Tag Archives: ranah ilahi lingkup Allah

Imamat 6:14-30

Harus dimakan di suatu tempat yang kudus

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 6:14-30 [ITB])
14 Inilah hukum tentang korban sajian. Anak-anak Harun haruslah membawanya ke hadapan TUHAN ke depan mezbah.
15 Setelah dikhususkan dari korban sajian itu segenggam tepung yang terbaik dengan minyak, serta seluruh kemenyan yang di atas korban sajian itu, maka haruslah semuanya dibakar di atas mezbah sehingga baunya menyenangkan sebagai bagian ingat-ingatannya bagi TUHAN.
16 Selebihnya haruslah dimakan oleh Harun dan anak-anaknya; haruslah itu dimakan sebagai roti yang tidak beragi di suatu tempat yang kudus, haruslah mereka memakannya di pelataran Kemah Pertemuan.
17 Janganlah itu dibakar beragi. Telah Kuberikan itu sebagai bagian mereka dari pada segala korban api-apian-Ku; itulah bagian maha kudus, sama seperti korban penghapus dosa dan korban penghapus salah.
18 Setiap laki-laki di antara anak-anak Harun haruslah memakannya; itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun; itulah bagianmu dari segala korban api-apian TUHAN. Setiap orang yang kena kepada korban-korban itu menjadi kudus.
19 TUHAN berfirman kepada Musa:
20 Inilah persembahan Harun dan anak-anaknya, yang harus dipersembahkan oleh mereka kepada TUHAN pada hari ia diurapi: sepersepuluh efa tepung yang terbaik sebagai korban sajian yang tetap, setengahnya pada waktu pagi dan setengahnya pada waktu petang.
21 Haruslah itu diolah di atas panggangan bersama-sama minyak, setelah teraduk haruslah engkau membawanya dan mempersembahkannya sebagai korban sajian, sesudah dibakar dan berpotong-potong sebagai bau yang menyenangkan bagi TUHAN.
22 Dan imam dari antara anak-anaknya yang diurapi sebagai penggantinya, haruslah mengolahnya; itulah suatu ketetapan untuk selamanya. Seluruhnya haruslah dibakar bagi TUHAN.
23 Tiap-tiap korban sajian dari seorang imam itu haruslah menjadi korban yang terbakar seluruhnya, janganlah dimakan.
24 TUHAN berfirman kepada Musa, demikian:
25 Katakanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang korban penghapus dosa. Di tempat korban bakaran disembelih, di situlah harus disembelih korban penghapus dosa di hadapan TUHAN. Itulah persembahan maha kudus.
26 Imam yang mempersembahkan korban penghapus dosa itulah yang harus memakannya; haruslah itu dimakan di suatu tempat yang kudus, di pelataran Kemah Pertemuan.
27 Setiap orang yang kena kepada daging korban itu menjadi kudus, dan bila darahnya ada yang tepercik kepada sesuatu pakaian, haruslah engkau mencuci pakaian itu di suatu tempat yang kudus.
28 Dan belanga tanah, tempat korban itu dimasak, haruslah dipecahkan, dan jikalau dimasak di dalam belanga tembaga, haruslah belanga itu digosok dan dibasuh dengan air.
29 Setiap laki-laki di antara para imam haruslah memakannya; itulah persembahan maha kudus.
30 Tetapi setiap korban penghapus dosa, yang dari darahnya dibawa sebagian ke dalam Kemah Pertemuan untuk mengadakan pendamaian di dalam tempat kudus, janganlah dimakan, melainkan dibakar habis dengan api.

Imamat 6:14-30 terutama menjelaskan peran imam dalam berbagai tata cara persembahan. Tata cara yang dicatat di perikop ini sangat khusus, mencatat bahwa imam hanya boleh makan persembahan korban di tempat kudus, 6:16 menjelaskan Selebihnya haruslah dimakan oleh Harun dan anak-anaknya; haruslah itu dimakan sebagai roti yang tidak beragi di suatu tempat yang kudus, haruslah mereka memakannya di pelataran Kemah Pertemuan; 6:26 Imam yang mempersembahkan korban penghapus dosa itulah yang harus memakannya; haruslah itu dimakan di suatu tempat yang kudus, di pelataran Kemah Pertemuan; 6:29 Setiap laki-laki di antara para imam haruslah memakannya; itulah persembahan maha kudus Bagaimana seharusnya kita memahami ketetapan peraturan tersebut?

Pertama-tama, tempat yang kudus yang disebutkan itu mengacu pada pelataran Kemah Pertemuan. Menurut Kel. 40:33 Didirikannyalah tiang-tiang pelataran sekeliling Kemah Suci dan mezbah itu, dan digantungkannyalah tirai pintu gerbang pelataran itu, pelataran Kemah Pertemuan mengacu pada area Kemah Suci itu sendiri beserta mezbah korban bakaran, jadi para imam harus memakan bagian persembahan korban di area itu, karena itu adalah lingkup ranah ilahi Allah, itulah tempat yang kudus (sebagaimana definisi kudus = berada di ranah ilahi milik Allah), karena korban mewakili persembahan manusia kepada Allah, maka dalam proses persembahan itu korban harus melintasi garis batas, melalui langkah-langkah ritual pengorbanan yang melintasi garis batas (rite de passage), korban yang duniawi masuk ke dalam ranah kekudusan. Oleh karena itu, korban yang masuk ke pelataran Kemah Suci adalah sesuatu yang telah melalui proses penyucian pengudusan. Maka barang persembahan korban ini tidak dapat menjadi duniawi lagi. Oleh karena itu, harus ditangani di dalam lingkup ranah kudus, jika tidak maka akan mencampur aduk yang kudus dengan duniawi, merusak ketertiban (pemisahan).

Imam harus makan di tempat kudus, yaitu di pelataran Kemah Suci. Mereka adalah sekelompok orang yang dikuduskan dan harus berurusan dengan barang korban ini di tempat kudus, mereka tidak boleh makan yang beragi, yang melambangkan bahwa mereka tidak boleh terkontaminasi oleh kecemaran. Dengan demikian, mereka dapat memastikan kekudusan barang korban sekaligus memastikan kekudusan tempat kudus, dengan demikian memastikan kehadiran penyertaan Allah. Makan di tempat kudus adalah sakramen, juga perjamuan kudus, hanya orang yang dikuduskan yang bisa makan dan minum bersama Tuhan.

Renungkan:
Di era Perjanjian Baru, semua orang adalah imam. Kita orang Kristen adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Sejak kita menjadi imam, kita harus memastikan kekudusan diri kita sendiri. Jangan karena kebutuhan dasar seperti makan dan minum, sehingga lupa untuk menghilangkan ragi, ini melambangkan hidup kita juga harus menyingkirkan segala kenajisan dan memastikan kemurnian kita sendiri. Sering kali kita akan menyalahgunakan kasih karunia Kristus, berpikir bahwa Dia telah membayar harga untuk kita, jadi kita tidak perlu terlalu mempermasalahkan kenajisan yang ada pada diri kita sendiri, sehingga kita memandang anugerah Tuhan itu murahan, dan kita tidak bisa melihat tanggung jawab berat di belakang anugerah!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 1:2-9 (2)

Korban api-apian yang baunya menyenangkan Allah

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:2-9 [ITB])
2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. 4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. 6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu. 8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. …』」

Korban bakaran selain dipersembahkan bagi TUHAN, juga memiliki fungsi mengadakan pendamaian (Im. 1:4), tetapi juga merupakan korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN (Im. 1:9, 13, 17), bagaimana kita seharusnya memahami kedua karakteristik dari korban bakaran ini?

Imamat 1:4 menjelaskan korban bakaran yang berkenan dalam dapat mengadakan pendamaian baginya (Im. 1:4), Kata mengadakan pendamaian (kĭppěr) ini memiliki diskusi yang sangat banyak di dunia akademis, para peneliti sepakat bahwa kata ini memiliki makna terutama kudus, dan jika kata ini ditempatkan dalam konteks terkait murka Allah, memiliki arti penebusan (ransom). Kata ini biasanya digunakan bersama-sama dengan kata bagi seseorang (misal ayat 4 mengadakan pendamaian baginya, berarti seseorang menahirkan tempat kudus dan menebus bagi orang itu, karena kenajisan orang (baik moral atau tidak bermoral) akan sering mencemari tempat kudus oleh karena itu, korban bakaran memiliki fungsi mengadakan pendamaian, menjaga kekudusan tempat kudus dan memastikan penyertaan hadirat Allah. Dalam sejarah persembahan korban Israel, fungsi mengadakan pendamaian dari korban bakaran berangsur-angsur digantikan oleh korban penghapus dosa, seiring berjalannya waktu, fungsi utama korban bakaran adalah untuk mempersembahkan korban. Berikut ini juga dijelaskan pengertian korban api-apian.

Bagaimana kita memahami korban api-apian yang baunya menyenangkan? Umumnya para peneliti berpendapat bahwa baunya yang menyenangkan Allah ini terkait penghapusan murka Allah. Murka ini bukanlah kemarahan emosional, melainkan sikap dasar Allah terhadap dosa dan kenajisan. Karena Allah adalah kudus, kodrat-Nya sendiri akan menyingkirkan kenajisan, jika seseorang yang najis berani memaksa masuk ke lingkup kudus, maka Allah wajib murka, harus menyingkirkan yang najis hilang dari lingkup kudus. Oleh karena itu, imam dari tradisi Perjanjian Lama sangat mementingkan urusan terkait penghapusan murka Allah, ini bukan menghibur kemarahan anak kecil, tetapi masalah yang sangat serius agar kekudusan Allah tidak dilanggar. Api dari korban bakaran mengubah korban menjadi asap yang harum, dari sudut pandang manusia, api ini mengubah korban dari ranah manusia naik ke ranah lingkup ilahi, dan melambangkan penghapusan murka. Karena ini merupakan urusan penghapusan murka Allah, maka pengadaan pendamaian dari korban bakaran memiliki makna penebusan (ransom).

Renungkan:
Apakah hidup Anda atau saya tahir? Sering kali, dosa-dosa kita dengan sengaja atau tidak sengaja membuat najis tempat kediaman Allah. Meskipun di era Perjanjian Baru, kita tidak perlu khawatir akan kehadiran penyertaan Tuhan meninggalkan kita, karena persembahan Yesus Kristus di kayu salib telah sepenuhnya menghapus murka Allah, tetapi ini tidak berarti bahwa kita dapat berbuat dosa sesuka hati. Berdoa agar Allah membantu kita memahami dan berterima kasih atas korban penghapus dosa dari Kristus yang Ia lakukan demi kita, menghapuskan murka Allah sehingga membuat kita memiliki hidup baru dan tidak lagi hidup di bawah murka Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 1:2-9

Berkenan di hadapan TUHAN

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:2-9 [ITB])
2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. 4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. 6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu. 8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. …』」

Imamat pasal 1 berbicara tentang aturan korban bakaran, dalam bahasa asli ‘ōlāh (korban bakaran) dapat dipahami sebagai korban yang membubung ke atas, simbol yang mewakili korban dipersembahkan sebagai wangi-wangian yang baunya menyenangkan dipersembahkan kepada Allah di surga. Dalam peraturan korban bakaran, korban (qŏrbān), yakni kata korban yang disebutkan di Markus 7:11 … sudah digunakan untuk korban yaitu persembahan kepada Allah, kata ini sering sekali muncul (Im. 1:2, 3, 10, 14), menjelaskan bahwa korban bakaran itu sendiri adalah korban yang dipersembahkan kepada Allah, karena itu adalah persembahan, maka berharap pihak penerima akan berkenan sukacita menerimanya, tetapi bagaimana memastikan bahwa persembahan korban ini diterima berkenan di hadapan Allah?

Dalam mempersembahkan korban bakaran, api yang digunakan adalah api yang datang dari Allah (Im. 9:24), segala yang datang dari Allah adalah sesuatu yang merupakan bagian dari ranah ilahi milik Allah, dan definisi kudus juga adalah makna yang merupakan bagian dari ranah ilahi (lingkup ilahi), kita dapat memahami bahwa ini adalah api semacam api kudus, adalah api yang datang dari Allah; api ini bukan api umum yang dipakai oleh manusia (Im.10:1), api umum ini bukan bagian dari ranah ilahi milik Allah, itu adalah api manusia. Api kudus adalah prasyarat untuk memastikan korban bakaran berkenan diterima, karena api yang dipakai adalah api Allah, api dari ranah ilahi milik Allah membakar korban yang dipersembahkan ini, itu melambangkan pengorbanan yang berkenan diterima oleh Allah, dan oleh karena itu, api kudus ini tidak boleh padam, jika tidak, maka korban persembahan tidak akan bisa berkenan di terima di hadapan Allah.

Sering kali, kita mengandalkan upaya manusia, memberikan persembahan yang paling mahal harganya kepada Allah, dan juga dengan kemampuan, hikmat dan relasi diri sendiri untuk menyalakan api persembahan, dan berharap Allah akan berkenan menerima pemberian kita, tetapi ternyata diterima berkenan atau tidak berkenannya persembahan korban bukan tergantung pada usaha manusia, melainkan mengandalkan api kudus anugerah dari Allah.

Ini menggambarkan dua poin:
(1) tidak peduli berapa mahal persembahan orang, kecuali berkenan kepada Allah, maka persembahan itu sia-sia;
(2) manusia sebenarnya tidak memiliki modal untuk memberikan persembahan dengan mempertimbangkan besarnya usaha atau mahalnya harga persembahan untuk menyenangkan Allah, maka orang tidak patut mencoba untuk jual beli dengan Allah, tidak patut mencoba menyuap Allah. Karena penerimaan suatu persembahan sepenuhnya merupakan inisiatif Allah. Memang benar, manusia boleh yang secara proaktif mempersembahkan persembahan korban, menurut sebagian peneliti, korban bakaran adalah bentuk persembahan sukarela, bukan persembahan wajib, tetapi inisiatif sukarela untuk memberikan persembahan tidak akan menjadi prasyarat perkenan Allah, dan terlebih tidak boleh karena persembahan inisiatif sukarela maka ingin mengontrol Allah untuk berkenan menerima.

Renungkan:
Korban apa yang Anda persembahan kepada Allah? Apakah Anda berharap Allah berkenan menerimanya? Hanya ketika korban yang dibakar oleh api suci yang dapat melambangkan perkenan penerimaan Allah, api manusia tidak dapat mencapai tujuan ini, ini artinya, kita tidak patut mempersembahkan persembahan dengan cara kita sendiri, meskipun persembahan itu sendiri mahal harganya, seperti lembu yang disebutkan dalam pasal ini (1:3) lebih mahal daripada kambing domba (1:10) dan burung tekukur atau dari anak burung merpati (1:14), dan tidak dapat menjamin perkenan penerimaan Allah. Hanya api kudus (melambangkan: cara Allah, cara yang sesuai kehendak Allah) yang dapat membakar semua korban dan memastikan perkenan penerimaan Allah. Apakah Anda telah mempersiapkan hidup Anda memasuki ranah ilahi Allah?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.