Tag Archives: Imanuel

Yehezkiel 10:9-22

「Meninggalkan Bait Suci」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 10:9-22 [ITB])
9 Aku melihat, sungguh, di samping kerub-kerub itu terdapat empat roda, satu roda di samping seorang kerub, dan roda-roda ini kelihatannya seperti kilauan permata pirus. 10 Kelihatannya keempatnya adalah serupa, seolah-olah roda yang satu di tengah-tengah yang lain. 11 Kalau mereka berjalan mereka dapat menuju keempat jurusan tanpa berbalik kalau berjalan; karena tempat mana yang dituju oleh yang di muka, ke situlah pergi yang lain-lain, tanpa berbalik kalau berjalan. 12 Seluruh badan mereka, punggungnya, tangannya, sayapnya, dan roda-rodanya penuh dengan mata sekelilingnya, ya, roda-roda mereka berempat juga.
13 Aku dengar bahwa roda-rodanya disebut puting beliung. 14 Masing-masing mempunyai empat muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka rajawali.
15 Kerub-kerub itu naik ke atas. Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di tepi sungai Kebar. 16 Kalau kerub-kerub itu berjalan, roda-roda itu juga berjalan di samping mereka;
kalau kerub-kerub itu mengangkat sayapnya untuk terbang dari tanah, roda-roda itu tidak bergerak dari samping mereka.
17 Kalau kerub-kerub itu berhenti, roda-roda itu berhenti,
kalau kerub-kerub itu naik ke atas, roda-roda itu sama-sama naik dengan mereka;
sebab roh makhluk-makhluk hidup itu ialah di dalam roda-roda itu.
18 Lalu kemuliaan TUHAN pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas kerub-kerub. 19 Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka, dan waktu mereka pergi, aku lihat, mereka naik dari tanah dan roda-rodanya bersama-sama dengan mereka.
Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka.
20 Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub. 21 Masing-masing mempunyai empat muka dan bagi masing-masing ada empat sayap dan di bawah sayap mereka ada yang berbentuk tangan manusia. 22 Kelihatannya muka mereka adalah serupa dengan muka yang kulihat di tepi sungai Kebar. Masing-masing berjalan lurus ke mukanya.

Kemuliaan TUHAN akan meninggalkan Bait Suci, dan penghakiman Allah akan segera datang. Namun, paragraf ini memiliki banyak deskripsi tentang kemuliaan TUHAN pergi meninggalkan, melibatkan banyak elemen transenden, dan detail setiap elemen memiliki simbolisme khusus. Ayat 9 memulai paragraf baru dengan Aku melihat, sungguh, menjelaskan secara rinci isi penglihatan, termasuk empat roda kerub (ayat 9-17) dan proses perginya kemuliaan TUHAN meninggalkan (ayat 18-20), dan terakhir makhluk hidup yang dilihat nabi Yehezkiel di Sungai Kebar (ayat 21-22).

Pada dasarnya, keadaan empat roda kerub yang dijelaskan dalam ayat 9-17 sesuai dengan empat roda yang disebutkan dalam penglihatan Yehezkiel di Sungai Kebar (Yeh. 1:15-21), dan satu perbedaan adalah bahwa Yehezkiel di waktu yang pertama tidak tidak tahu bahwa makhluk hidup yang dilihatnya adalah kerub, tetapi di perikop ini (ayat 9-17) dijelaskan bahwa itu adalah kerub. Dikatakan dalam ayat 14 masing-masing mempunyai empat muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka rajawali.Dan dalam penglihatan Yehezkiel yang dijelaskan sebelumnya seperti ini muka mereka kelihatan begini: Keempatnya mempunyai muka manusia di depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di belakang(Yeh. 1:10), tampaknya 10:14 muka kerub menggantikan muka lembu di 1:10, dan menempatkan muka Kerub di awal empat wajah. Karena penglihatan Yehezkiel datang dari utara (Yeh. 1:4), kita dapat membayangkan bahwa di depan (muka manusia) yang dijelaskan dalam ayat 10 adalah selatan, dan di sebelah kanan (muka singa) adalah barat, di sebelah kiri (muka lembu) adalah timur, dandi belakang(muka rajawali) adalah utara, tetapi posisi terakhir Yehezkiel yang disebutkan dalam 10:14 adalah di timur (Yeh. 8:16 ) atau di pintu masuk Bait Suci (Yeh. 9:3), keduanya di timur, maka muka kerub yang disebutkan dalam ayat 10:14 harus di timur, muka manusia di selatan, dan muka singa ada di barat, muka rajawali di utara, sama seperti yang dijelaskan di 1:4, hanya saja muka kerub menggantikan muka lembu yang sama di timur. Bisa jadi muka kerub adalah bayangan yang dilihat dari timur, tetapi jika Yehezkiel melihat dari selatan, muka kerub disebutnya sebagai muka lembu. Namun penekanan pada muka kerub dalam ayat 10:14 dengan jelas menunjukkan bahwa ini adalah takhta Allah, dan gambaran roda menunjukkan mobilitas pergerakan takhta Allah, yang berarti bahwa kemuliaan TUHAN tidak hanya mengikuti takhta kerub pergi meninggalkan, bahkan pergi menyertai bersama orang-orang yang diasingkan.

Ayat 18 menjelaskan kemuliaan TUHAN meninggalkan pintu masuk Bait Suci yang berada di sebelah timur Bait Suci, kerub siap menyambut kemuliaan Allah di pintu masuk (timur) Bait Suci. Ayat 19 menggambarkan kerub melebarkan sayapnya dan bangkit dari tanah, secara resmi bersama dengan kemuliaan Allah. meninggalkan Bait Suci.

Ayat 20 mengembalikan pandangan ke Sungai Kebar. Di awal pasal 8 disebutkan saat Yehezkiel berada di antara para tua-tua Yehuda, ia diangkat oleh roh Allah dibawa dalam penglihatan ilahi ke Yerusalem, dan akhirnya Yehezkiel kembali ke komunitas orang-orang di penawanan, dan memahami bahwa makhluk hidup dilihat di Sungai Kebar adalah kerub, artinya setelah TUHAN meninggalkan Bait Suci, kemuliaan-Nya tetap menyertai orang-orang di penawanan, dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub (ayat 20). Kalimat ini menunjukkan bahwa TUHAN yang duduk di atas takhta kerub dan TUHAN yang meninggalkan Bait Suci adalah Allah yang sama. Sekalipun Yehezkiel setelah ditawan ke pengasingan tidak bisa melayani sebagai imam di Bait Suci seumur hidupnya, namun dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan rekan-rekan para imam yang lain, ia lebih memahami hati dan realitas Allah lebih baik daripada mereka yang tidak pernah ditawan. Ternyata meskipun penawanan telah merampas masa depan Yehezkiel sebagai imam, namun tidak bisa merampas Allah Imanuel, Allah selalu menyertai orang-orang yang terserak dan orang-orang yang menumpang hidup.

Renungkan:
TUHAN meninggalkan Bait Suci karena kejahatan yang dilakukan oleh para pemimpin Yehuda, dan karena hukuman TUHAN semakin dekat, kepergian Allah berarti awal dari hukuman itu. Di tempat suci tanpa Allah, semua pengorbanan dan ibadah yang dilakukan menjadi tidak berarti, walau betapa indah dan hebatnya proses penyembahan itu, tidak ada gunanya. Namun, inilah awal dari pengalaman kelompok pengasingan akan Allah, Allah meninggalkan Bait Suci, tetapi Dia tidak meninggalkan orang-orang di pengasingan ini. Mobilitas pergerakan roda kerub menunjukkan bahwa Allah beserta orang-orang di diaspora dan orang-orang yang menumpang hidup. Ternyata meskipun orang berdosa itu ditawan, kehadiran Allah tidak berubah, ironisnya tidak ada Allah di Bait Suci yang indah itu, sedangkan kelompok yang terasing dan terlantar bisa merasakan Allah secara mendalam.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 1- 11 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Januari 202 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yesaya 64:1-3

「Kiranya Engkau Mengoyakkan Langit dan Turun」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 64:1-3 [ITB])
1 Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu 2 seperti api membuat ranggas menyala-nyala dan seperti api membuat air mendidih, untuk membuat nama-Mu dikenal oleh lawan-lawan-Mu, sehingga bangsa-bangsa gemetar di hadapan-Mu, 3 karena Engkau melakukan kedahsyatan yang tidak kami harapkan, seperti tidak pernah didengar orang sejak dahulu kala!

Yesaya 64 melanjutkan seruan ratapan dalam Yes. 63:15-19 di atas, dan di ayat 9 (lihat Yes. 64:1-9) menggunakan seruan untuk memohon belas kasihan dan penyertaan Allah. Hari ini kita akan merenungkan seruan doa permohonan ayat 1-3, dan besok kita akan merenungkan doa permohonan ayat 4-9.

Konten dalam perikop 64:1-3 mengadopsi gambar Allah menampakkan diri (Teofani) yang khas dari Perjanjian Lama (Teofani: Allah menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh yang bersangkutan, sehingga yang bersangkutan sadar bahwa mereka berhadapan dengan Allah sendiri), yaitu gambaran ketika TUHAN menampakkan diri di Gunung Sinai dan menyatakan diri kepada orang-orang Israel. Dan Yesaya ketiga yang hidup di masa Bait Suci kedua dan masa kerajaan Persia, ia berdoa memohon agar pengalaman yang sama datang dan dialami orang-orang Israel. Dari isinya, kita melihat bahwa nabi Yesaya ini berdoa meminta Allah menampakkan diri lebih spektakuler dan besar daripada saat di Gunung Sinai dahulu.

Dalam teks bahasa aslinya, ayat 1 (dalam bahasa asli di bagian akhir ayat 63:19) dan ayat 3 (dalam bahasa asli di ayat 64:2) diakhiri dengan Engkau turun di hadapan-Mu gunung-gunung berguncang (yaradta mipaneka harim nazollu, lihat terjemahan ITL atau BIMK), ini menunjukkan bahwa inti utama ayat 1-3 adalah bahwa Allah datang secara pribadi (sifat Allah yang konsisten … bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka … 63:9), sehingga semua gunung terguncang oleh karena Allah datang secara pribadi menampakkan diri, serupa dengan situasi ketika TUHAN turun di Gunung Sinai (Kel. 19:18), dan perbedaan apa yang diminta dalam permohonan nabi Yesaya dengan kitab Keluaran adalah bahwa nabi berdoa meminta agar gunung-gunung terguncang, bukan hanya satu gunung Sinai. Kelompok gunung-gunung ini mungkin merupakan metafora bagi para dewa yang disembah mezbah-mezbah di tempat-tempat tinggi di gunung-gunung. Dewa-dewa ini disembah oleh bangsa-bangsa asing, tetapi penampakan diri Allah membuat terguncang semua gunung-gunung yang menyembah dewa-dewa itu, sehingga bangsa-bangsa asing itu memahami bahwa TUHAN adalah Allah yang memiliki kuasa besar adalah Allah yang sejati. Selain itu, ayat 1 menggambarkan TUHAN mengoyakkan langit, dalam teks aslinya dapat diartikan sebagai merobek langit menjadi berkeping-keping, ini adalah metafora bahwa tidak ada apapun yang dapat menghalangi Allah datang turun, ini adalah kedatangan yang membuat bumi terkejut. Dan Kitab Suci menggambarkan Dia turun dari langit, ini terkait dan menanggapi doa permohonan di ayat 63:15 Pandanglah dari sorga dan lihatlah dari kediaman-Mu yang kudus dan agung, ini menjelaskan nabi Yesaya tidak sabar lagi terhadap kegelapan yang ada di depan mata ini, meminta Allah jangan hanya duduk di surga melihat ke bawah saja, tetapi benar-benar turun dari Sorga (langit), biarkan orang-orang dari bangsa-bangsa asing melihat karya Allah yang sejati, dan kehadiran-Nya membawakan hormat dan takut.

Ayat 2 menuliskan penampakan diri TUHAN dengan api, yang sama dengan catatan bahwa gunung penuh api ketika Allah turun di gunung Sinai (Kel. 19:18). Api ini adalah simbol kehadiran Allah, digunakan untuk membakar kayu kering yang bertepatan dengan pengalaman Musa akan semak yang terbakar (Kel. 3:2), api digunakan untuk membuat air mendidih berkorespondensi dengan TUHAN membuat air Laut Teberau (Laut Merah / Laut Kolsom) Kel. 14:21. Tetapi kali ini berbeda, jika dahulu laut terbelah dihembus oleh angin, Allah secara tidak langsung meniupnya menggunakan angin alam, tetapi kali ini dengan api dan Allah sendiri secara langsung memisahkan air dengan kehadiran api. Nabi Yesaya meminta pengalaman yang lebih nyata dan lebih besar dari penampakan diri TUHAN dibandingkan Keluaran dari Mesir, yang tujuannya yakni yang dinyatakan dalam ayat 2 untuk membuat musuh mengetahui nama TUHAN, dan juga membuat bangsa-bangsa gemetar di hadapan Allah!

Renungkan:
Imanuel, Tuhan beserta kita! Kita mungkin berpikir bahwa kehadiran Tuhan adalah kehadiran kelembutan dan cinta, tetapi nabi Yesaya berdoa meminta hadirat Tuhan adalah kehadiran penyertaan-Nya yang penuh wibawa dan kuasa. Kehadiran tersebut adalah agar musuh mengetahui nama TUHAN, juga agar bangsa-bangsa gemetar di hadapan Allah, dan menghancurkan semua mezbah-mezbah berhala bangsa-bangsa di atas gunung-gunung, sehingga kemuliaan-Nya akan nyata di seluruh bumi. Apakah Anda merindukan kehadiran Allah seperti itu? Bagaimana kehadiran Allah menjadi kekuatan pengharapan Anda?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 8:9-10

「Allah Beserta Kita」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 8:9-10 [ITB])
9Ketahuilah, hai bangsa-bangsa, dan terkejutlah, perhatikanlah, ya segala pelosok bumi, berikatpingganglah, dan terkejutlah; berikatpingganglah dan terkejutlah!
10Buatlah rancangan, tetapi akan gagal juga; ambillah keputusan, tetapi tidak terlaksana juga, sebab Allah menyertai kami!

Yes. 8:5-8 menunjukkan kerajaan Yehuda sedang berada dalam didikan Allah, Allah memakai Asyur sebagai alat mendidik, demi membuat Yehuda bertobat. Tetapi orang bangsa-bangsa asing mungkin melihat Asyur mengalahkan kerajaan Yehuda dan merasa bergembira, mulai berpikir banyak sekali strategi untuk mendapatkan keuntungan dari antaranya. Oleh karena itu, 8:9-10 mengeluarkan seruan yang ditujukan kepada bangsa-bangsa asing, menjelaskan bahwa walaupun kerajaan Yehuda dididik Asyur, tetapi juga tidak mewakili nasib Yehuda berada di dalam tangan bangsa-bangsa asing, karena Allah adalah Tuhan atas segala pelosok bumi, Allah selamanya beserta Yehuda, adalah Dialah yang sedang mengendalikan semua situasi.

Perikop 8:9-10 lebih sulit dijelaskan, dua ayat ini memiliki banyak sekali kata kerja berbentuk perintah, bahasa aslinya dapat dijelaskan demikian: 「Remukkanlah! Bangsa-bangsa! Rusakkanlah! Dengarlah! Semua pelosok tanah yang jauh! Berikatpingganglah! Rusakkanlah! Berikatpingganglah! Rusakkanlah! Buatlah rancangan! Jadilah tidak berguna! Ucapkanlah perkataan (ambillah keputusan)! Janganlah bangkit (tidak terlaksana)! Karena Allah beserta dengan kita (Imanuel)」 Kesulitannya adalah bagaimana menjelaskan manakah perintah yang dilakukan oleh rakyat bangsa-bangsa asing, dan manakah perintah yang merupakan respon jawaban Allah atas apa yang dilakukan rakyat bangsa-bangsa asing. Maka yang lebih logis adalah memakai kata 「dibiarkanlah」 untuk menggambarkan tindakan rakyat bangsa-bangsa asing, di antaranya mencakup 「berikatpingganglah!」, 「buatlah rancangan!」 dan 「ucapkanlah perkataan (ambillah keputusan)!」, semua ini dimengerti sebagai rencana bangsa-bangsa asing. Jikalaupun mereka memiliki semua rencana ini, Allah akan 「membiarkan」 mereka melakukan, dan memakai perintah yang lain untuk menunjukkan bahwa rencana mereka paling akhir semua akan 「Rusakkanlah!」, 「Jadilah tidak berguna!」 dan 「Janganlah bangkit (tidak terlaksana)!」 (CUVT mendekati terjemahan Inggris, 「9Dibiarkanlah engkau berbuat kejahatan, hai bangsa-bangsa, pada akhirnya dirusakkanlah! Dengarkanlah, segala pelosok bumi! Dibiarkanlah engkau berikatpinggang, pada akhirnya dirusakkanlah! Berikatpingganglah dan pada akhirnya dirusakkanlah! 10Dibiarkanlah engkau membuat rancangan, tetapi akan gagal juga; Dibiarkanlah mengucapkan perkataan, tetapi tidak terlaksana juga; sebab Allah menyertai kami!」)

Ini menunjukkan bangsa-bangsa asing jikalaupun memiliki rencana mereka sendiri, semua rencana mereka pasti akan dirusakkan, karena bangsa-bangsa asing tidak ada satupun orang yang bisa mempengaruhi rencana Allah, dan paling akhir kerajaan Yehuda mampu mengumumkan bahwa rencana bangsa-bangsa asing dirusakkan, semua adalah karena Imanuel (Allah beserta dengan kita).

Renungkan: dua ayat ini menjelaskan perbandingan rencana manusia dan rencana Allah. Rencana bangsa-bangsa asing di dalam pandangan manusia terlihat sangat bagus, memiliki hikmat dan kemampuan manusia, tetapi jika semua rencana ini adalah dipakai untuk melawan Allah, rencana yang bagus lengkap seperti apapun juga tidak akan berdiri. Bangsa-bangsa asing berharap merusakkan rencana Allah, namun rencana Allah pasti akan tetap berdiri, jika bangsa-bangsa tidak menuruti rencana Allah, bangsa-bangsa tidak akan dibuat berdiri. Oleh karena itu, kita hendak berdasarkan iman percaya janji Imanuel, percaya bahwa rencana Allah adalah yang paling berkepastian.

Yesaya 8:5-8

「Mengembangkan Sayap」

Asyur yang mengembangkan sayap sebenarnya adalah hendak melindungi atau berburu makanan?

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 8:5-8 [ITB])
5TUHAN melanjutkan lagi firman-Nya kepadaku:
6「Oleh karena bangsa ini telah menolak air Syiloah yang mengalir lamban, dan telah tawar hati terhadap Rezin dan anak Remalya,
7sebab itu, sesungguhnya, Tuhan akan membuat air sungai Efrat yang kuat dan besar, meluap-luap atas mereka, yaitu raja Asyur dengan segala kemuliaannya; air ini akan meluap melampaui segenap salurannya dan akan mengalir melampaui segenap tebingnya, 8serta menerobos masuk ke Yehuda, ibarat banjir yang meluap-luap hingga sampai ke leher; dan sayap-sayapnya yang dikembangkan akan menutup seantero negerimu, ya Imanuel!」

Dalam menghadapi tentara gabungan raja Aram dan raja Israel, Ahas tidak mengusahakan pertanda yang datang dari Allah, tidak ada ketertarikan atas rencana keselamatan dari Allah, ia hanya memiliki ketertarikan untuk bersekutu dengan Asyur, berharap bahwa dengan bersandar kepada Asyur menjadikan keselamatan bagi dirinya sendiri. Tetapi, Asyur hanyalah pisau cukur, hanya merupakan alat TUHAN menyelamatkan kerajaan Yehuda, bukan pihak yang kepadanya seharusnya Ahas bersandar. Malahan, Tuhan sendiri akan menganugerahkan sebuah pertanda, ada wanita mengandung melahirkan anak, nama anak laki ini Imanuel, menjadi tanda yang menunjuk kepada keselamatan yang datang dari Allah, membawakan pengharapan bagi kerajaan Yehuda.

Yes. 8:7-8 menunjukkan, setelah Asyur di kemudian hari mengalahkan dua negara utara yang bersekutu, ia akan menuju selatan menyerang kerajaan Yehuda dan Yerusalem, maka ia bukan teman persekutuan yang dapat diandalkan, juga bukan pihak paling akhir yang kepadanya kerajaan Yehuda bersandar. Tetapi, tanda Imanuel masih tetap efektif, tanda ini selain menunjukkan kerajaan Yehuda dapat melepaskan diri dari ancaman tentara gabungan dua kerajaan sebelah utara, perikop 8:7-8 lebih lagi memakai tanda ini untuk menjelaskan kerajaan Yehuda juga sama-sama dapat melepaskan diri dari ancaman Asyur.

Ayat 8 adalah sebuah ayat yang lebih sulit dijelaskan, ayat ini di satu sisi menjelaskan kekuatan banjir Asyur, di sisi lain juga gambaran yang menjelaskan Asyur mengembangkan sayap. Sebenarnya burung yang mengembangkan sayap ini adalah seekor burung yang 「berburu makanan」 atau seekor burung yang 「melindungi」? Perikop menjelaskan banjir besar mengembang, tepat sama seperti burung mengembang, maka kedua gambaran adalah sama, mengembangnya banjir besar adalah hendak merusak, maka burung ini mengembang nampaknya adalah 「berburu makanan」, dan bukanlah seperti yang Yehuda harapkan sebagai 「melindungi」. Tetapi, bagaimanapun hebatnya banjir besar, hanya akan mencapai 「leher」, mewakili bahwa kerajaan Yehuda paling akhir tidak akan secara keseluruhan dihancurkan, dengan demikian tujuan nubuat bukanlah hendak memusnahkan kerajaan Yehuda, tetapi adalah hendak membuat kerajaan Yehuda mengetahui diri sendiri sedang berada di dalam didikan Allah. Asyur adalah alat TUHAN, maka TUHAN dapat memakainya untuk melaksanakan didikan kepada kerajaan Yehuda, dan berita Imanuel menjelaskan bahwa Allah di dalam keadaan apapun adalah Allah yang beserta dengan umat-Nya, jikalaupun kerajaan Yehuda sedang menerima didikan, juga tidak mempengaruhi penyertaan Allah.

Renungkan: Yes. 7:18-25 menunjukkan Asyur adalah alat keselamatan dari Allah bagi kerajaan Yehuda, tetapi Yes. 8:7-8 justru menjelaskan Asyur adalah alat didikan dari Allah bagi kerajaan Yehuda, sama-sama Asyur, membawakan dua makna teologis yang tidak sama bagi kerajaan Yehuda. Dengan demikian, Asyur selain telah mencerminkan penyelamatan dari Allah, juga mencerminkan didikan dari Allah. Keduanya ternyata adalah sebuah koin bersisi dua, menunjukkan Allah mendidik dengan membawa kehendak menyelamatkan, juga menyelamatkan dengan membawa didikan. Keduanya sama-sama menyatakan kasih Allah kepada Yehuda, dan kasih ini diungkapkan dengan tanda Imanuel, membuat kita paham betapa Allah memandang penting diri kita. Apakah engkau juga melihat kehendak Allah untuk mendidik, dan janji penyertaan-Nya di dalam didikan-Nya yang dinyatakan melalui Imanuel?

Yesaya 7:10-17(2)

「Imanuel」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 7:10-17 [ITB])
10TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 11「Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.」
12Tetapi Ahas menjawab: 「Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN.」
13Lalu berkatalah nabi Yesaya: 「Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?
14Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (「Imanuel」 maknanya adalah 「Allah beserta dengan kita」). 15Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, 16sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. 17TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda–yakni raja Asyur.」

Ayat 14 adalah bagian yang paling mendapatkan perhatian, karena perkataan ini dikutip oleh Injil Matius 1:23, sebenarnya bagaimana seharusnya kita memahami pengutipan ini? Jika ayat 14 dipahami sesuai latar belakang kitab Yesaya, maka janji Imanuel menunjuk kepada janji kehancuran tentara gabungan dua kerajaan, maka ini adalah nubuat prediksi atas peristiwa yang akan terjadi. Dan identitas anak laki ini mungkin adalah Hizkia anak laki dari Ahas, atau mungkin anak laki nabi Yesaya, bukan menunjuk kepada Yesus Kristus (anak laki yang lahir 700 tahun kemudian ), karena isi nubuat menjelaskan bahwa sebelum anak laki ini 「tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong」, dapat dilihat ini bukan menunjuk kepada Yesus Kristus.

Jika ayat 14 dipahami sesuai latar belakang kitab Yesaya, kita memakai sudut pandang nubuat prediksi maka pengutipan ayat ini dalam Injil Matius 1:23 terlihat aneh. Tetapi jika kita memakai sudut pandang tipologi (figur pendahuluan atau simbol), maka terlihat sangat masuk akal, penulis Injil Matius melakukan pelimpahan konsep teologis dalam kitab Yesaya kepada bayi Yesus. Bayi dalam kitab Yesaya adalah lemah, bayi Yesus juga adalah lemah; bayi kitab Yesaya adalah tanda, bayi Yesus juga adalah tanda; tanda bayi kitab Yesaya menunjuk kepada keselamatan, bayi Yesus juga menunjuk kepada anugerah keselamatan. Pelimpahan konsep teologis ini membuat pembaca Injil Matius dapat melihat keselamatan dalam Yesus Kristus, Dia dengan kondisi yang lemah datang ke dunia, berada di dalam palungan adalah tanda atas yang lemah, justru paling akhir menunjuk kepada anugerah keselamatan semua manusia. Oleh karena itu, kita bisa berkata ini adalah 「penggenapan berganda」, pertanda bayi di dalam kitab Yesaya pasal 7 adalah semacam nubuat, tetapi di dalam pengutipan Injil Matius adalah semacam tipologi (figur pendahuluan atau simbol).

Renungkan: nama 「bayi」 ini adalah Imanuel, maknanya adalah penyertaan Allah. 「Bayi」 muncul sebagai sebuah pertanda, tidak menunjukkan keajaiban apapun, hanya merupakan sebuah tanda yang menunjuk kepada keselamatan yang sesungguhnya bagi Ahas, tentara gabungan dibunuh dan ia diselamatkan. Pada saat yang sama juga menunjuk kepada Yesus Kristus, membawakan anugerah keselamatan bagi semua manusia. Mohon Tuhan menyatakan pertanda-Nya, tanda bayi yang sangat biasa, tanda yang menunjuk kepada anugerah keselamatan kekal, keselamatan bagi manusia. Sudahkah engkau melihat? Silahkan menyerahkan kuasa kedaulatan atas hidupmu kepada-Nya.

Yesaya 7:10-17

「Mintalah Suatu Pertanda」

Mengapa Ahas menolak meminta pertanda dari Allah, apakah karena kesalehannya? Tetapi mengapa membuat Allah jemu?

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 7:10-17 [ITB])
10TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 11「Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.」
12Tetapi Ahas menjawab: 「Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN.」
13Lalu berkatalah nabi Yesaya: 「Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?
14Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (「Imanuel」 maknanya adalah 「Allah beserta dengan kita」). 15Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, 16sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. 17TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda–yakni raja Asyur.」

Allah berpesan kepada Ahas agar meminta sebuah pertanda, pertanda bukanlah sesuatu yang ajaib, pada umumnya adalah sesuatu yang biasa – bayi, palungan, bintang dan sebagainya, tetapi hal-hal yang biasa ini justru menunjuk kepada anugerah keselamatan yang datang dari Allah. Allah mengetahui sebelum keselamatan yang ditunggu-tunggu manusia datang, butuh memiliki sebuah tanda untuk membuat manusia merasa aman, maka Allah berinisiatif berpesan kepada Ahas agar meminta sebuah tanda. Tetapi Ahas berkata ia tidak mau meminta, sebab ia tidak mau mencobai Allah. Dilihat secara permukaan kulit luar, ini alasan yang saleh, tetapi jika kita melihat jawaban dari Allah, maka mengetahui bahwa respon Ahas membuat Allah jemu. Menjelaskan bahwa ketertarikan Ahas yang sesungguhnya bukan pada anugerah keselamatan yang datang dari Allah, tetapi ia hendak memakai caranya sendiri bersekutu dengan Asyur untuk memecahkan masalah saat ini. Mungkin ia berpendapat rencana anugerah keselamatan Allah terlalu tidak realistik, berpendapat menunggu anugerah keselamatan sungguh terlalu merepotkan, juga bukan tindakan yang sepatutnya dimiliki orang dewasa. Dapat dikatakan bahwa pada dasarnya ia sebenarnya sama sekali tidak tertarik untuk meminta tanda apapun.

Apakah karena respon dingin Ahas pada pertanda dengan demikian meniadakan keselamatan Allah bagi kerajaan Yehuda? Tidak, manusia tidak tertarik meminta pertanda, Allah justru berinisiatif memberikan kepada manusia sebuah pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Tanda ini, di dalam pandangan manusia tidak ada apapun yang sangat khusus, karena 「perempuan muda」 tidak pasti diterjemahkan sebagai anak dara perawan, mungkin hanya seorang wanita yang sudah berumah tangga atau segera hendak menikah. Di zaman itu di tanah Israel ada banyak wanita yang akan mengandung melahirkan anak, apa istimewanya? Ini menjelaskan bahwa pertanda bukanlah apa yang mudah dilihat dengan mata manusia, mungkin bukan mukjizat hebat, rahasianya adalah hanya mata manusia yang telah dibukakan oleh Allah, manusia barulah bisa melihat. (Mengenai 7:14 dikutip dalam Perjanjian Baru, silahkan lihat renungan besok).

Bayi yang akan dilahirkan adalah isi dari pertanda, menunjuk kepada sebuah nubuat yang pasti akan terjadi: 「sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.」 Ternyata, jumlah tahun bertumbuh besarnya bayi ini menjadi alat penghitung waktu persekutuan dua raja, saat anak laki ini masih belum mengerti menolak yang jahat dan memilih yang baik, persekutuan dua raja itu akan dipukul kalah. Oleh karena itu, pertumbuhan bayi menjadi tanda, menunjuk kepada keselamatan yang datang dari Allah, bayi ini di dalam pandangan manusia adalah lemah, jikalaupun ia menjadi tanda juga tidak merubah bahwa ia menyimbolkan yang lemah, lalu, kehidupan yang lemah ini dapat menyaksikan keselamatan dari Allah, sesungguhnya inilah hal yang ajaib.

Renungkan: pertanda bayi tidak dipandang mata oleh Ahas, Ahas bersatu hati hanya memikirkan strategi bersekutu dengan Asyur, hatinya tidak dapat menampung bayi yang lemah. Tetapi, kuasa Allah justru nyata secara keseluruhan di atas kelemahan manusia, kelemahan mampu membuat manusia menyaksikan keselamatan. Sebenarnya cara berpikirmu lebih mendekati pengejaran Ahas atas kesuksesan, atau mendekati bayi yang lemah? Bagaimana Allah memakai kelemahanmu untuk menyaksikan keselamatan dari Dia?