Tag Archives: api asing

Imamat 10:1-7

Kunyatakan kekudusan-Ku, Kuperlihatkan kemuliaan-Ku

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 10:1-7 [ITB])
1 Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka.
2 Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN.
3 Berkatalah Musa kepada Harun: Inilah yang difirmankan TUHAN: 『Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku.』 Dan Harun berdiam diri.
4 Kemudian Musa memanggil Misael dan Elsafan, anak-anak Uziel, paman Harun, lalu berkatalah ia kepada mereka: Datang ke mari, angkatlah saudara-saudaramu ini dari depan tempat kudus ke luar perkemahan.
5 Mereka datang, dan mengangkat mayat keduanya, masih berpakaian kemeja, ke luar perkemahan, seperti yang dikatakan Musa.
6 Kemudian berkatalah Musa kepada Harun dan kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun: Janganlah kamu berkabung dan janganlah kamu berdukacita, supaya jangan kamu mati dan jangan TUHAN memurkai segenap umat ini, tetapi saudara-saudaramu, yaitu seluruh bangsa Israel, merekalah yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu. 7 Janganlah kamu pergi dari depan pintu Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati, karena minyak urapan TUHAN ada di atasmu. Mereka melakukan sesuai dengan perkataan Musa.

Anak-anak Harun, Nadab dan Abihu mengambil api mereka sendiri, di hadapan TUHAN mempersembahkan api yang asing (’ēš zārāh) (10:1), kata zārāh dapat ditafsirkan sebagai api yang asing (strange, foreign), ilegal (unlawful) atau tidak memiliki wewenang otoritas (unauthorized), dan berdasarkan kalimat terakhir ayat 10:1, kita tahu bahwa tindakan mempersembahkan api asing tidak diperintahkan oleh TUHAN, jadi api ini belum diberi wewenang otorisasi, dan oleh karena itu ilegal. Dari ayat tersebut kita tidak dapat memastikan sumber api yang dipergunakan ini, mungkin api yang dibuat oleh orang, api biasa (common fire). Dalam tradisi imam, karena api fana ini dibawa ke ranah kekudusan, mengakibatkan campur baur keteraturan, dan ini adalah yang asing bagi ranah kekudusan.

Ayat 10:2 mencatat keluar(yāṣā’) api dari hadapan TUHAN, api kudus ini menghanguskan Nadab dan Abihu, deskripsi ini memberikan gambaran yang sama dengan ayat 9:24 menggambarkan api keluar (yāṣā’) dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan (אָכַל ‘akal memakan) korban bakaran. Imamat 9:24 mengungkapkan perkenan Allah, dan Imamat 10:2 mengungkapkan murka Allah (Im. 10:6), yang pertama adalah penerimaan Allah, yang terakhir adalah hukuman Allah. Namun, keduanya memiliki satu kesamaan yaitu, TUHAN menyucikan tempat korban dan tidak mengizinkan yang asing (zārāh) berada di ranah kekudusan, mengembalikan ibadah Kemah Suci pada tatanan dan batas-batas suci. Pemahaman interpretasi ini didukung ayat 10:3 yang menjelaskan tujuan tindakan ini bukan sekadar hukuman, tetapi kekudusan Allah harus dinyatakan, Allah harus dimuliakan, itu adalah manifestasi kekudusan ilahi.

Ayat 10:6 Janganlah kamu (Harun dan kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun) berkabung dan janganlah kamu berdukacita, supaya jangan kamu mati dan jangan TUHAN memurkai segenap umat ini, menjelaskan cara orang mendekati TUHAN terhidarkan kematian, orang-orang ini tidak boleh menguraikan rambut atau mengoyak-ngoyakkan pakaian (ITL), ini adalah tindakan menjaga keteraturan, agar memastikan bahwa mereka adalah tahir. Selanjutnya, tetapi saudara-saudaramu, yaitu seluruh bangsa Israel, merekalah yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu yakni orang mendekati yang TUHAN hendaknya menangisi dan bersedih karena yang asing (zārāh) itu telah menyebabkan hilangnya keteraturan, juga atas kematian kehidupan manusia, kesedihan seperti itu dapat menghilangkan murka Allah.

Terakhir, ayat 7 Janganlah kamu pergi (keluar) dari depan pintu Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati, karena minyak urapan TUHAN ada di atasmu, minyak urapan TUHAN yang ada di tubuh tidak boleh keluar(yāṣā’) dari pintu Kemah Pertemuan, seperti yang dijelaskan sebelumnya, minyak urapan melambangkan penyucian kekudusan dan pilihan, menunjukkan bahwa hal-hal di ranah kudus tidak boleh dibawa ke tempat duniawi, menghormati batas antara yang kudus yang ilahi dan yang dunia, dan memandang keharusan untuk menegakan keteraturan.

Renungkan:
Di era Perjanjian Baru, kematian dan kebangkitan Kristus mematahkan batasan manusia mendekati Allah. Kita memasuki ranah kekudusan dan menjadi orang-orang kudus (pada saat yang sama juga adalah orang berdosa yang mendapat anugerah), dan seluruh orang menjadi imam. Ini benar-benar anugerah. Namun, konsep batasan dalam Kitab Imamat mengingatkan kita bahwa orang yang mendekati Allah harus benar-benar suci tahir, dan jangan menganggap karena anugerah Kristus maka mendekati Allah begitu saja (bisa seenaknya), kita harus memastikan bahwa hidup kita sama sekali tidak ada yang asing (zārāh), agar kita tidak menyalahgunakan anugerah Tuhan, tetapi menjadi suci, layak untuk dipakai Tuhan, dan mempersiapkan diri untuk agar kehidupan kita menjadi manifestasi kekudusan dan kemuliaan Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.