Tag Archives: Ukupan

Bilangan 16:1-3

「Menghasut dan Binasa」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 16:1-3 [ITB])
1 Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang 2 untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan. 3 Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?

Bilangan pasal 12 sampai 16 sebanyak tiga kali berbicara tentang kepemimpinan Musa mendapat tantangan provokasi (perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut), yang pertama adalah saudara perempuan Musa, Miryam dan saudaranya, Harun (pasal 12), yang segera berkembang menjadi sepuluh mata-mata yang beriman kecil (pasal 13 – 14), dan kemudian berkembang menjadi 250 pemimpin seperti kelompok Korah, Datan dan Abiram (pasal 16). Insiden-insiden ini terjadi pada awal perjalanan padang gurun Israel, akibatnya, memasuki Tanah Perjanjian tertunda selama tiga puluh delapan tahun sampai generasi pertama Keluaran dari Mesir semuanya mati di padang belantara. Insiden-insiden ini juga menunjukkan bahwa sisi gelap hakikat manusia di antara umat Allah, kecemburuan dan fitnah, perselisihan dan pemberontakan, dan provokasi pemberontakan semuanya muncul. Pengalaman belantara adalah memurnikan produk-produk rendahan ini satu per satu.

Bilangan 16:1-35 berbicara tentang pemberontakan Korah dan komplotannya, dapat dibagi menjadi tiga poin berikut: 

1 Pemberontakan dan fitnah (ayat 1-15): Korah berpikir dirinya tinggi sama-sama seperti Musa dan Harun termasuk suku Lewi yang terkenal dan Kehat, bagaimana mungkin hanya Musa dan Harun yang diijinkan mempersembahkan ukupan di hadapan TUHAN? Mereka menyerang Musa dan Harun bahwa mereka berdua meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN. Mereka bahkan mengumpulkan segenap umat itu melawan kedua orang tersebut, merasa punya alasan yang benar untuk mempersembahkan ukupan di hadapan TUHAN. Tetapi keimamatan Harun bukan karena ia mengangkat diri sendiri, tetapi merupakan pemilihan Allah. Sedangkan Datan dan Abiram dari suku Ruben berpikir bahwa mereka adalah keturunan putra sulung Yakub, kepala dari suku-suku lain, bagaimana bisa berada di belakang suku Yehuda? Mereka bahkan memfitnah Musa membawa orang-orang keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (mengacu pada Mesir), tetapi justru tidak membawa mereka ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, memfitnah dan memutarbalikkan kebenaran.

2 Kemuliaan dan syafaat (ayat 16-30): Seperti dua peristiwa pemberontakan sebelumnya, tampaklah kemuliaan TUHAN (Bil. 12:5; 14:10; 16:19) untuk menghancurkan mereka. Untungnya, Musa dan Harun berdoa syafaat, sehingga memperkecil lingkup hukuman, dan hanya menghukum mereka yang memimpin dalam pemberontakan.

3 Bumi terbelah dan api yang menelan (ayat 31-35): Musa meminta kepada TUHAN untuk menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi (menciptakan, bārā’ kata kerja bentuk diperkuat Pi‘el), tanah membelah dan menelan komplotan Korah. Api keluar dari TUHAN, dan menelan 250 orang yang mempersembahkan ukupan. Mereka menolak untuk naik ke Tanah yang dijanjikan, dan tanah menelan mereka, dan mereka semua turun ke dunia orang mati. Mereka ingin membuktikan diri mereka benar adanya, memegang api (arang) dan membubuhkan dupa, tetapi api justru menelan mereka.

Renungkan:
Dalam ibadat yang paling kudus, ada tindakan yang paling hina. Bagaimana seharusnya kita berhati-hati?
Martin Luther mengatakan bahwa semua orang adalah imam, tetapi tidak semua orang adalah pendeta, pelayanan penuh waktu adalah datang dari pemilihan Allah, diperlengkapi pembelajaran kebenaran Firman, dan karunia Roh Kudus, bukan merupakan sesuatu yang bisa diambil semaunya berdasarkan keinginan pribadi.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Imamat 16:8-19

Kambing jantan yang mati di hari mengadakan pendamaian

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 16:8-19 [ITB])
8 dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi TUHAN dan sebuah bagi Azazel.
9 Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi TUHAN itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa.
10 Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan TUHAN untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun.
11 Harun harus mempersembahkan lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya; ia harus menyembelih lembu jantan itu.
12 Dan ia harus mengambil perbaraan berisi penuh bara api dari atas mezbah yang di hadapan TUHAN, serta serangkup penuh ukupan dari wangi-wangian yang digiling sampai halus, lalu membawanya masuk ke belakang tabir. 13 Kemudian ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian yang di atas hukum Allah, supaya ia jangan mati.
14 Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali.
15 Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah itu seperti yang diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikkannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu.
16 Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.
17 Seorangpun tidak boleh hadir di dalam Kemah Pertemuan, bila Harun masuk untuk mengadakan pendamaian di tempat kudus, sampai ia keluar, setelah mengadakan pendamaian baginya sendiri, bagi keluarganya dan bagi seluruh jemaah orang Israel.
18 Kemudian haruslah ia pergi ke luar ke mezbah yang ada di hadapan TUHAN, dan mengadakan pendamaian bagi mezbah itu. Ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan dan dari darah domba jantan itu dan membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya. 19 Kemudian ia harus memercikkan sedikit dari darah itu ke mezbah itu dengan jarinya tujuh kali dan mentahirkan serta menguduskannya dari segala kenajisan orang Israel.

Imamat 16 menjelaskan prosedur ritual pengorbanan di hari mengadakan pendamaian, ini adalah satu tahu satu kali hari mengadakan pendamaian, hal yang paling penting dalam ritual ini melibatkan dua ekor kambing jantan, imam akan membuang undi (cast lots) atas dua ekor kambing jantan ini, agar Allah yang menentukan kambing jantan mana yang dipersembahkan mati sebagai korban penghapus dosa, mana yang akan hidup-hidup dilepaskan ke padang gurun. Ayat 16:8 menjelaskan adalah kambing jantan yang diundi mati dipersembahkan untuk TUHAN, kambing jantan yang diundi hidup adalah untuk Azazel. Hari ini kita akan merenungkan kambing jantan yang diundi mati, dan besok kita akan merenungkan kambing jantan yang hidup.

Seperti Imamat pasal 4 tentang korban penghapus dosa, demikian juga darah kambing jantan melalui tata cara darah untuk menahirkan tempat kudus atas semua dosa dan kecemaran kenajisan umat Israel (16:16), ritual tata cara penggunaan darah (16:18-19) secara dasarnya sama dengan yang dijelaskan di Imamat 4. Namun, Imamat 16:12-15 mencatat peraturan persembahan korban penghapus dosa yang tidak disebutkan dalam Imamat 4, yakni tentang imam setahun sekali di hari mengadakan pendamaian akan memasuki Ruang Mahakudus, pertama-tama ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian agar imam tidak bisa langsung melihat tabut perjanjian, untuk menjamin keselamatan imam. Kemudian imam harus harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas di bagian muka dan ke depan tutup pendamaian tujuh kali, lalu dengan jarinya memercikkan darah kambing jantan korban penghapus dosa ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu tujuh kali, yang merupakan salah satu tata cara ritual penggunaan darah yang paling mendalam, menahirkan membersihkan tempat kudus terdalam, menghapuskan noda dosa yang terdalam.

Kata tutup pendamaian berasal dari kata kĭppěr, seperti yang dijelaskan dalam renungan Imamat 1:2-9 (2), kata kĭppěr memiliki makna suci kudus dan mengadakan pendamaian, tetapi ketika digunakan pada tutup pendamaian maka kata kĭppěr juga memiliki makna penutup (cover), oleh karena itu takhta pendamaian terdapat dua kerub yang terbuat dari emas murni, kedua kerub ini merentangkan sayapnya untuk menutupi tabut perjanjian, melambangkan takhta hadirat penyertaan Allah, dan juga menghubungkan tabut perjanjian, melambangkan Perjanjian yang dibuat Allah dengan umat Israel. Dengan demikian, tutup pendamaian / takhta pendamaian yang dalam bahasa Inggris mercy seat tidak ada kaitan secara langsung dengan konsep mercy belas kasih kemurahan, dan sulit bagi para peneliti untuk menerjemahkan kata ini. Namun, tutup pendamaian / takhta pendamaian terkait dengan takhta kehadiran Allah, dan juga terkait perjanjian antara Allah dan umat-Nya, yang juga merupakan inti iman kitab Imamat, inti yang harus dilaksanakan setahun sekali mendapatkan penahiran, untuk memastikan kehadiran penyertaan kekal Allah.

Renungkan:
Dengan demikian, darah kambing jantan yang mati membawa kita ke inti iman: kehadiran penyertaan dan perjanjian. Allah hadir di tempat maha kudus, dan tabut perjanjian di tempat maha kudus melambangkan perjanjian antara Allah dan manusia. Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus adalah kambing jantan yang mati itu. Darah-Nya membawa kita ke hadirat penyertaan dan perjanjian Allah. Dia membersihkan tempat kudus dengan darah-Nya, memungkinkan setiap penyembah mengalami berkat hadirat penyertaan Allah selamanya. Kita juga telah mengalami keselamatan dalam perjanjian kekal. Di hadapan domba yang mati ini, kita hanya bisa mengucap syukur berterima kasih, dan tidak melupakan anugerah Allah ini!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 30:1-10, 34-38

Mezbah pembakaran ukupan dan ukupan kudus

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 30:1-10, 34-38 [ITB])
1Haruslah kaubuat mezbah, tempat pembakaran ukupan; haruslah kaubuat itu dari kayu penaga;
2 sehasta panjangnya dan sehasta lebarnya, sehingga menjadi empat persegi, tetapi haruslah dua hasta tingginya; tanduk-tanduknya haruslah seiras dengan mezbah itu.
3 Haruslah kausalut itu dengan emas murni, bidang atasnya dan bidang-bidang sisinya sekelilingnya, serta tanduk-tanduknya. Haruslah kaubuat bingkai emas sekelilingnya.
4 Haruslah kaubuat dua gelang emas untuk mezbah itu di bawah bingkainya; pada kedua rusuknya haruslah kaubuat gelang itu, pada kedua bidang sisinya, dan haruslah gelang itu menjadi tempat memasukkan kayu pengusung, supaya dengan itu mezbah dapat diangkut.
5 Haruslah kaubuat kayu pengusung itu dari kayu penaga dan kausalutlah dengan emas.
6 Haruslah kautaruh tempat pembakaran itu di depan tabir penutup tabut hukum, di depan tutup pendamaian yang di atas loh hukum, di mana Aku akan bertemu dengan engkau.
7 Di atasnya haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-lampu, haruslah ia membakarnya.
8 Juga apabila Harun memasang lampu-lampu itu pada waktu senja, haruslah ia membakarnya sebagai ukupan yang tetap di hadapan TUHAN di antara kamu turun-temurun.
9 Di atas mezbah itu janganlah kamu persembahkan ukupan yang lain ataupun korban bakaran ataupun korban sajian, juga korban curahan janganlah kamu curahkan di atasnya.
10 Sekali setahun haruslah Harun mengadakan pendamaian di atas tanduk-tanduknya; dengan darah korban penghapus dosa pembawa pendamaian haruslah ia sekali setahun mengadakan pendamaian bagi mezbah itu di antara kamu turun-temurun; itulah barang maha kudus bagi TUHAN.
34 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Ambillah wangi-wangian, yakni getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi-wangian itu serta kemenyan yang tulen, masing-masing sama banyaknya. 35 Semuanya ini haruslah kaubuat menjadi ukupan, suatu campuran rempah-rempah, seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah, digarami, murni, kudus.
36 Sebagian dari ukupan itu haruslah kaugiling sampai halus, dan sedikit dari padanya kauletakkanlah di hadapan tabut hukum di dalam Kemah Pertemuan, di mana Aku akan bertemu dengan engkau; haruslah itu maha kudus bagimu.
37 Dan tentang ukupan yang harus kaubuat menurut campuran yang seperti itu juga janganlah kamu buat bagi kamu sendiri; itulah bagian untuk TUHAN, yang kudus bagimu.
38 Orang yang akan membuat minyak yang semacam itu dengan maksud untuk menghirup baunya, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.

Indahnya saat yang teduh
menghadap takhta Bapaku:
kunaikkan doa padaNya,
sehingga hatiku lega.
Di waktu bimbang dan gentar,
jiwaku aman dan segar;
‘ku bebas dari seteru
di dalam saat yang teduh.

Dalam pasal sebelumnya, setelah berbicara tentang imam ditahbiskan untuk tugas imamat dan korban bakaran harian, pasal ini melanjutkan berbicara tentang tugas penting imamat lainnya: altar tempat pembakaran ukupan dan pembuatan ukupan. Dapat dilihat dari beberapa aspek berikut ini:

(1) Spesifikasi: mezbah pembakaran ukupan dibuat dari kayu akasia disalut dengan emas murni, juga dikenal sebagai mezbah emas, untuk mencerminkan kemuliaan Allah. Panjang dan lebarnya masing-masing sekitar 45 cm (satu hasta panjangnya dan lebarnya), dan bagian atasnya berbentuk bujur sangkar. Tingginya sekitar 90 cm (dua hasta), sama tingginya dengan pinggang seseorang, sehingga imam bisa membakar ukupan di atas mezbah.

(2) Lokasi: mezbah pembakaran ukupan diletakkan tepat di tengah-tengah tempat kudus, dekat dengan tabir yang memisahkan tempat kudus dan tempat maha kudus. Berada di satu garis sumbu dengan Tabut Perjanjian yang ada di tempat maha kudus, dengan mezbah tembaga yang ada di halaman tabernakel, dengan seluruh garis sumbu tabernakel. Adalah perkakas ibadah yang paling dekat dengan tempat maha kudus, ini menekankan pentingnya mezbah pembakaran ukupan.

(3) Fungsi: mezbah pembakaran ukupan hanya digunakan untuk satu tujuan: membakar ukupan. Imam setiap pagi dan petang harus membakar ukupan saat membersihkan dan menyalakan penerangan, menyatakan bahwa ini adalah pelayanan non-stop setiap hari, bahkan hari Sabat dan hari raya khusus tidak terkecuali. Ukupan yang dibakar dibuat dengan formula khusus, dan hanya dibakar dan dipersembahkan kepada Allah, tidak untuk tujuan lain apapun.

Ayat 34-38 berbicara tentang cara pembuatan ukupan, tidak hanya bahan, campuran perbandingan harus sesuai dengan ketentuan Allah. Harus mengambil sebagian ukupan, digiling sangat halus, diletakkan di hadapan tabut hukum di dalam Kemah Pertemuan (Kel. 36:36). Melambangkan bahwa orang harus berdoa sesuai dengan kehendak Allah, doa harus teliti (panjang, lama, halus, berat), murni (tidak ada tercampur sedikit pun bahan dari diri sendiri), dan berdoa hanya dibawa ke hadapan Allah saja (datang di depan takhta pendamaian, tempat di mana Allah dan manusia bertemu).

Renungkan:
(1) Membakar ukupan melambangkan doa. Perjanjian Baru mencatat bahwa ketika imam Zakharia dari rombongan Abia mendapat giliran untuk membakar ukupan di Bait Allah, orang-orang berdoa di luar Bait, menjelaskan kaitan hubungan antara membakar ukupan dan doa (Lukas 1:8-10).

(2) Dengan membakar ukupan, para penyembah mengungkapkan iman mereka yang paling tulus, pikiran terdalam, dan permohonan yang paling tak berdaya di hadapan Allah. Semua emosi, pengakuan penyesalan, keluhan kesusahan, pujian syukur, semuanya terungkap di sini. Itu seperti seorang imam yang membakar ukupan, asap ukupan bergulung naik, mencapai takhta pendamaian. Demikian juga doa, seperti memiliki dua sayap, naik kepada Allah, membawa dan mengutarakan isi hatiku. Itu tidak hanya memastikan kehadiran penyertaan Allah, tetapi juga meningkatkan spiritualitas rohani manusia.

Indahnya saat yang teduh
menghadap takhta Bapaku:
kunaikkan doa padaNya,
sehingga hatiku lega.
Di waktu bimbang dan gentar,
jiwaku aman dan segar;
‘ku bebas dari seteru
di dalam saat yang teduh.


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 19-40 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.