「Ini aku, utuslah aku!」
Panggilan dan Pembaruan Hidup
Oleh Rev. Dr. Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Yesaya 6:1-8 [ITB])
1 Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. 2 Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. 3 Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: 「Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!」 4 Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap.
5 Lalu kataku: 「Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.」 6 Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. 7 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: 「Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.」 8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: 「Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?」 Maka sahutku: 「Ini aku, utuslah aku!」
Yesaya pasal 6 mencatat kesaksian Yesaya tentang panggilannya. Alih-alih mencatat panggilannya pada momen tertentu selama pemerintahan Uzia yang berlangsung selama 52 tahun, ia memilih tahun kematian Uzia sebagai penanda waktu. Selama pemerintahannya, meskipun Uzia melakukan banyak hal yang benar di mata TUHAN, ia menjadi sombong setelah naik ke tampuk kekuasaan, dan dengan lancang memasuki Bait Suci untuk membakar dupa — suatu tindakan yang hanya diperuntukkan bagi para imam. Akibatnya, Allah menghukumnya atas pelanggaran yang ia lakukan, menyebabkan ia menderita kusta sampai kematiannya. Dalam konteks inilah Yesaya melihat sebuah penglihatan di Bait Suci. Meskipun raja duniawi telah meninggal, Allah di surga masih duduk di atas takhta-Nya, menerima penyembahan dan kehormatan yang layak diterima-Nya.
Perikop ini menyebutkan sekelompok Serafim yang berdiri di hadapan Allah. 「Serafim」 berarti 「api,」 dan api sering kali merupakan simbol kekudusan Allah. Mereka berseru satu sama lain, 「Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!」 Seruan ini menunjukkan bahwa kekudusan dan kemuliaan Allah memenuhi seluruh Bait Suci. Dihadapkan dengan penglihatan yang begitu mulia dan kudus, reaksi pertama Yesaya adalah mengakui dosa-dosanya. Ia mengakui dosa-dosanya bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk seluruh bangsa Israel. Ia berkata, 「Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.」 Ia tahu bahwa tidak seorang pun mempunyai tempat di hadapan Allah yang kudus. Pada saat itu, seorang Serafim datang kepadanya dengan bara api yang menyala-nyala di tangannya dan menyentuh mulutnya dengan bara api itu, melambangkan penghapusan dosa-dosanya dan pengampunan atas pelanggaran-pelanggarannya.
Berharga diperhatikan bahwa penyucian itu dimulai oleh Allah, bukan atas permintaan Yesaya. Inilah tepatnya kasih karunia: ketika kita lemah dan tidak berdaya, Dia secara proaktif memberikan kasih karunia-Nya untuk membersihkan kita, memungkinkan kita untuk mendekat kepada-Nya. Alkitab menunjukkan bahwa awalnya Yesaya hanya dapat melihat Allah dari jauh; tetapi setelah penyucian, ia bukan hanya dapat mendekati-Nya tetapi juga mendengar suara-Nya. Allah berkata, 「Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?」 Yesaya segera menjawab, 「Ini aku, utuslah aku!」 Ini bukanlah jawaban impulsif, juga bukan kesalahan ucapan karena emosi yang meluap-luap; itu adalah jawaban yang teguh setelah pertobatan, pengampunan, dan mengalami kemuliaan dan kasih karunia Allah. Yesaya bersedia untuk menjalankan misi yang sangat sulit: untuk menyampaikan pesan penghakiman kepada orang-orang yang keras hati, tetapi ia tidak mundur, karena ia tahu bahwa selama itu atas perintah Allah, betapapun sulitnya jalan itu, itu dapat dicapai melalui kasih karunia Tuhan.
Mungkin kita pernah tergerak oleh panggilan Allah dalam beberapa pertemuan, dengan sungguh-sungguh berkata, 「Ini aku, utuslah aku!」 Tetapi dalam kehidupan, apakah kita masih berpegang teguh pada janji itu? Ayat Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa respons yang sejati bukanlah pernyataan emosional, melainkan berasal dari pemahaman tentang kekudusan dan kasih karunia Allah, dan kepercayaan yang teguh pada kesetiaan-Nya. Ketika Allah bertanya, 「Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?」, bersediakah Anda tetap dengan tegas menjawab, 「Ini aku, utuslah aku!」
Renungkan:
1. Panggilan seperti apa yang Allah berikan kepada Anda? Misi seperti apa itu?
2. Menghadapi panggilan-Nya, walau jalan di depan sulit, apakah Anda bersedia dengan tegas dan tanpa penyesalan, berkata, 「Ini aku, utuslah aku!」
Renungan pemahaman Penggilan dan Pembaruan 2026
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 「Panggilan dan Pembaruan」 ditulis oleh Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯) yang dipublikasikan pada bulan April 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.