Tag Archives: Hakikat asali

Yehezkiel 28:11-15

Hati mula-mula untuk bertingkah laku tak bercela
Oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yeh. 28:11-15 [ITB])
11 Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 12 Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. 13 Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. 14 Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya.
15 Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu.

Yehezkiel 28:11-19 adalah elegi yang dibuat TUHAN untuk raja Tirus. Ini dapat dibagi menjadi ayat 11-14 dan ayat 15-19. Bagian pertama (ayat 11-14) mengacu pada niat hati mula-mula bertingkah laku tidak bercela dari raja Tirus ketika dia diciptakan, menggunakan banyak metafora yang berbeda untuk mengilustrasikannya. Bagian kedua (ayat 15-19) menyebutkan ketidakadilan dan kejahatan dalam perdagangannya, akhirnya mendatangkan penghakiman Allah dan kehancuran kekalnya.

Pertama-tama, ayat 12 (KJV You seal up the sum, full of wisdom, and perfect in beauty) menyebutkan bahwa raja Tirus pernah menjadi gambar dari kesempurnaan, dalam bahasa teks aslinya meterai keteladanan, pada zaman kuno, meterai (seal) digunakan untuk memberikan jaminan (Kej. 38:18), perhiasan (Kel. 28:11, 21, 36), menyegel surat (1 Raj. 21:8) dan menyegel dokumen hukum (Yer. 32:11-14, Neh. 9:38,10:1), jadi kata ini melambangkan otoritas dan legitimasi. Ketika raja Tirus digambarkan sebagai meterai, itu berarti perilakunya benar-benar lurus dan dapat menjadi keteladanan yang berwibawa. Lebih lanjut, ayat 13 menjelaskan bahwa raja Tirus memakai berbagai permata di Taman Eden, ini mungkin merujuk pada pakaian istana yang dikenakan oleh raja (pakaian istana yang memakai segala macam permata), dan juga mengingatkan orang akan penutup dada imam besar, itu menunjukkan bahwa kebangsawanan raja Tirus bahkan dapat dibandingkan dengan imam besar. Terakhir, ayat 14 (KJV You are the anointed cherub that covers …, ITL Engkaulah seorang kerub yang berkembang sayapnya dan yang menaungi …) menjelaskan bahwa raja Tirus adalah kerub yang diurapi, kemunculan kerub terkait dengan taman Eden yang disebutkan ayat sebelumnya. Kita dapat memahami dari Kitab Kejadian bahwa kerub bertanggung jawab untuk mempertahankan jalan menuju pohon kehidupan di Taman Eden, lalu, raja Tirus bukan hanya kerub biasa, ia juga kerub yang diurapi, sama seperti imam yang diurapi (hanya imam besar yang diurapi), jadi dia lebih tinggi daripada kerub biasa, jadi dia dapat melakukan berjalan-jalan di gunung kudus Allah, di antara batu-batu permata yang bercahaya-cahaya.

Ayat 15 merangkum situasi asli raja Tirus ketika diciptakan sebagai tak bercela di dalam tingkah laku, baik dalam aspek moralitas, status, dan posisinya, ia dicintai dan ditinggikan oleh Allah. Tinggi aslinya bukanlah jenis tinggi yang mengklaim diri sebagai Allah, tetapi ketika Allah menciptakan dia ditugaskan untuk bertanggung jawab atas posisi penting di tempat kudus dan di Taman Eden. Ketinggiannya berasal dari ketetapan dan anugerah Allah, tetapi juga dari integritas dan keberadaan tingkah lakunya menjadi teladan bagi orang lain. Oleh karena itu, dari hakikat asali raja Tirus ketika diciptakan, kita dapat memahami bahwa bukan uang, perdagangan, status, dan banyak harta yang benar-benar membuat orang tinggi, tetapi kualitas hidup kesalehan dan rahmat Allah. Pada saat yang sama, membuat kita memahami agar kita kembali kepada hakikat asali kita diciptakan, melihat di mana Allah menempatkan kita, itu adalah yang tinggi dalam hidup kita. Dengan demikian ini, ditinggikan yang sesuai dengan kehendak Allah, tetapi ditinggikan oleh diri sendiri adalah mencari masalah.

Renungkan:
Jika seseorang dapat menghidupi kehendak Allah saat menciptakan, dan kita memahami bahwa diri kita tidak lain adalah ciptaan, maka ia adalah benar-benar tinggi. Tetapi jika kita meninggikan diri dan memperlakukan diri kita sebagai allah, maka kita semua akan direndahkan.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 21-28 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasikan pada bulan Januari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 20:10-26

Pemberontak melawan Allah di padang gurun

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 20:10-26 [ITB])
10 Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir dan menuntun mereka ke padang gurun.
11 Di sana Aku memberikan kepada mereka ketetapan-ketetapan-Ku dan memberitahukan peraturan-peraturan-Ku, dan manusia yang melakukannya, akan hidup. 12 Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka.
13 Tetapi kaum Israel memberontak terhadap Aku di padang gurun; mereka tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan mereka menolak peraturan-peraturan-Ku, yang, kalau manusia melakukannya, ia akan hidup. Mereka juga melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku dengan sangat. Maka Aku bermaksud hendak mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka di padang gurun hendak membinasakan mereka. 14 Tetapi Aku bertindak karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa, yang melihat sendiri waktu Aku membawa mereka ke luar.
15 Walaupun begitu Aku bersumpah kepadanya di padang gurun, bahwa Aku tidak akan membawa mereka masuk ke tanah yang telah Kuberikan kepada mereka, yang berlimpah-limpah susu dan madunya, tanah yang permai di antara semua negeri, 16 oleh karena mereka menolak peraturan-peraturan-Ku dan tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku; sebab hati mereka mengikuti berhala-berhala mereka. 17 Tetapi Aku merasa sayang melihat mereka, sehingga Aku tidak membinasakannya dan tidak menghabisinya di padang gurun.
18 Maka Aku berkata kepada anak-anak mereka di padang gurun: :Janganlah kamu hidup menurut ketetapan-ketetapan ayahmu dan janganlah berpegang pada peraturan-peraturan mereka dan janganlah menajiskan dirimu dengan berhala-berhala mereka. 19 Akulah TUHAN, Allahmu: Hiduplah menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan lakukanlah peraturan-peraturan-Ku dengan setia, 20 kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku, sehingga itu menjadi peringatan di antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.
21 Tetapi anak-anak mereka memberontak terhadap Aku, mereka tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan tidak melakukan peraturan-peraturan-Ku dengan setia, sedang manusia yang melakukannya, akan hidup; mereka juga melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku. Maka Aku bermaksud mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka untuk melampiaskan murka-Ku kepadanya di padang gurun. 22 Tetapi Aku menarik tangan-Ku kembali dan bertindak karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa yang melihat sendiri waktu Aku membawa mereka ke luar.
23 Walaupun begitu Aku bersumpah kepadanya di padang gurun untuk menyerakkan mereka di antara bangsa-bangsa dan menghamburkan mereka ke semua negeri, 24 oleh karena mereka tidak melakukan peraturan-peraturan-Ku dan menolak ketetapan-ketetapan-Ku dan melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku dan matanya selalu tertuju kepada berhala-berhala ayah-ayah mereka. 25 Begitulah Aku juga memberi kepada mereka ketetapan-ketetapan yang tidak baik dan peraturan-peraturan, yang karenanya mereka tidak dapat hidup. 26 Aku membiarkan mereka menjadi najis dengan persembahan-persembahan mereka, dalam hal mereka mempersembahkan sebagai korban dalam api semua yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya Kubuat mereka tertegun, agar mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN.

Yehezkiel 20 menjabarkan ulang sejarah Israel, dan perikop hari ini (Yeh. 20:10-26) mencatat sejarah bangsa Israel di padang gurun memberontak melawan Allah, tujuannya adalah agar orang Israel yang satu generasi dengan Yehezkiel mengenali sifat asali mereka adalah pemberontak, dan pemberontakan mereka tidak hanya terjadi di Mesir (Yeh. 20:5-9), tetapi juga terjadi ketika mereka berjalan di padang gurun.

Pertama-tama, kitab suci berkali-kali menunjukkan bahwa dahulu TUHAN memberikan perintah, ketetapan, dan tata cara di padang gurun di masa lalu, dan menjelaskan jika umat itu mematuhinya, mereka dapat hidup (ayat 11, 19), tetapi orang Israel tidak menaati hukum Allah, dan mereka membenci perintah Allah (ayat 13, 16, 21), tidak memelihara hari Sabat sebagai tanda perjanjian (ayat 12, 13, 16, 20, 24), ini menunjukkan bahwa pemberontakan orang Israel adalah sifat asali mereka, dari awal sampai akhir mereka adalah pemberontak. Oleh karena itu, Allah hendak mencurahkan murka-Nya kepada orang-orang ini (ayat 13, 21), tetapi Allah menyayangkan mereka dan tidak menghancurkan mereka (ayat 17). Di sini, kita melihat kemurahan Allah dan pemberontakan umat, Israel memandang rahmat Allah sudah sepatutnya, sebagai keharusan Allah memberikan anugerah, dan mereka tidak merindukan anugerah Allah dan tidak mengingat wajah asli mereka sebagai budak.

Di perikop ini beberapa kali disebutkan Sabat tanda perjanjian (ayat 12, 13, 16, 20, 24), ini mengikuti penjelasan Kej. 31:13 hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu, memelihara Sabat bukan untuk tujuan legalisme, tetapi agar Israel memiliki tata cara penggunaan waktu dalam setiap minggunya, menjalani gaya hidup seperti Allah dalam enam hari bekerja menciptakan dan beristirahat di hari ketujuh, dengan demikian menempatkan orang-orang Israel ke dalam ketertiban harmonis penciptaan. Pada saat yang sama, perjanjian Sinai menggunakan Sabat sebagai tanda perjanjian, memelihara Sabat adalah simbol perwakilan identitas Israel, pengaturan efektif agar orang Israel secara langsung ingat perjanjian. Sampai di Perjanjian baru, orang percaya beribadah di Hari Tuhan (hari Minggu), berpusat pada Kristus untuk memperingati hari kebangkitan Kristus maka dengan demikian menggantikan pemeliharaan hari Sabat dalam Perjanjian Lama. Perikop Kitab Suci berulang kali menyebutkan bahwa orang Israel tidak memelihara hari Sabat, itu menunjukkan bahwa mereka tidak lagi mengingat identitas dasar mereka dalam perjanjian dengan Allah, sama sekali tidak mengakui identitas penting mereka sebagai umat perjanjian, seolah-olah mereka tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Oleh karena itu, Perikop Kitab Suci berkali-kali mengatakan bahwa orang-orang tidak memelihara hari Sabat, apakah ini hanya berarti bahwa mereka tidak patuh hukum Allah? Bukan sekadar demikian, itu juga menunjukkan bahwa mereka telah sepenuhnya meninggalkan status mereka sebagai umat perjanjian dan telah melupakan keselamatan serta kebaikan TUHAN kepada mereka!

Renungkan:
Mengapa umat Allah memberontak terhadap Allah? Karena mereka tidak menyadari identitas perjanjian mereka sendiri, tetapi juga tidak memandang kepada Allah yang dahulu mengadakan perjanjian dengan sumpah kesetiaan, mereka tidak berupaya mempertahankan identitasnya sendiri. Sebenarnya, kita adalah jenis orang yang bagaimana maka akan memiliki jenis perilaku yang bagaimana, jika kita melupakan identitas kita maka kita akan bertindak melawan Allah. Oleh karena itu, pada saat itu Yehezkiel mengingatkan orang Israel tentang identitas diri mereka adalah umat perjanjian, dan pada saat yang sama mereka juga harus mengenali bahwa mereka dahulu adalah pemberontak. Pengenalan atas siapa diri mereka dahulu dan identitas yang kemudian, itu membuat orang-orang Israel memiliki titik mula kehidupan yang berawal pada diri Allah. Apakah ini juga titik awal Anda?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yehezkiel 20:5-9

Israel sudah berkhianat sejak di Mesir dahulu

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 20:5-9 [ITB])
5 dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH:
「Pada hari Aku memilih Israel,
Aku bersumpah kepada keturunan kaum Yakub dan menyatakan diri kepada mereka di tanah Mesir;
Aku bersumpah kepada mereka: Akulah TUHAN Allahmu!
6 Pada hari itu Aku bersumpah kepada mereka untuk membawa mereka dari tanah Mesir ke tanah yang Kupilih baginya, negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, tanah yang permai di antara semua negeri.
7 Dan Aku berkata kepada mereka: Biarlah setiap orang membuangkan dewa-dewanya yang menjijikkan, ke mana ia selalu melihat dan janganlah menajiskan dirimu dengan berhala-berhala Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.
8 Tetapi mereka memberontak terhadap Aku dan tidak mau mendengar kepada-Ku; setiap orang tidak membuangkan dewa-dewanya yang menjijikkan, ke mana ia selalu melihat, dan tidak meninggalkan berhala-berhala Mesir. Maka Aku bermaksud hendak mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka untuk melampiaskan murka-Ku kepadanya di tengah-tengah tanah Mesir. 9 Tetapi Aku bertindak oleh karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa, di mana mereka berada. Di hadapan bangsa-bangsa itu Aku menyatakan diri kepada mereka dalam hal Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir.

Yehezkiel 20 terutama menceritakan ulang sejarah yang dahulu, menggunakan tulisan pendek untuk menggugah ingatan kolektif penting dari orang-orang Israel, agar Israel mengenal hakikat asali diri mereka sendiri, dan sifat kejahatan asali mereka, mirip dengan metode pendekatan Mazmur 106, Claus Westermann menyebutnya re-presentasi sejarah (re-presentation of history), yaitu melalui puisi pendek menceritakan kembali poin utama dari sejarah, memungkinkan pembaca memiliki pemikiran sejarah masa lalu sehingga orang Israel dapat menemukan identitas mereka dalam pengertian sejarah ini.

Renungan hari ini (Yeh. 20:5-9) mengingat ulang sejarah bangsa Israel di perbudakan Mesir, disebutkan bahwa dahulu Allah memilih Israel, bersumpah kepada keturunan kaum Yakub hari (ayat 5), dan bersumpah hendak memimpin orang Israel keluar dari Mesir, memimpin mereka mencapai negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, yakni tanah perjanjian Kanaan, menggenapkan perjanjian Abraham, dan menjelaskan tanah ini adalah tanah yang permai di antara semua negeri (ayat 6). Dua ayat yang pendek ini (ayat 5-6) telah membawa pembaca kembali ke memori kolektif Israel tentang Keluaran dari Mesir, tentang tindakan keselamatan TUHAN memimpin orang Israel keluar dari Mesir, juga untuk mengingatkan pembaca tentang TUHAN menampakkan diri di Gunung Sinai dan mengadakan sumpah perjanjian dengan orang Israel, Israel menjadi umat Allah dan bangsa yang kudus, dimulai dari Gunung Sinai (Kel. 19:1-6). Oleh karena itu, Kitab Yehezkiel sekali lagi membuat bangsa Israel mengingat kembali identitas dasar mereka, jika tanpa pemilihan dari TUHAN, tanpa perjanjian dan keselamatan TUHAN, maka bangsa Israel tidak akan memiliki identitas apapun.

Namun, Kitab Suci menyebutkan bahwa ketika TUHAN menyelamatkan orang Israel dari Mesir, Dia memerintahkan mereka untuk meninggalkan kekejian yang mereka cintai. Kekejian ini adalah berhala Mesir (ayat 7), tetapi orang Israel walau telah mendapat keselamatan dari TUHAN, telah melihat tindakan besar TUHAN, masih menolak untuk benar-benar meninggalkan berhala-berhala ini, maka murka Allah akan dicurahkan pada orang-orang ini (ayat 8), tetapi karena nama-Nya Allah tidak melakukannya (ayat 9). Dengan cara ini, orang Israel sepatutnya mengetahui keselamatan dan perjanjian Allah dengan mereka bukan karena kebaikan dan kebenaran diri mereka, mereka aslinya pada dasarnya adalah pemberontak, di satu sisi mereka menerima keselamatan dari Allah, di sisi lain tidak ingin sepenuhnya meninggalkan berhala, berharap mendayung dua perahu, tetapi sikap hati berganda ini justru penyebab mereka jatuh. Oleh karena itu, Yehezkiel menceritakan ulang sejarah Israel ini, menjelaskan dua poin: (1) anugerah keselamatan dan perjanjian TUHAN tetap tidak berubah, dan identitas orang Israel tergantung pada ini; (2) orang Israel sejak awal pada dasarnya adalah kaum pemberontak, dan telah memiliki kualitas pemberontakan sejak hari pertama keluaran dari Mesir, sehingga identitas mereka sebagai umat pilihan tidak didasarkan pada kebaikan diri orang Israel sendiri.

Renungkan:
Ketika kita menelusuri asal diri kita, kita akan dapat melihat lebih banyak kebenaran tentang hakikat asali diri kita sendiri, sebagaimana kita ada sekarang semua hanya karena anugerah Allah, tidak ada tempat untuk bermegah tentang usaha diri kita. Dahulu Allah memanggil Israel umat pilihan, walau sifat hakikat asli Israel adalah pemberontak, keduanya menunjukkan kasih karunia Allah yang besar dan kedalaman dosa manusia. Jika kita semua mengenali ini, kita dapat belajar untuk rendah hati di masa sekarang, melepaskan kekerasan hati kita sendiri, dan membuka diri untuk dibentuk oleh Allah.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yehezkiel 16:15-22

Mengandalkan kecantikan diri

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 16:15-22 [ITB])
15 「Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu dan engkau menghamburkan persundalanmu kepada setiap orang yang lewat.
16 Engkau mengambil dari pakaian-pakaianmu untuk membuat bukit-bukit pengorbananmu berwarna-warni dan engkau bersundal di situ; seperti itu belum pernah terjadi dan tidak akan ada lagi. 17 Engkau mengambil juga perhiasan-perhiasanmu yang dibuat dari emas-Ku dan perak-Ku, yang Kuberikan kepadamu, dan engkau membuat bagimu patung-patung lelaki dan engkau bersundal dengan mereka. 18 Engkau mengambil dari pakaianmu yang berwarna-warni untuk menutupi mereka dan engkau mempersembahkan kepada mereka minyak-Ku dan ukupan-Ku.
19 Juga makanan-Ku yang Kuberikan kepadamu — tepung yang terbaik, minyak dan madu Kuberikan makananmu — engkau persembahkan kepada mereka menjadi persembahan yang harum, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
20 Bahkan, engkau mengambil anak-anakmu lelaki dan perempuan yang engkau lahirkan bagi-Ku dan mempersembahkannya kepada mereka menjadi makanan mereka. Apakah persundalanmu ini masih perkara enteng 21 bahwa engkau menyembelih anak-anak-Ku dan menyerahkannya kepada mereka dengan mempersembahkannya sebagai korban dalam api?
22 Dalam segala perbuatan-perbuatanmu yang keji dan persundalanmu itu engkau tidak teringat lagi kepada masa mudamu, waktu engkau telanjang bugil sambil menendang-nendang dengan kakimu dalam lumuran darahmu.

Kata penting dalam perikop ini adalah persundalan (zgh) (Yeh. 16:15, 16, 17), yang merupakan tema dari perikop ini. Perikop ini dimulai dengan engkau mengandalkan kecantikanmu (ayat 15) untuk menggambarkan apa yang Yerusalem andalkan bermasalah. Awalnya, Yerusalem sebagai seorang wanita diselamatkan dan dengan penuh belas kasihan dari TUHAN, sepatutnya dengan sepenuh hatinya percaya dan bersandar kepada TUHAN suaminya, tetapi ia berbalik percaya pada dan bersandar kecantikannya sendiri, padahal kecantikannya itu adalah pemberian TUHAN, menunjukkan bahwa Yerusalem memilih untuk percaya pada hadiah bukan Allah yang memberi hadiah, dan bahkan menggunakan kecantikan yang diberikan Allah untuk melakukan persundalan dengan orang yang lewat (‘ôvēr). Orang yang lewat adalah deskripsi yang relatif negatif dalam Perjanjian Lama, dan orang-orang ini akan memetik mengambil barang-barang dari dalam tembok yang hancur (Mazmur 80:13) juga akan merampok di pembuangan (Mazmur 89:42 ), jadi mereka bukan orang baik dan bukan orang percaya, tetapi orang asing yang tidak ada hubungannya dengan Yerusalem, tetapi Yerusalem menggunakan kecantikannya memikat orang-orang ini dan semaunya melakukan apa pun yang ia inginkan (ayat 15). Ada banyak kata dalam perikop ini yang berhubungan dengan penyembahan dewa-dewa palsu, termasuk di tempat yang tinggi (KJV) disebutkan dalam ayat 16 yang berarti altar pemujaan di tempat tinggi yakni bukit-bukit pengorbanan (ITB), ayat 17 disebutkan mereka membuat patung-patung lelaki berarti memahat berhala patung-patung dewa. Dalam ayat 18-19, semua pakaian, minyak urapan dan rempah-rempah yang merupakan berkat pemberian TUHAN sekarang diberikan kepada dewa-dewa asing, menunjukkan Yerusalem berkhianat memberontak melawan TUHAN dan tidak menjaga perjanjian, kasih karunia dan hadiah dipakai menjadi untuk tujuan persundalan, dia adalah istri yang tidak tahu berterima kasih, melupakan kasih karunia dan mengkhianati kebenaran.

Bahkan perzinaan Yerusalem makin menghebat, mereka menyembelih anak-anak lelaki dan perempuan milik TUHAN dibakar dipersembahkan kepada para dewa dari bangsa-bangsa asing (ayat 20-21), mengacu pada raja yang jahat Yehuda yang membakar anak-anak sebagai korban (2 Raja-raja 17:31, 21:6), pada saat yang sama menunjukkan bahwa orang Israel melanggar hukum Allah (Im. 20:2-5). Oleh karena itu, kejahatan Yerusalem tidak hanya melibatkan diri mereka sendiri, tetapi juga anak-anak TUHAN. Mengapa ini terjadi? Ayat 22 menunjukkan bahwa alasan dasar adalah engkau tidak teringat lagi kepada masa mudamu, waktu engkau telanjang bugil sambil menendang-nendang dengan kakimu dalam lumuran darahmu. Ternyata mengingat hakikat asali diri, mengingat diri aslinya dahulu adalah yang ditinggalkan telantar, dapat membuat orang memahami segala yang ada di depan adalah pemberian Allah, alasan mengapa orang tidak tahu berterima kasih adalah karena ia telah melupakan hakikat asali dirinya dahulu, sehingga anugerah yang berikan Allah dijadikan kesempatan untuk menuruti keinginan daging. Mengingat hakikat asali diri yang dahulu adalah latihan spiritual yang sangat penting, itu membuat seseorang memahami asal usul mereka, tetapi juga ingat bahwa ia adalah orang yang telah menerima anugerah, kecantikan kebajikan adalah tanda anugerah, bukan untuk dibangga-banggakan.

Renungkan:
Apakah Anda orang yang cantik / indah / memiliki kebajikan? siapa yang memberikan kecantikan ini kepada Anda? Apakah Anda tahu siapa asali diri Anda dahulu? Cobalah mengingat bagaimana TUHAN menilik Anda di masa lalu, mengubah Anda dari bayi terlantar menjadi orang yang cantik . Bagaimana cara agar orang bisa meninggalkan kehidupan yang lupa kebaikan Allah dan tidak berterima kasih?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 56:2

「Sabat Berhenti, Seperti engkau」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 56:2 [ITB])
2 Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat.

Mengapa hari Sabat terkait dengan keadilan kebenaran Allah? Mengapa hari Sabat begitu penting? Mari kita kembali ke perintah keempat dari Sepuluh Perintah untuk memahami hubungan antara hari Sabat dengan keadilan kebenaran: tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga(Ul. 5:14)

Frasa seperti engkau juga dalam ayat tersebut adalah salah satu poin utama dari Sabat, dan poin kunci lainnya adalah kata pekerjaan. Kedua poin ini sebenarnya satu poin, saling terkait satu sama lain sehingga kita dapat memahami betapa pentingnya Sabat bagi umat Allah. Pekerjaan mengacu pada profesi, ini tidak mengacu pada semua pekerjaan (work), tetapi merujuk pada karir seseorang (occupation). Sabat tidak mengharuskan kita untuk menghentikan semua pekerjaan, tetapi mengharuskan kita untuk menghentikan apa yang perlu kita lakukan demi karir kita. Namun, konsep pekerjaan selain merujuk apa yang harus dilakukan demi karir, juga mencakup identitas dan status kedudukan yang dibawakan oleh karir ini. Faktanya, enam hari bekerja (berkarir) itu pasti akan membawa identitas dan status kedudukan posisi, ada sebagian orang adalah atasan, ada sebagian orang adalah bawahan, sebagian orang adalah asisten, sebagian orang adalah bos, identitas dan status kedudukan memisahkan orang dan membuat saling berhadapan (oposisi, bahkan konfrontasi), secara alami terdapat perbedaan posisi tinggi dan rendah dalam masyarakat, semuanya ini adalah hal alami di dunia yang kosong, yang muncul karena adanya pekerjaan (karir).

Hukum Taurat memerintahkan orang pada hari ketujuh jangan melakukan sesuatu pekerjaan. Ini bukan sekadar berarti tidak melakukan semua pekerjaan yang harus dilakukan untuk karir, tetapi juga menunjukkan bahwa pekerja meletakkan identitas, status, kedudukan, nama, reputasi yang dimilikinya dalam enam hari, semua satu ragam baik tuan atau pelayan, semua kembali ke seperti engkau hakikat asali (bentuk asali, 本相), inilah Sabat. Pada hari Sabat, semua orang seperti engkau, tidak ada pembedaan status, kedudukan dan identitas, tidak ada kelas kasta, tidak ada oposisi, ini adalah keadaan kembali ke asali, setiap orang hidup dengan hakikat asali, dengan demikian, hari Sabat membuat orang mengerti dirinya sebagai ciptaan sama seperti orang yang lain, semua sama-sama membawa gambar dan rupa Allah, sama-sama adalah umat perjanjian anugerah, dan dalam keadaan Sabat (istirahat) merayakan kemerdekaan, yaitu dibebaskan dari jubah luar yang dibangun dari status kedudukan dan identitas, dan juga dibebaskan dari hasrat ambisi mengejar harta materi dan imbalan, membuat diri berhenti, dengan bentuk asali bergaul dengan hamba bawahan, hidup bersama anak-anak dengan hakikat asali ini, dan dengan aku yang sebenarnya (asali, tanpa bungkus jubah luar) menjadi anak-anak Allah, inilah kebenaran dan keadilan.

Ternyata penetapan hari Sabat menyuruh kita untuk meninggalkan pengejaran terus-menerus akan diri yang palsu (aku yang palsu), untuk membawa kita kembali ke diri sejati yang diciptakan oleh Allah, di hari ini kita mendapat pembebasan, di hari ini kita memahami berharganya bertindak belas kasih dan memberkati orang lain, dan juga paham untuk menghargai kebahagiaan orang-orang yang ada di depan mata kita, ini adalah keadilan kebenaran. Orang Kristen menggunakan hari Tuhan (di hari minggu) sebagai hari Sabat. Di gereja kita hidup dan berinteraksi berdasarkan hakikat asali (bentuk asali), tetapi di hari Tuhan kita masih sering mengenakan jubah luar: identitas serta kedudukan yang berbeda, gereja masih menjadi tempat yang belum bebas posisi, ketenaran dan kekayaan (minder atau juga sebaliknya ajang bagi yang ingin mengejar, baik yang sudah memiliki, atau yang belum memiliki). Dengan demikian, kita masih belum dapat lepas merdeka dari kerja enam hari, sehingga jatuh ke dalam beban berat dan kepedihan. Ketika kita beristirahat Sabat pada hari Tuhan (di hari minggu), kita patut berharap melihat Injil seperti engkau, ini barulah bisa membuat kita dapat memahami apa itu kemerdekaan bebas dan kasih, bukan hanya keadilan kebenaran tetapi juga anugerah keselamatan.

Renungkan:
Lihatlah orang-orang di sekitar Anda, apakah mereka atasan atau bawahan Anda, mereka pada asalinya seperti engkau juga, semuanya umat perjanjian, semua diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Kiranya kita dapat melalui jangan melakukan pekerjaan, memahami hakikat asali kita dan menghargainya, itu adalah yang paling bernilai.


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 16:1-3

「Menghasut dan Binasa」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 16:1-3 [ITB])
1 Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang 2 untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan. 3 Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?

Bilangan pasal 12 sampai 16 sebanyak tiga kali berbicara tentang kepemimpinan Musa mendapat tantangan provokasi (perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut), yang pertama adalah saudara perempuan Musa, Miryam dan saudaranya, Harun (pasal 12), yang segera berkembang menjadi sepuluh mata-mata yang beriman kecil (pasal 13 – 14), dan kemudian berkembang menjadi 250 pemimpin seperti kelompok Korah, Datan dan Abiram (pasal 16). Insiden-insiden ini terjadi pada awal perjalanan padang gurun Israel, akibatnya, memasuki Tanah Perjanjian tertunda selama tiga puluh delapan tahun sampai generasi pertama Keluaran dari Mesir semuanya mati di padang belantara. Insiden-insiden ini juga menunjukkan bahwa sisi gelap hakikat manusia di antara umat Allah, kecemburuan dan fitnah, perselisihan dan pemberontakan, dan provokasi pemberontakan semuanya muncul. Pengalaman belantara adalah memurnikan produk-produk rendahan ini satu per satu.

Bilangan 16:1-35 berbicara tentang pemberontakan Korah dan komplotannya, dapat dibagi menjadi tiga poin berikut: 

1 Pemberontakan dan fitnah (ayat 1-15): Korah berpikir dirinya tinggi sama-sama seperti Musa dan Harun termasuk suku Lewi yang terkenal dan Kehat, bagaimana mungkin hanya Musa dan Harun yang diijinkan mempersembahkan ukupan di hadapan TUHAN? Mereka menyerang Musa dan Harun bahwa mereka berdua meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN. Mereka bahkan mengumpulkan segenap umat itu melawan kedua orang tersebut, merasa punya alasan yang benar untuk mempersembahkan ukupan di hadapan TUHAN. Tetapi keimamatan Harun bukan karena ia mengangkat diri sendiri, tetapi merupakan pemilihan Allah. Sedangkan Datan dan Abiram dari suku Ruben berpikir bahwa mereka adalah keturunan putra sulung Yakub, kepala dari suku-suku lain, bagaimana bisa berada di belakang suku Yehuda? Mereka bahkan memfitnah Musa membawa orang-orang keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (mengacu pada Mesir), tetapi justru tidak membawa mereka ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, memfitnah dan memutarbalikkan kebenaran.

2 Kemuliaan dan syafaat (ayat 16-30): Seperti dua peristiwa pemberontakan sebelumnya, tampaklah kemuliaan TUHAN (Bil. 12:5; 14:10; 16:19) untuk menghancurkan mereka. Untungnya, Musa dan Harun berdoa syafaat, sehingga memperkecil lingkup hukuman, dan hanya menghukum mereka yang memimpin dalam pemberontakan.

3 Bumi terbelah dan api yang menelan (ayat 31-35): Musa meminta kepada TUHAN untuk menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi (menciptakan, bārā’ kata kerja bentuk diperkuat Pi‘el), tanah membelah dan menelan komplotan Korah. Api keluar dari TUHAN, dan menelan 250 orang yang mempersembahkan ukupan. Mereka menolak untuk naik ke Tanah yang dijanjikan, dan tanah menelan mereka, dan mereka semua turun ke dunia orang mati. Mereka ingin membuktikan diri mereka benar adanya, memegang api (arang) dan membubuhkan dupa, tetapi api justru menelan mereka.

Renungkan:
Dalam ibadat yang paling kudus, ada tindakan yang paling hina. Bagaimana seharusnya kita berhati-hati?
Martin Luther mengatakan bahwa semua orang adalah imam, tetapi tidak semua orang adalah pendeta, pelayanan penuh waktu adalah datang dari pemilihan Allah, diperlengkapi pembelajaran kebenaran Firman, dan karunia Roh Kudus, bukan merupakan sesuatu yang bisa diambil semaunya berdasarkan keinginan pribadi.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.