「Berharap kepada Allah」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Mikha 7:1-7 [ITB])
1Celaka aku! Sebab keadaanku seperti pada pengumpulan buah-buahan musim kemarau, seperti pada pemetikan susulan buah anggur: tidak ada buah anggur untuk dimakan, atau buah ara yang kusukai. 2Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. 3Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan! 4Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka! 5Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! 6Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
7Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!
Ayat 7:1 tampaknya menandai perubahan peran, mengekspresikan respons dari nabi Mikha sendiri. Di antara 7:1-7, nabi Mikha menyatakan perbedaan antara dirinya dan rakyat, dan juga melalui perbandingan ini menunjukkan tingkat kerusakan korupnya rakyat. Di sini, nabi Mikha dengan mendalam mengungkapkan kekecewaannya terhadap Israel, seolah-olah orang pergi ke kebun saat musim panen di musim panas, berpikir dapat menikmati buah-buahan hasil panen, tetapi ketika tiba, yang ditemukan adalah bahwa semua buah telah habis dipanen, dan tidak ada tersisa apa-apa di pohon yang bisa dimakan, hanya bisa kecewa dan pulang. Nabi Mikha di sini menggunakan kata yang jarang digunakan dalam Perjanjian Lama untuk mengungkapkan perasaannya, yakni kata 「celakalah aku」 yang hanya muncul sekali lagi dalam kitab Ayub 10:15, Ayub menyatakan keadaannya yang tanpa harapan, nabi Mikha mungkin juga merasakan hal yang sama tentang masyarakat di zamannya itu. Seperti yang dia katakan di ayat 7:2 「orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia」 Seperti yang ditunjukkan dalam dua buah mazmur yang hampir sepenuhnya diulangi, dalam Mazmur 14:1 dan 53:1 「busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik.」 Dan Paulus lebih lanjut menunjukkan dalam surat Roma: 「Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.」
Ayat 7:3-6 melanjutkan menggambarkan keruntuhan masyarakat pada waktu itu, ayat 3-4 adalah keruntuhan sistem hukum, dan ayat 5-6 adalah keruntuhan hubungan keluarga. Ketika orang yang sedang memegang jabatan (petahana) meminta suap, dan orang-orang berpangkat tinggi berkolusi satu sama lain (「begitulah mereka bersekongkol bersama-sama」 BIMK), orang-orang hanya dirampok, tidak diberikan keputusan yang adil dan benar, hanya ada kekacauan di masyarakat. Nabi Mikha menggambarkannya bahwa yang paling lurus pun seperti pagar duri, semuanya kacau dan tidak ada hukum, dan tidak dapat ditemukan jalan lurus. Ayat 7:5-6 lebih lanjut menggambarkan keruntuhan masyarakat ini, bahwa bahkan orang terdekat pun tidak dapat memiliki rasa saling percaya, bahkan ia menunjukkan bahwa musuh orang adalah orang di keluarganya sendiri. Ini bisa dibilang tragedi terbesar dalam hidup.
Di ayat 7:7, nabi Mikha beralih dari berita gugatan terhadap Israel dan kekecewaannya terhadap generasi pada zaman itu, beralih kepada pernyataan imannya sendiri. 「Tetapi aku」 adalah tanggapannya terhadap generasi saat itu. Ketika lingkungan sekitar penuh dengan kegelapan, orang-orang tidak dapat dipercaya, dan tidak ada rasa hormat takut kepada Allah, ketika masyarakat sedemikian dikendalikan oleh dosa dan dipimpin oleh kebencian, nabi Mikha dengan jelas menyatakan pendiriannya yang berlawanan dengan masyarakat, bahwa ia akan berharap kepada TUHAN (Yahweh), menunggu Allah menyelamatkannya. Karena dia masih percaya bahwa Allahnya akan menjawab dia, dan harapannya di hadapan Allah pasti akan digenapkan.
Sulit untuk berdiri melawan masyarakat karena posisi iman kita, karena apa yang kita imani bukanlah sesuatu yang dapat dilihat langsung dan instan segera dialami. Tetapi kita memiliki harapan untuk melampaui, karena kita memiliki Tuhan yang melampaui segalanya.
Renungkan:
Kita mungkin kecewa dengan masyarakat kita, tetapi kita masih membutuhkan harapan kepada Tuhan. Ketika kita tidak dapat melakukan apa pun, kita harus ingat bahwa Tuhan masih berkuasa dan Dia masih bekerja.
Renungan pemahaman Kitab Mikha
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.