Tag Archives: Pengampunan

Mikha 7:18-20 

「TUHAN (Yahweh) Tiada Tertandingi」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Mikha 7:18-20 [ITB])
18 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? 19 Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. 20 Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!

Dalam bagian ringkasan kitab Mikha ini, nabi Mikha menggunakan kata yang bunyi pengucapannya mirip dengan nama dirinya (miykah) untuk menyatakan seruan Siapakah Allah seperti Engkau (miy ‘el kmow), menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) adalah unik dan tak tertandingi. Dalam teks bahasa aslinya, nama nabi Mikha dapat memiliki arti siapa yang seperti TUHAN, maka kita juga dapat melihat perikop ini sebagai pusat pikiran dari seluruh kitab, atau arah dari berita seluruh kitab ini.

Nabi Mikha menunjukkan beberapa hal yang tak tertandingi tentang TUHAN, yakni adalah rahmat dan kasih-Nya. Meskipun dalam kitab ini, nabi Mikha tiada henti mengajukan gugatan kesalahan kepada orang Israel, menegur mereka atas dosa-dosa mereka, dan memperingatkan penghakiman yang akan datang kepada mereka, tetapi setelah penghakiman ini, ia masih memiliki harapan atas pemulihan kebangkitan di masa depan karena ia teguh percaya akan kasih kesetiaan Allah dan Dia akan memberikan rahmat anugerah-Nya.

Nabi Mikha menjelaskan bahwa sifat keunikan tiada duanya TUHAN (Yahweh) adalah bahwa Dia mengampuni dosa dan memaafkan dosa dari sisa-sisa umat milik-Nya, Dia tidak selamanya menyimpan amarah-Nya, Ia suka memberikan rahmat. Pernyataan ini tampaknya mengutip berita dalam kitab Keluaran 34:6-7, yang merupakan ayat utama yang TUHAN ungkapkan kepada Musa tentang isi hati kehendak Dia sendiri. Kutipan ini mengingatkan pembaca kitab Mikha untuk merenungkan ulang krisis terbesar dalam sejarah Israel, karena ketika Musa menerima Sepuluh Perintah di atas Gunung Sinai, orang Israel yang di bawah gunung itu membuat anak lembu emas untuk diri mereka sendiri dan menyembah berhala itu, sehingga TUHAN (Yahweh) hampir harus menghancurkan mereka. Setelah doa permintaan Musa, ini adalah jawaban yang dinyatakan oleh TUHAN. Sebenarnya karena pengkhianatan bangsa Israel itu seharusnya menghadapi kepunahan, tetapi TUHAN mengasihani mereka dan berkata kepada mereka, TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, 7 yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat (Kel. 34:6-7)

Dalam ke-12 Kitab Nabi-nabi, kutipan ini diulangi di banyak tempat, dan itu mencerminkan isi hati kehendak TUHAN. Di antara pesan-pesan penghakiman dari para nabi yang berbeda, Dia terus mengingatkan kita bahwa penghakiman dan hukuman-Nya adalah untuk mendisiplin kita dan membawa kita kembali kepada Dia. Tetapi paragraf ini juga menunjukkan kepada kita bahwa Allah itu adil benar, kejahatan harus selalu menghadapi konsekuensi dari dosa. TUHAN (Yahweh) akan mengampuni tetapi juga harus menghukum.

Allah kita adalah Tuhan yang penuh rahmat anugerah, Dia ingin memberi kita kesempatan untuk mengulang kembali. Asalkan kita mau rendah hati, bertobat, dan meminta rahmat anugerah di hadapan-Nya, Allah adalah setia dan benar adil, Ia pasti mengampuni dosa-dosa kita dan membersihkan kita dari segala ketidakbenaran. Dia bahkan menggambarkan bahwa Ia akan meletakkan dosa kita di bawah kaki-Nya diinjak, dan Ia akan membuang semua dosa kita ke laut yang dalam, sehingga dosa-dosa itu dihancurkan dan menjauh dari kita.

Tema ini dalam ayat 7:20 dibawakan oleh nabi Mikha dengan serangkaian kata-kata: zaman purbakala, bersumpah dan janji, setia dan kasih, semua mengingatkan janji TUHAN (Yahweh) dalam perjanjian-Nya. Dia bersumpah, Dia pasti menggenapi

Renungkan:
Terima kasih kepada Tuhan atas rahmat anugerah-Nya, kita diselamatkan karena kasih-Nya. Mohon Tuhan menjaga agar kita senantiasa dalam anugerah dan kasih-Nya.


Renungan pemahaman Kitab Mikha

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Amos 7:4-6

Api Datang Membakar Habis Segalanya
Oleh 張美薇 (Zhāng Měi Wēi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amos 7:4-6 [ITB])
4 Inilah yang diperlihatkan Tuhan ALLAH kepadaku: Tampak Tuhan ALLAH memanggil api untuk melakukan hukuman. Api itu memakan habis samudera raya dan akan memakan habis tanah ladang. 5 Lalu aku berkata: Tuhan ALLAH, hentikanlah kiranya! Bagaimanakah Yakub dapat bertahan? Bukankah ia kecil? 6 Maka menyesallah TUHAN karena hal itu. Inipun tidak akan terjadi, firman Tuhan ALLAH.

Allah membentuk kawanan belalang untuk menghukum Israel, ketika nabi Amos memohon kepada Allah, Allah untuk sementara waktu menghentikan bencana tersebut, tetapi Israel tidak berubah dan tidak menyesal, maka Allah memerintahkan api untuk melaksanakan penghakiman.

Segala ciptaan diciptakan oleh Tuhan, termasuk semua laut, darat, udara, dan makhluk yang ada. Semua yang berwujud dan tidak berwujud juga ada dalam kendali Tuhan. Ia menciptakan angin (Amos 4:13), menurunkan api (Amos 1:4, 7, 10, 12; 2:2, 5), Allah juga memperdengarkan suara-Nya seperti guntur (Amos 1:2); hama belalang adalah bencana alam, api tidak seluruhnya demikian masalahnya, di satu sisi panasnya musim panas yang seperti api meletus, bumi terjemur dengan terik dan membuat kekeringan di tanah yang dapat menyebabkan kebakaran hutan, sulit dipadamkan, ini adalah bencana alam; tetapi jika dibakar habis oleh musuh setelah kalah perang, api yang besar ini adalah bencana perang buatan manusia.

Meskipun belalang memakan hasil panen, setelah belalang lewat, tanah tidak menjadi rusak dan sumber airnya tidak diserang, ketika petani menanam ulang, masih bisa berharap panen lagi. Wabah belalang ada di musim semi, dan bencana kebakaran mungkin terjadi di musim panas. Di sini Allah memerintahkan api datang untuk menghakimi, bencana api ini memiliki dua tingkat invasi. Tingkat pertama, api memakan habis samudera raya, samudera raya bisa mengacu pada kedalaman di bawah tanah dan merupakan sumber air yang dalam (lih. ITL segala mata air, ISH samudra di bawah bumi). Pada saat itu meyakini bahwa semua sumber air berasal dari kedalaman di bawah tanah, air adalah untuk mengairi sawah ladang, memberikan pertumbuhan bagi semua yang hidup; tetapi api tidak hanya menelan tanah yang ditanami, itu juga menelan air tanah yang menyuburkan tanaman, membuatnya kering, menghancurkannya begitu dalam sehingga tidak bisa dipulihkan. Kehancuran tingkat kedua adalah membakar habis tanah ladang, segala yang ada di atas tanah, termasuk tanaman pertanian atau bangunan buatan manusia, termasuk tanah yang dijanjikan Allah kepada Israel juga akan dibakar habis oleh api. Tanah ladang dan samudera raya mencakup semua yang ada di tanah dan bawah tanah, dan semuanya terbakar habis.

Nabi Amos sekali lagi memohon kepada Allah, ia mengganti permohonannya berikanlah pengampunan (ayat 7:2) dengan kata hentikanlah (7:5), sebelumnya nabi Amos meminta Allah untuk mengampuni Israel, Allah tidak menjawab, karena pengampunan mengharuskan orang bertobat. Kali ini nabi Amos melihat bahwa bencana itu sangat kritis, jadi dia berusaha meminta Allah menghentikan – terus berusaha agar Allah meletakkan dahulu tindakan hukuman-Nya.

Allah sekali lagi mengubah pikiran-Nya, dan sekali lagi untuk sementara waktu menarik kembali bencana ini.

Renungkan:
Bencana setiap kali datang memberikan dampak yang makin luas, apakah menarik perhatian orang percaya? Lihatlah dunia: belalang, kebakaran hutan, gempa bumi, banjir, epidemi, perang, merajalela di mana-mana, orang-orang terperangkap di dalam penderitaan, di manakah ada orang-orang percaya yang merespons? Apakah ada orang-orang percaya yang bersaksi dan memberitakan Injil kepada orang-orang yang telah dibangunkan Allah untuk mencari Tuhan? Mari kita tidak hanya mengangkat tangan kudus kita untuk berdoa kepada Tuhan, tetapi juga mengulurkan tangan persahabatan, dan memberikan arah jalan kepada orang-orang yang belum percaya; dan membuka mulut kesaksian kita untuk menyampaikan berita penghiburan dan keselamatan Allah. Dalam bencana dan epidemi, kita tidak lupa untuk memberitakan Injil kabar sukacita.

Bencana kebakaran demikian besar, sampai menghancurkan akar-akar bumi, bagaimana keadaan dari akar iman kita? Apakah terkikis oleh bencana dan hancur sekejap mata?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Amos


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amos ditulis oleh 張美薇 (Zhāng Měi Wēi) yang dipublikasi pada bulan April 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Imamat 5:7, 11

Jika ia tidak mampu

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 5:7, 11 [ITB])
7 Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk menyediakan kambing atau domba, maka sebagai tebusan salah karena dosa yang telah diperbuatnya itu, haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, yang seekor menjadi korban penghapus dosa dan yang seekor lagi menjadi korban bakaran.
11 Tetapi jikalau ia tidak mampu menyediakan dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, maka haruslah ia membawa sebagai persembahannya karena dosanya itu sepersepuluh efa tepung yang terbaik menjadi korban penghapus dosa. Tidak boleh ditaruhnya minyak dan dibubuhnya kemenyan di atasnya, karena itulah korban penghapus dosa.

Seperti yang dikatakan dalam renungan dua hari sebelumnya, Imamat pasal 4 berbicara tentang aturan mengenai korban penyucian (korban penghapus dosa), mengungkapkan konsep tingkat signifikansi lingkup kekudusan: imam adalah pemimpin seluruh umat itu, dosa mereka membawa kecemaran akan mempengaruhi kekudusan dari tempat kudus, sehingga tata cara penggunaan darah korban juga harus mencakup di kedalaman tempat kudus untuk membersihkan pencemaran tersebut; dosa pemuka hanya mempengaruhi kekudusan area pinggiran dari tempat kudus, sehingga tata cara penggunaan darah korban hanya dilakukan di pinggiran sudah cukup. Dengan demikian, kedudukan orang yang melakukan pelanggaran dosa menentukan lingkup pengaruh dari dosa orang tersebut, yang tidak hanya mengungkapkan tingkat lingkup pengaruh kecemaran terhadap tempat kudus, tetapi juga mengungkapkan tingkat signifikansi lingkup kekudusan.

Tingkatan lingkup kekudusan juga sama dinyatakan dalam persembahan korban. Dalam Im. 5:7, 11, terdapat kalimat yang diulang: tetapi jikalau ia tidak mampu , di antaranya menggunakan kata kerja mampu (nāgă’), menunjukkan bahwa jika ia tidak bisa mencapai tingkat kepemilikan tertentu, dia bisa memilih sendiri tingkat kepemilikan yang mampu ia capai untuk mempersembahkan korban, dengan kata lain, jika tidak mampu mempersembahkan kambing atau domba, maka dapat mempersembahkan dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati (5:7); jika tidak mampu mempersembahkan dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, maka dapat mempersembahkan korban sajian (5:11 sepersepuluh efa tepung yang terbaik)

Pengaturan seperti itu setidaknya membawa 3 makna:
(1) Orang yang mempersembahkan korban tidak akan karena keterbatasan kemampuan ekonomi dirinya sehingga menjadi keterbatasan menerima pengampunan. Bahkan jika korban yang mereka persembahkan terdapat perbedaan nilai ekonomi, tidak akan mempengaruhi efek penyucian dan pengampunan. Ini akan memastikan persembahan korban akan tidak jatuh menjadi hak eksklusif orang kaya, tetapi pengalaman keagamaan umat secara umum;

(2) Orang tidak dapat karena mempersembahkan korban yang lebih mahal lalu menikmati hak yang lebih eksklusif, para imam memiliki tanggung jawab untuk menangani korban penyucian dari orang-orang dengan kemampuan ekonomi yang berbeda, bukan karena korban lebih mahal mempengaruhi hasil penyucian dan pengampunan, ini akan memastikan bahwa tidak ada kasus suap dan korupsi yang muncul;

(3) Orang-orang dari latar belakang yang berbeda dianggap sebagai sama dalam pelanggaran dosa dan pengampunan. Tinggi rendahnya tingkat status sosial tidak akan mempengaruhi status tinggi rendahnya seseorang di hadapan Allah.

Dilihat dari sudut ini, persembahan korban dalam tradisi imamat adalah persembahan korban di mana seluruh anggota dari umat dapat ikut ambil bagian, di dalamnya orang dari tingkat ekonomi yang berbeda adalah sama satu derajat dalam kesetaraan dan keadilan, sehingga secara permukaan tampaknya dibuat pembagian tingkat persembahan korban, pada kenyataannya, itu adalah justru menentang hierarki ekonomi dan hak istimewa, di hadapan Allah, dosa setiap orang sama-sama diampuni.

Renungkan:
Apakah gereja Anda adalah gereja yang hanya menghargai orang yang mampu secara finansial dan mengabaikan orang miskin? Dihadapkan dengan berbagai orang yang datang ke gereja untuk meminta pertolongan, apakah Anda memberikan hak istimewa tertentu kepada orang kaya? Berdoa agar Tuhan membantu gereja menjadi gereja di mana semua orang dapat ikut ambil bagian dan dilibatkan.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.