Tag Archives: Alpha-privative Adjectives

1 Petrus 1:3-5 (2)

「Mengikuti Kebiasaan atau Memahami ulang」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:3-5 [ITB])
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, 4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. 5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

Kemarin, kita telah merenungkan klausa pertama dari ketiga klausa partisipatif. Di dalam zaman yang tanpa harapan, penuh penindasan dan kebohongan ini, kelahiran kembali – sepenuhnya mengubah sikap kita terhadap kehidupan – akan membawakan harapan hidup. Dan menurut tata bahasa Yunani, kelahiran kembali ini tidak hanya membawa harapan tetapi juga akan membawakan suatu bagian / warisan inheritance (κληρονομίαν).

Ayat 4 untuk menerima bagian (warisan) yang tidak bisa rusak, tidak cemar, dan tidak degradasi, yakni bagi kita di simpan di surga. (Terjemahan penulis)

Untuk memahami ayat ini, kita harus memahami konsep teologis dalam Perjanjian Lama tentang kata bagian / warisan (κληρονομίαν) dan harapan orang percaya pada abad pertama. Bagian / warisan adalah kata benda yang khusus dipakai untuk janji yang Allah berikan kepada orang-orang Ibrani untuk tinggal di Kanaan, ini menjelaskan fondasi iman orang Israel, tanpa kehadiran penyertaan dan perlindungan pemeliharaan Allah, tidak akan dapat berdiri selama ini tidak tumbang dalam situasi penuh ancaman dan berbagai serangan, jadi bagi orang Yahudi, warisan tanah Kanaan ini menjadi tradisi turun menurun yang sakral dan tidak dapat diganggu gugat.

Namun, ketika Yerusalem dihancurkan pada abad ke-6 S.M dan orang-orang Yahudi ditawan ke tempat asing, tradisi tentang bagian warisan tanah Kanaan ini masih bertahan hingga abad pertama A.D (bisa dikatakan hingga abad ke-21 hari ini), mereka tetap berharap suatu hari bisa mendapatkan kembali ke tanah warisan ini.

Dalam konteks latar belakang ini, ditambah dengan penolakan Caesar Romawi terhadap orang-orang Yahudi, Petrus harus berjuang untuk mengajarkan kepada orang-orang percaya Yahudi agar berhenti hanya berkutat dalam tradisi tentang bagian warisan tanah kanaan ini, maka Petrus menggunakan tiga kata sifat yang sangat khusus (alpha-privative adjectives): tidak bisa rusak ἄφθαρτον , tidak cemar ἀμίαντον, dan tidak degradasi ἀμάραντον, untuk menggambarkan bagian / warisan dari Yesus Kristus bukan merupakan tanah yang dijanjikan di bumi, karena tanah di bumi ini akan rusak, tercemar, dan terdegradasi, tetapi anugerah keselamatan Yesus Kristus adalah tentang warisan surgawi yang disimpan di surga bagi orang-orang percaya, maka jangan hanya berkutat dalam tradisi legendaris tentang warisan tanah di bumi.

Petrus menggunakan kata τετηρημένην / tersimpan (bentuk perfect participle) untuk menekankan bahwa warisan surgawi ini disediakan untuk kita oleh Allah sendiri, menghendaki agar mata kita tidak hanya terfokus mengharapkan bagian di bumi, tetapi untuk belajar teladan Yesus, Dia mengorbankan diri-Nya di kayu salib, bangkit dari kematian, naik ke surga, dan mempersiapkan tempat bagi kita mendapatkan bagian / warisan yang abadi.

Renungkan:
Injil Yesus Kristus menjungkirbalikan pikiran manusia, dan menafsirkan kembali (reinterpretation) tradisi legendaris tentang warisan tanah di bumi itu. Hari ini, tradisi spiritual yang ingin kita pelajari bukan sekedar menceritakan ulang contoh-contoh kisah dari Alkitab (scriptural example), tetapi memahami inti esensi ajaran dalam Alkitab, untuk dipahami dan diaplikasikan ulang sesuai untuk zaman sekarang ini (reinterpretation) (Bukan sekedar melakukannya secara harafiah apa adanya tanpa memahami esensi kebenaran rohani yang terkandung, dan melanjutkan tradisi legendaris harafiah budaya Timur dekat zaman kuno)

Tidak pernah mudah untuk melepaskan tradisi legendaris tentang warisan tanah di bumi, Petrus benar-benar berusaha keras melakukan interpretasi dan aplikasi ulang. Berharap bahwa di era yang sangat kompleks ini, kita akan bisa saling mendorong: melihat apa yang tidak kelihatan di depan mata, dan tidak hanya memikirkan ide-ide tradisi kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.