Tag Archives: rekonsiliasi

Kidung Agung 6:1-3

Mereka adalah saling memiliki

Oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kid. 6:1-3 [ITB])
1 Ke mana perginya kekasihmu, hai jelita di antara wanita? Ke jurusan manakah kekasihmu pergi, supaya kami mencarinya besertamu?
2 Kekasihku telah turun ke kebunnya, ke bedeng rempah-rempah untuk menggembalakan domba dalam kebun dan memetik bunga bakung.
3 Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku, yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.

Beberapa peneliti mengingatkan kita untuk memperhatikan bentuk penulisan 《Kitab Kidung Agung》 adalah sastra puisi, tidak memiliki logika narasi (ayat 6:1 sangat mirip dengan 5:9), oleh karena itu, meneruskan pembacaan, kita akan merasa sulit untuk memahami cerita secara kronologis atau dengan plot yang linier; dengan kata lain, sulit bagi kita untuk mencari tahu apakah ayat-ayat merupakan urutan dari ayat-ayat di pasal 5. Selain itu, mencari dapat dikatakan sebagai ciri dari puisi ini, mengungkapkan penantian pengantin wanita atas cinta pengantin pria. Oleh karena itu, mungkin pengantin pria tidak pernah meninggalkan pengantin wanita, tetapi penantian dan pergumulan pengantin wanita terhadap relasi di antara mereka berdua terus menerus terjadi sampai di akhir puisi barulah mendapatkan penyelesaian!

Selain itu, di teks sebelumnya sang tokoh wanita berbicara tentang sakit asmara akibat gagal menemukan tokoh pria (5:8), tetapi beberapa ayat ini memberi tahu kita bahwa tokoh wanita telah bertemu dengan tokoh pria, bahkan mengetahui apa yang sedang ia lakukan, Namun, perikop ini tidak menjelaskan bagaimana dan di mana tokoh wanita menemukan dia, tidak menjelaskan di mana tokoh utama wanita itu ditemukan padanya, dan tidak menjelaskan mengapa tokoh pria akan berpaling muka dan pergi (5:6 Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap. Seperti pingsan aku ketika ia menghilang. Kucari dia, tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya). Tampaknya penulis tidak berniat menceritakan plot narasi atau kronologis cerita, ia hanya ingin melalui puisi dan musik mengekspresikan perpisahan dan pertemuan / bersatunya antara keduanya, dan ingin melaluinya untuk membangkitkan emosi, asosiasi perenungan, dan resonansi pembaca!

Bahkan walaupun frasa Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku berbeda urutan dengan ayat 2:16 Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia, namun titik berat dan fokus penulis adalah hendak menunjukkan: suasana hati tokoh wanita sebelum ketakutan bahwa sang kekasih meninggalkan dia, tetapi saat ini, ketakutan itu telah hilang sama sekali karena pertemuan / bersatunya mereka berdua, ketakutan itu digantikan oleh rasa aman saling memiliki dan pemenuhan satu sama lain.

Dari ayat 5:2 sampai 6:3 membuat kita lihat masalah / kesulitan dalam pernikahan pria dan wanita ini ── dibelit salah paham hambatan komunikasi, mengejar dan melarikan diri, dibelit emosional, sebenarnya, berpengaruh besar pada semua relasi suami istri. Namun, di bawah janji komitmen bersama, rekonstruksi membangun lagi hubungan terus menerus dapat dicapai dan dilakukan oleh mereka berdua, dan pada akhirnya mencapai sukacita dan keeratan intim yang berkepenuhan!

Renungkan:
《Kitab Kidung Agung》 tidak menyembunyikan fakta ── di dalam pernikahan, pasangan suami istri itu kadang-kadang akan ada situasi hilang komunikasi. Hanya saja kita harus mengingat dan belajar bagaimana memulihkan hubungan antara keduanya, bukan menghindari atau bahkan berpura-pura tidak ada masalah. Rekonsiliasi dan rekonstruksi semacam ini dibangun di atas tekad kedua orang untuk komitmen menyerahkan diri pada janji pernikahan, dengan cara ini barulah bisa memiliki keberanian untuk menerobos hambatan, mencoba untuk mengejar merealisasikan rekonsiliasi dan rekonstruksi relasi yang sejati.


Renungan pemahaman Kitab Kidung Agung

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kidung Agung ditulis oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 6:1-7

Pertobatan membawakan rekonsiliasi

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 6:1-7 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa:
2 Apabila seseorang berbuat dosa dan berubah setia terhadap TUHAN, dan memungkiri terhadap sesamanya barang yang dipercayakan kepadanya, atau barang yang diserahkan kepadanya atau barang yang dirampasnya, atau apabila ia telah melakukan pemerasan atas sesamanya,
3 atau bila ia menemui barang hilang, dan memungkirinya, dan ia bersumpah dusta dalam perkara apapun yang diperbuat seseorang, sehingga ia berdosa,
4 apabila dengan demikian ia berbuat dosa dan bersalah, maka haruslah ia memulangkan barang yang telah dirampasnya atau yang telah diperasnya atau yang telah dipercayakan kepadanya atau barang hilang yang ditemuinya itu,
5 atau segala sesuatu yang dimungkirinya dengan bersumpah dusta. Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima; haruslah ia menyerahkannya kepada pemiliknya pada hari ia mempersembahkan korban penebus salahnya.
6 Sebagai korban penebus salahnya haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, menjadi korban penebus salah, dengan menyerahkannya kepada imam.
7 Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah.

Imamat 6:1-7 lebih lanjut menjelaskan berubah setia / tidak setia (mă’ăl) yang terkait dengan mencuri atau pemerasan dalam hal harta kepemilikan terhadap sesamanya, di antaranya muncul dua kali salahnya / bersalah (guilt, retribution) (’ăšmāh) di ayat 5 korban penebus salahnya, dan ayat 7 apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah, ini adalah salah satu dari kata-kata yang telah menimbulkan diskusi populer di kalangan akademisi. Penjelasan yang lebih masuk akal adalah: akibat yang ditimbulkan dari suatu dosa (dosa memiliki tiga aspek: motivasi dosa, perilaku dosa, akibat dosa), dalam kebanyakan kasus itu menunjuk kepada hukuman yang merupakan akibat dari dosa, selain hukuman secara eksternal dari Allah dan membayarkan uang syikal pendamaian untuk dosa tersebut, ia juga membawa semacam penyesalan rasa berdosa, yaitu rasa bersalah setelah berbuat dosa. Penyesalan berdosa ini membuat orang merasa tidak nyaman, dan akhirnya penyesalan dosa ini bisa mendorong orang ini untuk berdamai dengan sesamanya, melalui membayar membayarkan uang syikal pendamaian sebagai korban penebus salah, untuk mengadakan rekonsiliasi perbaikan (repair) hubungan antara satu sama lain, oleh karena itu secara permukaan rasa penyesalan bersalah adalah konsekusensi dari dosa (consequential aspect of sin), tetapi dapat membawa rekonsiliasi dan pertobatan (šwb).

Dengan demikian, kita melihat uang syikal pendamaian dalam korban penebus salah, selain untuk membawakan perbaikan, tetapi juga rekonsiliasi hubungan, dan rasa bersalah yang timbul, menunjukkan bahwa korban penebus salah ini menekankan penyesalan dari dalam hati, menolak ritual prosedural yang secara permukaan saja tanpa pertobatan yang sejati, orang harus konsisten antara tindakan luar dengan dalam hati, di satu sisi tidak bisa sekadar prosedur ritual pengorbanan yang tanpa hati, seolah-olah berbeda dalam dan luar; di sisi lain, tidak hanya penyesalan di dalam hati dan tidak ada tindakan nyata. Rekonsiliasi dan tindakan perbaikan, menjadi jalan kehidupan rohani di dalam ritual persembahan korban, rekonsiliasi membuat hubungan orang tersebut lebih dekat dengan sesamanya, tindakan perbaikan membantu orang ini membayar harga, memperbaiki dosa kesalahan antar sesama. Dengan demikian, rekonsiliasi dan tindakan perbaikan memimpin orang tersebut menapak di jalan pengudusan, membantu ia memenangkan orang-orang yang ia langgar, hidup semakin banyak memiliki teman bukan lebih banyak orang yang merupakan korban kesalahan dirinya.

Teologi ini mirip dengan kesedihan dalam Surat 2 Korintus, Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya supaya jangan aku melebih-lebihkan, hati beberapa orang di antara kamu. Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat (2 Kor. 2:5-7), menjelaskan bahwa kesedihan setelah berbuat dosa membuat orang menerima sesuatu tingkat hukuman, akhirnya membantu orang bertobat dan bukan terjerumus ke taraf binasa.

Renungkan:
Ayat ini walau secara khusus menekankan pertobatan ketika menipu dan mencuri harta orang lain, namun ini menjadi pengingat penting bagi kita. Apakah pertobatan kita konsisten di dalam dan di luar? Apakah rasa bersalah kita menuntun kita untuk rekonsiliasi berdamai? Rekonsiliasi bukan sekadar harmonisasi, prasyarat rekonsiliasi adalah pertobatan, tetapi juga kita harus membayar harga atas dosa pelanggaran (pada zaman itu dilaksanakan dengan membayar uang syikal pendamaian). Ketika gereja terpecah belah, betapa penting berbicara tentang rekonsiliasi, tetapi rekonsiliasi dan dua prasyarat (pertobatan dan membayar harga) harus dipenuhi dan dilakukan, barulah rekonsiliasi memiliki fondasi.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.