Tag Archives: penyertaan Allah

1 Kor. 4:18-21(2)

「Jangan meremehkan kuasa disiplin Allah! Kuasa Allah akan menyertai hamba yang setia!」

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 4:18-21 [ITB])
18 Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu.
19 Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya. Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka. 20 Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.
21 Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?

Gembala, pelayan, dan orang percaya Jangan meremehkan kuasa disiplin Allah! Allah membenci dosa yang tetap berkeras bertindak semau-maunya sendiri, harus ingat: Jangan meremehkan kuasa disiplin Allah! Waktunya telah tiba, Tuhan akan meminta tanggung jawab, menghukum, dan akan mendisiplinkan! Kepada mereka yang sengaja dan sembrono, Paulus berkata: Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman (Roma 2:5, 8) , semuanya itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka(Kolose 3:6)

Bagi para gembala, pelayan, dan orang percaya yang dengan setia melayani Tuhan, tetapi mengalami pencederaan dan patah semangat, harus ingat: Jangan meremehkan kuasa disiplin Allah! Ketika mengalami hambatan dalam pelayanan Anda, jangan mengira sedang berjuang seorang diri saja, jangan seperti Elia yang berpikir bahwa di dunia ini hanya kita yang menghargai kekudusan gereja, khawatir kehilangan orang percaya, dan membenci gereja yang salah jalan! Tuhan mengasihi gereja-Nya! Dia juga berduka bersama kita atas gereja yang salah jalan! Selain itu, seperti yang dipelajari Elia: masih ada tujuh ribu! Ada banyak hamba setia yang mengasihi Tuhan dan gereja (1 Raj. 19:18) Waktunya akan tiba ketika Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya, memakai hamba-hamba yang setia, menghukum dan mendisiplinkan orang-orang yang bertindak semau-maunya sendiri, orang-orang dan domba sesat yang berkeras berjalan menyimpang, agar mata mereka melihat bahwa Allah dan para hamba yang setia adalah rekan kerja. Surat Ibrani mengingatkan: Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa, sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah (Ibrani 12:3, 12)

Mempelajari Surat 1 dan 2 Korintus, kita dapat melihat contoh yang sangat indah dari seorang gembala: meskipun ia mengalami rasa penderitaan yang panjang dan berat, air mata, kekhawatiran, dan ketegangan, Paulus tidak pernah melepaskan otoritas, tanggung jawab, dan panggilannya untuk menggembalakan! Paulus tidak gentar dari orang-orang yang meniup gelembung pembesaran diri! Di hadapan orang-orang dari gereja Korintus yang menggelembungkan diri dan tersesat, Paulus menantang mereka dengan kebenaran: Saya tidak ingin mendengarkan kata-kata Anda yang membual, tetapi hendak melihat ada kuasa besar apa di balik peninggian diri Anda itu? Kuasa dan akhir yang seperti apa yang dimiliki orang sombong yang menjauh dari Allah? Para gembala dan saudara-saudari yang setia kepada Tuhan tidak boleh takut kepada mereka! Jangan biarkan kata-kata sombong mereka menjatuhkan kita, atau membuat kita berkecil hati, putus asa, dan kehilangan tekad! Paulus mengingatkan kita: Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa Mereka yang berjalan di jalan yang salah, mereka yang mementingkan diri sendiri, dan mereka yang menghina Tuhan, membenci Tuhan, dan membenci hamba Tuhan, memiliki kekuatan dan otoritas apa yang sesungguhnya? Apa yang akan menjadi akhir mereka? Jangan takut pada mereka! Kesombongan mereka hanya mengumpulkan murka Allah atas diri mereka sendiri! Mengapa kita harus kecil hati? Mengapa Anda harus takut pada mereka?

Ketika raja Ahab, Izebel, dan para nabi Baal sombong, merajalela, dan sewenang-wenang, ketika banyak hamba TUHAN menderita dan ingin bersembunyi atau melarikan diri, apakah kita harus takut kepada mereka? Ketika 850 para nabi Baal dan para nabi Asyera bangkit menari dengan liar, apakah kita akan takut pada mereka? Kita harus ingat: Injil adalah kekuatan Allah! Tuhan juga akan menggunakan segala macam kekuatan kuasa luar biasa untuk bekerja bersama hamba-hamba Tuhan yang setia! Jangan sampai kita takut pada mereka! Gembala bukan hanya memiliki tongkat penggembalaan, tetapi juga tongkat kebenaran dan disiplin dengan otoritas serta kuasa Allah! Menghadapi generasi yang tidak percaya, menghadapi Ahab dan Izebel yang jahat, menghadapi banyak nabi Baal, menghadapi banyak orang percaya Korintus yang tersesat, maka sebagai pelayan Tuhan harus ingat: Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa, menggembalakan dalam lingkungan yang penuh kesulitan, zaman berbahaya penuh duri, kita harus ingat perkataan Yesus: janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa (Mat. 10:28), barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa (Wahyu 2:26) Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (Wahyu 2:10) Kunci utama: jangan meremehkan kuasa pendisiplinan Allah! Kuasa Allah yang besar akan menyertai hamba yang setia!

Renungkan:
• Menghadapi ketegangan dalam pelayanan, pernahkah Anda mengalami kecewa, putus asa, dan kehilangan semangat yang mendalam? Pengingat apa yang diberikan pengajaran ayat Alkitab hari ini kepada Anda?

• Dihadapkan dengan segala macam ketegangan dan tantangan pelayanan yang sulit, Paulus tidak pernah melepaskan otoritas, tugas dan panggilannya untuk menggembalakan! Pengingat dan inspirasi apa yang diberikan oleh teladan Paulus kepada Anda?

Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa . Jangan meremehkan kekuatan kuasa pendisiplinan Allah! Kuasa Allah yang besar akan menyertai hamba yang setia! Pengingat dan penghiburan apa yang diberikan beberapa kata-kata ini kepada Anda?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ratapan 2:1-3

「Awan dan api dari TUHAN」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 2:1-3 [ITB])
1 Ah, betapa Tuhan menyelubungi puteri Sion dengan awan dalam murka-Nya!
Keagungan Israel dilemparkan-Nya dari langit ke bumi. Tak diingat-Nya akan tumpuan kaki-Nya tatkala Ia murka.
2 Tanpa belas kasihan Tuhan memusnahkan segala ladang Yakub.
Ia menghancurkan dalam amarah-Nya benteng-benteng puteri Yehuda.
Ia mencampakkan ke bumi dan mencemarkan kerajaan dan pemimpin-pemimpinnya.
3 Dalam murka yang menyala-nyala Ia mematahkan segala tanduk Israel,
menarik kembali tangan kanan-Nya pada waktu si seteru mendekat,
membakar Yakub laksana api yang menyala-nyala, yang menjilat ke sekeliling.

Ratapan Yeremia pasal 2 dimulai dengan tatkala Ia murka (ayat 1), dan diakhiri dengan tatkala TUHAN murka (ayat 22, atau KJV in the day of the LORD’S anger), terbentuk awal dan akhir yang saling berkaitan, sehingga pembaca dapat memahami bahwa subjek dari Ratapan pasal 2 ini adalah tentang murka TUHAN, subjek ini dijelaskan di awal, di ayat 1-3, ayat 1 menunjukkan Tuhan … dalam murka-Nya, tatkala Ia murka, dan ayat 3 menjelaskan dalam murka yang menyala-nyala Ia …, jadi di sini tema murka TUHAN sangatlah jelas. Namun, ketiga ayat ini menggunakan dua gambaran awan dan api untuk menggambarkan situasi murka TUHAN yang tidak biasa.

Dalam ayat 1 disebutkan bahwa TUHAN menggunakan awan untuk menyelubungi Sion. Kita dapat memahaminya melalui awan penyertaan Allah yang turun dahulu saat Salomo menahbiskan Bait Suci, awan itu melambangkan kehadiran Allah. Ia menutupi Bait Suci dengan awan, para imam tidak dapat masuk (2 Tawarikh 5:13, klik untuk membaca), dan TUHAN (Yahweh) juga menggunakan tiang awan untuk memimpin bangsa Israel di padang gurun (Keluaran 13:21-22, 14:19-20, klik untuk membaca). Awan kehadiran penyertaan Allah merupakan pengalaman yang positif bagi orang Israel, melambangkan Allah yang tidak meninggalkan atau mencampakkan mereka, ada awan serta api di jalan padang gurun siang dan malam, dan penyertaan Allah tidak pernah berubah. Namun, sekarang awan yang dulu merupakan penyertaan TUHAN (Yahweh) telah berubah menjadi awan hitam, dan awan ini juga menutupi Bait dan juga Sion, tetapi kali ini awan hitam itu adalah penutup murka, Allah yang sama, awan yang sama, tetapi membawa efek pembalikan, yang menunjukkan bahwa Allah yang melindungi bangsa Israel di masa lalu telah mengubah kehadiran-Nya dengan menggunakan awan hitam untuk menggambarkan kehadiran penghakiman-Nya.

Kata memusnahkan yang disebutkan di ayat 2 dan 3 (ayat 3 yang menjilat ke sekeliling, yang merupakan kata yang sering muncul di pasal 2 (Ratapan 2:2, 3, 5, 8, 16) memiliki makna memakan (menelan), kata yang mengingatkan orang tentang bagaimana ikan besar menelan Yunus. Lalu kata dilemparkan dalam ayat 1 adalah kata yang persis sama dengan yang Yunus katakan dalam kitab Yunus bahwa dia dilemparkan ke dalam jurang oleh TUHAN (Yunus 2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan …). Ratapan menggunakan kata-kata ini sehingga pembaca membuat asosiasi antar teks untuk memperjelas bahwa Sion saat ini seperti Yunus yang di dalam perut ikan dan dilemparkan ke jurang samudra yang dalam.

Ayat 3 menunjukkan bahwa murka TUHAN mematahkan segala tanduk Israel. Tanduk ini digunakan untuk melambangkan kekuatan dan berkat (Mazmur 18:2, 75:10; Ul. 33:17, klik unuk membaca), tetapi sekarang sepenuhnya dipatahkan oleh TUHAN. Dalam ayat 3, gambaran api digunakan untuk menunjukkan bahwa ini adalah api yang menelan (memusnahkan), dulunya adalah api menelan tanda perkenan korban persembahan (Imamat 24) dan tiang api yang melambangkan kehadiran TUHAN (Keluaran 13:22), namun api yang sama, api perkenan dan penyertaan, kini menjadi api memusnahkan dan murka. TUHAN tidak sama lagi kehadiran-Nya, dahulu melindungi orang Israel sekarang menelan memusnahkan orang Israel. Ketika kita memahami awan dan api bersama-sama, kita memahami bahwa tema yang diharapkan dalam ayat 1-3 adalah pembalikan dari kehadiran TUHAN, dan alasannya adalah TUHAN dalam murka.

Renungkan:
Api kudus yang sama membawa hasil yang berbeda, melambangkan dua aspek sifat Allah: perkenan dan penghakiman. Seringkali kita hanya mengharapkan perkenan Allah, tetapi tidak menerima penghakiman Allah, kita mengharapkan kasih Allah, tetapi tidak menyukai disiplin didikan Allah. Di permukaan, kedua aspek sifat ini tidak selaras, tetapi kedua aspek sifat ini adalah kekudusan Allah. Api suci yang sama harus memiliki perkenan dan penghakiman. Kita tidak dapat hanya memilih salah satunya. Sebagai umat perjanjian anugerah, kita harus menerima keduanya. Tidakkah kita tahu bahwa disiplin didikan adalah hak istimewa umat perjanjian?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 14:39-45

「Naik dan diturunkan」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 14:39-45 [ITB])
39 Setelah Musa menyampaikan perkataan ini kepada semua orang Israel, maka berkabunglah bangsa itu dengan sangat. 40 Dan keesokan harinya bangunlah mereka pagi-pagi hendak naik ke puncak gunung sambil berkata: Sekarang kita hendak maju ke negeri yang difirmankan TUHAN itu; memang kita telah berbuat dosa. 41 Tetapi kata Musa: Mengapakah kamu hendak melanggar titah TUHAN? Hal itu tidak akan berhasil. 42 Janganlah maju, sebab TUHAN tidak ada di tengah-tengahmu, supaya jangan kamu dikalahkan oleh musuhmu, 43 sebab orang Amalek dan orang Kanaan ada di sana di depanmu dan kamu akan tewas oleh pedang; dari sebab kamu berbalik membelakangi TUHAN, maka TUHAN tidak akan menyertai kamu. 44 Meskipun demikian, mereka nekat naik ke puncak gunung itu, tetapi tabut perjanjian TUHAN dan Musa juga tidaklah meninggalkan tempat perkemahan. 45 Lalu turunlah orang Amalek dan orang Kanaan yang mendiami pegunungan itu dan menyerang mereka; kemudian orang-orang itu mencerai-beraikan mereka sampai ke Horma.

Akhir kisah pengintaian ke tanah Kanaan adalah menyedihkan. Paragraf ini dapat dibagi menjadi tiga bagian kecil, dihubungkan oleh kata kerja naik (‘ālâ) (maju (ayat 40, 42); naik (ayat 40, 44)):

1) Bangsa itu menanggapi Musa, memutuskan untuk naik (ayat 39-40): mereka mendengar pernyataan hukuman dari TUHAN, kecuali Yosua dan Kaleb, semua orang tidak diizinkan memasuki tanah yang telah Ia janjikan melalui sumpah kepada mereka. Kemudian mereka merasa bahwa betapa serius situasinya, maka mereka memutuskan untuk Sekarang kita hendak maju (naik) ke negeri yang difirmankan TUHAN itu; memang kita telah berbuat dosa. Tetapi perkataan mereka sama seperti Firaun, ketika dipukul hukuman Sepuluh Tulah lalu berkata, Aku telah berbuat dosa terhadap TUHAN, Allahmu … (Kel. 10:16), tetapi tidak memiliki pertobatan yang tulus, sebaliknya mereka jatuh ke dalam dosa yang lebih dalam.

2) Musa memperingatkan bangsa itu untuk tidak naik (ayat 41-43): penekanan Musa ada tiga: (1) Mempertanyakan: mengapa bangsa itu hendak melanggar titah TUHAN. Kata kerja melanggar (‘ōbǝrîm) makna aslinya berarti melampaui, lalui / menyeberang, dan sering digunakan untuk merujuk menyeberangi sungai Yordan (juga perkataan Yosua dan Kaleb Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya), tetapi sekarang berubah menjadi melanggar titah TUHAN. Dan TUHAN telah mengatakan berpalinglah besok (ke arah selatan) dan berangkatlah ke padang gurun, ke arah Laut Teberau (Laut Merah) (ayat 25), tetapi mereka justru bersikeras untuk pergi ke arah yang berlawanan (ke arah utara) naik ke pegunungan. Gunung ini dapat merujuk ke Hebron di selatan Tanah Perjanjian. (2) Peringatan: bangsa itu akan dipukul kalah oleh musuh. Musuh lama (orang Amalek) pernah dikalahkan oleh orang Israel (Keluaran 17), tetapi kali ini mereka berkoalisi dengan musuh baru (orang Kanaan) akan berkemenangan mengalahkan Israel. (3) Alasan: Karena TUHAN tidak ada di antara mereka. Dalam Alkitab, kehadiran penyertaan Allah yang memungkinkan orang-orang yang percaya kepada-Nya dapat menang dalam perang. Tanpa penyertaan Tuhan, bangsa Israel pasti mengalami kekalahan.

3) Bangsa itu tidak mau mendengarkan nasihat itu, nekat naik tanpa izin (ayat 44-45): mereka naik ke puncak gunung, dan seperti dahulu Musa naik ke atas puncak gunung dan mengangkat tangan untuk berdoa, ketika itu Israel menang atas orang Amalek (Kel. 17). Tetapi telah kehilangan ketinggian rohani, apa gunanya hanya naik sampai ke puncak gunung? Akibatnya, bangsa itu dikalahkan oleh orang Amalek dan orang Kanaan di pegunungan. Turunlah (yārad) orang Amalek dan orang Kanaan menyerang dan mencerai-beraikan mereka sampai ke Horma (ḥormâ), yang berarti Kota kepunahan.

Renungkan:

Perjanjian Baru Ibrani 3:12, 14 merangkum kisah ini: Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup … Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 9:15-17

「Kemah Suci dan Awan」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 9:15-17 [ITB])
15 Pada hari didirikan Kemah Suci, maka awan itu menutupi Kemah Suci, kemah hukum Allah; dan pada waktu malam sampai pagi awan itu ada di atas Kemah Suci, kelihatan seperti api. 16 Demikianlah selalu terjadi: awan itu menutupi Kemah, dan pada waktu malam kelihatan seperti api. 17 Dan setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah.

Kitab Bilangan pasal 1 hingga 9 mencatat jumlah pasukan Israel, pengaturan urutan berkemah dan berbaris, mempersiapkan diri untuk pelayanan dan pemindahan Kemah Suci, merayakan Paskah, dan segera secara resmi berangkat menuju Tanah Perjanjian. Sebelum berangkat, Alkitab secara khusus mencatat dua hal yang memimpin umat Allah: awan dan nafiri perak.

Pertama-tama mencatat tampilnya awan (ayat 15-16): secara kronologi waktunya membawa pembaca kembali ke hari pertama bulan pertama tahun kedua Keluaran dari Mesir, hari didirikan Kemah Suci: awan itu menutupi Kemah Suci. Secara ruang dan tempat terdapat perbedaan, kemuliaan TUHAN memenuhi Tempat Maha Kudus, dan orang-orang biasa tidak dapat melihatnya dari luar, sedangkan awan yang menutupi Kemah Suci dapat dilihat dari jauh oleh umat awam, dan tidak hanya dapat terlihat pada saat hari terang, pada waktu malam sampai pagi awan itu ada di atas Kemah Suci, kelihatan seperti api (ayat 15). Ini adalah tanda nyata kehadiran TUHAN (Yahweh).

Kedua, berbicara tentang hubungan antara awan dan keberangkatan (ayat 17-23): Paragraf ini menggunakan prosa puitis, kata-kata dan frasa yang diulang untuk membuat catatan singkat dari Kel. 40:34-38, dan pengembangan sepenuhnya, dan menyimpulkan menjadi setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah (ayat 17). Sama seperti setelah Paskah pertama, orang Israel keluar dari Mesir, dipimpin oleh tiang-tiang dan awan api. Setelah Paskah kedua, awan di atas Kemah Suci menjadi sarana baru bagi TUHAN untuk membimbing umat Allah bergerak maju. Intinya bukan berapa lama awan akan naik, lalu orang Israel akan berjalan berapa lama. Tulisan Kitab Suci berfokus pada berapa lama awan setiap kali berhenti dan berada di satu tempat, dan berapa lama orang-orang Israel berhenti dan berkemah di sana (Kel. 40:34-38 jika awan itu tidak naik, maka merekapun tidak berangkat sampai hari awan itu naik. Sebab awan TUHAN itu ada di atas Kemah Suci pada siang hari, dan pada malam hari ada api di dalamnya, di depan mata seluruh umat Israel pada setiap tempat mereka berkemah).

Bagian terpenting dari paragraf ini adalah kesimpulannya: atas titah TUHAN – menaati titah TUHAN, frasa pendek ini muncul 7 kali dalam ayat 15-23 (ayat 18a [2 kali], 20b, 23a * 2 kali, 23b) , dan kata Kemah (miškān) juga muncul 7 kali (ayat 15 * 3 kali, 18, 19, 20, 22). Dua kata ini, masing-masing secara bersamaan muncul tujuh kali, tepat menunjukkan poin utama dari perikop ini: Kemah Suci mewakili kehadiran dan penyertaan Allah yang berjalan bersama, dan jika manusia hendak berjalan bersama Allah, ia harus menaati titah TUHAN.

Renungkan:

Perjanjian Baru juga menggunakan awan untuk melambangkan kehadiran Allah. Ketika transfigurasi Yesus di atas gunung, awan mengelilingi di sekitar (Lukas 9:34). Demikian juga, ketika Ia bangkit dari kematian, ada awan membawa Dia naik ke surga (Kisah Para Rasul 1:9). Di masa depan Dia akan datang dalam awan-awan dari langit, dan seluruh bumi akan menjadi Kerajaan milik Tuhan kita, Tuhan Yesus Kristus (Dan. 7:13; Why. 11:15).


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yeremia 42:7-22

「Jawaban Allah」
Oleh 曾錫華 (Céng Xī Huá)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yer. 42:7-22 [ITB])
7 Sesudah sepuluh hari datanglah firman TUHAN kepada Yeremia. 8 Lalu Yeremia memanggil Yohanan bin Kareah dan semua perwira tentara yang ada bersama-sama dengan dia, dan seluruh rakyat, dari yang kecil sampai kepada yang besar.
9 Berkatalah ia kepada mereka: Beginilah firman TUHAN, Allah Israel yang kepada-Nya kamu telah mengutus aku untuk menyampaikan permohonanmu ke hadapan-Nya: 10 Jika kamu tinggal tetap di negeri ini, maka Aku akan membangun dan tidak akan meruntuhkan kamu, akan membuat kamu tumbuh dan tidak akan mencabut kamu; sebab Aku menyesal telah mendatangkan malapetaka kepadamu. 11 Janganlah takut kepada raja Babel yang kamu takuti itu. Janganlah takut kepadanya, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku menyertai kamu untuk menyelamatkan kamu dan untuk melepaskan kamu dari tangannya. 12 Aku akan membuat kamu mendapat belas kasihan, sehingga ia merasa belas kasihan kepadamu dan membiarkan kamu tinggal di tanahmu.
13 Tetapi jika kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan mengatakan: Kami tidak mau tinggal di negeri ini!, 14 sebab pikirmu: Tidak! Kami mau pergi ke negeri Mesir, di mana kami tidak akan mengalami pertempuran, tidak akan mendengar bunyi sangkakala dan tidak akan menderita kelaparan; di sanalah kami akan tinggal!, 15 maka dengarkanlah sekarang firman Allah, hai sisa Yehuda: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Jika kamu sungguh-sungguh berniat hendak pergi ke Mesir, dan memang kamu pergi dan tinggal sebagai orang asing di sana, 16 maka pedang yang kamu takuti itu akan menimpa kamu di negeri Mesir, dan kelaparan yang kamu gentarkan itu tidak putus-putusnya mengejar-ngejar kamu di Mesir, sampai kamu mati di sana. 17 Semua orang, yang berniat hendak pergi ke Mesir untuk tinggal sebagai orang asing di sana, akan mati karena pedang, kelaparan dan penyakit sampar; seorang pun dari mereka tidak ada yang terlepas atau terluput dari malapetaka yang Kudatangkan atas mereka.
18 Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Seperti tercurahnya murka-Ku dan kehangatan amarah-Ku ke atas penduduk Yerusalem, demikianlah akan tercurah kehangatan amarah-Ku ke atas kamu, apabila kamu pergi ke Mesir. Kamu akan menjadi kutuk, kengerian, kutukan dan aib; kamu tidak akan melihat tempat ini lagi.
19 TUHAN telah berfirman kepadamu, hai sisa Yehuda: Janganlah pergi ke Mesir! Camkanlah sungguh-sungguh, bahwa aku memperingatkan kamu pada hari ini! 20 Kamu telah menipu dirimu dan membahayakan nyawamu, ketika kamu mengutus aku kepada TUHAN, Allahmu, dengan berkata: Berdoalah untuk kami kepada TUHAN, Allah kita, dan beritahukanlah dengan tepat kepada kami apa yang difirmankan TUHAN, Allah kita, supaya kami melakukannya!
21 Tetapi, sekalipun aku memberitahukannya kepadamu pada hari ini, kamu tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, yaitu tidak menuruti segala sesuatu yang disuruh-Nya kusampaikan kepadamu. 22 Oleh sebab itu, camkanlah sungguh-sungguh, bahwa kamu akan mati karena pedang, kelaparan dan penyakit sampar di tempat yang kamu rindukan untuk tinggal sebagai orang asing di sana.

Ayat-ayat hari ini, Yer. 42:7-22 mencatat kata-kata jawaban Allah kepada sisa orang Yehuda. Nabi Yeremia menunggu sepuluh hari untuk mendapatkan jawaban Allah. Dia segera memberi tahu rakyat itu, tetapi kehendak Allah dan harapan orang-orang itu sangat berbeda. Allah ingin mereka tinggal di Yehuda dan membangun kembali tanah air mereka, tetapi orang Israel berencana untuk melarikan diri ke Mesir. Nyata bahwa jika tinggal di Yehuda, mereka akan menghadapi penghakiman kerajaan Babel atas pembunuhan gubernur Yehuda dan tentara Babel. Sekarang sudah tidak ada Gedalya sang gubernur Yehuda yang membantu mereka bernegosiasi dengan orang Kasdim (Babel), mereka mungkin tidak diperlakukan secara adil dan mungkin dibunuh atau dijual sebagai budak. Ini semua adalah ketakutan yang bisa dipahami.

Meskipun Yeremia mengetahui pikiran orang-orang, ia masih dengan berani memberikan deklarasi, bahkan dengan ciri khas seorang nabi: demikianlah firman TUHAN (ayat 11). Kata-kata Allah memiliki otoritas mutlak, pernyataan-Nya adalah agar diterima dan ditaati manusia. Allah memahami kesulitan rakyat yang tersisa ini, dan Dia menunjukkan bahwa tujuan-Nya adalah untuk memberkati mereka, seperti yang mereka sendiri katakan dalam Yer. 42:6 … supaya keadaan kami baik, oleh karena kami mendengarkan suara TUHAN, Allah kita. (Yer. 42:6)

Yer. 42:10 Allah memberi tahu mereka Jika kamu tinggal tetap di negeri ini, maka Aku akan membangun dan tidak akan meruntuhkan kamu, akan membuat kamu tumbuh dan tidak akan mencabut kamu; sebab Aku menyesal telah mendatangkan malapetaka kepadamu. Kata-kata seperti membangun, meruntuhkan, tumbuh, dan mencabut adalah kata-kata yang digunakan oleh Allah ketika Ia memanggil Yeremia (lih. Yer. 1:10). Allah menunjukkan bahwa Ia akan menjaga mereka, memakai mereka, memilih serta memanggil mereka untuk melayani Dia! Ini adalah hal yang mengejutkan! Allah memilih serta memanggil mereka, sebagaimana Dia memilih serta memanggil Yeremia, dan Dia akan melindungi mereka serta menyertai mereka.

Yer. 42:11, Allah terus mendorong mereka, Janganlah takut kepada raja Babel yang kamu takuti itu. Janganlah takut kepadanya, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku menyertai kamu untuk menyelamatkan kamu dan untuk melepaskan kamu dari tangannya. Allah berjanji untuk menyertai dan menyelamatkan umat-Nya dari pendudukan raja Babel, Ia akan membuat raja Babel memberikan belas kasihan kepada mereka, karena Allah adalah Tuhan yang penuh belas kasihan, dan kerajaan Babel adalah pelayan Allah (lihat Yer. 25:9; 43:10), Aku akan membuat kamu mendapat belas kasihan, sehingga ia merasa belas kasihan kepadamu dan membiarkan kamu tinggal di tanahmu (42:12). Allah dapat menggunakan kerajaan Babel untuk menghakimi, dan Dia juga dapat memberkati sisa-sisa Israel melalui itu.

Nabi Yeremia tahu pikiran rakyat itu — yaitu melarikan diri ke Mesir, jadi dia mengingatkan mereka untuk tidak melanggar kehendak Allah. Karena Allah telah dengan jelas menyatakan kehendak-Nya, mereka harus taat, karena tanpa perlindungan Allah, di mana pun mereka melarikan diri, hasilnya akan sama.

Allah memiliki pengaturan yang berbeda untuk orang yang berbeda. Ada orang yang harus pergi ke Babel untuk menerima tempaan iman, untuk membangun kembali iman, dan untuk membangun basis untuk kebangkitan iman, beberapa harus tinggal di Tanah Perjanjian, membangun kembali tanah air mereka, dan menunggu waktu kebangkitan iman, tetapi Mesir bukanlah pilihan!

Terhadap sisa Yehuda yang melarikan diri ke Mesir, Yeremia menegur mereka dengan nada berat … Camkanlah sungguh-sungguh, aku memperingatkan kamu pada hari ini (ayat 19), karena ketika mereka meminta Yeremia untuk berdoa bagi mereka, telah berjanji bahwa tidak peduli bagaimana kehendak Allah, mereka akan menaati. Namun, mereka memilih untuk tidak tinggal di Yehuda dan melarikan diri ke Mesir, tidak hanya telah menipu Yeremia, tetapi juga telah berbohong kepada Allah! Oleh karena itu, penghakiman TUHAN akan datang, Oleh sebab itu, camkanlah sungguh-sungguh, bahwa kamu akan mati karena pedang, kelaparan dan penyakit sampar di tempat yang kamu rindukan untuk tinggal sebagai orang asing di sana (Yer. 42:22)

Karena dengan rendah hati mereka bertanya, Allah memberikan janji dan kesempatan besar kepada sisa-sisa kelompok kecil Yehuda ini. Di mata orang-orang, mereka hanyalah sekelompok pengungsi yang tidak punya tempat untuk pergi, tetapi dalam kehendak Allah, mereka dapat menjadi pemain penting dalam rencana keselamatan besar. Sangat disayangkan bahwa mereka tidak memegang erat janji Allah, tidak taat kehendak Allah, memutuskan untuk melarikan diri ke Mesir, dan kehilangan kesempatan menerima berkat, dan akhirnya mati di Mesir.

Renungkan:

Bagi orang Yehuda, kehendak Allah telah menjadi bahan referensi, jika sesuai keinginan maka didengarkan, jika tidak sesuai maka boleh tidak diikuti. Bagaimanakah itu bagi Anda?

Alasan terbesar untuk mematuhi kehendak Tuhan adalah untuk mendapat penyertaan Tuhan, menolak kehendak Tuhan adalah mencari kepahitan bagi diri sendiri, apakah Anda setuju?


Renungan pemahaman kitab Yeremia (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yeremia 40-52 ditulis oleh 曾錫華 (Céng Xī Huá) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Kejadian 26:1-5

「Krisis dan titik perubahan」

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kej. 26:1-5 [ITB])
1 Maka timbullah kelaparan di negeri itu. Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin.
2 Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3 Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. 4 Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, 5 karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.

Ishak adalah salah satu dari tiga nenek moyang Israel, dengan status yang tinggi, tetapi dia tampaknya hidup di bawah bayang-bayang besar seorang ayah yang terkenal dan anak yang cemerlang. Hanya Kejadian pasal 26 khusus mencatat Ishak. Ada beberapa hal yang berharga direnungkan dalam paragraf ini:

(1) Kelaparan di tanah perjanjian. Di masa Abraham dahulu, pernah terjadi kelaparan di daerah itu, dan dia membuat keputusan diri sendiri untuk pergi ke Mesir. Sekarang Ishak menderita kelaparan, dan tindakannya sama seperti ayahnya, dan dia ingin pergi ke Mesir untuk mencari perlindungan. Tampaknya tidak mudah bagi orang untuk belajar dari kegagalan orang lain. Gerar adalah negeri orang Filistin, di perbatasan antara Tanah Perjanjian dan Mesir. Abimelekh (‘ăbîmelek, arti aslinya adalah ayahku adalah raja) adalah gelar raja, mirip dengan Firaun Mesir.

(2) TUHAN (Yahweh) menampakkan diri memberkati. Allah tidak berhenti bertindak karena kebodohan manusia, sebaliknya, Dia menampakkan diri kepada nenek moyang ketika mereka paling lemah dan menggunakan kata-kata perjanjian untuk memperkuat iman mereka.

TUHAN pertama-tama mencegah Ishak pergi ke Mesir dan berjanji Aku akan menyertai engkau. Meskipun sebelumnya tercatat dalam Alkitab bahwa Allah menyertai Ismael (Kejadian 21:20 Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah), dan ada orang asing yang mengatakan Abraham memiliki penyertaan Allah (Kejadian 21:22 Pada waktu itu Abimelekh, beserta Pikhol, panglima tentaranya, berkata kepada Abraham: Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan』」), tetapi ini adalah pertama kalinya Allah berfirman langsung kepada seseorang Aku akan menyertai engkau. Penyertaan Allah adalah kunci berkat para leluhur, yang akan diterapkan pada Yakub dan Yusuf (Kej. 28:15, 39:2). TUHAN mengambil inisiatif untuk memperbarui perjanjian dengan Ishak, dan memberikan semua berkat yang Dia janjikan kepada Abraham dalam perjanjian itu kepada Ishak. Termasuk mendapatkan tanah (dari negeri ini menjadi seluruh negeri ini, ayat 4, 5), keturunan (dari putra tunggal Abraham bertambah banyak menjadi seperti bintang di langit, ayat 4), dan semua bangsa-bangsa akan diberkati oleh keturunannya (mengulangi janji asli kepada Abraham, ayat 4, Kej. 12:3).

(3) Syarat diberkati: mematuhi firman Allah. Dahulu Abraham mempersembahkan Ishak, TUHAN (Yahweh) memberkatinya dan berkata kepadanya: Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku (Kej. 22:18), sekarang lebih ditekankan: karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku(ayat 5). Abraham menjadi teladan bagi semua orang yang mematuhi perintah Allah dan yang diberkati di generasi berikutnya.

Renungkan:
Bahkan ketika orang-orang dalam keadaan paling lemah, Allah masih bersedia untuk menampakkan diri kepada mereka dan memberkati mereka. Penyertaan Allah adalah kunci berkat, dan mematuhi perintah Allah adalah syarat penyertaan Allah.


Renungan pemahaman Kitab Kejadian 12-26

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 12-26 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) dipublikasi pada bulan Maret 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.