Tag Archives: Laut Teberau

Yesaya 64:1-3

「Kiranya Engkau Mengoyakkan Langit dan Turun」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 64:1-3 [ITB])
1 Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu 2 seperti api membuat ranggas menyala-nyala dan seperti api membuat air mendidih, untuk membuat nama-Mu dikenal oleh lawan-lawan-Mu, sehingga bangsa-bangsa gemetar di hadapan-Mu, 3 karena Engkau melakukan kedahsyatan yang tidak kami harapkan, seperti tidak pernah didengar orang sejak dahulu kala!

Yesaya 64 melanjutkan seruan ratapan dalam Yes. 63:15-19 di atas, dan di ayat 9 (lihat Yes. 64:1-9) menggunakan seruan untuk memohon belas kasihan dan penyertaan Allah. Hari ini kita akan merenungkan seruan doa permohonan ayat 1-3, dan besok kita akan merenungkan doa permohonan ayat 4-9.

Konten dalam perikop 64:1-3 mengadopsi gambar Allah menampakkan diri (Teofani) yang khas dari Perjanjian Lama (Teofani: Allah menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh yang bersangkutan, sehingga yang bersangkutan sadar bahwa mereka berhadapan dengan Allah sendiri), yaitu gambaran ketika TUHAN menampakkan diri di Gunung Sinai dan menyatakan diri kepada orang-orang Israel. Dan Yesaya ketiga yang hidup di masa Bait Suci kedua dan masa kerajaan Persia, ia berdoa memohon agar pengalaman yang sama datang dan dialami orang-orang Israel. Dari isinya, kita melihat bahwa nabi Yesaya ini berdoa meminta Allah menampakkan diri lebih spektakuler dan besar daripada saat di Gunung Sinai dahulu.

Dalam teks bahasa aslinya, ayat 1 (dalam bahasa asli di bagian akhir ayat 63:19) dan ayat 3 (dalam bahasa asli di ayat 64:2) diakhiri dengan Engkau turun di hadapan-Mu gunung-gunung berguncang (yaradta mipaneka harim nazollu, lihat terjemahan ITL atau BIMK), ini menunjukkan bahwa inti utama ayat 1-3 adalah bahwa Allah datang secara pribadi (sifat Allah yang konsisten … bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka … 63:9), sehingga semua gunung terguncang oleh karena Allah datang secara pribadi menampakkan diri, serupa dengan situasi ketika TUHAN turun di Gunung Sinai (Kel. 19:18), dan perbedaan apa yang diminta dalam permohonan nabi Yesaya dengan kitab Keluaran adalah bahwa nabi berdoa meminta agar gunung-gunung terguncang, bukan hanya satu gunung Sinai. Kelompok gunung-gunung ini mungkin merupakan metafora bagi para dewa yang disembah mezbah-mezbah di tempat-tempat tinggi di gunung-gunung. Dewa-dewa ini disembah oleh bangsa-bangsa asing, tetapi penampakan diri Allah membuat terguncang semua gunung-gunung yang menyembah dewa-dewa itu, sehingga bangsa-bangsa asing itu memahami bahwa TUHAN adalah Allah yang memiliki kuasa besar adalah Allah yang sejati. Selain itu, ayat 1 menggambarkan TUHAN mengoyakkan langit, dalam teks aslinya dapat diartikan sebagai merobek langit menjadi berkeping-keping, ini adalah metafora bahwa tidak ada apapun yang dapat menghalangi Allah datang turun, ini adalah kedatangan yang membuat bumi terkejut. Dan Kitab Suci menggambarkan Dia turun dari langit, ini terkait dan menanggapi doa permohonan di ayat 63:15 Pandanglah dari sorga dan lihatlah dari kediaman-Mu yang kudus dan agung, ini menjelaskan nabi Yesaya tidak sabar lagi terhadap kegelapan yang ada di depan mata ini, meminta Allah jangan hanya duduk di surga melihat ke bawah saja, tetapi benar-benar turun dari Sorga (langit), biarkan orang-orang dari bangsa-bangsa asing melihat karya Allah yang sejati, dan kehadiran-Nya membawakan hormat dan takut.

Ayat 2 menuliskan penampakan diri TUHAN dengan api, yang sama dengan catatan bahwa gunung penuh api ketika Allah turun di gunung Sinai (Kel. 19:18). Api ini adalah simbol kehadiran Allah, digunakan untuk membakar kayu kering yang bertepatan dengan pengalaman Musa akan semak yang terbakar (Kel. 3:2), api digunakan untuk membuat air mendidih berkorespondensi dengan TUHAN membuat air Laut Teberau (Laut Merah / Laut Kolsom) Kel. 14:21. Tetapi kali ini berbeda, jika dahulu laut terbelah dihembus oleh angin, Allah secara tidak langsung meniupnya menggunakan angin alam, tetapi kali ini dengan api dan Allah sendiri secara langsung memisahkan air dengan kehadiran api. Nabi Yesaya meminta pengalaman yang lebih nyata dan lebih besar dari penampakan diri TUHAN dibandingkan Keluaran dari Mesir, yang tujuannya yakni yang dinyatakan dalam ayat 2 untuk membuat musuh mengetahui nama TUHAN, dan juga membuat bangsa-bangsa gemetar di hadapan Allah!

Renungkan:
Imanuel, Tuhan beserta kita! Kita mungkin berpikir bahwa kehadiran Tuhan adalah kehadiran kelembutan dan cinta, tetapi nabi Yesaya berdoa meminta hadirat Tuhan adalah kehadiran penyertaan-Nya yang penuh wibawa dan kuasa. Kehadiran tersebut adalah agar musuh mengetahui nama TUHAN, juga agar bangsa-bangsa gemetar di hadapan Allah, dan menghancurkan semua mezbah-mezbah berhala bangsa-bangsa di atas gunung-gunung, sehingga kemuliaan-Nya akan nyata di seluruh bumi. Apakah Anda merindukan kehadiran Allah seperti itu? Bagaimana kehadiran Allah menjadi kekuatan pengharapan Anda?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Keluaran 2:1-10

Lahir dan pertemuan ajaib

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 2:1-10 [ITB])
1 Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; 2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. 3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; 4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.
5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya.
6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: Tentulah ini bayi orang Ibrani.
7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri? 8 Sahut puteri Firaun kepadanya: Baiklah. Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. 9 Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu. Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya.
10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: Karena aku telah menariknya dari air.

Pasal ini mulai beralih kepada satu keluarga dan seseorang, keluarga ini berani melanggar perintah Firaun, dan anak laki-laki yang lahir dari keluarga ini kelak menjadi penyelamat Israel.

Catatan peristiwa ini penuh dengan ironi dan kejutan, serta merupakan model sastra hikmat. Pertama-tama telah melanjutkan pasal 1, hikmat dan keberanian tiga wanita bidan menyelamatkan nyawa bayi laki-laki itu merusak strategi Firaun: pertama, ibu anak itu, yang secara harfiah mengikuti instruksi Firaun dan memasukkan anak itu ke sungai Nil. Dan anak bayi itu diletakkan dalam peti pandan (tēbâ) dalam bahasa Ibrani asli adalah kata yang sama dengan bahtera Nuh (tēbâ), menunjukkan bagaimana Nuh dan keluarganya diselamatkan dari banjir, anak tersebut juga mengalami banjir diselamatkan.

Kedua, putri Firaun tidak setuju dengan perintah ayahnya, mengadopsi anak ini, yang menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas, dan keberanian moralnya kemudian juga mempengaruhi anak tersebut.

Ketiga, kakak perempuan anak itu, dengan kecerdasan dan keberaniannya, menyarankan agar putri Firaun membiarkan dia mencarikan seorang seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani (ia tidak mengatakan mencarikan ibu kandung anak itu) untuk merawat anak itu bagi putri Firaun. Lihat, setelah anak dibawa pulang kepada ibunya dan dirawat, bahkan menerima bayaran upah, keluarga ini bukankah menikmati hal indah yang tak terjangkau ini.

Bagian catatan peristiwa ini mempertahankan ketegangan kisah, sama sekali belum menyebutkan satu nama pun, tidak menyebutkan nama laki-laki dari keluarga Lewi itu juga nama perempuan Lewi istrinya, sampai pasal 6 barulah menjabarkan silsilah keluarga ini. Juga tidak lebih dulu menyebutkan bahwa anak ini memiliki saudara perempuan, dan bahkan sampai pasal 4 baru disebutkan bahwa dia masih memiliki seorang kakak laki-laki. Tentu saja, nama putri Firaun tidak disebutkan. Semua ketegangan hanya memiliki satu tujuan, orang hanya harus memperhatikan orang yang akan diutus untuk menyelamatkan Israel. Putri Firaun menamainya Musa (mōšeh), yang berarti mengatakan: Karena aku telah menariknya dari air (ayat 10), yang menandakan pekerjaan keselamatannya di kemudian hari, (Yesaya 63:11 Lalu teringatlah mereka kepada zaman dahulu kala, zaman Musa, hamba-Nya itu: Di manakah Dia yang membawa mereka naik dari laut bersama-sama dengan penggembala kambing domba-Nya? …).

Hati manusia dikuatkan oleh kasih karunia, meskipun Allah tidak bersuara berbicara, tangan-Nya terus bekerja. Rencana-Nya jauh melampaui apa yang manusia inginkan dan pikirkan, dan itu memberi orang sukacita.

Renungkan:
(1) Dalam kesulitan yang berat, Allah selalu memberi jalan kepada orang. Ketika Anda bersandar dan mempercayakan kepada Dia, Dia akan melakukannya untuk Anda.
(2) Keselamatan ajaib dari Allah pasti memiliki tujuan yang lebih besar.


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 1-18 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2014 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.