Tag Archives: Iman Komunitas

2 Korintus 4:7-15

「Harta dalam bejana tanah liat」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 4:7-15 [ITB])
7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.
12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. 13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: 「Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata」, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. 14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.
15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

Ayat 4:7 melanjutkan pembahasan teks sebelumnya (ayat ini diawali dengan kata sambung δὲ, dapat diterjemahkan sebagai tapi atau maka), di sini Paulus menegaskan bahwa Injil kemuliaan Kristus dapat membantu orang percaya menghadapi tantangan hidup dan segala macam kesulitan. Paulus menggunakan analogi lain untuk menunjukkan hubungan dekat dan kontras yang kuat antara Injil dan pemberita Injil harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat. Bejana tanah liat adalah wadah tidak berharga, terbuat dari bahan biasa (tanah liat), di sini Paulus gunakan untuk melambangkan sifat kerapuhan, murahnya, dan mudah tergantikan dari manusia. Jika di teks sebelumnya mengingatkan pembaca bahwa manusia memiliki gambar rupa Allah, di sini mengingatkan bahwa Allah menggunakan debu di tanah untuk menciptakan manusia, sehingga Kejadian 1-2 merupakan latar belakang 2 Kor. 4:6-7. Dari analogi ini, dapat dilihat bahwa Paulus sangat memahami bahwa manusia hanyalah bejana yang sangat biasa, tapi itu hanya karena kemurahan Allah saja maka bejana ini menjadi berharga, dapat digunakan menyatakan kuasa dan kemuliaan Allah. Rom 9:22 menyebutkan bahwa selain itu, beberapa wadah digunakan untuk menyatakan murka Allah, dan disiapkan untuk kehancuran. Bagaimanapun, manusia itu rapuh hanya, bejana biasa saja, selalu dapat kapan saja digunakan oleh Allah, juga dapat kapan saja diganti setiap saat. Dengan demikian, apa yang bisa seseorang megahkan di hadapan Allah dan manusia lain? Dapat dilihat bahwa Paulus menggunakan bejana tanah liat untuk membantah mereka yang mempertanyakan kualifikasinya sebagai rasul, maksudnya kira-kira: Ya, saya hanya orang yang rapuh dan biasa, dan saya tidak layak untuk melayani Tuhan yang mulia, apalagi ingin menjadi rasul Yesus Kristus. Namun, apakah Anda lebih baik dari saya?

Jadi bagaimana bejana yang rapuh dan biasa seperti itu dapat menyatakan kemuliaan dan kuasa Allah? Jawabannya terletak pada harta. Adapun analogi harta, para peneliti memiliki banyak pendapat dan diskusi. Menurut teks sebelum dan sesudahnya, kata harta ini harus dikaitkan dengan kekuatan besar Allah — peran harta adalah untuk menunjukkan dan menyatakan bahwa kekuatan besar yang melampaui segalanya ini berasal dari Allah, dan bukan berasal dari kita (4:7b). Topik berasal dari Allah muncul berulang di atas (2:17; 3:5), menunjukkan bahwa ini adalah fokus Paulus menjawab sikap orang-orang yang mempertanyakan dirinya. Paulus menekankan, ia dan tim misionarisnya mampu berkeliling memberitakan Injil kemuliaan Kristus, dan melihat pada diri orang-orang percaya di berbagai tempat memiliki buah yang baik, semuanya adalah rahmat kemurahan dan kekuatan yang melimpah-limpah dari Allah. Dengan demikian, harta adalah mengacu pada Injil Yesus Kristus, tujuan Injil adalah agar manusia percaya kepada Tuhan yang memberikan pembenaran dan kemerdekaan, sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan (3:17)

Dalam diskusi yang kompleks ini, pembaca mungkin menyadari bahwa harta lebih seperti paket atau set makanan, tidak sekadar mengacu pada hal tertentu. Injil berisi hal-hal yang sangat kaya berlimpah-limpah, di teks sebelumnya Paulus secara khusus menyebutkan bahwa seseorang setelah menerima Roh Kudus maka ia diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (3:18), dalam teks selanjutnya dikemukakan bahwa mereka yang dipersatukan dengan Kristus tidak hanya serupa dengan gambar-Nya (misalnya, tidak berlaku licik), tetapi juga dalam pengalaman hidup juga serupa Tuhan. Setelah bersatu dengan Tuhan, kehidupan manusia bisa memancarkan aroma kematian Kristus dan kebangkitan Kristus (2:14).

Dengan berdasarkan kekuatan Allah (yang membangkitkan orang dari kematian, hidup mendapat kemerdekaan dan diubahkan), tidak peduli seberapa lemah dan tidak mampunya seseorang, ia dapat menahan semua badai dan menghadapi kesulitan: kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa (4:8-9) Tidak hanya demikian, setelah bersatu dengan Tuhan, penderitaan manusia dapat memancarkan kekuatan kuasa yang menyelamatkan dan menghidupkan orang: Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini(4:10-11) Di mata manusia, penderitaan tidak memiliki sisi positif, apa yang nampak hanya sifat menghancurkan hidup, membuat orang tertekan, membuat orang terjerembap di tanah. Namun, pada diri Yesus Kristus, orang percaya dapat melihat bahwa penderitaan justru adalah kebangkitan, prasyarat penggenapan karya keselamatan. Kristus bersedia untuk menanggung penderitaan, tujuannya adalah untuk menyelamatkan dunia, agar di dalam diri-Nya orang-orang mendapatkan kemerdekaan dan kehidupan yang berkelimpahan, berdasarkan ini, maka orang Kristen karena Tuhan akan menderita segala macam penderitaan dan penganiayaan, pada akhirnya akan membawa manfaat bagi kehidupan orang lain, setidaknya dengan pengalaman serupa dapat menghibur orang, menguatkan saudara-saudari (1:4-7). Memang murni penderitaan saja tidak ada arti positif, orang Kristen tidak perlu mengambil inisiatif sengaja mencari pengalaman penderitaan, namun, pengalaman penderitaan yang timbul karena demi Tuhan, di dalam kuasa Allah dapat membangun orang lain. Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah(4:15) Fungsi utama bejana tanah liat adalah agar orang untuk melihat betapa berharganya dan indahnya harta itu, maka jika hiasan dekorasi bejana tanah liat menutupi cahaya harta itu sendiri, itu adalah hal yang tidak sepatutnya.

Paulus percaya pada semua ini, sehingga dia mengajarkannya kepada orang (4:13). Ya, semua yang disebutkan di atas harus ditegaskan dengan iman, dan hanya dapat diterima dengan iman. Hanya karena iman saja (sola fide)! Pemberita Injil menderita adalah agar orang yang mendengar firman bisa mendapat faedah, ini sulit dicerna dan dipahami orang yang tidak beriman. Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian perlu diterima dengan iman.Iman memiliki objektivitas tertentu, ditegaskan oleh iman komunitas. Bagi Paulus, iman yang ia miliki dan iman orang percaya di Korintus, memiliki roh yang sama (having the same spirt of faith bisa juga berarti memiliki iman yang sama yang berasal dari satu Roh yang sama). Maka semua yang Paulus bicarakan seharusnya dapat mereka pahami, akui dan mereka terima. Satu roh satu pikiran adalah dasar dari iman, juga menjadi tolok ukur yang dipakai rasul untuk menentukan asli tidaknya. Iman bersama Paulus dan orang percaya Korintus, adalah adalah dasar pembelaan yang paling kuat dan objektif.

Renungkan:
Orang Kristen perlu memiliki perangkat teologis untuk membantu mereka menghadapi kesulitan. Pengingat dan ajaran apa yang Paulus berikan dalam perikop ini? Wawasan teologis macam apakah harta dalam bejana tanah liat, dan apa yang disampaikannya kepada kita tentang Allah, Injil, dan iman? Dalam penderitaan, apakah saya memiliki iman yang sama?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 3:17-19

「Teladan dan Peringatan」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 3:17-19 [ITB])
17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. 18 Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. 19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.

Dalam Filipi pasal 3, Paulus lebih panjang menggambarkan perjalanan rohaninya. Di bagian penutup, dia dengan jelas menyatakan tujuan dari deskripsi ini. Dia menuliskan kesaksiannya agar pembaca mengikuti teladannya.

Ayat 17 dalam ITB ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu, dalam CUV dan beberapa terjemahan Inggris menampakkan makna bersama-sama (be followers together of me atau Join together in imitating me), tetapi beberapa terjemahan bahasa Inggris tidak mengekspresikan makna ini (sedangkan). Dalam terjemahan literal dari bahasa aslinya, adalah menghendaki pembaca menjadi orang yang bersama mengikuti teladan Paulus. Konsep kelompok komunitas ini lebih jelas diungkapkan dalam kalimat berikutnya. Karena Paulus ingin menunjukkan bahwa para pembaca Filipi bukan satu-satunya mengikuti teladan Paulus, sebelum mereka, orang lain telah menerima ajaran yang sama dan belajar teladan Paulus. Jadi pembaca tidak hanya mengikuti Paulus satu orang, tetapi berjalan di antara kelompok komunitas murid. Meskipun iman kepada Yesus harus dimulai dengan keputusan pribadi, namun pertumbuhan di jalan iman harus terjadi dalam komunitas. Melepaskan diri dari persekutuan komunitas gereja, kita tidak dapat mempraktikkan (merealisasikan) pertumbuhan iman rohani, karena hubungan kita dengan Tuhan harus digunakan sebagai aplikasi kehidupan dalam hubungan kita dengan orang lain.

Memiliki orang yang tepat untuk dijadikan teladan dan memiliki komunitas untuk bersama meniru teladan adalah kunci untuk menjaga kita tetap di jalan yang benar. Dalam Fil. 3:18-19, Paulus dengan keras memperingatkan para pembaca bahwa agar tidak mengikuti contoh yang buruk. Paulus menunjukkan bahwa di masa lalu peringatan ini telah berkali-kali disampaikan kepada pembacanya, walau kita tidak tahu di mana Paulus mengatakan kata-kata ini, ini bukan intinya, tetapi dia ingin menunjukkan pentingnya peringatan ini, bahkan sekarang sangat mendesak dan bahkan dengan air mata memperingatkan mereka.

Fokus dari peringatan Paulus ini adalah bahwa banyak orang hidup dan bertindak menentang salib Kristus. Paulus mengingatkan kita bahwa cara hidup orang-orang ini adalah memusuhi Injil Yesus Kristus. Ini mungkin menyiratkan bahwa beberapa orang tampaknya menerima iman Injil, tetapi itu tidak mewujudkannya menjadi nyata dalam kehidupan, ini adalah isi dari perintah di awal ayat 27, bahwa orang percaya harus hidup sepadan dengan Injil. Kehidupan persekutuan yang Alkitabiah memiliki pra-syarat yakni orang percaya bersama-sama menaati ajaran Alkitab, bersama-sama belajar untuk tumbuh dalam kehidupan rohani dan menghilangkan pola-pola hidup yang tidak sesuai dengan Injil.

Renungkan:

Dalam sejarah gereja selama lebih dari dua ribu tahun, meskipun ada banyak contoh kegagalan, ada juga banyak teladan yang baik dari kepatuhan yang setia kepada iman Injil dan berjalan di jalan kesetiaan mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Kita hendaknya menjadi bagian dari mereka.


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 2:17-18

「Bersukacita Bersama-sama」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 2:17-18 [ITB])
17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. 18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.

Dalam dua ayat sederhana ini, Paulus sepenuhnya mengungkapkan sikap mentalitasnya dalam melayani. Ini adalah salah satu dari serangkaian contoh teladannya di pasal 2. Tindakan dan sikapnya sendiri memungkinkan kita untuk memahami lebih dalam apa artinya memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, dan apa itu pelayanan dalam kerendahan hati yang sejati.

Dalam ayat-ayat di atas, Paulus menyatakan keyakinannya terhadap orang-orang percaya di Filipi, dan ia percaya bahwa mereka akan melakukan yang terbaik di jalan iman dan akan terus bertumbuh. Dia bukan karena melihat atau mengetahui bagaimana penampilan jemaat Filipi sehingga membuat tanggapan tersebut, karena jikalau demikian maka di paragraf berikutnya ia tidak perlu mengutus Timotius pergi kepada mereka untuk melihat kondisi mereka. Tetapi karena ia percaya dengan iman bahwa Allah akan sesuai dengan kesetiaan-Nya sendiri, membuat umat-Nya tumbuh dalam Yesus Kristus dan menghasilkan buah yang baik.

Di sini Paulus menunjukkan bahwa ia rela membayar harga atas iman mereka, jika iman mereka adalah suatu persembahan korban bagi Allah dan Paulus sendiri seperti anggur korban curahan yang dicurahkan di atasnya, yang dalam waktu sangat singkat akan habis, namun dia akan sangat puas dengan sukacita.

Dalam dua ayat ini, Paulus empat kali mengungkapkan pesan sukacita. Dua adalah deskripsi naratif tentang sikapnya sendiri, dan dua lainnya adalah perintahnya kepada jemaat Filipi. Baik dalam narasi atau perintah, ia menggunakan dua kata kerja yang terkait, di satu sisi menunjukkan kegembiraan seseorang, dan di sisi lain untuk menunjukkan bahwa kegembiraan harus dimiliki bersama, dan dinikmati bersama. Jika dibicarakan secara ketatnya, sukacita adalah sikap pribadi seseorang sendiri, yang berarti respons diri seseorang atas situasi ia berada, tetapi dalam komunitas iman, sukacita sejati harus merupakan pengalaman yang dimiliki dan dinikmati dalam kelompok.

Alasan untuk sukacita yang diungkapkan di sini bukanlah hasil yang ada di eksternal luar, jadi sukacita ini tidak dibangun atau didasarkan pada pencapaian atau hasil yang dapat terlihat, tetapi berdasarkan pada iman penuh kepastian bahwa Allah ada di antara manusia, dan Ia akan terus menggenapkan kehendak yang berkenan kepada-Nya. Untuk memiliki sukacita dalam hidup kita, kita juga harus mengandalkan iman yang demikian. Karena di dunia ini, hasil yang dangkal di permukaan kulit seringkali berumur pendek dan tidak dapat dipertahankan. Sukacita yang mereka bawa hanya dapat kesenangan sementara dan dangkal di permukaan kulit, setelah sukacita yang demikian berlalu, harus kembali menghadapi kenyataan yang kejam. Hanya sukacita yang keluar dari iman, adalah yang abadi dan layak untuk saling berbagi.

Renungkan:

Apa dasar dari sukacita kita? Apakah kita mengubah sukacita kita menjadi sukacita yang berbagi dinikmati di dalam komunitas?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 6:27-38

「Pengampunan! Percayakah Kita?」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 6:27-38 [ITB])
27「Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; 28mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
29Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
30Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
31Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
32Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. 33Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
34Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
35Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
36Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.」
37「Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. 38Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.」

Kemarin kita baru saja merenungkan tentang sifat khusus komunitas baru, yakni ambil bagian dalam penderitaan Kristus Yesus, dikarenakan prinsip bahwa murid tidak mampu melebihi guru, semua yang mengikut Yesus Sang Anak Manusia akhir zaman, semuanya akan menghadapi berbagai macam aniaya, ini adalah hal tidak bisa dihindari. Orang-orang percaya sepatutnya baik-baik mempersiapkan akan datangnya serangan yang demikian ini.

Perikop hari ini, lebih lanjut menjelaskan kembali ini sebenarnya merupakan hal yang bagaimana.

Terlebih dahulu, Yesus mengajarkan kebenaran kepada kita agar hendaknya memberkati orang lain. Makna memberkati ini bukan ditujukan bagi orang yang tidak mengerti kebenaran, memberkati orang luar yang tidak mengenal Yesus, tetapi berkat yang hendak ditujukan bagi orang-orang yang sepertinya mengerti kebenaran, lingkaran orang-orang yang sangat mengenal keagamaan, untuk memberkati mereka bagi aniaya yang mereka adakan. Maka seperti Yesus di hari Sabat menyembuhkan penyakit, tidak peduli bagaimana Ia disalahpahami, bahkan para pemimpin keagamaan berunding hendak bagaimana memperlakukan Dia, Yesus yang lahir sebagai Anak Manusia ternyata tidak marah spatah katapun, malah sebaliknya mengajarkan kita hendaknya memberkati orang yang mengutuk kita, hendaknya berdoa bagi orang menghina kita, karena mereka sungguh tidak mengerti apa yang mereka perbuat, maka Yesus memberitahu semua orang yang mendengarkan Injil-Nya hendaklah mengasihi musuh, memperlakukan dengan kebaikan orang yang membenci kamu.

Yesus di Luk. 6:32 dengan lebih detil mengatakan, orang mengasihi orang yang dikasihi dirinya sendiri, bukankah juga sama seperti orang berdosa mengasihi orang yang dikasihi dirinya sendiri? Maka Yesus sungguh menantang kita hendaknya memperlakukan dengan kebaikan kepada orang yang kita benci, dengan demikian kita barulah merupakan anak Allah yang sungguh benar. Karena anugerah keselamatan pada sendirinya adalah hendak membawakan pengampunan, yang merupakan belas kasih Bapa di Sorga, tidak peduli apa yang telah dilakukan orang lain, apakah memenangkan kembali penghargaan dan tepuk tangan kita, kita sebagai anak-anak Allah, semuanya adalah mengikuti belas kasih Bapa di Sorga untuk memperlakukan orang dengan kebaikan.

Tepat karena demikian, kita tidak boleh menghakimi dan memutuskan dosa orang lain, karena Bapa penuh belas kasih yang dapat menghakimi dan memutuskan dosa orang lain, maka saat kita mengampuni orang, maka akan diampuni Bapa, ini juga merupakan kebenaran doa Bapa kami, bukan kita terlebih dahulu diampuni orang barulah kita mengampuni, tetapi saat kita masih dalam aniaya, masih menderita luka, bersandar anugerah memilih untuk memakai pengampunan sebagai respon, sama seperti Bapa di Sorga dengan belas kasih memperlakukan orang.

Dapat dilihat bahwa menaati hukum Taurat adalah berkehendak membuat orang mendapatkan integritas moral ini, hukum Taurat Musa adalah mengajar orang memiliki belas kasih dan mengasihi, maka Yesus khusus terhadap pengenalan orang terhadap hukum Taurat yang melenceng pada zaman itu, menjelaskan pemahaman ulang hukum Taurat Musa (redefinition of Mosaic law), yakni hendak mengkoreksi ulang hati yang mula-mula ini. Di antara orang dengan orang tidak lagi dipenuhi dengan pemikiran 「mata ganti mata」「gigi ganti gigi」, tetapi dalam 「balas dendam」 yang boleh dilakuan paling banyak adalah mengembalikan sebesar hutangnya kepada pihak bersangkutan, dan bukan memakai alasan ini untuk menyudutkan orang pada kematian. Pengampunan dan belas kasih barulah merupakan inti pengajaran Allah.

Renungkan: keindahan Gereja dari dahulu semuanya bukan sibuk ke sana ke sini membawakan apa yang menguntungkan bagi diri sendiri, tetapi meletakkan belas kasih Bapa di Sorga di antara kumpulan orang, mungkin dalam perlombaan kehidupan yang kejam, kita sudah sulit mengatakan apakah pengampunan dan belas kasih itu, tetapi kesimpulan perikop ini justru adalah bahwa janji Allah kepada kita suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu (Luk. 6:38). Apakah kita percaya janji ini? Ini merupakan sifat khusus iman komunitas baru, Gereja! Apakah kita percaya?

Filemon 22-25

「Ucapan Berkat Bagi Filemon」

Sebuah bagian akhir surat dapat mengandung inti-inti iman yang penting. Sebuah pesan Natal.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filemon ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Filemon 1:22-25 [ITB])
22Dalam pada itu bersedialah juga memberi tumpangan kepadaku, karena aku harap oleh doamu aku akan dikembalikan kepadamu.
23Salam kepadamu dari Epafras, temanku sepenjara karena Kristus Yesus,
24dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku.
25Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kamu!

Dari ayat 22-25, kita melihat bagian akhir surat, dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah rencana perjalanan Paulus (ayat 22). Di ayat 22 Paulus meminta Filemon mempersiapkan tempat tinggal baginya, ini menyatakan bahwa ia segera akan keluar dari penjara, dan akan memulai perjalanan. Paulus secara mendalam percaya bahwa berdoa akan membawakan perubahan; yakni melalui doa orang percaya, setelah ia meninggalkan penjara, maka sudah bisa pergi menjenguk gereja (ayat 22 … oleh doamu …). Paulus percaya kuasa doa, ia meminta orang percaya berdoa bagi dirinya, mohon Allah membukakan pintu penginjilan baginya (Kol. 4:3). Karena itu, Paulus berharap segera pergi ke tempat Filemon, juga adalah demi penginjilan. (Paulus tiada henti bekerja adalah demi pekerjaan penginjilan)

Bagian kedua adalah menghantarkan salam (23-24 ayat). Paulus mewakili lima orang menghantarkan salam kepada Filemon dan gereja. Orang pertama adalah Epafras, yang demi Kristus dipenjarakan bersama-sama Paulus. Dari Kol. 1:7-8 dapat diketahui, ia adalah pendiri gereja Kolose. Orang kedua adalah Markus, ia adalah kemenakan Barnabas (Kol. 4:10), sekarang melayani Paulus. Orang ketiga adalah Aristarkhus, ia juga dipenjara bersama-sama dengan Paulus (Kol. 4: 14). Orang keempat adalah Demas, ia pernah mengikuti Paulus (Kol. 4: 11), namun sayang sekali kemudian hari ia telah pergi karena mengasihi dunia (2 Tim. 4:10). Orang paling akhir adalah Lukas. ia adalah seorang dokter (Kol. 4: 14), mulai dari perjalanan pengabaran Injil Paulus yang kedua kali, Lukas terus beserta sebagai rekan pelayanan. Sampai saat Paulus terakhir kali dipenjarakan, juga hanya ada Lukas di samping dia (2 Tim. 4: 11).

Dalam surat yang singkat pendek ini, kita melihat sifat penting iman dalam kelompok. Filemon berada di dalam komunitas gereja; sedangkan Paulus berada di penjara, walaupun sedemikian ia juga tidak sendirian, karena ada sekelompok orang percaya yang mengasihi Tuhan yang menemani Paulus. Setelah Onesimus percaya Tuhan, budak yang seorang diri sendirian dalam pelarian, segera dipeluk oleh komunitas kasih. Saat Paulus memberikan dorongan agar ia kembali kepada tuannya, ia menurut pergi. Dari diri Onesimus, kita melihat Onesimus tidak berjalan seorang diri kesepian, ia memiliki Roh Kudus yang tinggal di dalam, orang kudus yang menemani, dan dukungan gereja.

Bagian ketiga adalah ucapan berkat. Paulus memberikan Filemon ucapan berkat yang termasuk pendek 「Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kamu」 (ayat 25), namun adalah merespon berkat di bagian awal surat di ayat 3 (Filemon 1:3, 「Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu」). Surat ini dimulai dengan kasih karunia, juga berakhir dengan kasih karunia. Tepat seperti kita diselamatkan karena kasih karunia (Ef. 2:8), dan 「karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita」 (Rom. 6:23).

Surat Filemon membuat kita melihat satu lembar lukisan yang sangat indah, selembar cetak biru kehidupan gereja, satu piagam tentang mendapat kebebasan di dalam Kristus Tuhan.

Injil telah merubah hidup Onesimus, ia tidak perlu hidup dalam pelarian lagi, ia bisa dengan berani menghadapi kesalahan diri sendiri, juga rela menghadapi akibatnya.

Kasih Kristus telah mendorong Paulus, ia rela memohonkan kasih kemurahan rahmat seorang tuan bagi seorang saudara yang kecil, seorang yang tidak memiliki kuasa, yang tidak memiliki pengaruh.

Firman pendamaian telah dipercayakan kepada orang percaya, dibuat menjadi nyata di dalam gereja dan di dunia. Semua ini adalah kasih karunia.

Renungkan: (1) Bersyukur bagi anggota tubuh yang menemani atau menjaga engkau; (2) Pikirkan apa pelajaran rohani yang diberikan surat Filemon kepada engkau; (3) Bersyukur kepada Allah bagi diri sendiri telah mendapatkan rahmat, juga mohon Tuhan membuat diri sendiri seumur hidup menjadi orang yang sadar telah menerima rahmat dan yang tahu membalas budi.