Tag Archives: Api dari Allah

Yehezkiel 21:28-32

Kembalikanlah pedang ke sarungnya!
Oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yeh. 21:28-32 [ITB])
28 Dan engkau anak manusia, bernubuatlah dan katakan: Beginilah firman Tuhan ALLAH mengenai bani Amon dan cercaan mereka; katakanlah: Pedang, pedang sudah tercabut untuk menumpahkan darah, digosok untuk memusnahkan, dan supaya mengkilap seperti petir 29 sedang orang melihat penglihatan-penglihatan yang menipu bagimu dan memberi tenungan-tenungan bohong kepadamu untuk ditetakkan ke leher orang-orang fasik yang durhaka, yang saatnya sudah tiba untuk penghakiman terakhir.
30 Kembalikanlah itu ke sarungnya! Di tempat penciptaanmu dan di negeri asalmu Aku akan menghukum engkau. 31 Aku akan mencurahkan geram-Ku atasmu dan menyemburkan api murka-Ku kepadamu dan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang dungu, yang menimbulkan kemusnahan. 32 Engkau menjadi makanan api, darahmu akan tertumpah di tengah-tengah tanah itu, dan engkau tidak akan diingat-ingat lagi, sebab Aku, TUHAN, yang mengatakannya.

Perikop ini terutama berbicara tentang penghakiman Allah atas Babel. Ayat 28-29 terlebih dahulu berbicara tentang penghakiman yang akan dihadapi Amon. Kata-kata yang digunakan di dalamnya mirip dengan yang disebutkan di teks sebelumnya tentang penghakiman Allah atas Yerusalem, termasuk pedang sudah tercabut, digosok, dan mengkilap seperti petir, dll., ini menunjukkan bagaimana Yerusalem dihancurkan, demikian juga Amon dihancurkan, ini karena Amon dan Yehuda memberontak melawan Babel, sehingga raja Babel akan menghancurkan mereka bersama-sama sebagai manifestasi penghakiman Allah.

Ayat 30 menjadi pusat seluruh paragraf. TUHAN mengatakan kepada Babel: Kembalikanlah itu ke sarungnya! Tema pedang ini menyambungkan tema pedang TUHAN yang disebutkan di teks sebelumnya dan pedang Babel, jadi pedang di ayat 30 ini seharusnya mengacu pada pedang Babel (lihat renungan Yehezkiel 21:18-27), mengapa ayat 30 memerintahkan Babel untuk mengembalikan pedang ke sarungnya? Ini karena Babel diciptakan (ayat 30) untuk saatnya sudah tiba untuk penghakiman terakhir (ayat 29), yaitu untuk menghukum Yehuda. Ketika peran Babel yang diciptakan selesai, sebaliknya, Allah akan menghukumnya, dan murka Allah akan dicurahkan ke Babel (ayat 31). Di sini, kita melihat bahwa Babel adalah makhluk ciptaan (ayat 30) dan TUHAN Yahweh adalah Pencipta. Oleh karena itu, Babel tidak dapat dibandingkan dengan TUHAN Yahweh. Babel hanyalah alat bagi TUHAN untuk menghukum bangsa-bangsa dan Yehuda. Tidak peduli seberapa kuat Babel, mereka tidak lain adalah ciptaan Allah yang dipakai Allah untuk bertindak. Oleh karena itu, perintah untuk Kembalikanlah itu ke sarungnya! menggambarkan hubungan dasar antara TUHAN yang Maha Tinggi dan Babel yang rendah.

Karena Babel membunuh banyak orang dan melakukan banyak hal tidak bermoral ketika menyerang bangsa-bangsa dan Yehuda, hukuman Allah pada akhirnya akan jatuh ke Babel. Alkitab menggunakan dua metafora untuk menggambarkannya, metafora pertama adalah menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang dungu, yang menimbulkan kemusnahan (ayat 31), yang berarti Babel akan menjadi seperti makanan bagi binatang buas, metafora kedua adalah Babel makanan api (ayat 32), api ini adalah sejenis api yang melahap memusnahkan. Babel akan menjadi kayu sebagai bahan bakar dimusnahkan oleh api. Dengan demikian, negara yang di kulit permukaan tampaknya kuat, tetapi itu hanya alat di mata Allah, pada akhirnya akan menerima hukuman dan binasa karena perbuatan jahatnya sendiri.

Renungkan:
Perintah Allah kepada Babel agar Kembalikanlah itu ke sarungnya! menunjukkan bahwa akhir Babel telah sampai ujung, tidak peduli Babel mau atau tidak mengembalikan pedang ke sarungnya!, Babel tidak dapat melepaskan diri dari hukuman TUHAN dan kehancuran. TUHAN dan Babel adalah jarak antara Pencipta dan yang diciptakan, jarak ini mendefinisikan perbedaan antara martabat dan tinggi rendah keduanya, dan juga mendefinisikan hubungan yang benar antara kita dan Allah. Fakta bahwa Allah adalah Tuhan pencipta Allah, bagaimana itu menjadi definisi diri Anda?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 21-28 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasikan pada bulan Januari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ratapan 2:1-3

「Awan dan api dari TUHAN」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 2:1-3 [ITB])
1 Ah, betapa Tuhan menyelubungi puteri Sion dengan awan dalam murka-Nya!
Keagungan Israel dilemparkan-Nya dari langit ke bumi. Tak diingat-Nya akan tumpuan kaki-Nya tatkala Ia murka.
2 Tanpa belas kasihan Tuhan memusnahkan segala ladang Yakub.
Ia menghancurkan dalam amarah-Nya benteng-benteng puteri Yehuda.
Ia mencampakkan ke bumi dan mencemarkan kerajaan dan pemimpin-pemimpinnya.
3 Dalam murka yang menyala-nyala Ia mematahkan segala tanduk Israel,
menarik kembali tangan kanan-Nya pada waktu si seteru mendekat,
membakar Yakub laksana api yang menyala-nyala, yang menjilat ke sekeliling.

Ratapan Yeremia pasal 2 dimulai dengan tatkala Ia murka (ayat 1), dan diakhiri dengan tatkala TUHAN murka (ayat 22, atau KJV in the day of the LORD’S anger), terbentuk awal dan akhir yang saling berkaitan, sehingga pembaca dapat memahami bahwa subjek dari Ratapan pasal 2 ini adalah tentang murka TUHAN, subjek ini dijelaskan di awal, di ayat 1-3, ayat 1 menunjukkan Tuhan … dalam murka-Nya, tatkala Ia murka, dan ayat 3 menjelaskan dalam murka yang menyala-nyala Ia …, jadi di sini tema murka TUHAN sangatlah jelas. Namun, ketiga ayat ini menggunakan dua gambaran awan dan api untuk menggambarkan situasi murka TUHAN yang tidak biasa.

Dalam ayat 1 disebutkan bahwa TUHAN menggunakan awan untuk menyelubungi Sion. Kita dapat memahaminya melalui awan penyertaan Allah yang turun dahulu saat Salomo menahbiskan Bait Suci, awan itu melambangkan kehadiran Allah. Ia menutupi Bait Suci dengan awan, para imam tidak dapat masuk (2 Tawarikh 5:13, klik untuk membaca), dan TUHAN (Yahweh) juga menggunakan tiang awan untuk memimpin bangsa Israel di padang gurun (Keluaran 13:21-22, 14:19-20, klik untuk membaca). Awan kehadiran penyertaan Allah merupakan pengalaman yang positif bagi orang Israel, melambangkan Allah yang tidak meninggalkan atau mencampakkan mereka, ada awan serta api di jalan padang gurun siang dan malam, dan penyertaan Allah tidak pernah berubah. Namun, sekarang awan yang dulu merupakan penyertaan TUHAN (Yahweh) telah berubah menjadi awan hitam, dan awan ini juga menutupi Bait dan juga Sion, tetapi kali ini awan hitam itu adalah penutup murka, Allah yang sama, awan yang sama, tetapi membawa efek pembalikan, yang menunjukkan bahwa Allah yang melindungi bangsa Israel di masa lalu telah mengubah kehadiran-Nya dengan menggunakan awan hitam untuk menggambarkan kehadiran penghakiman-Nya.

Kata memusnahkan yang disebutkan di ayat 2 dan 3 (ayat 3 yang menjilat ke sekeliling, yang merupakan kata yang sering muncul di pasal 2 (Ratapan 2:2, 3, 5, 8, 16) memiliki makna memakan (menelan), kata yang mengingatkan orang tentang bagaimana ikan besar menelan Yunus. Lalu kata dilemparkan dalam ayat 1 adalah kata yang persis sama dengan yang Yunus katakan dalam kitab Yunus bahwa dia dilemparkan ke dalam jurang oleh TUHAN (Yunus 2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan …). Ratapan menggunakan kata-kata ini sehingga pembaca membuat asosiasi antar teks untuk memperjelas bahwa Sion saat ini seperti Yunus yang di dalam perut ikan dan dilemparkan ke jurang samudra yang dalam.

Ayat 3 menunjukkan bahwa murka TUHAN mematahkan segala tanduk Israel. Tanduk ini digunakan untuk melambangkan kekuatan dan berkat (Mazmur 18:2, 75:10; Ul. 33:17, klik unuk membaca), tetapi sekarang sepenuhnya dipatahkan oleh TUHAN. Dalam ayat 3, gambaran api digunakan untuk menunjukkan bahwa ini adalah api yang menelan (memusnahkan), dulunya adalah api menelan tanda perkenan korban persembahan (Imamat 24) dan tiang api yang melambangkan kehadiran TUHAN (Keluaran 13:22), namun api yang sama, api perkenan dan penyertaan, kini menjadi api memusnahkan dan murka. TUHAN tidak sama lagi kehadiran-Nya, dahulu melindungi orang Israel sekarang menelan memusnahkan orang Israel. Ketika kita memahami awan dan api bersama-sama, kita memahami bahwa tema yang diharapkan dalam ayat 1-3 adalah pembalikan dari kehadiran TUHAN, dan alasannya adalah TUHAN dalam murka.

Renungkan:
Api kudus yang sama membawa hasil yang berbeda, melambangkan dua aspek sifat Allah: perkenan dan penghakiman. Seringkali kita hanya mengharapkan perkenan Allah, tetapi tidak menerima penghakiman Allah, kita mengharapkan kasih Allah, tetapi tidak menyukai disiplin didikan Allah. Di permukaan, kedua aspek sifat ini tidak selaras, tetapi kedua aspek sifat ini adalah kekudusan Allah. Api suci yang sama harus memiliki perkenan dan penghakiman. Kita tidak dapat hanya memilih salah satunya. Sebagai umat perjanjian anugerah, kita harus menerima keduanya. Tidakkah kita tahu bahwa disiplin didikan adalah hak istimewa umat perjanjian?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 64:1-3

「Kiranya Engkau Mengoyakkan Langit dan Turun」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 64:1-3 [ITB])
1 Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu 2 seperti api membuat ranggas menyala-nyala dan seperti api membuat air mendidih, untuk membuat nama-Mu dikenal oleh lawan-lawan-Mu, sehingga bangsa-bangsa gemetar di hadapan-Mu, 3 karena Engkau melakukan kedahsyatan yang tidak kami harapkan, seperti tidak pernah didengar orang sejak dahulu kala!

Yesaya 64 melanjutkan seruan ratapan dalam Yes. 63:15-19 di atas, dan di ayat 9 (lihat Yes. 64:1-9) menggunakan seruan untuk memohon belas kasihan dan penyertaan Allah. Hari ini kita akan merenungkan seruan doa permohonan ayat 1-3, dan besok kita akan merenungkan doa permohonan ayat 4-9.

Konten dalam perikop 64:1-3 mengadopsi gambar Allah menampakkan diri (Teofani) yang khas dari Perjanjian Lama (Teofani: Allah menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh yang bersangkutan, sehingga yang bersangkutan sadar bahwa mereka berhadapan dengan Allah sendiri), yaitu gambaran ketika TUHAN menampakkan diri di Gunung Sinai dan menyatakan diri kepada orang-orang Israel. Dan Yesaya ketiga yang hidup di masa Bait Suci kedua dan masa kerajaan Persia, ia berdoa memohon agar pengalaman yang sama datang dan dialami orang-orang Israel. Dari isinya, kita melihat bahwa nabi Yesaya ini berdoa meminta Allah menampakkan diri lebih spektakuler dan besar daripada saat di Gunung Sinai dahulu.

Dalam teks bahasa aslinya, ayat 1 (dalam bahasa asli di bagian akhir ayat 63:19) dan ayat 3 (dalam bahasa asli di ayat 64:2) diakhiri dengan Engkau turun di hadapan-Mu gunung-gunung berguncang (yaradta mipaneka harim nazollu, lihat terjemahan ITL atau BIMK), ini menunjukkan bahwa inti utama ayat 1-3 adalah bahwa Allah datang secara pribadi (sifat Allah yang konsisten … bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka … 63:9), sehingga semua gunung terguncang oleh karena Allah datang secara pribadi menampakkan diri, serupa dengan situasi ketika TUHAN turun di Gunung Sinai (Kel. 19:18), dan perbedaan apa yang diminta dalam permohonan nabi Yesaya dengan kitab Keluaran adalah bahwa nabi berdoa meminta agar gunung-gunung terguncang, bukan hanya satu gunung Sinai. Kelompok gunung-gunung ini mungkin merupakan metafora bagi para dewa yang disembah mezbah-mezbah di tempat-tempat tinggi di gunung-gunung. Dewa-dewa ini disembah oleh bangsa-bangsa asing, tetapi penampakan diri Allah membuat terguncang semua gunung-gunung yang menyembah dewa-dewa itu, sehingga bangsa-bangsa asing itu memahami bahwa TUHAN adalah Allah yang memiliki kuasa besar adalah Allah yang sejati. Selain itu, ayat 1 menggambarkan TUHAN mengoyakkan langit, dalam teks aslinya dapat diartikan sebagai merobek langit menjadi berkeping-keping, ini adalah metafora bahwa tidak ada apapun yang dapat menghalangi Allah datang turun, ini adalah kedatangan yang membuat bumi terkejut. Dan Kitab Suci menggambarkan Dia turun dari langit, ini terkait dan menanggapi doa permohonan di ayat 63:15 Pandanglah dari sorga dan lihatlah dari kediaman-Mu yang kudus dan agung, ini menjelaskan nabi Yesaya tidak sabar lagi terhadap kegelapan yang ada di depan mata ini, meminta Allah jangan hanya duduk di surga melihat ke bawah saja, tetapi benar-benar turun dari Sorga (langit), biarkan orang-orang dari bangsa-bangsa asing melihat karya Allah yang sejati, dan kehadiran-Nya membawakan hormat dan takut.

Ayat 2 menuliskan penampakan diri TUHAN dengan api, yang sama dengan catatan bahwa gunung penuh api ketika Allah turun di gunung Sinai (Kel. 19:18). Api ini adalah simbol kehadiran Allah, digunakan untuk membakar kayu kering yang bertepatan dengan pengalaman Musa akan semak yang terbakar (Kel. 3:2), api digunakan untuk membuat air mendidih berkorespondensi dengan TUHAN membuat air Laut Teberau (Laut Merah / Laut Kolsom) Kel. 14:21. Tetapi kali ini berbeda, jika dahulu laut terbelah dihembus oleh angin, Allah secara tidak langsung meniupnya menggunakan angin alam, tetapi kali ini dengan api dan Allah sendiri secara langsung memisahkan air dengan kehadiran api. Nabi Yesaya meminta pengalaman yang lebih nyata dan lebih besar dari penampakan diri TUHAN dibandingkan Keluaran dari Mesir, yang tujuannya yakni yang dinyatakan dalam ayat 2 untuk membuat musuh mengetahui nama TUHAN, dan juga membuat bangsa-bangsa gemetar di hadapan Allah!

Renungkan:
Imanuel, Tuhan beserta kita! Kita mungkin berpikir bahwa kehadiran Tuhan adalah kehadiran kelembutan dan cinta, tetapi nabi Yesaya berdoa meminta hadirat Tuhan adalah kehadiran penyertaan-Nya yang penuh wibawa dan kuasa. Kehadiran tersebut adalah agar musuh mengetahui nama TUHAN, juga agar bangsa-bangsa gemetar di hadapan Allah, dan menghancurkan semua mezbah-mezbah berhala bangsa-bangsa di atas gunung-gunung, sehingga kemuliaan-Nya akan nyata di seluruh bumi. Apakah Anda merindukan kehadiran Allah seperti itu? Bagaimana kehadiran Allah menjadi kekuatan pengharapan Anda?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 16:1-3

「Menghasut dan Binasa」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 16:1-3 [ITB])
1 Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang 2 untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan. 3 Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?

Bilangan pasal 12 sampai 16 sebanyak tiga kali berbicara tentang kepemimpinan Musa mendapat tantangan provokasi (perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut), yang pertama adalah saudara perempuan Musa, Miryam dan saudaranya, Harun (pasal 12), yang segera berkembang menjadi sepuluh mata-mata yang beriman kecil (pasal 13 – 14), dan kemudian berkembang menjadi 250 pemimpin seperti kelompok Korah, Datan dan Abiram (pasal 16). Insiden-insiden ini terjadi pada awal perjalanan padang gurun Israel, akibatnya, memasuki Tanah Perjanjian tertunda selama tiga puluh delapan tahun sampai generasi pertama Keluaran dari Mesir semuanya mati di padang belantara. Insiden-insiden ini juga menunjukkan bahwa sisi gelap hakikat manusia di antara umat Allah, kecemburuan dan fitnah, perselisihan dan pemberontakan, dan provokasi pemberontakan semuanya muncul. Pengalaman belantara adalah memurnikan produk-produk rendahan ini satu per satu.

Bilangan 16:1-35 berbicara tentang pemberontakan Korah dan komplotannya, dapat dibagi menjadi tiga poin berikut: 

1 Pemberontakan dan fitnah (ayat 1-15): Korah berpikir dirinya tinggi sama-sama seperti Musa dan Harun termasuk suku Lewi yang terkenal dan Kehat, bagaimana mungkin hanya Musa dan Harun yang diijinkan mempersembahkan ukupan di hadapan TUHAN? Mereka menyerang Musa dan Harun bahwa mereka berdua meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN. Mereka bahkan mengumpulkan segenap umat itu melawan kedua orang tersebut, merasa punya alasan yang benar untuk mempersembahkan ukupan di hadapan TUHAN. Tetapi keimamatan Harun bukan karena ia mengangkat diri sendiri, tetapi merupakan pemilihan Allah. Sedangkan Datan dan Abiram dari suku Ruben berpikir bahwa mereka adalah keturunan putra sulung Yakub, kepala dari suku-suku lain, bagaimana bisa berada di belakang suku Yehuda? Mereka bahkan memfitnah Musa membawa orang-orang keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (mengacu pada Mesir), tetapi justru tidak membawa mereka ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, memfitnah dan memutarbalikkan kebenaran.

2 Kemuliaan dan syafaat (ayat 16-30): Seperti dua peristiwa pemberontakan sebelumnya, tampaklah kemuliaan TUHAN (Bil. 12:5; 14:10; 16:19) untuk menghancurkan mereka. Untungnya, Musa dan Harun berdoa syafaat, sehingga memperkecil lingkup hukuman, dan hanya menghukum mereka yang memimpin dalam pemberontakan.

3 Bumi terbelah dan api yang menelan (ayat 31-35): Musa meminta kepada TUHAN untuk menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi (menciptakan, bārā’ kata kerja bentuk diperkuat Pi‘el), tanah membelah dan menelan komplotan Korah. Api keluar dari TUHAN, dan menelan 250 orang yang mempersembahkan ukupan. Mereka menolak untuk naik ke Tanah yang dijanjikan, dan tanah menelan mereka, dan mereka semua turun ke dunia orang mati. Mereka ingin membuktikan diri mereka benar adanya, memegang api (arang) dan membubuhkan dupa, tetapi api justru menelan mereka.

Renungkan:
Dalam ibadat yang paling kudus, ada tindakan yang paling hina. Bagaimana seharusnya kita berhati-hati?
Martin Luther mengatakan bahwa semua orang adalah imam, tetapi tidak semua orang adalah pendeta, pelayanan penuh waktu adalah datang dari pemilihan Allah, diperlengkapi pembelajaran kebenaran Firman, dan karunia Roh Kudus, bukan merupakan sesuatu yang bisa diambil semaunya berdasarkan keinginan pribadi.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Imamat 10:1-7

Kunyatakan kekudusan-Ku, Kuperlihatkan kemuliaan-Ku

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 10:1-7 [ITB])
1 Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka.
2 Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN.
3 Berkatalah Musa kepada Harun: Inilah yang difirmankan TUHAN: 『Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku.』 Dan Harun berdiam diri.
4 Kemudian Musa memanggil Misael dan Elsafan, anak-anak Uziel, paman Harun, lalu berkatalah ia kepada mereka: Datang ke mari, angkatlah saudara-saudaramu ini dari depan tempat kudus ke luar perkemahan.
5 Mereka datang, dan mengangkat mayat keduanya, masih berpakaian kemeja, ke luar perkemahan, seperti yang dikatakan Musa.
6 Kemudian berkatalah Musa kepada Harun dan kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun: Janganlah kamu berkabung dan janganlah kamu berdukacita, supaya jangan kamu mati dan jangan TUHAN memurkai segenap umat ini, tetapi saudara-saudaramu, yaitu seluruh bangsa Israel, merekalah yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu. 7 Janganlah kamu pergi dari depan pintu Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati, karena minyak urapan TUHAN ada di atasmu. Mereka melakukan sesuai dengan perkataan Musa.

Anak-anak Harun, Nadab dan Abihu mengambil api mereka sendiri, di hadapan TUHAN mempersembahkan api yang asing (’ēš zārāh) (10:1), kata zārāh dapat ditafsirkan sebagai api yang asing (strange, foreign), ilegal (unlawful) atau tidak memiliki wewenang otoritas (unauthorized), dan berdasarkan kalimat terakhir ayat 10:1, kita tahu bahwa tindakan mempersembahkan api asing tidak diperintahkan oleh TUHAN, jadi api ini belum diberi wewenang otorisasi, dan oleh karena itu ilegal. Dari ayat tersebut kita tidak dapat memastikan sumber api yang dipergunakan ini, mungkin api yang dibuat oleh orang, api biasa (common fire). Dalam tradisi imam, karena api fana ini dibawa ke ranah kekudusan, mengakibatkan campur baur keteraturan, dan ini adalah yang asing bagi ranah kekudusan.

Ayat 10:2 mencatat keluar(yāṣā’) api dari hadapan TUHAN, api kudus ini menghanguskan Nadab dan Abihu, deskripsi ini memberikan gambaran yang sama dengan ayat 9:24 menggambarkan api keluar (yāṣā’) dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan (אָכַל ‘akal memakan) korban bakaran. Imamat 9:24 mengungkapkan perkenan Allah, dan Imamat 10:2 mengungkapkan murka Allah (Im. 10:6), yang pertama adalah penerimaan Allah, yang terakhir adalah hukuman Allah. Namun, keduanya memiliki satu kesamaan yaitu, TUHAN menyucikan tempat korban dan tidak mengizinkan yang asing (zārāh) berada di ranah kekudusan, mengembalikan ibadah Kemah Suci pada tatanan dan batas-batas suci. Pemahaman interpretasi ini didukung ayat 10:3 yang menjelaskan tujuan tindakan ini bukan sekadar hukuman, tetapi kekudusan Allah harus dinyatakan, Allah harus dimuliakan, itu adalah manifestasi kekudusan ilahi.

Ayat 10:6 Janganlah kamu (Harun dan kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun) berkabung dan janganlah kamu berdukacita, supaya jangan kamu mati dan jangan TUHAN memurkai segenap umat ini, menjelaskan cara orang mendekati TUHAN terhidarkan kematian, orang-orang ini tidak boleh menguraikan rambut atau mengoyak-ngoyakkan pakaian (ITL), ini adalah tindakan menjaga keteraturan, agar memastikan bahwa mereka adalah tahir. Selanjutnya, tetapi saudara-saudaramu, yaitu seluruh bangsa Israel, merekalah yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu yakni orang mendekati yang TUHAN hendaknya menangisi dan bersedih karena yang asing (zārāh) itu telah menyebabkan hilangnya keteraturan, juga atas kematian kehidupan manusia, kesedihan seperti itu dapat menghilangkan murka Allah.

Terakhir, ayat 7 Janganlah kamu pergi (keluar) dari depan pintu Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati, karena minyak urapan TUHAN ada di atasmu, minyak urapan TUHAN yang ada di tubuh tidak boleh keluar(yāṣā’) dari pintu Kemah Pertemuan, seperti yang dijelaskan sebelumnya, minyak urapan melambangkan penyucian kekudusan dan pilihan, menunjukkan bahwa hal-hal di ranah kudus tidak boleh dibawa ke tempat duniawi, menghormati batas antara yang kudus yang ilahi dan yang dunia, dan memandang keharusan untuk menegakan keteraturan.

Renungkan:
Di era Perjanjian Baru, kematian dan kebangkitan Kristus mematahkan batasan manusia mendekati Allah. Kita memasuki ranah kekudusan dan menjadi orang-orang kudus (pada saat yang sama juga adalah orang berdosa yang mendapat anugerah), dan seluruh orang menjadi imam. Ini benar-benar anugerah. Namun, konsep batasan dalam Kitab Imamat mengingatkan kita bahwa orang yang mendekati Allah harus benar-benar suci tahir, dan jangan menganggap karena anugerah Kristus maka mendekati Allah begitu saja (bisa seenaknya), kita harus memastikan bahwa hidup kita sama sekali tidak ada yang asing (zārāh), agar kita tidak menyalahgunakan anugerah Tuhan, tetapi menjadi suci, layak untuk dipakai Tuhan, dan mempersiapkan diri untuk agar kehidupan kita menjadi manifestasi kekudusan dan kemuliaan Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 1:2-9

Berkenan di hadapan TUHAN

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:2-9 [ITB])
2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. 4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. 6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu. 8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. …』」

Imamat pasal 1 berbicara tentang aturan korban bakaran, dalam bahasa asli ‘ōlāh (korban bakaran) dapat dipahami sebagai korban yang membubung ke atas, simbol yang mewakili korban dipersembahkan sebagai wangi-wangian yang baunya menyenangkan dipersembahkan kepada Allah di surga. Dalam peraturan korban bakaran, korban (qŏrbān), yakni kata korban yang disebutkan di Markus 7:11 … sudah digunakan untuk korban yaitu persembahan kepada Allah, kata ini sering sekali muncul (Im. 1:2, 3, 10, 14), menjelaskan bahwa korban bakaran itu sendiri adalah korban yang dipersembahkan kepada Allah, karena itu adalah persembahan, maka berharap pihak penerima akan berkenan sukacita menerimanya, tetapi bagaimana memastikan bahwa persembahan korban ini diterima berkenan di hadapan Allah?

Dalam mempersembahkan korban bakaran, api yang digunakan adalah api yang datang dari Allah (Im. 9:24), segala yang datang dari Allah adalah sesuatu yang merupakan bagian dari ranah ilahi milik Allah, dan definisi kudus juga adalah makna yang merupakan bagian dari ranah ilahi (lingkup ilahi), kita dapat memahami bahwa ini adalah api semacam api kudus, adalah api yang datang dari Allah; api ini bukan api umum yang dipakai oleh manusia (Im.10:1), api umum ini bukan bagian dari ranah ilahi milik Allah, itu adalah api manusia. Api kudus adalah prasyarat untuk memastikan korban bakaran berkenan diterima, karena api yang dipakai adalah api Allah, api dari ranah ilahi milik Allah membakar korban yang dipersembahkan ini, itu melambangkan pengorbanan yang berkenan diterima oleh Allah, dan oleh karena itu, api kudus ini tidak boleh padam, jika tidak, maka korban persembahan tidak akan bisa berkenan di terima di hadapan Allah.

Sering kali, kita mengandalkan upaya manusia, memberikan persembahan yang paling mahal harganya kepada Allah, dan juga dengan kemampuan, hikmat dan relasi diri sendiri untuk menyalakan api persembahan, dan berharap Allah akan berkenan menerima pemberian kita, tetapi ternyata diterima berkenan atau tidak berkenannya persembahan korban bukan tergantung pada usaha manusia, melainkan mengandalkan api kudus anugerah dari Allah.

Ini menggambarkan dua poin:
(1) tidak peduli berapa mahal persembahan orang, kecuali berkenan kepada Allah, maka persembahan itu sia-sia;
(2) manusia sebenarnya tidak memiliki modal untuk memberikan persembahan dengan mempertimbangkan besarnya usaha atau mahalnya harga persembahan untuk menyenangkan Allah, maka orang tidak patut mencoba untuk jual beli dengan Allah, tidak patut mencoba menyuap Allah. Karena penerimaan suatu persembahan sepenuhnya merupakan inisiatif Allah. Memang benar, manusia boleh yang secara proaktif mempersembahkan persembahan korban, menurut sebagian peneliti, korban bakaran adalah bentuk persembahan sukarela, bukan persembahan wajib, tetapi inisiatif sukarela untuk memberikan persembahan tidak akan menjadi prasyarat perkenan Allah, dan terlebih tidak boleh karena persembahan inisiatif sukarela maka ingin mengontrol Allah untuk berkenan menerima.

Renungkan:
Korban apa yang Anda persembahan kepada Allah? Apakah Anda berharap Allah berkenan menerimanya? Hanya ketika korban yang dibakar oleh api suci yang dapat melambangkan perkenan penerimaan Allah, api manusia tidak dapat mencapai tujuan ini, ini artinya, kita tidak patut mempersembahkan persembahan dengan cara kita sendiri, meskipun persembahan itu sendiri mahal harganya, seperti lembu yang disebutkan dalam pasal ini (1:3) lebih mahal daripada kambing domba (1:10) dan burung tekukur atau dari anak burung merpati (1:14), dan tidak dapat menjamin perkenan penerimaan Allah. Hanya api kudus (melambangkan: cara Allah, cara yang sesuai kehendak Allah) yang dapat membakar semua korban dan memastikan perkenan penerimaan Allah. Apakah Anda telah mempersiapkan hidup Anda memasuki ranah ilahi Allah?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.