Tag Archives: Korban bakaran

Hakim-hakim 20:1-48

「Siapakah yang harus lebih dahulu maju? Dulu dan sekarang」

Oleh Dr. Wong Tin-yat
Alliance Bible Seminary H.K.

(Hak. 20:1-48 [ITB])
1 Lalu majulah semua orang Israel; dari Dan sampai Bersyeba dan juga dari tanah Gilead berkumpullah umat itu secara serentak menghadap TUHAN di Mizpa. 2 Maka berdirilah para pemuka dari seluruh bangsa itu, dari segala suku orang Israel, memimpin jemaah umat Allah yang jumlahnya empat ratus ribu orang berjalan kaki, yang bersenjatakan pedang. 3 Kedengaranlah kepada bani Benyamin, bahwa orang Israel telah maju ke Mizpa. Berkatalah orang Israel: Ceritakan bagaimana kejahatan itu terjadi. 4 Lalu orang Lewi, suami perempuan yang terbunuh itu, menjawab: Aku sampai dengan gundikku di Gibea kepunyaan suku Benyamin untuk bermalam di sana. 5 Lalu warga-warga kota Gibea itu mendatangi aku dan mengepung rumah itu pada malam hari untuk menyerang aku. Mereka bermaksud membunuh aku, tetapi gundikku diperkosa mereka, sehingga mati. 6 Maka kuambillah mayat gundikku, kupotong-potong dia dan kukirimkan ke seluruh daerah milik pusaka orang Israel, sebab orang-orang itu telah berbuat mesum dan berbuat noda di antara orang Israel. 7 Sekarang kamu sekalian, orang Israel, telah ada di sini. Berikanlah di sini pertimbanganmu dan nasihatmu.
8 Kemudian bangunlah seluruh bangsa itu dengan serentak, sambil berkata: Seorangpun dari pada kita takkan pergi ke kemahnya, seorangpun dari pada kita takkan pulang ke rumahnya. 9 Inilah yang akan kita lakukan kepada Gibea; memeranginya, dengan membuang undi! 10 Kita akan memilih dari seluruh suku Israel sepuluh orang dari tiap-tiap seratus, seratus orang dari tiap-tiap seribu, seribu orang dari tiap-tiap sepuluh ribu, untuk mengambil bekal bagi laskar ini, supaya sesudah mereka datang, dilakukan kepada Gibea-Benyamin setimpal dengan segala perbuatan noda yang telah diperbuat mereka di antara orang Israel. 11 Demikianlah orang Israel berkumpul melawan kota itu, semuanya bersekutu dengan serentak.
12 Kemudian suku-suku Israel mengirim orang kepada seluruh suku Benyamin dengan pesan: Apa macam kejahatan yang terjadi di antara kamu itu! 13 Maka sekarang, serahkanlah orang-orang itu, yakni orang-orang dursila yang di Gibea itu, supaya kami menghukum mati mereka dan dengan demikian menghapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.
Tetapi bani Benyamin tidak mau mendengarkan perkataan saudara-saudaranya, orang Israel itu. 14 Sebaliknya, bani Benyamin dari kota-kota lain berkumpul di Gibea untuk maju berperang melawan orang Israel. 15 Pada hari itu dihitunglah jumlah bani Benyamin dari kota-kota lain itu: dua puluh enam ribu orang yang bersenjatakan pedang, belum termasuk penduduk Gibea, yang terhitung tujuh ratus orang pilihan banyaknya. 16 Dari segala laskar ini ada tujuh ratus orang pilihan yang kidal, dan setiap orang dari mereka dapat mengumban dengan tidak pernah meleset sampai sehelai rambutpun. 17 Juga orang-orang Israel dihitung jumlahnya; dengan tidak termasuk suku Benyamin ada empat ratus ribu orang yang bersenjatakan pedang; semuanya itu prajurit.
18 Lalu orang Israel berangkat dan maju ke Betel. Di sana mereka bertanya kepada Allah: Siapakah dari kami yang lebih dahulu maju berperang melawan bani Benyamin? Jawab TUHAN: Suku Yehudalah lebih dahulu. 19 Lalu orang-orang Israel bangun pagi-pagi dan berkemah mengepung Gibea. 20 Kemudian majulah orang-orang Israel berperang melawan suku Benyamin; orang-orang Israel mengatur barisan perangnya melawan mereka dekat Gibea. 21 Juga bani Benyamin maju menyerang dari Gibea dan menggugurkan ke bumi dua puluh dua ribu orang dari antara orang Israel pada hari itu. 22 Tetapi laskar orang Israel mengumpulkan segenap kekuatannya, lalu mengatur pula barisan perangnya di tempat mereka mengatur barisannya semula.
23 Kemudian pergilah orang-orang Israel, lalu menangis di hadapan TUHAN sampai petang, sesudah itu mereka bertanya kepada TUHAN: Akan pergi pulakah kami berperang melawan bani Benyamin, saudara kami itu? Jawab TUHAN: Majulah melawan mereka. 24 Tetapi ketika orang-orang Israel pada hari kedua sampai di dekat bani Benyamin, 25 maka pada hari kedua itu majulah suku Benyamin dari Gibea menyerbu mereka, dan digugurkannya pula ke bumi delapan belas ribu orang di antara orang-orang Israel; semuanya orang-orang yang bersenjatakan pedang.
26 Kemudian pergilah semua orang Israel, yakni seluruh bangsa itu, lalu sampai di Betel; di sana mereka tinggal menangis di hadapan TUHAN, berpuasa sampai senja pada hari itu dan mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN. 27 Dan orang-orang Israel bertanya kepada TUHAN, pada waktu itu ada di sana tabut perjanjian Allah, 28 dan Pinehas bin Eleazar bin Harun menjadi imam Allah pada waktu itu, kata mereka: Haruskah kami maju sekali lagi untuk berperang melawan bani Benyamin, saudara kami itu, atau haruskah kami hentikan itu? Jawab TUHAN: Majulah, sebab besok Aku akan menyerahkan mereka ke dalam tanganmu. 29 Lalu orang Israel menempatkan penghadang-penghadang sekeliling Gibea. 30 Pada hari ketiga majulah orang-orang Israel melawan bani Benyamin dan mengatur barisannya melawan Gibea seperti yang sudah-sudah. 31 Maka majulah bani Benyamin menyerbu laskar itu; mereka terpancing dari kota, dan seperti yang sudah-sudah, mereka mulai menyerang laskar itu pada kedua jalan raya, yang satu menuju ke Betel, dan yang lain ke Gibea melalui padang, sehingga terbunuh beberapa orang, kira-kira tiga puluh orang di antara orang Israel. 32 Maka kata bani Benyamin: Orang-orang itu telah terpukul kalah oleh kita seperti semula.
Tetapi orang-orang Israel telah bermupakat lebih dahulu: Marilah kita lari dan memancing mereka dari kota ke jalan-jalan raya. 33 Jadi orang Israel bangun dari tempatnya dan mengatur barisannya di Baal-Tamar, sedang orang Israel yang menghadang itu tiba-tiba keluar dari tempatnya, yakni tempat terbuka dekat Geba, 34 dan sampai di depan Gibea, sebanyak sepuluh ribu orang pilihan dari seluruh Israel. Pertempuran itu dahsyat, tetapi bani Benyamin tidak tahu bahwa malapetaka datang menimpa mereka. 35 TUHAN membuat suku Benyamin terpukul kalah oleh orang Israel, dan pada hari itu orang-orang Israel memusnahkan dari antara suku Benyamin dua puluh lima ribu seratus orang, semuanya orang-orang yang bersenjatakan pedang.
36 Bani Benyamin melihat, bahwa mereka telah terpukul kalah. Sementara orang-orang Israel agak mundur di depan suku Benyamin–sebab mereka mempercayai penghadang-penghadang yang ditempatkan mereka untuk menyerang Gibea– 37 maka segeralah penghadang-penghadang itu menyerbu Gibea. Mereka bergerak maju dan memukul seluruh kota itu dengan mata pedang. 38 Tetapi orang-orang Israel telah bermupakat dengan penghadang-penghadang itu untuk menaikkan gumpalan asap tebal dari kota itu. 39 Ketika orang-orang Israel mundur dalam pertempuran itu, maka suku Benyamin mulai menyerang orang Israel, sehingga terbunuh kira-kira tiga puluh orang, karena pikir mereka: Tentulah orang-orang itu terpukul kalah sama sekali oleh kita seperti dalam pertempuran yang dahulu.
40 Tetapi pada waktu itu mulailah gumpalan asap naik dari kota itu seperti tiang asap. Suku Benyamin menoleh ke belakang dan tampaklah kota itu seluruhnya terbakar, apinya naik ke langit. 41 Lagipula orang-orang Israel maju lagi. Maka gemetarlah orang-orang Benyamin itu, sebab mereka melihat, bahwa malapetaka datang menimpa mereka. 42 Jadi larilah mereka dari depan orang-orang Israel itu, ke arah padang gurun, tetapi pertempuran itu tidak dapat dihindari mereka, lalu orang-orang dari kota-kota menghabisi mereka di tengah-tengahnya. 43 Mereka mengepung suku Benyamin itu, mengejarnya dengan tak henti-hentinya dan melandanya sampai di depan Gibea, di sebelah timur.
44 Dari bani Benyamin ada tewas delapan belas ribu orang, semuanya orang-orang gagah perkasa. 45 Yang lain berpaling lari ke padang gurun, ke bukit batu Rimon. Tetapi di jalan-jalan raya masih diadakan penyabitan susulan di antara mereka: lima ribu orang; mereka diburu sampai ke Gideom dan dipukul mati dua ribu orang dari mereka. 46 Maka yang tewas dari suku Benyamin pada hari itu seluruhnya berjumlah dua puluh lima ribu orang yang bersenjatakan pedang, semuanya orang-orang gagah perkasa. 47 Tetapi enam ratus orang berpaling lari ke padang gurun, ke bukit batu Rimon, dan tinggal empat bulan lamanya di bukit batu itu. 48 Tetapi orang-orang Israel kembali kepada bani Benyamin dan memukul mereka dengan mata pedang, baik manusia baik hewan dan segala sesuatu yang terdapat di sana. Juga segala kota yang terdapat di sana mereka musnahkan dengan api.

Paragraf panjang ini terutama mencatat pertempuran antara suku-suku Israel dengan suku Benyamin.

Seperti yang dinyatakan di akhir pasal 19, setelah mengalami apa yang terjadi pada orang Lewi dan gundiknya, … Perhatikanlah itu, pertimbangkanlah, lalu berbicaralah! (ayat 30) (Terjemahan TCV Mandarin atau BIMK … Kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus berunding untuk bertindak!). Faktanya, kisah tentang orang Lewi telah menyebar ke seluruh Israel, dan karena belum pernah ada yang seperti ini sejak Keluaran dari Mesir hingga sekarang, tampaknya saat ini krisis sudah sampai taraf disentuh sedikit saja akan meledak.

Catatan penulis Alkitab cukup menarik; bermula di pasal 1 dicatat bahwa orang Israel bertanya kepada Allah: Siapakah dari pada kami yang harus lebih dahulu maju menghadapi orang Kanaan untuk berperang melawan mereka? Menjelang akhir 《Kitab Hakim-hakim》, karena masalah orang Lewi, orang Israel berkumpul untuk bertanya kepada Allah: Siapakah dari kami yang lebih dahulu maju berperang melawan bani Benyamin? (ayat 18). Catatan ini membuat kita sangat merasakan suatu kesedihan, orang Israel — di masa lalu bersatu sebagai satu melawan musuh, dan sampai di hari ini saling membunuh. Umat pilihan seperti apa mereka? Ayat 1 dan 8, orang-orang Israel berkumpul menjadi seperti satu orang / gathered together as one man (KJV, CUV Mandarin. Sedangkan ITB menerjemahkan sebagai berkumpullah secara serentak) , tetapi tujuan mereka sedemikian bersatu bukanlah untuk bersama-sama menyembah Allah, atau untuk berperang melawan musuh asing, tetapi untuk mempersiapkan perang menghadapi apa yang terjadi di Gibea! Bahkan, menjelang tahap akhir 《Kitab Hakim-hakim》, menunjukkan kepada kita bahwa ibadah tidak lagi menjadi pusat kehidupan Israel. Dari masalah orang Lewi, dan dari perbuatan jahat kelompok orang-orang dursila (pasal 19), pada akhirnya yang terjadi bukan lagi perang suci seperti yang dilakukan di masa lalu, tetapi adalah saling membunuh diri sendiri dalam umat itu. Ini sungguh adalah generasiberbuat apa yang dikehendaki diri sendiri! Daniel Block menunjukkan:Dari teks berikutnya, peran orang Lewi yang tidak dikenal namanya ini jelas penting; meskipun dia dari pegunungan Efraim, ia ternyata mampu menyelesaikan hal yang gagal dilakukan oleh para hakim. Bahkan Debora dan Barak tidak dapat memobilisasi sumber daya militer negara dengan cara ini, apalagi membangkitkan persatuan Israel yang saling mendukung.Tetapi apa yang menyedihkan? Orang-orang Israel sedemikian bersatu bagaikan satu orang, tetapi mereka bukan untuk mengalahkan musuh asing!

Ketika orang Israel di ayat 18 bertanya: Siapakah dari kami yang lebih dahulu maju berperang …, apa bedanya dengan pasal 1 Siapakah dari pada kami yang harus lebih dahulu maju? Di sini, sebelum orang-orang Israel bertanya kepada Allah, mereka telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk perang; beberapa peneliti Alkitab menunjukkan bahwa di sini dapat dilihat bahwa orang Israel benar-benar telah pasti akan rencana mereka, dan mereka menganggap Allah sebagai salah satu dari berhala-berhala, dan tanggung jawab-Nya hanya menegaskan segala sesuatu yang hendak dilakukan oleh orang Israel. Kalimat jawaban Allah: Suku Yehudalah lebih dahulu (ayat 18) menggemakan jawaban-Nya kepada orang Israel di ayat 1:2, hanya saja, orang Israel hari ini sudah sama sekali berbeda dengan di masa lalu.

Pada awal perang, Israel mengalami serangkaian kesulitan. Sampai ayat 23 mencatat, mereka menangis atas kekalahan perang, sehingga mereka bertanya kepada Allah lagi: Akan pergi pulakah kami berperang melawan bani Benyamin, saudara kami itu? Jelas bahwa mereka belajar, mereka tidak lagi bertanya dengan sikap memberi perintah seperti sebelumnya, tetapi dengan rendah hati menunggu kehendak Allah. Hanya saja, hasil pertempuran, Israel tetap dikalahkan oleh Benyamin.

Ayat 26 mencatat: pergilah semua orang Israel, yakni seluruh bangsa itu, lalu sampai di Betel; di sana mereka tinggal menangis di hadapan TUHAN … Apa ironisnya? Saat yang pertama (ayat 18) dan kedua (ayat 23), tidak ada hadirnya seluruh bangsa itu. Ketiga kalinya kita melihat seluruh bangsa itu berkumpul, dan mereka menangis di hadapan TUHAN, disertai puasa danmempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN ── korban bakaran dipersembahkan untuk penebusan, dankorban keselamatanadalah untuk memulihkan hubungan perjanjian dengan Allah. Di sini kita melihat perubahan penting ── umat Israel akhirnya menegaskan kembali bahwa Allah adalah Tuhan atas komunitas mereka! Jadi, di ayat 28 mereka bertanya: Haruskah kami maju sekali lagi untuk berperang melawan bani Benyamin, saudara kami itu, atau haruskah kami hentikan itu? Ungkapan haruskah kami hentikan itu mengingatkan kita: umat Israel akhirnya mau mengesampingkan ide-ide kehendak diri sendiri dan menyerahkan kembali kepemimpinan kepada Allah (sebelumnya dituliskan berulang … pada zaman itu, ketika tidak ada raja di Israel …), hasil pertempuran ini berbeda, dan orang Benyamin dikalahkan.

Renungkan:
Berharga untuk kita renungkan adalah: bersatu hati berarti menaati ajaran dan kepemimpinan Allah? Ataukah, bersatu hati kita hanya diletakkan pada kelompok, atau bahkan preferensi keinginan pribadi? Kita berdoa bertanya apakah tujuannya adalah untuk mematuhi perintah Allah? Ataukah kita sebenarnya tidak peduli dengan kehendak Allah di balik doa bertanya kita itu? Apa petunjuk yang kita dapatkan dari pertempuran di bagian akhir 《Kitab Hakim-hakim》?


Renungan pemahaman Kitab Hakim-hakim

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Hakim-hakim ditulis oleh Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) dipublikasi pada bulan April 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Bilangan 15:1-4

「Mendapatkan tanah dan memberikan persembahan」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 15:1-4 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa: 2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu menjadi tempat kediamanmu, 3 dan kamu hendak mempersembahkan korban api-apian bagi TUHAN, dari lembu sapi atau kambing domba, baik korban bakaran atau korban sembelihan, baik untuk membayar suatu nazar khusus, atau sebagai persembahan sukarela atau pada waktu perayaan-perayaanmu, dan dengan demikian menyediakan bau yang menyenangkan bagi TUHAN, 4 maka orang yang mempersembahkan persembahannya itu kepada TUHAN, haruslah mempersembahkan sebagai korban sajian sepersepuluh efa tepung yang terbaik, diolah dengan seperempat hin minyak.

Bagian akhir pasal sebelumnya menyimpulkan bahwa Israel dikalahkan di Horma karena ketidaktaatan mereka kepada Allah. Tetapi Bilangan 15 terdapat perubahan nada, berbicara tentang perbuatan yang sepatutnya dimiliki orang Israel setelah memasuki Tanah Perjanjian. Ayat 1-31 seperti versi ringkas dari kitab Imamat pasal satu sampai lima, dan mengasumsikan bahwa pembaca zaman itu sudah terbiasa dengan ketentuan-ketentuan itu, dan di sini hanya merupakan tambahan saja. Dapat dibagi menjadi tiga bagian:

1) Persembahan lembu sapi atau kambing domba untuk korban bakaran atau korban sembelihan (ayat 1-16): ada tiga catatan khusus: (1) kata iššeh dari bahasa asli Ibrani biasa diterjemahkan sebagai korban api-apian adalah karena mirip dengan kata ēš (api). Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, para sarjana berpikir bahwa kata ini kemungkinan terkait dengan bahasa Ugarit, yang berarti persembahan. (2) Baik korban bakaran atau korban sembelihan, harus dipersembahkan bersama dengan minyak, tepung dan anggur sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN (ayat 10, 13, 14). (3) Persyaratannya sama bagi orang Israel asli atau seorang asing yang menumpang tinggal. Kata orang Israel asli (penduduk lokal asli) mengacu pada orang Israel yang kemudian lahir di Tanah Perjanjian, sedangkan orang asing yang menumpang tinggal merujuk pada orang asing yang tinggal di antara mereka dan mengakui iman Israel.

2) Persembahan biji-bijian untuk korban sajian (ayat 17-21): jelai yang mula-mula (panen pertama) hendaknya dipersembahkan kepada TUHAN sebagai persembahan unjukan, yang juga merupakan pendapatan sah bagi para imam dan orang Lewi. Peraturan-peraturan ini secara tidak langsung menjamin bahwa orang Israel pasti akan mendapatkan tanah yang dijanjikan dan memulai pertanian dan kehidupan penggembalaan. Ini adalah pengorbanan sukarela, yaitu persembahan yang diberikan orang ketika menyembah Tuhan, menunjukkan hubungan yang baik dengan Tuhan. Namun, ketentuan berikut adalah korban persembahan keharusan untuk memperbaiki hubungan yang hancur dengan Allah, yang juga merupakan pintu kasih karunia yang dibuka oleh Allah bagi orang berdosa.

3) Ketentuan korban penghapus dosa (ayat 22-31): pelanggaran tidak sengaja (bišgāgâ) berarti kesalahan yang tidak disengaja dan melalaikan salah satu dari segala perintah yang telah difirmankan TUHAN. Jika dosa merupakan kesalahan seluruh umat maka hendaknya imam atas nama segenap umat itu mempersembahkan korban penghapus dosa, segenap jemaat Israel dan para orang asing yang tinggal di antara mereka akan diampuni. Jika merupakan dosa pribadi, imam membantu pribadi tersebut mempersembahkan korban penghapus dosa, sama untuk orang Israel juga untuk orang asing yang menumpang tinggal. Tetapi jika kejahatan dilakukan dengan sengaja, maka harus menerima hukuman, ini adalah kejahatan yang disengaja, bahasa aslinya adalah bertindak dengan kesombongan (ta‘ăśeh bǝyad rāmâ), dan tidak ada korban penghapus dosa yang ditawarkan kepada mereka, sama untuk orang Israel maupun untuk orang asing yang menumpang tinggal.

Renungkan:

Orang Israel yang tidak percaya tidak diizinkan memasuki tanah Kanaan, tetapi anak-anakmu yang telah kamu katakan: Mereka akan menjadi tawanan, merekalah yang akan Kubawa masuk, supaya mereka mengenal negeri yang telah kamu hinakan itu, yang oleh mulut mereka dikatakan akan ditelan justru akan masuk untuk mewarisi Tanah itu (Bil. 14:30-31). Ketentuan hukum Taurat ini menyatakan bahwa janji-janji Allah tidak akan ditarik, tetapi diberikan kepada mereka yang layak.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 6:13-16

「Persembahkan dan Mempertahankan」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 6:13-16 [ITB])
13 Dan inilah hukum tentang seorang nazir. Apabila waktu kenazirannya genap, ia harus dibawa ke pintu Kemah Pertemuan, 14 dan ia harus mempersembahkan sebagai persembahannya kepada TUHAN seekor domba jantan berumur setahun yang tidak bercela untuk korban bakaran dan seekor domba betina berumur setahun yang tidak bercela untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan yang tidak bercela untuk korban keselamatan, 15 juga sebakul roti yang tidak beragi, yakni roti bundar dari tepung yang terbaik, yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi diolesi dengan minyak, serta dengan korban sajian dan korban-korban curahannya. 16 Lalu haruslah imam membawa semuanya itu ke hadapan TUHAN dan mengolah korban penghapus dosa dan korban bakarannya

Alkitab mencatat sejumlah orang nazir. Beberapa dari mereka adalah karena panggilan Allah (seperti Yohanes Pembaptis, Lukas 1:15, 7:33), atau dipersembahkan oleh orang tua mereka (seperti Simson dan Samuel, Hakim-hakim 13:5; 1 Sam. 1:11, 28). Tetapi yang paling penting adalah bahwa ia dengan sukarela mempersembahkan dirinya, seperti Yusuf putra Yakub, yang disebut orang yang teristimewa (nǝzîr) di antara saudara-saudaranya (Kej. 49:26) memiliki akar kata yang sama dengan orang nazir (nezer). Nabi Yeremia mengundang orang-orang Rekhab untuk datang dan menyiapkan anggur untuk mereka, tetapi mereka menolak untuk minum, dan berkata, Kami tidak minum anggur, sebab Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur kami, telah memberi perintah kepada kami, katanya: Janganlah kamu atau anak-anakmupun minum anggur sampai selama-lamanya(Yer. 35:6).

Namun, tidak semua orang nazir bisa mempertahankan nazar ini. Seperti Samson, ia melanggar setiap persyaratan orang nazir. Bahkan ada orang dengan sengaja memaksa orang-orang nazir untuk minum, meminta mereka untuk melanggar janji mereka (Amos 2:12).

Tidak ada catatan dalam Alkitab bahwa wanita menjadi orang nazir. Tetapi jika mereka membuat nazar ini, mereka harus sama dengan orang nazir laki-laki. Malaikat TUHAN memberi tahu ibu Simson dilarang minum, menyiratkan bahwa ia telah membuat nazar orang nazir untuk sementara waktu (Hakim-hakim 13:4-5).

Nazar menjadi orang nazir mungkin untuk satu batas waktu atau menjadi orang nazir seumur hidup (seperti Simson dan Samuel). Setelah masa nazar orang nazir berakhir, dapat kembali ke kehidupan normal melalui prosedur tertentu, termasuk minum, bercukur, dll. Seperti Rasul Paulus dari Perjanjian Baru, ia bernazar kepada Allah, dan kemudian mencukur rambutnya di Kengkrea, dekat Korintus. Ketika dia tiba di Yerusalem, dia memimpin empat saudara yang sedang memiliki nazar untuk bersama mereka mentahirkan diri, sehingga mereka dapat mencukur rambut (Kis. 18:18, 21:24, 26). Mereka dengan bantuan para imam akan mempersembahkan korban bakaran, korban sajian, dan korban keselamatan. Juga mempersembahkan korban penghapus dosa, namun bukan karena dosa, tetapi lebih baik diartikan sebagai korban pentahiran, yang mewakili perubahan status. Dalam perikop ini, para imam disebutkan tujuh kali (Bil. 6:10, 11, 16, 17, 19, 20 [ayat 20 ada 2 kali]), sekali lagi menyatakan bahwa perubahan identitas semacam itu harus disahkan oleh para imam, dan juga diperkenalkan berkat serta doa dari imam.

Renungkan:

Orang-orang nazir adalah cara alternatif Allah memilih imam, yang memungkinkan orang secara sukarela mempersembahkan dan menjalani kehidupan dengan standar moral yang tinggi setara dengan kehidupan seorang imam besar. Seperti para nabi dan imam, mereka adalah kelompok berintegritas dalam masyarakat dan sangat dihormati oleh orang banyak. Kehidupan memengaruhi kehidupan, dan membawa pemurnian serta peningkatan spiritual kepada seluruh komunitas.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Imamat 9:8-22

Inisiasi memulai ibadah pengorbanan Kemah Pertemuan (1)

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 9:8-22 [ITB])
8 Maka mendekatlah Harun kepada mezbah, dan disembelihnyalah anak lembu yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri.
9 Anak-anak Harun menyampaikan darah lembu itu kepadanya, dan Harun mencelupkan jarinya ke dalam darah itu dan membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah. Darah selebihnya dituangkannya pada bagian bawah mezbah.
10 Lemak, buah pinggang dan umbai hati dari korban penghapus dosa itu dibakarnya di atas mezbah, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
11 Tetapi daging dan kulitnya dibakarnya habis di luar perkemahan.
12 Kemudian ia menyembelih korban bakaran, lalu anak-anak Harun menyerahkan darah korban itu kepadanya, maka Harun menyiramkannya pada mezbah sekelilingnya.
13 Juga diserahkan merekalah kepadanya korban bakaran itu menurut bagian-bagian tertentu beserta dengan kepalanya, lalu dibakarnya di atas mezbah.
14 Isi perut dan betisnya dibasuhnya dan dibakarnya dengan korban bakaran di atas mezbah.
15 Sesudah itu dibawanya persembahan bangsa ke mezbah; diambilnyalah kambing jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa yang bagi bangsa itu, lalu disembelihnya dan dipersembahkannya sebagai korban penghapus dosa seperti yang pertama.
16 Kemudian dibawanyalah korban bakaran ke mezbah, dan diolahnya sesuai dengan peraturan.
17 Selanjutnya dibawanyalah korban sajian dan diambilnya segenggam dari padanya, lalu dibakarnya di atas mezbah, di samping korban bakaran pada waktu pagi.
18 Ia menyembelih juga lembu dan domba jantan yang akan menjadi korban keselamatan bagi bangsa itu, lalu anak-anak Harun menyerahkan darah korban itu kepadanya, maka Harun menyiramkannya pada mezbah sekelilingnya.
19 Tetapi segala lemak dari lembu dan dari domba jantan itu, yakni ekor yang berlemak, lemak yang menutupi isi perut, buah pinggang dan umbai hati,
20 segala lemak itu diletakkan mereka di atas dada kedua korban itu, lalu Harun membakar segala lemak itu di atas mezbah.
21 Dada dan paha kanan itu dipersembahkan Harun sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan Musa.
22 Harun mengangkat kedua tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka, kemudian turunlah ia, setelah mempersembahkan korban penghapus dosa, korban bakaran dan korban keselamatan.

Imamat 9 adalah pasal yang sangat istimewa, tema utamanya adalah memulai ibadah pengorbanan yang pertama kali di Kemah Pertemuan. Setelah Imamat pasal 1 sampai 7 menjelaskan secara rinci berbagai ketentuan tentang ibadah pengorbanan, Imamat 9 menjelaskan TUHAN memerintahkan imam Harun bagaimana pertama kali memulai ibadah pengorbanan Kemah Pertemuan, sehingga tata cara pengorbanan ini direalisasikan secara teratur sesuai ketentuan.

Para ahli melihat bahwa dalam proses memulai ibadah pengorbanan yang pertama kali di Kemah Pertemuan terdapat urutan pengorbanan (order): pertama-tama adalah mempersembahkan korban penghapus dosa dan tata cara darah korban yang terkait (Im. 9:8-9); langkah kedua adalah mempersembahkan korban bakaran (Im. 9:12-14); langkah terakhir mempersembahkan korban keselamatan (Im. 9:18), prosedur tiga persembahan korban ini juga merupakan prosedur yang dipakai raja Hizkia memulai kembali ibadah pengorbanan Bait Suci (2 Taw. 29:20-36), Mengapa upacara pembukaan seperti itu harus memiliki tiga langkah persembahan korban ini?

Pertama-tama, ritual Kemah Suci dapat dimulai pertama kali, bukan karena kemampuan manusia sehingga dapat merealisasikan tata cara pengorbanan ini sesuai ketentuan, tetapi hanya karena hadirat penyertaan Allah. Kehadiran Allah adalah inti dari ibadah Kemah Suci, jika tidak ada penyertaan Allah di tempat maha kudus, manusia sama sekali tidak memiliki modal apapun untuk melakukan ibadah, adalah mustahil untuk menggunakan apa yang disebut kesalehan ritual pengorbanan untuk menyogok kehadiran penyertaan Allah. Oleh karena itu, kehadiran penyertaan Allah adalah sepenuhnya hanya karena anugerah dan keputusan kedaulatan Allah.

Kedua, tujuan utama dari korban penghapus dosa adalah untuk menyucikan tempat kudus, memenuhi prasyarat kehadiran penyertaan Allah, ritual ibadah tidak dapat mengontrol kehadiran penyertaan Allah, seperti halnya ruangan yang bersih tidak dapat mengontrol masuk atau tidaknya orang-orang yang cinta kebersihan, tetapi orang-orang yang cinta kebersihan tentu tidak akan masuk ke kamar yang kotor, dan Allah tidak akan hadir di tempat yang cemar kotor. Oleh karena itu, upacara memulai ibadah pengorbanan yang pertama kali harus terlebih dahulu mempersembahkan korban penghapus dosa (juga dikenal sebagai persembahan penyucian) untuk menciptakan kondisi yang memenuhi prasyarat bagi hadirat penyertaan Allah.

Ketiga, tujuan utama korban bakaran adalah untuk (1) menghapuskan murka Allah; (2) mempersembahkan korban; (3) membubung ke atas (dalam bahasa Ibrani akar kata korban bakaranadalah membubung naik ke atas, membuka jalur dunia dan surga). Dengan demikian, korban bakaran menjadi jembatan penghubung manusia dengan Allah, sehingga manusia dapat bersekutu dengan Allah. Oleh karena itu, beberapa peneliti berpendapat bahwa melalui korban bakaran Allah hadir dalam perjamuan umat-Nya, dengan demikian orang baru dapat penuh sukacita bersama-sama Allah menikmati persembahan korban keselamatan yang berikutnya.

Terakhir, korban keselamatan adalah korban yang memproklamirkan pengakuan bahwa Allah adalah sumber kehidupan dan mensyukuri segala sesuatu yang telah Allah berikan, merupakan persembahan korban penuh sukacita, bersyukur dan berbagai sukacita yang datang dari Allah. Oleh karena itu, tata urutan ketiga korban ini menjadi sangat penting, menandakan urutan: penyucian, komunikasi persekutuan, dan perayaan sukacita, menjadi salah satu bentuk inisiasi memulai ibadah yang pertama kali.

Renungkan:
Apakah hidup kita sering mempraktikkan dan merealisasikan urutan penyucian, komunikasi persekutuan, dan perayaan sukacita?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 1:2-9 (2)

Korban api-apian yang baunya menyenangkan Allah

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:2-9 [ITB])
2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. 4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. 6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu. 8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. …』」

Korban bakaran selain dipersembahkan bagi TUHAN, juga memiliki fungsi mengadakan pendamaian (Im. 1:4), tetapi juga merupakan korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN (Im. 1:9, 13, 17), bagaimana kita seharusnya memahami kedua karakteristik dari korban bakaran ini?

Imamat 1:4 menjelaskan korban bakaran yang berkenan dalam dapat mengadakan pendamaian baginya (Im. 1:4), Kata mengadakan pendamaian (kĭppěr) ini memiliki diskusi yang sangat banyak di dunia akademis, para peneliti sepakat bahwa kata ini memiliki makna terutama kudus, dan jika kata ini ditempatkan dalam konteks terkait murka Allah, memiliki arti penebusan (ransom). Kata ini biasanya digunakan bersama-sama dengan kata bagi seseorang (misal ayat 4 mengadakan pendamaian baginya, berarti seseorang menahirkan tempat kudus dan menebus bagi orang itu, karena kenajisan orang (baik moral atau tidak bermoral) akan sering mencemari tempat kudus oleh karena itu, korban bakaran memiliki fungsi mengadakan pendamaian, menjaga kekudusan tempat kudus dan memastikan penyertaan hadirat Allah. Dalam sejarah persembahan korban Israel, fungsi mengadakan pendamaian dari korban bakaran berangsur-angsur digantikan oleh korban penghapus dosa, seiring berjalannya waktu, fungsi utama korban bakaran adalah untuk mempersembahkan korban. Berikut ini juga dijelaskan pengertian korban api-apian.

Bagaimana kita memahami korban api-apian yang baunya menyenangkan? Umumnya para peneliti berpendapat bahwa baunya yang menyenangkan Allah ini terkait penghapusan murka Allah. Murka ini bukanlah kemarahan emosional, melainkan sikap dasar Allah terhadap dosa dan kenajisan. Karena Allah adalah kudus, kodrat-Nya sendiri akan menyingkirkan kenajisan, jika seseorang yang najis berani memaksa masuk ke lingkup kudus, maka Allah wajib murka, harus menyingkirkan yang najis hilang dari lingkup kudus. Oleh karena itu, imam dari tradisi Perjanjian Lama sangat mementingkan urusan terkait penghapusan murka Allah, ini bukan menghibur kemarahan anak kecil, tetapi masalah yang sangat serius agar kekudusan Allah tidak dilanggar. Api dari korban bakaran mengubah korban menjadi asap yang harum, dari sudut pandang manusia, api ini mengubah korban dari ranah manusia naik ke ranah lingkup ilahi, dan melambangkan penghapusan murka. Karena ini merupakan urusan penghapusan murka Allah, maka pengadaan pendamaian dari korban bakaran memiliki makna penebusan (ransom).

Renungkan:
Apakah hidup Anda atau saya tahir? Sering kali, dosa-dosa kita dengan sengaja atau tidak sengaja membuat najis tempat kediaman Allah. Meskipun di era Perjanjian Baru, kita tidak perlu khawatir akan kehadiran penyertaan Tuhan meninggalkan kita, karena persembahan Yesus Kristus di kayu salib telah sepenuhnya menghapus murka Allah, tetapi ini tidak berarti bahwa kita dapat berbuat dosa sesuka hati. Berdoa agar Allah membantu kita memahami dan berterima kasih atas korban penghapus dosa dari Kristus yang Ia lakukan demi kita, menghapuskan murka Allah sehingga membuat kita memiliki hidup baru dan tidak lagi hidup di bawah murka Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 1:2-9

Berkenan di hadapan TUHAN

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:2-9 [ITB])
2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. 4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. 6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu. 8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. …』」

Imamat pasal 1 berbicara tentang aturan korban bakaran, dalam bahasa asli ‘ōlāh (korban bakaran) dapat dipahami sebagai korban yang membubung ke atas, simbol yang mewakili korban dipersembahkan sebagai wangi-wangian yang baunya menyenangkan dipersembahkan kepada Allah di surga. Dalam peraturan korban bakaran, korban (qŏrbān), yakni kata korban yang disebutkan di Markus 7:11 … sudah digunakan untuk korban yaitu persembahan kepada Allah, kata ini sering sekali muncul (Im. 1:2, 3, 10, 14), menjelaskan bahwa korban bakaran itu sendiri adalah korban yang dipersembahkan kepada Allah, karena itu adalah persembahan, maka berharap pihak penerima akan berkenan sukacita menerimanya, tetapi bagaimana memastikan bahwa persembahan korban ini diterima berkenan di hadapan Allah?

Dalam mempersembahkan korban bakaran, api yang digunakan adalah api yang datang dari Allah (Im. 9:24), segala yang datang dari Allah adalah sesuatu yang merupakan bagian dari ranah ilahi milik Allah, dan definisi kudus juga adalah makna yang merupakan bagian dari ranah ilahi (lingkup ilahi), kita dapat memahami bahwa ini adalah api semacam api kudus, adalah api yang datang dari Allah; api ini bukan api umum yang dipakai oleh manusia (Im.10:1), api umum ini bukan bagian dari ranah ilahi milik Allah, itu adalah api manusia. Api kudus adalah prasyarat untuk memastikan korban bakaran berkenan diterima, karena api yang dipakai adalah api Allah, api dari ranah ilahi milik Allah membakar korban yang dipersembahkan ini, itu melambangkan pengorbanan yang berkenan diterima oleh Allah, dan oleh karena itu, api kudus ini tidak boleh padam, jika tidak, maka korban persembahan tidak akan bisa berkenan di terima di hadapan Allah.

Sering kali, kita mengandalkan upaya manusia, memberikan persembahan yang paling mahal harganya kepada Allah, dan juga dengan kemampuan, hikmat dan relasi diri sendiri untuk menyalakan api persembahan, dan berharap Allah akan berkenan menerima pemberian kita, tetapi ternyata diterima berkenan atau tidak berkenannya persembahan korban bukan tergantung pada usaha manusia, melainkan mengandalkan api kudus anugerah dari Allah.

Ini menggambarkan dua poin:
(1) tidak peduli berapa mahal persembahan orang, kecuali berkenan kepada Allah, maka persembahan itu sia-sia;
(2) manusia sebenarnya tidak memiliki modal untuk memberikan persembahan dengan mempertimbangkan besarnya usaha atau mahalnya harga persembahan untuk menyenangkan Allah, maka orang tidak patut mencoba untuk jual beli dengan Allah, tidak patut mencoba menyuap Allah. Karena penerimaan suatu persembahan sepenuhnya merupakan inisiatif Allah. Memang benar, manusia boleh yang secara proaktif mempersembahkan persembahan korban, menurut sebagian peneliti, korban bakaran adalah bentuk persembahan sukarela, bukan persembahan wajib, tetapi inisiatif sukarela untuk memberikan persembahan tidak akan menjadi prasyarat perkenan Allah, dan terlebih tidak boleh karena persembahan inisiatif sukarela maka ingin mengontrol Allah untuk berkenan menerima.

Renungkan:
Korban apa yang Anda persembahan kepada Allah? Apakah Anda berharap Allah berkenan menerimanya? Hanya ketika korban yang dibakar oleh api suci yang dapat melambangkan perkenan penerimaan Allah, api manusia tidak dapat mencapai tujuan ini, ini artinya, kita tidak patut mempersembahkan persembahan dengan cara kita sendiri, meskipun persembahan itu sendiri mahal harganya, seperti lembu yang disebutkan dalam pasal ini (1:3) lebih mahal daripada kambing domba (1:10) dan burung tekukur atau dari anak burung merpati (1:14), dan tidak dapat menjamin perkenan penerimaan Allah. Hanya api kudus (melambangkan: cara Allah, cara yang sesuai kehendak Allah) yang dapat membakar semua korban dan memastikan perkenan penerimaan Allah. Apakah Anda telah mempersiapkan hidup Anda memasuki ranah ilahi Allah?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.