Tag Archives: Kitab Imamat

Imamat 11:1-8

「Makanan yang tahir suci」

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 11:1-8 [ITB])
1 Lalu TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun, kata-Nya kepada mereka: 2 「Katakanlah kepada orang Israel, begini:
Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada di atas bumi:
3 setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan.
4 Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
5 Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
6 Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu.
7 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.
8 Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.

Membaca sampai Imamat 11, kita akan memiliki banyak pertanyaan, mengapa beberapa hewan tergolong halal (tahir), tetapi beberapa hewan najis, dan Israel tidak boleh makan hewan najis, hendaknya mereka memandangnya sebagai kekejian (najis)? Peneliti yang berbeda memberikan penjelasan yang berbeda, ada beberapa mulai dari sudut pandang medis masa kini, berpikir bahwa hewan najis menyebabkan beberapa penyakit, dan beberapa menjelaskannya secara spiritual, beberapa peneliti berpikir bahwa hewan najis adalah metafora kegelapan spiritual, ada yang berpikir bahwa penggolongan ini tidak mengikuti dasar apapun. Mengapa binatang yang berkuku belah dan yang memamah biak boleh dimakan (11:1-8)? Mengapa yang tidak bersirip dan tidak bersisik di dalam air tidak boleh dimakan (11:9-19)? Mengapa memiliki sayap tetapi yang merayap dengan keempat kaki adalah kekejian (11:20)?

Salah satu penjelasan yang lebih meyakinkan adalah keprihatinan atas sifat kesempurnaan / keutuhan (completeness), alasan mengapa hewan-hewan ini digolongkan sebagai tahir (halal) dan najis, adalah apakah mereka dapat melambangkan kesempurnaan / keutuhan atau tidak. Sifat kesempurnaan / keutuhan berarti bahwa sesuatu dapat secara sempurna sepenuhnya diklasifikasikan tanpa campur aduk, tanpa kebingungan, dan itu juga berarti kemungkinan dapat melambangkan kekudusan. Tahir (halal) atau najis seekor hewan tidak ada hubungannya dengan baik atau buruknya moralitas, tetapi ada hubungannya dengan sifat keutuhan hewan tersebut. Segala hewan yang diciptakan oleh Allah, semua adalah baik (Kej. 1), tetapi hewan yang diciptakan baik tidak berarti mereka semua melambangkan keutuhan, itu tergantung pada apakah mereka dapat diklasifikasikan secara sepenuhnya. Binatang memamah biak yang berkuku belah adalah sepenuhnya hewan merumput, maka termasuk golongan memiliki keutuhan (completeness); ikan yang tidak bersirip dan tidak bersisik membuat orang tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah ikan atau ular; hewan yang memiliki sayap tetapi yang merayap dengan keempat kaki membuat orang tidak bisa mengatakan apakah itu adalah binatang di tanah atau di langit, maka mereka kehilangan sifat keutuhan (completeness) dan tidak dapat dibedakan sepenuhnya, sehingga mereka dikategorikan sebagai najis (sebagai kekejian). Dengan demikian, hewan yang tahir (halal) memiliki sifat keutuhan (completeness), tetapi hewan yang tidak halal memiliki arti yakni campur aduk membingungkan dan tidak mudah dibedakan.

Israel adalah bangsa yang kudus, melalui makanan yang tahir setiap saat mengingatkan mereka untuk hidup dalam kekudusan, mereka harus melihat diri mereka utuh sepenuhnya milik Allah, melalui keutuhan (completeness) merespons kekudusan Allah, sehingga mereka memancarkan kemuliaan Allah, dan memiliki perbedaan kekhususan dengan semua bangsa-bangsa yang lain.

Renungkan:
Apakah kita orang Kristen juga memiliki keutuhan seperti itu? Di zaman Perjanjian Baru, kategori makanan halal atau haram sudah tidak berlaku lagi, pengalaman Petrus di rumah Kornelius mengajarkan kita bahwa segala sesuatu yang dinyatakan halal oleh Allah dapat dimakan, tetapi tidak berlakunya kategori makanan halal atau haram ini juga membuat kita tidak lagi melalui makanan sehari-hari mengingat panggilan kudus kita. Memohon Tuhan membantu kita untuk mengingat bahwa kita adalah komunitas yang dipisahkan untuk dikuduskan, tidak berkompromi dengan dunia, dan tidak memandang panggilan Allah sebagai tidak realistis, tetapi hendaknya membawa kehidupan yang berbeda ke dalam zaman yang gelap dan membingungkan, di tengah-tengahnya memancarkan cahaya kemuliaan kudus!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 10:1-7

Kunyatakan kekudusan-Ku, Kuperlihatkan kemuliaan-Ku

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 10:1-7 [ITB])
1 Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka.
2 Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN.
3 Berkatalah Musa kepada Harun: Inilah yang difirmankan TUHAN: 『Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku.』 Dan Harun berdiam diri.
4 Kemudian Musa memanggil Misael dan Elsafan, anak-anak Uziel, paman Harun, lalu berkatalah ia kepada mereka: Datang ke mari, angkatlah saudara-saudaramu ini dari depan tempat kudus ke luar perkemahan.
5 Mereka datang, dan mengangkat mayat keduanya, masih berpakaian kemeja, ke luar perkemahan, seperti yang dikatakan Musa.
6 Kemudian berkatalah Musa kepada Harun dan kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun: Janganlah kamu berkabung dan janganlah kamu berdukacita, supaya jangan kamu mati dan jangan TUHAN memurkai segenap umat ini, tetapi saudara-saudaramu, yaitu seluruh bangsa Israel, merekalah yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu. 7 Janganlah kamu pergi dari depan pintu Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati, karena minyak urapan TUHAN ada di atasmu. Mereka melakukan sesuai dengan perkataan Musa.

Anak-anak Harun, Nadab dan Abihu mengambil api mereka sendiri, di hadapan TUHAN mempersembahkan api yang asing (’ēš zārāh) (10:1), kata zārāh dapat ditafsirkan sebagai api yang asing (strange, foreign), ilegal (unlawful) atau tidak memiliki wewenang otoritas (unauthorized), dan berdasarkan kalimat terakhir ayat 10:1, kita tahu bahwa tindakan mempersembahkan api asing tidak diperintahkan oleh TUHAN, jadi api ini belum diberi wewenang otorisasi, dan oleh karena itu ilegal. Dari ayat tersebut kita tidak dapat memastikan sumber api yang dipergunakan ini, mungkin api yang dibuat oleh orang, api biasa (common fire). Dalam tradisi imam, karena api fana ini dibawa ke ranah kekudusan, mengakibatkan campur baur keteraturan, dan ini adalah yang asing bagi ranah kekudusan.

Ayat 10:2 mencatat keluar(yāṣā’) api dari hadapan TUHAN, api kudus ini menghanguskan Nadab dan Abihu, deskripsi ini memberikan gambaran yang sama dengan ayat 9:24 menggambarkan api keluar (yāṣā’) dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan (אָכַל ‘akal memakan) korban bakaran. Imamat 9:24 mengungkapkan perkenan Allah, dan Imamat 10:2 mengungkapkan murka Allah (Im. 10:6), yang pertama adalah penerimaan Allah, yang terakhir adalah hukuman Allah. Namun, keduanya memiliki satu kesamaan yaitu, TUHAN menyucikan tempat korban dan tidak mengizinkan yang asing (zārāh) berada di ranah kekudusan, mengembalikan ibadah Kemah Suci pada tatanan dan batas-batas suci. Pemahaman interpretasi ini didukung ayat 10:3 yang menjelaskan tujuan tindakan ini bukan sekadar hukuman, tetapi kekudusan Allah harus dinyatakan, Allah harus dimuliakan, itu adalah manifestasi kekudusan ilahi.

Ayat 10:6 Janganlah kamu (Harun dan kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun) berkabung dan janganlah kamu berdukacita, supaya jangan kamu mati dan jangan TUHAN memurkai segenap umat ini, menjelaskan cara orang mendekati TUHAN terhidarkan kematian, orang-orang ini tidak boleh menguraikan rambut atau mengoyak-ngoyakkan pakaian (ITL), ini adalah tindakan menjaga keteraturan, agar memastikan bahwa mereka adalah tahir. Selanjutnya, tetapi saudara-saudaramu, yaitu seluruh bangsa Israel, merekalah yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu yakni orang mendekati yang TUHAN hendaknya menangisi dan bersedih karena yang asing (zārāh) itu telah menyebabkan hilangnya keteraturan, juga atas kematian kehidupan manusia, kesedihan seperti itu dapat menghilangkan murka Allah.

Terakhir, ayat 7 Janganlah kamu pergi (keluar) dari depan pintu Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati, karena minyak urapan TUHAN ada di atasmu, minyak urapan TUHAN yang ada di tubuh tidak boleh keluar(yāṣā’) dari pintu Kemah Pertemuan, seperti yang dijelaskan sebelumnya, minyak urapan melambangkan penyucian kekudusan dan pilihan, menunjukkan bahwa hal-hal di ranah kudus tidak boleh dibawa ke tempat duniawi, menghormati batas antara yang kudus yang ilahi dan yang dunia, dan memandang keharusan untuk menegakan keteraturan.

Renungkan:
Di era Perjanjian Baru, kematian dan kebangkitan Kristus mematahkan batasan manusia mendekati Allah. Kita memasuki ranah kekudusan dan menjadi orang-orang kudus (pada saat yang sama juga adalah orang berdosa yang mendapat anugerah), dan seluruh orang menjadi imam. Ini benar-benar anugerah. Namun, konsep batasan dalam Kitab Imamat mengingatkan kita bahwa orang yang mendekati Allah harus benar-benar suci tahir, dan jangan menganggap karena anugerah Kristus maka mendekati Allah begitu saja (bisa seenaknya), kita harus memastikan bahwa hidup kita sama sekali tidak ada yang asing (zārāh), agar kita tidak menyalahgunakan anugerah Tuhan, tetapi menjadi suci, layak untuk dipakai Tuhan, dan mempersiapkan diri untuk agar kehidupan kita menjadi manifestasi kekudusan dan kemuliaan Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 9:23-24

Inisiasi memulai ibadah pengorbanan Kemah Pertemuan (2)

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 9:23-24 [ITB])
23 Masuklah Musa dan Harun ke dalam Kemah Pertemuan. Setelah keluar, mereka memberkati bangsa itu, lalu tampaklah kemuliaan TUHAN kepada segenap bangsa itu.
24 Dan keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan korban bakaran dan segala lemak di atas mezbah. Tatkala seluruh bangsa itu melihatnya, bersorak-sorailah mereka, lalu sujud menyembah.

Imamat 9:22 Harun mengangkat kedua tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka, kemudian turunlah ia, setelah mempersembahkan korban penghapus dosa, korban bakaran dan korban keselamatan, menyatakan bahwa setelah Harun mempersembahkan 3 macam korban tersebut kemudian turunlah Harun dari mezbah, dengan jelas menggambarkan urutan ketiga persembahan korban tersebut, menjadi ringkasan bagi Imamat 9:1-22.

Imamat 9:23-24 adalah deskripsi yang sangat khusus: ayat 23 menggambarkan Musa dan Harun masuk (bô’) ke dalam Kemah Pertemuan, lalu mereka keluar (yāṣā’) dari Kemah Pertemuan dan memberkati bangsa itu, kemuliaan Allah memenuhi umat itu; ayat 24 menggambarkan api keluar (yāṣā’) dari hadapan Allah, membakar (bahasa asli memakan) semua korban bakaran. Dari sini kita melihat dua kata keluar (yāṣā’) , ayat 23 adalah Musa dan Harun keluar, ayat 24 adalah api yang keluar, setelah keluar yang pertama maka ada kemuliaan Allah yang memenuhi, dan setelah keluar yang kedua maka korban terbakar habis (dimakan habis). Dari sudut pandang manusia, tindakan Musa dan Harun masuk dan keluar adalah kinerja ritual pengorbanan, membuat umat yang melihat makna yang terkandung dalam ruang simbolis dari ritual pengorbanan, mereka memasuki tempat kehadiran penyertaan Allah ── Kemah Pertemuan, dan tindakan keluar yang mereka lakukan menyambung (indexing) hadirat penyertaan Allah dengan Kemah Pertemuan, peran mereka sebagai perantara, sehingga umat Allah mengalami kemuliaan Allah, yaitu mengalami hadirat penyertaan Allah. Ketika tindakan masuk dan keluar mereka berhasil mempersempit jarak antara Allah dan umat-Nya, api datang dari Allah dan membakar memakan habis semua korban bakaran. Ini adalah sebuah proses untuk menguduskan korban bakaran, membawa makna simbolis sukacita perkenan Allah terhadap umat-Nya. Jadi, keluar yang pertama adalah yang diperbuat oleh perantara (Musa dan Harun) menghubungkan antara Allah dengan umat-Nya, dan keluar yang kedua adalah yang diperbuat oleh Allah yakni secara langsung memperkenan menerima persembahan korban dari manusia, dan dengan demikian membuka komunikasi antara Allah dengan manusia, berhasil melakukan inisiasi sistem ibadah dan pengorbanan Kemah Pertemuan.

Seluruh bangsa itu melihat api keluar dari hadapan TUHAN dan mereka bersorak-sorai, bersorak-sorai (rānān) adalah semacam seruan malaikat (shout), itulah yang dilakukan malaikat-malaikat ketika Allah menginisiasi menetapkan dasar langit dan bumi (Ayub 38:7). Seluruh bangsa itu melihat api kudus keluar dari hadapan TUHAN maka mereka merayakannya seperti malaikat, para malaikat merayakan inisiasi dasar langit dan bumi, dan bangsa itu merayakan inisiasi ibadah manusia kepada Allah dalam Kemah Pertemuan, umat itu menghidupi sorak-sorai yang kudus seolah-olah menjadi bagian dari para malaikat.

Renungkan:
Apakah ada sorak-sorai (sukacita) dalam kehidupan saya? Ingatlah: objek yang menjadi sorak-sorai sukacita kita mencerminkan di mana hati kita berada. Sering kali kita sorak-sorai sukacita memuji pencapaian dunia, tetapi kurang adanya sukacita bersorak karena memiliki hubungan yang murni dengan Allah, kita mungkin berpikir bahwa perkenan Allah atas manusia itu sudah terlalu monoton, diterima begitu saja, tetapi Imamat 9:24 membuat kita dapat melihat, ini adalah sukacita kita yang paling berharga. Apakah Anda mau ada sorak-sorai (sukacita) seperti itu dalam hidup Anda?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 9:8-22

Inisiasi memulai ibadah pengorbanan Kemah Pertemuan (1)

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 9:8-22 [ITB])
8 Maka mendekatlah Harun kepada mezbah, dan disembelihnyalah anak lembu yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri.
9 Anak-anak Harun menyampaikan darah lembu itu kepadanya, dan Harun mencelupkan jarinya ke dalam darah itu dan membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah. Darah selebihnya dituangkannya pada bagian bawah mezbah.
10 Lemak, buah pinggang dan umbai hati dari korban penghapus dosa itu dibakarnya di atas mezbah, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
11 Tetapi daging dan kulitnya dibakarnya habis di luar perkemahan.
12 Kemudian ia menyembelih korban bakaran, lalu anak-anak Harun menyerahkan darah korban itu kepadanya, maka Harun menyiramkannya pada mezbah sekelilingnya.
13 Juga diserahkan merekalah kepadanya korban bakaran itu menurut bagian-bagian tertentu beserta dengan kepalanya, lalu dibakarnya di atas mezbah.
14 Isi perut dan betisnya dibasuhnya dan dibakarnya dengan korban bakaran di atas mezbah.
15 Sesudah itu dibawanya persembahan bangsa ke mezbah; diambilnyalah kambing jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa yang bagi bangsa itu, lalu disembelihnya dan dipersembahkannya sebagai korban penghapus dosa seperti yang pertama.
16 Kemudian dibawanyalah korban bakaran ke mezbah, dan diolahnya sesuai dengan peraturan.
17 Selanjutnya dibawanyalah korban sajian dan diambilnya segenggam dari padanya, lalu dibakarnya di atas mezbah, di samping korban bakaran pada waktu pagi.
18 Ia menyembelih juga lembu dan domba jantan yang akan menjadi korban keselamatan bagi bangsa itu, lalu anak-anak Harun menyerahkan darah korban itu kepadanya, maka Harun menyiramkannya pada mezbah sekelilingnya.
19 Tetapi segala lemak dari lembu dan dari domba jantan itu, yakni ekor yang berlemak, lemak yang menutupi isi perut, buah pinggang dan umbai hati,
20 segala lemak itu diletakkan mereka di atas dada kedua korban itu, lalu Harun membakar segala lemak itu di atas mezbah.
21 Dada dan paha kanan itu dipersembahkan Harun sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan Musa.
22 Harun mengangkat kedua tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka, kemudian turunlah ia, setelah mempersembahkan korban penghapus dosa, korban bakaran dan korban keselamatan.

Imamat 9 adalah pasal yang sangat istimewa, tema utamanya adalah memulai ibadah pengorbanan yang pertama kali di Kemah Pertemuan. Setelah Imamat pasal 1 sampai 7 menjelaskan secara rinci berbagai ketentuan tentang ibadah pengorbanan, Imamat 9 menjelaskan TUHAN memerintahkan imam Harun bagaimana pertama kali memulai ibadah pengorbanan Kemah Pertemuan, sehingga tata cara pengorbanan ini direalisasikan secara teratur sesuai ketentuan.

Para ahli melihat bahwa dalam proses memulai ibadah pengorbanan yang pertama kali di Kemah Pertemuan terdapat urutan pengorbanan (order): pertama-tama adalah mempersembahkan korban penghapus dosa dan tata cara darah korban yang terkait (Im. 9:8-9); langkah kedua adalah mempersembahkan korban bakaran (Im. 9:12-14); langkah terakhir mempersembahkan korban keselamatan (Im. 9:18), prosedur tiga persembahan korban ini juga merupakan prosedur yang dipakai raja Hizkia memulai kembali ibadah pengorbanan Bait Suci (2 Taw. 29:20-36), Mengapa upacara pembukaan seperti itu harus memiliki tiga langkah persembahan korban ini?

Pertama-tama, ritual Kemah Suci dapat dimulai pertama kali, bukan karena kemampuan manusia sehingga dapat merealisasikan tata cara pengorbanan ini sesuai ketentuan, tetapi hanya karena hadirat penyertaan Allah. Kehadiran Allah adalah inti dari ibadah Kemah Suci, jika tidak ada penyertaan Allah di tempat maha kudus, manusia sama sekali tidak memiliki modal apapun untuk melakukan ibadah, adalah mustahil untuk menggunakan apa yang disebut kesalehan ritual pengorbanan untuk menyogok kehadiran penyertaan Allah. Oleh karena itu, kehadiran penyertaan Allah adalah sepenuhnya hanya karena anugerah dan keputusan kedaulatan Allah.

Kedua, tujuan utama dari korban penghapus dosa adalah untuk menyucikan tempat kudus, memenuhi prasyarat kehadiran penyertaan Allah, ritual ibadah tidak dapat mengontrol kehadiran penyertaan Allah, seperti halnya ruangan yang bersih tidak dapat mengontrol masuk atau tidaknya orang-orang yang cinta kebersihan, tetapi orang-orang yang cinta kebersihan tentu tidak akan masuk ke kamar yang kotor, dan Allah tidak akan hadir di tempat yang cemar kotor. Oleh karena itu, upacara memulai ibadah pengorbanan yang pertama kali harus terlebih dahulu mempersembahkan korban penghapus dosa (juga dikenal sebagai persembahan penyucian) untuk menciptakan kondisi yang memenuhi prasyarat bagi hadirat penyertaan Allah.

Ketiga, tujuan utama korban bakaran adalah untuk (1) menghapuskan murka Allah; (2) mempersembahkan korban; (3) membubung ke atas (dalam bahasa Ibrani akar kata korban bakaranadalah membubung naik ke atas, membuka jalur dunia dan surga). Dengan demikian, korban bakaran menjadi jembatan penghubung manusia dengan Allah, sehingga manusia dapat bersekutu dengan Allah. Oleh karena itu, beberapa peneliti berpendapat bahwa melalui korban bakaran Allah hadir dalam perjamuan umat-Nya, dengan demikian orang baru dapat penuh sukacita bersama-sama Allah menikmati persembahan korban keselamatan yang berikutnya.

Terakhir, korban keselamatan adalah korban yang memproklamirkan pengakuan bahwa Allah adalah sumber kehidupan dan mensyukuri segala sesuatu yang telah Allah berikan, merupakan persembahan korban penuh sukacita, bersyukur dan berbagai sukacita yang datang dari Allah. Oleh karena itu, tata urutan ketiga korban ini menjadi sangat penting, menandakan urutan: penyucian, komunikasi persekutuan, dan perayaan sukacita, menjadi salah satu bentuk inisiasi memulai ibadah yang pertama kali.

Renungkan:
Apakah hidup kita sering mempraktikkan dan merealisasikan urutan penyucian, komunikasi persekutuan, dan perayaan sukacita?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 8:10-17

Minyak urapan menguduskan, darah menyucikan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 8:10-17 [ITB])
10 Musa mengambil minyak urapan, lalu diurapinyalah Kemah Suci serta segala yang ada di dalamnya dan dikuduskannya semuanya itu. 11 Dipercikkannyalah sedikit dari minyak itu ke mezbah tujuh kali dan diurapinya mezbah itu serta segala perkakasnya, dan juga bejana pembasuhan serta alasnya untuk menguduskannya.
12 Kemudian dituangkannya sedikit dari minyak urapan itu ke atas kepala Harun dan diurapinyalah dia untuk menguduskannya.
13 Musa menyuruh anak-anak Harun mendekat, lalu dikenakannyalah kemeja kepada mereka, diikatkannya ikat pinggang dan dililitkannya destar, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
14 Disuruhnyalah membawa lembu jantan korban penghapus dosa, lalu Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala lembu jantan korban penghapus dosa itu.
15 Lembu itu disembelih, lalu Musa mengambil darahnya, kemudian dengan jarinya dibubuhnyalah darah itu pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya, dan dengan demikian disucikannyalah mezbah itu dari dosa; darah selebihnya dituangkannya pada bagian bawah mezbah. Dengan demikian dikuduskannya mezbah itu dan diadakannya pendamaian baginya.
16 Diambillah segala lemak yang melekat pada isi perut, umbai hati, kedua buah pinggang serta lemaknya, lalu Musa membakarnya di atas mezbah.
17 Tetapi lembu jantan itu dengan kulit, daging dan kotorannya dibakarnya habis di luar perkemahan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Imamat 8 menjelaskan langkah-langkah ritual yang diperlukan untuk pengudusan imam Harun dan anaknya, di antara minyak urapan dan darah memainkan peran penting. Pertama, Imamat 8:10-13 menggambarkan Musa menggunakan minyak urapan untuk mengurapi Kemah Suci serta segala yang ada di dalamnya, mezbah dan semua bejana mezbah, dan Harun. Ayat-ayat Alkitab ini menjelaskan penggunaan urapan seperti itu adalah untuk menguduskan benda-benda dan orang, menandakan bahwa tabernakel, bejana dan Harun sudah tidak lagi milik duniawi, telah masuk ke dalam ranah ilahi milik Allah (itu adalah definisi suci), karena telah memasuki ranah ilahi Allah, maka harus sepenuhnya dipisahkan dari hal-hal dan ruang duniawi. Oleh karena itu, tampaknya ada dimensi elektif (dimensi pemilihan), di antara banyak hal-hal dan orang-orang di dunia ini ada yang dipisahkan sepenuhnya menjadi milik Allah, dengan demikian, penggunaan minyak urapan melambangkan pengudusan dan pemilihan.

Kedua, ayat 14 sampai 15 menjelaskan fungsi darah: menyucikan. Beberapa peneliti karena itu percaya bahwa darah adalah semacam detergen pembersih dalam ritual mencuci bersih semua kecemaran yang mengotori benda-benda kudus, dan ayat 14-15 terutama adalah penyucian dan pengudusan mezbah, ini adalah mezbah korban bakaran. Para ahli berpendapat itu adalah lambang tempat terhubung ke surga, karena korban bakaran adalah persembahan korban yang membubung ke atas, melambangkan korban yang dipersembahkan mencapai surga, karena surga adalah ranah kudus, mezbah yang menghubungkan ke surgawi juga harus disucikan untuk memastikan keterhubungan dunia dan surga, jika tidak, maka tidak akan bisa melewati garis batas dunia dan surga.

Dengan demikian dapat dilihat, minyak urapan berperan dalam pengudusan, dan darah berperan dalam penyucian, suci adalah bersih dari kekotoran, jadi prasyarat kekudusan, dan minyak urapan adalah mengubah keadaan suci ditransformasikan menjadi ranah ilahi Allah, artinya memasuki ranah kudus.

Dengan demikian, muncul pertanyaan, mengapa Imamat 8:11 terlebih dahulu menjelaskan pengudusan, baru setelah itu Imamat 8:14-5 menjelaskan penyucian? Mengapa tidak disucikan dahulu barulah pengudusan? Banyak peneliti menjelaskannya memakai teori kritik sumber, bahwa penulis Imamat menambahkan ayat 14-15 kemudian, tetapi saya percaya bahwa Imamat 8:14-15 adalah sebuah ritual pengorbanan untuk mendirikan sebuah model, untuk menunjukkan bahwa korban bakaran di masa depan juga harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang disebutkan dalam 8:14-17, bukan untuk menjelaskan hubungan urutan antara penyucian dan pengudusan.

Darah yang dijelaskan dalam Imamat 8:14-15 juga melambangkan serta menunjuk ke depan kepada darah Kristus, menyucikan tempat kudus Allah bagi kita, membersihkan hidup kita, kecemaran dosa kita telah memutuskan hubungan kita dengan Allah, tetapi darah Kristus adalah membangun persekutuan kita dengan Allah, menghilangkan kotoran kenajisan yang disebabkan oleh dosa.

Renungkan:
Apakah Anda menghargai penyucian yang telah dilakukan Kristus bagi Anda, ataukah kita menyalahgunakan kasih karunia anugerah Allah?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 7:30-33, 10:14-15 (2)

Persembahan unjukan (2): bagian paha korban

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 7:30-33, 10:14-15 [ITB])
30 Dengan tangannya sendirilah harus ia membawa segala korban api-apian TUHAN;
adapun lemaknya, haruslah dibawanya beserta dadanya, supaya dadanya itu diunjukkan sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN.
31 Lalu haruslah imam membakar lemaknya di atas mezbah, tetapi dadanya itu adalah bagian Harun dan anak-anaknya. 32 Paha kanannya harus kamu serahkan kepada imam sebagai persembahan khusus dari segala korban keselamatanmu.
33 Siapa dari antara anak-anak Harun yang mempersembahkan darah dan lemak korban keselamatan, maka dialah yang harus mendapat paha kanan itu sebagai bagiannya.
10:14 Dada persembahan unjukan dan paha persembahan khusus itu haruslah kamu makan di suatu tempat yang tahir, engkau ini serta anak-anakmu laki-laki dan perempuan, karena semuanya diberikan sebagai ketetapan bagimu dan anak-anakmu dari segala korban keselamatan orang Israel.
15 Paha persembahan khusus dan dada persembahan unjukan itu haruslah dibawa mereka ke tempat segala korban api-apian yang dari lemak itu, supaya dipersembahkan sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagimu serta bagi anak-anakmu seperti yang diperintahkan TUHAN.

Persembahan unjukan jenis kedua adalah persembahan unjukan paha korban (biasanya mempersembahkan paha kanan korban), merupakan sejenis persembahan unjukan kepada TUHAN (to the Lord) bukan jenis persembahan unjukan di hadapan TUHAN (before the Lord), setidaknya melambangkan dua makna:
(1) memiliki makna pemberian (donate, give a gift), Imamat 7:32 Paha kanannya harus kamu serahkan kepada imam sebagai persembahan khusus dari segala korban keselamatanmu, jadi bagian paha kanan korban ini secara langsung diberikan kepada imam yang bertugas sebagai donasi / hadiah atas pelaksanaan tugas bagi sang pemberi persembahan tersebut;
(2) Sejak persembahan unjukan ini tidak dipersembahkan di hadapan TUHAN, maka tidak perlu dibawa ke tempat kudus. Oleh karena itu, persembahan unjukan jenis ini tidak perlu melalui proses ritual Kemah Suci.

Fungsi unjukan paha korban mirip dengan fungsi unjukan dada korban, keduanya merupakan simbol persembahan kepada TUHAN (dedications to the Lord). Namun, unjukan dada korban dilakukan di hadapan TUHAN di tempat kudus, sedangkan unjukan paha korban dilakukan di luar tempat kudus dan tidak melibatkan ritual pengorbanan.

Unjukan dada korban pada dasarnya adalah untuk seluruh keluarga imam (priestly family) dan menjadi bagian bersama mereka, sedangkan unjukan paha korban adalah untuk imam yang bertugas (officiating priest) sebagai donasi / hadiah atas pelayanannya. Beberapa peneliti berpendapat bahwa ini adalah pengaturan untuk mencegah perselisihan manfaat di antara para imam, karena unjukan dada korban mencakup banyak hal, selain di antaranya bagian yang paling gemuk dari korban, tetapi juga simbol emas perak dan korban lainnya, maka tidak bisa diserahkan secara pribadi kepada masing-masing imam, dikelola oleh seluruh keluarga imam, dan secara kolektif bertanggung jawab atas korban untuk mencegah korban ini dijadikan alat mencari keuntungan.

Dan unjukan paha korban sebagai donasi / hadiah, secara seragam, tidak peduli pemberi persembahan korban itu orang kaya atau miskin, tidak boleh memberikan lebih kepada imam yang bertugas melayani, hanya boleh memberikan paha kanan korban, sehingga dapat mencegah tindakan menyogok imam yang bertugas melayani, menjamin integritas sistem pengorbanan.

Namun, dua anak-anak Eli melakukan sewenang-wenang atas apa yang sepatutnya diterima imam dan mengambil semaunya bagian korban yang tidak pantas untuk dia (1 Sam. 2:13-17), dan Eli sebagai pemimpin para imam, tidak menghentikan perilaku mereka, menyebabkan seluruh keluarga imam jatuh ke dalam dosa, mendatangkan konsekuensi yang harus ditanggung sebagai kejahatan kolektif. Dapat dilihat bahwa sistem itu sendiri juga perlu kerja sama kehidupan manusia barulah dapat menghilangkan dan menghindarkan bencana.

Renungkan:
Apakah Anda memiliki rasa hormat dalam menangani dan menggunakan atau memberikan persembahan gereja? Apakah Anda terlalu sensitif terhadap jumlah emas dan perak? Kita harus selalu memeriksa diri kita sendiri apakah kita terlalu peka terhadap uang dan kepentingan, seolah-olah kita dikendalikan oleh kepentingan, tanpa kebebasan yang nyata di dalam hati kita, atau ada beberapa orang percaya yang berpengalaman yang dapat mempertahankan kesalehan di luar, tetapi di dalam hati sangat peduli memperhatikan kepentingan diri, dan akhirnya mengorbankan kesatuan gereja demi keuntungan diri. Berdoa agar Tuhan membantu kita puas dengan bagian yang memang sepantasnya kita dapatkan, mensyukurinya, dan tidak menginginkan apa yang bukan milik kita, dan mencegah hati kita menjadi hati yang hanya mengutamakan keuntungan.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 7:30-33, 10:14-15

Persembahan unjukan (1): bagian dada korban

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 7:30-33, 10:14-15 [ITB])
30 Dengan tangannya sendirilah harus ia membawa segala korban api-apian TUHAN;
adapun lemaknya, haruslah dibawanya beserta dadanya, supaya dadanya itu diunjukkan sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN.
31 Lalu haruslah imam membakar lemaknya di atas mezbah, tetapi dadanya itu adalah bagian Harun dan anak-anaknya. 32 Paha kanannya harus kamu serahkan kepada imam sebagai persembahan khusus dari segala korban keselamatanmu.
33 Siapa dari antara anak-anak Harun yang mempersembahkan darah dan lemak korban keselamatan, maka dialah yang harus mendapat paha kanan itu sebagai bagiannya.
10:14 Dada persembahan unjukan dan paha persembahan khusus itu haruslah kamu makan di suatu tempat yang tahir, engkau ini serta anak-anakmu laki-laki dan perempuan, karena semuanya diberikan sebagai ketetapan bagimu dan anak-anakmu dari segala korban keselamatan orang Israel.
15 Paha persembahan khusus dan dada persembahan unjukan itu haruslah dibawa mereka ke tempat segala korban api-apian yang dari lemak itu, supaya dipersembahkan sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagimu serta bagi anak-anakmu seperti yang diperintahkan TUHAN.

Dalam Kitab Imamat dicatat dua jenis persembahan unjukan, jenis pertama adalah persembahan unjukan dada korban, jenis kedua adalah persembahan unjukan paha korban, menurut tradisi para Rabbi, yang pertama adalah unjukan yang dilambaikan dalam arah horizontal (horizontal weave), merupakan sejenis persembahan unjukan dihadapan TUHAN (before the Lord) (Im. 7:30; 8:27, 29; 9:21; 10:15; 14:12, 24; 25:20); yang kedua adalah unjukan yang dilambaikan dalam arah vertikal (vertical weave) yakni merupakan sejenis persembahan unjukan kepada TUHAN (to the Lord) (Im. 7:14). Apa makna simbolis yang terkandung ? Renungan hari ini akan melihat unjukan bagian dada korban, dan renungan besok akan melihat unjukan bagian paha korban.

Dalam Bil. 18:9-11 Inilah bagianmu dari segala persembahan-persembahan yang maha kudus itu, yaitu dari bagian yang tidak harus dibakar: segala persembahan mereka yang berupa korban sajian, korban penghapus dosa dan korban penebus salah, yang dibayar mereka kepada-Ku; itulah bagian maha kudus yang menjadi bagianmu dan bagian anak-anakmu. Sebagai bagian maha kudus haruslah kamu memakannya; semua orang laki-laki boleh memakannya; haruslah itu bagian kudus bagimu. Dan inipun adalah bagianmu: persembahan khusus dari pemberian mereka yang lain, termasuk segala persembahan unjukan orang Israel; semuanya itu Kuberikan kepadamu dan kepada anak-anakmu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya. Setiap orang yang tahir dari seisi rumahmu boleh memakannya. Kita dapat melihat bahwa dari semua jenis persembahan-persembahan yang maha kudus, baik itu korban sajian; korban penghapus dosa dan korban tebusan salah; korban adalah persembahan untuk Allah, tetapi persembahan unjukan dada korban adalah diberikan kepada para imam yang kudus untuk dimakan, itu adalah semacam korban yang tingkat kekudusan yang relatif lebih kecil, merupakan sesuatu yang belum menjadi dalam kategori maha kudus.

Ada empat fungsi dari persembahan unjukan ini:
(1) Memisahkan orang Lewi dari umat Israel dan memasuki ranah ilahi milik Allah (8:13 – 15), sehingga orang-orang Lewi ini dilambangkan dengan unjukan bagian dada korban;
(2) Emas dan perak dipersembahkan kepada Allah, terutama untuk dipakai dalam pembangunan Kemah Suci, sehingga emas dan perak juga dilambangkan dengan unjukan bagian dada korban;
(3) Dalam korban keselamatan, bagian maha kudus ditempatkan di atas mezbah, dan bagian yang diberikan kepada para imam, harus melalui tata cara persembahan unjukan dilambaikan untuk memasuki ranah ilahi Allah;
(4) Jika yang dipersembahkan bukanlah sesuatu yang biasanya menurut ketetapan yang ada (misalnya: emas dan perak), maka hal ini perlu untuk dipersembahkan melalui tata cara persembahan lambaian unjukan, sehingga akan memasuki kategori bagian maha kudus dan menjadi persembahan korban kepada Allah.

Dan harus dilakukan persembahan itu di hadapan TUHAN, perlambangan bahwa korban yang akan dipersembahkan tersebut terlebih dahulu dikuduskan sebelum diubah menjadi bagian maha kudus. Dan bagian dada korban unjukan itu harus terlebih dahulu dipersembahkan kepada Allah barulah dapat diberikan kepada keluarga imam untuk dinikmati bersama-sama, melambangkan bahwa pemeliharaan keluarga para imam berasal dari Allah, bukan pemberian langsung dari para pemberi persembahan.

Renungkan:
Apakah Anda memiliki teologi persembahan? Persembahan unjukan bagian dada korban mengingatkan kita bahwa semua persembahan kita kepada Allah harus dilambaikan (diunjukan) di hadapan TUHAN, melambangkan proses pengudusan, sehingga hal ini menjadi bagian maha kudus yang dipersembahkan kepada TUHAN.

Tentu saja gereja modern tidak memerlukan pengaturan seperti itu ketika hendak mempersembahkan uang persembahan, tata cara ini direduksi dan tidak dilakukan lagi, tetapi mungkin perlahan-lahan persembahan uang hanya untuk membantu biaya dan pengeluaran gereja, kehilangan makna proses pengudusan tersebut. Atau ada sebagian yang beranggapan bahwa finansial yang disumbangkan hanya digunakan untuk memenuhi keuangan gereja, mendukung anggaran gereja, telah menghilangkan teologi yang seharusnya terkandung di dalamnya, sehingga direduksi menjadi sekadar transfer kepemilikan finansial saja.

Namun, ayat-ayat hari ini mengingatkan kita bahwa persembahan korban adalah tindakan persembahan di hadapan TUHAN, dengan tujuan menguduskan apa yang telah Anda persembahan agar menjadi bagian maha kudus, persembahan korban yang demikian menghormati TUHAN sebagai yang Maha Kudus, agar orang dapat memiliki lebih banyak rasa hormat kepada Allah. Pendeta dan hamba Tuhan juga harus memahami bahwa unjukan bagian dada korban (bagian yang diberikan untuk dinikmati para imam) seperti ini bukanlah sesuatu yang datang langsung dari para pemberi persembahan, tetapi sesuatu yang telah dikuduskan di hadapan TUHAN, milik TUHAN, dan barulah kemudian diberikan oleh TUHAN untuk pemeliharaan yang dibutuhkan oleh pendeta dan hamba Tuhan. Dengan demikian, pendeta dan hamba Tuhan juga harus memakainya dengan baik dengan penuh hormat demi melayani pekerjaan Tuhan.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 7:20-27

Dilenyapkan dari antara bangsanya

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 7:20-27 [ITB])
20 Tetapi seseorang yang memakan daging dari korban keselamatan yang untuk TUHAN, sedang ia dalam keadaan najis, haruslah nyawa orang itu dilenyapkan dari antara bangsanya.
21 Dan apabila seseorang kena kepada sesuatu yang najis, yakni kepada kenajisan berasal dari manusia, atau kepada hewan yang najis atau kepada setiap binatang yang merayap yang najis, lalu memakan dari pada daging korban keselamatan yang untuk TUHAN, maka haruslah nyawa orang itu dilenyapkan dari antara bangsanya.」
22 TUHAN berfirman kepada Musa:
23 Katakanlah kepada orang Israel: Segala lemak dari lembu, domba ataupun kambing janganlah kamu makan.
24 Lemak bangkai atau lemak binatang yang mati diterkam boleh dipergunakan untuk segala keperluan, tetapi jangan sekali-kali kamu memakannya. 25 Karena setiap orang yang memakan lemak dari hewan yang dipergunakan untuk mempersembahkan korban api-apian bagi TUHAN, nyawa orang yang memakan itu, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.
26 Demikian juga janganlah kamu memakan darah apapun di segala tempat kediamanmu, baik darah burung-burung ataupun darah hewan. 27 Setiap orang yang memakan darah apapun, nyawa orang itu haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.

Perikop ini terutama menjelaskan ketetapan Allah mengenai dilenyapkan dari antara bangsanya (KJV cut off from his people, CUV Mandarin digunting dari antara umat-Nya). Kata dilenyapkan muncul di Imamat 7:20, 21, 25, 27, penyebab utama dilenyapkan dari antara bangsanya ada 4:

(1) Jika seseorang sedang ia dalam keadaan najis memakan daging dari korban keselamatan yang untuk TUHAN. Orang itu melalui tindakan makan, telah mencampur baur yang najis dengan yang kudus, ia menghancurkan garis batas;

(2) Seseorang kena kepada sesuatu yang najis, lalu memakan dari pada daging korban keselamatan yang untuk TUHAN, adalah melalui kontak menghancurkan garis batas antara yang najis dengan yang kudus, yang merupakan suatu tindakan yang melanggar garis batas;

(3) Orang yang memakan lemak dari hewan yang dipergunakan untuk mempersembahkan korban api-apian bagi TUHAN, seperti yang disebutkan dalam renungan sebelumnya, lemak itu milik TUHAN, makan lemak adalah merampas hal-hal yang dikhususkan untuk TUHAN (orang tersebut dirinya tinggi menyamai Allah)

(4) Makan darah, seperti yang disebutkan sebelumnya, darah adalah kehidupan, makan darah adalah tindakan tidak menghormati kedaulatan Allah atas kehidupan, tidak mengakui bahwa Allah adalah sumber kehidupan.

Dengan demikian tersebut, bagaimana kita memahami dilenyapkan dari antara bangsanya?
Ada peneliti berpendapat bahwa ini adalah hukuman ilahi dari Allah (divine penalty), karena empat situasi yang disebutkan di atas terkait dengan pelanggaran kekudusan Allah, yakni situasi (1) dan (2) adalah kekacauan mencampur aduk kekudusan dengan yang kecemaran najis. Dan situasi (3) dan (4) adalah makan hal-hal yang merupakan milik Allah (darah dan lemak), yang juga merupakan kekacauan mencampur aduk. Karena kekudusan Allah tidak dapat dikompromikan, sulit bagi mereka yang telah melakukan dosa-dosa ini untuk menjadi umat anugerah Allah, sehingga mereka harus dilenyapkan dari antara bangsanya.

Selain itu, kita juga dapat memahami arti dilenyapkan dari antara bangsanya melalui tiga ayat lainnya :
(1) Biarlah dilenyapkan keturunannya, dan dihapuskan namanya dalam angkatan yang kemudian (Maz. 109:13), ini berarti bahwa keturunannya akan terpengaruh;
(2) Rut, perempuan Moab itu, isteri Mahlon, aku peroleh menjadi isteriku untuk menegakkan nama orang yang telah mati itu di atas milik pusakanya. Demikianlah nama orang itu tidak akan lenyap dari antara saudara-saudaranya dan dari antara warga kota … (Rut 4:10), dilenyapkan berarti bahwa keturunannya tidak dapat dilanjutkan;
(3) Biarlah TUHAN melenyapkan dari kemah-kemah Yakub segenap keturunan orang yang berbuat demikian, sekalipun ia membawa persembahan kepada TUHAN semesta alam!(Maleakhi 2:12) dilenyapkan berarti bahwa menghapus orang ini dari keluarganya.

Jadi kita melihat bahwa orang yang dilenyapkan dari antara bangsanya tidaklah selalu akan menerima eksekusi, tetapi menjadi terputus tidak memiliki lagi hubungan dengan umat Israel digunting dari antara umat-Nya.

Renungkan:
Dari analisis di atas, dapat dilihat bahwa dilenyapkan dari antara bangsanya / digunting dari antara umat-Nya adalah terputus dari umat Israel, karena umat Israel adalah bangsa yang kudus dan umat Allah, umat perjanjian ini harus berbagi kekudusan dan watak karakter suci, sehingga umat ini berbeda dengan bangsa-bangsa asing. Sebaliknya, jika kita tidak memiliki watak kudus Allah, maka kita sama dengan manusia duniawi, tidak dapat menghayati menghidupi identitas asli bangsa Israel sebagai umat Allah, artinya tidak peduli dengan karakter Allah, dan maka alami terputus,lenyap hubungan dari antara bangsanya. Apakah kita hidup dalam kehidupan yang telah terputus, digunting dari antara umat-Nya?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 6:14-30

Harus dimakan di suatu tempat yang kudus

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 6:14-30 [ITB])
14 Inilah hukum tentang korban sajian. Anak-anak Harun haruslah membawanya ke hadapan TUHAN ke depan mezbah.
15 Setelah dikhususkan dari korban sajian itu segenggam tepung yang terbaik dengan minyak, serta seluruh kemenyan yang di atas korban sajian itu, maka haruslah semuanya dibakar di atas mezbah sehingga baunya menyenangkan sebagai bagian ingat-ingatannya bagi TUHAN.
16 Selebihnya haruslah dimakan oleh Harun dan anak-anaknya; haruslah itu dimakan sebagai roti yang tidak beragi di suatu tempat yang kudus, haruslah mereka memakannya di pelataran Kemah Pertemuan.
17 Janganlah itu dibakar beragi. Telah Kuberikan itu sebagai bagian mereka dari pada segala korban api-apian-Ku; itulah bagian maha kudus, sama seperti korban penghapus dosa dan korban penghapus salah.
18 Setiap laki-laki di antara anak-anak Harun haruslah memakannya; itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun; itulah bagianmu dari segala korban api-apian TUHAN. Setiap orang yang kena kepada korban-korban itu menjadi kudus.
19 TUHAN berfirman kepada Musa:
20 Inilah persembahan Harun dan anak-anaknya, yang harus dipersembahkan oleh mereka kepada TUHAN pada hari ia diurapi: sepersepuluh efa tepung yang terbaik sebagai korban sajian yang tetap, setengahnya pada waktu pagi dan setengahnya pada waktu petang.
21 Haruslah itu diolah di atas panggangan bersama-sama minyak, setelah teraduk haruslah engkau membawanya dan mempersembahkannya sebagai korban sajian, sesudah dibakar dan berpotong-potong sebagai bau yang menyenangkan bagi TUHAN.
22 Dan imam dari antara anak-anaknya yang diurapi sebagai penggantinya, haruslah mengolahnya; itulah suatu ketetapan untuk selamanya. Seluruhnya haruslah dibakar bagi TUHAN.
23 Tiap-tiap korban sajian dari seorang imam itu haruslah menjadi korban yang terbakar seluruhnya, janganlah dimakan.
24 TUHAN berfirman kepada Musa, demikian:
25 Katakanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang korban penghapus dosa. Di tempat korban bakaran disembelih, di situlah harus disembelih korban penghapus dosa di hadapan TUHAN. Itulah persembahan maha kudus.
26 Imam yang mempersembahkan korban penghapus dosa itulah yang harus memakannya; haruslah itu dimakan di suatu tempat yang kudus, di pelataran Kemah Pertemuan.
27 Setiap orang yang kena kepada daging korban itu menjadi kudus, dan bila darahnya ada yang tepercik kepada sesuatu pakaian, haruslah engkau mencuci pakaian itu di suatu tempat yang kudus.
28 Dan belanga tanah, tempat korban itu dimasak, haruslah dipecahkan, dan jikalau dimasak di dalam belanga tembaga, haruslah belanga itu digosok dan dibasuh dengan air.
29 Setiap laki-laki di antara para imam haruslah memakannya; itulah persembahan maha kudus.
30 Tetapi setiap korban penghapus dosa, yang dari darahnya dibawa sebagian ke dalam Kemah Pertemuan untuk mengadakan pendamaian di dalam tempat kudus, janganlah dimakan, melainkan dibakar habis dengan api.

Imamat 6:14-30 terutama menjelaskan peran imam dalam berbagai tata cara persembahan. Tata cara yang dicatat di perikop ini sangat khusus, mencatat bahwa imam hanya boleh makan persembahan korban di tempat kudus, 6:16 menjelaskan Selebihnya haruslah dimakan oleh Harun dan anak-anaknya; haruslah itu dimakan sebagai roti yang tidak beragi di suatu tempat yang kudus, haruslah mereka memakannya di pelataran Kemah Pertemuan; 6:26 Imam yang mempersembahkan korban penghapus dosa itulah yang harus memakannya; haruslah itu dimakan di suatu tempat yang kudus, di pelataran Kemah Pertemuan; 6:29 Setiap laki-laki di antara para imam haruslah memakannya; itulah persembahan maha kudus Bagaimana seharusnya kita memahami ketetapan peraturan tersebut?

Pertama-tama, tempat yang kudus yang disebutkan itu mengacu pada pelataran Kemah Pertemuan. Menurut Kel. 40:33 Didirikannyalah tiang-tiang pelataran sekeliling Kemah Suci dan mezbah itu, dan digantungkannyalah tirai pintu gerbang pelataran itu, pelataran Kemah Pertemuan mengacu pada area Kemah Suci itu sendiri beserta mezbah korban bakaran, jadi para imam harus memakan bagian persembahan korban di area itu, karena itu adalah lingkup ranah ilahi Allah, itulah tempat yang kudus (sebagaimana definisi kudus = berada di ranah ilahi milik Allah), karena korban mewakili persembahan manusia kepada Allah, maka dalam proses persembahan itu korban harus melintasi garis batas, melalui langkah-langkah ritual pengorbanan yang melintasi garis batas (rite de passage), korban yang duniawi masuk ke dalam ranah kekudusan. Oleh karena itu, korban yang masuk ke pelataran Kemah Suci adalah sesuatu yang telah melalui proses penyucian pengudusan. Maka barang persembahan korban ini tidak dapat menjadi duniawi lagi. Oleh karena itu, harus ditangani di dalam lingkup ranah kudus, jika tidak maka akan mencampur aduk yang kudus dengan duniawi, merusak ketertiban (pemisahan).

Imam harus makan di tempat kudus, yaitu di pelataran Kemah Suci. Mereka adalah sekelompok orang yang dikuduskan dan harus berurusan dengan barang korban ini di tempat kudus, mereka tidak boleh makan yang beragi, yang melambangkan bahwa mereka tidak boleh terkontaminasi oleh kecemaran. Dengan demikian, mereka dapat memastikan kekudusan barang korban sekaligus memastikan kekudusan tempat kudus, dengan demikian memastikan kehadiran penyertaan Allah. Makan di tempat kudus adalah sakramen, juga perjamuan kudus, hanya orang yang dikuduskan yang bisa makan dan minum bersama Tuhan.

Renungkan:
Di era Perjanjian Baru, semua orang adalah imam. Kita orang Kristen adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Sejak kita menjadi imam, kita harus memastikan kekudusan diri kita sendiri. Jangan karena kebutuhan dasar seperti makan dan minum, sehingga lupa untuk menghilangkan ragi, ini melambangkan hidup kita juga harus menyingkirkan segala kenajisan dan memastikan kemurnian kita sendiri. Sering kali kita akan menyalahgunakan kasih karunia Kristus, berpikir bahwa Dia telah membayar harga untuk kita, jadi kita tidak perlu terlalu mempermasalahkan kenajisan yang ada pada diri kita sendiri, sehingga kita memandang anugerah Tuhan itu murahan, dan kita tidak bisa melihat tanggung jawab berat di belakang anugerah!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 6:8-13

Api mezbah haruslah dipelihara menyala terus

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 6:8-13 [ITB])
8 TUHAN berfirman kepada Musa:
9 「Perintahkanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang korban bakaran.
Korban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman sampai pagi,
dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya.
10 Imam haruslah mengenakan pakaian lenannya, dan mengenakan celana lenan untuk menutup auratnya. Lalu ia harus mengangkat abu yang ada di atas mezbah sesudah korban bakaran habis dimakan api, dan haruslah ia membuangnya di samping mezbah.
11 Kemudian haruslah ia menanggalkan pakaiannya dan mengenakan pakaian lain, lalu membawa abu itu ke luar perkemahan ke suatu tempat yang tahir.
12 Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam.
Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana.
13 Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.」

Imamat 6:8-13 mencatat aturan bagi para imam dalam hal korban bakaran, aturan ini terutama mengandung tugas yang sangat penting yakni untuk memastikan agar api tetap menyala di atas mezbah (kata menyala dalam bahasa asli adalah dalam bentuk imperfect, artinya terus menerus menyala). Mengapa api di atas mezbah harus selalu menyala? Karena ini api yang keluar dari hadapan TUHAN (Im. 9:24), karena tempat maha kudus adalah ranah kudus, juga adalah tempat kehadiran penyertaan Allah, dan definisi kekudusan adalah termasuk dalam ranah ilahi milik Allah, maka api yang datang dari Allah adalah api kudus, dan juga melambangkan api milik Allah.

Dengan api kudus (holy flame), Israel dapat memastikan korban bakaran berkenan kepada Allah, karena nyala api kudus dapat mencerna hal-hal yang duniawi, mentransformasikannya menjadi asap yang membubung, naik ke langit, yaitu membawa korban persembahan ke dalam ranah kekudusan, proses pengudusan ini hanya bisa ditangani dengan api kudus.

Api yang dinyalakan manusia sendiri adalah api biasa (common fire), api biasa tidak memiliki fungsi penyucian, juga membuat orang salah paham bahwa korban telah berkenan kepada Allah. Korban persembahan perilaku manusia adalah manusia menggunakan sistem pengorbanan untuk mencapai tujuan keinginan diri mereka sendiri. Mereka yang mempersembahkan api biasa akan mati, seperti anak-anak Harun, Nadab dan Abihu.

(Im. 10:1 – 7 [ITB])
1Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka.
2Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN.
3Berkatalah Musa kepada Harun: Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku.』」 Dan Harun berdiam diri.
4Kemudian Musa memanggil Misael dan Elsafan, anak-anak Uziel, paman Harun, lalu berkatalah ia kepada mereka: Datang ke mari, angkatlah saudara-saudaramu ini dari depan tempat kudus ke luar perkemahan.
5Mereka datang, dan mengangkat mayat keduanya, masih berpakaian kemeja, ke luar perkemahan, seperti yang dikatakan Musa.

Hal ini menunjukkan bahwa api kudus harus selalu menyala, jika padam, tidak dapat dipastikan apakah bisa sekali lagi memiliki api kudus dari Allah. Oleh karena itu, para imam harus memastikan dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam, konsekuensi sangat serius.

Bagi orang Kristen, konsep api kudus sangat bermakna. Api kudus melambangkan anugerah Allah, sedangkan api biasa adalah simbol jasa manusia. Api kudus menunjukkan kepada manusia bahwa persembahan korban dapat diterima berkenan kepada Allah sepenuhnya hanya tergantung pada anugerah Allah, tidak peduli siapa yang mempersembahkan apakah lebih mahal, itu tidak memastikan penerimaan perkenan Allah. Api biasa menunjukkan bahwa jasa manusia tidak dapat menambah apa pun agar diterima berkenan kepada Allah. Mengandalkan jasa untuk mendapatkan penerimaan perkenan Allah hanya akan terancam kematian, karena jasa mengutamakan kemampuan manusia dan meningkatkan kebanggaan manusia, berpikir bahwa diri sendiri lebih layak atas penerimaan perkenan Allah lebih daripada orang lain, ini sebenarnya melihat diri sendiri sebagai Tuan, berharap persembahan seseorang dapat mengendalikan Allah. Tetapi ini bukan pandangan Kitab Imamat, atau pandangan orang Kristen. Artinya, penafsiran orang Kristen terhadap ayat-ayat ini dapat dikatakan sebagai penafsiran “hanya karena anugerah semata”, mungkin tidak sejalan dengan tradisi konsep iman sebelum reformasi, tetapi sejalan dengan tradisi pembaruan reformasi Kristen.

Renungkan:
Apakah Anda juga menjaga api kudus terus menyala untuk pengabdian persembahan kepada Allah? Api kudus mewakili anugerah, merupakan tulang punggung keterhubungan antara surgawi dan dunia. Tanpa api kudus, tidak ada anugerah maka dunia terputus dengan surgawi, dan manusia tidak dapat terhubung ke surgawi dan terhubung dengan Allah. Apakah hidup Anda terhubung dengan Allah? Berdoa agar Tuhan menjaga api kudus di hati Anda agar tidak padam, dan Anda selalu dapat mempersembahkan korban yang naik membubung ke surga yang berkenan kepada Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.