sudah digenapi yang dapat membuat orang bertahan untuk melakukan hal-hal baru bagi Tuhan di zaman yang tidak mudah ini, tidak sampai jatuh menyerah.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:3-5 (2)

「Mengikuti Kebiasaan atau Memahami ulang」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:3-5 [ITB])
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, 4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. 5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

Kemarin, kita telah merenungkan klausa pertama dari ketiga klausa partisipatif. Di dalam zaman yang tanpa harapan, penuh penindasan dan kebohongan ini, kelahiran kembali – sepenuhnya mengubah sikap kita terhadap kehidupan – akan membawakan harapan hidup. Dan menurut tata bahasa Yunani, kelahiran kembali ini tidak hanya membawa harapan tetapi juga akan membawakan suatu bagian / warisan inheritance (κληρονομίαν).

Ayat 4 untuk menerima bagian (warisan) yang tidak bisa rusak, tidak cemar, dan tidak degradasi, yakni bagi kita di simpan di surga. (Terjemahan penulis)

Untuk memahami ayat ini, kita harus memahami konsep teologis dalam Perjanjian Lama tentang kata bagian / warisan (κληρονομίαν) dan harapan orang percaya pada abad pertama. Bagian / warisan adalah kata benda yang khusus dipakai untuk janji yang Allah berikan kepada orang-orang Ibrani untuk tinggal di Kanaan, ini menjelaskan fondasi iman orang Israel, tanpa kehadiran penyertaan dan perlindungan pemeliharaan Allah, tidak akan dapat berdiri selama ini tidak tumbang dalam situasi penuh ancaman dan berbagai serangan, jadi bagi orang Yahudi, warisan tanah Kanaan ini menjadi tradisi turun menurun yang sakral dan tidak dapat diganggu gugat.

Namun, ketika Yerusalem dihancurkan pada abad ke-6 S.M dan orang-orang Yahudi ditawan ke tempat asing, tradisi tentang bagian warisan tanah Kanaan ini masih bertahan hingga abad pertama A.D (bisa dikatakan hingga abad ke-21 hari ini), mereka tetap berharap suatu hari bisa mendapatkan kembali ke tanah warisan ini.

Dalam konteks latar belakang ini, ditambah dengan penolakan Caesar Romawi terhadap orang-orang Yahudi, Petrus harus berjuang untuk mengajarkan kepada orang-orang percaya Yahudi agar berhenti hanya berkutat dalam tradisi tentang bagian warisan tanah kanaan ini, maka Petrus menggunakan tiga kata sifat yang sangat khusus (alpha-privative adjectives): tidak bisa rusak ἄφθαρτον , tidak cemar ἀμίαντον, dan tidak degradasi ἀμάραντον, untuk menggambarkan bagian / warisan dari Yesus Kristus bukan merupakan tanah yang dijanjikan di bumi, karena tanah di bumi ini akan rusak, tercemar, dan terdegradasi, tetapi anugerah keselamatan Yesus Kristus adalah tentang warisan surgawi yang disimpan di surga bagi orang-orang percaya, maka jangan hanya berkutat dalam tradisi legendaris tentang warisan tanah di bumi.

Petrus menggunakan kata τετηρημένην / tersimpan (bentuk perfect participle) untuk menekankan bahwa warisan surgawi ini disediakan untuk kita oleh Allah sendiri, menghendaki agar mata kita tidak hanya terfokus mengharapkan bagian di bumi, tetapi untuk belajar teladan Yesus, Dia mengorbankan diri-Nya di kayu salib, bangkit dari kematian, naik ke surga, dan mempersiapkan tempat bagi kita mendapatkan bagian / warisan yang abadi.

Renungkan:
Injil Yesus Kristus menjungkirbalikan pikiran manusia, dan menafsirkan kembali (reinterpretation) tradisi legendaris tentang warisan tanah di bumi itu. Hari ini, tradisi spiritual yang ingin kita pelajari bukan sekedar menceritakan ulang contoh-contoh kisah dari Alkitab (scriptural example), tetapi memahami inti esensi ajaran dalam Alkitab, untuk dipahami dan diaplikasikan ulang sesuai untuk zaman sekarang ini (reinterpretation) (Bukan sekedar melakukannya secara harafiah apa adanya tanpa memahami esensi kebenaran rohani yang terkandung, dan melanjutkan tradisi legendaris harafiah budaya Timur dekat zaman kuno)

Tidak pernah mudah untuk melepaskan tradisi legendaris tentang warisan tanah di bumi, Petrus benar-benar berusaha keras melakukan interpretasi dan aplikasi ulang. Berharap bahwa di era yang sangat kompleks ini, kita akan bisa saling mendorong: melihat apa yang tidak kelihatan di depan mata, dan tidak hanya memikirkan ide-ide tradisi kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:3-5 (1)

「Lahir Baru selalu Dihayati saat dalam Aniaya」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:3-5 [ITB])
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, 4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. 5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

Dalam paragraf pujian kepada Allah dan Bapa Yesus Kristus ini, Petrus menggunakan tiga bentuk tata bahasa klausa partisipatif (participle clauses) untuk menuliskan isi pujian dan alasannya.

Karena rahmat belas kasihan-Nya yang besar, Dia melahirkan kembali kita ke dalam harapan akan hidup yang kekal, dan melalui kebangkitan Yesus Kristus dari kematian (Terjemahan penulis)

Dalam klausa partisipatif pertama, kita menemukan bahwa keselamatan Yesus Kristus adalah rahmat dan anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada kita, ketika kita mendengarnya kita akan merasa sangat masuk akal dan tidak ada kontroversi. Tetapi ketika kita membahas secara bersamaan dua ayat pertama dari perikop Alkitab ini, kita akan mengerti bahwa kebangkitan Yesus Kristus tidak membawa orang-orang Yahudi keluar dari kehidupan sebagai pelancong (tamu menumpang) yang berkelanjutan, mereka masih dianiaya oleh orang bangsa lain, dan setiap hari mereka hidup dibawah penghinaan dipandang rendah. Keselamatan ini tidak seperti yang diharapkan oleh orang-orang Yahudi, yang berpikir bahwa pada zaman akhir, orang-orang Yahudi dapat merdeka dan kedua belas suku kembali ke tanah yang dijanjikan, sehingga mereka dapat hidup terbebas dari ketakutan terhadap musuh.

Jika latar belakang 1 Petrus adalah Claudius Caesar Romawi (tahun 41-54 A.D), maka itu adalah masa ketika orang Kristen Yahudi diusir keluar dari Roma, di dalam masa pengusiran selama 10 tahun lebih, orang Kristen Yahudi menerima banyak penganiayaan dan kesulitan, dalam keadaan itu adalah masalah yang sangat sulit bagaimana mereka teguh mempertahankan iman atas kuasa Injil Kristus dan masih dapat memberitakan realitas kenyataan keselamatan-Nya.

Petrus menuliskan ini sebagai keselamatan kelahiran kembali, kata aslinya ἀναγεννήσας tidak pernah muncul dalam bagian Perjanjian Baru lainnya, hanya disebutkan dalam surat 1 Petrus. Makna dari kata ini adalah tentang pembaruan dan perubahan hidup secara total, menunjukkan bahwa bagi Petrus, Injil Juruselamat yang dijanjikan ini tidak seperti yang dipikirkan orang Yahudi. Meskipun Yesus Kristus yang membawa keselamatan ke dunia telah bangkit dari kematian, dunia masih tetap sama tidak berubah, ketidakadilan dan tanpa kebenaran dari rezim Romawi tidak hilang, bahkan makin meningkat dan lebih mematikan. Untuk menerima semua ini, dan untuk mendorong orang-orang percaya untuk terus bergerak maju, kelahiran kembali inilah yang dituliskan Petrus, mengharapkan pembaca menggunakan sikap yang sudah dirubahkan total untuk menghadapi realitas kekejaman rezim yang semena-mena itu.

Ya, dalam menghadapi kesedihan, kematian, dan keputus-asaan orang-orang Kristen Yahudi abad pertama yang terserak, tampaknya tidak ada cara untuk menunggu kedatangan kembali Tuhan Yesus, Petrus menggunakan kata hidup ζῶσαν untuk menggambarkan harapan (ἐλπίδα) (ayat 3suatu hidup yang penuh pengharapan), ternyata harapan hidup bukanlah hanya dihayati ketika dapat melihat jalan di depan, tetapi di zaman yang sulit, lingkungan yang tampaknya putus asa, harapan hidup di dalam kelahiran kembali membuat orang berubah total, tidak lagi hanya berkutat dalam pertimbangan demi diri sendiri, tetapi menghidupi kelahiran kembali dan harapan yang digenapi kayu salib.

Renungkan:
Jika setiap hari menghadapi banyak hal-hal yang membuat hati terluka dan menjadi dingin, hati sepertinya dijerat dan dibelenggu hal-hal tersebut, tolong jangan terkena tipuannya, jangan jatuh ke dalam kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, tetapi beriman bahwa kelahiran kembali yang Anda terima berpadanan harapan hidup. Dengan demikian, iman Kristen dapat melakukan hal-hal baru untuk Tuhan dalam situasi sulit di negara kita tinggal atau keadaan epidemi global, bukankah demikian?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 4:13-18 (2)

「Saat Tuhan Datang Lagi」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Tes. 4:13-18 [ITB])
13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. 14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. 15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. 16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; 17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. 18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.

Ayat 4:15-17, dengan sungguh-sungguh Paulus memberi tahu orang Tesalonika bahwa kata-katanya sepenuhnya datang dari Yesus: 「Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan …」 (terjemahan CUV “apa yang Tuhan katakan kepada kami untuk katakan” atau ISV “what the Lord has told us to say”).

Ketika Yesus datang dari surga adalah saat langit dan bumi bergetar. Paulus menggambarkannya sebagai pengumuman waktu tanda diberi (perintah panggilan berkumpul), yang merupakan pengumuman megah dan besar, seperti dalam kebiasaan kuno bahasa Mandarin Yang Mulia Hadir, disertai dengan seruan penghulu malaikat dan suara sangkakala (ada juga yang berpendapat bahwa seruan penghulu malaikat dan sangkakala Allah berbunyi bersama-sama menjadi waktu tanda diberi (perintah panggilan berkumpul), dua suara menjelaskan waktu tanda diberi). Deskripsi Paulus ini sejalan dengan pemberitahuan Yesus Kristus tentang hari akhir. Yesus berkata: Jangan percaya pesan siapa pun bahwa Kristus kembali. Jika Kristus datang kembali, itu pasti bukan sembunyi-sembunyi, tetapi sangkakala yang dahsyat bunyinya, dan akan tepat pada waktunya diketahui oleh semua orang di dunia, tidak mungkin hanya beberapa orang yang tahu, sementara yang lain masih terperangkap dalam ketidaktahuan (Mat. 24:26-28)
Pada saat ini, orang-orang Kristen yang mati akan segera dibangkitkan, pertama-tama mereka akan bertemu dengan Yesus yang datang. Kemudian orang-orang Kristen yang belum mati di bumi akan diangkat ke awan, bersama orang yang sudah meninggal, bertemu Yesus, dan akan bersama untuk selamanya.
Sebutan penghulu malaikat memiliki kata petunjuk yang pasti dan merujuk pada Mikhael. Dia disebutkan dalam Yudas 9 dan Wahyu 12:7. Juga disebutkan dalam Henokh 25 tulisan di antara dua Perjanjian. Namanya dapat ditelusuri kembali ke kitab Daniel 12:1 dalam terjemahan Septuaginta.
Yang ingin ditekankan oleh Paulus adalah bahwa tidak perlu khawatir tentang orang Kristen yang sudah mati bahwa ketika Yesus datang mereka tidak bersama Tuhan, mereka bahkan akan lebih awal bertemu dengan Tuhan daripada mereka yang masih hidup.
Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini (4:18) adalah kata-kata penghiburan Paulus kepada orang-orang percaya.

Sekali lagi, kita melihat bahwa Paulus tidak berniat membicarakan teori-teori teologis yang kompleks kepada kelompok orang percaya ini, tujuan awal dalam surat ini dia hanya membantu orang percaya untuk mengingat kembali kebenaran yang sudah pernah diajarkan kepada mereka, tetapi di sini ia membuat pengecualian dan berbicara tentang beberapa kebenaran yang belum ia ajarkan sebelumnya, itu murni karena mereka menghadapi kesulitan yang disebabkan oleh beberapa pemahaman yang menyimpang. Dan fokus Paulus tetap bukanlah pengajaran doktrinal, tetapi penggembalaan (pastoral), ia hendak menghapus kesedihan mereka yang sebenarnya tidak perlu dan memberi mereka penghiburan.

Renungkan:
Pemahaman akhir zaman (Eskatologi) Kristen sering menjadi subyek yang paling menarik perhatian, yaitu, saat ini kita mungkin tidak memiliki kerinduan yang mendesak akan datangnya hari akhir, tapi rasa ingin tahu kita mungkin mendorong kita untuk dengan penuh semangat mengeksplorasi misteri hari akhir. Ceramah tentang hari akhir pernah menjadi proyek yang paling populer, dan ajaran sesat yang disebabkan oleh masalah hari akhir tidak ada kurangnya, dan tidak ada hentinya di gereja di berbagai zaman dan tempat.

Penulis renungan di sini bukan meminta kita untuk mengurangi harapan kita atas hari akhir. Tetapi yang dikhawatirkan adalah bahwa gereja hari ini berbicara dan membayangkan terlalu banyak tentang hari akhir, dan menimbulkan banyak kontroversi, namun harapan hari akhir tidak meningkat. Pembicaraan hari akhir hanya menjadi topik diskusi setelah makan kenyang, tetapi tidak membentuk pandangan hidup dan pandangan dunia, tidak mempengaruhi nilai-nilai dan gaya hidup kita. Kita berbicara tentang akhir zaman, tetapi kita tidak berusaha menjadi orang-orang kudus hari akhir. (Oh, jangan tercampur dan berpikir yang dibicarakan ini bagian dari bidat tertentu, tetapi kita juga tidak boleh membiarkan sebutan orang kudus hari akhir diambil para bidat tersebut!)

Dalam banyak Alkitab, Paulus berbicara tentang hari akhir dan kehidupan kekal, seperti dalam 1 Tesalonika dan 1 Korintus. Dia menunjukkan bahwa tanpa pengharapan atas hari akhir maka kehidupan Kristen adalah yang paling kasihan dan paling miskin, dan kekristenan tidak layak bagi iman kita. Namun, Paulus tidak memberi kita gambaran lengkap tentang hari akhir, hanya membuat beberapa pengakuan iman sederhana: Yesus Kristus pasti akan kembali, mengakhiri segala sesuatu di bumi, menghakimi yang hidup dan yang mati, dan kemudian membawa mereka yang percaya ke Kerajaan yang sama sekali berbeda, sehingga mereka memiliki kehidupan kekal yang sama sekali berbeda dari hari ini. Ia tidak memberikan penjelasan apa pun mengenai kapan hari akhir dan situasi khusus dari langit baru dan bumi baru,. Mungkin ia sendiri belum diberi wahyu penyingkapan oleh Tuhan!

Iman atas hari akhir adalah pengakuan iman dan pengharapan.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 36:4-10

「Kepada Siapa Kau Berharap?」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 36:4-10 [ITB])
4 Lalu berkatalah juru minuman agung kepada mereka: 『「Baiklah katakan kepada Hizkia: Beginilah kata raja agung, raja Asyur: Kepercayaan macam apakah yang kaupegang ini? 5 Kaukira bahwa hanya ucapan bibir saja dapat merupakan rencana dan kekuatan untuk perang! Sekarang, kepada siapa engkau berharap, maka engkau memberontak terhadap aku? 6 Sesungguhnya, engkau berharap kepada tongkat bambu yang patah terkulai itu, yaitu Mesir, yang akan menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang kepadanya. Begitulah keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua orang yang berharap kepadanya.
7 Dan apabila engkau berkata kepadaku: Kami berharap kepada TUHAN, Allah kami, — bukankah Dia itu yang bukit-bukit pengorbanan-Nya dan mezbah-mezbah-Nya telah dijauhkan oleh Hizkia sambil berkata kepada Yehuda dan Yerusalem: Di depan mezbah inilah kamu harus sujud menyembah! 8 Maka sekarang, baiklah bertaruh dengan tuanku, raja Asyur: Aku akan memberikan dua ribu ekor kuda kepadamu, jika engkau sanggup memberikan dari pihakmu orang-orang yang mengendarainya. 9 Bagaimanakah mungkin engkau memukul mundur satu orang perwira tuanku yang paling kecil? Padahal engkau berharap kepada Mesir dalam hal kereta dan orang-orang berkuda!
10 Sekarang pun, adakah di luar kehendak TUHAN aku maju melawan negeri ini untuk memusnahkannya? TUHAN telah berfirman kepadaku: Majulah menyerang negeri itu dan musnahkanlah itu!』」

Di awal Yesaya 36 dicatat ancaman invasi Asyur, seorang jenderal Asyur mengambil tempat di Yerusalem dekat saluran kolam atas di jalan raya pada Padang Tukang Penatu (ayat 2) bicara kepada para pejabat Yehuda (ayat 4-10). Ketika kita membaca dengan seksama perikop ini, kita akan menemukan bahwa kata 「berharap / percaya」 (batah) sangat sering muncul (ayat 4, 5, 6 (x2), 7 dan 9), membawakan keluar tema penting dari bagian ini serta seluruh kitab Yesaya: kepada siapa sandar berharap?

Jenderal Asyur ini mengajukan dua pertanyaan:

  1. Kepercayaan macam apakah yang kaupegang ini? (Apa yang kau andalkan?) (Ayat 4)
  2. Kepada siapa engkau berharap / bersandar? (Ayat 5)

Keduanya adalah pertanyaan retoris yang bertujuan untuk membuat Hizkia mengerti bahwa dirinya sendiri tidak dapat diandalkan. Namun, dua pertanyaan ini pada saat yang sama menantang para pembaca dan juga Hizkia, agar ketika menghadapi pasukan (masalah) sebesar itu orang berpikir dengan jelas siapakah yang benar-benar dapat diandalkan. Ayat 6 melanjutkan tema tentang sandaran yang diandalkan, ini merupakan tema yang konsisten dari Yesaya 28 – 31: mengandalkan Mesir atau mengandalkan TUHAN! Jenderal Asyur menggambarkan di sini bahwa Mesir adalah tongkat yang patah, Mesir tidak hanya terluka, tetapi juga hancur. Ini menunjukkan bahwa Mesir sendiri adalah sekutu yang gagal, Hizkia adalah orang yang penuh kebodohan jika dia bergantung padanya. Perkataan di ayat 7 ditujukan terhadap reformasi keagamaan yang dilakukan Hizkia (1 Raj. 18:4; 2 Taw. 31:1) bermaksud menunjukkan bahwa adalah sama bodohnya jika bersandar pada TUHAN. Karena itu, jenderal Asyur secara langsung menantang semua yang dilakukan Hizkia, termasuk ketergantungannya Mesir pada masa lalu dan bahkan inti keyakinan imannya. Jenderal ini bahkan menyatakan dalam ayat 10 bahwa pertempuran ini berasal dari TUHAN, Yes. 10:5 menunjukkan bahwa Asyur hanyalah tongkat murka TUHAN, bahwa Asyur hanya alat TUHAN, tetapi jenderal ini sebaliknya justru menggunakan TUHAN untuk mencapai tujuan militernya, dan TUHAN sebagai alat provokasi.

Tentu saja kita tidak bisa setuju dengan pernyataan jenderal tersebut tentang TUHAN, tetapi Yesaya menggunakan semua yang dikatakan jenderal untuk membuat Hizkia dan orang-orang berpikir tentang siapa yang hendak mereka andalkan. Selalu pada saat menghadapi tantangan nyata serta serangan pasukan musuh, orang barulah akan memikirkan masalah ketergantungan yang bisa diandalkan dalam kehidupan dan milik siapa diri mereka. Tantangan musuh adalah sangat besar, dan kata-kata yang diucapkan juga sangat tepat sasaran, membuat orang sangat sengsara. Tetapi karena ketidaknyamanan ini, barulah bisa menyatakan dengan jelas apa yang benar-benar dipercayai orang, untuk membuat orang memahami betapa rapuhnya diri mereka, dan membuat orang mengerti bahwa adalah sia-sia untuk terus-menerus bersandar serta mengandalkan Mesir, oleh karena itu berbalik mengandalkan Juruselamat yang sejati – TUHAN.

Renungkan:

Siapa andalan terbesar dalam hidup Anda? Apakah Anda berpikir bahwa uang, relasi antar personal, dan ketenaran adalah yang paling dapat diandalkan? Berdoa agar kita semua memiliki hati yang tulus sederhana, bergantung pada Dia yang benar-benar dapat diandalkan itu.


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Yesaya 24 – 39 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.