Tag Archives: persembahan korban

Bilangan 28:1-8

「Setiap hari dan tetap berkesinambungan」

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 28:1-8 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa: 2 Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Dengan setia dan pada waktu yang ditetapkan haruslah kamu mempersembahkan persembahan-persembahan kepada-Ku sebagai santapan-Ku, berupa korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi-Ku.
3 Katakanlah kepada mereka: Inilah korban api-apian yang harus kamu persembahkan kepada TUHAN:
dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela setiap hari sebagai korban bakaran yang tetap; 4 domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi, domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja.
5 Juga sepersepuluh efa tepung yang terbaik untuk korban sajian, diolah dengan seperempat hin minyak tumbuk. 6 Itulah korban bakaran yang tetap yang diolah pertama kali di atas gunung Sinai menjadi bau yang menyenangkan, suatu korban api-apian bagi TUHAN.
7 Dan korban curahannya ialah seperempat hin untuk setiap domba; curahkanlah minuman yang memabukkan sebagai korban curahan bagi TUHAN di tempat kudus.
8 Dan domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja; sama seperti korban sajian pada waktu pagi dan sama seperti korban curahannya haruslah engkau mengolahnya sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.』」

sebagai persembahan yang baunya menyenangkan bagi TUHAN

Bilangan pasal 28 – 29 berbicara tentang persembahan korban, mulai dari persembahan korban harian, mingguan, bulanan hingga persembahan korban tahunan, frekuensinya menurun, tetapi jumlah yang dipersembahkan meningkat secara kumulatif. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

• Pengaturan lebih awal: Orang Israel telah berada di padang gurun selama empat puluh tahun tanpa rumah permanen dan tidak ada tanah untuk ditanami dan dipanen. Tetapi nanti setelah memasuki Kanaan, lembu dan domba dapat dipersembahkan sebagai persembahan bakaran, gandum biji-bijian dapat dipersembahkan sebagai korban sajian, minuman anggur dapat dipersembahkan sebagai korban curahan, dan minyak zaitun dapat dipersembahkan untuk penerangan dan mengolah korban sajian. Ini harus direncanakan sebelumnya dan nantinya dilaksanakan di tanah perjanjian.

• Penyembahan bersifat nasional: semua persembahan korban ini adalah ibadah umum, dipersembahkan oleh para iman mewakili umat Allah, diadakan secara teratur sesuai periode waktunya, dan tepat waktu. Sedangkan untuk yang bersifat individual, persembahan korban yang tidak secara periode, terutama aturan dalam bernazar dan membayar nazar, akan dibahas belakangan di Bilangan 30.

• Jumlah dan barang korban: semua lembu dan domba yang dikorbankan adalah jantan, lebih berharga. Secara total, kebutuhan untuk satu tahun adalah 133 ekor lembu jantan, 32 ekor domba jantan, 1.086 ekor anak domba, lebih dari satu ton tepung, dan lebih dari 1.000 botol anggur dan minyak. Sepertinya banyak, tetapi itu hanya sebagian kecil bagi keseluruhan sebuah negara.

• Kualitas yang terbaik: semua persembahan kepada TUHAN (Yahweh), lembu dan domba, harus tidak bercela, tanpa cacat, bahasa aslinya tǝmîmim berarti lengkap, tidak kurang, dan sehat (28:3). Korban sajian, hendaknya digunakan tepung pilihan yang digiling halus. Kaki dian emas dari tabernakel dan korban sajian harian semuanya memakai minyak zaitun tumbuk yang tulen yang mahal, mengacu pada minyak zaitun murni yang diperas dari penggilingan.

• Persembahan yang tetap dan terus menerus: banyak sedikit jumlahnya adalah prioritas kedua, yang terpenting adalah persembahan yang tetap (tāmîd) berkesinambungan (28:3, 10). Oleh karena itu, persembahan korban harian merupakan prioritas pertama, yang merupakan landasan dari sistem persembahan korban. Persembahan bakaran dipersembahkan setiap hari, setelah hewan korban disembelih, dilepaskan darahnya, dikupas, dipotong-potong, dan dicuci bersih, semuanya ditempatkan dengan rapi di atas mezbah dan dibakar dengan api, yang bermakna bahwa semuanya dipersembahkan kepada Tuhan dan tidak ada yang disisihkan sama sekali (lihat Imamat 1). Pagi dan malam masing-masing 1 ekor anak domba jantan, mewakili pembaruan setiap hari.

• Korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN: membakar korban-korban ini sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN (28:2, 6, 8). Teks bahasa aslinya memiliki 2 kata bau dan menyenangkan, yang artinya bukan saja korban api-apian yang baunya menyenangkan, tetapi yang berkenan kepada TUHAN (Yahweh). Sedangkan kata ‘iššeh korban api-apian, karena kadang-kadang tidak mengacu pada korban yang dibakar di atas altar (Imamat 24:7, 9), jadi mungkin lebih cocok untuk diterjemahkan sebagai persembahan

Renungkan:
Korban adalah persembahan kepada Allah, mengungkapkan rasa syukur, cinta dan kerinduan dari sang penyembah kepada Allah. Persembahan korban membangun dan memperdalam perjanjian Allah dengan orang, memperdalam rohani sang penyembah, dan meningkatkan persekutuan, sukacita perkenan Allah dan manusia. Allah itu layak untuk keseluruhan dari diri kita, Allah itu layak untuk yang terbaik, Allah itu layak untuk cinta kasih kita. Karena itu, hanya pemberian terbaik yang bisa layak dipersembahkan kepada Allah.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan 1-16

Renungan pemahaman Kitab Bilangan 17-36

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 17-36 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Nopember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yohanes 1:29

「Anak domba Allah」
Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 1:29 [ITB])
29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: 「Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia

Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia

Yohanes menyebut Yesus adalah Anak domba Allah — kita semua terbiasa dengan istilah rohani domba, jadi marilah hari ini kita merenungkan sebutan domba Allah.

Dalam bahasa aslinya Yunani, Anak domba Allah (ὁ ἀμνὸς τοῦ θεου ho amnos toú theos) dapat memiliki beberapa arti yang berbeda: Anak domba milik Allah (the Lamb belongs to God), Anak domba yang diberikan oleh Allah (the Lamb given by God).

Menurut Injil Yohanes, Domba Allah adalah menghapus dosa dunia, oleh karena itu, ini memiliki arti pengorbanan dalam Perjanjian Lama, dan juga menanggapi Yesaya 53 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya(Yesaya 53:7), TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, …(Yesaya 53:10) Oleh karena itu, domba ini berasal dari Allah, milik Allah, dan juga merupakan korban penghapus dosa yang dianugerahkan oleh Allah.

Namun, kita jangan lupa bahwa perikop ini juga menanggapi pengantar teologis di Injil Yohanes pasal 1: Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Domba ini bukanlah korban yang di luar Allah, tetapi pada saat yang sama Domba ini adalah Allah sendiri. Oleh karena itu, Domba Allah bukan sekadar pemberian dari Allah, melainkan Allah sendiri! Jadi, Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia, apa yang dilihat orang bukan hanya pekerjaan Allah, tetapi juga Allah sendiri – ini adalah kedatangan Jalan Allah.

Melalui kematian Domba Allah, dosa dihapus. Di sini, Injil Yohanes juga mengungkapkan arti dari domba penghapus dosa – domba bukan sekadar menanggung dosa, tetapi sepenuhnya menghapus dosa (take away). Selain itu, walau ada terjemahan yang secara fungsional sebagai dosa manusia dunia, terjemahan literalnya adalah τὴν ἁμαρτίαν τοῦ κόσμου (tín amartia toú kosmos) adalah dosa dunia . Oleh karena itu, domba menghapus dosa bukan hanya dosa individu, tetapi dosa seluruh dunia: dosa komunitas, dosa struktural, dosa sistem sosial masyarakat, dan dampak dosa terhadap dunia.

Oleh karena itu, meskipun Injil Yohanes mengutip kata dasar terkait persembahan korban di Perjanjian Lama, itu jauh melampaui konsep Perjanjian Lama Domba Allah, Allah Sendiri, yang datang ke dunia. Kemudian, dosa dunia akan dihapuskan. Ini bukanlah sekadar korban penghapus dosa yang sederhana, tetapi perjumpaan agung dan kedatangan kasih Allah atas dunia (Yohanes 3:16).

Renungkan:
Sejarah dunia adalah korban penghapus dosa yang radikal menyeluruh. Persembahan korban penghapus dosa ini tidak hanya terjadi pada peristiwa di atas salib dua ribu tahun yang lalu. Perjumpaan antara Allah dengan dunia — inkarnasi Sang Firman menjadi manusia, kebangkitan pembaruan, mengalami rekonsiliasi, dan ciptaan baru semuanya terjadi. Dengan wawasan ini, bagaimana kita memahami dunia yang kita hadapi saat ini?


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 1:19-51

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 1:19-51 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan September 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Imamat 1:2-9 (2)

Korban api-apian yang baunya menyenangkan Allah

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:2-9 [ITB])
2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. 4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. 6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu. 8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. …』」

Korban bakaran selain dipersembahkan bagi TUHAN, juga memiliki fungsi mengadakan pendamaian (Im. 1:4), tetapi juga merupakan korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN (Im. 1:9, 13, 17), bagaimana kita seharusnya memahami kedua karakteristik dari korban bakaran ini?

Imamat 1:4 menjelaskan korban bakaran yang berkenan dalam dapat mengadakan pendamaian baginya (Im. 1:4), Kata mengadakan pendamaian (kĭppěr) ini memiliki diskusi yang sangat banyak di dunia akademis, para peneliti sepakat bahwa kata ini memiliki makna terutama kudus, dan jika kata ini ditempatkan dalam konteks terkait murka Allah, memiliki arti penebusan (ransom). Kata ini biasanya digunakan bersama-sama dengan kata bagi seseorang (misal ayat 4 mengadakan pendamaian baginya, berarti seseorang menahirkan tempat kudus dan menebus bagi orang itu, karena kenajisan orang (baik moral atau tidak bermoral) akan sering mencemari tempat kudus oleh karena itu, korban bakaran memiliki fungsi mengadakan pendamaian, menjaga kekudusan tempat kudus dan memastikan penyertaan hadirat Allah. Dalam sejarah persembahan korban Israel, fungsi mengadakan pendamaian dari korban bakaran berangsur-angsur digantikan oleh korban penghapus dosa, seiring berjalannya waktu, fungsi utama korban bakaran adalah untuk mempersembahkan korban. Berikut ini juga dijelaskan pengertian korban api-apian.

Bagaimana kita memahami korban api-apian yang baunya menyenangkan? Umumnya para peneliti berpendapat bahwa baunya yang menyenangkan Allah ini terkait penghapusan murka Allah. Murka ini bukanlah kemarahan emosional, melainkan sikap dasar Allah terhadap dosa dan kenajisan. Karena Allah adalah kudus, kodrat-Nya sendiri akan menyingkirkan kenajisan, jika seseorang yang najis berani memaksa masuk ke lingkup kudus, maka Allah wajib murka, harus menyingkirkan yang najis hilang dari lingkup kudus. Oleh karena itu, imam dari tradisi Perjanjian Lama sangat mementingkan urusan terkait penghapusan murka Allah, ini bukan menghibur kemarahan anak kecil, tetapi masalah yang sangat serius agar kekudusan Allah tidak dilanggar. Api dari korban bakaran mengubah korban menjadi asap yang harum, dari sudut pandang manusia, api ini mengubah korban dari ranah manusia naik ke ranah lingkup ilahi, dan melambangkan penghapusan murka. Karena ini merupakan urusan penghapusan murka Allah, maka pengadaan pendamaian dari korban bakaran memiliki makna penebusan (ransom).

Renungkan:
Apakah hidup Anda atau saya tahir? Sering kali, dosa-dosa kita dengan sengaja atau tidak sengaja membuat najis tempat kediaman Allah. Meskipun di era Perjanjian Baru, kita tidak perlu khawatir akan kehadiran penyertaan Tuhan meninggalkan kita, karena persembahan Yesus Kristus di kayu salib telah sepenuhnya menghapus murka Allah, tetapi ini tidak berarti bahwa kita dapat berbuat dosa sesuka hati. Berdoa agar Allah membantu kita memahami dan berterima kasih atas korban penghapus dosa dari Kristus yang Ia lakukan demi kita, menghapuskan murka Allah sehingga membuat kita memiliki hidup baru dan tidak lagi hidup di bawah murka Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 1:2-9

Berkenan di hadapan TUHAN

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:2-9 [ITB])
2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. 4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. 6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu. 8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. …』」

Imamat pasal 1 berbicara tentang aturan korban bakaran, dalam bahasa asli ‘ōlāh (korban bakaran) dapat dipahami sebagai korban yang membubung ke atas, simbol yang mewakili korban dipersembahkan sebagai wangi-wangian yang baunya menyenangkan dipersembahkan kepada Allah di surga. Dalam peraturan korban bakaran, korban (qŏrbān), yakni kata korban yang disebutkan di Markus 7:11 … sudah digunakan untuk korban yaitu persembahan kepada Allah, kata ini sering sekali muncul (Im. 1:2, 3, 10, 14), menjelaskan bahwa korban bakaran itu sendiri adalah korban yang dipersembahkan kepada Allah, karena itu adalah persembahan, maka berharap pihak penerima akan berkenan sukacita menerimanya, tetapi bagaimana memastikan bahwa persembahan korban ini diterima berkenan di hadapan Allah?

Dalam mempersembahkan korban bakaran, api yang digunakan adalah api yang datang dari Allah (Im. 9:24), segala yang datang dari Allah adalah sesuatu yang merupakan bagian dari ranah ilahi milik Allah, dan definisi kudus juga adalah makna yang merupakan bagian dari ranah ilahi (lingkup ilahi), kita dapat memahami bahwa ini adalah api semacam api kudus, adalah api yang datang dari Allah; api ini bukan api umum yang dipakai oleh manusia (Im.10:1), api umum ini bukan bagian dari ranah ilahi milik Allah, itu adalah api manusia. Api kudus adalah prasyarat untuk memastikan korban bakaran berkenan diterima, karena api yang dipakai adalah api Allah, api dari ranah ilahi milik Allah membakar korban yang dipersembahkan ini, itu melambangkan pengorbanan yang berkenan diterima oleh Allah, dan oleh karena itu, api kudus ini tidak boleh padam, jika tidak, maka korban persembahan tidak akan bisa berkenan di terima di hadapan Allah.

Sering kali, kita mengandalkan upaya manusia, memberikan persembahan yang paling mahal harganya kepada Allah, dan juga dengan kemampuan, hikmat dan relasi diri sendiri untuk menyalakan api persembahan, dan berharap Allah akan berkenan menerima pemberian kita, tetapi ternyata diterima berkenan atau tidak berkenannya persembahan korban bukan tergantung pada usaha manusia, melainkan mengandalkan api kudus anugerah dari Allah.

Ini menggambarkan dua poin:
(1) tidak peduli berapa mahal persembahan orang, kecuali berkenan kepada Allah, maka persembahan itu sia-sia;
(2) manusia sebenarnya tidak memiliki modal untuk memberikan persembahan dengan mempertimbangkan besarnya usaha atau mahalnya harga persembahan untuk menyenangkan Allah, maka orang tidak patut mencoba untuk jual beli dengan Allah, tidak patut mencoba menyuap Allah. Karena penerimaan suatu persembahan sepenuhnya merupakan inisiatif Allah. Memang benar, manusia boleh yang secara proaktif mempersembahkan persembahan korban, menurut sebagian peneliti, korban bakaran adalah bentuk persembahan sukarela, bukan persembahan wajib, tetapi inisiatif sukarela untuk memberikan persembahan tidak akan menjadi prasyarat perkenan Allah, dan terlebih tidak boleh karena persembahan inisiatif sukarela maka ingin mengontrol Allah untuk berkenan menerima.

Renungkan:
Korban apa yang Anda persembahan kepada Allah? Apakah Anda berharap Allah berkenan menerimanya? Hanya ketika korban yang dibakar oleh api suci yang dapat melambangkan perkenan penerimaan Allah, api manusia tidak dapat mencapai tujuan ini, ini artinya, kita tidak patut mempersembahkan persembahan dengan cara kita sendiri, meskipun persembahan itu sendiri mahal harganya, seperti lembu yang disebutkan dalam pasal ini (1:3) lebih mahal daripada kambing domba (1:10) dan burung tekukur atau dari anak burung merpati (1:14), dan tidak dapat menjamin perkenan penerimaan Allah. Hanya api kudus (melambangkan: cara Allah, cara yang sesuai kehendak Allah) yang dapat membakar semua korban dan memastikan perkenan penerimaan Allah. Apakah Anda telah mempersiapkan hidup Anda memasuki ranah ilahi Allah?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.