Tag Archives: Rendah Hati

Zefanya 2:4-15

「Meninggikan Diri akan Direndahkan」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Zefanya 2:4-15 [ITB])
4 Sebab Gaza akan ditinggalkan orang dan Askelon akan menjadi sunyi; Asdod akan dihalau penduduknya pada rembang tengah hari dan Ekron akan dibongkar-bangkirkan. 5 Celakalah kamu penduduk Daerah Tepi Laut, kamu bangsa Kreti! Terhadap kamulah firman TUHAN ini: Hai Kanaan, tanah orang Filistin! Aku akan membinasakan engkau, sehingga tidak ada lagi pendudukmu. 6 Daerah Tepi Laut akan menjadi tempat kediaman bagi gembala-gembala dan kandang berpagar bagi kambing domba. 7 Daerah Pinggir Laut akan menjadi kepunyaan sisa-sisa kaum Yehuda. Mereka akan merumput di sana dan berbaring di rumah-rumah Askelon pada malam hari; sebab TUHAN, Allah mereka, akan memperhatikan mereka dan akan memulihkan keadaan mereka.

8 Aku telah mendengar pencelaan dari pihak Moab dan kata-kata nista dari pihak bani Amon, bagaimana mereka mencela umat-Ku dan membesarkan dirinya terhadap daerah umat-Ku itu. 9 Sebab itu, demi Aku yang hidup–demikianlah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel–maka Moab akan menjadi seperti Sodom dan bani Amon seperti Gomora, yakni menjadi padang jeruju dan tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi sampai selama-lamanya. Sisa-sisa umat-Ku akan menjarah mereka dan yang masih tinggal dari bangsa-Ku itu akan memiliki mereka sebagai warisan. 10 Inilah yang menjadi bagian mereka sebagai ganti kecongkakan mereka, sebab mereka telah mencela dan membesarkan diri terhadap umat TUHAN semesta alam. 11 TUHAN akan mendahsyatkan mereka, sebab Ia akan melenyapkan para allah di bumi, dan kepada-Nya akan sujud menyembah setiap bangsa daerah pesisir, masing-masing dari tempatnya.

12 Kamupun, hai orang Etiopia, akan mati tertikam oleh pedang-Ku.

13 Ia akan mengacungkan tangan-Nya terhadap Utara, akan membinasakan Asyur, dan akan membuat Niniwe menjadi tempat yang sunyi sepi, kering seperti padang gurun. 14 Dan di tengah-tengahnya akan berbaring kawanan binatang, yakni segala macam binatang hutan; baik burung undan maupun burung bangau akan bermalam di hulu tiangnya; burung ponggok akan berbunyi di tingkap, burung gagak di ambang pintu: Pemapan dari kayu aras telah tersingkap! 15 Itulah kota yang beria-ria yang penduduknya begitu tenteram dan yang berkata dalam hatinya: Hanya ada aku dan tidak ada yang lain! Betapa dia sudah menjadi tempat yang tandus, tempat pembaringan bagi binatang-binatang liar. Setiap orang yang lewat dari padanya akan bersuit dan mengayun-ayunkan tangannya.

… menjadi padang jeruju dan tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi …

Dalam perikop ini, nabi Zefanya menunjukkan bahwa bangsa-bangsa di sekitarnya juga akan menghadapi penghukuman karena dosa-dosa mereka. Perkembangan ini menggemakan berita yang telah Zefanya sampaikan di ayat 1:2-3, menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) akan melaksanakan penghakiman atas seluruh bumi. Poin ini juga akan diulangi lagi di ayat 3:6-8, sehingga hukuman atas Yehuda harus didasarkan pada latar belakang penghakiman Allah atas di seluruh bumi. Negara-negara yang tercantum di sini mungkin mencerminkan negara-negara di daerah Timur Dekat pada akhir abad 7 SM, mereka semua akan dikalahkan oleh Babel satu per satu setelah kebangkitan Babel.

Yang pertama dalam daftar penghakiman adalah negara-kota dan suku bangsa di daerah pesisir. Ayat 2:4 Dengan cara pengucapan yang berirama, mengumumkan penghakiman atas empat kota di pesisir dari selatan ke utara, penghakiman yang akan dihadapi setiap kota dalam pengucapannya mirip dengan nama kota. Jadi fokusnya mungkin bukan pada apa yang akan terjadi pada empat kota ini, tetapi hendak menunjukkan bahwa mereka akan mengalami penghakiman yang sebagaimana yang seharusnya mereka terima. Kota-kota pesisir ini pada awalnya padat penduduk dan kaya akan kegiatan perdagangan, pada masa itu mereka termasuk tempat yang punya kekuasaan kuat, tetapi di bawah penghakiman mereka menjadi tempat yang tidak berpenghuni. Dalam 2:7, nabi Zefanya secara khusus menyebutkan sisa-sisa Yehuda dan bahwa TUHAN akan membawa mereka kembali dari pembuangan, sehingga dalam hukuman yang menyeluruh atas muka bumi ini mereka masih tetap memiliki harapan.

Dalam 2:8-11, nabi Zefanya berpindah fokus dari kota-kota pesisir barat beralih kepada Moab dan Amon di timur. Menurut kitab Kejadian, orang Moab dan Amon merupakan keturunan Lot (keponakan Abraham), tetapi sepanjang sejarah mereka terus memusuhi Israel. Kitab Suci berulang kali menunjukkan kesombongan mereka, menghina umat milik TUHAN Allah semesta alam, dan memamerkan kebanggaan mereka. Penghakiman TUHAN atas mereka adalah bahwa tanah mereka dihancurkan sepenuhnya seperti Sodom dan Gomora, menjadi hanya padang jeruju dan tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi sampai selama-lamanya (KBBI: Jeruju adalah tumbuhan semak yang batang dan daunnya berduri-duri melengkung dan tajam). Ayat 2:9 menyebutkan sisa-sisa umat-Ku dan yang masih tinggal dari bangsa-Ku, sekali lagi kepada pembaca menunjukkan adanya pengharapan dalam penghakiman.

Ayat 2:12-15, nabi Zefanya bergerak dari negara-negara di dekat Yehuda di timur dan barat Yehuda beralih ke utara dan selatan yang agak jauh. Terhadap Cush di selatan, hanya ada pernyataan sederhana, tetapi terhadap Asyur di utara, terdapat deskripsi yang lebih rinci. Khususnya dalam ayat 15 yang menuliskan sikap di dalam hati mereka: Hanya ada aku dan tidak ada yang lain selain aku! jelas mencerminkan peninggian diri mereka. Asyur adalah negara terbesar di daerah Timur Dekat di masa akhir abad 8 hingga akhir abad 7 SM, dan semua bangsa dan kerajaan berada di bawah kuasa pengaruhnya. Yehuda tidak lepas dari kendali kekuasaan Asyur sampai zaman Yosia. Mereka memiliki kekuatan militer yang kuat, dan ibukota Niniwe memiliki pertahanan yang sangat baik, tetapi dalam penghakiman TUHAN, mereka masih tidak dapat melepaskan diri dari kehancuran.

Renungkan:
Dalam perikop ini, kita melihat bahwa banyak negara yang berpikir mereka kuat dan memiliki kekuatan perdagangan, politik, dan militer yang sangat kuat, tetapi semua telah dihapuskan dalam penghakiman TUHAN dan menjadi objek tertawaan saja. Yesus Kristus pernah berkata, Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Lukas 14:11), semoga kita semua dapat belajar menjadi rendah hati dalam hidup kita.


Renungan pemahaman Kitab Zefanya

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 66:1-6

「Kerendahan Hati Lebih Baik Daripada Persembahan」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 66:1-6 [ITB])
1 Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? 2 Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman TUHAN. Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku.
3 Orang menyembelih lembu jantan, namun membunuh manusia juga, orang mengorbankan domba, namun mematahkan batang leher anjing, orang mempersembahkan korban sajian, namun mempersembahkan darah babi, orang mempersembahkan kemenyan, namun memuja berhala juga. Karena itu: sama seperti mereka lebih menyukai jalan mereka sendiri, dan jiwanya menghendaki dewa kejijikan mereka, 4 demikianlah Aku lebih menyukai memperlakukan mereka dengan sewenang-wenang dan mendatangkan kepada mereka apa yang ditakutkan mereka; oleh karena apabila Aku memanggil, tidak ada yang menjawab, apabila Aku berbicara, mereka tidak mendengarkan, tetapi mereka melakukan yang jahat di mata-Ku dan lebih menyukai apa yang tidak Kukehendaki.
5 Dengarlah firman TUHAN, hai kamu yang gentar kepada firman-Nya! Saudara-saudaramu, yang membenci kamu, yang mengucilkan kamu oleh karena kamu menghormati nama-Ku, telah berkata: Baiklah TUHAN menyatakan kemuliaan-Nya, supaya kami melihat sukacitamu! Tetapi mereka sendirilah yang mendapat malu.
6 Dengar, bunyi kegemparan dari kota, dengar, datangnya dari Bait Suci!
Dengar, TUHAN melakukan pembalasan kepada musuh-musuh-Nya!

Yesaya 66:1-6 dengan jelas menunjukkan apa yang berkenan kepada TUHAN dan apa yang tidak berkenan kepada-Nya.

Pertama-tama, ayat 1 menjelaskan transendensi TUHAN (Allah tinggi jauh melampaui manusia dan segala yang ada), Allah menjelaskan bahwa langit adalah takhta-Nya dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya, manusia tidak mungkin membangun sebuah Bait di mana TUHAN tinggal, maka Bait Suci tidak dibangun untuk Tuhan, Ia tidak membutuhkan Bait Suci dan dapat eksis secara independen (tidak bergantung pada apapun); sebaliknya, ayat 2 menunjukkan bahwa Bait Suci dan semuanya dibuat oleh tangan TUHAN, Bait Suci dan semua ritualnya indah seperti apapun adalah sia-sia jika tanpa Allah. Sederhananya, Bait Suci dibangun oleh tangan Allah bergantung pada kehadiran Allah, tetapi keberadaan Allah tidak didasarkan pada skala Bait Suci.

Oleh karena itu, semua persembahan korban yang berhubungan dengan Bait Suci itu sendiri tidak diperlukan. TUHAN tidak perlu makan persembahan korban ini, ayat 3 menunjukkan bahwa mereka yang menyembelih lembu dan domba adalah mereka yang secara aktif berpartisipasi dalam mempersembahkan korban dan penyembahan di Bait Suci, mereka selain mempersembahkan korban seperti yang tercantum dalam kitab Imamat, mereka juga mempersembahkan banyak korban kepada dewa-dewa asing, termasuk darah babi, memuja-muja berhala, dll., bahkan membunuh manusia (membakar anak-anak mereka hidup-hidup, lihat Yes. 65:3-4), jadi walaupun jika orang-orang ini mempersembahkan sapi dan domba di Bait Suci, hati mereka tidak benar-benar hanya menyembah TUHAN secara eksklusif, jadi persembahan mereka hanya kemunafikan, hanya ritual, Allah tidak senang dengan persembahan dan penyembahan Bait Suci seperti itu. Dengan pengorbanan. Ayat 6 menjelaskan bahwa TUHAN menganggap orang-orang ini sebagai musuh, suara balasan Allah berasal dari Bait Suci, artinya hukuman yang mewakili Allah pertama-tama dimulai dengan para pemimpin agama yang munafik.

Karena keberadaan TUHAN tidak bergantung pada Bait Suci, bahkan tidak bergantung pada persembahan (korban), maka bukanlah pengorbanan yang kosong dan hanya di kulit luar ini yang benar-benar berkenan kepada Allah dan yang menyenangkanNya, tetapi orang-orang yang dikatakan di ayat 2 yang menderita, dalam roh penuh penyesalan akan dosanya, dan yang gentar kepada firman Allah. Karena Allah tidak membutuhkan orang datang memberikan korban, respons tanggapan manusia yang dikehendaki Allah adalah kerendahan hati yang bertobat, kehidupan seperti itu memandang Allah sebagai Tuhan, menghormati firman perkataan Allah, dan menyadari bahwa jika tidak ada Tuhan maka semuanya adalah sia-sia, memandang manusia sebagai manusia, dengan hormat mendengarkan dan taat melaksanakan semua perintah Allah, mengingat rahmat anugerah Allah, dan menyesali dosa-dosa diri sendiri, dan berdoa memohon belas kasihan Allah. Kehidupan yang rendah hati seperti ini adalah kehidupan yang berkenan kepada Allah.

Renungkan:
Kerendahan hati jauh melebihi persembahan, ketaatan mendengarkan lebih baik daripada korban, manusia berpikir dapat menggunakan persembahan untuk menyenangkan Tuhan, sehingga mereka tidak perlu introspeksi memeriksa kehidupan mereka sendiri, berpikir bahwa mereka dapat bersembunyi dari langit dan melakukan kejahatan, tetapi Tuhan adalah Tuhan, Ia tidak menerima suap persembahan, Allah hanya menghendaki kita menjadi manusia yang sesungguhnya, seseorang yang menganggap Tuhan sebagai Tuhan, seseorang yang merendahkan diri dan takut akan Tuhan, adalah seorang yang menaati perintah dan tindakannya sesuai dengan Firman Tuhan. Apakah Anda bersedia menjadi orang seperti itu?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 57:14-21

「Damai bagi Orang yang Rendah Hati」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 57:14-21 [ITB])
14 Ada yang berkata: Bukalah, bukalah, persiapkanlah jalan, angkatlah batu sandungan dari jalan umat-Ku!

15 Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk. 16 Sebab bukan untuk selama-lamanya Aku hendak berbantah, dan bukan untuk seterusnya Aku hendak murka, supaya semangat mereka jangan lemah lesu di hadapan-Ku, padahal Akulah yang membuat nafas kehidupan. 17 Aku murka karena kesalahan kelobaannya, Aku menghajar dia, menyembunyikan wajah-Ku dan murka, tetapi dengan murtad ia menempuh jalan yang dipilih hatinya. 18 Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan; juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung 19 Aku akan menciptakan puji-pujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang deka t– firman TUHAN –Aku akan menyembuhkan dia! 20 Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. 21 Tiada damai bagi orang-orang fasik itu, firman Allahku.

Yesaya 57:1-13 (klik untuk membaca) melanjutkan 56:9-12 (klik untuk membaca) mengenai penghakiman atas orang fasik, dan menggunakan gambaran penyembah berhala yang sering dipakai dalam tradisi kenabian, untuk menunjukkan bahwa orang-orang fasik ini semuanya adalah pelaku kejahatan dan perzinaan, mereka murtad dan bersalah kepada Allah, penghakiman serta hukuman Allah akan menimpa mereka. Lalu, Yes. 57:14-21 berubah nada penulisannya, dengan kata-kata penghiburan dan bimbingan mengumumkan penyembuhan dan perdamaian kepada orang-orang Israel, damai seperti itu bukan jenis perdamaian yang diperoleh dari kekayaan atau kekuatan militer yang kuat, tetapi adalah damai yang berasal dari kesembuhan karena dituntun oleh Allah menjauh dari dosa, damai ini adalah damai dari mengaku berdosa dan bertobat, syarat untuk mendapatkannya adalah merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Mulai dari ayat 14, kita melihat bahwa Kitab Suci menggunakan kata-kata penting dari Yesaya pertama dan kedua, ayat 14 menyatakan bahwa jalan harus dipersiapkan, yang tepat selaras dengan Yesaya kedua tentang Tuhan membuka jalan di padang belantara bagi umat-Nya (Yes. 40:3-5), jalan yang dimaksudkan bukan jalan geografi yang sebenarnya, tetapi jalan rohani, dan masalah umat Allah saat ini bukanlah masalah hutan belantara antara Babel dan Yerusalem, tetapi masalah batu sandungan dalam ayat 14, dengan demikian, membuka jalan yang dimaksud di sini adalah untuk menghilangkan batu sandungan, jalan ini merupakan perumpamaan dari jalan keselamatan (Yes. 62:10-12), sedangkan batu sandungan berarti merupakan perumpamaan dari kematian (Yeh. 7:19).

Ayat 15 menjelaskan bahwa TUHAN adalah Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, deskripsi ini secara langsung menggunakan deskripsi tentang Allah dalam Yesaya 6:1 yang menunjukkan bahwa TUHAN adalah yang Mahatinggi, tetapi Mahatinggi ini tidak terisolasi terpisah dari dunia, tetapi sebaliknya hidup bersama dengan orang-orang yang bertobat menyesal dan rendah hati, yaitu hidup bersama dengan orang-orang rendah, Mahatinggi bukanlah kesombongan diri sendiri, Mahatinggi-Nya ditunjukkan dalam cinta kasih-Nya kepada yang rendah, Ia rela menyegarkan jiwa orang-orang yang rendah hati. Orang-orang yang rendah hati ini adalah mereka yang mengakui dosa-dosa mereka dan bertobat, mereka tidak tinggi di dalam hati, karena mereka sangat memahami bahwa yang Mahatinggi adalah TUHAN, sehingga mereka merendahkan diri di hadapan Allah dan menganggap diri mereka rendah, orang yang demikian adalah yang benar-benar menganggap Tuhan sebagai Tuhan dan manusia sebagai manusia.

Hanya orang yang rendah hati yang dapat mengerti dan mengalami penghiburan, bimbingan, dan penyembuhan dari Allah (ayat 18-19). Ini adalah janji dalam 2 Taw. 7:14, kata-kata penghiburan, bimbingan, dan penyembuhan adalah sama dengan kata-kata yang suka digunakan dalam Yesaya kedua. Dapat dilihat bahwa Yesaya ketiga mewarisi penggambaran- penggambaran dari Yesaya pertama dan kedua, dan memakai pesan-pesan dari masa lalu yang tidak lekang waktu itu untuk diaplikasikan di masa kini, sehingga pesan Yesaya menjadi kebenaran kehidupan kekal, berita kebenaran ini berseru kepada generasi baru Israel agar saat mereka pulang kembali ke Yerusalem dengan kerendahan hati, dengan demikian barulah mereka dapat mengalami kedamaian dan penyembuhan sejati.

Renungkan:
Ayat 20-21 menunjukkan bahwa orang fasik tidak bisa mendapatkan damai, orang-orang ini tidak memiliki kerendahan hati, tingginya mereka mencegah mereka untuk hidup bersama dengan Yang Mahatinggi yang sesungguhnya, Tuhan. Hati mereka tidak mendapatkan perdamaian, maka ada damai atau tidak adalah tergantung hati diri sendiri rendah atau tinggi. Apakah ada sesuatu yang tinggi dalam hidup Anda yang sepatutnya diletakkan? Bagaimana seseorang dapat menganggap bahwa ia rendah di hadapan Allah dan menghidupi kerendahan hati yang sejati, sehingga ada kedamaian sejati?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 3:15-16

「Mengarah kepada Pertumbuhan」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 3:15-16 [ITB])
15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. 16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

Dalam paragraf penutup ini, Paulus dengan cara paradoks menunjukkan bahwa orang percaya yang dewasa matang perlu seperti Paulus melihat diri mereka tidak sempurna. Pesan ini tepat seperti yang sering kita alami dalam hidup, karena ada banyak orang yang merasa diri benar sendiri di dunia, semakin mereka tidak dewasa, semakin sering mereka merasa bahwa mereka sudah baik dan tidak perlu berubah. Sebaliknya, mereka yang benar-benar dewasa matang sering dapat mengintrospeksi diri, dan melihat kekurangan diri mereka. Paulus menempatkan dirinya di antara mereka, menasihati mereka untuk senantiasa memiliki sikap mentalitas itu.

Dalam surat Filipi, ada banyak frasa berpikir demikian (memiliki hati yang seperti itu) atau makna yang sama yang diekspresikan dengan cara lain, mencerminkan dalam surat ini bagaimana Paulus memandang berat pikiran dan hati seseorang. Dalam kebijaksanaan masyarakat umum juga ditunjukkan bahwa sikap menentukan tingkat ketinggian; pola pikir mentalitas menentukan keberhasilan atau kegagalan sesuatu, melakukan sesuatu dengan sikap yang benar maka akan dapat melakukannya dengan baik. Di pasal 2 Paulus mengingatkan pembaca bahwa mereka harus memiliki tekad pikiran yang sama (Fil. 2:2) dan menaruh hati pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Fil. 2:5), demikian juga di sini mengingatkan mereka perlu memiliki kerendahan hati, semakin dewasa matang, semakin perlu tahu diri sendiri adalah tidak sempurna.

Pada paruh kedua 3:15 … jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu , Paulus menunjukkan bahwa di antara orang-orang dewasa matang, juga mungkin terdapat beberapa hal atau pikiran yang tidak sama, dan ketika menggambarkan masalah ini ia menggunakan metode yang relatif sederhana, tampaknya hendak menunjukkan bahwa ini hanyalah masalah sepele, ia juga percaya Allah akan memimpin mereka. Ketika kita tumbuh sebagai orang percaya, kita mungkin karena pengalaman yang berbeda sehingga memiliki pendapat yang tidak persis sama, tetapi selama setiap orang memiliki kerendahan hati dan mengejar ajaran Tuhan, perbedaan-perbedaan kecil ini dapat diselesaikan dengan lancar.

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa kalimat terakhir dari paragraf ini sedikit anti-klimaks, yang kontras berbeda dengan sikap dalam paragraf sebelumnya untuk berusaha keras bergerak maju dan mengarahkan diri kepada tujuan. Namun ini adalah salah memahami pesan yang disampaikan Paulus., ia bukan menghendaki kita berhenti tidak berjalan maju, puas dengan keadaan sekarang. Masalah utama adalah makna dari kalimat terakhir, dalam frasa berjalanlah menurut jalan yang telah kita tempuh, Paulus menggunakan kata kerja yang ia gunakan hanya tiga kali di tempat lain, di Rom. 4:12, ia mengatakan dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat bahwa orang percaya mengikuti jejak Abraham bapa kita telah beriman sebelum disunat, dalam Galatia 5:25 dan 6:16, ia menyatakan bahwa kita dalam pimpinan Roh Kudus, di dalam iman kita bergerak maju dengan jejak langkah yang sama dengan Roh Kudus. Di luar Alkitab, penggunaan kata kerja ini sering dikaitkan dengan bergerak majunya pasukan, menggambarkan derap langkah kaki mereka untuk menyambut musuh. Oleh karena itu, di sini bukan menghendaki orang percaya untuk berhenti pada keadaan saat ini dan hidup di dalam standar yang sudah ada, tetapi menurut langkah kaki yang memperoleh pencapaian sekarang ini, di jalan yang dilewati ini, untuk terus tidak henti bergerak maju dan seperti pasukan tentara, seluruh kelompok tumbuh bersama.

Renungkan:

Apakah kita orang dewasa rohani? Bisakah kita memahami kekurangan diri kita dan memahami tuntunan Roh Kudus, mengikuti kehendak Allah dan bergerak maju?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 2:17-18

「Bersukacita Bersama-sama」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 2:17-18 [ITB])
17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. 18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.

Dalam dua ayat sederhana ini, Paulus sepenuhnya mengungkapkan sikap mentalitasnya dalam melayani. Ini adalah salah satu dari serangkaian contoh teladannya di pasal 2. Tindakan dan sikapnya sendiri memungkinkan kita untuk memahami lebih dalam apa artinya memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, dan apa itu pelayanan dalam kerendahan hati yang sejati.

Dalam ayat-ayat di atas, Paulus menyatakan keyakinannya terhadap orang-orang percaya di Filipi, dan ia percaya bahwa mereka akan melakukan yang terbaik di jalan iman dan akan terus bertumbuh. Dia bukan karena melihat atau mengetahui bagaimana penampilan jemaat Filipi sehingga membuat tanggapan tersebut, karena jikalau demikian maka di paragraf berikutnya ia tidak perlu mengutus Timotius pergi kepada mereka untuk melihat kondisi mereka. Tetapi karena ia percaya dengan iman bahwa Allah akan sesuai dengan kesetiaan-Nya sendiri, membuat umat-Nya tumbuh dalam Yesus Kristus dan menghasilkan buah yang baik.

Di sini Paulus menunjukkan bahwa ia rela membayar harga atas iman mereka, jika iman mereka adalah suatu persembahan korban bagi Allah dan Paulus sendiri seperti anggur korban curahan yang dicurahkan di atasnya, yang dalam waktu sangat singkat akan habis, namun dia akan sangat puas dengan sukacita.

Dalam dua ayat ini, Paulus empat kali mengungkapkan pesan sukacita. Dua adalah deskripsi naratif tentang sikapnya sendiri, dan dua lainnya adalah perintahnya kepada jemaat Filipi. Baik dalam narasi atau perintah, ia menggunakan dua kata kerja yang terkait, di satu sisi menunjukkan kegembiraan seseorang, dan di sisi lain untuk menunjukkan bahwa kegembiraan harus dimiliki bersama, dan dinikmati bersama. Jika dibicarakan secara ketatnya, sukacita adalah sikap pribadi seseorang sendiri, yang berarti respons diri seseorang atas situasi ia berada, tetapi dalam komunitas iman, sukacita sejati harus merupakan pengalaman yang dimiliki dan dinikmati dalam kelompok.

Alasan untuk sukacita yang diungkapkan di sini bukanlah hasil yang ada di eksternal luar, jadi sukacita ini tidak dibangun atau didasarkan pada pencapaian atau hasil yang dapat terlihat, tetapi berdasarkan pada iman penuh kepastian bahwa Allah ada di antara manusia, dan Ia akan terus menggenapkan kehendak yang berkenan kepada-Nya. Untuk memiliki sukacita dalam hidup kita, kita juga harus mengandalkan iman yang demikian. Karena di dunia ini, hasil yang dangkal di permukaan kulit seringkali berumur pendek dan tidak dapat dipertahankan. Sukacita yang mereka bawa hanya dapat kesenangan sementara dan dangkal di permukaan kulit, setelah sukacita yang demikian berlalu, harus kembali menghadapi kenyataan yang kejam. Hanya sukacita yang keluar dari iman, adalah yang abadi dan layak untuk saling berbagi.

Renungkan:

Apa dasar dari sukacita kita? Apakah kita mengubah sukacita kita menjadi sukacita yang berbagi dinikmati di dalam komunitas?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 2:5-8

「Teladan Yesus Kristus」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 2:5-8 [ITB])
5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Fil. 2:6-8 dengan jelas menunjukkan kepatuhan Yesus Kristus yang rendah hati. Di sini menekankan dengan sangat kuat: bahwa kerendahan hati Yesus Kristus jelas bukan karena diri-Nya rendah, karena Ia memiliki rupa Allah. Kata rupa menandakan bahwa Dia tidak hanya memiliki esensi dan kualitas yang sama dengan Allah, tetapi juga memiliki gambar yang sama dengan Allah dalam bentuk eksternal. Pada saat menekankan rupa eksternal Yesus Kristus, 2:6 juga menunjukkan bahwa Ia setara dengan Allah. Ungkapan ini jelas menjabarkan keTuhanan yang sempurna dari Yesus Kristus.

Di sini Paulus menggunakan kata yang hanya muncul sekali dalam Alkitab, menggambarkan Yesus Kristus tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah. KJV atau CUV menerjemahkan sebagai memperebutkan tampaknya sudah mencerminkan makna kata tersebut dengan relevan, walau mungkin rentan kesalahpahaman bahwa memang dari awal tidak memiliki sehingga tidak memperebutkan, dan terjemahan ini kurang bisa mengekspresikan makna memegang erat sekuat tenaga (bandingkan ITB memakai kata “mempertahankan”), namun dapat dengan benar mencerminkan bahwa Yesus Kristus setara dengan Allah, tetapi Ia tidak bersikeras datang dengan identitas dan rupa ini.

Fil. 2:7 lebih jauh menggambarkan teladan Yesus yang rendah hati. Istilah mengosongkan diri relatif mudah dimengerti tetapi bagaimana Dia mengosongkan diri-Nya sendiri harus mengacu pada konteks yakni teks berikutnya, terutama dua frasa berikut: mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Pengosongan diri Yesus Kristus bukan membuang keilahian-Nya, tetapi mengambil rupa seorang budak. Paulus tidak sekadar hendak mengekspresikan inkarnasi Yesus Kristus Sang Firman menjelma jadi manusia dan hidup di tengah-tengah manusia, karena jika demikian, dua frasa terakhir dari ayat 7 sudah cukup, Paulus bahkan lebih fokus menitikberatkan Yesus Kristus melepaskan hak yang memang dimiliki-Nya, menjadi hamba bagi manusia, melalui tindakan-Nya agar manusia bisa mendapatkan keselamatan.

Ini dengan jelas dinyatakan dalam ayat 8, bahwa Yesus Kristus tidak hanya menjadi manusia, tetapi juga rendah hati dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Kepada siapa Yesus Kristus taat, tidak secara jelas dinyatakan dalam perikop ini, tetapi dari tanggapan Allah terhadap tindakan Yesus yang dijelaskan di teks di bawah, maka dapat diketahui Yesus menaati kehendak Allah, Ia melalui rupa yang dipandang hina oleh manusia menyelesaikan keselamatan yang dijanjikan-Nya. Kerendahan hati Yesus Kristus membuat manusia mendapatkan keselamatan dan menerima anugerah.

Sebelum rangkaian uraian tentang Yesus Kristus di atas, di ayat 5 Paulus terlebih dahulu menunjukkan bahwa orang percaya perlu memiliki pikiran dan perasaan Kristus Yesus, jadi tujuan Paulus bukanlah sekadar untuk membuat pembaca memahami bagaimana Yesus Kristus setara dengan Allah serta betapa Ia rendah hati dan taat, bahkan sampai mati di kayu salib, terlebih hendaknya kita menjadikan Yesus sebagai teladan, mempelajari sikap hati dan pikiran-Nya. Jika Kristus dapat meletakkan rupa-Nya yang setara dengan Allah, kita bahkan dapat meletakkan apa yang kita anggap mulia dan menjadi hamba bagi orang lain untuk melayani kebutuhan orang lain.

Renungkan:

Bisakah kita menjadikan Yesus sebagai teladan, meletakkan identitas kita, melayani dengan rendah hati agar orang lain mendapatkan manfaat baik?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

20 Maret 2019 ● Rabu Minggu Kedua Pra Paskah

Seharusnya Tidak Begitu Di antara Kalian

Matius 20:17-28
17Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: 18“Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. 19Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

20Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 21Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 22Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 23Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 24Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 25Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 26Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem Dia memberi tahu kepada mereka bahwa Dia akan dikhianati dan diserahkan kepada para pemimpin agama, yang akan mengutuk-Nya dan menyerahkan-Nya kepada penguasa Romawi yang memiliki kuasa untuk menjalankan hukuman mati. Dia akan melalui siksaan ejekan dan cambukan dari mereka, dan mereka akan menyalibkan Dia, tetapi Ia akan bangkit pada hari ketiga.

Ironinya, tidak ada yang peduli tentang penderitaan yang harus dialami Yesus. Ibu Yakobus dan Yohanes, termasuk di antara beberapa wanita yang mengikuti mereka ke Yerusalem (Markus 15:41), memohon kepada Yesus untuk berjanji kepadanya untuk memberikan dua posisi tertinggi di Kerajaan-Nya kepada kedua putranya. Yesus dengan rendah hati menjawab bahwa penetapan posisi adalah keputusan Bapa.

Ibu Yakobus dan Yohanes benar-benar membangkitkan kemarahan murid-murid lain karena mereka juga mengidamkan posisi tertinggi di Kerajaan Yesus (Mrk. 9:33-36; Mat. 18: 1; Luk. 22:24-30). Selwyn Hughes berkomentar, “Betapa menyedihkan bahwa para murid bersedia untuk bertempur memperebutkan sebuah takhta, tetapi tidak untuk sebuah handuk.”

Apakah kita menyerupai para murid yang sibuk dengan ambisi mereka dan tidak memperhatikan apa yang dikatakan Yesus kepada mereka?

Di dunia ini orang berusaha untuk posisi, termasuk juga gengsi, kekuasaan, popularitas dan keistimewaan, tetapi Yesus memperingatkan, “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 20:26). Orang-orang percaya adalah warga dari Kerajaan yang berbeda (Flp. 3:20). Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana para pemimpin Kerajaan-Nya memimpin dengan melayani orang lain. Hamba melayani untuk memenuhi kebutuhan orang lain, dan Yesus melakukan itu dengan hidup-Nya sendiri untuk memenuhi kebutuhan kita akan keselamatan!

Yesus, Tuhan, Raja dan Allah kita menetapkan diri-Nya sebagai teladan bagi kita (Yoh 13: 13-15), bagaimana kita melayani orang lain seperti Dia?

Doa
Jadikan aku seorang pelayan yang rendah hati dan lemah lembut,
Tuhan biarkan saya mengangkat mereka yang lemah
Dan semoga doa dari dalam hatiku selalu
Jadikan aku pelayan
Jadikan aku pelayan
Jadikan aku pelayan hari ini.
(“Make Me A Servant” Lirik oleh Maranatha Music 1982.)

Tindakan
Temukan tindakan pelayanan yang dapat Anda lakukan untuk satu orang setiap hari; dan sebuah area pelayanan yang dapat Anda layani di gereja Anda. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kol. 3:23-24)

Oleh
Rev Chia Beng Hock
Senior Pastor
Bethel Assembly of God

19 Maret 2019 ● Selasa Minggu Kedua Pra Paskah

Jalani ucapanmu!

Matius 23:1-12
1Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 8Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 9Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 10Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 11Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan
Tempat duduk Musa adalah tanda otoritas untuk orang Yahudi. Para pemimpin agama pada masa itu mengambil otoritas itu dan berkhotbah dan mengajar orang-orang, tetapi gagal mempraktikkan ajaran-ajaran itu dalam kehidupan mereka sendiri. Mereka bukan contoh yang bagus dari ajaran mereka sendiri. Hal-hal yang mereka lakukan hanyalah tindakan lahiriah untuk menciptakan persepsi tentang kepentingan mereka di publik. Yesus menolak perilaku munafik seperti itu dan mendesak murid-murid-Nya untuk menjadi hamba Allah yang sejati.

Yesus mencegah niat murid-murid-Nya untuk menginginkan tempat-tempat berkedudukan tinggi karena reputasi buruk para pemimpin agama. Yesus mengundang mereka untuk memandang Kristus sebagai satu-satunya guru mereka yang telah menetapkan diri-Nya sebagai teladan kepemimpinan sejati. Yesus memperbarui pemahaman mereka tentang kepemimpinan pelayanan. Kata-kata Tuhan kita ini, berlaku bagi para pengikut-Nya hari ini.

Untuk mencapai dan melatih kerendahan hati adalah dekat dengan hati Yesus seperti yang terlihat dalam ajaran-Nya dalam Injil. Yesus sendiri adalah contoh sempurna dari kerendahan hati – “Anak Allah, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:6,7). Ia menyerahkan takhta-Nya yang memang menjadi milik-Nya dan menjadi salah satu dari kita untuk melayani dan menyelamatkan kita. Dalam arti, melalui satu tindakan itu, Yesus bertindak menunjukkan kerendahan hati bahkan sebelum Dia mulai berkhotbah tentang hal itu. Di sepanjang kehidupan-Nya di bumi, Dia menetapkan diri-Nya sebagai teladan sebagai hamba Allah yang rendah hati untuk melayani manusia.

Kita sering mendengar ini, “Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata.” Panggilan yang dibuat ketika melihat tindakan yang ditampilkan diperlukan lebih dari sekadar ucapan. Saat ini, tidak ada kekurangan pembicara hebat tentang kepemimpinan dan kehambaan; kerendahan hati dan pengorbanan, tetapi hanya ada sedikit orang yang benar-benar menunjukkan watak yang benar dari kepemimpinan yang melayani. Yesus mengundang kita untuk senantiasa melatih kerendahan hati, terlebih lagi sebelum kita mulai membicarakannya. Kita harus menjadi orang yang menjalankan ucapan kita!

Doa
Ya Tuhan, ajari aku kerendahan hatimu. Biarkan saya menjadi contoh kata-kata-Mu sehingga orang lain dapat melihat tindakan saya dan merindukan-Mu.

Tindakan
Hari ini saya akan melakukan upaya yang dirancang untuk melayani dengan kerendahan hati dan pengorbanan.

Oleh
Rev James Nagulan,
President
Emmanuel Tamil Annual Conference