「Menyucikan untuk dia」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.
(Im. 4:1-3, 20, 26 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa: 2 「Katakanlah kepada orang Israel:
Apabila seseorang tidak dengan sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal yang dilarang TUHAN dan ia memang melakukan salah satu dari padanya, 3 maka jikalau yang berbuat dosa itu imam yang diurapi, sehingga bangsanya turut bersalah,
haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN karena dosa yang telah diperbuatnya itu, seekor lembu jantan muda yang tidak bercela sebagai korban penghapus dosa.
20 Beginilah harus diperbuatnya dengan lembu jantan itu: seperti yang diperbuatnya dengan lembu jantan korban penghapus dosa, demikianlah harus diperbuatnya dengan lembu itu. Dengan demikian imam itu mengadakan pendamaian bagi mereka, sehingga mereka menerima pengampunan.
26 Tetapi segala lemak harus dibakarnya di atas mezbah, seperti juga lemak korban keselamatan. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya, sehingga ia menerima pengampunan.
Imamat pasal 4 berbicara tentang peraturan korban penghapus dosa, persembahan korban ini disebut ini korban penghapus dosa (sin offering) sering kali membuat orang cenderung salah paham, karena tujuan utama persembahan korban ini bukan dimaksudkan untuk menebus manusia berdosa, makna yang diungkapkan persembahan korban ini bukanlah bahwa korban tersebut menggantikan manusia untuk menerima hukuman atas dosa. Makna aslinya adalah 「korban penyucian」 (purification offering) (ḥăṭṭāt), yang berarti bahwa fungsi utamanya adalah untuk penyucian. 「Beginilah harus diperbuatnya dengan lembu jantan itu: seperti yang diperbuatnya dengan lembu jantan korban penghapus dosa, demikianlah harus diperbuatnya dengan lembu itu. Dengan demikian imam itu mengadakan pendamaian bagi mereka, sehingga mereka menerima pengampunan」 (4:20), 「tetapi segala lemak harus dibakarnya di atas mezbah, seperti juga lemak korban keselamatan. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya, sehingga ia menerima pengampunan」 (4:26), 「tetapi segala lemak haruslah dipisahkannya, seperti juga lemak korban keselamatan dipisahkan, lalu haruslah dibakar oleh imam di atas mezbah menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu sehingga ia menerima pengampunan」 (4:31) dan 「tetapi segala lemak haruslah dipisahkannya, seperti juga lemak domba korban keselamatan dipisahkan, lalu imam harus membakar semuanya itu di atas mezbah di atas segala korban api-apian TUHAN. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia menerima pengampunan」 (4:35), dari semua ayat-ayat tersebut terdapat frasa 「mengadakan pendamaian bagi orang itu」, dan kata 「mengadakan pendamaian」 dapat juga berarti 「penyucian」 (kĭppēr) (lihat VMD 「membuat engkau suci」), jadi 「mengadakan pendamaian bagi orang itu」 adalah 「mengadakan penyucian bagi orang itu」. Pertanyaannya adalah: melalui persembahan korban ini, apa yang dikuduskan / disucikan untuk orang berdosa itu?
Melalui cara penggunaan darah dalam korban penyucian ini (korban penghapus dosa), kita dapat memahami apa yang dibersihkan dikuduskan. 「Lembu itu disembelih, lalu Musa mengambil darahnya, kemudian dengan jarinya dibubuhnyalah darah itu pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya, dan dengan demikian disucikannyalah mezbah itu dari dosa; darah selebihnya dituangkannya pada bagian bawah mezbah. Dengan demikian dikuduskannya mezbah itu dan diadakannya pendamaian baginya」(Im. 08:15) jelas dinyatakan bahwa darah digunakan dalam penyucian dan pembersihan, sehingga beberapa peneliti berpendapat bahwa darah merupakan pembersih dalam ritual pengorbanan, membersihkan kecemaran kotoran. Dalam persembahan korban penyucian ini (korban penghapus dosa), imam memercikkan sedikit dari darah itu, tujuh kali di hadapan TUHAN, di depan tabir penyekat tempat kudus (4:6), membubuh sedikit dari darah itu pada tanduk-tanduk mezbah pembakaran ukupan dari wangi-wangian, semua darah selebihnya harus dicurahkannya kepada bagian bawah mezbah korban bakaran (4:7), ini melambangkan bahwa bagian-bagian penting dari tempat kudus (Kemah Pertemuan) sudah dikuduskan (dibersihkan). Karena tempat kudus (Kemah Pertemuan, Bait Suci) perlu dibersihkan dikuduskan, berarti tempat kudus dapat tercemar kotoran, hal ini karena orang berdosa membawa dosa kecemaran ke dalam tempat kudus. Jadi para imam harus terus menjaga kekudusan dari tempat kudus ini, untuk memastikan kehadiran penyertaan Allah, karena Allah yang kudus tidak akan berdiam di tempat kudus yang terkontaminasi kecemaran. Tentu saja menjaga kekudusan dari tempat kudus tidak dapat mengendalikan kehadiran Allah. Kehadiran-Nya adalah inisiatif kebebasan Allah sendiri. Manusia tidak memiliki kemampuan dan tidak ada cara untuk mengendalikan kehadiran Allah. Kehadiran penyertaan Allah selamanya adalah anugerah semata.
Namun kekudusan dari tempat kudus adalah prasyarat kehadiran Allah, kondisi tahir adalah syarat kekudusan. Menjaga kekudusan tempat kudus adalah dengan membuang kecemaran, sedangkan tahir adalah masuk ke ranah ilahi Allah. Dengan demikian, kita melihat kehadiran Allah dan kondisi tahir manusia, yang pertama adalah anugerah dan yang kemudian adalah penyucian. 「Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya, sehingga ia menerima pengampunan」, orang berdosa melalui korban penyucian, bukan dirinya yang disucikan, tetapi dia diampuni (Im. 4:26, 31, 35), yang juga merupakan simbol anugerah Allah.
Dengan demikian, kejahatan dosa bukan hanya masalah pribadi, tetapi masalah komunitas, dosa seseorang dapat menodai seluruh tempat kudus (Kemah Pertemuan, Bait Suci), mempengaruhi kehadiran Allah, sehingga mempengaruhi kesejahteraan komunitas, ini persis kebalikan dari konsep individualisme hari ini 「satu orang melakukan sesuatu, satu orang yang menanggung.」 Sering kali, kita merasa diri sendiri yang menanggung konsekuensi dari kejahatan diri sendiri, tidak perlu peduli tentang perasaan orang lain, kita melihat dosa sebagai masalah pribadi, mengabaikan komunitas, seolah-olah pria sejati, pada kenyataannya, tetapi sebenarnya adalah kebanggaan individualisme, penolakan untuk bertanggung jawab terhadap komunitas.
Renungkan:
Dosa tidak hanya urusan pribadi, tetapi juga bersifat kelompok komunitas, noda dosa satu individu akan mempengaruhi kekudusan komunitas, apakah Anda juga melihat sifat ini, sehingga kita dapat mengingatkan diri kita sendiri agar waspada menghindarkan diri berbuat kecemaran? Berdoa memohon Tuhan membantu kita.
Renungan pemahaman Kitab Imamat
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.