Tag Archives: Murka Allah

Yehezkiel 22:17-22

(Yeh. 22:17-22 [ITB])
17 Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 18 Hai anak manusia, bagi-Ku kaum Israel sudah menjadi sanga; mereka semuanya adalah ibarat tembaga, timah putih, besi dan timah hitam di dalam peleburan; mereka seperti sanga perak.
19 Sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh karena kamu semuanya menjadi sanga, maka sungguh, Aku akan mengumpulkan kamu di tengah-tengah Yerusalem. 20 Seperti orang mengumpulkan perak, tembaga, besi, timah hitam dan timah putih di dalam peleburan dan mengembus api di bawahnya untuk meleburnya, demikianlah Aku akan mengumpulkan kamu dalam murka-Ku dan amarah-Ku dan menaruh kamu di dalamnya dan melebur kamu. 21 Aku akan mengumpulkan kamu dan menyemburkan api kemurkaan-Ku kepadamu, sehingga kamu dilebur di dalamnya. 22 Seperti perak dilebur dalam peleburan, begitulah kamu dilebur di dalamnya.
Dan kamu akan mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, yang mencurahkan amarah-Ku atasmu.

(Sanga dalam KBBI: kotoran logam yang dilebur. Besi-besi bekas itu dilebur kembali untuk menghilangkan sanga.)

Murka Allah bukanlah muncul dari emosional, tetapi sikap dasar dan respons terhadap dosa.

Tema perikop kitab suci hari ini adalah murka Allah, yang menggunakan metafora perak murni untuk mengilustrasikannya. Pada zaman itu, proses refining pemurnian perak dilakukan terhadap hasil tambang timah (galena), yaitu hasil tambang yang merupakan campuran perak dan timah, jika ingin mengeluarkan unsur logam perak, maka memasukkan hasil tambang tersebut ke dalam api, maka unsur belerang akan dilepaskan, sehingga didapatkan campuran perak dan timah (dan logam lainnya), lalu dari logam campuran ini diproses lagi untuk mengekstraksi perak yang murni tidak tercampur lagi sampah timah yang tidak berguna. Oleh karena itu, metafora ini menunjukkan bahwa TUHAN adalah Sang pemurni (Refiner), memurnikan perak, menyisakan ampas tembaga, timah putih, besi dan timah hitam di dalam peleburan (ayat 18). Sampah ini adalah umat Israel, dan proses peleburan perak adalah penghancuran Yerusalem dan penderitaan penawanan (586 SM), sedangkan perak itu adalah sisa-sisa tawanan Babel (sebagian besar mengacu pada sisa umat yang ditawan tahun 597 SM), meskipun perikop Alkitab ini tidak memberikan penjelasan tentang metafora perak ini, tetapi kita juga dapat menggunakan kata-kata yang konsisten disampaikan Yehezkiel dan bahkan Yesaya serta Yeremia untuk menyimpulkan bahwa perak ini seharus merujuk pada umat yang tersisa dalam pengasingan.

Setelah itu, sampah ampas tembaga, timah putih, besi dan timah hitam ini dilebur oleh api (ayat 20), yang merupakan metafora bahwa murka Allah akan melebur mereka yang ada di Yerusalem (ayat 20-21), dan pada saat yang sama, perak akan dilebur api yang berada di tungku (ayat 22), yang berarti bahwa baik itu ampas sampah (mereka yang di Yerusalem) atau perak (mereka yang diasingkan ke Babel) pada saat yang sama akan menghadapi hukuman karena murka dari Allah, teks menggunakan konsep melebur berarti bahwa di dalam api ini orang-orang tersebut tidak akan sama lagi seperti dahulu, mereka akan benar-benar berubah bentuk sehingga orang lain tidak dapat mengenali mereka, dan mereka akan menjadi abu di tungku.

Tujuan dari semua penderitaan ini dengan jelas dicatat dalam ayat 22 kamu akan mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, yang mencurahkan amarah-Ku atasmu. Ayat ini adalah penjelasan interpretasi teologis terhadap pembuangan dan kehancuran, Israel dikalahkan bukan karena kehebatan Babel, bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan seperti bangsa-bangsa lain, dan bukan karena TUHAN yang dipercayai Yehuda tidak mampu melindungi mereka, tetapi karena TUHAN adalah Allah yang transenden. Dia tidak akan berpihak karena melihat kemampuan militer manusia dan kepentingan politik manusia. Allah memiliki tuntutan harapan atas standar moral orang Israel, dan penghakiman-Nya hanya menurut ketetapan-Nya tidak meminta pendapat manusia. Orang Israel harus memahami bahwa penderitaan di hadapan mereka harus dipahami sebagai murka Allah, dan bahwa Allah adalah Hakim atas hidup mereka.

Renungkan:
Bagaimana cara menghadapi murka Allah? Apa arti murka Allah bagi Anda?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 21-28 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasikan pada bulan Januari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 20:33-38

Aku akan memerintah

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 20:33-38 [ITB])
33 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH,
Aku akan memerintah kamu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan amarah yang tercurah.
34 Aku akan membawa kamu keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari negeri-negeri, di mana kamu berserak dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan amarah yang tercurah,
35 dan Aku akan membawa kamu ke padang gurun bangsa-bangsa dan di sana Aku akan berperkara dengan kamu berhadapan muka. 36 Seperti Aku berperkara dengan nenek moyangmu di padang gurun tanah Mesir, begitulah Aku akan berperkara dengan kamu, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
37 Aku akan membiarkan kamu lewat dari bawah tongkat gembala-Ku dan memasukkan kamu ke kandang dengan menghitung kamu. 38 Aku akan memisahkan dari tengah-tengahmu orang-orang yang memberontak dan mendurhaka terhadap Aku; Aku akan membawa mereka keluar dari negeri, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, tetapi di tanah Israel mereka tidak akan masuk.
Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.

Perikop ini (Yeh. 20:33-38) mencatat hukuman dan penghakiman TUHAN terhadap Israel yang di penawanan. Pertama-tama menggunakan dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung untuk menggambarkan TUHAN (ayat 33, 34), deskripsi ini pernah digunakan ketika TUHAN memimpin orang Israel keluar dari Mesir, menunjukkan bahwa Allah mengacungkan tangan menghukum orang Mesir (Kel. 6:6, 7:5), juga merupakan kata yang digunakan Yesaya untuk menggambarkan murka TUHAN (Yesaya 5:25), sekarang Yehezkiel sekali lagi menggunakan kata ini, tujuannya adalah agar orang-orang Israel yang ditawan bersama-sama Yehezkiel hendaknya mengingat dahulu saat Keluaran dari Mesir dan murka TUHAN, dahulu TUHAN betapa murka menghukum orang Mesir, sekarang hal yang sama adalah untuk menghukum orang Israel yang di penawanan.

Kemudian, ayat 34-35 menjelaskan bahwa TUHAN akan memimpin bangsa Israel keluar dari antara bangsa-bangsa serta membawa Israel ke padang gurun bangsa-bangsa dan di sana Allah akan menghakimi Israel berhadapan muka. Tindakan ini mengingatkan orang Israel tentang kenangan kolektif dahulu Israel berjalan di padang gurun di masa lalu, bagaimana Allah menghukum nenek moyang Israel di padang gurun tanah Mesir, sehingga mereka berjalan selama empat puluh tahun di padang gurun tidak dapat masuk ke tanah Kanaan (ayat 36). Demikian juga, Israel yang dalam penawanan ini (terutama yang tua-tua mendatangi Yehezkiel untuk meminta petunjuk) juga tidak dapat seperti keinginan mereka pulang kembali ke Israel dalam waktu singkat (ayat 38), mereka akan mati di Babel, seperti nenek moyang mereka mati di padang gurun. Oleh karena itu, Yehezkiel melawan nabi-nabi yang mempromosikan ide dapat pulang kembali ke tanah Israel dalam jangka pendek, menunjukkan penawanan adalah penghakiman Allah, sama seperti penghakiman Allah terhadap generasi tua Israel di padang gurun, dan hukuman pembuangan ini akan berjalan tujuh puluh tahun, itu lebih lama dari hukuman empat puluh tahun di padang gurun dahulu.

Dengan demikian Allah menggambarkan penghakiman-Nya, adalah untuk menjelaskan, penghakiman (ayat 33) ini adalah deklarasi penting. Tua-tua yang mendatangi Yehezkiel di dalam hati pikiran mereka yang menjadi allah dan raja adalah keinginan mereka, mereka bertanya petunjuk Yehezkiel tetapi membawa jawaban yang mereka sudah tetapkan, tetapi Allah bukan alat yang bisa dimanipulasi manusia, orang tidak bisa memakai nama Allah untuk membenarkan klaim dan keuntungan diri manusia. Sebelum meminta petunjuk Allah, orang Israel sebagai hamba Allah harus terlebih dahulu mengidentifikasi fakta bahwa Allah adalah Raja yang memerintah. Bahkan ketika dunia berubah, sering kali hal-hal tidak seperti yang kita harapkan, tetapi Allah tetap memerintah, maka kita percaya bahwa segala sesuatu tidak terjadi acak dan ke arah yang kacau tanpa tujuan. jika kita melihat segala sesuatu berjalan dengan lancar, kita dapat dengan mudah mengenali bahwa TUHAN adalah Raja, tetapi ketika kita menghadapi penghakiman penawanan dan ketidakpastian padang gurun, apakah kita masih akan melihat fakta bahwa TUHAN adalah Raja yang memerintah? Justru karena Allah adalah Raja yang memerintah, maka ketika orang Israel hanya melihat kekacauan selama pembuangan, tetapi kekacauan ini adalah berasal dari penghakiman Allah. Ternyata, penghakiman yang kita lihat sebagai kekacauan ini, adalah bukti terbesar bahwa Allah adalah Raja yang memerintah.

Renungkan:
Seberapa nyata bagi Anda tentang fakta bahwa Allah memerintah? Bagaimana 「tangan yang kuat dan lengan yang teracung」 dapat membuat kita lebih hormat takut akan Allah? (“… Aku akan memerintah kamu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung … kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”)


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yohanes 2:17

「Yesus yang marah」

Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 2:17[ITB])
17 Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.

Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku Ini adalah Yesus yang marah, Yesus yang keras. Kalimat ini berasal dari Mazmur 69:9 sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku. Tetapi ketika kita merenungkan ayat-ayat berikut, kita merasa bingung: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:39) amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1:20) Yesus ini tidak sesuai dengan gambaran Juruselamat yang biasanya kita kenal, yang lembut, rendah hati, dan tahu bertindak dalam semua keadaan.

Bukankah seorang hamba Allah tidak pernah marah? Faktanya, kemarahan adalah keadaan emosional manusia, sama seperti kebahagiaan dan cinta. Ada kemarahan yang tidak benar di dunia, sama seperti ada kebahagiaan yang tidak benar dan cinta yang tidak benar. Namun, tidak semua kemarahan itu tidak benar. Itu tergantung pada kapan dan keadaan bagaimana marah ini datang kepada kita.

Surat Yakobus mengatakan: amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1:20). Kita harus memahami ini dengan benar. Kalimat sebelum ayat ini adalah: … lambat untuk marah (Yakobus 1:19). Oleh karena itu, artinya: kita tidak boleh terburu-buru marah, jangan biarkan kemarahan menjadi tuan kita, atau jangan biarkan kita menjadi budak kemarahan; selain itu, Paulus berkata: Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu(Efesus 4:26), ini memberitahu kita bahwa amarah tidak pernah merupakan ringkasan dari segala sesuatu. Saat matahari terbenam, amarah harus padam. Setelah peristiwa sudah lewat, kita seharusnya tidak membawa emosi.

Jadi, kembali ke Yesus yang marah. Dengan marah Yesus membersihkan Bait Suci dengan cambuk, Dia dengan sungguh-sungguh mengatakan kepada kita: Kamu kadang-kadang harus marah! Beberapa orang tidak tahu bagaimana caranya menjadi marah, mereka sering tersenyum dan menyapa orang lain, bahkan dalam menghadapi ketidakadilan yang hebat, mereka tetap tutup mata diam berpangku tangan. Yesus bukan tipe ini. Tentu saja kita semua tahu bahwa jika seseorang setiap saat selalu memiliki temperamen buruk dan selalu terlihat tidak puas, itu pasti hal yang buruk, bukan hal yang baik.

Sebenarnya, tidak menjadi masalah jika hati Anda merasa seperti terbakar api, suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas itu adalah akar masalah. (… engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku Wahyu 3:15-16)

Renungkan:
Apakah Anda tidak peduli dengan ketidakadilan? Apakah Anda masih menjaga ketenangan pikiran dalam menghadapi absurditas dan korupsi? Mungkin jenis kegembiraan dan ketenangan seperti ini adalah akar masalah!


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 2:1-3:15

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 2:1-3:15 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yehezkiel 5:11-17

「Aku akan melampiaskan murka-Ku」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 5:11-17 [ITB])
11 Sebab itu, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, sesungguhnya, oleh karena engkau menajiskan tempat kudus-Ku dengan segala dewamu yang menjijikkan dan dengan segala perbuatanmu yang keji, Aku sendiri akan meruntuhkan engkau;
Aku tidak akan merasa sayang dan tidak akan kenal belas kasihan.
12 Sepertiga dari padamu akan mati kena sampar dan mati kelaparan di tengah-tengahmu;
sepertiga akan tewas dimakan pedang di sekitarmu;
dan sepertiga lagi akan Kuhamburkan ke semua mata angin dan Aku akan menghunus pedang dari belakang mereka.
13 Aku akan melampiaskan murka-Ku kepada mereka, sehingga hati-Ku yang panas tenang kembali dan Aku merasa puas; dan mereka akan mengetahui,
bahwa Akulah TUHAN yang mengatakannya di dalam cemburu-Ku,
tatkala Aku melampiaskan amarah-Ku kepada mereka.
14 Aku akan membuat engkau menjadi reruntuhan dan buah celaan di antara bangsa-bangsa yang di sekitarmu di hadapan semua orang yang lintas dari padamu. 15 Engkau akan menjadi buah celaan dan cercaan, menjadi peringatan dan suatu kengerian bagi bangsa-bangsa yang di sekitarmu, tatkala Aku menjatuhkan hukuman kepadamu di dalam kemurkaan dan kemarahan dan di dalam penghajaran-penghajaran kemarahan,
Aku, TUHAN, yang mengatakannya,
16 tatkala Aku mendatangkan atasmu kelaparan yang dahsyat, yang membinasakan, dan Aku mendatangkannya untuk membinasakan kamu, tatkala Aku memperdahsyat bencana kelaparan atasmu dan memusnahkan persediaan makananmu.
17 Aku akan mendatangkan kelaparan atasmu dan binatang-binatang buas di tengah-tengahmu, yang akan memunahkan anak-anakmu; sampar akan berkecamuk dan darah akan mengalir di tengah-tengahmu dan Aku akan mendatangkan pedang atasmu,
Aku, TUHAN, yang mengatakannya.

Perikop ini dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama (ayat 11-12) menjelaskan drama profetik sebelumnya (Yeh. 5:2) tentang pemangkasan rambut, dan menunjukkan bahwa tiga bagian rambut merupakan metafora atas penduduk Yerusalem yang mengalami bencana yang berbeda, sepertiga akan mati kena sampar dan mati kelaparan, sepertiga akan tewas dimakan pedang di sekitar mereka, dan sepertiga akan berserakan ke segala penjuru (ayat 12), ini menunjukkan bahwa hukuman dan kehancuran dari Allah tidak akan terhindar, dan seluruh umat itu akan menghadapi penghakiman.

Bagian kedua lebih terperinci (ayat 13-17), dan tema utamanya adalah murka Allah. Murka Allah bukanlah semacam pelampiasan emosional, juga bukan kemarahan karena lepas kendali. Murka Allah adalah sikap dasar terhadap dosa, ayat 13 menunjukkan bahwa Allah akan melampiaskan amarah-Nya sampai tuntas, dan murka ini berasal dari kecemburuan Allah. Di satu sisi, kecemburuan ini menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang anti kejahatan, Dia tidak mengizinkan kejahatan bersama dengan Dia. Di sisi lain, ini menunjukkan bahwa Allah memiliki kepenuhan hati terhadap perjanjian yang telah Dia buat dengan umat-Nya, dan kepenuhan hati antusias ini tidak memperbolehkan pihak lain dalam perjanjian melanggar perjanjian dan memiliki hubungan dengan ilah lain. Kecemburuan Allah menunjukkan kesetiaan-Nya terhadap perjanjian dan kasih terhadap umat-Nya, situasinya seperti hubungan pernikahan, dan tidak dapat mengizinkan adanya pihak ketiga.

Ayat 16-17 secara spesifik menjelaskan detail dari murka Allah. Ayat Alkitab menggunakan anak panah bala kelaparan yang jahat untuk menggambarkannya (ayat 16 ITL, mayoritas Inggris; sedangkan ITB secara fungsional sebagai kelaparan yang dahsyat), gambaran TUHAN memanah sering muncul dalam ratapan Yeremia (Ratapan 2:4, 3:12-13), menunjukkan bahwa Allah adalah Pemanah yang seratus persen pasti mengenai sasaran dan menetapkan Yerusalem sebagai sasaran panah, hendak menghancurkannya. Metafora ini menunjukkan bahwa Allah bertekad membawa bencana kelaparan ke Yerusalem. Kemudian, ayat Alkitab menggunakan kata-kata dari kitab Ulangan untuk menjelaskan banyak dan beragam bencana (Ulangan 32:23-25) Kata-kata ini digunakan dalam Ulangan untuk menjelaskan murka Allah (Ulangan 32:21). Ketika Allah mencurahkan sepenuhnya murka-Nya, Dia tidak akan berusaha menahan-nahan untuk menurunkan semua kutukan yang tercantum dalam klausul perjanjian terhadap Yerusalem. Bangsa Israel telah melihat rincian spesifik dari murka Allah dalam catatan hukum Allah dalam kitab Musa, tetapi karena mereka tidak percaya atas kata-kata dalam perjanjian itu dan dengan enteng melupakannya, melawan Allah, ketika mereka berdosa, mereka tidak memikirkan konsekuensi dari murka Allah, dan mereka tetap memperalat kesabaran Allah untuk melakukan hal-hal yang jahat, akibatnya murka Allah akan dicurahkan habis sesuai janji perjanjian.

Renungkan:
Murka Allah ternyata begitu mengerikan, tetapi itu tidak pernah lebih mengerikan dari dosa manusia yang menyinggung Allah dan melanggar sumpah perjanjian. Dosa itu mengerikan karena menyakiti atau bahkan membunuh orang lain. Murka Allah datang adalah untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, agar orang fasik mendapatkan hukuman yang pantas mereka terima, sehingga keadilan kebenaran bisa ditegakkan. Jika kita semua memahami sifat murka Allah, kita akan dengan senang hati meninggalkan diri lama yang penuh dosa dan kehidupan munafik, bertobat serta segera mengakui dosa-dosa kita, meninggalkan perbuatan jahat. Sangat disayangkan bahwa Yerusalem telah banyak berdosa, namun mengabaikan dosa yang mengerikan, dan Allah akhirnya memberikan murka-Nya sebagai balasannya yang patut diterima.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 1- 11 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Januari 202 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ratapan 2:1-3

「Awan dan api dari TUHAN」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 2:1-3 [ITB])
1 Ah, betapa Tuhan menyelubungi puteri Sion dengan awan dalam murka-Nya!
Keagungan Israel dilemparkan-Nya dari langit ke bumi. Tak diingat-Nya akan tumpuan kaki-Nya tatkala Ia murka.
2 Tanpa belas kasihan Tuhan memusnahkan segala ladang Yakub.
Ia menghancurkan dalam amarah-Nya benteng-benteng puteri Yehuda.
Ia mencampakkan ke bumi dan mencemarkan kerajaan dan pemimpin-pemimpinnya.
3 Dalam murka yang menyala-nyala Ia mematahkan segala tanduk Israel,
menarik kembali tangan kanan-Nya pada waktu si seteru mendekat,
membakar Yakub laksana api yang menyala-nyala, yang menjilat ke sekeliling.

Ratapan Yeremia pasal 2 dimulai dengan tatkala Ia murka (ayat 1), dan diakhiri dengan tatkala TUHAN murka (ayat 22, atau KJV in the day of the LORD’S anger), terbentuk awal dan akhir yang saling berkaitan, sehingga pembaca dapat memahami bahwa subjek dari Ratapan pasal 2 ini adalah tentang murka TUHAN, subjek ini dijelaskan di awal, di ayat 1-3, ayat 1 menunjukkan Tuhan … dalam murka-Nya, tatkala Ia murka, dan ayat 3 menjelaskan dalam murka yang menyala-nyala Ia …, jadi di sini tema murka TUHAN sangatlah jelas. Namun, ketiga ayat ini menggunakan dua gambaran awan dan api untuk menggambarkan situasi murka TUHAN yang tidak biasa.

Dalam ayat 1 disebutkan bahwa TUHAN menggunakan awan untuk menyelubungi Sion. Kita dapat memahaminya melalui awan penyertaan Allah yang turun dahulu saat Salomo menahbiskan Bait Suci, awan itu melambangkan kehadiran Allah. Ia menutupi Bait Suci dengan awan, para imam tidak dapat masuk (2 Tawarikh 5:13, klik untuk membaca), dan TUHAN (Yahweh) juga menggunakan tiang awan untuk memimpin bangsa Israel di padang gurun (Keluaran 13:21-22, 14:19-20, klik untuk membaca). Awan kehadiran penyertaan Allah merupakan pengalaman yang positif bagi orang Israel, melambangkan Allah yang tidak meninggalkan atau mencampakkan mereka, ada awan serta api di jalan padang gurun siang dan malam, dan penyertaan Allah tidak pernah berubah. Namun, sekarang awan yang dulu merupakan penyertaan TUHAN (Yahweh) telah berubah menjadi awan hitam, dan awan ini juga menutupi Bait dan juga Sion, tetapi kali ini awan hitam itu adalah penutup murka, Allah yang sama, awan yang sama, tetapi membawa efek pembalikan, yang menunjukkan bahwa Allah yang melindungi bangsa Israel di masa lalu telah mengubah kehadiran-Nya dengan menggunakan awan hitam untuk menggambarkan kehadiran penghakiman-Nya.

Kata memusnahkan yang disebutkan di ayat 2 dan 3 (ayat 3 yang menjilat ke sekeliling, yang merupakan kata yang sering muncul di pasal 2 (Ratapan 2:2, 3, 5, 8, 16) memiliki makna memakan (menelan), kata yang mengingatkan orang tentang bagaimana ikan besar menelan Yunus. Lalu kata dilemparkan dalam ayat 1 adalah kata yang persis sama dengan yang Yunus katakan dalam kitab Yunus bahwa dia dilemparkan ke dalam jurang oleh TUHAN (Yunus 2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan …). Ratapan menggunakan kata-kata ini sehingga pembaca membuat asosiasi antar teks untuk memperjelas bahwa Sion saat ini seperti Yunus yang di dalam perut ikan dan dilemparkan ke jurang samudra yang dalam.

Ayat 3 menunjukkan bahwa murka TUHAN mematahkan segala tanduk Israel. Tanduk ini digunakan untuk melambangkan kekuatan dan berkat (Mazmur 18:2, 75:10; Ul. 33:17, klik unuk membaca), tetapi sekarang sepenuhnya dipatahkan oleh TUHAN. Dalam ayat 3, gambaran api digunakan untuk menunjukkan bahwa ini adalah api yang menelan (memusnahkan), dulunya adalah api menelan tanda perkenan korban persembahan (Imamat 24) dan tiang api yang melambangkan kehadiran TUHAN (Keluaran 13:22), namun api yang sama, api perkenan dan penyertaan, kini menjadi api memusnahkan dan murka. TUHAN tidak sama lagi kehadiran-Nya, dahulu melindungi orang Israel sekarang menelan memusnahkan orang Israel. Ketika kita memahami awan dan api bersama-sama, kita memahami bahwa tema yang diharapkan dalam ayat 1-3 adalah pembalikan dari kehadiran TUHAN, dan alasannya adalah TUHAN dalam murka.

Renungkan:
Api kudus yang sama membawa hasil yang berbeda, melambangkan dua aspek sifat Allah: perkenan dan penghakiman. Seringkali kita hanya mengharapkan perkenan Allah, tetapi tidak menerima penghakiman Allah, kita mengharapkan kasih Allah, tetapi tidak menyukai disiplin didikan Allah. Di permukaan, kedua aspek sifat ini tidak selaras, tetapi kedua aspek sifat ini adalah kekudusan Allah. Api suci yang sama harus memiliki perkenan dan penghakiman. Kita tidak dapat hanya memilih salah satunya. Sebagai umat perjanjian anugerah, kita harus menerima keduanya. Tidakkah kita tahu bahwa disiplin didikan adalah hak istimewa umat perjanjian?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Imamat 1:2-9 (2)

Korban api-apian yang baunya menyenangkan Allah

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:2-9 [ITB])
2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. 4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. 6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu. 8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. …』」

Korban bakaran selain dipersembahkan bagi TUHAN, juga memiliki fungsi mengadakan pendamaian (Im. 1:4), tetapi juga merupakan korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN (Im. 1:9, 13, 17), bagaimana kita seharusnya memahami kedua karakteristik dari korban bakaran ini?

Imamat 1:4 menjelaskan korban bakaran yang berkenan dalam dapat mengadakan pendamaian baginya (Im. 1:4), Kata mengadakan pendamaian (kĭppěr) ini memiliki diskusi yang sangat banyak di dunia akademis, para peneliti sepakat bahwa kata ini memiliki makna terutama kudus, dan jika kata ini ditempatkan dalam konteks terkait murka Allah, memiliki arti penebusan (ransom). Kata ini biasanya digunakan bersama-sama dengan kata bagi seseorang (misal ayat 4 mengadakan pendamaian baginya, berarti seseorang menahirkan tempat kudus dan menebus bagi orang itu, karena kenajisan orang (baik moral atau tidak bermoral) akan sering mencemari tempat kudus oleh karena itu, korban bakaran memiliki fungsi mengadakan pendamaian, menjaga kekudusan tempat kudus dan memastikan penyertaan hadirat Allah. Dalam sejarah persembahan korban Israel, fungsi mengadakan pendamaian dari korban bakaran berangsur-angsur digantikan oleh korban penghapus dosa, seiring berjalannya waktu, fungsi utama korban bakaran adalah untuk mempersembahkan korban. Berikut ini juga dijelaskan pengertian korban api-apian.

Bagaimana kita memahami korban api-apian yang baunya menyenangkan? Umumnya para peneliti berpendapat bahwa baunya yang menyenangkan Allah ini terkait penghapusan murka Allah. Murka ini bukanlah kemarahan emosional, melainkan sikap dasar Allah terhadap dosa dan kenajisan. Karena Allah adalah kudus, kodrat-Nya sendiri akan menyingkirkan kenajisan, jika seseorang yang najis berani memaksa masuk ke lingkup kudus, maka Allah wajib murka, harus menyingkirkan yang najis hilang dari lingkup kudus. Oleh karena itu, imam dari tradisi Perjanjian Lama sangat mementingkan urusan terkait penghapusan murka Allah, ini bukan menghibur kemarahan anak kecil, tetapi masalah yang sangat serius agar kekudusan Allah tidak dilanggar. Api dari korban bakaran mengubah korban menjadi asap yang harum, dari sudut pandang manusia, api ini mengubah korban dari ranah manusia naik ke ranah lingkup ilahi, dan melambangkan penghapusan murka. Karena ini merupakan urusan penghapusan murka Allah, maka pengadaan pendamaian dari korban bakaran memiliki makna penebusan (ransom).

Renungkan:
Apakah hidup Anda atau saya tahir? Sering kali, dosa-dosa kita dengan sengaja atau tidak sengaja membuat najis tempat kediaman Allah. Meskipun di era Perjanjian Baru, kita tidak perlu khawatir akan kehadiran penyertaan Tuhan meninggalkan kita, karena persembahan Yesus Kristus di kayu salib telah sepenuhnya menghapus murka Allah, tetapi ini tidak berarti bahwa kita dapat berbuat dosa sesuka hati. Berdoa agar Allah membantu kita memahami dan berterima kasih atas korban penghapus dosa dari Kristus yang Ia lakukan demi kita, menghapuskan murka Allah sehingga membuat kita memiliki hidup baru dan tidak lagi hidup di bawah murka Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.