Tag Archives: Surat Filipi

Filipi 3:12-14

「Tujuan hidup」
Panggilan dan Pembaruan Hidup


Oleh Rev. Dr. Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Filipi 3:12-14 [ITB])
12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. 13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.


Renungan pemahaman Penggilan dan Pembaruan 2026

Renungan Topikal Ěr Dào

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 「Panggilan dan Pembaruan」 ditulis oleh Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯) yang dipublikasikan pada bulan April 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Renungan Natal 2023-15

「Pengantara」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Filipi 2:6-8 [ITB])
Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Yesus Kristus Sang Firman Allah yang berinkarnasi, adalah sepenuhnya Allah dan pada saat yang sama adalah sepenuhnya manusia – ini adalah misteri besar!

Gereja membutuhkan waktu lebih dari dua ribu tahun untuk menemukan kata-kata yang bisa menjelaskan dengan sempurna. Dari sudut pandang mata manusia dan sudut pandang rasional manusia, Allah dan manusia muncul secara bersamaan dalam pribadi Yesus Kristus, dan ini merupakan pernyataan yang sangat kontradiktif. Oleh karena itu, seperti yang telah disebutkan pada renungan sebelumnya, ini adalah sebuah misteri. Misteri ini mengungkapkan hubungan antara Allah dan manusia: Allah yang Maha tinggi jauh melampaui segala-galanya (transenden) dan manusia yang rendah. Mengapa ini terjadi? Jawabannya adalah kodrat ilahi dan kodrat manusia Kristus Yesus. Dua kodrat Yesus Kristus adalah kunci hubungan antara Allah dan manusia — ini menunjukkan bagaimana hubungan antara Allah dan manusia berubah dari mustahil menjadi mungkin.

Pembaca mungkin pernah mendengar bahwa Yesus Kristus adalah mediator, nyatanya menjadi pengantara tidaklah mudah! Siapa yang bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia? Bukankah itu hanya Allah dan manusia? Bukankah hanya Yesus Kristus, yang memiliki kodrat ilahi dan kodrat manusia, barulah dapat menjadi perantara sejati antara Allah dan manusia? Bagaimana hubungan sejati dapat diadakan antara Allah transenden Maha tinggi yang jauh melampaui segala-galanya dan manusia yang terbatas? Itu tidak mungkin! Jika ada Allah yang bisa dikenal manusia di dunia (takluk di bawah pengenalan akal manusia), Dia tidak bisa menjadi Allah Maha tinggi jauh melampaui segala-galanya. Sebaliknya, Allah yang benar-benar transenden tidak dapat benar-benar dipahami oleh manusia yang terbatas. Oleh karena itu, hanya dua Yesus Kristus yang memiliki kodrat Allah dan kodrat manusia yang sangat kontradiktif yang dapat membuat hubungan iman yang kontradiktif ini menjadi mungkin. (1 Tim. 2:5-6 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia …)

Teolog Swiss Karl Barth menulis dalam 《Kirchliche Dogmatik》dalam buku keempatnya ia menulis ulang Kristologinya. Berdasarkan pandangan Konsili Kalsedon: dua kodrat Allah dan kodrat manusia yang dimiliki Yesus tidak dapat dicampur atau dipertukarkan,maka Barth menjungkir balik pandangan dunia tentang Allah dan manusia, ia berkata:

Yesus Kristus adalah Allah seutuhnya, bukan dinyatakan dalam kemahakuasaan-Nya, namun dinyatakan dalam rendah hati-Nya menjadi hamba. (KD IV/1 § 59)
Yesus Kristus adalah manusia seutuhnya, bukan dinyatakan dalam kelemahan-Nya (sebagai manusia), namun dinyatakan karena Dia adalah Raja kemuliaan. (KD IV/2 § 64)

Oleh karena itu, berdasarkan pandangan terbalik di atas – Allah yang merendah dan manusia ditinggikan – maka hubungan antara Allah dengan manusia dapat terjadi nyata dan konkret di dalam sejarah didirikan di dalam Kristus: karena Yesus dari Nazaret adalah Allah. Hanya dengan demikianlah terang Allah yang sejati dapat benar-benar konkret ada hadir di dunia dan dikenal serta diterima oleh manusia, dan karena Firman Allah Tritunggal menjelma menjadi seorang manusia, maka manusia biasa seperti kita dapat ditinggikan dan barulah bisa memiliki relasi dengan Allah.

Yesus Anak Allah yang taat pada saat yang sama Anak Manusia yang mulia, Yesus Kristus adalah Allah yang sempurna. Allah yang transenden Maha tinggi jauh melampaui segala-galanya ini dapat membuat keselamatan yang konkret dan nyata di dalam sejarah, bukan sekadar kata-kata; sebaliknya, Yesus Kristus adalah manusia yang sempurna yang membuat kita untuk mampu benar-benar dekat dan mengikuti Dia — karena Allah ini datang ke dunia menjelma menjadi manusia, jika Yesus mampu berkemenangan, kita juga bisa berkemenangan; jika Yesus mampu mengatasinya, kita pun bisa mengatasinya. Kita tidak hanya secara pasif diselamatkan oleh Dia yang Maha kuasa, kita juga dapat secara aktif mengikuti Kristus. Inilah makna dua kodrat Allah dan kodrat manusia yang dimiliki Yesus bagi kita.

Renungkan:
Menghadapi misteri besar ini, hendaknya kita dengan rendah hati memahami dan menerimanya. Yesus Kristus, sebagai pengantara antara Allah dan manusia, menunjukkan keajaiban hubungan antara Allah dan manusia. Berdoa memohon kita benar-benar merasakan hubungan nyata ini dalam iman kita dan menghadapi kebenaran yang menakjubkan ini dengan rasa syukur dan kekaguman.


Renungan Natal

Renungan Natal 2023

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Renungan Natal 2023-13

「Allah mengambil rupa seorang hamba」

Oleh Rev. Dr. John Chan Wai-on (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Filipi 2:6-7 [ITB])
Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia

Pembaca mungkin berpikir bahwa perikop dalam Surat Filipi dari Paulus ini berkaitan dengan bukti natur kemanusiaan Yesus Kristus — walaupun Ia adalah Allah, tetapi telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Namun kenyataannya, ayat ini justru sebaliknya, ayat ini memberitahu kita betapa Yesus Kristus adalah Allah yang sejati!

Yesus adalah Allah. Ini merupakan iman yang sangat penting dalam Gereja. Tetapi, Yesus Kristus adalah Allah, justru berlawanan dengan semua gambaran Allah / dewa di dunia! Itu bahkan menjungkirbalikkan seluruh pemahaman manusia tentang Allah! Dari sudut pandang agama-agama lain, Allah adalah Allah yang maha kuasa, tak terkalahkan, selalu menang, tidak bisa mengalami kematian, dan mulia! Namun, ketika kita mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Allah, hal ini sekaligus menjungkirbalikkan pemahaman dunia tentang Allah. Yesus Kristus adalah Allah karena Dia adalah seorang hamba dan disalib sampai mati.

TIDAK! Mengambil rupa seorang hamba, salib, dan kematian bukan hanya aspek Yesus Kristus menjadi sebagai manusia, namun juga merupakan jalan yang diambil Yesus Kristus sebagai Allah!

Tidak, Yesus Kristus bukan sekadar Allah yang mulia yang secara tidak sengaja menjadi manusia lalu disalib dan mati. TIDAK!

Sebaliknya, penyaliban Yesus Kristus menyingkapkan kemuliaan-Nya dan membuktikan bahwa Dia adalah Allah!

Yesus Kristus adalah Allah mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, yang disalibkan!

Seperti yang ditulis Bonhoeffer dalam 《Prison Letters》: Allah membiarkan diri-Nya diusir dari dunia dan disalib, Allah bersedia tidak berdaya dan lemah di dunia, dan dengan cara inilah Dia bisa bersama kita dan membantu kita. Matius 8:17 dengan jelas menunjukkan, Kristus tidak bermodalkan kemahakuasaan-Nya membantu kita, namun justru melalui kelemahan dan penderitaan-Nya! Inilah perbedaan utama dengan semua agama lain. Agama-agama manusia mengarahkan kesulitan manusia kepada kuasa Allah di dunia, Allah menjadi 『penyelamat pembawa akhir bahagia yang dibekuk dalam formula』 (deus ex machina). Tetapi Alkitab menunjukkan ketidakberdayaan dan penderitaan Allah; hanya Allah yang menderita yang dapat menolong. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ini menghilangkan gagasan-gagasan yang salah tentang Allah, pertumbuhan terhadap kedewasaan wawasan yang dimiliki dunia ini, dengan, membuka cakrawala wawasan kepada Allah dalam Alkitab, yang melalui ketidakberdayaan justru menunjukkan kekuasaan-Nya di dunia.

Renungkan:
Mari kita renungkan hubungan antara 「hamba」 dan 「Allah」


Renungan Natal

Renungan Natal 2023

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Renungan Natal 07 Des. 2021

Pengalaman Paulus: 「damai sejahtera」 yang melampaui pemahaman manusia
Oleh Rev. Dr. Liu Herrick
Alliance Bible Seminary H.K.

(Filipi 4:6-7 [ITB])
6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. 7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Meskipun tema Surat Filipi lebih banyak tentang sukacita daripada damai sejahtera, tetapi keduanya terkait erat dalam Surat Filipi ini (4:4-7) damai sejahtera adalah dasar yang diperlukan untuk sukacita. Jika hati tidak ada damai sejahtera, penuh kecemasan, tidak dapat benar-benar mengalami sukacita sejati.

Paulus dengan cara yang khas iman Kristen, dengan kasih karunia dan damai sejahtera mengucapkan salam kepada jemaat Filipi (1:1-2), kasih karunia mengacu pada keselamatan Allah dalam Kristus, damai sejahtera adalah konsep Shalom dalam Perjanjian Lama, adalah keadaan kehidupan jiwa rohaniah lengkap, berkepenuhan dan sehat (tenang damai sejahtera yang penuh) . Paulus dalam Surat Filipi bersaksi bahwa di dalam penjara ia mengalami damai sejahtera serta sukacita yang transenden melampaui lingkungan dan keadaan. Damai sejahtera ini bahkan tidak dapat dirampas oleh kekurangan secara materi (kurang / kelaparan), pukulan reputasi (dihina), dan kehidupan dalam kesulitan (penderitaan) dan bahkan ancaman kematian (hidup atau mati) (1:20-21; 4:11-14)

Cara Paulus melakukan latihan rohani adalah bahwa ia memiliki tak henti-hentinya memiliki sambungan / hubungan pengalaman dengan Kristus melalui doa dalam segala sesuatu (4:6), ia memakai cara pandang Kristus untuk melihat identitas dasar dirinya (ia adalah hamba Kristus Yesus) dan orang-orang lain (orang kudus dalam Kristus Yesus) (ayat 1:1-2); ia sering menjadikan pengalaman hidupnya untuk berbicara dengan Allah, misal kerinduannya kepada jemaat Filipi dijadikannya ucapan syukur kepada Allah (1:3 Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu); dia menyadari bahwa cinta kasihnya kepada jemaat Filipi tidak berasal dari dirinya sendiri, tetapi dari Yesus Kristus (1:8); ia melihat bahwa utusan Epafroditus disembuhkan karena kasih kemurahan khusus Allah tidak ingin dia dan jemaat Filipi dukacita jangan bertambah-tambah (2:27); ia merasakan sukacita atas dukungan dari jemaat Filipi, bukan karena keuntungan diri sendiri, tetapi karena itu mencerminkan kematangan rohani mereka (4:11, 18); ia sering mengalami kelimpahan kasih karunia Kristus dalam kehidupan jiwa rohani, sehingga ia bersedia untuk memiliki hidup sangat sederhana (4:18); ia mengalami damai sejahtera dan sukacita Kristus, dan berpikir itu dipercayakan kepada dia layak baginya untuk membayar harga apapun (2:18)

Ringkasnya, dia mengalami damai sejahtera bukan hanya hati tidak dikuasai oleh kekhawatiran, dan dia memiliki relasi kasih dengan manusia, dengan Allah, dia menyebutnya kepuasan spiritual (4:11 cukup diri), yaitu Shalom yang ingin Allah berikan kepada orang-orang di Perjanjian Lama.

Paulus mengajarkan orang percaya untuk mengatasi kekhawatiran dengan berdoa atas segala sesuatu (4:6-7) mencapai keadaan tidak khawatir:
Pertama-tama, segala sesuatu berarti berdoa tanpa henti (1 Tesalonika 5:17 Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal) Kita harus memelihara pengalaman hubungan terus-menerus dengan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Jangan berdoa hanya ketika kita dalam kesulitan!

Kedua, berdoa maknanya adalah memberi tahu Allah apa yang kita butuhkan, dan kuncinya berdoa ── harus memiliki makna menyembah, meninggikan dan menghormati Allah, dan dengan membawa hati bersyukur ── yaitu dari pengalaman konkret masa lalu, hati bersyukur atas pemeliharaan dan penyediaan dari Allah.

Dengan kata lain, doa adalah tertuju kepada Allah ── pengakuan dan kepastian bahwa Allah campur tangan dan berkuasa di dalam kehidupan di masa lalu, sehingga sekarang orang bisa berdoa sungguh-sungguh menyerahkan beban berat kepada Dia! Tuhan berjanji bahwa damai sejahtera yang diberikan-Nya dapat melampaui segala keadaan (melampaui yang dapat dipahami manusia) . Damai sejahtera ini seperti pasukan yang dapat melindungi jiwa rohani orang-orang yang percaya dari kekhawatiran dan kegelisahan, seperti yang dialami Paulus.

Renungkan:
Latihan rohani melalui doa untuk merasakan kedekatan dengan Tuhan

Doa (1): damai sejahtera melampaui pemahaman manusia yang dialami Paulus benar-benar membuat saya merindukannya, dan saya memohon Tuhan Yesus yang telah bangkit untuk mengajari saya bagaimana terus berdoa dan terhubung dengan-Mu! Tuhan Yesus, saat ini, saya merasa …, karena …, saya ingin …, tolong …

Doa (2): terus perhatikan perubahan emosi perasaan dalam kehidupan sehari-hari Anda, dan ubahlah emosi Anda seperti kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan terkejut, menjadi doa, dan alami perlindungan dan pemeliharaan Tuhan Yesus!


Daftar Renungan Natal 2021

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2021 dipublikasikan pada bulan Desember 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 4:14-23

Kesulitan yang timbul karena menanggung kehidupan orang lain

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Flp. 4:14-23 [ITB])
14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.
15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. 16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. 17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.
19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
20 Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin. 21 Sampaikanlah salamku kepada tiap-tiap orang kudus dalam Kristus Yesus. Salam kepadamu dari saudara-saudara, yang bersama-sama dengan aku. 22 Salam kepadamu dari segala orang kudus, khususnya dari mereka yang di istana Kaisar. 23 Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai rohmu!

Orang Kristen takut akan penganiayaan politik? Sedikit atau banyak! Jika menghadapi penindasan yang mendatangkan kematian, bagaimana kita tidak khawatir? Namun, yang paling sulit diterima dan dihadapi orang Kristen, seringkali tidak selalu penganiayaan politik, tetapi dilukai orang percaya lainnya, menyebabkan kekecewaan. Paulus menghadapi hal yang demikian. Tetapi Paulus tidak tertelan atau ditenggelamkan keadaan sulit dan rasa pahit.

Setelah mendapatkan penglihatan tentang Makedonia dari Tuhan, Paulus tidak memberitakan Injil di Asia Kecil, ia beralih ke Makedonia. Namun, mengikuti bimbingan Tuhan tidak membawa pengalaman yang mulus (itu tidak selalu cocok jika hanya menggunakan metafora buka dan tutup pintu, atau berjalan dengan mulus dan tidak mulus untuk membedakan pimpinan Tuhan). Paulus terlebih dahulu dipukuli secara massal di Filipi (Kisah 16), dan kemudian di Tesalonika diusik oleh orang Yahudi, sekali lagi ditangkap kekaisaran Romawi dengan tuduhan mengganggu stabilitas sosial membuat kerusuhan kota (Kis. 17:1-9). Kita tidak yakin bahwa tuduhan mengganggu stabilitas sosial, telah mempengaruhi persepsi Gereja terhadap Paulus, tetapi yang pasti, ketika Paulus meninggalkan Makedonia, sebagian besar gereja tidak mendukung Paulus secara finansial. Jemaat Berea tidak, begitu juga jemaat Tesalonika, hanya jemaat Filipi. Menurut Filipi 4:10, dukungan finansial jemaat Filipi kepada Paulus, tampaknya berhenti sebentar. Penglihatan tentang Makedonia dari Tuhan ini, apakah pernah membawa rasa pahit kepada Paulus? Saya pikir bisa saja ada kemungkinan.

Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka (2 Korintus 8:1-3)

Tapi rasa pahit telah ditiadakan, dan sekarang karena kiriman melalui Epafroditus, merupakan suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah (Flp. 4:18). Paulus tidak meletakkan fokus pada mengapa gereja-gereja lain tidak mendukung dia, fokus perhatiannya pada dukungan gereja Filipi telah menjadi buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. Orang percaya di Filipi juga mengalami kemiskinan ekstrem, tetapi reaksi mereka bukan bersungut-sungut dan mengasihani diri. Ternyata kesulitan tidak harus membawakan rasa pahit yang berkepanjangan, gereja Filipi yang terperangkap dalam ujian besar kesengsaraan, pada akhirnya dapat mencukupkan Paulus dan lebih dari cukup. Surat Filipi menyoroti vitalitas daya hidup orang percaya di dalam Kristus, kuasa daya hidup ini sesuai kapasitas, tetapi melampaui kapasitas. Paulus tidak mengendalikan mereka, karena ia mengenal Kristus, Dia adalah Allah yang melihat orang lain lebih penting dari diri sendiri (Flp. 2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri). Penyerahan diri ke dalam pimpinan Tuhan, bisa membawa serta orang lain, dan tidak dipermainkan keadaan.

Di mata Paulus, kesulitan yang timbul karena menanggung kehidupan orang lain adalah cara Allah menyatakan diri-Nya, itu juga merupakan proses ia mengenal Kristus dan penderitaan Kristus (κοινωνίαν παθημάτων αὐτοῦ – koinōnian pathēmatōn autou, Flp. 3:10 yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya). Tetapi Paulus bukan pemeluk asketisme, tetapi penderitaannya timbul karena berlari demi suatu komunitas hidup, gereja Filipi adalah komunitas hidup itu.

Renungkan:
• Pernahkah Anda mengalami kesulitan yang melampaui batas Anda bersandar kepada Tuhan?Apakah jemaat Filipi memberi Anda wawasan baru? Mengapa?
• Apakah ada komunitas kehidupan atau kelompok kehidupan tertentu, yang Allah percayakan dalam hati Anda? Apakah Anda telah membangun relasi saling menjaga dan saling mengingat dengan mereka? Mengapa?


Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)

Renungan pemahaman semua Surat Filipi

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 4:10-14

Ketika harapan jatuh kosong …

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Flp. 4:10-14 [ITB])
10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. 11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.

Berpikir positif, sangat populer di kalangan orang tua juga merupakan nilai-nilai yang diakui masyarakat. Besok akan lebih baik, harapan ada di hari esok. Dibandingkan sikap negatif rendah diri mengasihani diri sendiri, siapa yang tidak mengakui berpikir positif itu? Siapa yang tidak ingin anak-anak mereka, di jalan penuh harapan dan penuh rasa kepastian, percaya diri dapat mengatasi semua kesulitan itu? Berpikir positif tentu lebih baik daripada berpikir negatif. Demikian juga, ketika kita mendengar Paulus berkata: Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Flp. 4:13) ayat ini sangat populer. Segala perkara dapat kutanggung, narasi ini sangat enak didengar, kita semua suka. Namun, seringkali kalimat emas ini dibaca dengan cara yang mengabaikan latar belakang situasi ayat ini, sehingga salah memahami arti sebenarnya. Terjemahan Mandari CCV mampu membawa keluar pikiran Paulus: bersandar pada yang menganugerahkan kekuatan kepada saya, keadaan apapun yang dapat saya hadapi.

Surat Filipi sebenarnya merupakan sebuah Petunjuk Penanganan Harapan (expectation management manual). Paulus dalam keadaan yang tidak menentu apakah bisa keluar dari penjara, tetap percaya secara mendalam bahwa Kristus dapat dimuliakan melalui kisah hidupnya. Demikian pula, ketika Paulus di Flp. 4:11 mengatakan aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, ia bisa berpuas hati apapun itu situasinya, dalam situasi tidak tahu kapan bantuan gereja Filipi akan datang, ia tetap percaya bahwa Kristus memiliki maksud indah dan pengaturan terbaik. Orang lain mungkin berpikir ini adalah semangat jongkok, tetapi Paulus sebenarnya menghidupi logika naratif (narrative logic) yang merupakan perpanjangan dari kisah Kristus. Kisah tentang penderitaan Kristus yang menunggu pemulihan kepada kedudukan sepatutnya (Flp. 2:5-11, 3:20-21) bukan saja merupakan kepastian bagi Paulus masuk kerajaan surga, tetapi penenang dalam menghadapi gelora ombak perubahan masa depan, itu adalah sumber kedamaiannya.

Kebanyakan orang jika masuk ke dalam situasi Paulus di Filipi, dan mungkin akan merasa kesepian dan khawatir, tetapi Paulus sangat bersukacita dalam Tuhan (Flp. 4:10). Penyebabnya bukan karena dia baru saja menerima bantuan konkret dari gereja Filipi (seperti uang, makanan, dll) yang hanya membawa kegembiraan singkat, tetapi dibangun dalam Tuhan. Esensi sukacita seperti itu, mengabaikan keuntungan dan kerugian yang ada di depan mata, seperti rendah, kaya, kenyang, lapar, dan berkelebihan, atau kekurangan, tetapi memandang penting hari berakhirnya kisah yang sedang datang. Apa yang dapat membawa kedamaian ini Paulus, bukan dari meditasinya sendiri, tetapi iman yang yakin kepada Tuhan yang akan memelihara dia sampai akhir. Terapi berpikiran positif ataupun Mindfulness-Based Stress Reduction mungkin berguna untuk mengelola emosi dan stres, tetapi cara berpikir hidup di masa sekarang tidak menghargai akhir dunia bisa berkesempatan menjadi semacam pembiusan diri. Paulus selalu bahagia dan tidak jatuh ke dalam kesepian dan kekhawatiran adalah karena logika naratif senantiasa di dalam Tuhan.

Faktanya, pikiran yang mengandalkan dan bersandar pada Tuhan untuk menghadapi dan menangani gelora ombak perubahan masa depan, juga terlihat dalam frasaiman yang timbul dari Berita Injil – τῇ πίστει τοῦ εὐαγγελίου pistei tou euangeliou (Flp 1:27). Sebagai frasa yang hanya satu kali saja muncul dalam 《Perjanjian Baru》, iman Injilpada kenyataannya tidak mengacu pada objek pelayanan dari kerja keras bersama orang percaya, tetapi mengacu pada Injil yang membawakan jaminan masa depan kepada orang percaya. Jemaat Filipi perlu belajar seperti Paulus, bekerja keras bersama dengan mengarahkan pandangan melihat pengharapan tertuju ke depan.

Renungkan:
• Bagaimana perasaan Anda menghadapi masa depan? Inspirasi apa yang dibawakan kisah Paulus terhadap situasi Anda? Mengapa?
• Di masa lalu, apakah Anda pernah menyerahkan sesuatu hal ke dalam tangan Tuhan, atau pernah kehilangan kesediaan untuk mematuhi pengaturan Tuhan? Pengalaman dahulu itu, apakah berpengaruh pada kehidupan spiritual Anda? Menghadapi masa depan, apa yang bisa membuat Anda merasa tidak tenang atau gelisah? Anda berharap bagaimana cara Tuhan membantu Anda dan membentuk Anda?


Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)

Renungan pemahaman semua Surat Filipi

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 4:6-9

Mengapa tidak ada kedamaian walau saya telah berdoa?

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Flp. 4:6-9 [ITB])
6 Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. 7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. 9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Penulis ingat bahwa beberapa tahun setelah pertama kali menjadi orang Kristen, suatu kali bertemu dengan seorang rekan di gereja yang saya kenal sejak persekutuan sekolah menengah. Saya sudah lama tidak melihatnya di gereja, jadi saya maju menyapa dia, dan setelah beberapa obrolan, bermula berbincang tentang mengapa dia tidak pergi ke pertemuan gereja dan sampai dia bahkan tidak membaca Alkitab. Di akhir obrolan, dia mengucapkan sepatah kata yang sampai hari ini, hampir tiga puluh tahun kemudian, saya masih ingat: tapi saya ada berdoa. Sebuah kata-kata yang biasa, tetapi terus-menerus terjebak dalam pikiran saya. Doa yang tidak ada firman Allah, itu doa yang bagaimana? Doa tanpa membaca Alkitab apakah itu seorang Kristen? Kehidupan iman yang berdasar pada diri manusia sendiri, apakah itu iman yang tulus dan benar? Bukankah kehidupan iman seharusnya memiliki satu set standar untuk ditaati? Saya tidak merespons dia dengan perkataan tersebut. Tetapi saya bertanya kepada seorang yang baru percaya Tuhan Yesus, saya bertanya pada diri sendiri.

Tuhan adalah Allah yang memberikan kedamaian, sepatutnya tidak perlu ada keraguan, betul? Orang percaya kepada Tuhan atau tidak, kebanyakan orang semestinya rindu menemukan kedamaian. Damai mungkin rasa aman, rasa ada harapan di masa depan, sebuah keadaan jiwa hati dan pikiran, pengalaman merasa puas dengan saat ini dan seterusnya. Namun, saya menemukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, kedamaian mereka, belum tentu lebih besar dari orang-orang tidak percaya pada Tuhan, mengapa? Penyebabnya adalah bahwa hubungan kita dengan Tuhan, pada prinsipnya, adalah ada cara kerja ada mekanismenya.

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus , ini adalah janji yang berharga. Tetapi janji ini adalah untuk menjalin suatu hubungan yang sebenarnya dibangun di atas dua landasan.
Landasan pertama, ayat 4:8 Paulus berkata: pikirkanlah semuanya itu yang berarti bahwa orang percaya harus membiarkan pikiran fokus pada semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Daftar kebajikan serupa pada kenyataannya juga ditemukan umum di antara pedoman etika masyarakat Romawi. Di atas dasar kisah Kristus, Paulus mengutip kebijaksanaan umum, di satu sisi, mengintegrasikan etika gereja diaplikasikan ke dalam masyarakat sosial dan menetapkan prinsip hidup di dalam dunia bagi orang percaya di Filipi; tetapi di sisi lain, kebajikan ini harus ditafsirkan dari perspektif kisah Kristus, maka orang percaya tidak akan terseret arus orang banyak dan menggunakan kebajikan sekuler untuk memimpin hidup mereka.

Landasan kedua, Paulus berkata: Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu (Flp. 4:9), dapat diterjemahkan sebagai Kamu harus mempraktikkan hal-hal ini, yang berarti bahwa orang percaya harus membuat perilaku mereka sesuai dengan apa yang Paulus jabarkan. Pertumbuhan hidup tentu saja lebih dari sekadar meniru, tetapi dalam perkembangan tahap awal spiritual orang percaya tidak bisa mengabaikan meniru. Hidup mungkin tidak harus membabi buta meniru, tetapi harus secara aktif menular. Paulus tidak perlu menunggu sempurna hidupnya baru dianjurkan kepada gereja di Filipi.

Orang Kristen melalui doa dapat menghilangkan khawatir, bisa mendapatkan damai sejahtera yang melampaui pikiran manusia. Tetapi jika di dalam hidup orang Kristen tidak merenungkan dan melaksanakan keselamatan yang diteruskan dari bapa-bapa pendahulu gereja, damai sejahtera ini tidak akan berlangsung lama, damai sejahtera yang ada bahkan bukan lagi yang datang dari Tuhan, itu hanya semacam penghiburan diri.

Renungkan:
• Apakah menurut Anda doa-doa Anda dapat membawa kedamaian bagi Anda? Mengapa?
• Model Spiritual apa yang Anda suka untuk tumbuh? Apakah berbasis pemikiran, atau berbasis praktik? Apakah Anda pikir Anda memiliki keseimbangan itu?
• Apakah ada seseorang yang merekomendasikan hidupnya kepada Anda dan menjadi guru bagi hidup Anda? Bagaimana dengan Anda? Kepada siapa akan Anda rekomendasikan diri Anda sendiri?


Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)

Renungan pemahaman semua Surat Filipi

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 4:1-7

Apakah kau dengar langkah kaki Tuhan?

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Flp. 4:1-7 [ITB])
1 Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!
2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. 3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.
4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!
6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. 7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Bahkan gereja yang paling sempurna sekalipun, di antara orang percaya akan terdapat perbedaan pendapat, pasti akan ada kontroversial, tetapi tidak serta merta berkembang menjadi krisis. Apa masalah di antara Euodia dan Sintikhe? Paulus tidak menjelaskannya. Tapi bisa dibayangkan, orang percaya selain harus menghadapi tekanan rezim berkuasa, tetapi juga menghadapi kontroversi teologis antara Paulus dan para pemimpin lainnya, lingkungan ini tidak mudah. Perhatikan nasihat Paulus kepada mereka: supaya sehati sepikir dalam Tuhan (τὸ αὐτὸ φρονεῖν ἐν κυρίῳ – to auto phronein en Kyriō, Flp. 4:2), tetapi bukan dengan cara tutup mulut maka harmonis dalam keluarga membuat segala hal berjaya, banyak mulut membuat keluarga runtuh, itu bukan prinsip yang dipakai Paulus. Yang dapat mendorong seseorang untuk meletakkan permusuhan, tanpa melarikan diri menghindari masalah atau teknik mengelak, adalah memakai kisah Yesus sebagai cara berpikir (Flp. 2:5-11). Gereja yang mencampakkan kisah Yesus sebagai pemikiran etis, akan membawa terlalu banyak hikmat dunia ke dalam gereja, dan tidak akan ada jalan keluar untuk masalah gereja.

Ayat 5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Ketika kita membaca sampai kalimat Tuhan sudah dekat (ὁ κύριος ἐγγύς – ho Kyrios engys) ini, apakah timbul pertanyaan menurut Anda kata-kata Paulus tidak tepat. Faktanya, sudah hampir dua ribu tahun sejak Paulus menulis Surat Filipi, tetapi Tuhan masih belum datang. Apakah Paulus salah? Sebenarnya, Alkitab bukanlah majalah National Geographic atau majalah History, kita tidak seharusnya hanya memahaminya dari perspektif akurat ilmiah; Allah tidak memasukkan semua yang Dia ketahui ke dalam 《Alkitab》 seakan-akan dengan membaca Alkitab maka kita dapat mengetahui segala sesuatu. Kita percaya pada Allah, tetapi kita bukan Allah.

Cara membaca yang lebih tepat, adalah sudah dekat sebagai tanda, gambaran yang menginspirasi kita untuk melahirkan hati yang waspada. Paulus tidak salah, karena tujuannya justru agar kita dalam keadaan tidak tahu bagaimana situasinya di masa depan, mempersiapkan diri bertemu Yesus yang seperti tentara. Oleh karena itu, cara membaca Alkitab hanya cocok untuk mereka yang bersedia merendahkan diri dan siap sedia menunggu Tuhan untuk kembali setiap saat. Alkitab tidak hanya berisi informasi, tetapi ajakan untuk mematuhi undangan Allah.

Berharga diperhatikan: Yesus yang datang kedua kali tidak seperti pertama kali. Kali ini, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya, semua bangsa akan bertekuk lutut di hadapan-Nya (Flp. 2:9-11). Harapan inilah, mengajari kita berdua sukacita (Flp. 4:4) tetapi juga dengan takut dan gentar (Flp. 2:12), membuat kita tidak cemas untuk apapun, mengalami kedamaian yang diberikan Allah yang melampaui pemahaman manusia.

Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana,
terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!
Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut
dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar,
supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan,
sebab mudah sekali murka-Nya menyala.
Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!
(Maz. 2:10-12)

Renungkan:
• Keinginan Paulus, adalah Euodia dan Sintikhe supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bagaimana dengan Anda? Allah menggerakkan hati Anda supaya sehati sepikir dengan siapa di dalam Tuhan?
Tuhan sudah dekat adalah pengalaman tulus Paulus. Apakah ini juga pengalaman tulus Anda? Mengapa?


Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)

Renungan pemahaman semua Surat Filipi

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 3:20-21

Tidak ada tegangan, tidak ada motivasi

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Flp. 3:20-21 [ITB])
20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, 21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.

Ada sebagian orang tidak berpendapat bahwa percaya Yesus akan mengalami tegangan (tension). Tegangan adalah ketika seseorang sepenuh hati setia kepada Kristus, ia sering akan sampai tingkat tertentu mengalami kontradiksi, kesulitan dan bahkan konflik dengan kesetiaan kepada pemerintah di bumi. Di zaman tertentu mungkin terdapat tegangan yang relatif besar, di masa tertentu mungkin relatif kecil. Di era gereja mula-mula, tegangan ini tidak kecil, bagaimana bersandar mengandalkan Tuhan dengan benar menangani ketegangan ini, bukan saja merupakan isu nyata pastoral penggembalaan yang harus ditangani Paulus, juga merupakan bagian dari pesan teologisnya.

Tetapi beberapa orang tidak melihat adanya tegangan seperti ini dalam Surat Filipi, mereka berpikir bahwa Paulus menggunakan metafora warga negara, adalah mengasumsikan bahwa karena orang percaya telah setia kepada Kekaisaran, maka harus juga setia kepada Kristus. Jika mengikuti sudut pandang ini, maka tidak ada masalah tentang objek kesetiaan (kepada siapa setia) dalam surat Filipi. Satu sisi setia pada yang di bumi, dan yang lainnya setia kepada yang di surga, orang percaya hidup di dunia, mata menatap kepada yang kekal, bukankah sudah cukup? Bumi dan surga dua kisah yang seperti dua garis sejajar, tidak saling tumpang tindih, tidak ada konflik, tidak saling mempengaruhi. Dua garis ruang dan waktu yang paralel. Kehidupan iman yang setia pada yang di dunia dan yang di Surga, tidak ada kontradiksi, tidak ada tegangan. Sehingga kisah di balik kata kewargaan surga (Flp. 3:20) adalah bahwa sebagai warga negara Romawi harus berhati-hati agar tidak terpengaruh oleh budaya orang asing yang buruk, mari kita semua menjadi warga negara yang baik, dan hanya itu cukup! Benarkah demikian?

Namun, situasi latar belakang Surat Filipi adalah bahwa orang percaya menghadapi tekanan yang mengharuskan mereka berpartisipasi dalam penyembahan kaisar (imperial worship). Dengan demikian, hubungan antara Kristus dan kerajaan Kekaisaran Romawi, menjadi semacam tarikan dua kutub atas kesetiaan harus memilih satu dari antara dua. Kesetiaan kepada yang di bumi dan kepada yang di Surga, jikalau pun tidak saling eksklusif, juga tidak sangat harmonis. Merenungkan kisah di balik kewargaan surga (Flp. 3:20), dalam situasi apa warga negara Romawi menyerukan kejatuhan musuh (Flp. 3:18-19), di sisi lain, menunggu dengan penuh kerinduan mendapat pertolongan dan diselamatkan?

Menurut Alkitab, Paulus dalam surat Filipi memang terlihat agak seperti seorang jenderal militer, memberikan perintah kepada pasukan. Sebenarnya, warga kerajaan zaman itu sering harus menghadapi invasi asing, dan harus ikut berpartisipasi dalam segala macam perang mempertahankan teritorial (territory defence). Ketika sebuah kota Romawi diserang dari luar Kekaisaran Romawi, warga mereka akan sungguh-sungguh merindukan dan menunggu kedatangan pasukan bantuan. Demikian pula, pada hari-hari Yesus Kristus, Dia akan datang kembali dan bagi orang-orang percaya yang tubuhnya menerima penghinaan (sama seperti tubuh Kristus yang menerima penghinaan), Ia secara pribadi akan menggantikan mereka tubuh baru, seperti tubuh-Nya yang mulia (Flp. 3:21).

Siapa yang akan begitu merindukan untuk diubahkan tubuhnya menjadi yang seperti dengan tubuh Kristus setelah menerima penghinaan? Siapa yang sangat merindukan dan berpengharapan Juruselamat akan datang, untuk pembenaran mereka? Yakni orang-orang yang berani lebih setia kepada Kerajaan Surga melebihi setia kepada rezim yang ada di bumi. Mereka mengakui adanya tegangan, menghadapi tegangan, hidup dalam tegangan (bukan berkompromi menghindari tegangan). Paulus yang dalam Surat Filipi, juga tidak karena tegangan ini lalu mendukung upaya untuk menumbangkan kekuasaan politik Kekaisaran Romawi, tetapi dalam tegangan ini, ia mendorong Anda dan saya membayar harga untuk Injil, untuk menanggung hidup.

Renungkan:
• Apa tegangan yang Anda hadapi itu besar? Bagaimana tegangan ini mempengaruhi hubungan Anda dengan Tuhan dan sesama?
• Zaman bukan satu-satunya faktor yang menentukan orang beriman mengalami besar kecilnya tegangan, tetapi setiap orang percaya di setiap zaman membawa kisah yang sama, untuk masuk ke dalam gereja. Dua kelompok saudara dan saudari dalam gereja memiliki reaksi yang berbeda terhadap tegangan ini, menurut Anda apakah itu akan mempengaruhi persatuan saudara dan saudari di gereja? Renungkan ayat Alkitab atau teologis yang dapat membantu orang percaya untuk tidak jatuh ke dalam keadaan perpecahan kelompok dan pemisahan hubungan?


Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)

Renungan pemahaman semua Surat Filipi

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 3:17-19

Tubuhku bukan milik aku

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Flp. 3:17-19 [ITB])
17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.
18 Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. 19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.

Apakah Anda memiliki musuh? Bertanya demikian mungkin tidak begitu baik. Dengan cara lain bertanya: banyak atau sedikit musuh Anda?

Kehidupan berbasis kebencian, memiliki musuh di mana-mana; masyarakat berbasis kebencian, perpecahan di mana-mana. Dalam menghadapi kehidupan dan masyarakat yang tidak harmonis seperti itu, haruskah kita bergoyang seperti bandul, menganjurkan atas nama toleransi agar segala hal dan dunia sama rasa menghapus semua perbedaan nilai benar atau salah? Jika semua atas nama toleransi tanpa bertanya benar atau salah, apakah masyarakat menjadi harmonis, dan apakah hidup menjadi kurang keluh kesah dan lebih bahagia?

Surat Filipi selain penuh sukacita, juga surat yang dengan jelas membedakan apa yang seharusnya dicintai dan apa yang harus dibenci. Melanjutkan Flp. 3:12-16, Paulus mendorong saudara-saudari untuk bersama dalam meniru dia, mencintai kemuliaan menderita bagi Injil. Sampai di Flp. 3:18 fokus dan nada Paulus menjadi berat, perubahan dari dorongan positif bergeser menjadi peringatan negatif. Ternyata banyak orang bukan saja tidak hidup menurut teladan salib Kristus, tetapi bahkan menjadi musuh salib Kristus.

Menyebutkan tentang musuh Yesus, kita mungkin langsung berpikir orang-orang Farisi, ahli Taurat dan imam, dan bahkan Yudas. Kelompok pemimpin agama ini mengkhianati Yesus, demi keuntungan dan kekuasaan pribadi mereka sendiri, menyerahkan Yesus kepada Pilatus, akhirnya disalibkan, tetapi bukan mereka yang dimaksudkan di sini disebutkan seteru salib Kristus (τοὺς ἐχθροὺς τοῦ σταυροῦ τοῦ Χριστοῦ – tous echthrous tou staurou tou Christou). Salib Kristus bisa mengacu pada salib fisik tempat Kristus disalibkan, salib itu walaupun menyalibkan Yesus, tetapi tidak akan mempengaruhi Paulus, dan tidak akan membawakan ancaman bagi orang percaya di Filipi.

Memakai prinsip pertama berdasarkan Surat Filipi untuk menjelaskan Surat Filipi, salib Kristus sebenarnya adalah simbol metafora (metaphorical symbol), menunjuk ke gaya hidup Kristus yang setia menderita bagi Allah. Paulus tidak membuat jelas identitas orang-orang yang menjadi seteru salib Kristus, tapi kuncinya adalah cara hidup mereka, bertentangan dengan menderita bagi Injil. Paulus yang tepat sedang berada di penjara karena Injil, bisa dibayangkan tubuhnya mungkin telah mengalami tingkat tertentu penghinaan dan kerusakan. Sejak dini, di kunjungan pertama ke Filipi, sebelum Paulus dan Silas dipenjarakan, mereka telah mengalami dipukuli massa, pakaian yang robek, tubuh bahkan telah banyak dipukuli tongkat (Kisah para Rasul 16). Paulus dalam Flp. 1:30, mengatakan dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku. Tampaknya jemaat Filipi menghadapi bahaya krisis fisik, bahkan jika tidak sampai tingkat yang alami Paulus, mungkin mengalami ancaman fisik sampai taraf tertentu. Dengan kata lain, tubuh adalah tempat bagi Paulus dan orang percaya Filipi untuk bersaksi bagi Allah, juga merupakan media bagi mereka untuk meninggikan Kristus. Narasi yang berbeda sedang bekerja atas tubuh Paulus dan Filipi, berusaha mendapatkan hak bersuara untuk menyediakan makna baginya.

Dengan membawa prasyarat ini, kita melanjutkan membaca Flp. 3:19 tuhan mereka adalah perut mereka, akan lebih mudah untuk memahami maksud Paulus. Perut dalam bahasa asli κοιλία koilia dapat memiliki terjemahan lain yang mungkin yakni organ seksual. Ini musuh yang membuat Paulus menangis (ada yang berpendapat mereka mungkin anggota jemaat Filipi atau mantan anggota), mereka sepanjang hari mengejar kesenangan tubuh, dapat dikatakan sampai tingkat menjadi ibadah. Paulus mendorong orang percaya untuk mempersembahkan tubuh, bagaimana bisa tidak membuat pemisahan dengan mereka, bagaimana bisa tidak merasa sedih bagi mereka?

Keras kepala memilih kebenaran, itu bukan kebencian. Menderita bagi Tuhan, menolak untuk pembiaran.

Renungkan:
• Setuju atau membuat pemisahan, realitas yang selalu mengikuti kisah hidup kita. Di atas dasar apa Anda setuju membuat pemisahan terhadap orang?
• Pernahkah Anda berpikir bahwa Anda mungkin menjadi seteru salib Kristus? Mengapa?


Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)

Renungan pemahaman semua Surat Filipi

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.