Tag Archives: Kitab Imamat

1 Petrus 1:14-16

「Kekudusan adalah Relasi Ketundukan Bawahan」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:14-16 [ITB])
14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

(Terjemahan penulis)
14 Sebagai anak-anak yang taat, jangan meniru keinginan nafsu keinginan bodoh kamu sekalian yang dahulu,
tetapi seperti Yang Kudus memanggil engkau, dalam setiap tindakan, engkau kudus
karena demikian, tertulis di Kitab Suci: Kamu sekalian kudus, karena Aku adalah kudus.

Jika hanya melihat perikop ini saja dan mengabaikan teks sebelumnya, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam diskusi yang sekadar etika moralitas, berpikir bahwa ini menghendaki setiap perilaku orang percaya harus menjadi kudus (secara moral saja), dan tidak memiliki batasan moral sama sekali. Ya, dalam berbagai kategori kita harus hidup menjadi contoh yang sempurna. Namun, mungkin pengalaman hidup kita memberi tahu kita betapa buruknya kita, hanya sepenuhnya karena perlindungan anugerah saja yang mencegah kita terpeleset kaki kita, alih-alih hanya mengandalkan kesempurnaan kita sendiri.

Seperti yang dibahas dalam renungan selama 13 hari ini, inti terpenting bukan sekadar moralitas dan etika, ini memaksa kita untuk merenungkan kembali: tema teologis utama apa yang hendak dibawakan kalimat Kamu sekalian kudus, karena Aku adalah kudus yang dikutip dari kitab Imamat dalam Perjanjian Lama? Supaya kita bisa memahami lebih dalam apa yang dimaksud ayat ini.

Bayangkan kehidupan orang-orang Ibrani yang masih hidup di Mesir, mereka mungkin harus mengikuti instruksi para Fir’aun pada zaman mereka, tidak peduli apa pun, gaya hidup mereka harus mengikuti perintah orang bangsa lain, tetapi ketika mereka ingin menjalani kehidupan baru, menjadi umat Allah, mereka harus meletakkan apa yang telah mereka teladani taati, dan belajar baru bagaimana menjadi umat Tuhan. Situasi ini adalah konsep yang diterapkan Petrus kepada orang-orang percaya yang tersebar di Asia Kecil, mereka harus belajar baru, cara menjadi umat Tuhan di lingkungan aniaya.

Tetapi dalam pengalaman Keluaran dari Mesir, banyak umat Tuhan terus mencobai Tuhan dan berharap untuk kembali ke Mesir, dan menginginkan untuk kembali ke lingkungan lama yang mereka kenal, bahkan mereka tidak ragu-ragu jika hidup ini harus tunduk menaati perlakuan kekejaman Firaun lagi; mereka juga mencobai pemimpin — Musa yang diutus oleh Tuhan — untuk menantang otoritas dan kepemimpinan Tuhan, atau terinfeksi tertular bangsa-bangsa asing, perlahan-lahan menjauh dari Allah sejati yang membawa mereka keluar dari Mesir. Oleh karena itu, pernyataan kitab Imamat ini bukan berfokus sekadar menyangkut masalah moral, tetapi menitikberatkan bagaimana umat Allah hendak memandang kehidupan baru mereka, hidup yang baru, awal yang baru, atau apakah mereka berpikir bahwa kemabukan itu yang dinamakan kesadaran?

Ternyata dalam kitab Imamat, konsep kudus adalah konsep ketundukan pihak yang lebih rendah (subordinate) kepada pihak yang tinggi, yaitu menyatakan hidup adalah milik Allah. Apakah itu adalah dewa di Mesir, ataukah Allah keselamatan? Apakah itu ketundukan pada nafsu diri, atau apakah itu didasarkan pada rencana Allah sebelumnya (lih. 1 Petrus 1:2)?

Renungkan:
Ilustrasi apa yang dapat digunakan sebagai ringkasan renungan hari ini? Saya kira itu olahraga, atau bagaimana seorang pria berusia empat puluhan memandang olahraga (saya mengambil contoh diri saya sendiri), saya akan mengatakan bahwa saya adalah seorang yang berolahraga, tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa saya seorang olahragawan. Secara teori seharusnya melakukan olahraga, tetapi setiap kali saya harus berusaha keras dan memaksa diri untuk berolahraga, sekadar memenuhi tuntutan saja, lalu menyangka bahwa saya seorang olahragawan, tetapi sebenarnya saya tidak pernah termasuk dalam kategori olahragawan (sejenis penundukan diri memenuhi kriteria olahragawan).

Bukankah sering kali demikian itu pengalaman kita sebagai umat Allah?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

11 Maret 2019 ● Senin Minggu Pertama Pra Paskah

Engkau Akan Menjadi Kudus

(Imamat 19:1-2, 11-18)
1 TUHAN berfirman kepada Musa:, 2 “”Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.
11 “Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya. 12 Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.
13 “Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. 14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.
15“Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. 16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.
17 “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Renungan

Bacaan kita di dalam Imamat 19 hari ini diawali dengan Allah meminta Musa untuk menyatakan kepada kumpulan orang Israel bahwa karena Allah itu Kudus, kita semua harus kudus. Kekudusan adalah hal yang penting di dalam natur Allah. Kekudusan Allah adalah kebebasan yang sempurna dari seluruh kejahatan dan dosa. Salah satu dari implikasi penting dari kebenaran ini adalah jika Allah itu sempurna kekudusan-Nya, maka kita harus yakin bahwa tindakan-Nya kepada kita adalah sempurna dan adil. Sehingga ketika Allah memanggil kita untuk kudus, kita percaya panggilan kekudusan-Nya semata-mata untuk menyatakan karakter diri-Nya.

Dengan cara berpikir seperti ini, diharapkan kita dapat melihat betapa Allah meminta lebih banyak lagi dari kita daripada hanya semata-mata agar secara moral memenuhi perintah -perintah-Nya. Selama wawasan tentang kekudusan yang kita miliki terbatas pada melakukan hal-hal tertentu dan tidak melakukan hal-hal lainnya, kita sekedar melewatkan seluruh hidup kita dengan menaati semua titah-Nya (atau setidaknya menunjukkan penampilan yang demikian) tanpa memikirkan lebih jauh pertanyaan yang terlebih mendasar, seperti: Milik siapakah kita? Pada siapakah kita memberikan cinta kasih dan kesetiaan utama kita? Pada intinya panggilan Allah untuk menjadi kudus adalah radikal, meliputi semua kehidupan kita, cinta kasih kita, dan identitas utama kita. Dengan perkataan lain, menjadi kudus artinya, semua dari diri kita, dan apa yang kita miliki, adalah milik Allah. Tidak ada aspek kehidupan kita yang Allah tidak ingin pengaruhi dan bentuk.

Maka panggilan Allah untuk “Jadilah kudus, sebab Aku adalah kudus”, bukanlah semata-mata mengenai kesucian moral. Umat Allah harus terlihat memancarkan karakter Allah dan diawali dengan hubungan pribadi dengan Allah di dalam Kristus dan berbagi kekudusan di dalam Kristus, dan itulah: bertumbuh lebih menyerupai Kristus dan mengubah hidup kita menjadi pelayanan yang penuh ucapan syukur kepada Allah dan sesama, serta hidup yang menunjukkan kepada dunia seperti apakah yang Allah perkenan. Seperti yang Yesus katakan di dalam Matius 5:16. “ …hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Doa
Yesus Tuhan terkasih, kuingin menjadi lebih suci di dalam hati dan kehidupanku. Singkirkan semua dosa yang mengikat dan merongrongku dan jauhkanlah diriku dari dosa. Tolonglahku untuk bertumbuh lebih dalam lagi di dalam kasih-Mu dalam kehidupanku dan ubahlah diriku dari kemuliaan ke dalam kemuliaan, sehingga aku boleh memancarkan karakter-Mu di dalam segala yang kulakukan. Dalam nama Yesus ku-berdoa. Amin!

Tindakan
Hiduplah hari ini dengan kesadaran akan kehadiran Allah di dalam pola pikirmu. Selagi engkau bekerja dan menghadapi mereka yang Allah letakkan di dalam kehidupanmu hari ini, pikirkan bagaimana Yesus ingin engkau untuk mengasihi dan memberkati mereka sehingga engkau akan memberikan-Nya segala kemuliaan.

Oleh
Rev Stanley Chua
Pastor
Wesley Methodist Church

(Diterjemahkan oleh team WMC)

Imamat 27:30

Persembahan persepuluhan adalah milik TUHAN

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 27:30 [ITB])
30 Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN.

Ayat ini menjelaskan bahwa sepersepuluh dari segala sesuatu yang keluar dari tanah adalah milik TUHAN dan dikuduskan bagi TUHAN. Bagaimana kita memahami kalimat ini?

Pertama-tama, konsep tanah dalam Kitab Imamat sangat penting. Tanah bukan hanya wilayah geografis atau tempat yang dimiliki oleh tuan tanah tertentu. Kepemilikan semua tanah di Israel adalah milik TUHAN (Im. 25:23). Ini masuk akal karena manusia sebagai makhluk yang umurnya terbatas, tidak mungkin kekal memiliki tanah yang umurnya lebih lama dari manusia. Tanah yang umurnya begitu panjang hanya layak bagi Allah yang kekal. Oleh karena itu, kepemilikan tanah hanya bisa di tangan Allah, dan Allah adalah pemilik semua tanah.

Kedua, karena Allah adalah pemilik tanah, semua produksi dari tanah itu sendiri harus menjadi milik TUHAN. Tetapi karena TUHAN menganugerahkan tanah Kanaan kepada orang Israel sebagai hadiah, hadiah ini menjadi berkat bagi orang Israel, hanya karena Dia bersedia memberikan milik-Nya sendiri kepada orang Israel untuk makanan sehari-hari. Dialah yang membebaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir sehingga menerima tanah perjanjian ini dan mereka bisa menjadi pemilik tanah serta mengelolahnya dengan bebas. Oleh karena itu, Im. 27:30 mengharuskan Israel untuk mempersembahkan persepuluhan, lalu orang Israel memiliki sembilan per sepuluh itu adalah anugerah, adalah pemberian Allah kepada orang Israel.

Ketiga, persembahan persepuluhan orang Israel kepada Allah sebenarnya adalah semacam pengakuan, menyatakan bahwa pemilik tanah adalah Allah melalui tindakan persembahan. Hasil dari tanah kudus memang harus dikuduskan milik Allah, sekarang umat Israel mengembalikan hasil dari tanah kudus kepada Allah melalui tindakan persembahan, itu adalah proklamasi pengakuan bahwa tanah itu milik TUHAN. Dengan demikian, persembahan menempatkan diri seorang sebagai penerima anugerah, berdiri pada jalan penerima anugerah, melihat bahwa apa yang telah diterima adalah rahmat, dan sekarang hanya mengembalikan rahmat ini kepada Allah pemberi anugerah, mengingat dan berterima kasih kepada Allah untuk semua jenis pemeliharaan penyediaan bagi orang ini.

Renungkan:
Sering kali kita memiliki mentalitas di hati kita, berpendapat bahwa uang yang kita persembahkan adalah milik kita sendiri. Pemikiran kita sendiri sering menganggap persembahan sebagai pencapaian dan kemampuan kita sendiri, dan juga menganggap persembahan sebagai konsumsi (bahkan komersial). Faktanya, kegiatan konsumtif dan persembahan sangat berbeda, yang pertama melihat diri mereka sebagai konsumen, melihat diri mereka sebagai orang yang memiliki kemampuan dan sumber daya keuangan, dan juga melihat apa yang mereka berikan adalah milik mereka sendiri. Orang-orang seperti itu terkadang mengharapkan pihak lain untuk memberikan layanan, dan mereka yang memberi persembahan dengan mentalitas ini mengharapkan gereja untuk memberikan mereka pelayanan, bukan dia melayani orang lain. Ayat Alkitab hari ini menantang kita dan membuat kita mengerti bahwa meskipun kita memiliki banyak uang, kita hanyalah seorang penerima anugerah. Tanpa kasih karunia Allah, kita tidak akan memiliki semua harta dan kehidupan di bumi. Mulai hari ini dan seterusnya, kita harus memperlakukan persembahan persepuluhan dengan mentalitas sebagai penerima berkat, dan melalui persembahan menyatakan pengakuan bahwa semua adalah pemberian dan anugerah Allah pada diri kita.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 27:1-8

Nazar

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 27:1-8 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 「Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seorang mengucapkan nazar khusus kepada Allah mengenai orang menurut penilaian yang berlaku untuk itu,
3 maka tentang nilai bagi orang laki-laki dari yang berumur dua puluh tahun sampai yang berumur enam puluh tahun, nilai itu harus lima puluh syikal perak, ditimbang menurut syikal kudus. 4 Tetapi jikalau itu seorang perempuan, maka nilai itu harus tiga puluh syikal.
5 Jikalau itu mengenai seorang dari yang berumur lima tahun sampai yang berumur dua puluh tahun, maka bagi laki-laki nilai itu harus dua puluh syikal dan bagi perempuan sepuluh syikal.
6 Jikalau itu mengenai seorang dari yang berumur satu bulan sampai yang berumur lima tahun, maka bagi laki-laki nilai itu harus lima syikal perak, dan bagi perempuan tiga syikal perak.
7 Jikalau itu mengenai seorang yang berumur enam puluh tahun atau lebih, jikalau itu mengenai laki-laki, maka nilai itu harus lima belas syikal dan bagi perempuan sepuluh syikal.
8 Tetapi jikalau orang itu terlalu miskin untuk membayar nilai itu, maka haruslah dihadapkannya orang yang dinazarkannya itu kepada imam, dan imam harus menilainya; sesuai dengan kemampuan orang yang bernazar itu imam harus menentukan nilainya.

Dalam masyarakat Israel, membuat janji kepada Allah adalah hal yang sangat umum. Perilaku ini disebut membuat nazar, orang yang membuat nazar harus memenuhi apa yang dia janjikan untuk lakukan bagi Allah, jika tidak integritas orang itu akan dipertanyakan, mendatangkan murka dan hukuman Allah.

Apakah sebuah nazar adalah sebuah tawar-menawar, atau apakah itu suatu barter dengan Allah? Tidak, orang memiliki sikap serius terhadap nazar yang dia buat, ini adalah semacam persekutuan yang serius dengan Allah, dan tindakan mempercayakan hidupnya kepada Allah. Namun, nazar semacam ini juga dapat disalahgunakan oleh orang sehingga menyebabkan beberapa tragedi (misalnya nazar Yefta, Hak. 11:34-39). Untuk mencegah penyalahgunaan nazar, kitab Imamat menetapkan peraturan di pasal 27 ini.

Imamat 27:2-8 merujuk pada sejenis nazar, yang melibatkan pengabdian seseorang untuk melayani di tempat kudus (pelayanan bisa dalam suatu batas waktu atau yang tidak ditentukan jangka waktu, Hana mempersembahkan Samuel adalah nazar yang pelayanannya tidak terbatas jangka waktu), dalam prosedurnya perlu mengevaluasi nilai seseorang. Dari segi evaluasi, laki-laki diperhitungkan harga yang lebih tinggi (dua kali lipat) dari perempuan, hal ini mungkin tergantung pada keuntungan ekonomi orang tersebut. Jika laki-laki dewasa mungkin mereka lebih produktif daripada perempuan, jadi penilaian ini bukan untuk menggambarkan nilai seseorang, tetapi untuk menggambarkan produktivitas ekonomi seseorang. Namun, ini tidak berarti bahwa seseorang direduksi menjadi alat produksi, hanya saja pengaturan terhadap nazar mempertimbangkan segi ekonomi, pengaturan ini memberi orang kesempatan untuk membuat jalan keluar bagi orang yang sangat kesulitan dengan membuat nazar: jika yang dinazarkan adalah orang yang produktif secara ekonomi maka keluarga tersebut kehilangan orang yang produktif, keluarga harus diperhitungkan harga yang lebih tinggi sehingga bisa menjadi jaminan bagi absennya orang yang produktif ini dari keluarga tersebut, oleh karena itu, ini adalah semacam sistem perlindungan.

Ayat 8 menunjukkan bahwa orang miskin tidak memiliki kemampuan membuat nazar, mereka harus dibawa ke hadapan imam untuk dievaluasi harganya, yang menunjukkan bahwa imam adalah jaminan terakhir dalam suatu masyarakat. Karena imam adalah pemimpin komunitas, ia memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menegakkan keadilan bagi orang miskin dan melindungi kehidupan mereka.

Renungkan:
Pengaturan atas nazar dalam tradisi imam sebenarnya merupakan sistem jaminan sosial yang memungkinkan orang miskin mendapatkan apa yang mereka butuhkan melalui nazar, dan untuk sementara mengatasi ketegangan keuangan jangka pendek mereka, dan imam harus melakukan penilaian yang adil dan benar. dalam hal ini, jangan karena keegoisan pribadi sehingga merendahkan nilai orang yang dinazarkan. Maksud awal dari pembentukan sistem ini apakah juga menjadi pengingat bagi kita yang menjadi pemimpin gereja, pemimpin rumah tangga, pemimpin tempat bekerja, atau pejabat pemerintah yang menghormati Allah dan mengasihi sesama?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 26:14-33

Hidup terkutuk

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 26:14-33 [ITB])
14 Tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu, 15 jikalau kamu menolak ketetapan-Ku dan hatimu muak mendengar peraturan-Ku, sehingga kamu tidak melakukan segala perintah-Ku dan kamu mengingkari perjanjian-Ku, 16 maka Akupun akan berbuat begini kepadamu, yakni Aku akan mendatangkan kekejutan atasmu, batuk kering serta demam, yang membuat mata rusak dan jiwa merana; kamu akan sia-sia menabur benihmu, karena hasilnya akan habis dimakan musuhmu. 17 Aku sendiri akan menentang kamu, sehingga kamu akan dikalahkan oleh musuhmu, dan mereka yang membenci kamu akan menguasai kamu, dan kamu akan lari, sungguhpun tidak ada orang mengejar kamu.
18 Dan jikalau kamu dalam keadaan yang demikianpun tidak mendengarkan Daku, maka Aku akan lebih keras menghajar kamu sampai tujuh kali lipat karena dosamu, 19 dan Aku akan mematahkan kekuasaanmu yang kaubanggakan dan akan membuat langit di atasmu sebagai besi dan tanahmu sebagai tembaga. 20 Maka tenagamu akan habis dengan sia-sia, tanahmu tidak akan memberi hasilnya dan pohon-pohonan di tanah itu tidak akan memberi buahnya.
21 Jikalau hidupmu tetap bertentangan dengan Daku dan kamu tidak mau mendengarkan Daku, maka Aku akan makin menambah hukuman atasmu sampai tujuh kali lipat setimpal dengan dosamu. 22 Aku akan melepaskan kepadamu binatang liar yang akan memunahkan anak-anakmu dan yang akan melenyapkan ternakmu, serta membuat kamu menjadi sedikit, sehingga jalan-jalanmu menjadi sunyi.
23 Jikalau kamu dalam keadaan yang demikianpun tidak mau Kuajar, dan hidupmu tetap bertentangan dengan Daku, 24 maka Akupun akan bertindak melawan kamu dan Aku sendiri akan menghukum kamu tujuh kali lipat karena dosamu, 25 dan Aku akan mendatangkan ke atasmu suatu pedang, yang akan melakukan pembalasan oleh karena perjanjian itu; bila kamu berkumpul kelak di kota-kotamu, maka Aku akan melepas penyakit sampar ke tengah-tengahmu dan kamu akan diserahkan ke dalam tangan musuh. 26 Jika Aku memusnahkan persediaan makananmu, maka sepuluh perempuan akan membakar roti di dalam satu pembakaran. Mereka akan mengembalikan rotimu menurut timbangan tertentu, dan kamu akan makan, tetapi tidak menjadi kenyang.
27 Dan jikalau kamu dalam keadaan yang demikianpun tidak mendengarkan Daku, dan hidupmu tetap bertentangan dengan Daku, 28 maka Akupun akan bertindak keras melawan kamu dan Aku sendiri akan menghajar kamu tujuh kali lipat karena dosamu, 29 dan kamu akan memakan daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan. 30 Dan bukit-bukit pengorbananmu akan Kupunahkan, dan segala pedupaanmu akan Kulenyapkan. Aku akan melemparkan bangkai-bangkaimu ke atas bangkai-bangkai berhalamu dan hati-Ku akan muak melihat kamu. 31 Kota-kotamu akan Kubuat menjadi reruntuhan dan tempat-tempat kudusmu akan Kurusakkan dan Aku tidak mau lagi menghirup bau persembahanmu yang menyenangkan. 32 Aku sendiri akan merusakkan negeri itu, sehingga musuhmu yang tinggal di situ akan tercengang karenanya. 33 Tetapi kamu akan Kuserakkan di antara bangsa-bangsa lain dan Aku akan menghunus pedang di belakang kamu, dan tanahmu akan menjadi tempat tandus dan kota-kotamu akan menjadi reruntuhan.

Gaya penulisan Imamat 26:14-33 sangat mirip dengan perikop sebelumnya, tetapi ayat 14 adalah kebalikan ayat 3, ayat 3 menyatakan bahwa jika orang Israel taat maka akan ada hasil yang baik, ayat 14 menunjukkan bahwa jika mereka tidak taat perintah Allah maka ada akibat yang buruk. Khususnya kalimat pada ayat 14 Tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu … Hal itu diulangi dalam ayat 18, 21, 23, dan 27. Ada beberapa cara penulisan yang berbeda dari Ulangan 28: dalam Kitab Ulangan, berkat dan kutukan berkorespondensi, yaitu satu kalimat berkat berkorespondensi dengan satu ucapan kutukan, misalnya: Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang (Ul. 28:3) berkorespondensi dengan Terkutuklah engkau di kota dan terkutuklah engkau di ladang (Ul. 28:16). Tetapi dalam perikop kitab Imamat ini tidak ada korespondensi seperti itu.

Imamat 26:14-33 menyebutkan lima kutukan yang datang karena tidak menaati perintah Allah.
• Kutukan pertama: malapetaka sakit (ayat 14-17), sakit menjadi kutukan dari Allah. Akar kata di ayat 16-17 ini sesuai dengan tema pengejaran pada ayat 6-8 (… Kamu akan mengejar musuhmu, dan mereka akan tewas di hadapanmu oleh pedang …), kata-kata yang digunakan semuanya adalah pemakaian yang khas, biasanya digunakan untuk menggambarkan akibat dari ketidaktaatan seseorang terhadap firman Allah.

• Kutukan kedua: hukuman tujuh kali lipat (ayat 18-20), membuat kita memikirkan Kejadian 4:15 Firman TUHAN kepadanya: Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.』」 dan Kejadian 4:24 sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat. Kata ini tujuh terkait erat dengan sumpah, misalnya, dalam Kejadian 26:33 mendeskripsikan Bersyeba berarti sumur sumpah (well of swearing), di antaranya kata sumpah (swearing) dapat diartikan sebagai membuat diri menjadi tujuh (to be seven self). Karena itu, Allah seperti bersumpah akan menghukum dengan tujuh kali lebih keras.

• Kutukan ketiga: berjalan buas (ayat 21-22), di ayat 21 muncul lagi deskripsi tujuh kali lipat, dan ada juga deskripsi setimpal dengan dosamu. Kutukan itu menggambarkan binatang buas akan datang memakan anak-anak dan membunuh orang, kebalikan dengan gambaran keharmonisan antara manusia dan hewan dalam Mazmur 104:20-23 dan Yesaya 65, bahkan binatang buas seperti ini tidak ada dalam Sepuluh Tulah.

• Kutukan keempat: kutukan kota (ayat 23-26), bagian ini berisi kata-kata yang umum digunakan dalam Perjanjian Lama untuk kutukan, termasuk pedang, wabah, dan kelaparan, kata-kata ini juga terdapat dalam 2 Tawarikh 29:8; Yeremia 15:4, 29:18, 34:17 dan sebagainya, terdapat suatu jenis teologi penawanan, menjelaskan hal-hal yang akan dihadapi ketika datangnya penawanan, ini melambangkan kutukan terburuk yang dihadapi Israel.

• Kutukan kelima: penawanan (ayat 27-33). Ayat 31-33 tampaknya menandakan penawanan, ada keterangan kota menjadi reruntuhan tempat tandus, juga deskripsi diserakkan tersebar di antara bangsa-bangsa, yang juga merupakan deskripsi khas tentang tawanan (Yes. 44:26, 49:19, 50:9, 58:12).

Ayat 25 Aku akan mendatangkan ke atasmu suatu pedang, yang akan melakukan pembalasan oleh karena perjanjian itu … secara khusus menyebutkan pembalasan perjanjian (covenantal vengeance), yang merupakan deskripsi yang sangat khusus, ayat 15 mengacu pada mengingkari perjanjian-Ku dan ayat 9 mengacu pada Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan kamu. Di bagian ini perlu diberikan perhatian pada dua poin: (1) mengingkari perjanjian berarti hubungan antara Allah dan manusia telah dirusak parah, karena di bawah perjanjian anugerah, orang Israel menerima hubungan dua sisi antara berkat dan kutuk, dan orang Israel berdosa menyembah berhala sebenarnya telah meninggalkan hubungan antara berkat dan kutuk, orang Israel tidak mau menerima berkat dan kutuk, sepenuhnya merobohkan hubungan perjanjian, mengkhianati tuntutan perjanjian anugerah serta hubungan berkat dan kutukan. Ini adalah situasi pelanggaran perjanjian; (2) teks memakai kata mengkhianati (violate), menunjukkan perjanjian seperti orang yang memiliki pribadi, sebagai simbol Allah itu sendiri, mengkhianati perjanjian juga mewakili mengkhianati Allah.

Renungkan:
Apakah hidup saya mengkhianati Allah? Mulai hari ini, bertekad untuk bertobat!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 26:3-13

x

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 26:3-13 [ITB])
3 Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, 4 maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya. 5 Lamanya musim mengirik bagimu akan sampai kepada musim memetik buah anggur dan lamanya musim memetik buah anggur akan sampai kepada musim menabur. Kamu akan makan makananmu sampai kenyang dan diam di negerimu dengan aman tenteram.
6 Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu. 7 Kamu akan mengejar musuhmu, dan mereka akan tewas di hadapanmu oleh pedang. 8 Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus, dan seratus orang dari antaramu akan mengejar selaksa dan semua musuhmu akan tewas di hadapanmu oleh pedang.
9 Dan Aku akan berpaling kepadamu dan akan membuat kamu beranak cucu serta bertambah banyak dan Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan kamu.
10 Kamu masih akan makan hasil lama dari panen yang lampau, dan hasil lama itu akan kamu keluarkan untuk menyimpan yang baru.
11 Aku akan menempatkan Kemah Pertemuan-Ku di tengah-tengahmu dan hati-Ku tidak akan muak melihat kamu. 12 Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku. 13 Akulah Allah, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya kamu jangan lagi menjadi budak mereka. Aku telah mematahkan kayu kuk yang di atasmu dan membuat kamu berjalan tegak.

Imamat 26-27 adalah penutup di akhir dari kitab ini, dan kalimat terakhir dari dua pasal ini adalah sebagai berikut: Itulah ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan serta hukum-hukum yang diberikan TUHAN, berlaku di antara Dia dengan orang Israel, di gunung Sinai, dengan perantaraan Musa (Im. 26:46), Itulah perintah-perintah yang diperintahkan TUHAN kepada Musa di gunung Sinai untuk disampaikan kepada orang Israel (Im. 27:34). Ini menekankan peran Musa sebagai seorang nabi, dia adalah wakil Allah yang menyampaikan hukum semua pengorbanan ritual, dan hukum ini adalah perintah yang diberikan di kaki Gunung Sinai, yaitu latar belakang didirikannya perjanjian untuk memahami hukum-hukum ini.

Ketika kita menggunakan latar belakang didirikannya perjanjian ini untuk memahami hukum-hukum ini, kita juga harus memahami bahwa perjanjian itu mengandung berkat dan kutuk. Umat di bawah perjanjian tidak dapat hanya menuntut berkat sebagai konsekuensi dari perjanjian dan tidak mau konsekuensi kutukan dari perjanjian, yang menaati perintah TUHAN maka Allah akan memberikan berkat-Nya, dan siapa yang tidak menaati perintah TUHAN maka Allah akan memberikan kutukan.

Format berkat dan kutukan adalah yang paling umum di antara format perjanjian (treaty) Timur Dekat kuno. Di sini berkat dan kutuk dalam Kitab Imamat sangat mirip dengan Ulangan 28, berkat (Ulangan 28:1-14) dan kutukan (Ulangan 28:15-68) proporsinya juga sangat mirip, berkat relatif lebih sederhana, kutukannya relatif panjang dan kompleks.

Janji pertama: Im. 26:3-5 menyatakan bahwa ada makanan, situasinya berlawanan dengan Kej. 3:17-19 firman-Nya kepada manusia itu: 『Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu』. Dan dalam Imamat 26:3-5, kondisi berkat dikaitkan dengan ketaatan. Ketika Kitab Imamat merangkumnya dalam format Kitab Ulangan, dari sudut pandang penulisan sastra tidak diragukan lagi bahwa peraturan tentang pengorbanan, penahiran, dan moralitas yang disebutkan di teks sebelumnya atas adalah syarat untuk memperoleh berkat.

Janji kedua: Im. 26:6-8 berkali-kali menyebutkan kata pedang, yang melambangkan kekuatan agresif eksternal, adalah jenis yang sama dengan binatang buas yang disebutkan. Di sini menjelaskan perang defensif dapat diubahkan menjadi perang berkemenangan melawan orang lain, ini adalah apa yang diharapkan semua orang dalam perang.

Janji ketiga: Im. 26:9-13 menunjukkan beranak cucu banyak dan memiliki makanan baru, Allah akan meneguhkan perjanjian-Nya dan menyertai Israel, menunjukkan hubungan perjanjian yang erat dengan Allah.

Renungkan:
Umat Israel adalah umat anugerah, TUHAN adalah Allah mereka, dan mereka adalah umat Allah. Kelangsungan hidup dan identitas mereka berada di atas titik ini. Karena itu, mereka harus mengakui bahwa sumber segala berkat dalam hidup adalah TUHAN.
Apakah Anda hidup dalam keadaan lancar? Mohon Allah untuk membuat kita percaya bahwa ini adalah anugerah dari Allah dan bukan sesuatu yang dapat dicapai oleh manusia sekadar dengan bekerja keras saja.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 25:47-55

Orang Israel adalah hamba-Ku

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 25:47-55 [ITB])
47 Apabila seorang asing atau seorang pendatang di antaramu telah menjadi mampu, sedangkan saudaramu yang tinggal padanya jatuh miskin, sehingga menyerahkan dirinya kepada orang asing atau pendatang yang di antaramu itu atau kepada seorang yang berasal dari kaum orang asing, 48 maka sesudah ia menyerahkan dirinya, ia berhak ditebus, yakni seorang dari antara saudara-saudaranya boleh menebus dia, 49 atau saudara ayahnya atau anak laki-laki saudara ayahnya atau seorang kerabatnya yang terdekat dari kaumnya atau kalau ia telah mampu, ia sendiri berhak menebus dirinya.
50 Bersama-sama dengan si pembelinya ia harus membuat perhitungan, mulai dari tahun ia menyerahkan dirinya kepada orang itu sampai kepada tahun Yobel, dan harga penjualan dirinya haruslah ditentukan menurut jumlah tahun-tahun itu; masa ia tinggal pada orang itu haruslah dihitung seperti masa kerja orang upahan.
51 Jikalau jumlah tahun itu masih besar, maka dari harga pembeliannya harus dikembalikan sebagai penebus dirinya menurut jumlah tahun itu. 52 Jika waktu yang masih tinggal sampai kepada tahun Yobel sedikit lagi saja, maka ia harus membuat perhitungan dengan orang itu; menurut jumlah tahun itulah ia harus membayar uang tebusan dirinya.
53 Demikianlah ia harus tinggal padanya sebagai orang upahan dari tahun ke tahun. Janganlah ia diperintah dengan kejam oleh orang itu di depan matamu.
54 Tetapi jikalau ia tidak ditebus dengan cara demikian, maka ia harus diizinkan keluar dalam tahun Yobel, ia bersama-sama anak-anaknya.
55 Karena pada-Kulah orang Israel menjadi hamba; mereka itu adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir; Akulah Allah, Allahmu.

Imamat 25:47-53 menunjukkan bahwa jika seorang saudara di Israel menjadi lebih miskin dan dijual kepada orang asing atau orang pendatang di antara mereka, ada dua cara untuk menebus saudara sama seperti menebus tanah: (1) ayat 51 menunjukkan bahwa harga tebusan ditetapkan secara proporsional menurut jumlah tahun dijual sebagai hamba, dan harga tebusan ditetapkan dengan pengurangan 2% setiap tahun, sehingga harga yang dibayar oleh pembeli harus lebih rendah dari nilai tebusan, dan perbedaan kedua harga ini adalah upah sebagai hamba (ayat 50); (2) jika saudara ini tidak ditebus, dia bersama-sama anak-anaknya akan bebas di tahun Yobel (ayat 54). Pengaturan ini sama dengan menjamin hak saudara yang dijual untuk bertahan hidup, di satu sisi, ia dapat menjadi budak seseorang, sehingga ia dapat bertahan hidup di bawah pemeliharaan tuannya, dan tuannya juga dikenakan aturan tidak boleh memerintah dengan kejam (ayat). 53); di sisi lain, dia tidak akan selamanya menjadi budak, setidaknya dia akan bebas di tahun Yobel, dengan demikian dia dapat memiliki kesempatan untuk penebusan.

Imamat 25:55 adalah kalimat ringkasan yang menjelaskan identitas orang Israel dan alasan teologisnya, mengapa mereka harus memenuhi pengaturan tahun Yobel. Ini karena orang Israel adalah hamba Allah, dan TUHAN sebagai Tuan tidak memerintah orang Israel dengan kejam, sebaliknya orang Mesir dengan kejam memerintah orang Israel. TUHAN sebagai Tuan yang pengasih, Allah memimpin orang Israel keluar dari Mesir dan memimpin mereka meninggalkan perbudakan. Demikian pula, pengaturan Tahun Yobel adalah semacam kepemimpinan bagi mereka yang adalah budak dapat mengalami keselamatan dari Mesir lagi, sehingga orang Israel dapat berbagi karakter Allah, belajar serupa gambar Allah (imitatio dei), dan memenuhi pengajaran dalam Peraturan Kekudusan yakni Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus (Im. 19:2).

Setelah renungan beberapa hari, kita memahami bahwa ada tiga tujuan Tahun Yobel: (1) untuk membuat orang Israel lebih serupa gambar Allah; (2) agar orang Israel berbagi kekudusan Allah; (3) untuk membawakan kesatuan solidaritas kepada masyarakat (social solidarity), menghapus pertentangan antara tuan dan hamba, majikan dan karyawan, dan tanah dan tuan tanah. Ketiga tujuan ini tidak hanya membawa keseimbangan hak dan kepentingan dalam masyarakat, tetapi orang Israel juga mewujudkan umat yang kudus, dan menggunakan berbagai jaminan sosial untuk menunjukkan bahwa ada Allah di antara orang Israel.

Renungkan:
Bagaimana kita dapat menghidupi kekudusan Allah dalam pengaturan keadilan dan jaminan sosial? Dan apakah hidup kita lebih kudus serupa Allah dan mengungkapkan karakter Allah?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 25:39-46

Janganlah memerintah dengan kejam yang satu sama yang lain

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 25:39-46 [ITB])
39 「Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia. 40 Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu. 41 Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya. 42 Karena mereka itu hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak. 43 Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu.
44 Tetapi budakmu laki-laki atau perempuan yang boleh kaumiliki adalah dari antara bangsa-bangsa yang di sekelilingmu; hanya dari antara merekalah kamu boleh membeli budak laki-laki dan perempuan. 45 Juga dari antara anak-anak pendatang yang tinggal di antaramu boleh kamu membelinya dan dari antara kaum mereka yang tinggal di antaramu, yang dilahirkan di negerimu. Orang-orang itu boleh menjadi milikmu. 46 Kamu harus membagikan mereka sebagai milik pusaka kepada anak-anakmu yang kemudian, supaya diwarisi sebagai milik; kamu harus memperbudakkan mereka untuk selama-lamanya, tetapi atas saudara-saudaramu orang-orang Israel, janganlah memerintah dengan kejam yang satu sama yang lain.

Imamat 25:39-46 menyebutkan dua macam orang, yang pertama pekerja upahan (ayat 39-43) dan yang kedua adalah budak (ayat 44-46).

Mengenai orang-orang yang disebutkan dalam ayat 39-43 adalah orang-orang yang berangsur-angsur miskin, bagian peraturan ini dimaksudkan untuk melindungi orang-orang yang berangsur-angsur menjadi miskin agar tidak menjadi budak orang lain, karena mereka adalah saudara atau kerabat orang Israel, sehingga mereka hanya boleh diperlakukan sebagai pekerja upahan. Ini berarti bahwa mereka harus dilindungi oleh majikan, dan mereka hanya dapat melayani majikan mereka sampai tahun Yobel. Sampai Yobel, mereka harus meninggalkan majikan mereka dan kembali ke rumah mereka, menebus tanah mereka. Mengapa orang Israel harus melakukan ini? Ayat 42-43 memberikan alasan di baliknya, (1) Bangsa Israel adalah hamba Allah, dan Allah secara pribadi memimpin mereka keluar dari Mesir. Mereka awalnya adalah budak di Mesir, tetapi sekarang karena keselamatan Allah maka budak Mesir menjadi hamba Allah, setiap orang Israel tidak boleh lagi memiliki tuan lain, juga tidak boleh menjual saudara-saudaranya sebagai budak; (2) Ini adalah salah satu tindakan hormat takut akan Allah, jadi alasan melaksanakan aturan ini sepenuhnya karena hormat takut akan Allah, alasan yang bersifat teologis; (3) janganlah memerintah dengan kejam yang satu sama yang lain (ayat 43, 46, 53), yang berarti bahwa tuan tidak memerintah pekerja upahan dengan sewenang-wenang, kata memerintah (rule over) adalah perilaku yang sangat sadar akan kekuasaan (extremely power-conscious behaviour), dan hanya orang yang hormat takut akan Allah yang dapat menyeimbangkan mentalitas ini, agar orang yang menjadi tuan mengerti bahwa tuannya yang sebenarnya adalah TUHAN, dia tidak akan bertindak sewenang-wenang memerintah orang lain.

Bagian ini sampai batas tertentu mengemukakan hubungan antara majikan dan karyawan. Seorang karyawan tidak dapat menjadi budak, yang berarti bahwa orang ini bukan milik majikan, tidak memperbolehkan majikan memerintah semau-maunya. Dalam komunitas Israel, baik karyawan maupun majikan adalah hamba Allah, jadi tidak ada seseorang dapat dijadikan budak lagi. Oleh karena komunitas Israel analog dengan jemaat Kristen saat ini, kita percaya bahwa orang Kristen jika menjadi majikan tidak boleh menganggap karyawan sebagai properti milik mereka sendiri (baik mereka orang percaya atau tidak) , tetapi harus menganggap mereka sebagai hamba Allah seperti diri mereka sendiri, dengan hati yang hormat takut akan Allah memperlakukan mereka, di satu sisi, memperlakukan mereka dengan masuk akal, di sisi lain, hendak menghentikan semua penindasan, mengadopsi metode operasi yang berbeda dengan pengusaha non-Kristen, dan bersaksi tentang keadilan Allah.

Renungkan:
Dalam hubungan antara majikan dan karyawan, serta di antara sesama karyawan, apakah kita tanpa sadar akan menganggap orang-orang di sekitar kita sebagai alat atau budak untuk menyelesaikan pekerjaan, bukan individu yang terhormat? Memohon Allah membantu kita untuk memperlakukan orang-orang di sekitar kita sebagai hamba Allah. Kita hanya pelayan dan menerima kasih karunia Allah untuk mengelola orang alih-alih memerintah mereka. Dengan demikian, perusahaan yang dijalankan oleh orang Kristen dapat mengeluarkan cahaya yang berbeda, agar dunia melihat alasan untuk takut akan Allah di zaman yang terbiasa dengan penindasan.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 25:23-28

TUHAN adalah pemilik tanah

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 25:23-28 [ITB])
18 Demikianlah kamu harus melakukan ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-Ku serta melakukannya, maka kamu akan diam di tanahmu dengan aman tenteram. 19 Tanah itu akan memberi hasilnya, dan kamu akan makan sampai kenyang dan diam di sana dengan aman tenteram.
20 Apabila kamu bertanya: Apakah yang akan kami makan dalam tahun yang ketujuh itu, bukankah kami tidak boleh menabur dan tidak boleh mengumpulkan hasil tanah kami? 21 Maka Aku akan memerintahkan berkat-Ku kepadamu dalam tahun yang keenam, supaya diberinya hasil untuk tiga tahun. 22 Dalam tahun yang kedelapan kamu akan menabur, tetapi kamu akan makan dari hasil yang lama sampai kepada tahun yang kesembilan, sampai masuk hasilnya, kamu akan memakan yang lama.
23 Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku. 24 Di seluruh tanah milikmu haruslah kamu memberi hak menebus tanah.
25 Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga harus menjual sebagian dari miliknya, maka seorang kaumnya yang berhak menebus, yakni kaumnya yang terdekat harus datang dan menebus yang telah dijual saudaranya itu.
26 Apabila seseorang tidak mempunyai penebus, tetapi kemudian ia mampu, sehingga didapatnya yang perlu untuk menebus miliknya itu, 27 maka ia harus memasukkan tahun-tahun sesudah penjualannya itu dalam perhitungan, dan kelebihannya haruslah dikembalikannya kepada orang yang membeli dari padanya, supaya ia boleh pulang ke tanah miliknya. 28 Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk mengembalikannya kepadanya, maka yang telah dijualnya itu tetap di tangan orang yang membelinya sampai kepada tahun Yobel; dalam tahun Yobel tanah itu akan bebas, dan orang itu boleh pulang ke tanah miliknya.

Imamat 25:23-24 menjelaskan bahwa itu adalah konsep yang agak khusus: tidak boleh memiliki tanah pribadi, karena satu-satunya pemilik tanah adalah Allah, dan orang Israel akan selalu melihat diri mereka sebagai orang asing dan pendatang, ini adalah sama dengan pengakuan identitas dari mereka sendiri: kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti semua nenek moyang kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan (1 Taw. 29:15). Ketika kita berpikir bahwa di bawah hukum dunia kita memiliki kemampuan untuk membeli rumah dan memiliki properti pribadi, namun kita tidak dapat menyangkal TUHAN adalah pemilik atas tanah karena alam semesta adalah ciptaan Allah, manusia adalah tamu yang lewat menumpang di bumi. Bagaimana hidup kita yang sementara itu bisa memiliki tanah yang panjang usianya? Bumi hanya layak dimiliki oleh Allah yang kekal, dan hanya Dia yang dapat memiliki hak dan kemampuan untuk memiliki tanah.

Imamat 25:25-28 dapat dibaca bersama-sama dengan kitab Rut dan Nehemia 5:1-5. Orang-orang yang tidak memiliki tanah dan properti secara tingkat sosial berada dalam kondisi yang relatif tidak memadai, mereka hanya bisa memilih untuk bersandar pada pengurangan tahunan sebesar 2% untuk menebus tanah dengan harga yang relatif rendah, atau mereka harus bergantung pada tahun Yobel lima puluh tahun satu kali untuk pemutihan semua hutang, barulah demikian mendapatkan jaminan perlindungan.

Kata kaummu / saudaramu muncul berkali-kali (Im. 25:25, 35, 36, 39, 46, 47, 48), artinya bukan hanya saudara saja, tetapi juga berarti bahwa orang ini sama dengan orang Israel lainnya yakni memiliki iman yang sama, mereka semua adalah anggota dari umat perjanjian, yang menjadi alasan mengapa setiap orang tidak boleh saling menindas. Karena, umat anugerah bisa menjadi umat Allah karena keluaran dari Mesir, bangsa Israel meninggalkan tempat perbudakan dan mengembara di padang gurun selama empat puluh tahun. Mereka sangat memahami identitas sebagai orang asing dan pendatang yang menumpang tinggal, ketika mereka memasuki Kanaan seharusnya bisa mencerna perkataan Allah bahwa Akulah pemilik tanah itu (Im. 25:23). Ketika seseorang menjadi kaya dan memiliki kemampuan untuk membeli tanah saudaranya, mereka juga harus memahami bahwa penjualan seperti itu tidak akan menghilangkan identitas mereka sebagai orang asing dan pendatang, sehingga mereka tidak boleh merugikan saudara-saudaranya dalam proses jual beli. Dengan demikian, konsep bahwa tanah adalah milik Allah menetapkan sifat asli orang Israel sebagai orang asing, dan menjadi alasan teologis bagi mereka untuk memperlakukan satu sama lain secara adil.

Renungkan:
Apakah Anda mengakui identitas Anda sebagai tamu? Jangan sekali-kali kita dengan sepenuh hati mengejar harta benda dan sesuatu yang bukan milik kita, barang-barang tersebut hanya bernilai sementara dan tidak dapat dibawa setelah kematian. Sebaliknya, kita harus mengakui status kita sebagai orang asing dan menumpang tinggal di dunia, percaya bahwa rumah yang sebenarnya ada di surga, alih-alih berada di tanah ini, dengan demikian, kita tidak akan menindas orang lain dan membuat orang menderita karena berpegang bahwa kita adalah pemilikan properti di bumi. Marilah mulai hari ini, kita akan menyesuaikan tujuan yang kita kejar dalam hidup dan mengidentifikasi diri kita sebagai tamu.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 25:14-17

Janganlah merugikan satu sama lain

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 25:14-17 [ITB])
14 Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain.
15 Apabila engkau membeli dari sesamamu haruslah menurut jumlah tahun sesudah tahun Yobel, dan apabila ia menjual kepadamu haruslah menurut jumlah tahun panen. 16 Makin besar jumlah tahun itu, makin besarlah pembeliannya, dan makin kecil jumlah tahun itu, makin kecillah pembeliannya, karena jumlah panenlah yang dijualnya kepadamu.
17 Janganlah kamu merugikan satu sama lain,
tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah Allah, Allahmu.

Imamat 25:13 adalah kalimat yang menyatakan topik utama: Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya. Kalimat topik ini telah menjadi pengantar, membawa keluar isi Imamat 25:14-17, menjelaskan secara rinci bagaimana melaksanakan masing-masing pulang ke tanah miliknya, dan kita dapat menggunakan struktur berbentuk kipas (chiastik) untuk memahami:

Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya (ayat 13) (kalimat topik)
A: Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, (ayat 14)
B: janganlah kamu merugikan satu sama lain (ayat 14)
C: Apabila engkau membeli dari sesamamu haruslah menurut jumlah tahun sesudah tahun Yobel, dan apabila ia menjual kepadamu haruslah menurut jumlah tahun panen (ayat 15)
D: Makin besar jumlah tahun itu, makin besarlah pembeliannya (ayat 16)
D’: makin kecil jumlah tahun itu, makin kecillah pembeliannya (ayat 16)
C’: karena jumlah panenlah yang dijualnya kepadamu (ayat 16)
B’: Janganlah kamu merugikan satu sama lain (artinya juga oppress / menindas) (ayat 17)
A’: tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu (ayat 17)

Dalam perikop ini D-D’ adalah pusatnya, dengan jelas menjabarkan cara jual beli tanah dalam 50 tahun ini. Pada tahun pertama dari lima puluh tahun ini, nilai tanah yang dibeli adalah 100%, setelah itu, nilainya akan dikurangi dengan 2% per tahun, sampai tahun kelima puluh, pemilik asli tanah dapat memperoleh kembali tanah miliknya secara cuma-cuma, artinya, nilai tanah ini menjadi tidak ada di tahun kelima puluh. Misalnya, jika seorang menjual kepada orang lain dan ingin menebus kembali tanah itu di tahun ke-25, ia dapat menebusnya dengan 50% dari nilainya. Ini mencegah orang bermain spekulasi tanah dan memungkinkan petani untuk mengambil kembali tanah mereka sekaligus di tahun ke-50. Apakah ini adil bagi pembeli? Bagi pembeli, 50 tahun adalah jangka waktu dia bisa menikmati sendiri nilai tanah itu, dia bisa menggunakan tanah itu untuk bercocok tanam dan berproduksi. Baginya, dia sudah bisa mendapatkan keuntungan ekonomi. Oleh karena itu, itu adil kepada pembeli tanah.

B-B’ (janganlah kamu merugikan satu sama lain ayat 14 dan 17) menekankan bahwa pembeli atau penjual, tidak boleh menerima lebih banyak atau kurang memberikan dari yang sepatutnya, dan satu sama lain harus mengikuti pengaturan dari D-D’ dan C-C’ (D: Makin besar jumlah tahun itu, makin besarlah pembeliannya, D’: makin kecil jumlah tahun itu, makin kecillah pembeliannya. C: membeli haruslah menurut jumlah tahun sesudah tahun Yobel dan apabila menjual haruslah menurut jumlah tahun panen, C’: karena jumlah panenlah yang dijualnya kepadamu), jika tidak demikian maka akan menyebabkan penindasan.

Terakhir, alasan mengapa orang-orang Israel harus menaati pengaturan tahun Yobel ini, yakni adalah harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN ── Allahmu (ayat 17), takut akan Allah itu adalah alasan mereka tidak boleh menindas orang lain, karena Alkitab mengatakan bahwa Allah akan menegakkan keadilan.

Renungkan:
Apakah Anda menindas (merugikan) orang lain ketika Anda membeli atau menjual, atau menandatangani kontrak? Terkadang, kita berpikir bahwa kita dapat melakukan apa saja selama kita tidak melanggar hukum peraturan di dunia. Kita tidak tahu bahwa hukum Allah sering kali menuntut lebih daripada hukum peraturan di dunia. Sebagai orang Kristen, ketika kita membeli atau menjual, atau menandatangani kontrak, apakah kita memperhitungkan apakah orang lain akan tertindas (dirugikan)? Berdoa memohon agar Allah membantu kita hormat takut akan Allah dan memiliki hikmat untuk membedakan yang baik dan yang jahat.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.