「Tali Sipat sebagai Tolok Ukur」
Oleh 張美薇 (Zhāng Měi Wēi)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Amos 7:7-9 [ITB])
7 Inilah yang diperlihatkan-Nya kepadaku: Tampak Tuhan berdiri dekat sebuah tembok yang tegak lurus, dan di tangan-Nya ada tali sipat. 8 Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: 「Apakah yang kaulihat, Amos?」 Jawabku: 「Tali sipat!」 Berfirmanlah Tuhan: 「Sesungguhnya, Aku akan menaruh tali sipat di tengah-tengah umat-Ku Israel; Aku tidak akan memaafkannya lagi. 9 Bukit-bukit pengorbanan dari pada Ishak akan dilicintandaskan dan tempat-tempat kudus Israel akan diruntuhkan, dan Aku akan bangkit melawan keluarga Yerobeam dengan pedang.」

Allah sekali lagi mengungkapkan sebuah penglihatan kepada nabi Amos, ia melihat Allah memegang sebuah tali sipat yang biasa — sebuah tali yang diikat dengan bandul logam pemberat logam, yang digunakan oleh pekerja konstruksi sebagai patokan tolok ukur untuk memeriksa apakah sebuah bangunan berdiri secara tegak vertikal tidak miring. Allah berdiri di dekat tembok, memegang tali sipat, makna yang sangat jelas bahwa Allah mengukur umat-Nya, apakah mereka hidup mengikuti standar patokan dari Allah. Penglihatan ini mengalihkan fokus sebelumnya pada kenyataan penghakiman yang dilambangkan dalam penglihatan belalang dan api, kini berpindah kepada dasar penghakiman, dasar itu adalah menilai apakah tembok itu dibangun sesuai dengan standar, atau apakah tembok yang selesai dibangun itu dalam perjalanan waktu berubah miring atau rusak.
Dalam penglihatan ini, Allah yang proaktif bertanya kepada Amos apa yang dilihat dia? Amos dengan sangat sederhana dan langsung menjawab 「tali sipat」, ia dengan jelas memahami arti dari penglihatan ini, ia juga tahu apa yang menjadi makna utama dari penglihatan ini, dia melihat 「tali sipat」 — yang mewakili standar Allah — itu sudah cukup. Dia tidak menggambarkan dinding yang dilihatnya — mewakili keadaan umat Allah Israel — karena maknanya sudah sangat jelas, tali sipat diletakkan di dinding maka semuanya tampak terlihat jelas di depan mata, jadi tidak perlu banyak penjelasan lagi.
Allah secara proaktif mengumumkan lagi bahwa penghakiman-Nya akan datang, Allah menggantungkan tali sipat di antara Israel untuk mengukur mereka, ternyata hasilnya terlalu jauh dari standar. Allah tidak menunggu nabi Amos meminta pengampunan atau meminta-Nya berhenti seperti yang ia lakukan dua kali sebelumnya, Dia langsung mengumumkan 「 Aku tidak akan memaafkannya lagi. 」 Dua kali sebelumnya permohonan kepada Allah, dan Allah menghindarkan dari bencana belalang dan api, tetapi kali ini nabi Amos tidak bertindak seperti leluhur Yakub ketika bergulat dengan Allah di tempat penyeberangan sungai Yabok, yang mati-matian tidak mau menyerah jika tidak mendapatkan berkah dari Allah (Kej. 32:22-29), juga tidak seperti leluhur Abraham yang berdoa syafaat menjadi pengantara bagi orang benar yang ada di Sodom, dari jika ada 「lima puluh orang benar」 dapat diampuni, dan berulang kali dikurangi menjadi empat puluh lima, empat puluh, tiga puluh, dua puluh, dan akhirnya sepuluh, total sudah menawar enam kali (Kej. 18:22-33). Kali ini, Amos hanya memohon dua kali dan berhenti. Apakah karena Allah sudah terlebih dahulu menyatakan penghakiman-Nya tidak akan mengampuni Israel lagi sebelum dia sempat membuka mulut?
Dalam penglihatan ini Allah kepada Amos mengungkapkan penghakiman-Nya atas agama dan politik Israel, terdapat dua yang dihancurkan: bukit-bukit pengorbanan Ishak dan keluarga Yerobeam. Ishak adalah nenek moyang orang Israel, ia membangun mezbah di Bersyeba (Kej. 26:23-25), Bersyeba berada di selatan Yehuda, tetapi orang Israel masih senang beribadah di altar di tempat ini, di bawah penghakiman Allah, tidak peduli altar Ishak atau tempat-tempat kudus Israel akhirnya akan sama – dilicintandaskan dan diruntuhkan hancur. Kedua yang menerima penghakiman adalah keluarga kerajaan — keluarga Yerobeam, Allah mengumumkan bahwa Ia akan menggunakan pedang untuk menyerang keluarga Yerobeam, Allah menggunakan Salum yang hanya duduk di takhta menjadi raja satu bulan, Salum berkhianat setelah Zakharia putra Yerobeam enam bulan naik takhta menjadi raja, ia membunuh Zakharia di depan orang banyak, memenuhi nubuat di sini (2 Raj. 15:10).
Renungkan:
Mengapa Amos tidak memohon lagi kepada Allah? Kita tidak tahu. Jika dia terus memohon, akankah Allah mengampuni? Kita tidak tahu. Apa persamaan dan perbedaan antara permohonan Amos dan Abraham? Dan bagaimanakah kita menaikkan doa permohonan bagi dunia saat ini? Adakah berdoa memohon bagi negara kita hari ini? berdoa bagi gereja hari ini? Berdoa memohon bagi diri kita hari ini? Mohon supaya hati kasih Abraham terhadap orang berdosa diberikan Allah kepada kita.
Nabi Amos melihat tali sipat tegak lurus, dia melihat standar Tuhan, tetapi penglihatan dia tidak menyebutkan bagaimana penampilan tembok dalam penglihatan itu. Allah bangkit, Ia dalam murka yang sudah pasti, dan Ia bangkit untuk menghukum oleh diri-Nya sendiri, jelas bahwa Israel terlalu jauh dari standar Allah. Seberapa jauh dunia saat ini dari standar Allah? Seberapa jauh gereja Allah dari standar Allah? Berdoa mohonlah supaya Allah menghentikan murkanya.
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Renungan pemahaman Kitab Amos
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amos ditulis oleh 張美薇 (Zhāng Měi Wēi) yang dipublikasi pada bulan April 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.