Tag Archives: Kitab Imamat

Imamat 6:1-7

Pertobatan membawakan rekonsiliasi

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 6:1-7 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa:
2 Apabila seseorang berbuat dosa dan berubah setia terhadap TUHAN, dan memungkiri terhadap sesamanya barang yang dipercayakan kepadanya, atau barang yang diserahkan kepadanya atau barang yang dirampasnya, atau apabila ia telah melakukan pemerasan atas sesamanya,
3 atau bila ia menemui barang hilang, dan memungkirinya, dan ia bersumpah dusta dalam perkara apapun yang diperbuat seseorang, sehingga ia berdosa,
4 apabila dengan demikian ia berbuat dosa dan bersalah, maka haruslah ia memulangkan barang yang telah dirampasnya atau yang telah diperasnya atau yang telah dipercayakan kepadanya atau barang hilang yang ditemuinya itu,
5 atau segala sesuatu yang dimungkirinya dengan bersumpah dusta. Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima; haruslah ia menyerahkannya kepada pemiliknya pada hari ia mempersembahkan korban penebus salahnya.
6 Sebagai korban penebus salahnya haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, menjadi korban penebus salah, dengan menyerahkannya kepada imam.
7 Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah.

Imamat 6:1-7 lebih lanjut menjelaskan berubah setia / tidak setia (mă’ăl) yang terkait dengan mencuri atau pemerasan dalam hal harta kepemilikan terhadap sesamanya, di antaranya muncul dua kali salahnya / bersalah (guilt, retribution) (’ăšmāh) di ayat 5 korban penebus salahnya, dan ayat 7 apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah, ini adalah salah satu dari kata-kata yang telah menimbulkan diskusi populer di kalangan akademisi. Penjelasan yang lebih masuk akal adalah: akibat yang ditimbulkan dari suatu dosa (dosa memiliki tiga aspek: motivasi dosa, perilaku dosa, akibat dosa), dalam kebanyakan kasus itu menunjuk kepada hukuman yang merupakan akibat dari dosa, selain hukuman secara eksternal dari Allah dan membayarkan uang syikal pendamaian untuk dosa tersebut, ia juga membawa semacam penyesalan rasa berdosa, yaitu rasa bersalah setelah berbuat dosa. Penyesalan berdosa ini membuat orang merasa tidak nyaman, dan akhirnya penyesalan dosa ini bisa mendorong orang ini untuk berdamai dengan sesamanya, melalui membayar membayarkan uang syikal pendamaian sebagai korban penebus salah, untuk mengadakan rekonsiliasi perbaikan (repair) hubungan antara satu sama lain, oleh karena itu secara permukaan rasa penyesalan bersalah adalah konsekusensi dari dosa (consequential aspect of sin), tetapi dapat membawa rekonsiliasi dan pertobatan (šwb).

Dengan demikian, kita melihat uang syikal pendamaian dalam korban penebus salah, selain untuk membawakan perbaikan, tetapi juga rekonsiliasi hubungan, dan rasa bersalah yang timbul, menunjukkan bahwa korban penebus salah ini menekankan penyesalan dari dalam hati, menolak ritual prosedural yang secara permukaan saja tanpa pertobatan yang sejati, orang harus konsisten antara tindakan luar dengan dalam hati, di satu sisi tidak bisa sekadar prosedur ritual pengorbanan yang tanpa hati, seolah-olah berbeda dalam dan luar; di sisi lain, tidak hanya penyesalan di dalam hati dan tidak ada tindakan nyata. Rekonsiliasi dan tindakan perbaikan, menjadi jalan kehidupan rohani di dalam ritual persembahan korban, rekonsiliasi membuat hubungan orang tersebut lebih dekat dengan sesamanya, tindakan perbaikan membantu orang ini membayar harga, memperbaiki dosa kesalahan antar sesama. Dengan demikian, rekonsiliasi dan tindakan perbaikan memimpin orang tersebut menapak di jalan pengudusan, membantu ia memenangkan orang-orang yang ia langgar, hidup semakin banyak memiliki teman bukan lebih banyak orang yang merupakan korban kesalahan dirinya.

Teologi ini mirip dengan kesedihan dalam Surat 2 Korintus, Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya supaya jangan aku melebih-lebihkan, hati beberapa orang di antara kamu. Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat (2 Kor. 2:5-7), menjelaskan bahwa kesedihan setelah berbuat dosa membuat orang menerima sesuatu tingkat hukuman, akhirnya membantu orang bertobat dan bukan terjerumus ke taraf binasa.

Renungkan:
Ayat ini walau secara khusus menekankan pertobatan ketika menipu dan mencuri harta orang lain, namun ini menjadi pengingat penting bagi kita. Apakah pertobatan kita konsisten di dalam dan di luar? Apakah rasa bersalah kita menuntun kita untuk rekonsiliasi berdamai? Rekonsiliasi bukan sekadar harmonisasi, prasyarat rekonsiliasi adalah pertobatan, tetapi juga kita harus membayar harga atas dosa pelanggaran (pada zaman itu dilaksanakan dengan membayar uang syikal pendamaian). Ketika gereja terpecah belah, betapa penting berbicara tentang rekonsiliasi, tetapi rekonsiliasi dan dua prasyarat (pertobatan dan membayar harga) harus dipenuhi dan dilakukan, barulah rekonsiliasi memiliki fondasi.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 5:14-19

Solusi bagi yang tidak sengaja berbuat dosa terhadap TUHAN

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 5:14-19 [ITB])
14 TUHAN berfirman kepada Musa:
15 Apabila seseorang berubah setia dan tidak sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal kudus yang dipersembahkan kepada TUHAN, maka haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salahnya seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, dinilai menurut syikal perak, yakni menurut syikal kudus, menjadi korban penebus salah.
16 Hal kudus yang menyebabkan orang itu berdosa, haruslah dibayar gantinya dengan menambah seperlima, lalu menyerahkannya kepada imam. Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu dengan domba jantan korban penebus salah itu, sehingga ia menerima pengampunan.
17 Jikalau seseorang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN tanpa mengetahuinya, maka ia bersalah dan harus menanggung kesalahannya sendiri.
18 Haruslah ia membawa kepada imam seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, sebagai korban penebus salah. Imam itu haruslah mengadakan pendamaian bagi orang itu karena perbuatan yang tidak disengajanya dan yang tidak diketahuinya itu, sehingga ia menerima pengampunan.
19 Itulah korban penebus salah; orang itu sungguh bersalah terhadap TUHAN.

Imamat 5:14-19 mencatat peraturan tentang korban penebus salah / tebusan salah. Ada peneliti berpendapat bahwa korban penebus salah adalah salah satu jenis persembahan korban perbaikan (reparation offering), namun terutama untuk memperbaiki apa?

Dari dalam perikop, kita melihat bahwa persembahan korban ini terutama untuk menangani masalah dosa berubah setia / tidak setia (mă’ăl), menurut beberapa peneliti, kata ini berarti ada pelanggaran / menyalahi (trespass), ini mencakup kesalahan melanggar / menerobos tempat kudus, hal-hal kudus dan orang-orang kudus, tetapi bahwa itu adalah dosa yang tidak sengaja dilakukan, orang ini tidak bermaksud menerobos batas-batas suci dan profan, adalah dosa pribadi dan tidak sengaja dilakukan. Pada dasarnya, pelanggaran melambangkan mengabaikan batas-batas, menerobos batas antara yang kudus dan najis, membawa krisis campur aduk kericuhan, dan kericuhan ini merupakan ancaman langsung terhadap tatanan, merusak pembagian kategori dan ketertiban tatanan sosial, mengakibatkan kerusuhan dan kenajisan, mengancam kehadiran penyertaan Allah. Oleh karena itu, berubah setia / tidak setia (mă’ăl) menghancurkan konsep batas, khususnya batas antara Allah dan manusia, dan membuat hal-hal yang termasuk dalam ranah ilahi Allah menjadi ranah dunia (profan), juga mewakili dosa merusak perjanjian antara Allah dan manusia.

Kata berubah setia / tidak setia (mă’ăl) juga sebuah kata yang biasa digunakan dalam Kitab 1,2 Tawarikh, tetapi penulis Tawarikh telah meninggalkan penggunaan konsep kejahatan yang dilakukan tidak sengaja oleh individu dalam Kitab Imamat menjadi kejahatan disengaja yang dilakukan komunitas. Contohnya, dua setengah suku di sebelah timur sungai Yordan melakukan dosa berubah setia / tidak setia (mă’ăl) Inilah para kepala puak-puak mereka: Hefer, Yisei, Eliel, Azriel, Yeremia, Hodawya dan Yahdiel, orang-orang pahlawan yang gagah perkasa, orang-orang yang kenamaan, para kepala puak-puak mereka. Tetapi ketika mereka berubah setia terhadap Allah nenek moyang mereka dan berzinah dengan mengikuti segala allah bangsa-bangsa negeri yang telah dimusnahkan Allah dari depan mereka (1 Taw. 5:24-25). Dengan demikian, kita melihat perubahan pemikiran, perubahan dari tradisi imam yang adalah dosa pribadi yang tidak disengaja, berkembang menjadi dosa kelompok yang sengaja. Bagaimana kita menangani dosa berubah setia / tidak setia (mă’ăl) semacam ini?

Persembahan korban perbaikan (reparation offering) tepat adalah memperbaiki garis batas yang ditetapkan, membangun kembali batasan yang dirusak oleh dosa berubah setia / tidak setia (mă’ăl), dan korban perbaikan (reparation offering) mempersembahkan tebusan salah / penebusan salah atas garis batas yang dirusak itu (5:16, 18 Haruslah ia membawa kepada imam seekor domba jantan … sebagai korban penebus salah. Imam itu haruslah mengadakan pendamaian bagi orang itu karena perbuatan yang tidak disengajanya dan yang tidak diketahuinya itu, sehingga ia menerima pengampunan), arti tebusan salah adalah bahwa akibat dari pelanggaran orang tersebut dapat dikompensasi dengan korban tebusan, sehingga tatanan masyarakat kembali pada keadaan yang normal dan tertib kembali.

Renungkan:
Sifat berdosa kita membuat kita suka melintasi batas dan berubah setia / tidak setia (mă’ăl), membawa kehancuran batas-batas yang berbeda. Apakah akhir-akhir ini Anda pernah melanggar garis batasan? Sering kali kita suka berdiri di tepi batas, berpikir bahwa jika kita memiliki keteguhan maka kita tidak akan melewati batas. Tetapi kita tidak menyadari bahwa keteguhan kita terbatas, dan kita terlalu percaya diri, sehingga kita dapat dengan mudah melewati batas dan berubah setia / tidak setiaterhadap Allah. Berdoa mohon Tuhan membantu kita menjauh dari batas-batas yang berbahaya dan mengandalkan Tuhan untuk tetap berada di ranah kudus Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 5:7, 11

Jika ia tidak mampu

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 5:7, 11 [ITB])
7 Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk menyediakan kambing atau domba, maka sebagai tebusan salah karena dosa yang telah diperbuatnya itu, haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, yang seekor menjadi korban penghapus dosa dan yang seekor lagi menjadi korban bakaran.
11 Tetapi jikalau ia tidak mampu menyediakan dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, maka haruslah ia membawa sebagai persembahannya karena dosanya itu sepersepuluh efa tepung yang terbaik menjadi korban penghapus dosa. Tidak boleh ditaruhnya minyak dan dibubuhnya kemenyan di atasnya, karena itulah korban penghapus dosa.

Seperti yang dikatakan dalam renungan dua hari sebelumnya, Imamat pasal 4 berbicara tentang aturan mengenai korban penyucian (korban penghapus dosa), mengungkapkan konsep tingkat signifikansi lingkup kekudusan: imam adalah pemimpin seluruh umat itu, dosa mereka membawa kecemaran akan mempengaruhi kekudusan dari tempat kudus, sehingga tata cara penggunaan darah korban juga harus mencakup di kedalaman tempat kudus untuk membersihkan pencemaran tersebut; dosa pemuka hanya mempengaruhi kekudusan area pinggiran dari tempat kudus, sehingga tata cara penggunaan darah korban hanya dilakukan di pinggiran sudah cukup. Dengan demikian, kedudukan orang yang melakukan pelanggaran dosa menentukan lingkup pengaruh dari dosa orang tersebut, yang tidak hanya mengungkapkan tingkat lingkup pengaruh kecemaran terhadap tempat kudus, tetapi juga mengungkapkan tingkat signifikansi lingkup kekudusan.

Tingkatan lingkup kekudusan juga sama dinyatakan dalam persembahan korban. Dalam Im. 5:7, 11, terdapat kalimat yang diulang: tetapi jikalau ia tidak mampu , di antaranya menggunakan kata kerja mampu (nāgă’), menunjukkan bahwa jika ia tidak bisa mencapai tingkat kepemilikan tertentu, dia bisa memilih sendiri tingkat kepemilikan yang mampu ia capai untuk mempersembahkan korban, dengan kata lain, jika tidak mampu mempersembahkan kambing atau domba, maka dapat mempersembahkan dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati (5:7); jika tidak mampu mempersembahkan dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, maka dapat mempersembahkan korban sajian (5:11 sepersepuluh efa tepung yang terbaik)

Pengaturan seperti itu setidaknya membawa 3 makna:
(1) Orang yang mempersembahkan korban tidak akan karena keterbatasan kemampuan ekonomi dirinya sehingga menjadi keterbatasan menerima pengampunan. Bahkan jika korban yang mereka persembahkan terdapat perbedaan nilai ekonomi, tidak akan mempengaruhi efek penyucian dan pengampunan. Ini akan memastikan persembahan korban akan tidak jatuh menjadi hak eksklusif orang kaya, tetapi pengalaman keagamaan umat secara umum;

(2) Orang tidak dapat karena mempersembahkan korban yang lebih mahal lalu menikmati hak yang lebih eksklusif, para imam memiliki tanggung jawab untuk menangani korban penyucian dari orang-orang dengan kemampuan ekonomi yang berbeda, bukan karena korban lebih mahal mempengaruhi hasil penyucian dan pengampunan, ini akan memastikan bahwa tidak ada kasus suap dan korupsi yang muncul;

(3) Orang-orang dari latar belakang yang berbeda dianggap sebagai sama dalam pelanggaran dosa dan pengampunan. Tinggi rendahnya tingkat status sosial tidak akan mempengaruhi status tinggi rendahnya seseorang di hadapan Allah.

Dilihat dari sudut ini, persembahan korban dalam tradisi imamat adalah persembahan korban di mana seluruh anggota dari umat dapat ikut ambil bagian, di dalamnya orang dari tingkat ekonomi yang berbeda adalah sama satu derajat dalam kesetaraan dan keadilan, sehingga secara permukaan tampaknya dibuat pembagian tingkat persembahan korban, pada kenyataannya, itu adalah justru menentang hierarki ekonomi dan hak istimewa, di hadapan Allah, dosa setiap orang sama-sama diampuni.

Renungkan:
Apakah gereja Anda adalah gereja yang hanya menghargai orang yang mampu secara finansial dan mengabaikan orang miskin? Dihadapkan dengan berbagai orang yang datang ke gereja untuk meminta pertolongan, apakah Anda memberikan hak istimewa tertentu kepada orang kaya? Berdoa agar Tuhan membantu gereja menjadi gereja di mana semua orang dapat ikut ambil bagian dan dilibatkan.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 5:5-6

Mengakui dosa yang telah diperbuatnya

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 5:5-6 [ITB])
5 Jadi apabila ia bersalah dalam salah satu perkara itu, haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya itu,
6 dan haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salah karena dosa itu seekor betina dari domba atau kambing, menjadi korban penghapus dosa.
Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya.

Tata cara ritual korban bisa memiliki suatu krisis, yaitu orang yang mempersembahkan korban sepertinya dapat berulang kali melakukan ritual persembahan korban untuk menyelesaikan dosa-dosanya tanpa perlu pertobatan dari dalam hati. Krisis yang hanya mengandalkan prosedur ritual tanpa pertobatan berpeluang memunculkan berbagai ketidaksesuaian antara penampilan luar dengan dalam diri (kemunafikan). Orang-orang ini hanya memiliki penampilan kesalehan jubah luar, hanya penampilan kehidupan ritual, tetapi tidak ada dasar kesalehan yang sejati, dan ada ketegangan antara penampilan luar saya dengan saya yang di dalam.

Namun, di dalam tata cara ritual tradisi imamat terdapat sebuah prosedur untuk mencegah penyalahgunaan ritual pengorbanan, Im. 5:0-6 dengan jelas mencatatkan bahwa orang ini harus mengakui dosa yang telah diperbuatnya. Menurut beberapa peneliti menunjukkan bahwa dalam tradisi imamat korban penghapus dosa dan korban penebus salah / tebusan salah hanya dapat menangani dosa pelanggaran yang tidak disengaja, dan dosa pelanggaran yang tidak disengaja ini dapat mencemari tempat kudus, perlu dilaksanakan tata cara penggunaan darah korban untuk menyucikan tempat kudus, tetapi dosa yang disengaja tidak dapat ditangani melalui korban penghapus dosa dan korban penebus salah / tebusan salah, lalu bagaimana menyucikan kecemaran yang diakibatkan oleh dosa kejahatan yang sengaja dibuat?

Para peneliti berpendapat, pengakuan atas dosa yang telah diperbuatnya adalah titik penting. Dalam tradisi imamat, pengakuan atas dosa yang telah diperbuatnya dapat mengubah dosa yang disengaja menjadi dosa yang tidak disengaja, sehingga korban penghapus dosa dapat menyucikan tempat kudus bagi orang ini, maka pengakuan atas dosa yang telah diperbuatnya adalah prasyarat atas penyucian, sehingga orang ini juga diampuni. Kita harus memahami bahwa pengakuan bukan sekadar suatu prosedur ritual pengorbanan, namun sikap dasar terhadap dosa dari dalam hati, dan sikap hati ini yang menjadi suatu syarat bagi seseorang untuk diampuni. Ini bukan suatu kewajiban bahwa Allah harus mengampuni dosa-dosa manusia, dosa diampuni sepenuhnya adalah hanya karena anugerah saja, tetapi mengaku bersalah atas dosa yang telah diperbuatnya untuk mencegah orang memandang bahwa ini adalah pengampunan murah, karena ini pertobatan harus membayar harga, mengaku bersalah atas dosa yang telah diperbuatnya harus dengan kesungguhan hati dan keseriusan.

Mengaku dosa yang telah diperbuatnya adalah tindakan mengenal diri. Orang yang mengaku atas kesalahannya tidak akan melemparkan kesalahan atau menyalahkan orang lain, tetapi dengan terus terang mengakui kesalahan diri sendiri. Orang ini tidak akan mencari-cari alasan bagi dosa-dosanya, mengakui bahwa dia sendiri (bukan orang lain) yang telah mencemari tempat kudus, dan menyatakan kekurangan diri sendiri, ini sebenarnya adalah sebuah proses transformasi batin, yang telah menjadi kesempatan pertobatan dalam ritual pengorbanan, menolak untuk menjadikan persembahan korban sekadar upacara dan prosedur, tetapi penekanan pada pertobatan dan pertanggungjawaban! Ketika seseorang selesai mempersembahkan korban penghapus dosanya, dia berdiri di titik awal pertobatan, berjuang berjalan di jalan pengudusan, dan mengingat bahwa dia adalah orang yang telah diampuni.

Renungkan:
Amsal 28:13 Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi, yang mengaku dosa diri akan menerima belas kasihan, dan imam akan menyatakan bahwa ia menerima pendamaian bagi dirinya karena dosanya. Sering kali kita menempatkan dosa di tempat yang gelap dan sengaja mencegah orang untuk melihatnya. Tetapi dosa akan menjadi lebih gelap di tempat yang gelap, dan kekuatan dosa akan meningkat. Sebaliknya, kita harus menempatkan dosa di bawah terang dengan pengakuan, akibatnya, kuasa dosa melemah dalam terang dan menjadi kemungkinan pertobatan. Marilah kita dengan tulus mengakui dosa-dosa kita!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 4:3-7, 22-26

Butuh derajat penyucian yang sampai ke dalam

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 4:3-7, 22-26 [ITB])
itu

Imamat pasal 4 berbicara tentang aturan korban penyucian (purification offering) terutama melibatkan empat jenis orang:
1. Imam (4:3-12),
2. Seluruh umat Israel (4:13-21),
3. Pemuka (4:22-31),
4. Individu (4:32 – 35).

Ketika kita dengan teliti mempelajari Kitab Suci, kita akan menemukan bahwa ada dua tata cara penggunaan darah dalam korban penyucian.
Tata cara penggunaan darah dalam korban penyucian yang dilakukan bagi para imam dan seluruh umat Israel memiliki langkah-langkah berikut:
1. Imam harus mencelupkan jarinya ke dalam darah (4:6, 17);
2. memercikkan sedikit dari darah itu, tujuh kali di hadapan TUHAN, di depan tabir penyekat tempat kudus (4:6, 17);
3. membubuh sedikit dari darah itu pada tanduk-tanduk mezbah pembakaran ukupan dari wangi-wangian (4:7, 18);
4. semua darah selebihnya harus dicurahkannya kepada bagian bawah mezbah korban bakaran (4:7, 18).

Dapat dilihat bahwa tata cara penggunaan darah bagi para imam dan seluruh umat Israel, terutama melibatkan tiga area tempat kudus, termasuk tabir penyekat, mezbah pembakaran ukupan dan mezbah korban bakaran. Tabir penyekat memisahkan tempat maha kudus dan mezbah pembakaran ukupan, dan mezbah pembakaran ukupan juga merupakan tempat yang sangat kudus, hanya imam yang dapat memasuki kemah dan melaksanakan tata cara penggunaan darah di mezbah pembakaran ukupan ini. Fungsi darah adalah untuk menahirkan dan menyucikan mezbah, maka kita dapat memahami pencemaran yang disebabkan oleh dosa para imam dan seluruh Israel, jika dosa imam dapat membuat umat terjerumus ke dalam dosa (4:3), sehingga seluruh umat Israel turut bersama-sama berdosa, semua kecemaran itu menodai sampai ke dalam tempat kudus (Kemah Pertemuan, Bait Suci), jadi pelaksanaan tata cara penggunaan darah juga harus dilakukan di dalam tempat kudus agar tempat kudus dapat dibersihkan.

Tata cara penggunaan darah dalam korban penyucian yang dilakukan bagi para pemuka dan individu, berbeda dengan yang dilakukan bagi para imam dan umat Israel, hanya perlu membubuh darah korban pada tanduk-tanduk mezbah korban bakaran, dan selebihnya haruslah dicurahkannya kepada bagian bawah mezbah korban bakaran (4:25, 30). Mezbah korban bakaran berada di depan pintu Kemah Pertemuan, area yang relatif lebih luar dari tempat kudus, dan tata cara penggunaan darah hanya perlu dilaksanakan di area yang relatif lebih luar, dapat menunjukkan bahwa dosa mereka mencemari relatif di bagian luar, tidak melibatkan ke dalam tempat kudus. Dan pelanggaran mereka tidak membuat umat jatuh ke dalam dosa, tidak mempengaruhi kemampuan seluruh umat, meskipun dosa mereka juga berdampak massal, tetapi hanya mempengaruhi kekudusan mezbah korban bakaran, penyucian bagi mereka hanya dibutuhkan di pinggiran, dan keseriusan kejahatannya relatif lebih kecil.

Oleh karena itu, kita melihat salah satu jenis derajat penahiran, imam adalah pemimpin rohani, mereka mencemari kejahatan yang lebih serius, bahkan bisa menjerumuskan umat ke dalam dosa, tetapi pemuka tidak membawa pengaruh yang demikian, ini membuat kita mengerti bahwa para pemimpin perlu ekstra hati-hati dalam perkataan dan perbuatan, jangan terlalu percaya diri pada kekuatan diri sendiri, harus selalu ingat dan kewaspadaan agar tidak melakukan dosa, sehingga mencemari sampai ke kedalaman tempat kudus Allah menjadi ternodai.

Renungkan:
Ketika Anda memegang peran kepemimpinan, apakah Anda waspada atas perkataan dan perbuatan sendiri, dan mengatakan tidak kepada dosa?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 4:1-3, 20, 26

「Menyucikan untuk dia」

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 4:1-3, 20, 26 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa: 2 「Katakanlah kepada orang Israel:
Apabila seseorang tidak dengan sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal yang dilarang TUHAN dan ia memang melakukan salah satu dari padanya, 3 maka jikalau yang berbuat dosa itu imam yang diurapi, sehingga bangsanya turut bersalah,
haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN karena dosa yang telah diperbuatnya itu, seekor lembu jantan muda yang tidak bercela sebagai korban penghapus dosa.
20 Beginilah harus diperbuatnya dengan lembu jantan itu: seperti yang diperbuatnya dengan lembu jantan korban penghapus dosa, demikianlah harus diperbuatnya dengan lembu itu. Dengan demikian imam itu mengadakan pendamaian bagi mereka, sehingga mereka menerima pengampunan.
26 Tetapi segala lemak harus dibakarnya di atas mezbah, seperti juga lemak korban keselamatan. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya, sehingga ia menerima pengampunan.

Imamat pasal 4 berbicara tentang peraturan korban penghapus dosa, persembahan korban ini disebut ini korban penghapus dosa (sin offering) sering kali membuat orang cenderung salah paham, karena tujuan utama persembahan korban ini bukan dimaksudkan untuk menebus manusia berdosa, makna yang diungkapkan persembahan korban ini bukanlah bahwa korban tersebut menggantikan manusia untuk menerima hukuman atas dosa. Makna aslinya adalah korban penyucian (purification offering) (ḥăṭṭāt), yang berarti bahwa fungsi utamanya adalah untuk penyucian. Beginilah harus diperbuatnya dengan lembu jantan itu: seperti yang diperbuatnya dengan lembu jantan korban penghapus dosa, demikianlah harus diperbuatnya dengan lembu itu. Dengan demikian imam itu mengadakan pendamaian bagi mereka, sehingga mereka menerima pengampunan (4:20), tetapi segala lemak harus dibakarnya di atas mezbah, seperti juga lemak korban keselamatan. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya, sehingga ia menerima pengampunan (4:26), tetapi segala lemak haruslah dipisahkannya, seperti juga lemak korban keselamatan dipisahkan, lalu haruslah dibakar oleh imam di atas mezbah menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu sehingga ia menerima pengampunan (4:31) dan tetapi segala lemak haruslah dipisahkannya, seperti juga lemak domba korban keselamatan dipisahkan, lalu imam harus membakar semuanya itu di atas mezbah di atas segala korban api-apian TUHAN. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia menerima pengampunan (4:35), dari semua ayat-ayat tersebut terdapat frasa mengadakan pendamaian bagi orang itu, dan kata mengadakan pendamaian dapat juga berarti penyucian (kĭppēr) (lihat VMD membuat engkau suci), jadi mengadakan pendamaian bagi orang itu adalah mengadakan penyucian bagi orang itu. Pertanyaannya adalah: melalui persembahan korban ini, apa yang dikuduskan / disucikan untuk orang berdosa itu?

Melalui cara penggunaan darah dalam korban penyucian ini (korban penghapus dosa), kita dapat memahami apa yang dibersihkan dikuduskan. Lembu itu disembelih, lalu Musa mengambil darahnya, kemudian dengan jarinya dibubuhnyalah darah itu pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya, dan dengan demikian disucikannyalah mezbah itu dari dosa; darah selebihnya dituangkannya pada bagian bawah mezbah. Dengan demikian dikuduskannya mezbah itu dan diadakannya pendamaian baginya(Im. 08:15) jelas dinyatakan bahwa darah digunakan dalam penyucian dan pembersihan, sehingga beberapa peneliti berpendapat bahwa darah merupakan pembersih dalam ritual pengorbanan, membersihkan kecemaran kotoran. Dalam persembahan korban penyucian ini (korban penghapus dosa), imam memercikkan sedikit dari darah itu, tujuh kali di hadapan TUHAN, di depan tabir penyekat tempat kudus (4:6), membubuh sedikit dari darah itu pada tanduk-tanduk mezbah pembakaran ukupan dari wangi-wangian, semua darah selebihnya harus dicurahkannya kepada bagian bawah mezbah korban bakaran (4:7), ini melambangkan bahwa bagian-bagian penting dari tempat kudus (Kemah Pertemuan) sudah dikuduskan (dibersihkan). Karena tempat kudus (Kemah Pertemuan, Bait Suci) perlu dibersihkan dikuduskan, berarti tempat kudus dapat tercemar kotoran, hal ini karena orang berdosa membawa dosa kecemaran ke dalam tempat kudus. Jadi para imam harus terus menjaga kekudusan dari tempat kudus ini, untuk memastikan kehadiran penyertaan Allah, karena Allah yang kudus tidak akan berdiam di tempat kudus yang terkontaminasi kecemaran. Tentu saja menjaga kekudusan dari tempat kudus tidak dapat mengendalikan kehadiran Allah. Kehadiran-Nya adalah inisiatif kebebasan Allah sendiri. Manusia tidak memiliki kemampuan dan tidak ada cara untuk mengendalikan kehadiran Allah. Kehadiran penyertaan Allah selamanya adalah anugerah semata.

Namun kekudusan dari tempat kudus adalah prasyarat kehadiran Allah, kondisi tahir adalah syarat kekudusan. Menjaga kekudusan tempat kudus adalah dengan membuang kecemaran, sedangkan tahir adalah masuk ke ranah ilahi Allah. Dengan demikian, kita melihat kehadiran Allah dan kondisi tahir manusia, yang pertama adalah anugerah dan yang kemudian adalah penyucian. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya, sehingga ia menerima pengampunan, orang berdosa melalui korban penyucian, bukan dirinya yang disucikan, tetapi dia diampuni (Im. 4:26, 31, 35), yang juga merupakan simbol anugerah Allah.

Dengan demikian, kejahatan dosa bukan hanya masalah pribadi, tetapi masalah komunitas, dosa seseorang dapat menodai seluruh tempat kudus (Kemah Pertemuan, Bait Suci), mempengaruhi kehadiran Allah, sehingga mempengaruhi kesejahteraan komunitas, ini persis kebalikan dari konsep individualisme hari ini satu orang melakukan sesuatu, satu orang yang menanggung. Sering kali, kita merasa diri sendiri yang menanggung konsekuensi dari kejahatan diri sendiri, tidak perlu peduli tentang perasaan orang lain, kita melihat dosa sebagai masalah pribadi, mengabaikan komunitas, seolah-olah pria sejati, pada kenyataannya, tetapi sebenarnya adalah kebanggaan individualisme, penolakan untuk bertanggung jawab terhadap komunitas.

Renungkan:
Dosa tidak hanya urusan pribadi, tetapi juga bersifat kelompok komunitas, noda dosa satu individu akan mempengaruhi kekudusan komunitas, apakah Anda juga melihat sifat ini, sehingga kita dapat mengingatkan diri kita sendiri agar waspada menghindarkan diri berbuat kecemaran? Berdoa memohon Tuhan membantu kita.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 3:12-17

Tidak boleh makan lemak dan darah

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 3:12-17 [ITB])
12 Jikalau persembahannya seekor kambing, ia harus membawanya ke hadapan TUHAN.
13 Lalu ia harus meletakkan tangannya di atas kepala kambing itu dan menyembelihnya di depan Kemah Pertemuan, lalu anak-anak Harun harus menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.
14 Kemudian dari kambing itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai persembahannya berupa korban api-apian bagi TUHAN,
15 dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu.
16 Imam harus membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai santapan berupa korban api-apian menjadi bau yang menyenangkan. Segala lemak adalah kepunyaan TUHAN.
17 Inilah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun di segala tempat kediamanmu: janganlah sekali-kali kamu makan lemak dan darah.

Imamat 3 berbicara tentang peraturan mengenai korban keselamatan, makna yang dilambangkan dalam persembahan korban ini sangat banyak, dalam kesempatan yang berbeda dilakukan korban keselamatan ini akan memiliki makna simbolis yang berbeda, yang paling utama ada tiga hal: ucapan syukur, membayar nazar dan persembahan kerelaan (apa saya senang dengan). Namun, Imamat 3 hanya hanya menjelaskan tata cara korban keselamatan, tidak mengatakan apa makna yang terkandung, jadi renungan kita hari ini berfokus pada larangan makan lemak dan darah disebutkan dalam ayat 3:17 yang menjadi kalimat kesimpulan atas aturan korban keselamatan ini.

Mengapa darah dan lemak dilarang untuk dimakan? Kemudian dari korban keselamatan itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai korban api-apian bagi TUHAN, dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu(Im. 3:3-4), Kemudian dari korban keselamatan itu ia harus mempersembahkan lemaknya sebagai korban api-apian bagi TUHAN, yakni segenap ekornya yang berlemak yang harus dipotong dekat pada tulang belakang, dan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu, dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang, dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu (Im. 3:9-10), Kemudian dari kambing itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai persembahannya berupa korban api-apian bagi TUHAN, dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu (Im. 3:14-15). Berulang kali menjelaskan semua lemak dari korban harus diambil untuk dipersembahkan sebagai korban bakaran sebagai korban api-apian, ayat 3:16 memberikan alasan: segala lemak yang melekat pada isi perut adalah untuk TUHAN. Kita sangat sulit menggunakan perspektif modern untuk memahami alasannya, tetapi juga jangan menggunakan sudut pandang medis modern tentang masalah tersebut (seperti menafsirkan bahwa lemak tidak sehat untuk tubuh, dll), kita hanya dapat menerima bahwa lemak adalah untuk TUHAN, menunjukkan bahwa lemak membawa makna kudus (karena Allah adalah kudus), jika seseorang makan lemak, artinya orang tersebut mengambil bagian milik Allah, melakukan kejahatan melanggar kekudusan. Oleh karena itu, korban keselamatan adalah untuk memproklamasikan bahwa kedaulatan atas lemak adalah milik Allah.

Mengapa tidak boleh makan darah? Imamat 17:11 berkata: Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya. Darah melambangkan kehidupan, dan kedaulatan hidup adalah milik Allah. Membunuh di depan mezbah melambangkan bahwa hanya TUHAN yang memiliki kedaulatan untuk mengambil kehidupan, sehingga kedaulatan penumpahan darah adalah pada Allah bukan pada manusia. Oleh karena itu, dalam tradisi imam, pertumpahan darah adalah masalah yang sangat serius. Setiap hak untuk menumpahkan darah harus dilakukan di hadapan TUHAN, dan memproklamasikan bahwa hanya Allah saja yang memiliki hak untuk mengambil nyawa. Dengan demikian, makan darah adalah perilaku manusia merebut kedaulatan atas kehidupan dari tangan Allah, merupakan tindakan orang tidak mengenal Allah.

Darah dan lemak memiliki makna simbolis yang mirip, darah membawa simbol bahwa kedaulatan atas hidup adalah milik Allah, lemak membawa simbol sesuatu yang kudus milik Allah, keduanya tidak boleh dimakan, memiliki makna orang tidak bisa mengambil peran sebagai Allah, manusia hanya bisa menjadi manusia, Allah adalah Allah.

Renungkan:
Apakah Anda menghormati Allah? Sering kali kita memikirkan diri kita sendiri dan menempatkan hal-hal yang menjadi milik Tuhan masuk dalam kendali kita sendiri. Padahal, apa yang bisa kita kendalikan sebagai manusia sangat terbatas. Kita tidak bisa menentukan hidup kita, apalagi umur kita. Kita hanya manusia. Kita harus menerima keterbatasan diri manusia, dan jangan melampaui batas ingin mengendalikan hal-hal yang ada di ranah milik Allah. Larangan makan darah dan lemak sebenarnya adalah pengingat yang baik: Allah adalah Allah, manusia hanya bisa sebagai manusia.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 2:11-13

Bagian ingat-ingatan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 2:11-13 [ITB])
11 Suatu korban sajian yang kamu persembahkan kepada TUHAN janganlah diolah beragi, karena dari ragi atau dari madu tidak boleh kamu membakar sesuatupun sebagai korban api-apian bagi TUHAN.
12 Tetapi sebagai persembahan dari hasil pertama boleh kamu mempersembahkannya kepada TUHAN, hanya janganlah dibawa ke atas mezbah menjadi bau yang menyenangkan.
13 Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.

Makna kedua dari korban sajian adalah bagian ingat-ingatan korban (memorial portion / memorial offering, atau persembahan peringatan VMD) (Im. 2:9, 16; 2:2 … Setelah diambil dari korban itu tepung segenggam dengan minyak beserta seluruh kemenyannya, maka imam haruslah membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai bagian ingat-ingatan korban itu, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN), sebenarnya apa yang dikenang atau diingat-ingat melalui persembahan ini? Imamat 2:11-13 menunjukkan dua hal yang diingat-ingat yang menjadi peringatan: keluaran dari Mesir dan perjanjian kekal.

Pertama-tama, ayat 11 menjelaskan bahwa tidak boleh ada ragi dalam korban sajian, peraturan tidak boleh ada ragi ini mengingatkan kita akan asal mula Paskah. Keluaran 13:3 juga dengan jelas menyatakan tujuan Paskah adalah untuk memperingati keluaran dari Mesir, tidak boleh makan yang beragi pada hari itu; Ul. 16:3 Janganlah engkau makan sesuatu yang beragi besertanya; tujuh hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi besertanya, yakni roti penderitaan, sebab dengan buru-buru engkau keluar dari tanah Mesir. Maksudnya supaya seumur hidupmu engkau teringat akan hari engkau keluar dari tanah Mesir, itu adalah hari keselamatan dan hari ketika orang Israel meninggalkan tempat perbudakan. Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi adalah hari raya terpenting bagi orang Israel, mereka biasanya merayakan hari raya ini pada bulan pertama penanggalan Yahudi, Hari raya Paskah dirayakan selama satu hari, setelah itu, ada hari raya Roti Tidak Beragi selama tujuh hari. Selama periode ini, korban sajian dipersembahkan setiap malam, dan tidak boleh ada ragi di dalamnya. Korban sajian tidak mengizinkan ragi apa pun di dalamnya, karena itu adalah peringatan hari keluaran dari Mesir, mengingat keselamatan dan pembebasan Allah.

Kedua, ayat 13 menjelaskan korban sajian harus ada garam perjanjian, dapat kita lihat: garam perjanjian dari 2 Taw. 13:5 TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam? dan Bil. 18:19 … itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya; itulah suatu perjanjian garam untuk selama-lamanya di hadapan TUHAN bagimu serta bagi keturunanmu lebih menekankan bahwa perjanjian ini bersifat kekal, sehingga banyak peneliti yang berpendapat bahwa garam perjanjian sebenarnya adalah simbol representasi dari sifat kekal dari perjanjian, sehingga itu adalah sebuah perjanjian tidak bisa dibuang. Selain itu, garam juga memiliki sifat menahirkan (2 Raj. 2:20-21 … Kemudian pergilah ia (Elisa) ke mata air mereka dan melemparkan garam itu ke dalamnya serta berkata: “Beginilah firman TUHAN: Telah Kusehatkan air ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi.), adalah mencegah pembusukan, untuk mencegah kenajisan masuk ke dalam hubungan perjanjian antara Allah dan manusia, sehingga garam melambangkan kekekalan, juga melambangkan fungsi menahirkan. Oleh karena itu, ketika korban sajian mengandung garam perjanjian, itu melambangkan ingat-ingatan peringatan atas perjanjian kekal Allah. Peringatan seperti itu kudus, dan merupakan sikap paling mendasar orang Israel terhadap perjanjian.

Renungkan:
Mengingat hari Keluaran dari Mesir dan mengingat perjanjian kekal sebenarnya adalah kepercayaan dasar orang Israel. Hari Keluaran dari Mesir melambangkan keselamatan, dan perjanjian melambangkan komitmen kepada Allah. Keselamatan dari Allah dan komitmen kepada Allah adalah hubungan paling mendasar antara orang percaya dengan Allah.

Sering kali kita sudah lama percaya kepada Tuhan, dan semua berkat akan diterima begitu saja, dan kita secara bertahap sudah melupakan keselamatan dan komitmen kita kepada Allah. Terutama ketika kita menunjukkan kesalahan orang lain, kita lupa bahwa kita dahulu juga adalah budak dan diselamatkan oleh Allah, dan kita semua adalah orang berdosa. Kita tidak boleh hanya berdiri di atas landasan moral yang tinggi, seolah-olah kita dapat menilai orang lain dari tempat duduk yang lebih tinggi dari orang lain, tetapi sebaliknya, kita harus berdiri di posisi sebagai orang yang telah menerima anugerah, mengingat bahwa kita dulunya adalah orang-orang berdosa yang diperbudak dan ditindas oleh orang Mesir, senantiasa mengingat-ingat kasih anugerah Tuhan. Berdoa kiranya agar Tuhan membantu kita untuk selalu mengingat kasih karunia anugerah Tuhan agar kita tidak menjadi orang yang ingkar dan lupa budi.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 2:1-3

Kemenyan yang kudus

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 2:1-3 [ITB])
1 「Apabila seseorang hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian kepada TUHAN, hendaklah persembahannya itu tepung yang terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan ke atasnya.
2 Lalu korban itu harus dibawanya kepada anak-anak Harun, imam-imam itu. Setelah diambil dari korban itu tepung segenggam dengan minyak beserta seluruh kemenyannya, maka imam haruslah membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai bagian ingat-ingatan korban itu, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
3 Korban sajian selebihnya adalah teruntuk bagi Harun dan anak-anaknya, yakni bagian maha kudus dari segala korban api-apian TUHAN.

Fungsi korban sajian hampir sama dengan korban bakaran, sama-sama adalah persembahan (Im. 2:1) terjemahan CUV Mandarin korban persembahan, sama-sama adalah jenis persembahan korban api-apian yang baunya menyenangkan (Im. 2:3, 10, 12), jadi sama-sama memiliki fungsi dan arti simbolis yang hampir sama. Namun, korban sajian memiliki dua makna simbolis yang unik:
(1) kemenyan (frankincense) (Im. 2:1, 2, 15, 16);
(2) bagian ingat-ingatan korban (memorial portion / memorial offering) (Im. 2:2, 9, 16).

Renungan hari ini akan fokus pada kemenyan, dan renungan besok akan fokus pada bagian ingat-ingatan korban.
Kemenyan (levŏnāh) adalah persembahan langka, memiliki berbagai fungsi, termasuk untuk membuat ukupan kudus yang dipakai di tempat kudus (Kel. 30:34), juga digunakan membuat minyak wangi (Kidung 3:6), umum dipakai untuk persembahan penghormatan (Yes. 60:6 Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN). Dan pemakaian di Imamat pasal 2 ini merupakan kombinasi dari fungsi-fungsi yang disebutkan di atas. Dalam persembahan korban sajian, kemenyan adalah persembahan penghormatan kepada TUHAN, Sang Raja besar, dan tepat karena ini adalah bagian maha kudus dari segala korban api-apian (Im. 2:3), sehingga orang dapat masuk ke ranah ilahi milik Allah (karena definisi kekudusan adalah wilayah ilahi). Oleh karena itu, kemenyan melambangkan semacam persembahan penghormatan kepada Raja besar. Umat Allah adalah seperti rakyat di bawah pemerintahan Raja besar, untuk mengungkapkan rasa hormat mereka kepada Raja besar, maka umat Allah melalui persembahan korban sajian menyatakan bahwa TUHAN adalah satu – satunya Raja, hanya Dia layak menerima segala persembahan kita. Dalam Perjanjian Baru, beberapa orang Majus datang ke Betlehem untuk melihat bayi Yesus, salah satu persembahan adalah kemenyan, oleh karena itu makna simbolis persembahan korban sajian di Perjanjian Lama juga muncul di Perjanjian Baru yakni persembahan penghormatan kepada Yesus, menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya Raja besar, kita hanya memberikan segala persembahkan penghormatan besar hanya kepada Dia saja yang satu-satunya.

Renungkan:
Apakah hidup kita telah menjadikan Tuhan sebagai Raja dan mendedikasikan hal-hal yang paling berharga kepada-Nya? Sering kali, kita mendedikasikan hal-hal yang kualitas lebih rendah kepada Tuhan, misalnya, kita akan mempersembahkan hidup usia senja kita kepada Tuhan daripada kehidupan masa muda kita. Seiring waktu, kita memakai yang terbaik untuk diri kita sendiri, tetapi kualitas yang lebih rendah untuk Tuhan. Mentalitas persembahan seperti itu bukanlah inti dari korban sajian. Ketika korban sajian mempersembahkan kemenyan yang berharga ini, kita mungkin bertanya apa hal itu pemborosan, sama seperti para murid berkata bahwa untuk apa Maria melakukan pemborosan dengan mempersembahkan minyak wangi yang paling mahal berharga. Ini karena ukuran persembahan kita sering dihitung dari segi efektivitas modal untuk melihat apa imbalannya, jika persembahan tidak sebanding dengan perolehannya, kita menganggap tidak ada manfaat ekonomi dan persembahan itu pemborosan.

Namun, persembahan korban sajian adalah pengabdian yang tidak mengikuti aturan permainan dunia, persembahan hanya untuk satu alasan saja: Dia adalah Raja besar kita, persembahan penghormatan adalah sepatutnya, persembahan ini tidak mencari imbalan dari Tuhan, tetapi semata-mata ekspresi kekaguman hormat kepada Raja agung. Apakah demikian dengan persembahan kita?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 1:2-9 (2)

Korban api-apian yang baunya menyenangkan Allah

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:2-9 [ITB])
2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. 4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. 6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu. 8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. …』」

Korban bakaran selain dipersembahkan bagi TUHAN, juga memiliki fungsi mengadakan pendamaian (Im. 1:4), tetapi juga merupakan korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN (Im. 1:9, 13, 17), bagaimana kita seharusnya memahami kedua karakteristik dari korban bakaran ini?

Imamat 1:4 menjelaskan korban bakaran yang berkenan dalam dapat mengadakan pendamaian baginya (Im. 1:4), Kata mengadakan pendamaian (kĭppěr) ini memiliki diskusi yang sangat banyak di dunia akademis, para peneliti sepakat bahwa kata ini memiliki makna terutama kudus, dan jika kata ini ditempatkan dalam konteks terkait murka Allah, memiliki arti penebusan (ransom). Kata ini biasanya digunakan bersama-sama dengan kata bagi seseorang (misal ayat 4 mengadakan pendamaian baginya, berarti seseorang menahirkan tempat kudus dan menebus bagi orang itu, karena kenajisan orang (baik moral atau tidak bermoral) akan sering mencemari tempat kudus oleh karena itu, korban bakaran memiliki fungsi mengadakan pendamaian, menjaga kekudusan tempat kudus dan memastikan penyertaan hadirat Allah. Dalam sejarah persembahan korban Israel, fungsi mengadakan pendamaian dari korban bakaran berangsur-angsur digantikan oleh korban penghapus dosa, seiring berjalannya waktu, fungsi utama korban bakaran adalah untuk mempersembahkan korban. Berikut ini juga dijelaskan pengertian korban api-apian.

Bagaimana kita memahami korban api-apian yang baunya menyenangkan? Umumnya para peneliti berpendapat bahwa baunya yang menyenangkan Allah ini terkait penghapusan murka Allah. Murka ini bukanlah kemarahan emosional, melainkan sikap dasar Allah terhadap dosa dan kenajisan. Karena Allah adalah kudus, kodrat-Nya sendiri akan menyingkirkan kenajisan, jika seseorang yang najis berani memaksa masuk ke lingkup kudus, maka Allah wajib murka, harus menyingkirkan yang najis hilang dari lingkup kudus. Oleh karena itu, imam dari tradisi Perjanjian Lama sangat mementingkan urusan terkait penghapusan murka Allah, ini bukan menghibur kemarahan anak kecil, tetapi masalah yang sangat serius agar kekudusan Allah tidak dilanggar. Api dari korban bakaran mengubah korban menjadi asap yang harum, dari sudut pandang manusia, api ini mengubah korban dari ranah manusia naik ke ranah lingkup ilahi, dan melambangkan penghapusan murka. Karena ini merupakan urusan penghapusan murka Allah, maka pengadaan pendamaian dari korban bakaran memiliki makna penebusan (ransom).

Renungkan:
Apakah hidup Anda atau saya tahir? Sering kali, dosa-dosa kita dengan sengaja atau tidak sengaja membuat najis tempat kediaman Allah. Meskipun di era Perjanjian Baru, kita tidak perlu khawatir akan kehadiran penyertaan Tuhan meninggalkan kita, karena persembahan Yesus Kristus di kayu salib telah sepenuhnya menghapus murka Allah, tetapi ini tidak berarti bahwa kita dapat berbuat dosa sesuka hati. Berdoa agar Allah membantu kita memahami dan berterima kasih atas korban penghapus dosa dari Kristus yang Ia lakukan demi kita, menghapuskan murka Allah sehingga membuat kita memiliki hidup baru dan tidak lagi hidup di bawah murka Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.