Tag Archives: Surat Efesus

Renungan Natal 2023-11

「Ketetapan kekal dari Allah」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 1:4 [ITB])
4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya

Ini adalah ayat yang sangat penting dari Paulus dalam Surat Efesus. Ini menggambarkan sebuah fakta yang mengejutkan — sebuah fakta sebelum penciptaan dunia. Apakah Anda pernah berpikir tentang apa yang ada sebelum Allah menciptakan dunia ini? Apa yang ada / eksis? Atau, Anda mungkin berkata, Mungkin itu Allah?! Ini benar, tapi apakah masih ada lagi? Ada.

Sebelum dunia ini ada – sebelum alam semesta ada, sebelum waktu ada – sudah ada ketetapan Allah (determination). Ketetapan Allah ini terjadi dalam kekekalan, sebelum penciptaan dunia, sebelum umat manusia ada. Ketetapan ini lebih dari sekedar keputusan biasa. Pertama, semua keputusan Allah bukanlah kemungkinan yang sembarangan. Artinya, ketetapan Allah bukanlah memberikan respons pasif terhadap suatu kejadian acak. TIDAK. Ketetapan Allah selalu aktif, ada sebagai yang pertama, dan ada sebelum yang lain. Ketetapan Allah bukanlah keputusan yang ditentukan oleh penyebab lain. Allah adalah permulaan, Allah adalah penentu segala sesuatu. Allah adalah Penguasa ketetapan. Oleh karena itu, sebelum dunia ini ada, Allah sudah ada dan ketetapan Allah juga sudah ada.

Tapi, apakah masih ada lagi? Apa lagi yang ada sebelum Allah menciptakan dunia ini? Masih ada kita
Surat Efesus dengan jelas menyatakan: Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebelum penciptaan dunia, kita sudah ada dalam ketetapan kekal Allah. Ya, ini adalah fakta yang mengejutkan. Bahkan sebelum kita ada, kita sudah ada dalam ketetapan kekal Allah. Kita dalam pikiran Allah ada jauh jauh lebih awal dari keberadaan kita.

Saudara-saudara, inkarnasi Firman dimaksudkan untuk menggambarkan fakta ini. Inkarnasi Yesus Kristus didasarkan pada ketetapan kekal Allah dan kita yang ada dalam pikiran-Nya. Oleh karena itu, menurut Anda apakah inkarnasi Firman menjelma menjadi manusia itu baru terjadi dua ribu tahun yang lalu? Tidak, kelahiran Yesus Kristus inkarnasi Firman menjelma menjadi manusia bukanlah suatu kebetulan. Ini bukan karena di dunia manusia terjadi situasi A, maka barulah Allah membuat keputusan B berdasarkan situasi A. TIDAK.

Allah mengasihi kita.
Allah mengasihi kita dalam kekekalan.
Allah mengasihi kita dalam kekekalan bahkan sebelum kita ada.
Firman menjelma menjadi manusia adalah realisasi dari misteri ini.

Renungkan:
Dapatkah Anda mengalami lebih banyak lagi kasih Allah hari ini ? Kasih ini bukan sekadar tindakan. Kasih ini sangat dalam, begitu dalam sehingga berasal dari awal, dari kekekalan, dan dari hakikat Allah. Allah telah menetapkan untuk mengasihi Anda — ini adalah ketetapan dan kebenaran yang kekal.
Jadi, apa yang Anda yang takutkan lagi?


Renungan Natal

Renungan Natal 2023

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 6:23-24

Kasih yang tidak binasa

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 6:23-24 [ITB])
23 Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. 24 Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.

Sampai di akhir suratnya, Paulus menutup dengan dua doa. Tema dari kedua kalimat ini masing-masing adalah damai sejahtera dan kasih karunia, yang merupakan dua tema dari salam Paulus dalam 1:2 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu, dan pada dasarnya dapat dianggap sebagai meterai Paulus, karena dalam salam di setiap suratnya menggunakan kasih karunia dan damai sejahtera. Satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa kasih karunia adalah salam yang biasa dipakai dalam bahasa Yunani, dan damai sejahtera adalah salam yang biasa dipakai orang Yahudi. Paulus menggabungkan salam dari dua budaya dalam surat-suratnya, mencerminkan bahwa Injil yang dia beritakan, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi, menerima kasih karunia Allah yang menyelamatkan melalui Yesus Kristus dan mengalami damai sejahtera Allah.

Kasih dengan iman dalam bahasa aslinya adalah kasih yang memiliki iman, menunjukkan bahwa iman kita harus dimanifestasikan nyata dalam kasih. Pihak yang didoakan di sini adalah sekalian saudara, sebuah sebutan yang mesra, mencerminkan fakta bahwa kelompok orang percaya yang tertuju dalam surat ini merupakan sebuah keluarga, diikat bersama oleh Yesus Kristus, dan hubungan ini didirikan oleh Allah Bapa dan Tuhan. Yesus Kristus.

Ayat 24 Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa, tidak mudah dimengerti. Karena objek kasih karunia adalah semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus, tampak seperti hanya merujuk pada beberapa orang percaya yang berkomitmen yang dapat bertumbuh dalam iman mereka dan tercermin secara berkesinambungan dalam kehidupan mereka. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa, dalam surat yang menekankan kesatuan komunitas beriman secara keseluruhan, diakhiri dengan objek yang sangat selektif sebagai doa penutup?

Permasalahan dengan kalimat ini adalah frasa terakhir yang diterjemahkan sebagai yang tidak binasa (ἀφθαρσίᾳ aphtharsia). Penggunaan kata ini di luar Alkitab pada dasarnya adalah kekal dan abadi. Kata ini muncul tujuh kali dalam Perjanjian Baru, semuanya mengungkapkan arti abadi tidak binasa, timbul pertanyaan, apakah orang percaya dapat benar-benar mencintai Tuhan dengan kasih yang tidak binasa? Apakah standar ini terlalu tinggi? Jika rasul Petrus mengalami saat-saat kelemahannya, dapatkah kasih kita benar-benar bertahan tidak binasa? Dalam hal ini, apakah tepat untuk menuntut kasih yang tidak binasa dari orang percaya, sehingga jika hanya mereka yang mampu memiliki kasih yang abadi tidak binasa kepada Tuhan yang dapat menerima kasih karunia, bukankah itu bertentangan dengan doktrin Paulus tentang pembenaran oleh iman.

Dilihat dari struktur kalimatnya, kalimat ini memiliki tiga bagian, yang pertama adalah subjek Kasih karunia, yang kedua adalah ekspresi objek semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus, dan yang terakhir adalah frasa preposisi dari kalimat ini yang berfungsi sebagai kata sifat yang tidak binasa. Terjemahan CUV Mandarin menafsirkan frasa ketiga dalam hubungannya dengan yang kedua, menggunakan yang tidak binasa sebagai deskripsi orang atau manifestasi dari orang-orang ini. Tetapi kita juga dapat menghubungkan frasa ketiga dengan subjek pertama, untuk menunjukkan sifat kasih anugerah ini, sehingga diungkapkan bahwa kasih anugerah Tuhan atau penyertaan kasih anugerah ini abadi tidak binasa dan tidak dapat diubah. Oleh karena itu, NLT menerjemahkan kalimat ini sesuai dengan makna tersebut: May God’s grace be eternally upon all who love our Lord Jesus Christ / Kasih karunia Tuhan selama-lamanya atas semua orang yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus. (ITB Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa)

Renungkan:
Damai sejahtera dan kasih karunia Allah adalah elemen dasar agar orang percaya dipelihara di dalam Dia. Kiranya hidup kita juga membawa damai sejahtera dan kasih karunia Allah kepada orang lain.


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 6:21-22

Kesaksian dan dorongan semangat

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 6:21-22 [ITB])
21 Supaya kamu juga mengetahui keadaan dan hal ihwalku, maka Tikhikus, saudara kita yang kekasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan, akan memberitahukan semuanya kepada kamu.
22 Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu.

Epilog (bagian penutup) Surat Efesus sangat singkat. Dibandingkan dengan Surat Kolose yang memiliki banyak kesamaan isi, Surat Efesus tampak lebih istimewa, karena jika berkat terakhir tidak dihitung, Surat Kolose memiliki 11 ayat salam penutup yang menyebutkan total 12 orang yang berbeda, sedangkan Surat Efesus hanya ada dua ayat yang hanya menyebutkan Tikhikus yang adalah pembawa berita mereka. Ini mencerminkan bahwa Surat Efesus tidak ditulis tertuju berbicara kepada gereja lokal tertentu, tetapi lebih untuk mengungkapkan pengajaran Paulus tentang Gereja.

Di sini Paulus terlebih dahulu memperkenalkan Tikhikus, dan kemudian menjelaskan misinya. Ia memakai dua frasa untuk menggambarkan Tikhikus, yang pertama mengacu padanya sebagai saudara kita yang kekasih, deskripsi relasi, yang sejalan dengan penekanan surat pada kesatuan gereja dan orang percaya berada dalam keluarga Allah, memiliki hubungan kasih satu sama lain; frasa kedua menunjukkan bahwa dia adalah pelayan yang setia di dalam Tuhan, yang merupakan pujian atas dedikasinya dalam pelayanan dan mempersembahkan dirinya kepada Tuhan.

Adapun misi Tikhikus, Paulus menunjukkan bahwa Tikhikus diutus untuk membawa surat itu ke Efesus sehingga Tikhikus akan sepenuhnya menjabarkan situasi Paulus kepada orang-orang percaya di Efesus. Perhatikan bahwa tujuan ini menggunakan dua klausa tujuan yang serupa, 6:21 Supaya kamu juga mengetahui keadaan dan hal ihwalku yakni agar penerima surat memahami, dan 6:22 yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami yakni agar mereka tahu. Ungkapan yang diulang ini mencerminkan penekanan kuat Paulus pada tujuan ini.

Dalam 6:21, ada dua aspek yang hendak dipahami oleh pembaca. Di satu sisi adalah keadaan ku, yang mengacu pada situasi dan pengalaman Paulus pada saat itu, apa yang dia alami, dan bahkan perkembangan kasus yang didakwakan kepadanya. Di sisi lain, hal ihwal ku (τί πράσσω), terjemahan literal dari frasa tersebut seharusnya menjadi apa yang saya lakukan, yang mencerminkan apa yang Paulus ingin para pembaca ketahui tidak hanya tentang situasi pasifnya, tetapi juga bagaimana ia dalam situasi sulit ini tetap setia pada misi yang ia terima. Menurut Kisah Para Rasul 28:30-31 Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus. Kita dapat menerjemahkan frasa terakhir dari Kitab Kisah Para Rasul sebagai tidak dilarang, karena kita tahu bahwa saat itu masih banyak orang yang ingin melarang Paulus memberitakan Injil, tetapi tidak berhasil. Kesaksian-kesaksian ini adalah pesan Paulus kepada jemaat di Efesus yang disampaikan lewat Tikhikus, bahkan untuk menyadarkan mereka akan semua yang telah terjadi.

Dalam 6:22 Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu, meskipun kata kerja yang menyatakan tujuan serupa, isinya diubah dari keadaan yang dihadapi Paulus keadaan dan hal ihwalku bergeser kepada hal ihwal kami, yang merujuk pada kondisi rekan kerja pelayanan yang bersama Paulus, atau bahkan kondisi semua orang-orang percaya di Roma. Pergeseran ini juga tercermin dalam penekanan yang diberikan pada komunitas gereja di Efesus. Di Gereja, Paulus tidak sendirian dalam melakukan sesuatu, tetapi kesaksian dari banyak orang percaya. Di sini Paulus juga menambahkan klausa untuk menjelaskan apa efek yang ia harapkan setelah pembaca mengetahui hal-hal ini, supaya ia menghibur hatimu. Kata menghibur memiliki banyak arti, antara lain: memanggil, mengajak, meminta tolong, memohon, mendesak, menasihati, menyemangati, memohon, dan menghibur, dsb. Terjemahan Mandarin LZZ sebagai memberikan dorong semangat hatimu, dan banyak terjemahan bahasa Inggris mengadopsi terjemahan serupa. Tujuan Paulus mengutus Tikhikus untuk berbagi bukanlah agar mereka tidak khawatir tentang dia sehingga merasa terhibur, tetapi agar mereka melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui dia, dan juga melihat orang-orang percaya Roma dengan setia bersaksi, sehingga para pembaca didorong untuk mengarahkan pandangan kepada Allah di dalam hidup dan pelayanan mereka sendiri, dan setia pada amanat yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus.

Renungkan:
Kita perlu lebih banyak membaca kesaksian para misionaris, dan juga memahami kondisi gereja-gereja di daerah lain dan kelompok etnis, sehingga kita dapat lebih memahami tuntunan Tuhan di Gereja am, sehingga kita sendiri dapat berdiri teguh dalam Injil ini.


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 6:18-20

Berjaga-jagalah di dalam doamu

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 6:18-20 [ITB])
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.
18 Dalam segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Efesus 6:18 dalam segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus , kata berdoa / praying (προσευχόμενοι proseuchomenoi) adalah sebuah partisip (bentuk kata kerja yang berguna untuk menambahkan deskripsi pada sebuah kalimat, menggambarkan partisipasi dalam tindakan yang dilakukan oleh kata kerja. Memiliki peran yang mirip dengan kata sifat atau kata keterangan), dan secara tata bahasa kata partisip berdoa ini seharusnya mengungkapkan metode yang diperlukan untuk kata kerja berdirilah tegap dalam ayat sebelumnya (ayat 14) dan terkait perintah untuk memakai perlengkapan senjata rohani, dapat dikatakan merupakan titik fokus dari paragraf tentang peperangan rohani ini. Ketika Paulus meminta orang percaya untuk berdoa, ia menambahkan serangkaian frasa untuk mengungkapkan perintah yang sangat komprehensif. Berikut ini akan dibahas dalam urutan kemunculan kata-kata ini dalam teks aslinya.

Pertama, Paulus menunjukkan bahwa berdoa dilakukan melalui segala doa dan permohonan, di sini segala bisa berarti semua jenis dan dalam banyak cara, yang mungkin merujuk pada cara yang berbeda kita berdoa, dan di sini meminta orang percaya untuk berdoa bagi semua orang kudus dalam berbagai cara dan jenis doa. Kelompok frase kedua secara makna mengulang kelompok pertama, keduanya mengacu pada kelengkapan, kelompok pertama mengacu pada cara, dan kelompok kedua mengacu pada waktu, meminta orang percaya untuk setiap waktu / at all times berdoa bagi orang-orang kudus. Hal ini sejalan dengan permintaan Alkitab kepada orang percaya untuk berdoa tanpa henti, yang menunjukkan bahwa kita harus mengakui ketergantungan kita kepada Tuhan, kepada Dia saja kita senantiasa mengarahkan pandangan kita.

Kumpulan frasa ketiga menunjukkan perlunya orang percaya untuk berjaga-jagalah dan tak putus-putusnya (tak kenal lelah) dalam doa. Tuhan Yesus Kristus di Taman Getsemani juga dengan jelas mengingatkan murid-murid-Nya tentang perlunya berjaga-jaga dan berdoa, Ia menunjukkan bahwa Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah (Mat. 26:41). Murid-murid mengira mereka akan mengikuti Tuhan Yesus sampai akhir, tetapi ketika Yesus ditangkap, mereka semua lari. Jadi Yesus Kristus telah mengingatkan mereka sebelumnya untuk berjaga-jaga dan berdoa agar mereka mengerti bagaimana menghadapi tantangan di masa depan. Surat Efesus di sini tidak hanya mengingatkan orang percaya untuk waspada, tetapi juga tak putus-putusnya (tak kenal lelah dan bertekun), menunjukkan bahwa mereka perlu tetap berjaga-jaga waspada dalam segala macam situasi sulit.

Paulus menunjukkan bahwa doa ini dalam roh. Meskipun tidak secara jelas dinyatakan di sini sebagai Roh Kudus, itu adalah pemahaman yang lebih alami setelah pembahasan tentang perlengkapan senjata Allah di atas. Oleh karena itu, ini dapat menjadi fokus dari masing-masing kelompok deskripsi, dan sangat tepat untuk menempatkan frasa ini di awal terjemahan seluruh kalimat. Jika kita melihat terjemahan CUV Mandarin menunjukkan bahwa doa kita adalah bersandar Roh Kudus, itu hanya mengungkapkan sebagian dari makna dari bahasa aslinya, karena makna frasa ἔν Πνεύματι en Pneumati / dalam Roh memiliki makna yang lebih dalam, termasuk menurut pimpinan Roh (lihat BIMK berdoalah sebagaimana Roh Allah memimpin) yakni berdoa menurut Firman Tuhan yang diwahyukan melalui Roh Kudus sebagai arah doa kita.

Ayat 6:18 adalah berjaga-jagalah di dalam doa dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, maka dalam ayat 6:19-20 kita melihat salah satu arah dari perintah untuk berdoa, di sini meminta jemaat Efesus berdoa khusus untuk Paulus. Isi doa bagi Paulus dapat menjadi referensi penting untuk isi doa bagi orang-orang kudus.

Paulus meminta agar Tuhan supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara. Dalam Kolose 4:3-4, doa Paulus adalah supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus. Karena hubungan yang erat antara kedua surat ini, ini bisa menjadi referensi penting. Bukannya Paulus tidak tahu apa yang harus diberitakan, tetapi dia perlu memiliki waktu kesempatan untuk membuka mulutnya dan memberitakan rahasia Injil dengan bebas dan tanpa batasan, karena itu adalah misi yang diberikan Tuhan kepadanya.

Renungkan:
Kita perlu berjaga-jaga dan berdoa karena kita tahu kelemahan kita dan kita harus selalu mengandalkan perlindungan Tuhan untuk bertekun melaksanakan misi yang telah Dia berikan kepada kita.


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 6:16-17

Perlengkapan senjata milik Allah (2)

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 6:16-17 [ITB])
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;
16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

Hari ini kita melanjutkan untuk merenungkan tiga item berikutnya dalam perlengkapan senjata Allah.

Ayat 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, perlengkapan senjata keempat adalah iman, yang dalam bahasa Yunani dapat mencakup beberapa makna, termasuk iman, yakin, dan percaya. Dalam penggunaan yang sebenarnya, bahkan ada pemakaian di mana beberapa makna bercampur, mencerminkan bahwa konsep-konsep yang terkandung dalam kata ini terkait satu sama lain dan tidak dapat dengan mudah dipisahkan dengan jelas. Karena kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus maka memiliki isi daripada iman, dan Alkitab juga menekankan bahwa iman ini harus diwujudkan dalam kehidupan. Oleh karena itu, ayat Alkitab yang berbeda akan menggunakan kata ini untuk mengekspresikan aspek makna dan penekanan yang berbeda sesuai konteks (teks sebelum dan sesudahnya). Di sini, karena mengacu pada perlengkapan senjata yang diberikan Allah kepada orang percaya, maka lebih ditekankan pada pengertian iman dan percaya.

Di sini Paulus memilih untuk menggunakan metafora perisai (θυρεὸν thyreon / shield) untuk iman ini. Perhatikan bahwa ini bukan perisai kecil (ἀσπίς aspís) yang lebih umum digunakan oleh prajurit secara individu, tetapi perisai besar yang biasanya digunakan untuk pertahanan di barisan depan seluruh barisan prajurit. Perisai ini umumnya terbuat dari kayu dan kulit, direndam dengan air sebelum digunakan sehingga bisa memadamkan panah yang terbakar. Tetapi perisai semacam ini akan mengering setelah waktu yang lama, hanya dapat menahan panah, tetapi akan terbakar, sehingga perlu diperbarui. Dari metafora ini, kita dapat melihat beberapa makna: peran perlengkapan senjata ini tidak terbatas pada individu, tetapi lebih sering digunakan untuk melindungi kelompok, mengekspresikan elemen penting iman, keyakinan, dan percaya yang menjaga komunitas gereja dapat berdiri teguh, jadi gereja perlu membekali semua orang percaya dengan ajaran iman yang utuh, kesatuan dalam iman. Perisai besar ini kehilangan ketahanan apinya dari waktu ke waktu, sehingga perlu sering diperbarui. Meskipun iman keyakinan dasar kita tidak akan berubah, kita perlu memiliki ekspresi iman yang hidup dalam kehidupan kita agar iman keyakinan kita tidak kehilangan vitalitasnya.

Ayat 17 terimalah ketopong keselamatan, perlengkapan senjata kelima adalah keselamatan. Dalam Yesaya 59:17, TUHAN menyelamatkan umat-Nya digambarkan sebagai Ia mengenakan keadilan sebagai baju zirah dan ketopong keselamatan ada di kepala-Nya. Paulus mungkin telah memilih metafora yang sama, menunjukkan bahwa keselamatan yang dicapai oleh Yesus Kristus mengalahkan musuh.

Terakhir adalah pedang Roh, yaitu firman Allah. Ini umumnya mengacu pada belati pendek, yang lebih defensif, menahan serangan musuh dalam pertempuran jarak dekat. Dalam Ibrani 4:12, pedang pendek juga digunakan sebagai metafora untuk firman Tuhan, yang menyatakan bahwa firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Hal ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan seperti cermin yang memungkinkan kita untuk melihat hidup kita sendiri dengan jelas dari perspektif kehendak Tuhan, dan juga memungkinkan kita untuk memahami kehendak Allah. Yesus Kristus adalah teladan kita, Ia memakai Firman Allah dalam menghadapi pencobaan Setan. Jadi kita perlu selalu menyimpan Firman Tuhan di dalam hati kita.

Ayat 6:14 berdirilah tegap … dan 6:17 terimalah … masing-masing dinyatakan sebagai dua kata kerja imperatif, yang merupakan gema dari keseluruhan panggilan untuk berperang: sebagai permulaan kita harus berdiri teguh, dan akhirnya mengangkat perlengkapan senjata Allah. Kita tidak tahu kapan serangan musuh akan datang, jadi kita harus siap setiap saat.

Renungkan:
Apakah kita memiliki iman yang kokoh, keyakinan yang kokoh, dan senantiasa selalu membiarkan Firman Tuhan berdiam di dalam hati kita?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 6:13-15

Perlengkapan senjata milik Allah (1)

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 6:13-15 [ITB])
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;
16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

Setelah mengingatkan orang percaya untuk bersiap menghadapi peperangan rohani, ayat 6:13 mengulangi seruan bagi orang percaya untuk mengambil perlengkapan senjata Allah. Meskipun perintah di ayat 6:11 adalah kenakanlah dan di sini adalah ambillah, namun arti dasarnya sama, jadi fungsi utama di sini pada dasarnya adalah pengulangan dan perluasan 6:11, agar pembaca untuk lebih memperhatikan pengingat ini.

Bagi orang percaya di Efesus, mereka mungkin tidak memiliki banyak kesempatan untuk melihat tentara Romawi dengan seragam militer lengkap, tetapi dalam sastra, atau dalam dekorasi arsitektur atau patung batu, mungkin sering menggunakan pahlawan dan cerita epos Yunani kuno.

Di sini secara khusus ditunjukkan bahwa tujuan dari mengambil perlengkapan senjata Allah adalah agar mereka dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu. Di satu sisi, 5:16 menunjukkan bahwa hari-hari ini adalah jahat., yang dapat berarti bahwa orang percaya perlu menghadapi berbagai kesulitan yang mereka hadapi dalam hidup; di sisi lain untuk menunjukkan tantangan yang sangat sulit yang akan dihadapi orang percaya, mungkin merujuk untuk penindasan Kekaisaran Romawi pada saat itu, tetapi lebih mungkin untuk bencana dari akhir zaman.

Ayat-ayat ini menggunakan rangkaian kata yang berhubungan dengan berdiri. Dalam Efesus 6:11 orang- orang percaya mengenakan perlengkapan senjata Allah yang lengkap untuk dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis yang berarti mereka harus berdiri teguh di hadapan serangan iblis; sementara 6:13 menyatakan bahwa orang-orang percaya harus melawan musuh dalam hari jahat, dan setelah semuanya selesai mereka masih bisa berdiri teguh; ayat 6:14 sekali lagi mengingatkan orang percaya dalam bentuk perintah untuk berdirilah tegap teguh. Ini berarti bahwa kita perlu memiliki landasan yang kokoh untuk mendasarkan iman dan kehidupan kita di atas dasar Yesus Kristus.

Dalam 6:14-17 berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, Paulus menggunakan serangkaian partisip untuk menunjukkan cara yang dengannya orang percaya berdiri teguh, dan menggunakan metafora perlengkapan senjata tentara Yunani atau Romawi. Inti dari metafora tersebut belum tentu terletak pada arti perlengkapan militer ini, tetapi kualitas yang disebutkan di dalamnya (kebenaran, keadilan, …). Mungkin Paulus memilih perlengkapan militer sebagai metafora yang cocok untuk dihubungkan dengan peran kualitas-kualitas ini dalam kehidupan orang percaya. Hanya tiga poin yang akan kira renungkan hari ini.

Pertama, kebenaran dicantumkan terlebih dahulu, sebelumnya ayat 4:15 mengatakan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia bahwa kebenaran atau praktik kebenaran adalah manifestasi dari kedewasaan orang percaya, dan kebenaran sering menunjuk pada isi Injil. Penggunaan metafora ikat pinggang untuk kebenaran mungkin mencerminkan bahwa kebenaran Injil adalah sumber kekuatan orang percaya yang memungkinkan kita menggunakan kekuatan yang diberikan Tuhan secara efektif.

Kedua adalah keadilan, ini bisa merujuk pada keadilan yang dilakukan oleh orang percaya, atau keadilan kebenaran yang Tuhan berikan kepada orang percaya di dalam Yesus Kristus. Paulus menggunakan baju zirah sebagai metafora, mungkin mencerminkan perlindungan atas hidup orang percaya, sehingga kemungkinan besar menunjuk kepada kebenaran yang digenapkan oleh Yesus Kristus yang diterima melalui iman oleh orang percaya.

Paulus menggandengkan kebenaran dan keadilan, mungkin menunjuk kepada kualitas utama yang dimanifestasikan oleh tunas yang keluar dari tunggul Isai, dalam Yesaya 11:2-5. Khususnya dalam Yesaya 11:5 dikatakan, Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang. Implikasi ini mengarahkan pembaca untuk mengaitkan perlengkapan senjata Allah di sini dengan Kristus.

Ketiga adalah Injil damai sejahtera, ayat 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. Ini seharusnya mencerminkan perdamaian yang dibuat oleh Yesus Kristus yang dirujuk dalam pasal 2, tetapi Paulus menambahkan deskripsi kerelaan (ἑτοιμασίᾳ hetoimasia) (KJV the preparation / persiapan), kata ini hanya muncul di sini dalam Perjanjian Baru, dan di luar Alkitab pada dasarnya berarti siap setiap saat. Di satu sisi, itu mungkin berarti bahwa orang percaya selalu siap dan rela untuk memberitakan Injil perdamaian, di sisi lain, itu dapat berarti bahwa Injil damai membuat orang percaya selalu siap untuk menghadapi pertempuran rohani ini.

Renungkan:
Perlengkapan senjata Allah adalah agar kita berdiri teguh. Apakah kita memiliki pemahaman yang cukup tentang dasar iman kita?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 6:10-12

Hendaklah kamu kuat

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 6:10-12 [ITB])
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Kata pertama di awal ayat 6:10 adalah akhirnya (Τοῦ λοιποῦ tou loipou). Ada dua cara penggunaan kata ini, pertama di Filipi 3:1 adalah menandakan awal dari topik baru Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan., dan penggunaan cara kedua terdapat di Filipi 4:8 adalah menandakan kesimpulan akhir Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis.

Di sini, karena perikop sebelumnya di atas adalah diskusi tentang hubungan keluarga dalam komunitas gereja, dan setelah 6:10 adalah diskusi tentang peperangan rohani, itu dapat dilihat sebagai awal dari topik baru. Di sisi lain, lebih mungkin bahwa ini harus menjadi kesimpulan akhir dari pasal 4-6, menunjukkan bahwa di balik manifestasi kehidupan yang memelihara kesatuan di antara komunitas orang percaya sebenarnya terdapat pertempuran spiritual, dan dengan demikian merupakan nasihat penutup.

Pertama, Paulus menasihati orang percaya hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, yang dalam teks aslinya adalah bentuk present tense (kejadian sedang berlangsung saat ini atau kejadian yang berlangsung berulang kali sebagai kebiasaan) atau bentuk perintah pasif. Dan memiliki bentuk middle voice yang terutama mengungkapkan adanya hubungan yang sangat dekat antara subjek dan tindakan kata kerja, dalam terjemahan mirip dengan bentuk kata kerja aktif. Dalam terjemahan Mandarin frasa ini diterjemahkan sebagai menjadi kuat, dapat mencerminkan makna tersebut. Dalam doa Paulus di ayat 3:16, Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, meskipun menggunakan kata yang berbeda, tetapi mencerminkan keyakinan Paulus bahwa kita menjadi kuat pada dasarnya adalah pekerjaan Allah, jadi New English Translation menerjemahkan ayat 6:10 menjadi dikuatkan (NET: be strengthened), bukan untuk menjadikan kuat oleh diri sendiri, tetapi dikuatkan.

Ayat 10 hendaklah kamu kuat, di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya, dua preposisi di dalam Tuhan dan di dalam kekuatan kuasa-Nya melengkapi perintah ini. Terjemahan mandarin RCUV memahami kedua frasa preposisi ini bersifat instrumental: menunjukkan bahwa kamu menjadi kuat hendaklah mengandalkan Tuhan, bersandar pada kekuatan-Nya yang besar. Bandingkan terjemahan ITB frasa preposisi di dalam Tuhan (ἐν κυρίῳ) sudah sesuai kebiasaan tulisan-tulisan Paulus yang biasanya memiliki sifat lingkup cakupan di dalam Tuhan atau di dalam persatuan dengan Tuhan. Dan frasa preposisi kedua di dalam kekuatan kuasa-Nya lebih jelas bersifat instrumental, mengungkapkan kekuatan kuasa Tuhan yang kita sandari atau andalkan (seperti yang diekspresikan dalam RCUV).

Kedua frasa preposisi ini juga menunjukkan bahwa kita tidak dikuatkan oleh diri kita sendiri, tetapi kita menjadi kuat (dikuatkan) karena kita ada di dalam Tuhan Yesus Kristus, mengandalkan kuasa-Nya.

Efesus 6:10-11 menggunakan rangkaian kata yang terdengar mirip, dikuatkan (ἐνδυναμοῦσθε endynamousthe), kenakanlah (ἐνδύσασθε endysasthe) dan dapat bertahan (τὸ δύνασθαι to dynasthai) dihubungkan bersama. Meskipun kata-kata yang digunakan berbeda dan tidak memiliki makna langsung, rantaian kata-kata tersebut mencerminkan bahwa mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah adalah cara untuk menjadi kuat dan dengan demikian mampu bertahan menghadapi tantangan.

Efesus 6:11 menyatakan bahwa orang percaya harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata yang diberikan Allah. Frasa bentuk posesif kepemilikan ini awalnya hanya berarti seluruh perlengkapan senjata milik Allah, namun karena ini adalah perintah kepada orang-orang beriman untuk mengenakannya, maka memiliki makna yang diberikan oleh Allah, sehingga merujuk pada sumber dari perlengkapan senjata tersebut adalah datang dari Allah, walau di sisi lain, frasa posesif ini juga dapat mengungkapkan kepemilikan, artinya perlengkapan senjata itu adalah milik Allah. Dalam 1 Samuel 17:38-39, Saul mengenakan baju zirah dan kemudian baju zirah miliknya sendiri itu diberikan kepada Daud, yang menunjukkan bahwa Daud berperang atas nama Saul melawan musuh-musuh Saul. Hanya saja Daud pada waktu itu tidak memiliki perawakan Saul, sehingga dia tidak bisa memakai baju zirah milik Saul. Meskipun kita tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan, tetapi karena perlengkapan perang Allah bukanlah seperangkat pakaian pertempuran eksternal, tetapi kualitas spiritual yang dianugerahkan oleh-Nya, maka kita dapat di dalam seluruh perlengkapan senjata pertempuran milik Allah ini mempersiapkan diri untuk menghadapi pertempuran spiritual ini.

Efesus 6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara menunjukkan bahwa pertempuran kita bukanlah melawan darah dan daging. Penafsiran negatif ini mungkin mencerminkan kesalahpahaman penerima surat Efesus yang mungkin berpikir bahwa masalah mereka saat ini adalah urusan darah daging, termasuk penganiayaan politik dari Kekaisaran Romawi, sosial Efesus, animisme dan penyembahan berhala di Asia, dan bahkan mungkin tidak harmonisnya suku bangsa yang berbeda di gereja. Memang mereka menghadapi masalah ini, tetapi Paulus mengingatkan mereka bahwa ini adalah peperangan rohani yang memerlukan metode rohani untuk mengatasinya.

Renungkan:
Apa kesulitan terbesar kita dalam iman dan kehidupan? Tantangan nilai apa yang dicerminkan oleh kesulitan-kesulitan ini, dan bagaimana tantangan tersebut dapat dihadapi dari perspektif spiritual?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 6:8-9

Satu Tuhan yang sama

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 6:8-9 [ITB])
5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

Setelah membahas tentang pesan kepada hamba, terakhir di 6:9 Paulus beralih memberikan ajaran kepada tuan. Pertama-tama ia menunjukkan bahwa mereka harus melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan para hamba, tetapi bukan berarti bahwa tuan juga harus melayani, namun antara paragraf hamba ayat 5-7 dan paragraf tuan ayat 9 terdapat ayat 8 setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan, maka yang dijelaskan di sini perbuatan baik yang dilakukan oleh tuan kepada hamba juga dapat memiliki unsur pelayanan. Tapi itu lebih mungkin berarti bahwa mereka harus memperlakukan hamba mereka dengan ketulusan yang sama.

Untuk memperjelas arti dari kalimat sebelumnya, Paul menambahkan kalimat penjelasan, menunjukkan bahwa tuannya jauhkanlah ancaman, di sini bukan negasi sederhana untuk mengungkapkan jangan, tetapi memakai sebuah kata partisip jauhkanlah yang relatif jarang dipakai untuk menggambarkan cara seorang tuan harus memperlakukan hamba-hambanya, kata jauhkanlah (ἀνίημι aniemi) ini hanya muncul empat kali dalam Perjanjian Baru, dalam Kisah Para Rasul 16:26, yang menggambarkan terlepaslah belenggu para tahanan yang berada di penjara bersama Paulus dan Silas; dalam Kisah Para Rasul 27:40, menggambarkan kru kapal yang mengangkut Paulus ke Roma melepaskan tali-tali sauh, lalu meninggalkan sauh-sauh itu di dasar laut, dan pada saat yang sama mengulurkan (membuang) tali-tali kemudi, memasang layar topang, supaya angin meniup kapal itu menuju pantai; dan dalam Ibrani 13:5 menunjukkan janji Allah bahwa Dia sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Dari penggunaan dalam ayat-ayat ini, maka di ayat 6:9 ini mungkin harus diterjemahkan sebagai hentikan ancaman atau tinggalkan ancaman. Istilah ini mungkin mencerminkan bahwa tuan-tuan pada waktu itu biasanya menggunakan cara-cara intimidasi terhadap para budak, dan memaksa para pelayan untuk melakukan sesuatu dengan paksaan.

Dalam masyarakat modern, meskipun majikan bukan pemilik karyawan, tetapi masih mungkin ada yang memakai intimidasi, terutama di lingkungan ekonomi yang sulit, karyawan dapat mematuhi tuntutan majikan yang tidak masuk akal karena takut kehilangan pekerjaan. Apakah kita melakukannya atau tidak, perintah Paulus adalah agar kita berhenti menggunakan segala cara yang mengancam, atau bahkan memikirkanpun jangan.

Bagian kedua dari ayat ini Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka menegaskan kembali keyakinan dalam 6:8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan, menunjukkan bahwa kita semua memiliki Tuhan yang sama di surga, dan bahwa Dia tidak akan memihak, menunjukkan bahwa apakah itu tuan atau hamba, kita semua diperlakukan sama di hadapan Tuhan. Paulus membawakan pesan ini dengan Kamu tahu, menunjukkan bahwa itu adalah kita memiliki iman yang sama bahwa hidup dan tindakan kita harus konsisten dengan iman kita.

Apa yang ditekankan di sini mungkin bukan hanya bahwa mereka memiliki Tuhan yang sama, tetapi Tuhan di surga . Sama seperti teks sebelumnya di atas telah dengan sengaja menunjukkan bahwa hamba harus tunduk kepada tuan di bumi, tetapi sekarang dia menekankan bahwa kita memiliki Tuan yang sama di surga, untuk menunjukkan transendensi Tuan ini, dan kedaulatan-Nya adalah mutlak; Paulus pada saat yang sama juga menekankan bahwa Tuhan di surga adalah Tuhan milik mereka dan Tuhan milik kamu. Makna ini sudah dinyatakan secara menonjol dengan pemakaian kata dan (καί kai), tetapi Paulus masih menggunakan dua kata ganti secara terpisah milik mereka dan milik kamu untuk menekankan pentingnya iman bersama ini.

Renungkan:
Tidak peduli apa status kita dalam masyarakat, dalam komunitas gereja kita harus mengenali satu identitas yang sama yang kita miliki bersama dengan semua saudara dan saudari kita, dan menerapkan makna identitas ini pada sikap kita terhadap orang lain dan menghadapi hal-hal urusan.


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 6:5-8

Seperti melayani Tuhan

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 6:5-8 [ITB])
5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. 8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.

Pada zaman Perjanjian Baru, hamba atau budak adalah orang-orang tanpa status tanpa identitas, sehingga mereka tidak memiliki hak atas otonomi. Namun dalam perikop ini, Paulus mengajarkan bahwa mereka diterima sebagai bagian dari komunitas gereja, sama seperti dalam perikop sebelumnya ia memasukkan anak-anak di bawah umur dalam pembahasannya.

Di sisi lain, 5:22 hingga 6:9 umumnya dipandang sebagai ajaran tentang hubungan keluarga. Hubungan tuan-hamba ditambahkan ke dalam diskusi ini karena di dunia Perjanjian Baru, budak dipandang sebagai anggota keluarga dan pekerjaan pada dasarnya dilakukan dalam unit keluarga, yang sangat berbeda dengan situasi di masyarakat modern. Pekerjaan modern umumnya dilakukan di luar rumah, sehingga situasi di tempat kerja sangat berbeda dengan dalam hubungan keluarga. Meskipun demikian, hubungan majikan-pelayan yang dibahas di sini berlaku sama untuk hubungan majikan-karyawan hari ini.

Paragraf ini lebih panjang dari paragraf sebelumnya tentang mengajar anak-anak, yang mencerminkan pentingnya Paulus menempatkan mereka dalam pengajarannya dan menunjukkan tanggung jawab mereka.

Di ayat 1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan kata kerja taatilah dipakai di sini di ayat 5 taatilah tuanmu yang di dunia (KJV your masters according to the flesh). Frasa κατά σάρξ kata sarx (dalam daging) ditempatkan setelah kata tuan, dan ungkapan ini didukung oleh manuskrip papirus paling awal, jadi ini adalah urutan dalam bahasa aslinya. Dalam urutan ini, ada dua kemungkinan interpretasi dari kalimat ini. Salah satunya adalah bahwa hamba harus mematuhi tuannya yang berada dalam daging; interpretasi lainnya adalah bahwa frasa tersebut dipahami sebagai situasi di mana mereka mematuhi tuannya, yang menunjukkan bahwa dalam daging mereka harus mematuhi tuannya, tetapi pemahaman ini bertentangan dengan titik berat dengan teks berikutnya di bawah. Adapun tradisi Codex Alexandria, frasa dalam daging ditempatkan di antara milikmu dan tuan, meskipun ini seharusnya bukan ekspresi dari teks bahasa asli, ini mencerminkan bahwa perikop ini telah lama dipahami bahwa yang dipatuhi adalah tuan yang berada dalam daging, bukan memakai fisik daging untuk mematuhi tuan. Gambaran ini juga mencerminkan bahwa para budak memiliki tuan kerohanian baru karena percaya kepada Yesus Kristus.

Selain perintah dasar, Paulus menambahkan beberapa deskripsi tambahan. Pertama, mereka harus menaati tuan mereka dengan takut dan gentar. Takut dalam 5:21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus mengungkapkan rasa hormat orang percaya kepada Yesus Kristus, dan juga menunjukkan bahwa kita harus tunduk satu sama lain dengan hati yang menghormati Kristus. Dan kata kerja menghormati φοβέω phobeo dengan akar kata yang sama juga digunakan dalam 5:33 kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya yakni agar istri untuk menghormati suaminya. Di sini, takut φόβος phobos digunakan bersama dengan gentar, mencerminkan manifestasi rasa takut bahkan seperti getaran tubuh. Selain itu, Paulus menunjukkan bahwa mereka harus dengan tulus hati. Rasa takut dan gentar bisa menjadi jawaban yang dangkal, tetapi Paulus meminta hati yang tulus. Kata tulus hati digunakan untuk menggambarkan persembahan sumbangan dalam 2 Korintus 8:2, 9:11, dan 13, yang mencerminkan bahwa kata tersebut dapat mengungkapkan pemberian yang tulus dan nyata. Artinya, pekerjaan kita bukan sekadar tentang penampilan luar, tetapi terlebih harus memiliki manifestasi yang sungguh dan sejati.

Paulus melangkah lebih jauh berpesan agar taat kepada tuan jasmani beralih kepada menaati Tuan rohani, sehingga pekerjaan kita tidak hanya tentang kinerja kita yang tampil di depan mata, tetapi terlebih dari hati kita menaati kehendak Tuhan. Karena tujuan kita bukan hanya untuk mendapatkan upah atas pekerjaan kita di bumi, tetapi juga untuk mendapatkan upah dari Tuhan.

Renungkan:
Sikap apa yang kita pakai dalam bekerja di tempat kerja?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 6:4

Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu?

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 6:4 [ITB])
4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Di ayat 6:1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian, Paulus menggunakan kata orang tua, dan di ayat 6:2 Hormatilah ayahmu dan ibumu, ia mengutip Kitab Keluaran dan mencantumkan ayah dan ibu secara terpisah sebagai objek yang harus dihormati oleh anak-anak, jadi di ayat 4 kata bapa-bapa tidak boleh dipahami sebagai mewakili ayah dan ibu, tetapi mengacu pada ayah saja. Dalam budaya Yahudi dan Yunani, ayah memiliki otoritas mutlak dalam keluarga, dan karena itu di sini Paulus membahas tanggung jawab yang seharusnya dimiliki mereka; tetapi dalam masyarakat zaman kini, karena ayah mungkin bukan satu-satunya otoritas absolut dalam keluarga, jadi kita dapat menerapkan ajaran di sini untuk orang tua juga.

Perintah Paulus kepada para ayah agar janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu (παροργίζω parorgizo) janganlah memprovokasi anak-anak mereka, kata kerja ini digunakan dalam Perjanjian Lama Yunani kuno terutama untuk menggambarkan kemarahan orang Israel kepada TUHAN, yang menunjukkan bahwa mereka melakukan apa yang tidak seharusnya mereka lakukan dalam hubungan perjanjian mereka dengan TUHAN. Dalam Kolose 3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya, paralel dengan perikop dari Efesus ini, penggunaan sakiti hati anakmu / memprovokasi anakmu (ἐρεθίζω erethizo) mungkin mencerminkan ayah mengambil hak warisan anak-anak, membuat mereka tawar hati; Roma 10:19 mengatakan … Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal mencerminkan tindakan Allah terhadap mereka dengan cara yang orang-orang pada waktu itu anggap tidak masuk akal; dan dalam Efesus 4:26 apabila kamu menjadi marah (ὀργίζω orgizo), janganlah kamu berbuat dosa, istilah terkait mungkin mencerminkan kemarahan yang dipicu tindakan yang tidak masuk akal. Dari penggunaan kata itu sendiri di atas dan penggunaannya yang terkait, tampaknya mencerminkan bahwa ini mengacu pada perlakuan tidak wajar terhadap anak-anak oleh ayah.

Di lingkungan zaman kini, membesarkan anak-anak penuh tantangan, orang tua sendiri memiliki banyak tekanan dalam pekerjaan dan kehidupan mereka, yang tidak mudah untuk diatasi. Di zaman modern, lebih banyak keluarga tidak hidup bersama, sehingga banyak urusan mengenai anak-anak tidak mendapat bantuan dari orang lain. Meski begitu, kita tidak boleh mentransfer stres kita kepada anak-anak kita, memarahi mereka secara berlebihan dalam kemarahan kita sendiri, atau bahkan memperlakukan mereka dengan kata-kata dan tindakan yang menghina.

Selain larangan negatif, Paulus juga menambahkan perintah positif, menunjukkan bahwa para ayah harus mendidik anak-anak mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Kata mendidik (ἐκτρέφετε ektrephete) digunakan dalam Efesus 5:29 tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya (ἐκτρέφω ektrepho) dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, di mana itu mengungkapkan pemeliharaan dan perawatan tubuh sendiri, dan dengan perluasan itu berlaku untuk perawatan suami untuk istrinya. Dalam penggunaan literatur antar Perjanjian, kata tersebut mencerminkan keinginan untuk membesarkan orang yang diasuh untuk mencapai apa yang seharusnya: dalam 1 Makabe 6:15, Antiokhus IV mempercayakan kekuasaan kepada Filipus, sehingga Filipus dapat membesarkan Antiokhus V putranya agar dia bisa meneruskan takhta raja. Kita perlu berhati-hati untuk tidak memaksakan tujuan yang tidak masuk akal pada anak-anak kita. Dalam contoh di atas, Antiokhus V adalah putra seorang raja, jadi dia harus dilatih untuk menjadi raja; tetapi anak-anak kita bukanlah pangeran, juga belum tentu jenius, dan kita perlu membesarkan mereka dengan harapan yang masuk akal, terlebih tidak patut impian kita yang belum terpenuhi diproyeksikan kepada anak-anak kita, dan bahkan mendisiplinkan mereka dengan keras untuk memuaskan diri kita atas cita-cita diri kita sendiri yang tidak tercapai.

Di sini dijelaskan bahwa cara mengasuh anak harus sesuai dengan ajaran dan nasihat Tuhan, yang meliputi pengajaran dan pelatihan positif serta nasihat dan koreksi negatif. Ajaran dan nasihat ini adalah milik Tuhan, terjemahan literalnya adalah didiklah mereka dengan ajaran dan nasihat Tuhan, bukan sekadar mengikuti prinsip-prinsip Tuhan.

Renungkan:
Bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita? Di gereja, bagaimana kita dapat membantu orang tua membesarkan anak-anak mereka di dalam Tuhan?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.