Tag Archives: Kitab Imamat

Imamat 1:2-9

Berkenan di hadapan TUHAN

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:2-9 [ITB])
2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. 4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan. 6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu. 8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. …』」

Imamat pasal 1 berbicara tentang aturan korban bakaran, dalam bahasa asli ‘ōlāh (korban bakaran) dapat dipahami sebagai korban yang membubung ke atas, simbol yang mewakili korban dipersembahkan sebagai wangi-wangian yang baunya menyenangkan dipersembahkan kepada Allah di surga. Dalam peraturan korban bakaran, korban (qŏrbān), yakni kata korban yang disebutkan di Markus 7:11 … sudah digunakan untuk korban yaitu persembahan kepada Allah, kata ini sering sekali muncul (Im. 1:2, 3, 10, 14), menjelaskan bahwa korban bakaran itu sendiri adalah korban yang dipersembahkan kepada Allah, karena itu adalah persembahan, maka berharap pihak penerima akan berkenan sukacita menerimanya, tetapi bagaimana memastikan bahwa persembahan korban ini diterima berkenan di hadapan Allah?

Dalam mempersembahkan korban bakaran, api yang digunakan adalah api yang datang dari Allah (Im. 9:24), segala yang datang dari Allah adalah sesuatu yang merupakan bagian dari ranah ilahi milik Allah, dan definisi kudus juga adalah makna yang merupakan bagian dari ranah ilahi (lingkup ilahi), kita dapat memahami bahwa ini adalah api semacam api kudus, adalah api yang datang dari Allah; api ini bukan api umum yang dipakai oleh manusia (Im.10:1), api umum ini bukan bagian dari ranah ilahi milik Allah, itu adalah api manusia. Api kudus adalah prasyarat untuk memastikan korban bakaran berkenan diterima, karena api yang dipakai adalah api Allah, api dari ranah ilahi milik Allah membakar korban yang dipersembahkan ini, itu melambangkan pengorbanan yang berkenan diterima oleh Allah, dan oleh karena itu, api kudus ini tidak boleh padam, jika tidak, maka korban persembahan tidak akan bisa berkenan di terima di hadapan Allah.

Sering kali, kita mengandalkan upaya manusia, memberikan persembahan yang paling mahal harganya kepada Allah, dan juga dengan kemampuan, hikmat dan relasi diri sendiri untuk menyalakan api persembahan, dan berharap Allah akan berkenan menerima pemberian kita, tetapi ternyata diterima berkenan atau tidak berkenannya persembahan korban bukan tergantung pada usaha manusia, melainkan mengandalkan api kudus anugerah dari Allah.

Ini menggambarkan dua poin:
(1) tidak peduli berapa mahal persembahan orang, kecuali berkenan kepada Allah, maka persembahan itu sia-sia;
(2) manusia sebenarnya tidak memiliki modal untuk memberikan persembahan dengan mempertimbangkan besarnya usaha atau mahalnya harga persembahan untuk menyenangkan Allah, maka orang tidak patut mencoba untuk jual beli dengan Allah, tidak patut mencoba menyuap Allah. Karena penerimaan suatu persembahan sepenuhnya merupakan inisiatif Allah. Memang benar, manusia boleh yang secara proaktif mempersembahkan persembahan korban, menurut sebagian peneliti, korban bakaran adalah bentuk persembahan sukarela, bukan persembahan wajib, tetapi inisiatif sukarela untuk memberikan persembahan tidak akan menjadi prasyarat perkenan Allah, dan terlebih tidak boleh karena persembahan inisiatif sukarela maka ingin mengontrol Allah untuk berkenan menerima.

Renungkan:
Korban apa yang Anda persembahan kepada Allah? Apakah Anda berharap Allah berkenan menerimanya? Hanya ketika korban yang dibakar oleh api suci yang dapat melambangkan perkenan penerimaan Allah, api manusia tidak dapat mencapai tujuan ini, ini artinya, kita tidak patut mempersembahkan persembahan dengan cara kita sendiri, meskipun persembahan itu sendiri mahal harganya, seperti lembu yang disebutkan dalam pasal ini (1:3) lebih mahal daripada kambing domba (1:10) dan burung tekukur atau dari anak burung merpati (1:14), dan tidak dapat menjamin perkenan penerimaan Allah. Hanya api kudus (melambangkan: cara Allah, cara yang sesuai kehendak Allah) yang dapat membakar semua korban dan memastikan perkenan penerimaan Allah. Apakah Anda telah mempersiapkan hidup Anda memasuki ranah ilahi Allah?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 1:1-2

Dunia ritual dari tradisi imamat

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 1:1-2 [ITB])
1 TUHAN memanggil Musa dan berfirman kepadanya dari dalam Kemah Pertemuan:
2 「Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.

TUHAN dari Tabernakel berbicara kepada Musa (Im. 1:1), memerintahkan agar Musa menyampaikan kata-kata ini (dăbēr) mengatakan kepada bani Israel (Im. 1:2), TUHAN tidak mengatakan langsung kepada umat Israel, tetapi Ia menetapkan Musa sebagai juru bicara (yaitu: nabi), oleh karena itu, apa yang dituliskan dalam Kitab Imamat adalah suatu jenis pembicaraan terkait nabi, yakni wahyu yang dinyatakan oleh Allah melalui Musa sebagai model perkataan nabi.

Namun, ketika kita membaca Kitab Imamat, kita akan menghadapi beberapa permasalahan: mengapa perkataan nabi sering mengulang-ulang deskripsi ritual pengorbanan yang sama, tampaknya sangat membosankan itu. Gereja kadang-kadang merasa tidak tahan terhadap ritual pengorbanan itu, karena ritual pengorbanan tampaknya merupakan ritual eksternal, jika tidak memiliki kesalehan di dalam hati, maka ritual pengorbanan tampak tidak berguna, kita lebih cinta kedewasaan rohani internal diri, dan merasa bahwa ritual pengorbanan ini tidak memiliki makna adalah formulasi rutinitas saja, dan merasa detil dari ritual pengorbanan bisa ada juga bisa diabaikan, ditambah Surat Ibrani seperti memberikan penilaian evaluasi yang negatif terhadap sistem pengorbanan dalam Kitab Imamat, sehingga kita sering merasa yakin bahwa Kitab Imamat bisa ada bisa juga diabaikan, merasa tidak mengandung ajaran rohani.

Tetapi dalam tradisi imam, ritual pengorbanan adalah pengalaman penyertaan hadirat Allah, melalui langkah-langkah ritual pengorbanan, orang yang mempersembahkan korban berjumpa lagi dengan Allah, banyak peneliti percaya bahwa perjumpaan melalui ritual pengorbanan adalah proses yang mengubah “tidak ada aturan” menjadi ada keteraturan, mencerminkan diciptakannya pemisahan: Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis (Im. 10:10); membedakan antara yang najis dengan yang tahir, antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan (Im. 11:47); Akulah TUHAN, Allahmu, yang memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain. Kamu harus membedakan binatang yang tidak haram dari yang haram, dan burung-burung yang haram dari yang tidak haram, supaya kamu jangan membuat dirimu jijik oleh binatang berkaki empat dan burung-burung dan oleh segala yang merayap di muka bumi, yang telah Kupisahkan supaya kamu haramkan (Im. 20:24b-25). Kata dipisahkan / membedakan muncul berulang kali, kata ini juga muncul dalam Kitab Kejadian pasal 1 (salah satunya Kej. 1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap), menunjukkan bahwa ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang utama adalah melakukan tindakan menciptakan batas-batas, kekacauan dalam kategori / golongan dibuat menjadi adanya keteraturan, demikian juga tujuan utama ritual pengorbanan dalam Kitab Imamat adalah untuk mengembalikan kehidupan yang dalam kekacauan kepada keteraturan penciptaan, membuat situasi yang kacau tidak teratur menjadi situasi yang memiliki klasifikasi, menjadi komunitas yang teratur (memiliki aturan).

Terutama karena Israel adalah bangsa yang kudus(Kel. 19:5-6), mereka harus memiliki hidup terpisah yang berbeda dari bangsa-bangsa asing. Oleh karena itu, mereka sering sering datang ke Kemah Pertemuan (Tabernakel) untuk mempersembahkan korban, tujuannya mengingat dosa-dosa mereka dan dirinya najis, dan tugas imam adalah untuk membantu mereka melalui arti yang disimbolkan dalam ritual pengorbanan, sehingga mereka kembali kepada kehidupan yang memiliki keteraturan, dan memberitahukan tatanan keteraturan penciptaan agar masyarakat Israel dapat menghayati kebaikan dan keindahan Allah. Dilihat dari sudut ini, Kitab Imamat membawa misi kenabian, melalui ritual pengorbanan, membawa kembali umat Israel kepada kehidupan yang memiliki keteraturan.

Renungkan:
Apakah ada perbedaan antara hidup Anda dan orang-orang asing? Dalam banyak kasus, untuk memenuhi selera orang lain, kita akan berkompromi ketika menghadapi lingkungan yang tidak menguntungkan, kita tidak mau mengikuti kualitas hidup Kristen dan berharap untuk hidup di wilayah abu-abu dan hidup yang campur baur. Tapi pesan hari ini memungkinkan kita untuk melihat pentingnya pemisahan, karena itu membangun identitas bangsa Israel. Apakah Anda memiliki tekad seperti itu?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.