Tag Archives: Kehadiran Allah

Yehezkiel 10:9-22

「Meninggalkan Bait Suci」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 10:9-22 [ITB])
9 Aku melihat, sungguh, di samping kerub-kerub itu terdapat empat roda, satu roda di samping seorang kerub, dan roda-roda ini kelihatannya seperti kilauan permata pirus. 10 Kelihatannya keempatnya adalah serupa, seolah-olah roda yang satu di tengah-tengah yang lain. 11 Kalau mereka berjalan mereka dapat menuju keempat jurusan tanpa berbalik kalau berjalan; karena tempat mana yang dituju oleh yang di muka, ke situlah pergi yang lain-lain, tanpa berbalik kalau berjalan. 12 Seluruh badan mereka, punggungnya, tangannya, sayapnya, dan roda-rodanya penuh dengan mata sekelilingnya, ya, roda-roda mereka berempat juga.
13 Aku dengar bahwa roda-rodanya disebut puting beliung. 14 Masing-masing mempunyai empat muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka rajawali.
15 Kerub-kerub itu naik ke atas. Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di tepi sungai Kebar. 16 Kalau kerub-kerub itu berjalan, roda-roda itu juga berjalan di samping mereka;
kalau kerub-kerub itu mengangkat sayapnya untuk terbang dari tanah, roda-roda itu tidak bergerak dari samping mereka.
17 Kalau kerub-kerub itu berhenti, roda-roda itu berhenti,
kalau kerub-kerub itu naik ke atas, roda-roda itu sama-sama naik dengan mereka;
sebab roh makhluk-makhluk hidup itu ialah di dalam roda-roda itu.
18 Lalu kemuliaan TUHAN pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas kerub-kerub. 19 Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka, dan waktu mereka pergi, aku lihat, mereka naik dari tanah dan roda-rodanya bersama-sama dengan mereka.
Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka.
20 Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub. 21 Masing-masing mempunyai empat muka dan bagi masing-masing ada empat sayap dan di bawah sayap mereka ada yang berbentuk tangan manusia. 22 Kelihatannya muka mereka adalah serupa dengan muka yang kulihat di tepi sungai Kebar. Masing-masing berjalan lurus ke mukanya.

Kemuliaan TUHAN akan meninggalkan Bait Suci, dan penghakiman Allah akan segera datang. Namun, paragraf ini memiliki banyak deskripsi tentang kemuliaan TUHAN pergi meninggalkan, melibatkan banyak elemen transenden, dan detail setiap elemen memiliki simbolisme khusus. Ayat 9 memulai paragraf baru dengan Aku melihat, sungguh, menjelaskan secara rinci isi penglihatan, termasuk empat roda kerub (ayat 9-17) dan proses perginya kemuliaan TUHAN meninggalkan (ayat 18-20), dan terakhir makhluk hidup yang dilihat nabi Yehezkiel di Sungai Kebar (ayat 21-22).

Pada dasarnya, keadaan empat roda kerub yang dijelaskan dalam ayat 9-17 sesuai dengan empat roda yang disebutkan dalam penglihatan Yehezkiel di Sungai Kebar (Yeh. 1:15-21), dan satu perbedaan adalah bahwa Yehezkiel di waktu yang pertama tidak tidak tahu bahwa makhluk hidup yang dilihatnya adalah kerub, tetapi di perikop ini (ayat 9-17) dijelaskan bahwa itu adalah kerub. Dikatakan dalam ayat 14 masing-masing mempunyai empat muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka rajawali.Dan dalam penglihatan Yehezkiel yang dijelaskan sebelumnya seperti ini muka mereka kelihatan begini: Keempatnya mempunyai muka manusia di depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di belakang(Yeh. 1:10), tampaknya 10:14 muka kerub menggantikan muka lembu di 1:10, dan menempatkan muka Kerub di awal empat wajah. Karena penglihatan Yehezkiel datang dari utara (Yeh. 1:4), kita dapat membayangkan bahwa di depan (muka manusia) yang dijelaskan dalam ayat 10 adalah selatan, dan di sebelah kanan (muka singa) adalah barat, di sebelah kiri (muka lembu) adalah timur, dandi belakang(muka rajawali) adalah utara, tetapi posisi terakhir Yehezkiel yang disebutkan dalam 10:14 adalah di timur (Yeh. 8:16 ) atau di pintu masuk Bait Suci (Yeh. 9:3), keduanya di timur, maka muka kerub yang disebutkan dalam ayat 10:14 harus di timur, muka manusia di selatan, dan muka singa ada di barat, muka rajawali di utara, sama seperti yang dijelaskan di 1:4, hanya saja muka kerub menggantikan muka lembu yang sama di timur. Bisa jadi muka kerub adalah bayangan yang dilihat dari timur, tetapi jika Yehezkiel melihat dari selatan, muka kerub disebutnya sebagai muka lembu. Namun penekanan pada muka kerub dalam ayat 10:14 dengan jelas menunjukkan bahwa ini adalah takhta Allah, dan gambaran roda menunjukkan mobilitas pergerakan takhta Allah, yang berarti bahwa kemuliaan TUHAN tidak hanya mengikuti takhta kerub pergi meninggalkan, bahkan pergi menyertai bersama orang-orang yang diasingkan.

Ayat 18 menjelaskan kemuliaan TUHAN meninggalkan pintu masuk Bait Suci yang berada di sebelah timur Bait Suci, kerub siap menyambut kemuliaan Allah di pintu masuk (timur) Bait Suci. Ayat 19 menggambarkan kerub melebarkan sayapnya dan bangkit dari tanah, secara resmi bersama dengan kemuliaan Allah. meninggalkan Bait Suci.

Ayat 20 mengembalikan pandangan ke Sungai Kebar. Di awal pasal 8 disebutkan saat Yehezkiel berada di antara para tua-tua Yehuda, ia diangkat oleh roh Allah dibawa dalam penglihatan ilahi ke Yerusalem, dan akhirnya Yehezkiel kembali ke komunitas orang-orang di penawanan, dan memahami bahwa makhluk hidup dilihat di Sungai Kebar adalah kerub, artinya setelah TUHAN meninggalkan Bait Suci, kemuliaan-Nya tetap menyertai orang-orang di penawanan, dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub (ayat 20). Kalimat ini menunjukkan bahwa TUHAN yang duduk di atas takhta kerub dan TUHAN yang meninggalkan Bait Suci adalah Allah yang sama. Sekalipun Yehezkiel setelah ditawan ke pengasingan tidak bisa melayani sebagai imam di Bait Suci seumur hidupnya, namun dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan rekan-rekan para imam yang lain, ia lebih memahami hati dan realitas Allah lebih baik daripada mereka yang tidak pernah ditawan. Ternyata meskipun penawanan telah merampas masa depan Yehezkiel sebagai imam, namun tidak bisa merampas Allah Imanuel, Allah selalu menyertai orang-orang yang terserak dan orang-orang yang menumpang hidup.

Renungkan:
TUHAN meninggalkan Bait Suci karena kejahatan yang dilakukan oleh para pemimpin Yehuda, dan karena hukuman TUHAN semakin dekat, kepergian Allah berarti awal dari hukuman itu. Di tempat suci tanpa Allah, semua pengorbanan dan ibadah yang dilakukan menjadi tidak berarti, walau betapa indah dan hebatnya proses penyembahan itu, tidak ada gunanya. Namun, inilah awal dari pengalaman kelompok pengasingan akan Allah, Allah meninggalkan Bait Suci, tetapi Dia tidak meninggalkan orang-orang di pengasingan ini. Mobilitas pergerakan roda kerub menunjukkan bahwa Allah beserta orang-orang di diaspora dan orang-orang yang menumpang hidup. Ternyata meskipun orang berdosa itu ditawan, kehadiran Allah tidak berubah, ironisnya tidak ada Allah di Bait Suci yang indah itu, sedangkan kelompok yang terasing dan terlantar bisa merasakan Allah secara mendalam.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 1- 11 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Januari 202 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 3:12-15

「Roh itu mengangkat aku」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 3:12-15 [ITB])
12 Maka Roh itu mengangkat aku, dan aku mendengar di belakangku suatu suara gemuruh yang besar, tatkala kemuliaan Allah naik ke atas dari tempatnya, 13 yakni suara dari sayap-sayap makhluk-makhluk hidup yang menggesek satu sama lain, dan di samping itu suara gemertak dari roda-roda, suatu suara gemuruh yang besar.
14 Dan Roh itu mengangkat dan membawa aku, dan aku pergi dengan hati panas dan dengan perasaan pahit, karena kekuasaan TUHAN memaksa aku dengan sangat. 15 Demikianlah aku datang kepada orang-orang buangan yang tinggal di tepi sungai Kebar di Tel-Abib dan di sana aku duduk tertegun di tengah-tengah mereka selama tujuh hari.

Setelah Yehezkiel melihat penglihatan itu dan mendengar panggilan Allah, Roh Tuhan mengangkatnya (ayat 12, 14) dan mengirimnya kembali di antara mereka yang dalam pengasingan di tepi Sungai Kebar di Babel (ayat 15), tepat seperti yang disebutkan dalam Yeh. 1:1 tentang Sungai Kebar di mana nabi di pengasingan melihat langit terbuka dan melihat penglihatan-penglihatan tentang Allah. Karena panggilan Allah kepada Yehezkiel bukanlah untuk menyampaikan perkataan kepada orang non-Yahudi, tetapi kepada para buangan (Yeh. 3:4-11), Roh Allah mengirim dia kembali ke pengasingan sehingga dia dapat tinggal di antara mereka merealisasikan panggilan dari Tuhan.

Fokus dari ayat 12-13 adalah tentang suara. Dalam ayat 12 disebutkan bahwa ada suara gemuruh yang besar di belakang nabi Yehezkiel. Suara ini terkait pada kemuliaan TUHAN yang merupakan tema yang sangat penting dalam kitab Yehezkiel, dan ayat 13 juga menyebutkan bunyi sayap makhluk hidup yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya di Yeh. 1:24, sebelumnya dinyatakan bahwa bunyi itu seperti suara air terjun yang menderu, seperti suara Yang Mahakuasa, seperti keributan laskar yang besar, dan ayat 3:13 menunjukkan bahwa itu adalah suara gemuruh gemetar yang besar (atau bunyi gempa bumi lihat ESV, BIMK, BISH, ISH), dengan demikian ayat 12 dan 13 sebanyak dua kali menyebutkan bunyi gemuruh yang besar. Situasi seperti suara gempa bumi, lebih mungkin untuk mengingatkan para pembaca tentang pemandangan ketika TUHAN turun ke Gunung Sinai, Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat (Kel. 19:18). Dengan demikian, suara gemuruh yang besar adalah suara kehadiran Tuhan, yang merupakan semacam kehadiran agung penuh wibawa, menyatakan kedaulatan, kekuasaan, dan kemahakuasaan TUHAN. Dengan demikian, ketika Yehezkiel kembali ke pengasingan di Sungai Kebar, Allah menunjukkan kemuliaan dan kuasa-Nya agar Yehezkiel mengerti bahwa realitas kehadiran Tuhan lebih nyata daripada situasi yang akan dia hadapi di antara kaum pemberontak itu. Seluruh kehidupan Yehezkiel hendak dengan kepastian mengenal realitas kehadiran Tuhan untuk menghadapi situasi di mana dia berada, barulah dia dapat memenuhi panggilannya dengan setia.

Namun ketika nabi Yehezkiel kembali ke tengah pengasingan di Sungai Kebar, ia merasa sedih. Di satu sisi, ia hati panas, dan di sisi lain, dengan perasaan pahit, karena kekuasaan TUHAN memaksa aku dengan sangat (ayat 14), tarikan ketegangan dan pergumulan seperti ini benar-benar terasa seperti Anda tidak bisa bernapas dengan normal. Di satu sisi, Yehezkiel harus merespons panggilan Tuhan, dengan setia berbicara dan memenuhi panggilan Tuhan, dan di sisi lain, menghadapi kaum pemberontak. Realitas kegelapan membuat Yehezkiel murung, jadi ia duduk tertegun di tengah-tengah mereka selama tujuh hari (ayat 15). Tujuh melambangkan kesempurnaan. Di satu sisi, Yehezkiel harus setia sepenuhnya pada panggilan itu, dan di sisi lain, harus sepenuhnya hidup dalam kegelapan, tarikan ketegangan terlalu besar untuk ditanggung orang biasa. Namun, hanya oleh pengangkatan Roh Tuhan (ayat 12, 14) yang dapat menyuntikkan kekuatan dan daya gerak ke dalam kehidupan panggilan dan menjalani panggilan dengan lebih nyata dalam realitas kegelapan.

Renungkan:
Akibat pengasingan dan diaspora sudah pasti, keluhan sebesar apapun tidak akan membantu. Yang dibutuhkan saat ini bukanlah slogan dan keluhan yang tidak realistis, tetapi sikap sebagai orang yang menumpang tinggal yang mengejar visi dan panggilan yang lebih nyata daripada situasi pengasingan. Panggilan Yehezkiel adalah nyata, bukan karena ilusi dirinya, tetapi karena Tuhan memanggilnya adalah Dia yang memegang kendali atas segala yang ada di alam semesta, yang bersedia berjalan bersama dengan orang buangan, sehingga buangan yang kehilangan kampung halaman dapat menemukan rumah di dalam Tuhan, dan Yehezkiel adalah perantara antara langit dan bumi. Hidup dalam ruang dan waktu paralel, dia menyampaikan firman perkataan Allah ke dunia yang najis dan jahat. Bahkan jika tarikan ketegangannya demikian besar, Roh Tuhan lebih kuat, cukup untuk memungkinkan dia menyelesaikan misinya dan agar realitas kegelapan diterangi oleh kemuliaan yang lebih nyata.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 1- 11 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Januari 202 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yesaya 64:1-3

「Kiranya Engkau Mengoyakkan Langit dan Turun」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 64:1-3 [ITB])
1 Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu 2 seperti api membuat ranggas menyala-nyala dan seperti api membuat air mendidih, untuk membuat nama-Mu dikenal oleh lawan-lawan-Mu, sehingga bangsa-bangsa gemetar di hadapan-Mu, 3 karena Engkau melakukan kedahsyatan yang tidak kami harapkan, seperti tidak pernah didengar orang sejak dahulu kala!

Yesaya 64 melanjutkan seruan ratapan dalam Yes. 63:15-19 di atas, dan di ayat 9 (lihat Yes. 64:1-9) menggunakan seruan untuk memohon belas kasihan dan penyertaan Allah. Hari ini kita akan merenungkan seruan doa permohonan ayat 1-3, dan besok kita akan merenungkan doa permohonan ayat 4-9.

Konten dalam perikop 64:1-3 mengadopsi gambar Allah menampakkan diri (Teofani) yang khas dari Perjanjian Lama (Teofani: Allah menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh yang bersangkutan, sehingga yang bersangkutan sadar bahwa mereka berhadapan dengan Allah sendiri), yaitu gambaran ketika TUHAN menampakkan diri di Gunung Sinai dan menyatakan diri kepada orang-orang Israel. Dan Yesaya ketiga yang hidup di masa Bait Suci kedua dan masa kerajaan Persia, ia berdoa memohon agar pengalaman yang sama datang dan dialami orang-orang Israel. Dari isinya, kita melihat bahwa nabi Yesaya ini berdoa meminta Allah menampakkan diri lebih spektakuler dan besar daripada saat di Gunung Sinai dahulu.

Dalam teks bahasa aslinya, ayat 1 (dalam bahasa asli di bagian akhir ayat 63:19) dan ayat 3 (dalam bahasa asli di ayat 64:2) diakhiri dengan Engkau turun di hadapan-Mu gunung-gunung berguncang (yaradta mipaneka harim nazollu, lihat terjemahan ITL atau BIMK), ini menunjukkan bahwa inti utama ayat 1-3 adalah bahwa Allah datang secara pribadi (sifat Allah yang konsisten … bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka … 63:9), sehingga semua gunung terguncang oleh karena Allah datang secara pribadi menampakkan diri, serupa dengan situasi ketika TUHAN turun di Gunung Sinai (Kel. 19:18), dan perbedaan apa yang diminta dalam permohonan nabi Yesaya dengan kitab Keluaran adalah bahwa nabi berdoa meminta agar gunung-gunung terguncang, bukan hanya satu gunung Sinai. Kelompok gunung-gunung ini mungkin merupakan metafora bagi para dewa yang disembah mezbah-mezbah di tempat-tempat tinggi di gunung-gunung. Dewa-dewa ini disembah oleh bangsa-bangsa asing, tetapi penampakan diri Allah membuat terguncang semua gunung-gunung yang menyembah dewa-dewa itu, sehingga bangsa-bangsa asing itu memahami bahwa TUHAN adalah Allah yang memiliki kuasa besar adalah Allah yang sejati. Selain itu, ayat 1 menggambarkan TUHAN mengoyakkan langit, dalam teks aslinya dapat diartikan sebagai merobek langit menjadi berkeping-keping, ini adalah metafora bahwa tidak ada apapun yang dapat menghalangi Allah datang turun, ini adalah kedatangan yang membuat bumi terkejut. Dan Kitab Suci menggambarkan Dia turun dari langit, ini terkait dan menanggapi doa permohonan di ayat 63:15 Pandanglah dari sorga dan lihatlah dari kediaman-Mu yang kudus dan agung, ini menjelaskan nabi Yesaya tidak sabar lagi terhadap kegelapan yang ada di depan mata ini, meminta Allah jangan hanya duduk di surga melihat ke bawah saja, tetapi benar-benar turun dari Sorga (langit), biarkan orang-orang dari bangsa-bangsa asing melihat karya Allah yang sejati, dan kehadiran-Nya membawakan hormat dan takut.

Ayat 2 menuliskan penampakan diri TUHAN dengan api, yang sama dengan catatan bahwa gunung penuh api ketika Allah turun di gunung Sinai (Kel. 19:18). Api ini adalah simbol kehadiran Allah, digunakan untuk membakar kayu kering yang bertepatan dengan pengalaman Musa akan semak yang terbakar (Kel. 3:2), api digunakan untuk membuat air mendidih berkorespondensi dengan TUHAN membuat air Laut Teberau (Laut Merah / Laut Kolsom) Kel. 14:21. Tetapi kali ini berbeda, jika dahulu laut terbelah dihembus oleh angin, Allah secara tidak langsung meniupnya menggunakan angin alam, tetapi kali ini dengan api dan Allah sendiri secara langsung memisahkan air dengan kehadiran api. Nabi Yesaya meminta pengalaman yang lebih nyata dan lebih besar dari penampakan diri TUHAN dibandingkan Keluaran dari Mesir, yang tujuannya yakni yang dinyatakan dalam ayat 2 untuk membuat musuh mengetahui nama TUHAN, dan juga membuat bangsa-bangsa gemetar di hadapan Allah!

Renungkan:
Imanuel, Tuhan beserta kita! Kita mungkin berpikir bahwa kehadiran Tuhan adalah kehadiran kelembutan dan cinta, tetapi nabi Yesaya berdoa meminta hadirat Tuhan adalah kehadiran penyertaan-Nya yang penuh wibawa dan kuasa. Kehadiran tersebut adalah agar musuh mengetahui nama TUHAN, juga agar bangsa-bangsa gemetar di hadapan Allah, dan menghancurkan semua mezbah-mezbah berhala bangsa-bangsa di atas gunung-gunung, sehingga kemuliaan-Nya akan nyata di seluruh bumi. Apakah Anda merindukan kehadiran Allah seperti itu? Bagaimana kehadiran Allah menjadi kekuatan pengharapan Anda?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Raja-raja 6:11-13

Tentang kehadiran Allah

Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 6:11-13 [ITB])
11 Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Salomo, demikian: 12 Mengenai rumah yang sedang kaudirikan ini, jika engkau hidup menurut segala ketetapan-Ku dan melakukan segala peraturan-Ku dan tetap mengikuti segala perintah-Ku dan tidak menyimpang dari padanya, maka Aku akan menepati janji-Ku kepadamu yang telah Kufirmankan kepada Daud, ayahmu, 13 yakni bahwa Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan tidak hendak meninggalkan umat-Ku Israel.

1 Raja-raja 6 adalah bagian yang tidak akan dipilih sebagai ayat emas hafalan.

Seluruh pasal 1 Raja-raja 6 tampak seperti tumpukan gambar rancangan arsitektur. Berapa hasta, berapa hasta, berapa hasta, berapa panjang, berapa tinggi, berapa lebar, dll, padat dengan angka-angka data bangunan Bait Suci ini sulit untuk dinikmati oleh orang awam. Namun, jika kita dengan hati yang teliti memperhatikan pasal ini, kita akan menemukan bahwa dalam angka-angka data bangunan Bait Suci yang padat ini, tiba-tiba diselipkan sebuah paragraf perkataan yang berbeda, dalam 1 Raja-raja 6:11-13 Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Salomo, demikian: Mengenai rumah yang sedang kaudirikan ini, jika engkau hidup menurut segala ketetapan-Ku dan melakukan segala peraturan-Ku dan tetap mengikuti segala perintah-Ku dan tidak menyimpang dari padanya, maka Aku akan menepati janji-Ku kepadamu yang telah Kufirmankan kepada Daud, ayahmu, yakni bahwa Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan tidak hendak meninggalkan umat-Ku Israel.

Seluruh pasal 6 yang berbicara tentang ukuran bangunan Bait Suci, tiba-tiba muncul ayat 11-13. Perkataan firman Tuhan ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah, antara ayat 10 dan 14, seolah-olah sebuah pemberitahuan penting tiba-tiba dipasang di tengah-tengah cetak biru arsitektur yang penuh data dan gambar — pemberitahuan Tuhan terhadap seluruh proyek pembangunan Bait Suci. Mengenai rumah yang sedang kaudirikan ini, TUHAN mengingatkan Salomo bahwa Bait ini di masa depan, Bait di mana nama TUHAN berdiam, tetapi itu tidak berarti Allah benar-benar tinggal di sana. Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini (1 Raja-raja 8:27). Walau bangunan ini sepertinya sangat sakral, tetapi bangunan tidak dapat dibandingkan dengan kehadiran penyertaan Allah. Ia ingin mengingatkan Salomo: kehadiran-Nya bukan di Bait Suci ini, tetapi dalam ketaatan Salomo kepada firman Tuhan. Intinya adalah menaati Allah, bukan Bait Suci ini.

Renungkan:
Di zaman ini, mudah untuk menciptakan lingkungan yang menyerupai hadirat Tuhan. Musik latar, video, pencahayaan, gereja dapat dengan mudah menciptakan suasana yang sangat mengharukan dan menyentuh. Tapi mari kita berhati-hati – kehadiran sejati Tuhan tercermin dalam ketaatan kita kepada Tuhan. Ingatlah perintah Amanat Agung: Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Kehadiran Tuhan nyata dalam ketaatan dan praktik kita kepada-Nya.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab 1 Raja-raja ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan Februari 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.