Tag Archives: Damai Sejahtera

Yehezkiel 13:10-16

Damai! Nyatanya tidak ada damai!

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 13:10-16 [ITB])
10 Oleh karena, ya sungguh karena mereka menyesatkan umat-Ku dengan mengatakan: Damai sejahtera!, padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera, mereka itu mendirikan tembok dan lihat, mereka mengapurnya, 11 katakanlah kepada mereka yang mengapur tembok itu: Hujan lebat akan membanjir, rambun akan jatuh dan angin tofan akan bertiup! 12 Kalau tembok itu sudah runtuh, apakah orang tidak akan berkata kepadamu: Di mana sekarang kapur, yang kamu oleskan itu?』」
13 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Di dalam amarah-Ku Aku akan membuat angin tofan bertiup dan di dalam murka-Ku hujan lebat akan membanjir, dan di dalam amarah-Ku rambun yang membinasakan akan jatuh. 14 Dan Aku akan meruntuhkan tembok yang kamu kapur itu dan merobohkannya ke tanah, supaya dasarnya menjadi kelihatan; tembok kota itu akan runtuh dan kamu akan tewas di dalamnya. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN. 15 Begitulah Aku akan melampiaskan amarah-Ku atas tembok itu dan kepada mereka yang mengapurnya dan Aku akan berkata kepadamu: Lenyap temboknya dan lenyap orang-orang yang mengapurnya, 16 yaitu nabi-nabi Israel yang bernubuat tentang Yerusalem dan melihat baginya suatu penglihatan mengenai damai sejahtera, padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera, demikianlah firman Tuhan ALLAH.

KBBI: rambun adalah hujan es dalam butiran kecil-kecil

Yehezkiel melanjutkan mengkritik nabi palsu, paragraf ini (Yeh. 13:10-16) dimulai dengan kata damai sejahtera (šālôm), juga diakhiri dengan kata damai sejahtera (šālom), menjadi awal akhir yang berkorespondensi, menjelaskan para nabi palsu menyampaikan berita damai sejahtera tetapi sebenarnya tidak ada damai sejahtera.

Menghadapi pemberitaan dari nabi-nabi palsu tentang damai sejahtera, Yehezkiel memakai metafora pembangunan dinding untuk menggambarkan kemunafikan mereka. Cara yang ideal dan tepat untuk membangun dinding adalah saat pembangunan dinding harus memperhatikan apakah ada bagian retak-retak dan tempat-tempat yang tidak rata, kemudian diolesi dengan kapur yang sudah direndam agar bisa meresap sehingga retak-retak dapat ditutupi sepenuhnya, tetapi kelompok nabi-nabi palsu ini seperti pekerja yang jahat, mereka mengoleskan kapur yang tidak direndam, secara permukaan tidak ada perbedaan dengan dinding yang kokoh, tetapi sebenarnya itu adalah pekerjaan yang korup, sampai ketika masalah datang, dinding yang tampaknya kokoh ini akan segera runtuh. Yehezkiel menggunakan metafora ini untuk menggambarkan damai sejahtera yang dioles kapur hiasan yang sering diucapkan mulut para nabi palsu, tidak ada kesetiaan untuk memeriksa krisis moral Yerusalem, tidak memperbaiki lubang kerusakan, hanya hiasan permukaan agar terlihat bagus di mata saja.

Namun, ayat 13-15 mencatat penghakiman TUHAN pada nabi-nabi palsu dan pekerjaan mereka, Allah akan melampiaskan amarah-Nya atas damai sejahtera palsu ini dan nabi-nabi palsu, akan membuat angin topan dan hujan badai untuk memukul dinding itu (ayat 13), sehingga dinding itu akan diratakan sampai tanah dan kelihatan fondasinya (ayat 14), sehingga tembok yang dikapur dan orang yang mengapurnya (nabi palsu ) segera lenyap (ayat 15). Ini juga merupakan metafora, menunjukkan bahwa Allah akan mengungkapkan semua perbuatan jahat orang-orang munafik ini, dan semua orang akan mengetahui bagaimana munafik dan jahatnya mereka, dan segala sesuatu yang mereka lakukan harus akan menjadi hampa, yang berarti bahwa mereka bekerja untuk kesia-siaan, tidak ada hal nyata yang tertinggal. Oleh karena itu, damai sejahtera yang dikatakan para nabi palsu itu adalah damai sejahtera palsu. Keadaan yang sebenarnya: sama sekali tidak ada damai sejahtera, dan penyebab tidak ada damai sejahtera justru adalah para nabi palsu yang sering memberitakan damai sejahtera palsu.

Renungkan:
Kebajikan manusia, apakah berani setia kepada hati nurani dan kebenaran. Kita semua hidup di era kebenaran palsu, karena semakin banyak orang-orang yang menyukai damai sejahtera yang dikapur, demi ketenaran diri, status dan uang, namun menjual hati nurani mereka, siapa tahu juga memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin agama yang saleh di permukaan? Demi memberitakan damai sejahtera yang demikian, mereka bersedia mengesampingkan garis batas moral dan prinsip, berpartisipasi dalam pekerjaan kehampaan, dalam kemunafikan dan kepalsuan tidak memberitakan kebenaran, malah menjadi musuh kebenaran, tidak mampu membedakan hitam dan putih. Mari kita merenungkan kehidupan kita, apakah terdapat hal-hal seperti itu?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 65:21-25

「Kedamaian; Menikmati Langit Bumi yang Baru」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 65:21-25 [ITB])
21 Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga. 22 Mereka tidak akan mendirikan sesuatu, supaya orang lain mendiaminya, dan mereka tidak akan menanam sesuatu, supaya orang lain memakan buahnya; sebab umur umat-Ku akan sepanjang umur pohon, dan orang-orang pilihan-Ku akan menikmati pekerjaan tangan mereka. 23 Mereka tidak akan bersusah-susah dengan percuma dan tidak akan melahirkan anak yang akan mati mendadak, sebab mereka itu keturunan orang-orang yang diberkati TUHAN, dan anak cucu mereka ada beserta mereka. 24 Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya. 25 Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang kudus, firman TUHAN.

Orang-orang yang berbeda dapat hidup berdampingan

Hari ini kita melanjutkan tema langit yang baru dan bumi yang baru dalam Yesaya pasal 65 (ayat 21-25).

Berkat dari langit dan bumi yang baru kebanyakan datang secara berkesinambungan, kemarin kita memahami bahwa tindakan Allah terus tiada henti menciptakan menjadi penyebab sukacita umat Allah. Hari ini kita juga melihat bahwa berkat yang berkesinambungan akan memutarbalikkan pikiran kita yang mengira berkat adalah bersifat statis.

Pertama-tama, berkat di langit dan bumi yang baru bukanlah tidak melibatkan pekerjaan, manusia diciptakan harus bekerja, sampai pada hari itu, umat Allah akan membangun rumah dan menanam kebun anggur (ayat 21), jadi berkat itu bukan tanpa kerja, berkat itu adalah setelah umat Allah bekerja, Allah memastikan bahwa orang dapat menikmati buah dari kerja keras mereka (ayat 21), dan tidak ada yang bisa mengambil hasil orang lain dengan cara menindas orang lain (ayat 22). Dengan cara ini, berkat langit dan bumi yang baru adalah jaminan antara kerja dan hasil, dan jaminan ini bersifat terus menerus, memastikan bahwa tidak ada orang yang dengan cara buruk mendapatkan hasil kerja orang lain. Selain itu, karena umur manusia adalah kekal, maka orang pasti memiliki kesempatan untuk menikmati hasil yang diperoleh dari pekerjaan mereka, dan tidak akan karena kematian sehingga menyerahkan hasilnya kepada orang lain (ayat 22-23). Ayat 24 menyatakan: TUHAN pasti menjawab apa yang dimohon oleh orang-orang, dan bahkan sampai tahap di mana mereka mendapat jawaban sebelum mereka memanggil (memohon), ini karena di masa lalu orang harus berdoa kepada Allah agar hujan turun untuk memastikan panen yang baik, tetapi Allah tahu semua tentang umat Allah, menyediakan semua kebutuhan. Karena itu, berkat sejati adalah penyertaan kehadiran Allah.

Berkat lain di langit dan bumi yang baru adalah kedamaian. Ada banyak binatang buas yang dicatat dalam ayat 25, yang karena transformasi langit dan bumi sekarang menjadi jinak dan tidak agresif. Ini adalah metafora bahwa sifat manusia itu jahat dan saling membenci, sekarang orang-orang yang berbeda dapat hidup berdampingan secara damai di gunung kudus. Poin kuncinya adalah gunung kudus, gunung kudus adalah gunung Tuhan, itu adalah tempat yang kudus, dan juga di mana penyertaan Tuhan berada, di dalam kehadiran Allah maka semua makhluk hidup memiliki posisi sendiri dan tidak akan melukai orang atau membuat masalah, karena keadilan dan kebenaran datang maka tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, semua orang mendapatkan kedamaian sejati.

Renungkan:
Apakah ini berkat yang kita dambakan? Kita sering mendefinisikan isi berkat dengan pandangan sekuler. Kita berpikir bahwa uang, status, derajat, dan kekuasaan adalah berkat, tetapi berkat sejati adalah berada di hadirat Allah, menikmati berkat dalam kerja, dan di dalam relasi antar orang yang berbeda dan beragam terdapat dasar untuk kedamaian; berkat sejati bukanlah kegagalan pihak lain dan kesuksesan diri saya, berkat sejati adalah hidup bersama secara damai, tidak bersaing, tidak ada kesombongan (aku lebih daripada engkau), tidak membanding-bandingkan, yang ada rendah hati dan patuh hidup dalam anugerah Allah. Apakah kita menjalani kehidupan kita dengan nilai-nilai langit dan bumi baru ini?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 63:7-14

「Kasih Setia yang Kaya Berkelimpahan」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 63:7-14 [ITB])
7 Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar. 8 Bukankah Ia berfirman: Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang, maka Ia menjadi Juruselamat mereka 9 dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala. 10 Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka. 11 Lalu teringatlah mereka kepada zaman dahulu kala, zaman Musa, hamba-Nya itu: Di manakah Dia yang membawa mereka naik dari laut bersama-sama dengan penggembala kambing domba-Nya? Di manakah Dia yang menaruh Roh Kudus-Nya dalam hati mereka; 12 yang dengan tangan-Nya yang agung menyertai Musa di sebelah kanan; yang membelah air di depan mereka untuk membuat nama abadi bagi-Nya; 13 yang menuntun mereka melintasi samudera raya seperti kuda melintasi padang gurun? Mereka tidak pernah tersandung, 14 seperti ternak yang turun ke dalam lembah. Roh TUHAN membawa mereka ke tempat perhentian. Demikianlah Engkau memimpin umat-Mu untuk membuat nama yang agung bagi-Mu.

Hanya Ia, Allah yang menderita bersama umat-Nya

Perikop ini menunjukkan kasih TUHAN yang tidak pernah pergi meninggalkan dan menyerah atas umat Israel, bahkan jika umat Israel memberontak dan berulang kali berbuat semau-maunya.

Ayat 7 menunjukkan bahwa TUHAN adalah Allah penuh belas kasihan dan kasih yang berkelimpahan, Ia memberkati Israel anugerah yang besar, kita akan memahami bahwa anugerah besar yang agung ini adalah tidak terpengaruh walau umat Israel bertindak semau-maunya, bagaimanapun kasih dan anugerah besar Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Ayat 8 menjelaskan bahwa TUHANlah yang berinisiatif untuk mengakui dengan keteguhan tetap bahwa Israel adalah umat-Ku dan bahwa Tuhan adalah Juruselamat mereka. Ayat 9 menunjukkan bahwa Allah menderita bersama umat Israel (ITB agak implisit Ia sendirilah yang menyelamatkan, lihat BIMK Ia sendiri ditimpa kesusahan mereka atau CUV, KJV dan mayoritas terjemahan Inggris) dan Ia mengangkat serta menggendong mereka selama zaman dahulu kala. Kata-kata yang digunakan dalam ayat 8-9 mengingatkan kita: di masa lalu, TUHAN memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan kemudian di Sinai membuat perjanjian dengan mereka. Saat TUHAN mengadakan perjanjian, Ia menyatakan bahwa Dia telah menggendong di atas sayap rajawali dan membawa orang Israel seperti elang, dan memproklamasikan bahwa umat Israel adalah milik kepunyaan Allah dan merupakan umat Allah, ini adalah umat-Ku, dan Allah adalah Juruselamat Israel (Kel. 19:1-6, klik untuk membaca). TUHAN telah menyelamatkan mereka dan menetapkan mereka adalah umat Allah, tanpa terlebih dahulu menuntut orang Israel berbuat lebih baik atau terlebih dahulu harus berbuat sesuatu untuk mendapatkannya sebagai pahala (Hanya karena anugerah saja. Allah bukan pedagang barter perbuatan baik manusia dengan keselamatan).

Lalu, ayat 10 menyatakan bahwa wajah asli umat Israel lupa anugerah dan tidak tahu terima kasih, mereka memberontak berkhianat terhadap Penyelamat mereka, sehingga Allah harus memandang mereka sebagai musuh dan memukul mereka. Namun pukulan ini bukan seperti pemusnahan terhadap Edom (Yes. 63:1-6, klik untuk membuka dan membandingkan), pukulan ini adalah serangan penuh kesedihan hati, dan dijelaskan dalam ayat 11-13 bahwa bahkan jika Israel memberontak berkhianat, tindakan TUHAN untuk menyelamatkan mereka dari Mesir dan menyeberangi Laut Merah tetap tidak pernah berubah selama-lamanya, TUHAN dengan tindakan penuh kuasa-Nya yang besar membuat Israel mengerti bahwa diri mereka terbatas, menghendaki mereka jangan tidak tahu terima kasih dan lupa anugerah, mereka dapat meninggalkan rumah perbudakan Mesir itu bukan karena kekuatan mereka, tetapi sepenuhnya karena kuasa besar TUHAN, dan pada saat yang sama membuat orang Israel merenungkan bahwa mereka tidak tersandung ketika berjalan di hutan belantara, tiang awan dan api Allah tidak pernah pergi dan meninggalkan mereka, menunjukkan bahwa kehadiran penyertaan Allah selama-lamanya tidak akan pernah berubah.

Roh TUHAN disebutkan lagi dalam ayat 14 sebagaimana disebutkan dalam Yes. 61:1, dan disebutkan di sini bahwa Roh Allah membawakan peristirahatan kepada orang-orang Israel. Roh Allah membimbing umat Allah, agar umat Allah dapat menegakkan nama kemuliaan Allah, istirahat yang demikian adalah dengan rendah hati bergantung dan bersandar kepada Allah, secara dekat taat mengikuti, dengan tenang hati tanpa khawatir menapak di jalan pimpinan Allah. Menapakkan kaki yang demikian hanya mencari dan mengejar kemuliaan Allah bukan kemuliaan diri sendiri. Ketika seseorang hanya mencari dan mengejar kemuliaan nama Tuhan barulah ia dapat dengan tenang tenteram berjalan dalam bimbingan Tuhan, orang tersebut mendapatkan istirahat (sabat), tanpa kekhawatiran ketakutan ini justru adalah istirahat yang memiliki penyertaan Allah, lebih damai tenteram daripada kehidupan yang nyaman dan berkelimpahan banyak uang.

Renungkan:
Adalah Tuhan, Ia yang tidak pernah meninggalkan kita, tidak peduli seberapa pemberontakan kita, cinta kasih-Nya tetap berlimpah begitu kaya, keselamatan-Nya tetaplah begitu nyata dan benar, dan kita hanya bisa pasrah kepada-Nya dalam kasih Tuhan yang tak bersyarat, dan bersedia memberi hidup sebagai respons menanggapi Tuhan yang menderita bersama kita, Ia mengisi hidup kita dengan kisah keajaiban, memahami keterbatasan diri kita, dan memahami bahwa kita selama-lamanya adalah umat Allah. Amin!


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 57:14-21

「Damai bagi Orang yang Rendah Hati」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 57:14-21 [ITB])
14 Ada yang berkata: Bukalah, bukalah, persiapkanlah jalan, angkatlah batu sandungan dari jalan umat-Ku!

15 Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk. 16 Sebab bukan untuk selama-lamanya Aku hendak berbantah, dan bukan untuk seterusnya Aku hendak murka, supaya semangat mereka jangan lemah lesu di hadapan-Ku, padahal Akulah yang membuat nafas kehidupan. 17 Aku murka karena kesalahan kelobaannya, Aku menghajar dia, menyembunyikan wajah-Ku dan murka, tetapi dengan murtad ia menempuh jalan yang dipilih hatinya. 18 Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan; juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung 19 Aku akan menciptakan puji-pujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang deka t– firman TUHAN –Aku akan menyembuhkan dia! 20 Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. 21 Tiada damai bagi orang-orang fasik itu, firman Allahku.

Yesaya 57:1-13 (klik untuk membaca) melanjutkan 56:9-12 (klik untuk membaca) mengenai penghakiman atas orang fasik, dan menggunakan gambaran penyembah berhala yang sering dipakai dalam tradisi kenabian, untuk menunjukkan bahwa orang-orang fasik ini semuanya adalah pelaku kejahatan dan perzinaan, mereka murtad dan bersalah kepada Allah, penghakiman serta hukuman Allah akan menimpa mereka. Lalu, Yes. 57:14-21 berubah nada penulisannya, dengan kata-kata penghiburan dan bimbingan mengumumkan penyembuhan dan perdamaian kepada orang-orang Israel, damai seperti itu bukan jenis perdamaian yang diperoleh dari kekayaan atau kekuatan militer yang kuat, tetapi adalah damai yang berasal dari kesembuhan karena dituntun oleh Allah menjauh dari dosa, damai ini adalah damai dari mengaku berdosa dan bertobat, syarat untuk mendapatkannya adalah merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Mulai dari ayat 14, kita melihat bahwa Kitab Suci menggunakan kata-kata penting dari Yesaya pertama dan kedua, ayat 14 menyatakan bahwa jalan harus dipersiapkan, yang tepat selaras dengan Yesaya kedua tentang Tuhan membuka jalan di padang belantara bagi umat-Nya (Yes. 40:3-5), jalan yang dimaksudkan bukan jalan geografi yang sebenarnya, tetapi jalan rohani, dan masalah umat Allah saat ini bukanlah masalah hutan belantara antara Babel dan Yerusalem, tetapi masalah batu sandungan dalam ayat 14, dengan demikian, membuka jalan yang dimaksud di sini adalah untuk menghilangkan batu sandungan, jalan ini merupakan perumpamaan dari jalan keselamatan (Yes. 62:10-12), sedangkan batu sandungan berarti merupakan perumpamaan dari kematian (Yeh. 7:19).

Ayat 15 menjelaskan bahwa TUHAN adalah Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, deskripsi ini secara langsung menggunakan deskripsi tentang Allah dalam Yesaya 6:1 yang menunjukkan bahwa TUHAN adalah yang Mahatinggi, tetapi Mahatinggi ini tidak terisolasi terpisah dari dunia, tetapi sebaliknya hidup bersama dengan orang-orang yang bertobat menyesal dan rendah hati, yaitu hidup bersama dengan orang-orang rendah, Mahatinggi bukanlah kesombongan diri sendiri, Mahatinggi-Nya ditunjukkan dalam cinta kasih-Nya kepada yang rendah, Ia rela menyegarkan jiwa orang-orang yang rendah hati. Orang-orang yang rendah hati ini adalah mereka yang mengakui dosa-dosa mereka dan bertobat, mereka tidak tinggi di dalam hati, karena mereka sangat memahami bahwa yang Mahatinggi adalah TUHAN, sehingga mereka merendahkan diri di hadapan Allah dan menganggap diri mereka rendah, orang yang demikian adalah yang benar-benar menganggap Tuhan sebagai Tuhan dan manusia sebagai manusia.

Hanya orang yang rendah hati yang dapat mengerti dan mengalami penghiburan, bimbingan, dan penyembuhan dari Allah (ayat 18-19). Ini adalah janji dalam 2 Taw. 7:14, kata-kata penghiburan, bimbingan, dan penyembuhan adalah sama dengan kata-kata yang suka digunakan dalam Yesaya kedua. Dapat dilihat bahwa Yesaya ketiga mewarisi penggambaran- penggambaran dari Yesaya pertama dan kedua, dan memakai pesan-pesan dari masa lalu yang tidak lekang waktu itu untuk diaplikasikan di masa kini, sehingga pesan Yesaya menjadi kebenaran kehidupan kekal, berita kebenaran ini berseru kepada generasi baru Israel agar saat mereka pulang kembali ke Yerusalem dengan kerendahan hati, dengan demikian barulah mereka dapat mengalami kedamaian dan penyembuhan sejati.

Renungkan:
Ayat 20-21 menunjukkan bahwa orang fasik tidak bisa mendapatkan damai, orang-orang ini tidak memiliki kerendahan hati, tingginya mereka mencegah mereka untuk hidup bersama dengan Yang Mahatinggi yang sesungguhnya, Tuhan. Hati mereka tidak mendapatkan perdamaian, maka ada damai atau tidak adalah tergantung hati diri sendiri rendah atau tinggi. Apakah ada sesuatu yang tinggi dalam hidup Anda yang sepatutnya diletakkan? Bagaimana seseorang dapat menganggap bahwa ia rendah di hadapan Allah dan menghidupi kerendahan hati yang sejati, sehingga ada kedamaian sejati?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 6:22-27

「Imam dan Memberkati」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 6:22-27 [ITB])
22 TUHAN berfirman kepada Musa: 23 Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka:
24 TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
25 TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
26 TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
27 Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.

Paragraf ini menuliskan berkat dan doa imam dalam gaya sastra puisi, dengan kata-kata yang anggun dan konten yang indah, dan merupakan karya Perjanjian Lama yang luar biasa.

Menurut teks Ibrani asli, kalimat pertama memiliki tiga kata dengan total dua belas suku kata, kalimat kedua memiliki lima kata dengan total empat belas suku kata, kalimat ketiga memiliki tujuh kata dengan total enam belas suku kata. Jika tidak menghitung nama suci TUHAN Yahweh (4 suku kata), dua belas kata yang tersisa persis merupakan simbol kedua belas suku Israel. Dan pengulangan Yahweh tiga kali adalah untuk menekankan bahwa TUHAN (Yahweh) adalah sumber dari semua berkat Israel.

Seiring bertambahnya kata-kata, demikian pula makin melimpah isi berkat. Subjek dari setiap kalimat adalah TUHAN (Yahweh), dan semuanya memiliki dua kata kerja, kata kerja kedua memperluas arti dari kata kerja pertama: berkat membawa perlindungan, terang sinar membawa kasih karunia, dan menghadapkan wajah membawa damai sejahtera.

Kalimat pertama (ayat 24), TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau, menetapkan nada indah bagi keseluruhan berkat. TUHAN memberkati orang, biasanya bisa termasuk anak-anak, kecukupan, tanah, kesehatan, tetapi yang lebih penting kehadiran dan perlindungan-Nya.

Kalimat kedua (ayat 25), TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia, menggambarkan TUHAN sebagai cahaya. Dia selalu memperlakukan Umat-nya dengan senyum sebagai jaminan kasih karunia bagi mereka.

Kalimat ketiga (ayat 26), TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera kalimat berkat diakhiri secara sempurna dengan kata damai sejahtera (šālôm), tidak hanya secara pasif terhindarkan dari bencana, tiada perang, tetapi juga bersifat aktif harmonis dan baik lengkap, dan tenteram. Semoga TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu secara harfiah semoga Tuhan mengangkat wajahnya mengarah kepadamu, dibandingkan dengan ayat 25 TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya yang berarti bahwa TUHAN seperti matahari terbit, menyinari umat-Nya, dan secara metaforis merujuk pada kebaikan kepedulian-Nya.

Kalimat terakhir (ayat 27), … maka Aku akan memberkati mereka, kata Aku adalah penekanan, terlebih menambahkan bahwa jaminan itu diberikan TUHAN oleh diri-Nya sendiri secara pribadi.

Renungkan:

  1. Mazmur 67 mengutip berkat imam besar dalam paragraf ini, selangkah lebih maju mengembangkan gagasan misi ke seluruh bumi: supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa (Maz. 67:2). Keselamatan bukan hak monopoli orang Israel, orang-orang dari bangsa lain di dunia, juga menikmati berkat keselamatan.
  2. Banyak gereja masih menggunakan berkat imam ini, di akhir ibadah, menjadikan berkat yang dari zaman kuno ini tetap segar dan berharga di masa kini.
  3. Arti sebenarnya dari damai sejahtera hanya dapat sepenuhnya diungkapkan dalam Yesus Kristus. Dia menganugerahkan damai sejahtera, menyelesaikannya, dan menjadi kedamaian kita (Yohanes 14:27; Efesus 2:14-15).

Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 4:21-23

「Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus Menyertai Selalu」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 4:21-23 [ITB])
21 Sampaikanlah salamku kepada tiap-tiap orang kudus dalam Kristus Yesus. Salam kepadamu dari saudara-saudara, yang bersama-sama dengan aku. 22 Salam kepadamu dari segala orang kudus, khususnya dari mereka yang di istana Kaisar.
23 Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai rohmu!

Dalam tiga ayat terakhir dari surat ini, kata yang paling umum adalah salam. Dalam teks aslinya muncul tiga kali , walau di dalam terjemahan CUV ditambahkan sekali lagi untuk memperjelas adanya salam dari orang-orang di istana Kaisar. Salam yang pertama adalah dalam bentuk kalimat permintaan, berpesan agar pembaca menyampaikan salam kepada tiap-tiap orang kudus, ini mungkin salam dari Paulus sendiri tetapi karena ia tidak berada di antara mereka, sehingga meminta pembaca untuk menyampaikan salam dari dirinya. Terdapat tumpang tindih dalam salam kedua dan ketiga, saudara-saudara dan orang-orang kudus semestinya merujuk pada kelompok yang sama. Tujuan dari pengulangan tampaknya adalah untuk membawakan kelompok terakhir yang hendak memberikan salam, yaitu orang-orang di istana Kaisar. Oleh karena itu, ayat 21-22 menyatakan empat unit salam kepada orang Filipi.

Kata salam pada dasarnya adalah apa yang dikatakan orang ketika mereka bertemu atau pergi berpisah, dalam terjemahan Yunani Perjanjian Lama, kata itu hanya muncul dalam Keluaran 18:7 Lalu keluarlah Musa menyongsong mertuanya itu, sujudlah ia kepadanya dan menciumnya; mereka menanyakan keselamatan masing-masing, lalu masuk ke dalam kemah. Apa yang diungkapkan dalam bahasa Ibrani adalah saling bertanya keadaan damai sejahtera satu sama lain.

Salam pertama diungkapkan dalam nada permintaan. Penggunaan semacam ini paling sering muncul di akhir Surat Roma, yakni meminta pembaca untuk menyampaikan salam Paulus kepada orang-orang percaya setempat, dan yang di sini seharusnya juga merupakan penggunaan yang sama.

Salam pertama adalah dari Paulus, tetapi karena ia dipenjarakan, untuk sementara dia tidak bisa pergi ke Filipi, dan hanya bisa meminta pembaca untuk menyampaikan isi hatinya. Meskipun isi surat Filipi terutama ditujukan kepada para pemimpin gereja, dan di awal surat secara khusus disebutkan para penilik jemaat dan diaken, Paulus tidak mengabaikan orang-orang percaya lainnya, jadi ia meminta para pembaca untuk menyampaikan salam dari dirinya kepada mereka.

Salam kedua dan ketiga terjadi pengulangan, tetapi ada perbedaan. Salam kedua adalah datang dari saudara-saudara yang bersama-sama dengan Paulus, secara khusus menekankan tempat atau relasi, yang seharusnya mencakup rekan kerja Paulus seperti Timotius, Lukas, Tikhikus, dan Aristarkhus. Salam ketiga adalah dari orang-orang kudus secara lebih luas, meskipun tidak disebutkan tempat lokasi mereka, diyakini bahwa itu merujuk kepada orang-orang percaya di Roma, walau berada di tempat yang berbeda, namun di dalam Tuhan adalah satu, saling terhubung.

Kelompok terakhir yang mengirim salam berasal dari keluarga Kaisar. Secara teoretis, istilah ini dapat merujuk pada anggota keluarga kerajaan di Roma, tetapi dalam sejarah, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pada periode awal ini ada orang-orang tingkat tinggi dari rezim Romawi yang menjadi orang percaya. Penjelasan yang lebih mungkin adalah garnisun di Roma, pegawai negeri, atau budak yang bertugas di istana. Karena Filipi adalah kota kolonial, mungkin ada beberapa orang Filipi dalam kelompok yang di istana Kaisar ini.

Dari empat salam ini, kita dapat melihat bahwa Paulus sangat mementingkan hubungan antara orang-orang percaya. Meskipun mereka tidak dapat bertemu di tempat yang sama, mereka terhubung satu sama lain di dalam Kristus.

Akhirnya, Paulus mengakhiri pesan dari suratnya dengan ucapan berkat yang sederhana yakni di dalam Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, tepat seperti di awal surat, Paulus juga menggunakan kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kedamaian sebagai fokus ia berbagi dengan mereka.

Renungkan:

Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, dapatkah kita mengubah kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan damai sejahtera yang Dia anugerahkan kepada kita menjadi berkat bagi orang lain?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.