「Tidak boleh makan lemak dan darah」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.
(Im. 3:12-17 [ITB])
12 「Jikalau persembahannya seekor kambing, ia harus membawanya ke hadapan TUHAN.
13 Lalu ia harus meletakkan tangannya di atas kepala kambing itu dan menyembelihnya di depan Kemah Pertemuan, lalu anak-anak Harun harus menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.
14 Kemudian dari kambing itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai persembahannya berupa korban api-apian bagi TUHAN,
15 dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu.
16 Imam harus membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai santapan berupa korban api-apian menjadi bau yang menyenangkan. Segala lemak adalah kepunyaan TUHAN.
17 Inilah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun di segala tempat kediamanmu: janganlah sekali-kali kamu makan lemak dan darah.」
Imamat 3 berbicara tentang peraturan mengenai korban keselamatan, makna yang dilambangkan dalam persembahan korban ini sangat banyak, dalam kesempatan yang berbeda dilakukan korban keselamatan ini akan memiliki makna simbolis yang berbeda, yang paling utama ada tiga hal: ucapan syukur, membayar nazar dan persembahan kerelaan (apa saya senang dengan). Namun, Imamat 3 hanya hanya menjelaskan tata cara korban keselamatan, tidak mengatakan apa makna yang terkandung, jadi renungan kita hari ini berfokus pada larangan makan lemak dan darah disebutkan dalam ayat 3:17 yang menjadi kalimat kesimpulan atas aturan korban keselamatan ini.
Mengapa darah dan lemak dilarang untuk dimakan? 「Kemudian dari korban keselamatan itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai korban api-apian bagi TUHAN, dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu」(Im. 3:3-4), 「Kemudian dari korban keselamatan itu ia harus mempersembahkan lemaknya sebagai korban api-apian bagi TUHAN, yakni segenap ekornya yang berlemak yang harus dipotong dekat pada tulang belakang, dan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu, dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang, dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu」 (Im. 3:9-10), 「Kemudian dari kambing itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai persembahannya berupa korban api-apian bagi TUHAN, dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu」 (Im. 3:14-15). Berulang kali menjelaskan semua lemak dari korban harus diambil untuk dipersembahkan sebagai korban bakaran sebagai korban api-apian, ayat 3:16 memberikan alasan: segala lemak yang melekat pada isi perut adalah untuk TUHAN. Kita sangat sulit menggunakan perspektif modern untuk memahami alasannya, tetapi juga jangan menggunakan sudut pandang medis modern tentang masalah tersebut (seperti menafsirkan bahwa lemak tidak sehat untuk tubuh, dll), kita hanya dapat menerima bahwa lemak adalah untuk TUHAN, menunjukkan bahwa lemak membawa makna kudus (karena Allah adalah kudus), jika seseorang makan lemak, artinya orang tersebut mengambil bagian milik Allah, melakukan kejahatan melanggar kekudusan. Oleh karena itu, korban keselamatan adalah untuk memproklamasikan bahwa kedaulatan atas lemak adalah milik Allah.
Mengapa tidak boleh makan darah? Imamat 17:11 berkata: Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya. Darah melambangkan kehidupan, dan kedaulatan hidup adalah milik Allah. Membunuh di depan mezbah melambangkan bahwa hanya TUHAN yang memiliki kedaulatan untuk mengambil kehidupan, sehingga kedaulatan penumpahan darah adalah pada Allah bukan pada manusia. Oleh karena itu, dalam tradisi imam, pertumpahan darah adalah masalah yang sangat serius. Setiap hak untuk menumpahkan darah harus dilakukan di hadapan TUHAN, dan memproklamasikan bahwa hanya Allah saja yang memiliki hak untuk mengambil nyawa. Dengan demikian, makan darah adalah perilaku manusia merebut kedaulatan atas kehidupan dari tangan Allah, merupakan tindakan orang tidak mengenal Allah.
Darah dan lemak memiliki makna simbolis yang mirip, darah membawa simbol bahwa kedaulatan atas hidup adalah milik Allah, lemak membawa simbol sesuatu yang kudus milik Allah, keduanya tidak boleh dimakan, memiliki makna orang tidak bisa mengambil peran sebagai Allah, manusia hanya bisa menjadi manusia, Allah adalah Allah.
Renungkan:
Apakah Anda menghormati Allah? Sering kali kita memikirkan diri kita sendiri dan menempatkan hal-hal yang menjadi milik Tuhan masuk dalam kendali kita sendiri. Padahal, apa yang bisa kita kendalikan sebagai manusia sangat terbatas. Kita tidak bisa menentukan hidup kita, apalagi umur kita. Kita hanya manusia. Kita harus menerima keterbatasan diri manusia, dan jangan melampaui batas ingin mengendalikan hal-hal yang ada di ranah milik Allah. Larangan makan darah dan lemak sebenarnya adalah pengingat yang baik: 「Allah adalah Allah, manusia hanya bisa sebagai manusia.」
Renungan pemahaman Kitab Imamat
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.