Tag Archives: Jesus Reinterpretation

1 Petrus 1:3-5 (3)

「Pada Saat yang Sama, Menantikan Tuhan, juga Bekerja Sekuat Tenaga」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:3-5 [ITB])
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, 4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. 5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

Kemarin, kita sudah merenungkan bahwa bagian / warisan yang Allah telah persiapkan bagi kita bukanlah apa yang bisa binasa, bukanlah yang dapat cemar dan bukanlah yang dapat layu (degradasi). Hanya dengan iman ini barulah kita dapat melepaskan tradisi kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, masuk ke hal-hal baru yang Allah ingin kita lakukan, dan agar kita memahami kembali inti esensi sejati dari Injil untuk dibawakan kepada zaman generasi yang berbeda.

Kita sampai pada klausa partisipatif (participle clause) terakhir dalam kalimat puji-pujian ini:

Ayat 5 Di bawah kuasa besar Allah, (kamu) yang dilindungi adalah melalui iman, sampai keselamatan dinyatakan secara keseluruhan di akhir zaman. (Terjemahan penulis)

Pertama-tama, apa yang ingin kita renungkan adalah iman? Apa hubungan antara iman dan kuasa besar Allah?

Berdasarkan analisis teks bahasa aslinya, frasa διὰ πίστεως diá písteos dapat dipahami sebagai melalui iman orang percaya, dan kata iman ini sesuai konteks ayat sebelumnya adalah merujuk iman atas kebangkitan Yesus Kristus, Kristus yang bangkit dapat membuat orang melampaui cara berpikir dan tradisi spiritual yang hanya melihat yang di dunia, agar memiliki iman bahwa bagian warisan yang sesungguhnya bukanlah tanah yang berada di dunia, asalkan orang dengan sungguh hati beriman maka dapat menerobos batasan pikirannya sendiri. Dan hanya berada di dalam perlindungan kuasa besar Allah (ἐν δυνάμει Θεοῦ en dunámei Theoú) barulah iman seseorang bisa terus bertahan melampaui pembatasan pikiran diri sendiri, bahkan dalam penderitaan yang tidak bisa kita pahami, masih bisa benar-benar percaya akan apa yang tidak terlihat di depan mata saja, apa yang harus dipertahankan, yakni: keselamatan sejati yang dinyatakan secara keseluruhan pada zaman akhir. Tidak terjerat dalam kebiasaan spiritual yang berpola pikir terkait dunia saja.

Selanjutnya, kita akan merenungkan hubungan antara kata keselamatan dinyatakan secara keseluruhan (σωτηρίαν ἑτοίμην sotirían etoímin) dan akhir zaman (καιρῷ ἐσχάτῳ kairó escháto)

Bagi Petrus, penyingkapan (diberitahukan kepada manusia melalui Injil) dan dinyatakannya keselamatan yang sejati adalah untuk memungkinkan orang-orang percaya di zaman akhir mengerti serta benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan kebangkitan Yesus dan duduk di sisi kanan Bapa, kata keseluruhan / lengkap (ἑτοίμην etoímin) menunjukkan bahwa anugerah keselamatan ini telah digenapi secara lengkap di antara orang-orang percaya, jadi yang ingin diungkapkan Petrus adalah: keselamatan sejati hanya dapat dihayati pada akhir zaman, tetapi keselamatan ini telah sepenuhnya tercapai (digenapi). Dengan kata lain, keselamatan tidak pernah hanya merupakan pengharapan yang dilihat dengan sudut pandang akhir zaman kelak saja, karena keselamatan sudah digenapi secara lengkap di antara kita, zaman yang sekarang dan akhir zaman bersinggungan. Mengingatkan kita agar tidak hanya hidup untuk dunia dan sekarang ini saja (harus melihat yang kelak, ayat 5 sampai keselamatan dinyatakan secara keseluruhan di akhir zaman), namun pada saat yang sama juga mengajarkan agar saat ini hidup di dunia harus sudah menyatakan dan menghidupi karakter keselamatan yang telah sepenuhnya digenapi itu (bukan hanya menunggu kelak saja). Ini merupakan pemahaman penafsiran dan sudut pandang berbeda dibandingkan pandangan akhir zaman dari orang-orang perjanjian lama (yang membatasi diri mereka memandang janji itu sebagai tanah yang ada di dunia saja),

Dan kita orang percaya harus hidup dalam iman paradoks ini, terus menerus melatih dan mengingatkan diri kita sendiri untuk berusaha pada saat hidup di dunia sekarang ini adalah demi yang di atas yang surgawi, tetapi pada saat yang sama hidup di dunia ini adalah dengan sungguh-sungguh melakukan hal-hal nyata (bukan hanya berharap pada yang kelak tanpa berbuat apa-apa yang nyata).

Renungkan:
Sering kali, kita sering jatuh ke dalam pergumulan dan tunggu yang Tuhan turun tangan bekerja, terutama ketika kita kehabisan kekuatan dan kebijaksanaan. Menunggu Allah tentu saja tidak perlu diragukan, tetapi ingat ada kuasa Tuhan dan keselamatan yang sudah digenapi yang dapat membuat orang bertahan untuk melakukan hal-hal baru bagi Tuhan di zaman yang tidak mudah ini, tidak sampai jatuh menyerah.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:3-5 (2)

「Mengikuti Kebiasaan atau Memahami ulang」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:3-5 [ITB])
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, 4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. 5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

Kemarin, kita telah merenungkan klausa pertama dari ketiga klausa partisipatif. Di dalam zaman yang tanpa harapan, penuh penindasan dan kebohongan ini, kelahiran kembali – sepenuhnya mengubah sikap kita terhadap kehidupan – akan membawakan harapan hidup. Dan menurut tata bahasa Yunani, kelahiran kembali ini tidak hanya membawa harapan tetapi juga akan membawakan suatu bagian / warisan inheritance (κληρονομίαν).

Ayat 4 untuk menerima bagian (warisan) yang tidak bisa rusak, tidak cemar, dan tidak degradasi, yakni bagi kita di simpan di surga. (Terjemahan penulis)

Untuk memahami ayat ini, kita harus memahami konsep teologis dalam Perjanjian Lama tentang kata bagian / warisan (κληρονομίαν) dan harapan orang percaya pada abad pertama. Bagian / warisan adalah kata benda yang khusus dipakai untuk janji yang Allah berikan kepada orang-orang Ibrani untuk tinggal di Kanaan, ini menjelaskan fondasi iman orang Israel, tanpa kehadiran penyertaan dan perlindungan pemeliharaan Allah, tidak akan dapat berdiri selama ini tidak tumbang dalam situasi penuh ancaman dan berbagai serangan, jadi bagi orang Yahudi, warisan tanah Kanaan ini menjadi tradisi turun menurun yang sakral dan tidak dapat diganggu gugat.

Namun, ketika Yerusalem dihancurkan pada abad ke-6 S.M dan orang-orang Yahudi ditawan ke tempat asing, tradisi tentang bagian warisan tanah Kanaan ini masih bertahan hingga abad pertama A.D (bisa dikatakan hingga abad ke-21 hari ini), mereka tetap berharap suatu hari bisa mendapatkan kembali ke tanah warisan ini.

Dalam konteks latar belakang ini, ditambah dengan penolakan Caesar Romawi terhadap orang-orang Yahudi, Petrus harus berjuang untuk mengajarkan kepada orang-orang percaya Yahudi agar berhenti hanya berkutat dalam tradisi tentang bagian warisan tanah kanaan ini, maka Petrus menggunakan tiga kata sifat yang sangat khusus (alpha-privative adjectives): tidak bisa rusak ἄφθαρτον , tidak cemar ἀμίαντον, dan tidak degradasi ἀμάραντον, untuk menggambarkan bagian / warisan dari Yesus Kristus bukan merupakan tanah yang dijanjikan di bumi, karena tanah di bumi ini akan rusak, tercemar, dan terdegradasi, tetapi anugerah keselamatan Yesus Kristus adalah tentang warisan surgawi yang disimpan di surga bagi orang-orang percaya, maka jangan hanya berkutat dalam tradisi legendaris tentang warisan tanah di bumi.

Petrus menggunakan kata τετηρημένην / tersimpan (bentuk perfect participle) untuk menekankan bahwa warisan surgawi ini disediakan untuk kita oleh Allah sendiri, menghendaki agar mata kita tidak hanya terfokus mengharapkan bagian di bumi, tetapi untuk belajar teladan Yesus, Dia mengorbankan diri-Nya di kayu salib, bangkit dari kematian, naik ke surga, dan mempersiapkan tempat bagi kita mendapatkan bagian / warisan yang abadi.

Renungkan:
Injil Yesus Kristus menjungkirbalikan pikiran manusia, dan menafsirkan kembali (reinterpretation) tradisi legendaris tentang warisan tanah di bumi itu. Hari ini, tradisi spiritual yang ingin kita pelajari bukan sekedar menceritakan ulang contoh-contoh kisah dari Alkitab (scriptural example), tetapi memahami inti esensi ajaran dalam Alkitab, untuk dipahami dan diaplikasikan ulang sesuai untuk zaman sekarang ini (reinterpretation) (Bukan sekedar melakukannya secara harafiah apa adanya tanpa memahami esensi kebenaran rohani yang terkandung, dan melanjutkan tradisi legendaris harafiah budaya Timur dekat zaman kuno)

Tidak pernah mudah untuk melepaskan tradisi legendaris tentang warisan tanah di bumi, Petrus benar-benar berusaha keras melakukan interpretasi dan aplikasi ulang. Berharap bahwa di era yang sangat kompleks ini, kita akan bisa saling mendorong: melihat apa yang tidak kelihatan di depan mata, dan tidak hanya memikirkan ide-ide tradisi kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 24:28-43

「Pengalaman dan Kebenaran Bersama Penting bagi Iman」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 24:28-43 [ITB])
28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.
Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
32 Kata mereka seorang kepada yang lain: Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?
33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. 34 Kata mereka itu: Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon. 35 Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. 36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: Damai sejahtera bagi kamu! 37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.
38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? 39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku. 40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.
41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: Adakah padamu makanan di sini? 42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. 43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.

Salah satu tema penting Injil Lukas adalah untuk menafsirkan ulang (memahami ulang) apa sebenarnya perjamuan Mesianik (reinterpretation of Messianic banquet).

Perjamuan Mesianik yang diharapkan oleh orang-orang Yahudi adalah berharap bahwa suatu hari Dia yang dijanjikan Allah datang menyelamatkan mereka dan memimpin orang-orang Yahudi menuju kemenangan, dan Ia akan muncul dalam perjamuan pesta ini. Namun, banyak perjamuan pesta yang secara khusus dicatat dalam Injil Lukas: misal pertobatan wanita yang berdosa dan berputar kembalinya (pertobatan) Zakheus (lihat Lukas 7 dan 19), sejatinya hendak menunjukkan bahwa penafsiran ulang yang dilakukan Yesus atas perjamuan Mesianik adalah menyangkut pertobatan orang Yahudi atas dosa. Sedemikian juga dalam penetapan Perjamuan Kudus, pernyataan-Nya bahwa darah-Nya mengalir demi orang berdosa, terlebih lagi menjelaskan hal ini.

Ayat hari ini merupakan deskripsi lain dari perjamuan itu. Seperti dalam Perjamuan Kudus: Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Perjamuan Kudus muncul kembali dalam makan malam kedua orang yang menuju ke Emaus itu, yang membuat mereka mengingat lagi demi untuk apa perjamuan Mesianik itu? Apakah demi pengharapan atas kuasa raja di bumi, ataukah Mesias mengorbankan diri-Nya sendiri demi pengampunan dosa manusia di dunia, sehingga dengan demikian menerima keselamatan sejati yang damai dan sukacita?

Kitab Suci mencatat bahwa terang terbukalah mata mereka setelah diulangnya Perjamuan Kudus. Kata teranglah (terbukalah) (διηνοιχθησαν diēnoichthēsan) dan ayat 16 sebelumnya terhalangnya mata mereka, adalah kata kerja pasif. Artinya, mereka dari tidak mengerti sampai menjadi mengerti semuanya terjadi setelah melalui penjelasan Yesus tentang tulisan Kitab Suci, mereka dapat melihat Yesus yang seharusnya mereka kenal.

Jika kita melihat dengan seksama pada kata menerangkan (διανοίγεν diēnoigen) dalam ayat 32, kita akan menemukan bahwa kata ini memiliki akar kata yang sama dengan kata teranglah (terbukalah). Akar kata itu memiliki arti membuka. Poin penting ini membuat kita mengerti bahwa mereka mengenali bahwa Yesus telah bangkit dari kematian adalah karena Yesus menjelaskan segala sesuatu tentang Dia yang tertulis di dalam Alkitab, hati mereka berkobar-kobar, dan adalah Firman Allah yang membantu mereka untuk mengenali Yesus. Karena itu, kembali ke Firman Allah adalah kunci kritis bagi semua orang yang mengenal Yesus. Kisah perjalanan menuju Emaus mengajar pemikiran kita, bahwa orang yang mengenal Yesus yang sudah bangkit adalah orang-orang yang memahami apa yang dibicarakan di dalam Alkitab tentang penderitaan dan kebangkitan-Nya.

(Yesus yang mana atau yang bagaimana yang kita kenal? Lih. Luk. 24:21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. … )

Lukas tidak berhenti di situ, dengan berdasarkan janji-janji dalam Alkitab, ia membuat orang-orang tahu bahwa Yesus benar-benar bangkit dan muncul dengan tubuh kebangkitan di antara para murid. Perikop melanjutkan mencatat dengan jelas reaksi orang percaya melihat Yesus yang sudah bangkit: Yesus mengundang mereka untuk menyentuh tangan dan kaki-Nya, atau makan bersama mereka, yang sebenarnya menunjukkan bahwa Ia benar-benar sudah bangkit.

Renungkan:

Terkadang kita berpikir bahwa pengalaman iman itu sangat penting. Sungguh, tidak mungkin untuk tidak memiliki pengalaman nyata dalam iman, tetapi pada saat yang sama, adalah sama pentingnya dasar dari mana pengalaman ini berasal.
Ayat hari ini mengajarkan kita untuk menggunakan Alkitab sebagai dasar untuk mengenali Yesus yang telah bangkit (bukan sekedar dari pengalaman dan tanpa mempelajari Alkitab). Berdasarkan ini, semua pengalaman akan menjadi lebih bermakna dan riil nyata.

Pada generasi ini yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri, lebih perlu meletakkan dasar pada Alkitab.


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 21:12-19

「Pandangan Akhir Zaman yang Terbalik」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 21:12-19 [ITB])
12 Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. 13 Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.
14 Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. 15 Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.
16 Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh 17 dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.
18 Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. 19 Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.

Dalam perikop kemarin, kita telah berbicara tentang keadaan akhir — fenomena bahwa Bait Suci akan dihancurkan, bangsa menyerang bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Juga, selain bahwa keselamatan dari Yesus menggantikan Bait Suci sebagai penanda identitas (identify marker) bagi orang Yahudi juga mencakup orang non Yahudi, terdapat penanda identitas lainnya yang membuat orang tidak habis pikir adalah bahwa para murid Tuhan akan menderita karena Injil Tuhan, menanggung penganiayaan, dan terlebih ancaman kematian.

Berbicara pemandangan hari-hari akhir tidak pernah merupakan topik asing bagi orang Yahudi. Di antara kedua perjanjian, karena orang Yahudi menderita aniaya selama bertahun-tahun, sedangkan Mesias Sang Keselamatan Allah belum juga datang, mereka menggunakan metode penulisan literatur apokaliptik untuk saling menguatkan. Sebagian besar karya sastra apokaliptik Yahudi ini menggambarkan situasi yang akan terjadi pada hari-hari terakhir, dan apakah pada akhirnya orang Yahudi akan mengalami akhir indah terbaik setelah semua penderitaan itu ─ orang Yahudi mendapat pemeliharaan dan perlindungan dari Allah, dan agresi bangsa-bangsa lain akan dihentikan; orang benar ditinggikan Allah, orang fasik mendapatkan penghakiman setimpal.

Melalui latar belakang pembicaraan dan situasi demikian untuk memahami perikop ini, kita akan menemukan bahwa pemandangan hari-hari akhir yang digambarkan oleh Yesus tidak berbeda, tetapi akhir dan keadaan umat Allah berbeda dengan keinginan hati mereka.

Dalam deskripsi Yesus, sebelum dan sesudah penghancuran Bait Suci, tidak ada gambaran tentang akhir yang indah dari orang Yahudi. Sebaliknya, teks ini berfokus pada bagaimana orang harus menghadapi penderitaan dan penganiayaan, dan fokusnya itu adalah kesempatan untuk bersaksi (Luk. 21:13). Yang sangat jelas adalah bahwa itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi bagi keselamatan yang akan digenapkan Yesus di Yerusalem.

Dengan demikian, Yesus menafsirkan kembali apa yang dimaksud dengan keadaan akhir zaman.

Masih ingat bahwa renungan beberapa hari ini berputar di sekitar topik keselamatan yang akan digenapkan oleh Yesus? Apa yang akan dilakukan Yesus juga merupakan penafsiran ulang terhadap Mesias, bukanlah menang atas kerajaan dunia, mengalahkan bangsa Romawi, tetapi untuk menderita (lihat Mazmur 118) dan bahkan mati di kayu salib. Di bawah pengaruh pandangan hari akhir orang Yahudi, dan di bawah pengaruh literatur apokaliptik Yahudi, seruan meminta mereka untuk terus bertahan menerima aniaya dan disakiti, itu membuat orang terjatuh, sungguh memutarbalikkan apa yang merupakan keinginan mereka atas datangnya hari akhir.

Sejak Yesus memasuki kota untuk mengenapi keselamatan, itu adalah mulai berkembangnya akhir zaman. Namun, perkembangan baru ini adalah agar menjadi kesempatan untuk bersaksi bagi keselamatan yang digenapkan Yesus di Yerusalem. Selain itu, dalam perjalanan hari-hari akhir zaman, tidak dapat terhindarkan mengalami penderitaan dan penganiayaan bagi Injil.

Renungkan:

Hari ini, kita mungkin lebih suka bekerja lebih cerdas, kita senang menjadi lebih sukses cerdas sehingga orang lain memberikan lebih banyak rasa hormat kepada kita. Namun, gagasan menang dan mulia terhormat bukanlah pandangan akhir zaman yang ditafsirkan dan dimiliki oleh Yesus Kristus.

Apakah kita bersedia menderita dan dibenci orang untuk Tuhan? Itulah yang membuat jiwa kita terpelihara (kamu akan memperoleh hidupmu …). Itu adalah esensi iman.


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa beaya.

Lukas 21:5-11

「Menggantikan yang tidak bisa digantikan」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 21:5-11 [ITB])
5 Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus: 6 Apa yang kamu lihat di situ — akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.
7 Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?
8 Jawab-Nya: Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. 9 Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.
10 Ia berkata kepada mereka: Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, 11 dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.

Bagi orang Yahudi abad pertama, pemujaan di Bait Suci adalah ritual agama yang penting. Ini secara garis besar mencakup fokus Yudaisme, mempersembahkan korban di Bait Suci, menjadi bahasa bersama dan kehidupan seluruh bangsa. Terutama setelah raja Zedekia ditawan dan Bait Suci dihancurkan, sampai Herodes Agung mulai membangun kembali Bait Suci ini tahun 19 S.M (bermotivasi menggunakannya untuk mendapatkan lebih banyak kepercayaan orang Yahudi terhadap dia, demi mengukuhkan pemerintahannya). Lebih dari 50 tahun kemudian, pada saat Yesus keluar untuk mengabarkan Injil, Bait Suci yang indah gemerlapan ini menjadi fokus diskusi orang banyak, tetapi perikop ini justru sebaliknya membahas Bait Suci dari perspektif anti kultus-Bait Suci (anti-temple cult), (kultus adalah totalitas praktik dan ketaatan keagamaan yang bersifat eksternal, berbentuk pola adat ritual)

Di awal perikop, telah berbicara tentang keindahan dan kebaruan Bait Suci, dengan dukungan keluarga Herodes Agung selama lebih dari 50 tahun, Bait Suci ini lebih megah daripada yang didirikan Salomo. Menurut catatan Josephus, batu indah yang disebutkan itu sangat besar, volumenya 12 meter × 4 meter × 6 meter (lih. sejarah kuno Yahudi, Ant. 15.392). Oleh karena itu, bagi rakyat yang menyaksikan rekonstruksi pembangunan kembali Bait Suci ini, pada dasarnya ini adalah mukjizat, bukti Allah beserta umat-Nya. Dari kehancuran Bait Suci ratusan tahun yang lalu hingga penampilan megah luar biasa hari ini, Bait Suci secara alami menjadi penanda identitas (identity marker) bagi mereka. Bagi orang-orang Yahudi bahwa berpartisipasi dalam berbagai kegiatan Bait Suci adalah kebenaran yang seharusnya dilakukan (Bait Suci adalah penanda identitas, merupakan pusat kehidupan keagamaan mereka).

Tetapi ketika Yesus berkata bahwa saatnya akan tiba, satu batu pun tidak dibiarkan terletak di atas batu lain, dapat kita bayangkan bagaimana reaksi umat itu. Mereka akan berpikir bahwa Yesus adalah orang gila, bagaimana mungkin Yesus yang sepertinya adalah seorang Raja Mesias, bisa mengucapkan kata-kata yang demikian?

Jelas, kehadiran Yesus adalah untuk menggantikan Bait Suci (anti kultus-Bait Suci / anti-temple cult) dengan keselamatan yang Ia genapkan sendiri. Jika orang-orang tidak dapat dilepaskan dari berhala bait suci, mereka sama sekali tidak akan memiliki ruang untuk menempatkan Yesus di dalam hati mereka. Jadi dalam pasal pertama Injil Lukas, Zakharia yang kelihatannya seperti orang benar, melayani dengan setia di Bait Suci. Orang ini di Bait Suci yang tampaknya sepatutnya menemukan kesalehan dan kepatuhan menanggapi panggilan Allah, tetapi ternyata … Dan catatan Injil Lukas tersebut juga menggunakan gaya penulisan tipikal anti kultus-Bait Suci (anti-temple cult). Tujuannya adalah untuk membuat orang merenungkannya: Mengapa Zakharia tidak percaya? Para pemimpin agama itu hanya peduli memperebutkan kekuasaan dan keuntungan, tetapi keselamatan sejati digenapkan di luar Bait Suci, di bukit Golgota.

Renungkan:

Yesus kemudian mengklarifikasi bahwa pada hari-hari terakhir, ada banyak kekacauan serta perubahan politik dan lingkungan, tetapi jangan secara membabi buta atau tanpa pandang bulu percaya bahwa Mesias yang sebenarnya ada di sana. Karena yang akan datang, itu sungguh tepat ada di depan mata.

Ya, tidak mudah untuk melepaskan budaya bait suci yang banyak variasi perubahan dan memberikan banyak rangsangan. Tetapi betapa sulitnya teguh berpegang pada keselamatan kekal yang tidak pernah berubah.

Apakah hal-hal segar dan menarik selalu menarik perhatian mata saya?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa beaya.