Tag Archives: Surat 1 Petrus

1 Petrus 29-10

「Memasyurkan kebajikan Kristus」
Panggilan dan Pembaruan Hidup


Oleh Rev. Dr. Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯)
Alliance Bible Seminary H.K.


(1 Petrus 29-10 [ITB])
9 Namun, kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
10 Kamu, yang dahulu bukan umat Allah,
………tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya,
yang dahulu tidak dikasihani
………tetapi sekarang telah beroleh belas kasihan.


Renungan pemahaman Penggilan dan Pembaruan 2026

Renungan Topikal Ěr Dào

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 「Panggilan dan Pembaruan」 ditulis oleh Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯) yang dipublikasikan pada bulan April 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:13-17 (2)

Tunduk dahulu kepada Allah ataukah Manusia? (2)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:13-17 [ITB])
13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

(Terjemahan penulis)
Karena untuk Allah, hendaklah kita mematuhi semua sistem manusia,
entah adalah raja sebagai pemegang kuasa, atau utusan raja yang memegang posisi
menghukum yang berbuat kejahatan dan memuji yang berbuat baik.
Karena ini adalah kehendak Allah, buatlah itu baik untuk menutup mulut ketidaktahuan orang bodoh,
jadilah yang seperti orang bebas, jangan gunakan kebebasan untuk menutup-nutupi kejahatan,
hendaknya menjadi budak Allah
Hormati semua orang, kasihi komunitas orang percaya
hormat takuti Allah, hormati raja

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Kemarin kita dengan terperinci membaca konteks pasal 1 dan 2 dari Surat 1 Petrus, khususnya penggunaan Perjanjian Lama oleh Petrus (The Use of Old Testament in First Peter) untuk memahami pemikiran teologi yang ada di baliknya. Ternyata identitas sebagai yang ditolak, justru adalah identitas sebagai yang dipilih Allah, ada pemeliharaan oleh Allah, jika pemerintah-pemerintah di bumi tidak bertobat dan tidak mau belajar untuk menghargai yang baik dan menghukum yang jahat, penghakiman Allah cepat atau lambat akan datang, dan dalam kisah yang dicatat dalam Perjanjian Lama, dapat dilihat bahwa Allah saja yang memegang kuasa secara kekal, dan tidak ada raja atau pemerintah yang bisa bermegah mulut membesarkan diri di depan Allah Sang Pencipta.

Karena benang merah teologi Perjanjian Lama yang menyambung ini, sebagai dasar kita memahami ayat di atas, bagian depan ayat 13 merupakan bentuk kalimat perintah (imperative), di mana kata karena Allah (διὰ τὸν Κύριον diá tón Kýrion) (berbentuk prepositional clause) ini justru yang merupakan inti dari seluruh paragraf. Bagaimana menafsirkan frasa Karena untuk Allah, hendaklah kita mematuhi semua sistem manusia ini? Apa hubungan antara karena untuk Allah dan mematuhi semua sistem manusia?

Berdasarkan diskusi kemarin dan bagian pertama paragraf ini, kita percaya bahwa Petrus menempatkan frasa karena untuk Allah di sini adalah untuk menunjukkan bahwa ketika tunduk kepada semua lembaga manusia, selama-lamanya ada Allah yang selalu merupakan Pribadi yang memegang kekuasaan, karena itu semua lembaga manusia terlebih dahulu harus menjadikan karena untuk Allah sebagai dasar mereka. Dalam pemikiran teologi di Perjanjian Lama, mematuhi sistem lembaga manusia itu menyatakan bahwa Allah adalah Terang sejati bagi dunia, dengan acuan standar ini barulah dapat menaati sistem lembaga manusia, karena walau di periode yang berbeda di Perjanjian Lama tetapi kesaksian para perantau yang menumpang hidup di diaspora semuanya adalah sama bahwa ─ tidak peduli pemerintah macam apa, semua ada di bawah kedaulatan kuasa Allah, semuanya adalah kekosongan tidak ada yang dapat bertahan selamanya. Maka, karena untuk Allah dengan jelas menunjukkan bahwa di bawah anugerah keselamatan Kristus, tidak ada yang bisa menghalangi pemberitaan Injil, karena Allah dapat melakukan hal-hal indah ajaib di bawah sistem manusia yang bagaimana pun.

Apa yang dituju oleh Petrus adalah bahwa kita harus berbuat yang baik itu adalah bagian keharusan kita, dan kejahatan orang lain tidak akan memprovokasi kita melakukan kejahatan. Ayat Alkitab mengatakan dengan eksplisit: jangan gunakan kebebasan untuk menutup-nutupi kejahatan, artinya jelas, yakni jangan karena ketidakadilan pemerintah atau rezim sehingga kita melakukan hal-hal jahat secara bebas, karena kita ditebus mendapat kebebasan adalah untuk subordinasi kepada Allah (sebagai hamba tunduk kepada Allah), menjadi hamba-Nya (bahasa Yunani: budak Allah), artinya semuanya yang menjadi tujuan dan dasar kita adalah kehendak Allah.

Jelas tidak banyak yang ditulis tentang bagaimana orang Kristen berpartisipasi dalam politik, Petrus hanya membawakan secara sekilas saja. Kejahatan tidak bisa menjadi sarana dan cara bagi orang percaya, tetapi harus berbuat yang baik melakukan bagian tugas diri kita, menurut Perjanjian Lama konsep berbuat yang baik adalah belajar membedakan antara yang merupakan kebenaran keadilan Allah dan kejahatan si jahat, mohon agar Tuhan memberkati kita orang Kristen agar dalam zaman (generasi) yang sulit ini senantiasa mengikuti teladan Tuhan, membedakan mana yang merupakan keadilan kebenaran, mana yang merupakan yang jahat, sehingga apa yang kita lakukan dapat dilihat oleh orang lain dan membungkam mulut orang lain.

Renungkan:
Alkitab tidak memberikan jawaban untuk semua pertanyaan di dunia, tetapi satu hal yang pasti: Allah adalah Tuhan (Tuan) atas sejarah, kelanjutan ataukah penggulingan para raja dan pemegang kekuasaan semuanya ada dalam ketetapan Allah. Tetapi bagaimana berjuang dan jalan mana yang harus dilalui, kita percaya bahwa setiap orang berjalan mengikuti panggilan Tuhan, yang terpenting adalah berbuat yang baik bagian diri kita, dan tidak dikalahkan oleh kejahatan, baik-baik menjaga pikiran dan hati diri kita sendiri, baik-baik introspeksi memeriksa.

Kita percaya bahwa di masa depan ada banyak ketidakpastian, tetapi teruslah berjuang, ada pengalaman penuh air mata, barulah akan dapat melihat hal-hal baru yang Tuhan ingin lakukan.

Akhirnya, terima kasih kepada saudara-saudari, percaya bahwa di masa depan akan ada lebih banyak kesempatan untuk bersama-sama lagi bersungguh-sungguh mempelajari Firman Tuhan, untuk mempersembahkan lebih banyak bagi Kerajaan Allah, dan bersama-sama melakukan hal-hal baru untuk Tuhan.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:13-17 (1)

Tunduk dahulu kepada Allah ataukah Manusia? (I)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:13-17 [ITB])
13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

(Terjemahan penulis)
Karena untuk Allah, hendaklah kita mematuhi semua sistem manusia,
entah adalah raja sebagai pemegang kuasa, atau utusan raja yang memegang posisi
menghukum yang berbuat kejahatan dan memuji yang berbuat baik.
Karena ini adalah kehendak Allah, buatlah itu baik untuk menutup mulut ketidaktahuan orang bodoh,
jadilah yang seperti orang bebas, jangan gunakan kebebasan untuk menutup-nutupi kejahatan,
hendaknya menjadi budak Allah
Hormati semua orang, kasihi komunitas orang percaya
hormat takuti Allah, hormati raja

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Untuk memahami ayat Alkitab ini, kita harus memahami apa yang kita bicarakan di teks sebelumnya di atas dan apa yang patut kita perhatikan ketika Petrus mengutip ayat Alkitab Perjanjian Lama (silakan tinjau ulang renungan sepuluh hari terakhir), karena jika kita tidak memperhatikan alur pikir seluruh paragraf ayat-ayat Alkitab ini, kita akan mengabaikan poin penting yang utama dan mempengaruhi pemahaman kita atas satu ayat Alkitab hari ini.

Tulisan Petrus sampai di titik ini, kira-kira pesan yang ingin disampaikan dia adalah: orang percaya di Asia Kecil telah mengalami penderitaan, ditolak manusia, dan tidak mudah untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang memusuhi mereka, tetapi Petrus menasihati mereka bahwa ini sebenarnya adalah pemilihan Allah dan malahan mereka sangat berharga bagi Allah. Petrus menghabiskan begitu banyak kata-kata dan bahasa agar orang-orang percaya Asia Kecil menerima identitas mereka, ditambah ia menggunakan pengalaman orang Israel keluar dari Mesir terserak di padang belantara, dan juga deskripsi tentang Daud yang terpaksa berpura-pura menjadi gila dan hidup sebagai penumpang di bawah raja asing non Israel, juga pengalaman orang Israel ditawan ke tempat bangsa-bangsa asing, dan contoh bagaimana Abraham menumpang tinggal di tanah Kanaan dan membeli tanah serta bermasyarakat di sana, dengan jelas memberitahukan kepada Anda dan saya bahwa para murid Tuhan selalu dalam keadaan ditolak manusia tetapi dipilih Allah, seperti hidup di bawah tarikan tegangan yang tampaknya bertentangan, sehingga pengalaman-pengalaman ini bukanlah hal yang asing dan baru, agar orang-orang percaya di abad pertama tahu bahwa ini adalah keadaan normal yang senantiasa dialami umat Tuhan. Apakah orang-orang percaya di tempat kita tahu?

Tetapi pada saat yang sama, apa yang ayat Alkitab Perjanjian Lama nyatakan tentang bagaimana menghadapi raja-raja bangsa asing?

Firaun dari Kitab Keluaran karena dia tidak tahu bagaimana cara membalas yang berbuat baik dan menghukum yang berbuat jahat, dan memperlakukan Israel dengan buruk, berakhir dengan hukuman sepuluh tulah dari Allah.

Meskipun Daud terpaksa berpura-pura gila agar lolos dari pengejaran Saul, tetapi Allah oleh Diri-Nya sendiri yang mempersiapkan jalan bagi Daud, dan akhirnya orang fasik jatuh ke perangkap jerat dirinya sendiri.

Setelah orang-orang Yahudi ditawan dan terserak di negeri asing, bukankah Allah melalui para nabi telah menyatakan kejahatan para penawan dan menghakimi kejahatan mereka?

Meskipun Abraham menumpang tinggal di Kanaan, dalam pertempuran serangan empat raja terhadap lima raja, kehadiran Tuhan membuatnya menang dan menyelamatkan Lot, keponakannya.

Dapat dilihat bahwa ketika umat Allah hidup sebagai penumpang di zaman periode dan tempat yang berbeda, akhir dari raja-raja penguasa yang memusuhi melawan Allah, yang tidak tahu bertobat, jika mereka tidak memiliki rasa takut hormat kepada Allah, maka akhir dari mereka akan menyedihkan. Petrus membawa kita selain melihat identitas umat Allah melalui Perjanjian Lama, terlebih juga melalui kitab Hosea yang mengumumkan bahwa belas kasihan Allah datang kepada orang-orang non umat Allah, mengumumkan kepada dunia bahwa semua kuasa pemerintahan ada di tangan Allah, Kitab Suci Perjanjian Lama tidak pernah malu untuk mengungkapkan siapa yang merupakan Terang yang sejati bagi dunia, mereka yang sombong, raja-raja yang keras kepala memegang tradisi pola pikir dunia, akhirnya hanya memiliki jalan menuju kebinasaan dan menerima penghakiman.

Renungkan:
Tuhan adalah Cahaya yang sejati bagi dunia, akankah para petinggi kekuatan politik dan orang-orang yang mempermainkan kekuasaan masih membuat orang-orang percaya panik? Sebenarnya memang membuat takut, namun bukankah identitas yang ditolak manusia, tetapi dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata Allah mengingatkan kita bahwa ini adalah jalan yang harus dilewati, jalan yang diberkati?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:11-12

Sulit Membuat Garis Pebeda Baik dan Jahat (III)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:11-12 [ITB])
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

(Terjemahan penulis)
yang kekasih, aku menasihatimu, sebagai orang asing dan penumpang,
menjauhlah dari keinginan daging, keinginan daging ini akan berperang dengan jiwa,
milikilah perilaku baik di antara bangsa-bangsa asing, sehingga ketika mereka memfitnah kamu sekalian sebagai orang jahat,
tetapi karena melihat perilaku baik kamu sekalian, maka memuliakan Allah di hari Allah melawat

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Kemarin, ayat dari kitab Hosea mengingatkan kita untuk berupaya keras di masa tinggal di diaspora, bersaksi tentang rahmat anugerah Tuhan, tidak peduli apa pun situasi yang kita hadapi, kita percaya bahwa Tuhan telah memberkati kita dan akan menyimpan banyak rahmat dan kejutan bagi kita, menghendaki kita teguh percaya atas identitas diri kita sebagai orang-orang diaspora dan tetap hidup dengan cemerlang berkenan kepada Tuhan.

Ayat Alkitab hari ini melanjutkan pengajaran ayat kemarin, membuat kita lebih memahami bagaimana mempraktikkannya dalam lingkungan nyata, agar bangsa-bangsa lain juga dapat memuliakan Allah.

Pertama, Petrus menggunakan sepasang kata-kata yang serupa orang asing dan penumpang (παροίκους καὶ παρεπιδήμους paroíkous kaí parepidímous) untuk menekankan penjelasannya tentang identitas orang percaya (ITB terjemahkan sebagai pendatang dan perantau KJV: strangers and pilgrims). Lalu, ketika kita membaca Kejadian 23:4 dalam terjemahan Septuaginta (LXX), pasangan kedua kata ini persis digunakan pada diri Abraham, di antara orang Het ia menunjukkan identitasnya sebagai orang yang dipanggil dari Ur Kasdim ke tanah Kanaan sebagai orang asing dan penumpang. Karena itu, Petrus menggunakan tipologi Perjanjian Lama untuk memberikan pengajaran kepada saudara-saudari, dan sekali lagi menjelaskan bahwa pengalaman sebagai orang yang terserak (berada di diaspora) ini konsisten, dan bukan merupakan kejutan baru. Dan dalam berbagai tipologi Perjanjian Lama yang berbeda, rahmat anugerah Allah dinyatakan pada Abraham dan keturunannya, orang Israel dalam Keluaran, Daud yang dipaksa melarikan diri, dan umat Allah yang terserak di kerajaan utara dan selatan? Dan keselamatan Allah tidak pernah absen.

Lalu, ketika ayat Kejadian 23 yang dikutip di sini, itu adalah catatan tentang setelah Sarah meninggal, Abraham membeli tanah dari orang Het untuk menguburkan juga keturunannya kelak. Di antaranya dicatat bagaimana Abraham bergaul dengan penduduk setempat dan berurusan jual beli dengan mereka, agar di antara penduduk setempat, bisa mempertahankan nama baik, dan menjaga hubungan yang langgeng dan baik. Ini tepat menjelaskan dua ayat Alkitab yang dibaca hari ini, yaitu agar orang dapat melihat perilaku baik diri kita, sehingga bangsa-bangsa lain dapat memuliakan Allah.

Menurut pandangan yang salah dari Suetonius seorang sejarawan Yunani Romawi terhadap murid-murid Kristus, orang-orang Kristen itu percaya takhayul yang berperilaku kacau (mischievous superstition. Nero 16). Tacitus salah memahami dan memandang Kekristenan adalah agama yang berbahaya dan takhayul, komunitas yang suka mempraktikkan magis (Annals 144). Karena itu, kita dapat membayangkan betapa besar tekanan yang diterima orang Kristen dan pada taraf yang begitu mengerikan (penuh fitnah dan provokasi).

Pengajaran Rasul Petrus di ayat ini bukan berseru-seru demi nafsu keinginan diri sendiri dan demi saling menentang dengan yang lain, bukan demi melindungi diri sendiri, tetapi dengan sepenuh hati, dia memanggil mereka yang tidak memiliki tipu daya agar saling mengasihi, bersatu hati membangun sebuah Bait rohani dan saling melindungi.

Renungkan:
Sifat manusia dari manusia umum adalah mudah diprovokasi oleh orang lain, dan demi nafsu keinginan mereka saling membenci, tetapi ini hanya demi keuntungan daging, tetapi sama sekali tidak berfaedah untuk jiwa rohani. Dengan sudut pandang lain, ketika orang lain sibuk, menghabiskan waktu dan pikiran beserta tradisi kebiasaan pola pikir spiritual yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia untuk menyerang dan memfitnah Anda, tetapi Anda dapat berdiri di atas batu karang Tuhan dan tidak digoyahkan, Anda akan menyaksikan sekelompok orang bebal yang berlarian ke sana ke sini, mereka tidak akan mendapatkan apa pun di Kerajaan Allah, dan akhirnya mereka hanya akan memakan buah kejahatan yang dihasilkan jerat mereka sendiri, bisakah hati Anda menenangkan diri dan hati? Atau apakah kita perlu memperebutkan memperjuangkan lebih banyak?

Pada hari Tuhan melawat (day of visitation), akankah musuh memuliakan Tuhan karena Anda, apakah saya sudah cukup? Sudah bolehkah?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:10

Sulit Membuat Garis Pebeda Baik dan Jahat (II)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:10 [ITB])
10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

(Terjemahan penulis)
dahulu, kamu sekalian bukan umat, sekarang justru menjadi umat milik Allah
dahulu tidak memiliki belas kasihan, sekarang justru memiliki belas kasihan

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Dua hari yang lalu, kita berbicara tentang tema teologis dari Perjanjian Lama – ditolak, tetapi justru adalah dipilih Allah dan berharga di mata Allah, sehingga umat Tuhan jangan takut untuk hidup dalam penolakan dan kesulitan, Tuhan akan menjadi Raja di antara mereka, dan menunjukkan jalan yang dilalui setiap orang. Hidup dalam situasi dan keadaan ini, barulah menemukan bahwa iman itu realitas nyata dan betapa berharganya anugerah, dan barulah bersedia untuk tidak terjerat tradisi kebiasaan rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang ada di dunia. Saling mengasihi tanpa tipu daya, satu hati membangun komunitas ini.

Tetapi tiba di hari ini, Petrus telah menggunakan bagian lain dari Perjanjian Lama untuk melanjutkan penjelasan pemahaman, dan bagian yang ia kutip ini membuat tulisannya ini begitu indah, membawakan pesan yang sangat kaya melimpah.

Secara sekilas pandang, kitab Hosea memang berbicara tentang pengkhianatan umat Israel terhadap Allah, meninggalkan anugerah pengajaran Allah, tetapi tiba di Hosea 2:23 menyebutkan bahwa bahkan jika orang Israel benar-benar mengkhianati Allah, tetapi anugerah Allah tidak akan gagal sia-sia, sebaliknya, rahmat anugerah-Nya akan mendatangi orang-orang yang bukan umat Allah, dan mendeklarasikan bahwa orang-orang non umat Allah, sekarang sudah terhitung sebagai umat Allah.

Tetapi ketika kita dengan lebih terperinci mempelajari latar belakang situasi kitab Hosea, kita akan menemukan bahwa orang-orang yang semula adalah milik Allah ini dihukum oleh Allah karena menyembah berhala, sehingga dihukum dibuang terserak ke penawanan, dan situasi orang Israel zaman Hosea sebagai penumpang ini dipakai Petrus sebagai tipologi dikenakan dalam situasi orang percaya abad 1 ini. Mungkin alasan di balik keadaan terserak berbeda, tetapi fakta bahwa mereka hidup sebagai penumpang di diaspora adalah sama, dan yang menjadi fokus Petrus adalah dahulu, kamu sekalian bukan umat, sekarang justru menjadi umat milik Allah; dahulu tidak memiliki belas kasihan, sekarang justru memiliki belas kasihan. Ini menunjukkan bahwa orang Israel yang terserak dalam diaspora jika mau bertobat dan berbalik, mau menerima ditolak, tetapi justru adalah dipilih Allah dan berharga di mata Allah, maka karya dan kesetiaan Allah di antara mereka tidak hanya menggerakkan hati orang, tetapi yang lebih penting adalah bahkan orang-orang non Yahudi yang bukan umat Allah akan melihat anugerah dan kasih Allah sehingga tergerak hatinya untuk berbalik kepada Allah yang sejati. Dan belas kasihan Allah juga akan datang ke atas diri mereka, mengakui identitas umat Allah.

Di Asia Kecil, setelah melalui kerja keras Paulus dan orang-orang percaya lainnya, maka Injil telah diberitakan menyebar di antara mereka, jadi Petrus mengutip pesan kitab Hosea ini tidak merupakan halangan, justru ia meneruskan pengajaran Hosea. Ternyata orang-orang percaya mengalami pengasingan terserak, sepatutnya hidup dengan cara baik di tanah asing, sebaik-baiknya melanjutkan menerima perintah Tuhan, bekerja keras dalam tugas sebagai imam, dan bersaksi bahwa kuasa Tuhan juga datang di antara mereka, apalagi Injil sudah ada di daerah-daerah ini, maka bukankah orang percaya bersama-sama dengan orang percaya non Yahudi setempat dapat terlebih lagi bekerja keras mengobarkan Injil?

Renungkan:
Ayat Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa ketika kita menghadapi keadaan sulit, kita dengan cepat terperangkap seluruh kesulitan, dan tidak mudah bagi kita akhirnya menyadari apa identitas orang Kristen itu — yakni walaupun ditolak, tetapi dipilih Tuhan dan berharga di mata Tuhan, tetapi ketika kita perlahan-lahan menerima penempatan peranan kita ini, tiba-tiba akan menemukan bahwa Tuhan telah mempersiapkan orang-orang yang juga sama-sama menerima belas kasihan Allah bagi kita, berjalan bersama Anda di sepanjang jalan surgawi, ternyata di masa yang tidak mudah, Tuhan telah lama mempersiapkan bagi kita, membuat kita terkejut di luar dugaan kita.

Jika Israel jatuh, sehingga orang-orang asing akan menerima belas kasihan!

Jadi hari ini pandangan gereja kita kehilangan fokus, atau gereja di tempat kita menghadapi situasi dianiaya dan diserakkan, tolong percayalah bahwa Tuhan pasti akan sekali lagi membawakan kejutan sukacita besar!


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:9

「Sulit Membuat Garis Pembeda Baik dan Jahat (I)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:9 [ITB])
9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:

(Terjemahan penulis)
Tetapi kamu sekalian adalah kaum yang dipilih, para imam yang rajani,
adalah bangsa yang suci, umat milik Allah.
Agar kamu sekalian memberitakan kebajikan Ia yang memanggil kamu sekalian keluar dari kegelapan dan masuk ke dalam terang yang indah

Kemarin kita merenungkan bagian di mana Petrus menggunakan tiga ayat Perjanjian Lama untuk menjelaskan: penderitaan dan penganiayaan yang dialami oleh orang-orang Kristen di dunia, pengalaman ditolak oleh orang lain, tetapi di mata Tuhan itu adalah pemilihan Allah dan keselamatan. Ini membuat kita memikirkan kembali nilai iman kita, bagaimana kita seharusnya memahami pandangan gereja yang sebenarnya? Atau apakah kita adalah batu mati yang munafik dan dengki?

Kemudian dalam ayat Alkitab hari ini, muncul kembali kata pilih, yang mengingatkan kita pada kata pilih di ayat 1:2 yang mengacu pada status sebagai pendatang (penumpang) dan yang tersebar di diaspora, bukanlah seperti yang kita pikirkan sebagai pemilihan yang penuh kemuliaan. Di antara dua zaman perjanjian, kata itu terlebih digunakan sebagai tanda Mesias, tetapi bangsa yang terpilih ini hidup dalam lingkungan yang sulit, ini adalah esensi dasar dari pandangan gereja Kristen, dan adalah keadaan yang senantiasa dialami komunitas Kristen.

Namun, imamat yang rajani – sebagaimana dinyatakan beberapa hari lalu – adalah tugas yang menjadi saksi kemuliaan Tuhan, yakni bahkan dalam banyak kesulitan, dalam lingkungan di mana musuh ada di semua sisi, tetapi tetap dengan sukacita mempersembahkan korban, menyatakan kepada dunia dan bangsa-bangsa bahwa Dia adalah Allah Tuhan atas dunia, dan semua bangsa patut datang di hadapan-Nya, bersama-sama mempersembahkan korban, dan mengakui bahwa Tuhan adalah Terang yang sebenarnya. Petrus menasihati orang-orang percaya yang tersebar bahwa tidak ada yang bisa menghentikan Tuhan untuk bersaksi di antara umat-Nya dan meninggikan nama-Nya sendiri.

Bangsa yang kudus bukan sekadar arahan moral dan etika, ini adalah konsep ketundukan umat kepunyaan Allah yang harus menyatakan: tidak peduli hidup di lingkungan apa pun, dapat dalam kesulitan pun, tetap masih dapat bersuara dengan lantang bahwa diri kita adalah milik Allah, sesungguhnya apakah ini mudah? Jadi ayat Alkitab menambahkan sebuah frasa pendek untuk melengkapi betapa pentingnya hal ini yakni umat khusus untuk Allah(λαὸς εἰς περιποίησιν laós eis peripoíisin) (lihat terjemahan KJV atau BIMK … khusus untuk Allah, umat Allah sendiri …, ITB secara fungsional … umat kepunyaan Allah sendiri… ), terjemahan literal adalah umat adalah untuk menjadi milik, dapat kita lihat bahwa dalam lingkungan yang tidak mudah tetap tunduk dan merupakan milik Allah, bukan karena lingkungan sehingga membuang iman (menolak iman), inilah subordinasi yang benar (ketundukan sebagai milik Allah).

Begitu saja sebenarnya sudah merupakan langkah dan iman yang luar biasa untuk tidak ragu-ragu tentang identitas seseorang walau bangkit dan jatuh di hari yang sulit seperti ini. Tetapi tuntutan dalam ayat 10 bahkan lebih sulit!

Ayat 10 meminta kita untuk berbagi memberitakan apa yang kita alami. Sebenarnya, sangat mungkin untuk memberitakan keselamatan dari Tuhan, kita harus memberitakan hal ini sebagai kebajikan (perbuatan-perbuatan yang besar) dari Allah, membawa kita meninggalkan kegelapan dan memasuki terang, ini bukan hal yang mudah. Bagi sifat manusia, meninggalkan zona nyaman dan stabil untuk memasuki penganiayaan, itu bukan hal yang mudah, bagi manusia itu adalah masuk ke dalam kegelapan, tetapi kita sebaliknya menyebutnya sebagai masuk ke dalam terang dan kita harus bergegas meninggalkan situasi yang disebut orang sebagai hal yang terang. Karena sejatinya itu adalah yang gelap.

Tanpa kita menegaskan dan mengakui identitas diri kita sendiri, tidaklah mudah untuk menyatakan apa itu kegelapan atau terang, mungkin kita hanya hidup dalam ambiguitas ketidakjelasan dan kebingungan, asal saja menjalani kehidupan sebagai orang percaya.

Renungkan:
Apa pandangan gereja kita?

Menilai dari apa yang terjadi baru-baru ini, apakah itu terang atau gelap? Apakah kita bersedia untuk hidup dalam kebingungan dan hanya mau berkeras dalam tradisi pandangan Gereja seperti yang dahulu biasa kita lakukan? Atau apakah bersedia dengan sikap ditolak tetapi dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata Tuhan untuk memperlengkapi semua orang kudus menyambut zaman yang tidak bisa kita prediksi ini?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:6-8

「Persekutuan Orang Kudus (III)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:6-8 [ITB])
6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan. 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan. 8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

(Terjemahan penulis)
Karena ini tertulis dalam Kitab Suci:
Lihat! Aku meletakkan sebuah batu di Sion, sebuah batu penjuru yang terpilih dan yang berharga
siapa pun yang percaya dia, tidak akan malu (Yesaya 28:16)
yang berharga adalah orang yang percaya,
tetapi yang tidak percaya,
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru (Mazmur 118:22)
juga menjadi
batu sandungan dan batu karang yang membuat orang tersandung (Yesaya 8:14-15)
mereka jatuh tersandung, adalah tidak taat Firman ini, mereka akan menjadi seperti itu.

Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru, dasar persekutuan orang-orang kudus.

Kemarin, kita berbicara tentang bahwa kita adalah batu yang hidup, karena Kristus Yesus sendiri adalah batu yang hidup, kita harus bersambung gandeng satu sama lain, saling mengasihi tanpa kasih yang tipu muslihat, dan menjadi para imam yang rajani (imamat yang rajani), sehingga karena komunitas iman ini yang tidak berdaya dan lemah membuat orang-orang bersama-sama meninggikan nama Tuhan dan menyatakan kepada dunia bahwa Tuhan benar-benar ada di antara kita.

Dalam perikop Alkitab hari ini, kita akan menemukan bahwa Petrus menggunakan tiga ayat Perjanjian Lama (Yesaya 28:16; Mazmur 118:22; Yesaya 8:14-15 klik untuk membaca) untuk membahas batu hidup ini, jelas dia adalah iIngin menegaskan tipologi dari Perjanjian Lama. Selain dari 5 Kitab Taurat Musa (Torah), ada juga Yesaya dari kelompok kitab Nabi-nabi (Prophets), juga Mazmur dari kelompok Tulisan (Writings), Kitab Suci orang Yahudi terdiri dari kelompok Lima Kitab, Kitab Para Nabi, dan Kitab Tulisan-tulisan, bahkan seluruh Perjanjian Lama adalah interpretasi dari tipologi ini – bahwa yang ditolak adalah benar-benar yang dipilih oleh Allah dan berharga di mata Allah. Bagi orang-orang percaya yang terserak di abad pertama, meskipun mereka menghadapi kesulitan besar dan ditolak manusia, tetapi identitas mulia mereka tidak pernah hilang, apalagi dipermalukan.

Petrus menggunakan kutipan Yesaya pasal 28 dan pasal 8. Menurut uraian pasal 28, umat Allah menolak untuk mendengarkan Firman-Nya (bahkan walaupun Firman datang ke dunia dan menjelma jadi manusia), dan secara semaunya sendiri berpikir bahwa penafsiran mereka benar (Yes. 28:5-15), sehingga Allah menaruh batu di Gunung Sion, yakni umat Allah akan dikalahkan musuh dan bahkan ditawan (Yes. 28:16-19). Oleh karena itu, penempatan batu ini adalah untuk membuat orang tahu bahwa ditawan, dibuang (ditolak) ini adalah tindakan Allah, agar orang-orang di tahap ini masih dapat melihat bahwa Allah memiliki rahmat anugerah.

Dalam Yesaya pasal delapan, dengan nada yang sama juga ditempatkan di sini, yaitu, Allah akan menolak orang-orang Yahudi dan akan menjadi batu sandungan, batu karang yang membuat orang jatuh, sehingga orang tidak mau menerima cara keselamatan ini. Tetapi nabi Yesaya mendorong, agar kita menunggu Allah yang menyembunyikan wajah-Nya dari keluarga Yakub (Yes. 8:12-17), metode keselamatan yang tampaknya kontradiktif ini secara konsisten terdapat dalam kitab Yesaya dan merupakan benang merah yang menembus menyambung seluruh sejarah Israel.

Adapun Mazmur 118, puisi tentang naik tahta yang terkenal, di hari minggu Palem (Palm Sunday, minggu memperingati Tuhan Yesus naik keledai memasuki Yerusalem, awal dari minggu penderitaan-Nya) kita akan sering menggunakan frasa diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan (lihat Mat. 21:9), tetapi yang datang atas nama Tuhan ini juga mengalami ancaman kematian dan serangan dengan orang lain, bahkan menjadi yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan (Mazmur 118:17-22), tetapi pengalaman ini oleh Allah dibuat jadi batu penjuru yang sejati. Dengan cara yang sama, metode keselamatan yang tampaknya kontradiktif ini sekali lagi muncul disajikan dalam Mazmur, saling bergandengan bertanggapan dengan kitab- kitab Perjanjian Lama lainnya.

Tepat karena hal ini, sampai zaman Perjanjian Baru, yang ditolak ini justru dipilih Allah dan berharga di mata Allah ini tidak memudar, juga tidak hilang, sebaliknya telah dipahami menjadi jelas secara menyeluruh dalam diri Yesus Kristus.

Renungkan:
Kemarin, kita bertanya: apa pandangan kita tentang gereja? Hari ini, melalui kitab Yesaya yang mewakili kitab Nabi-nabi, Mazmur yang mewakili kumpulan Tulisan (kitab-kitab Puisi), dan bagian yang mengutip 5 Kitab Taurat yang telah kita renungkan selama beberapa hari yang lalu, menghendaki kita agar bersedia untuk mengambil jalan yang ditolak oleh orang lain, agar gereja mengulangi kebenaran yang tampaknya kontradiktif ini, agar apa yang kita lihat bukanlah tindakan manusia, tetapi tindakan dan kemuliaan Allah dinyatakan di hadapan manusia.

Hari ini, kita menghadapi jalan di depan, segala macam gesekan dan tantangan membuat kita harus mengakui bahwa kita akan memasuki situasi penuh penolakan, tetapi ini adalah pandangan sebenarnya dari gereja yang telah kita renungkan dalam beberapa hari terakhir, bukankah demikian? ! Ini juga merupakan waktu yang sangat baik bagi orang percaya untuk melihat bahwa itu sebenarnya bukan tindakan manusia, bukan tangan kendali agama, tetapi tangan tindakan Allah yang hidup di antara orang percaya, agar kita dapat bersama mengalami apa yang pernah dialami orang-orang kudus terdahulu. Bukankah ini persekutuan orang-orang kudus? !


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:4-5 (2)

「Persekutuan Orang Kudus (II)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:4-5 [ITB])
4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. 5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

(Terjemahan penulis)
Datang ke hadapan-Nya, yakni batu hidup, di satu sisi ditolak oleh manusia.
di satu sisi dipilih oleh Tuhan dan berharga.
Mereka seperti batu hidup, dibangun menjadi rumah rohani menjadi imam kudus
melalui Yesus Kristus mempersembahkan korban rohani yang berkenan diterima Allah

Dari ayat Alkitab kemarin, kita memahami bahwa definisi pemberitaan kebenaran dan definisi batu hidup adalah: akan ditolak oleh orang, tetapi sebaliknya dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata-Nya. Pemberita harus mempersiapkan hatinya sendiri, bahwa seumur hidup memberitakan kebenaran hanya akan mendatangkan serangan dari banyak orang, tetapi ini tidak menjadi masalah, Kristus telah memberikan kita contoh teladan.

Dalam ayat kelima, kita juga seperti batu hidup, dan kasih kita satu sama lain, yaitu, yang tulus, yang penuh antusias untuk mengasihi, yang tanpa tipu daya, membuat kita tersambung membentuk sebuah bait, yakni bait yang ada Roh di dalamnya. Kata roh (πνευματικὸς pnevmatikós) dimaksudkan: bahwa setelah pembersihan dikuduskan Roh Kudus (lih. 1:22), kita menjadi kelompok bait yang penuh dengan kebenaran – ini adalah kelompok bangunan yang akan ditolak oleh manusia tetapi juga berharga di mata Allah.

Lalu teks menggunakan Perjanjian Lama (Keluaran 19:5-6) untuk menggambarkan bait rohani ini, yakni yang menjadi imamat yang kudus (kumpulan imam / imam-imam yang kudus) dan untuk mempersembahkan korban. Deskripsi ini mengingatkan kita akan kutipan kitab Imamat terkenal yang disebutkan Petrus sebelumnya, Kuduslah kamu, sebab Aku kudus, yang menunjukkan ketundukan hamba (subordinate) kepada Allah, orang-orang Ibrani yang keluar dari Mesir menghadapi pengejaran orang Mesir dan ada juga penolakan dari tujuh bangsa Kanaan di padang belantara, mereka adalah orang-orang yang dipilih dan berharga tetapi jatuh ke dalam penolakan bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, konsep imamat yang kudus bukan hanya sebuah kedudukan, tetapi adalah satu kesaksian demi kesaksian yang lain, untuk menunjukkan bagaimana saat di dalam keadaan musuh mengepung di semua sisi, namun dapat melampaui dan melewatinya dengan setia menyatakan bahwa diri kita adalah milik Allah, yang juga adalah komunitas umat Allah yang rela tidak memiliki kemunafikan dan kedengkian, hidup bersama di bawah tekanan yang penuh ketegangan dan rasa takut ini, dan penuh sukacita mempersembahkan korban untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahwa di lingkungan atau keadaan yang demikian Allah menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku

Tipologi Keluaran dari Mesir didasarkan pada hukum baru yang dianugerahkan di gunung Sinai, dan orang Ibrani akan menjadi umat baru dan imamat yang rajani dari Allah (kumpulan imam / imam-imam yang melayani Raja), dan umat Allah akan bersama-sama mengatakan Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan (lihat Kel. 19:7-8). Dalam Surat 1 Petrus, umat Allah terserak di mana-mana, diserang dan dilukai, tetapi menjadi umat baru melalui Kristus (tidak lagi melalui hukum Taurat, karena Kristus telah menggenapi memenuhi tuntutan hukum Taurat), tetapi juga menjalani kembali konsep tentang imamat yang rajani yang sudah terjadi dahulu sebelumnya (dahulu saat keluaran dari Mesir di zaman Musa), menyaksikan keselamatan dan kasih karunia Kristus, dan meninggikan nama Tuhan di antara bangsa-bangsa asing.

Mungkin kita semua berpikir bahwa kutipan ayat-ayat Perjanjian Lama mengingatkan kita untuk tidak berpikir bahwa hidup kita sedang dipukuli, dan tidak ada yang peduli, berkali-kali jatuh! Tidak! Imamat yang rajani adalah untuk bersaksi kepada dunia bahwa kita tidak lagi dipimpin dengan tradisi kebiasaan pola pikir agama yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, atau yang kuat, atau yang penuh kebanggaan, tetapi teladan dari yang lemah, tak berdaya dan mengasihi dengan tulus mencintai.

Renungkan:
Renungan hari ini mendorong kita untuk mengambil konsep gereja yang bagaimana? Komunitas Perjanjian Lama pada dasarnya adalah esensi gereja saat ini, yang juga merupakan realitas dan substansi kita (dasar esensi kita). Dalam situasi epidemi, kita memikirkan kembali tentang apakah gereja itu sebenarnya. Setelah pengalaman beberapa bulan terakhir, janganlah kita terburu-buru mengembalikan praktik masa lalu, biarkan pengalaman bulan-bulan ini mengajarkan kita untuk mempertimbangkan kembali apa pembaruan dan transformasi yang dibutuhkan untuk pandangan gereja kita, apa jalan berikutnya yang harus kita lewati?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:4-5 (1)

「Persekutuan Orang Kudus (I)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:4-5 [ITB])
4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. 5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

(Terjemahan penulis)
Datang ke hadapan-Nya, yakni batu hidup, di satu sisi ditolak oleh manusia.
di satu sisi dipilih oleh Tuhan dan berharga.
Mereka seperti batu hidup, dibangun menjadi rumah rohani menjadi imam kudus
melalui Yesus Kristus mempersembahkan korban rohani yang berkenan diterima Allah

Kemarin kita berbicara tentang pengalaman Daud dalam Mazmur 34 yang merupakan tipologi yang digunakan Petrus untuk mendorong orang-orang percaya pada waktu itu, bahwa apa yang mereka hadapi merupakan pengalaman umum dari orang-orang kudus pendahulu di zaman Perjanjian Lama, oleh karena itu dalam menghadapi penganiayaan, hidup dalam kesulitan tidak pernah merupakan hal yang memalukan, kekristenan telah menjadi minoritas dan terpinggirkan itu adalah hal yang senantiasa terjadi sejak zaman dahulu.

Dalam ayat-ayat berikut, Petrus berturut-turut menggunakan enam bagian Perjanjian Lama yang berbeda untuk melanjutkan menjelaskan pemahaman atas konsep teologis ditolak (dibuang), yakni Yesus Sang Kristus yang ditolak (dibuang), untuk mendorong orang percaya di dalam situasi ditolak yang makin lama makin menghebat, tetapi tetap berjalan maju walau lambat merayap. Atau mungkin di lingkungan saat ini, kita patut memikirkan jalan di depan ini seperti apa, lalu bagaimana kita harus memperlengkapi diri kita sendiri untuk menghadapi tantangan yang membuat kaki kita harus berjalan sangat berhati-hati.

Sebenarnya frasa pertama dari ayat 4 Datang ke hadapan-Nya juga berasal dari Mazmur 34:5-6, di konteks luasnya yakni dalam Mazmur (wider context), ini menunjukkan pemazmur Daud dalam kesengsaraan Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu, dapat dilihat bahwa Petrus menggunakan mazmur Daud untuk mendorong semua orang agar di dalam lingkungan keadaan penuh penolakan, bahkan seperti Daud yang terpaksa harus berpura-pura menjadi gila, janganlah sampai putus harapan, masih bisa mempertahankan identitas sebagai umat Allah.

Petrus menyebut pengalaman dan iman ini adalah batu hidup, batu hidup ini ditolak oleh manusia tetapi pada saat yang sama dipilih oleh Allah dan berharga bagi-Nya.

Konsep batu hidup selain mengikuti contoh Kristus Yesus, kehidupan kita sebagai orang-orang percaya menggunakannya sebagai batu hidup, tidak jatuh pada tradisi kebiasaan berpikir yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia.

Sebenarnya bagaimanakah konsep ditolak sekaligus dipilih dan berharga? Ini pada dasarnya adalah konsep definisi dan kebenaran paradoks. Kita mungkin berpikir bahwa pemimpin yang dipilih dan berharga di mata Allah itu adalah orang yang disukai dan dicintai banyak orang, tetapi pengalaman Yesus dan pengalaman Daud memberi tahu kita bahwa ini bukanlah demikian. Kebenaran membawa kekuatan mengenali terang dan gelap, yang bahkan bisa membuat orang tua berlawanan pikiran dengan anak-anak mereka, membawakan dua respons yang berlawanan yakni kepatuhan atau penolakan, respons yang pertama dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata-Nya, dan respons yang kedua adalah orang-orang percaya yang menolak kebenaran Tuhan. Sebagai pengabar berita kebenaran, Anda harus menghadapi respons ditolak oleh orang lain. Bukankah demikian?

Renungkan:
Kedamaian dan hidup berdampingan secara harmonis adalah apa yang kita cari, tetapi memberitakan kebenaran – pada saat yang sama ditolak oleh orang tetapi dipilih oleh Allah dan berharga di mata Allah juga merupakan misi utama kita. Apa yang kita lakukan ketika terdapat konflik di antara keduanya?

Percaya bahwa ketika orang melakukan pelayanan dengan tulus, kontradiksi ini secara alami akan keluar, tetapi tolong percaya: ditolak (dibuang) adalah pengalaman umum para orang kudus pendahulu kita. Siapakah yang menjadi pemberita yang setia? Siapakah yang menjadi generasi mengangguk-angguk kepala yang tidak berani bersuara?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:1-3 (2)

「Bayi yang Jahat? (2)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:1-3 [ITB])
1 Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. 2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, 3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.

(Terjemahan penulis)
Jadi, harus membuang semua kejahatan, semua tipu daya, yaitu kemunafikan dan kecemburuan, dan semua fitnah.
Seperti bayi yang baru lahir, merindukan susu rohani yang tidak ada tipu daya, sehingga dapat tumbuh dewasa, mendapat keselamatan
Jika engkau sekalian mengalami kebaikan Tuhan. (Mazmur 34:8 LXX)

Kemarin kita tidak segan membahas sisi gelap sifat manusia, kebenaran yang diuangkapkan Petrus membuat kita mengakui bahwa diri kita jahat, tipu daya kemunafikan dan kedengkian, dan dengan fitnah menempatkan orang dalam penilaian negatif. Hal-hal ini muncul pada zaman Yesus, juga di antara jemaat yang digembalakan Petrus, dan di antara orang-orang percaya yang tersebar di antara bangsa-bangsa asing, dan juga benar-benar ada di kalangan Kristen kita.

Oleh karena itu dalam ayat 2-3, Petrus mengingatkan para murid Tuhan bahwa hidup yang baru harus seperti bayi yang baru lahir. Ini juga sama dengan konsep kelahiran kembali dan menyucikan di pasal pertama (1 Pet. 1:3, 22), yakni menjelaskan bahwa kita harus membuang semua kejahatan dari dalam hati kita, dalam kehidupan baru yang kita pelajari bukanlah kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, tetapi kita merindukan susu yang yang tidak ada tipu daya (ἄδολον ádolon) yang merupakan antonim dari tipu daya (δόλον dólon) dalam ayat 1. Bagi Petrus, menolak kemunafikan, menolak kecemburuan adalah tindakan nyata, dan hanya mengizinkan komunitas baru ini menyimpan susu murni, barulah dapat membuat orang Kristen bertumbuh secara normal.

Dalam pelayanan pengajaran gereja, entah bagaimana, jika pengajaran untuk menghilangkan tipu daya ini tidak kurang diperhatikan atau kurangnya introspeksi dan pendalaman yang baik, bagaimana orang percaya dapat tumbuh dengan sehat?

Dalam perikop ini, kita menemukan kutipan dari Perjanjian Lama yang merupakan kalimat dari Mazmur 34: Jika engkau sekalian mengalami kebaikan Tuhan. Apa maksud dari kalimat ini?

Latar belakang Mazmur 34 adalah bahwa Daud melarikan diri ke Filistin, berpura-pura gila di depan Abimelekh, hanya seorang diri, jadi bagi Petrus, pengalaman Daud di pengasingan ini menjadi tipologi yang lain, menggambarkan: para penerima surat Petrus juga menghadapi apa yang dialami Daud.

Daud dalam pengasingan dikejar dan hendak dibunuh, bahkan ketika dia jatuh ke tangan raja asing, tetapi pengalaman ini adalah proses penting dalam hidupnya. Dia dengan jelas mengatakan bahwa kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu (lihat Maz. 34:19) inilah engkau sekalian mengalami kebaikan Tuhan. Rasa yang dikecap ini kebanyakan adalah dalam keadaan sulit menderita, tetapi masih percaya bahwa semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman(lihat Maz. 34:22)

Jadi kita tahu bahwa susu rohani adalah pengalaman Daud dalam Mazmur, itu juga pengalaman Yesus, dan hanya dengan iman yang demikian, sama sekali tidak ada tipu daya, maka kita akan tahu mengecap (merasakan) bahwa ini adalah kebaikan dan kasih karunia Tuhan, sehingga orang membuang cara-cara membalas kejahatan dengan kejahatan, alih-alih memperlakukan orang dengan tipu daya, tetapi sebaliknya berkonsentrasi untuk mencari keselamatan Tuhan dan jiwa hamba-Nya ditebus.

Renungkan:
Saat diserang dan bahkan dipermalukan, sifat manusia adalah balik menyerang dan dengan tipu daya membalas perlakuan yang diterima, tetapi tujuan dari susu rohani adalah hanya bersandar pada Tuhan dan percaya bahwa Ia akan menyelamatkan, dan ini adalah titik awal bagi orang Kristen. Dengan dasar titik berangkat yang sama ini, barulah ada bahasa yang sama dalam kelompok yang menderita ini. Orang Kristen bukan bertindak tanpa kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan dalam bertindak juga harus mau menerima susu rohani ini, sehingga orang memuji keselamatan Allah dan kebaikan-Nya.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.