Tag Archives: jalan pengudusan

Filipi 2:12-15a

Krisis menjadi angkatan yang bengkok dan sesat

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Flp. 2:12-15a [ITB])
12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, 13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, 15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

Paulus dalam Filipi 13, dia berkata: Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Paulus tidak sedang mengajar sekolah minggu, tidak sedang dalam fokus menulis suatu sistematis teologi tentang apakah manusia berjasa dalam anugerah keselamatan, ia sedang sangat prihatin apakah jemaat Filipi aktif bekerja sama dengan Tuhan melakukan pekerjaan Tuhan. Melihat dari sejarah itu ternyata umat Allah dari waktu ke waktu gagal untuk bekerja sama dengan pekerjaan Tuhan.

Di Flp. 2:14 Paulus mengutip Perjanjian Lama, orang Israel berulang kali bersungut-sungut (γογγυσμός goggusmos) terhadap Musa dan Allah:
Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. 24 Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: Apakah yang akan kami minum?』」 (Kel. 15:23-24)
Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.』」 (Kel. 16:2-3)
… berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu. Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum. Tetapi Musa berkata kepada mereka: Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN? Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan? Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!』」 (Kel. 17:1-4)

Di Flp. 2:15, Paulus mengutip dari Ulangan 32:5 Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit.

Jika kita berada di dalam situasi Filipi maka kita akan memahami bahwa Paulus berbicara tentang angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat bukan mengacu pada dunia yang tidak percaya maupun kota Filipi yang tidak percaya pada Tuhan. Kutipan Paulus tentang sungut-sungut dari 《Kitab Keluaran》 dan angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat dari 《Kitab Ulangan》 Paulus sebenarnya sedang menegur pemimpin orang-orang percaya Yahudi yang menentang dia, tepat seperti orang-orang Israel di zaman Perjanjian Lama, mereka tidak taat kepada Allah. Sejak Allah melepaskan orang Israel dari tangan Firaun, kesetiaan dan keadilan kebenaran Allah terus tiada henti dinyatakan di depan mata orang Israel. Namun, Israel tidak pernah menunjukkan kepercayaan dan rasa terima kasih, sebaliknya, mereka terus menerus bersungut-sungut kepada Musa dan Allah mengenai air dan makanan, dll, menolak perintah Allah (Kel. 16:20, 28) dan mencobai Allah (Kel. 17:2, 7; Bil. 14:22). Mereka mencobai Allah dan menolak untuk menunggu pemeliharaan dari-Nya, mempertanyakan dan menantang Allah sudah sepatutnya harus menyediakan lingkungan yang lebih baik bagi Israel. Ternyata mereka hanya ingin menerima Allah yang tidak memberi mereka penderitaan. Setelah kesulitan timbul, mereka berprasangka bahwa Roh Allah telah meninggalkan mereka (Kel. 17:7). Menderita bagi Allah, benar-benar tidak sesuai skenario mereka. Angkatan yang jahat dan bengkok ini, hanya bisa mati di padang gurun, tidak bisa masuk ke Tanah Perjanjian. Ini harus menjadi peringatan bagi jemaat Filipi, hendaknya mengenali era baru yang dibuka oleh Allah melalui Yesus Kristus.

Keselamatan kita tentu saja datang dari inisiatif proaktif Allah, tetapi 《Alkitab》 tidak pernah mengabaikan setiap hari orang beriman setiap hari berkomitmen menyerahkan diri taat kepada Allah. Paulus peduli tentang orang menguduskan diri. Kita tidak seharusnya membuat garis pemisah antara orang yang sudah diselamatkan dan pengudusan diri menjadi dua hal yang tidak berkaitan, karena ini tidak berasal dari 《Alkitab》 . ( Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar kepada Allah, lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut kepada Allah)

Renungkan:
• Kita tidak dapat terputus dari kasih Tuhan, kita juga harus ingat bahwa kita tidak kebal terhadap krisis kehilangan kasih mula-mula kita. (Janganlah kita menjadi angkatan yang bengkok dan sesat)
• Kehendak indah Allah, apakah Anda melihatnya sebagai yang indah?
• Apakah Roh Kudus mengingatkan sesuatu kepada Anda terkait sikap dan tindakan Israel dalam Perjanjian Lama? Apakah ada hubungannya dengan Anda bersedia membayar harga demi Injil?


Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)

Renungan pemahaman semua Surat Filipi

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Korintus 4:16-5:10

yang tak kelihatan adalah kekal

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 4:16-5:10 [ITB])
16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. 17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. 18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.
5:1 Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 2 Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini, 3 sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang. 4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.
5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita. 6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, 7 sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat 8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.
9 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. 10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

Memiliki harta dalam bejana tanah liat, tidak perlu takut menghadapi apa-apa. Kemarin, kita melihat Paulus mampu dengan positif menghadapi segala macam tantangan dan kesulitan, karena ia percaya kekuatan besar Allah, kuasa Allah ini pertama-tama diwujudkan dalam kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, dan kemudian dinyatakan dan ditegaskan dalam perubahan kehidupan orang percaya. Oleh karena itu, Paulus melihat penderitaan yang merupakan awal dari keselamatan Allah kepada dunia, bahkan jika dia mati, itu demi agar orang lain mendapatkan hidup, menyatakan kehidupan Yesus juga bekerja di dalam diri mereka. Keyakinan inilah yang membuat Paulus tidak takut berada dalam segala macam bahaya. Tetapi, kematian bagiku apa gunanya? Apa yang terjadi setelah saya mati? Bagian dari perikop yang kita baca hari ini menjawab pertanyaan ini.

Dalam perikop ini Paulus memakai sejumlah perbandingan untuk menunjukkan tempat indah tiada banding yang ia akan pergi setelah mati, kematian memiliki manfaat bagi dia juga orang lain. Segala penderitaan yang kita alami sekarang hanyalah singkat dan ringan jika dibandingkan dengan masa kelak yang tiada banding dan kekal kemuliaan (4:17), kemah di bumi, tempat kediaman (para peneliti umumnya percaya bahwa ini adalah metafora tubuh, sama seperti bejana tanah liat di ayat 4:7) jika setelah dibongkar, kita akan memiliki tempat tinggal yang kekal di surga (yaitu tubuh yang dibangkitkan), bukan buatan tangan manusia, tetapi dibangun oleh Allah sendiri (5:1). Oleh karena itu, kematian hanyalah pintu keluar (exit), agar orang dari sisi sekarang ini pergi menuju sisi kehidupan selanjutnya yang kekal dan mulia. Ketika kita memiliki visi ini (yang disebut pandangan hari akhir[eschatological perspective]), meskipun lahiriah diri kita membusuk, tetapi diri batiniah diperbaharui hari ke hari, dan pembaruan ini meneguhkan iman kita bahwa hal-hal di masa depan akan digenapi, karena ini adalah jaminan pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita (5:5). Di dalam daging, kesulitan dapat membuat kita sedih, frustrasi menghela napas dan putus asa; di dalam Roh Kudus, seluruh diri kita membawa iman dan keberanian untuk melalui setiap hari ── Sebab itu kami tidak tawar hati (4:16), oleh karena itu hati kami senantiasa tabah(5:6). Bagi Paulus, itu adalah bukti jaminan pekerjaan Roh Kudus pada diri kita yang fana. Karena kita memiliki janji Allah dan jaminan Roh Kudus, maka kita merindukan tempat tinggal surgawi, selamanya tinggal bersama dengan Tuhan (5:2-4, 8). Ini bukan berarti menyangkal dan menolak sepenuhnya segala sesuatu yang sekarang, di sini Paulus bukan memperkenalkan semacam pemikiran dualitas kepada orang percaya: jiwa itu baik, tubuh itu jahat; surga itu baik, dunia ini tidak baik; kehidupan selanjutnya adalah baik, tetapi kehidupan ini buruk; apa yang tidak terlihat itu baik, apa yang terlihat tidak baik. Ada banyak hal dalam kenyataan yang baik dan layak dikejar selama di dunia (seperti cinta sejati, persaudaraan), tetapi relatif terhadap kemuliaan yang sangat tiada banding dan kekal yang akan digenapkan bagi orang percaya, maka yang sekarang semua keuntungan dan kerugian, kehormatan dan hinaan, tidak cukup menjadi masalah.

Tentu saja, orang-orang Kristen juga perlu tahu bahwa suatu hari di masa kelak, setiap orang harus berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus (5:10); di masa kelak akan ada tempat tinggal yang mulia / tubuh kebangkitan menunggu kita, tapi kita harus terlebih dahulu melewati pengadilan Kristus barulah bisa menempatinya / mengenakannya. Ayat 3:9 menyebutkan pelayanan yang memimpin kepada pembenaran, di sini juga ditunjukkan bahwa setiap orang akan memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. Saudara saudari, mohon memperhatikan, pembenaran tidak menyingkirkan pengadilan akhir ini, Tuhan Yesus memperingatkan orang-orang yang mengikutinya. tidak semua orang yang berseru Tuhan, Tuhan dapat masuk ke dalam Kerajaan surga, tetapi dia yang melakukan kehendak Bapa yang di surga (Matius 7:21). Oleh karena itu, ketika kita merindukan tempat tinggal yang datang surga itu, dan tahu bahwa setiap orang akan dihakimi di hadapan Kristus menurut perbuatannya sendiri, Paulus mendorong kita mengambil tekad untuk dapat berkenan kepada Tuhan dalam hidup ini (5:9). Pandangan mata orang Kristen tidak hanya pada dunia ini, tetapi di bawah wahyu Kristus dan terang Roh Kudus, orang Kristen dapat mengetahui terlebih dahulu hal-hal masa kelak, pandangan Hari akhir ini memberikan kita kekuatan dan keberanian untuk menghadapi segala sesuatu dalam kehidupan ini, pada saat yang sama juga mendorong kita dengan hati yang hormat takut akan Allah untuk hidup saleh di hadapan Tuhan. Memang di mata manusia, kata-kata dan ajaran Paulus tampak terlalu tinggi, tidak banyak orang yang mampu melaksanakannya, tetapi justru karena orang-orang biasa tidak dapat melakukannya, kita perlu bergantung pada Roh Kudus untuk dapat melihat, percaya, dan melaksanakan semua ini.

Renungkan:
Menderita dan mati demi karena Tuhan, punya arti apa bagi orang lain dan bagi saya sendiri? Mengetahui bahwa Allah mengatur segala bagi umat-Nya di masa kelak, apa gunanya itu bagi hidup kita hari ini? Dalam menghadapi banyak kesulitan dan tantangan, sudahkah saya membuat tekad hendak hidup berkenan kepada Tuhan? Apa sebenarnya hidup yang berkenan kepada Tuhan Yesus?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 8:10-17

Minyak urapan menguduskan, darah menyucikan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 8:10-17 [ITB])
10 Musa mengambil minyak urapan, lalu diurapinyalah Kemah Suci serta segala yang ada di dalamnya dan dikuduskannya semuanya itu. 11 Dipercikkannyalah sedikit dari minyak itu ke mezbah tujuh kali dan diurapinya mezbah itu serta segala perkakasnya, dan juga bejana pembasuhan serta alasnya untuk menguduskannya.
12 Kemudian dituangkannya sedikit dari minyak urapan itu ke atas kepala Harun dan diurapinyalah dia untuk menguduskannya.
13 Musa menyuruh anak-anak Harun mendekat, lalu dikenakannyalah kemeja kepada mereka, diikatkannya ikat pinggang dan dililitkannya destar, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
14 Disuruhnyalah membawa lembu jantan korban penghapus dosa, lalu Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala lembu jantan korban penghapus dosa itu.
15 Lembu itu disembelih, lalu Musa mengambil darahnya, kemudian dengan jarinya dibubuhnyalah darah itu pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya, dan dengan demikian disucikannyalah mezbah itu dari dosa; darah selebihnya dituangkannya pada bagian bawah mezbah. Dengan demikian dikuduskannya mezbah itu dan diadakannya pendamaian baginya.
16 Diambillah segala lemak yang melekat pada isi perut, umbai hati, kedua buah pinggang serta lemaknya, lalu Musa membakarnya di atas mezbah.
17 Tetapi lembu jantan itu dengan kulit, daging dan kotorannya dibakarnya habis di luar perkemahan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Imamat 8 menjelaskan langkah-langkah ritual yang diperlukan untuk pengudusan imam Harun dan anaknya, di antara minyak urapan dan darah memainkan peran penting. Pertama, Imamat 8:10-13 menggambarkan Musa menggunakan minyak urapan untuk mengurapi Kemah Suci serta segala yang ada di dalamnya, mezbah dan semua bejana mezbah, dan Harun. Ayat-ayat Alkitab ini menjelaskan penggunaan urapan seperti itu adalah untuk menguduskan benda-benda dan orang, menandakan bahwa tabernakel, bejana dan Harun sudah tidak lagi milik duniawi, telah masuk ke dalam ranah ilahi milik Allah (itu adalah definisi suci), karena telah memasuki ranah ilahi Allah, maka harus sepenuhnya dipisahkan dari hal-hal dan ruang duniawi. Oleh karena itu, tampaknya ada dimensi elektif (dimensi pemilihan), di antara banyak hal-hal dan orang-orang di dunia ini ada yang dipisahkan sepenuhnya menjadi milik Allah, dengan demikian, penggunaan minyak urapan melambangkan pengudusan dan pemilihan.

Kedua, ayat 14 sampai 15 menjelaskan fungsi darah: menyucikan. Beberapa peneliti karena itu percaya bahwa darah adalah semacam detergen pembersih dalam ritual mencuci bersih semua kecemaran yang mengotori benda-benda kudus, dan ayat 14-15 terutama adalah penyucian dan pengudusan mezbah, ini adalah mezbah korban bakaran. Para ahli berpendapat itu adalah lambang tempat terhubung ke surga, karena korban bakaran adalah persembahan korban yang membubung ke atas, melambangkan korban yang dipersembahkan mencapai surga, karena surga adalah ranah kudus, mezbah yang menghubungkan ke surgawi juga harus disucikan untuk memastikan keterhubungan dunia dan surga, jika tidak, maka tidak akan bisa melewati garis batas dunia dan surga.

Dengan demikian dapat dilihat, minyak urapan berperan dalam pengudusan, dan darah berperan dalam penyucian, suci adalah bersih dari kekotoran, jadi prasyarat kekudusan, dan minyak urapan adalah mengubah keadaan suci ditransformasikan menjadi ranah ilahi Allah, artinya memasuki ranah kudus.

Dengan demikian, muncul pertanyaan, mengapa Imamat 8:11 terlebih dahulu menjelaskan pengudusan, baru setelah itu Imamat 8:14-5 menjelaskan penyucian? Mengapa tidak disucikan dahulu barulah pengudusan? Banyak peneliti menjelaskannya memakai teori kritik sumber, bahwa penulis Imamat menambahkan ayat 14-15 kemudian, tetapi saya percaya bahwa Imamat 8:14-15 adalah sebuah ritual pengorbanan untuk mendirikan sebuah model, untuk menunjukkan bahwa korban bakaran di masa depan juga harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang disebutkan dalam 8:14-17, bukan untuk menjelaskan hubungan urutan antara penyucian dan pengudusan.

Darah yang dijelaskan dalam Imamat 8:14-15 juga melambangkan serta menunjuk ke depan kepada darah Kristus, menyucikan tempat kudus Allah bagi kita, membersihkan hidup kita, kecemaran dosa kita telah memutuskan hubungan kita dengan Allah, tetapi darah Kristus adalah membangun persekutuan kita dengan Allah, menghilangkan kotoran kenajisan yang disebabkan oleh dosa.

Renungkan:
Apakah Anda menghargai penyucian yang telah dilakukan Kristus bagi Anda, ataukah kita menyalahgunakan kasih karunia anugerah Allah?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 6:1-7

Pertobatan membawakan rekonsiliasi

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 6:1-7 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa:
2 Apabila seseorang berbuat dosa dan berubah setia terhadap TUHAN, dan memungkiri terhadap sesamanya barang yang dipercayakan kepadanya, atau barang yang diserahkan kepadanya atau barang yang dirampasnya, atau apabila ia telah melakukan pemerasan atas sesamanya,
3 atau bila ia menemui barang hilang, dan memungkirinya, dan ia bersumpah dusta dalam perkara apapun yang diperbuat seseorang, sehingga ia berdosa,
4 apabila dengan demikian ia berbuat dosa dan bersalah, maka haruslah ia memulangkan barang yang telah dirampasnya atau yang telah diperasnya atau yang telah dipercayakan kepadanya atau barang hilang yang ditemuinya itu,
5 atau segala sesuatu yang dimungkirinya dengan bersumpah dusta. Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima; haruslah ia menyerahkannya kepada pemiliknya pada hari ia mempersembahkan korban penebus salahnya.
6 Sebagai korban penebus salahnya haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, menjadi korban penebus salah, dengan menyerahkannya kepada imam.
7 Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah.

Imamat 6:1-7 lebih lanjut menjelaskan berubah setia / tidak setia (mă’ăl) yang terkait dengan mencuri atau pemerasan dalam hal harta kepemilikan terhadap sesamanya, di antaranya muncul dua kali salahnya / bersalah (guilt, retribution) (’ăšmāh) di ayat 5 korban penebus salahnya, dan ayat 7 apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah, ini adalah salah satu dari kata-kata yang telah menimbulkan diskusi populer di kalangan akademisi. Penjelasan yang lebih masuk akal adalah: akibat yang ditimbulkan dari suatu dosa (dosa memiliki tiga aspek: motivasi dosa, perilaku dosa, akibat dosa), dalam kebanyakan kasus itu menunjuk kepada hukuman yang merupakan akibat dari dosa, selain hukuman secara eksternal dari Allah dan membayarkan uang syikal pendamaian untuk dosa tersebut, ia juga membawa semacam penyesalan rasa berdosa, yaitu rasa bersalah setelah berbuat dosa. Penyesalan berdosa ini membuat orang merasa tidak nyaman, dan akhirnya penyesalan dosa ini bisa mendorong orang ini untuk berdamai dengan sesamanya, melalui membayar membayarkan uang syikal pendamaian sebagai korban penebus salah, untuk mengadakan rekonsiliasi perbaikan (repair) hubungan antara satu sama lain, oleh karena itu secara permukaan rasa penyesalan bersalah adalah konsekusensi dari dosa (consequential aspect of sin), tetapi dapat membawa rekonsiliasi dan pertobatan (šwb).

Dengan demikian, kita melihat uang syikal pendamaian dalam korban penebus salah, selain untuk membawakan perbaikan, tetapi juga rekonsiliasi hubungan, dan rasa bersalah yang timbul, menunjukkan bahwa korban penebus salah ini menekankan penyesalan dari dalam hati, menolak ritual prosedural yang secara permukaan saja tanpa pertobatan yang sejati, orang harus konsisten antara tindakan luar dengan dalam hati, di satu sisi tidak bisa sekadar prosedur ritual pengorbanan yang tanpa hati, seolah-olah berbeda dalam dan luar; di sisi lain, tidak hanya penyesalan di dalam hati dan tidak ada tindakan nyata. Rekonsiliasi dan tindakan perbaikan, menjadi jalan kehidupan rohani di dalam ritual persembahan korban, rekonsiliasi membuat hubungan orang tersebut lebih dekat dengan sesamanya, tindakan perbaikan membantu orang ini membayar harga, memperbaiki dosa kesalahan antar sesama. Dengan demikian, rekonsiliasi dan tindakan perbaikan memimpin orang tersebut menapak di jalan pengudusan, membantu ia memenangkan orang-orang yang ia langgar, hidup semakin banyak memiliki teman bukan lebih banyak orang yang merupakan korban kesalahan dirinya.

Teologi ini mirip dengan kesedihan dalam Surat 2 Korintus, Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya supaya jangan aku melebih-lebihkan, hati beberapa orang di antara kamu. Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat (2 Kor. 2:5-7), menjelaskan bahwa kesedihan setelah berbuat dosa membuat orang menerima sesuatu tingkat hukuman, akhirnya membantu orang bertobat dan bukan terjerumus ke taraf binasa.

Renungkan:
Ayat ini walau secara khusus menekankan pertobatan ketika menipu dan mencuri harta orang lain, namun ini menjadi pengingat penting bagi kita. Apakah pertobatan kita konsisten di dalam dan di luar? Apakah rasa bersalah kita menuntun kita untuk rekonsiliasi berdamai? Rekonsiliasi bukan sekadar harmonisasi, prasyarat rekonsiliasi adalah pertobatan, tetapi juga kita harus membayar harga atas dosa pelanggaran (pada zaman itu dilaksanakan dengan membayar uang syikal pendamaian). Ketika gereja terpecah belah, betapa penting berbicara tentang rekonsiliasi, tetapi rekonsiliasi dan dua prasyarat (pertobatan dan membayar harga) harus dipenuhi dan dilakukan, barulah rekonsiliasi memiliki fondasi.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 5:5-6

Mengakui dosa yang telah diperbuatnya

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 5:5-6 [ITB])
5 Jadi apabila ia bersalah dalam salah satu perkara itu, haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya itu,
6 dan haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salah karena dosa itu seekor betina dari domba atau kambing, menjadi korban penghapus dosa.
Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya.

Tata cara ritual korban bisa memiliki suatu krisis, yaitu orang yang mempersembahkan korban sepertinya dapat berulang kali melakukan ritual persembahan korban untuk menyelesaikan dosa-dosanya tanpa perlu pertobatan dari dalam hati. Krisis yang hanya mengandalkan prosedur ritual tanpa pertobatan berpeluang memunculkan berbagai ketidaksesuaian antara penampilan luar dengan dalam diri (kemunafikan). Orang-orang ini hanya memiliki penampilan kesalehan jubah luar, hanya penampilan kehidupan ritual, tetapi tidak ada dasar kesalehan yang sejati, dan ada ketegangan antara penampilan luar saya dengan saya yang di dalam.

Namun, di dalam tata cara ritual tradisi imamat terdapat sebuah prosedur untuk mencegah penyalahgunaan ritual pengorbanan, Im. 5:0-6 dengan jelas mencatatkan bahwa orang ini harus mengakui dosa yang telah diperbuatnya. Menurut beberapa peneliti menunjukkan bahwa dalam tradisi imamat korban penghapus dosa dan korban penebus salah / tebusan salah hanya dapat menangani dosa pelanggaran yang tidak disengaja, dan dosa pelanggaran yang tidak disengaja ini dapat mencemari tempat kudus, perlu dilaksanakan tata cara penggunaan darah korban untuk menyucikan tempat kudus, tetapi dosa yang disengaja tidak dapat ditangani melalui korban penghapus dosa dan korban penebus salah / tebusan salah, lalu bagaimana menyucikan kecemaran yang diakibatkan oleh dosa kejahatan yang sengaja dibuat?

Para peneliti berpendapat, pengakuan atas dosa yang telah diperbuatnya adalah titik penting. Dalam tradisi imamat, pengakuan atas dosa yang telah diperbuatnya dapat mengubah dosa yang disengaja menjadi dosa yang tidak disengaja, sehingga korban penghapus dosa dapat menyucikan tempat kudus bagi orang ini, maka pengakuan atas dosa yang telah diperbuatnya adalah prasyarat atas penyucian, sehingga orang ini juga diampuni. Kita harus memahami bahwa pengakuan bukan sekadar suatu prosedur ritual pengorbanan, namun sikap dasar terhadap dosa dari dalam hati, dan sikap hati ini yang menjadi suatu syarat bagi seseorang untuk diampuni. Ini bukan suatu kewajiban bahwa Allah harus mengampuni dosa-dosa manusia, dosa diampuni sepenuhnya adalah hanya karena anugerah saja, tetapi mengaku bersalah atas dosa yang telah diperbuatnya untuk mencegah orang memandang bahwa ini adalah pengampunan murah, karena ini pertobatan harus membayar harga, mengaku bersalah atas dosa yang telah diperbuatnya harus dengan kesungguhan hati dan keseriusan.

Mengaku dosa yang telah diperbuatnya adalah tindakan mengenal diri. Orang yang mengaku atas kesalahannya tidak akan melemparkan kesalahan atau menyalahkan orang lain, tetapi dengan terus terang mengakui kesalahan diri sendiri. Orang ini tidak akan mencari-cari alasan bagi dosa-dosanya, mengakui bahwa dia sendiri (bukan orang lain) yang telah mencemari tempat kudus, dan menyatakan kekurangan diri sendiri, ini sebenarnya adalah sebuah proses transformasi batin, yang telah menjadi kesempatan pertobatan dalam ritual pengorbanan, menolak untuk menjadikan persembahan korban sekadar upacara dan prosedur, tetapi penekanan pada pertobatan dan pertanggungjawaban! Ketika seseorang selesai mempersembahkan korban penghapus dosanya, dia berdiri di titik awal pertobatan, berjuang berjalan di jalan pengudusan, dan mengingat bahwa dia adalah orang yang telah diampuni.

Renungkan:
Amsal 28:13 Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi, yang mengaku dosa diri akan menerima belas kasihan, dan imam akan menyatakan bahwa ia menerima pendamaian bagi dirinya karena dosanya. Sering kali kita menempatkan dosa di tempat yang gelap dan sengaja mencegah orang untuk melihatnya. Tetapi dosa akan menjadi lebih gelap di tempat yang gelap, dan kekuatan dosa akan meningkat. Sebaliknya, kita harus menempatkan dosa di bawah terang dengan pengakuan, akibatnya, kuasa dosa melemah dalam terang dan menjadi kemungkinan pertobatan. Marilah kita dengan tulus mengakui dosa-dosa kita!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.