Pendahuluan: Ibadah penuh sukacita
Apakah bapa ibu pernah mengalami gejala-gejala ibadah yang dingin, muram tidak ada semangat? Datang terlambat, pulang sebelum selesai?
Anda pilih yang mana, ibadah penuh sukacita? Atau lebih suka ibadah yang lesu, muram dan dingin?
Kita rata-rata pasti pilih ibadah penuh sukacita.
Ibadah yang penuh sukacita itu bagaimana sih? Ini penting untuk kita renungkan.
Mari kita mempelajari apa yang dikatakan Alkitab.
Pembacaan Ayat Mazmur 100
(Slide 7) Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
(Slide 8) Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.
Secara garis besar kita bisa melihat bahwa Mazmur 100 memberikan kita suatu gambaran tentang “Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai”.
(Slide 9) Ibadah yang penuh sukacita, harus jelas ditujukan kepada siapa dan mengapa
Bersorak-sorak harus jelas apa penyebab dan tujuannya. Misal saya tiba-tiba tertawa dan bersorak-sorak tanpa kejelasan, itu aneh.
(Slide 10) Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, harus dengan jelas tertuju kepada TUHAN
(Slide 11) Dari ayat 1-2 berulang “Bersorak-soraklah” bagi siapa? “Bagi TUHAN”. Berikutnya “Beribadahlah” kepada siapa? Kepada “TUHAN”. Dan “datanglah” ke mana? “ke hadapan-Nya”
Pengulangan tiga kali ini menunjukkan ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai haruslah hanya satu fokus tertuju kepada TUHAN dan untuk TUHAN saja.
Aplikasi: Saat bapa ibu datang ke ibadah ini apakah bapa ibu jelas tertuju kepada siapa kita menyembah?
(Slide 12) Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, fokus utama tertuju kepada TUHAN, sebab Dialah yang menjadikan kita
Ayat 3 memperingatkan bahwa penyembah dalam ibadah harus tahu dan mengingat-ingat status TUHAN yang kita sembah bahwa “Tuhanlah Allah” dan “Dialah yang menjadikan kita dan Dialah Tuan pemilik kita”
Karena status TUHAN adalah Raja Tuan pemilik alam semesta, maka sorak sorai yang tertuju kepada-Nya harus keluar dari sikap rendah hati dari penyembah yang sadar bahwa dirinya adalah manusia ciptaan-Nya, sehingga ibadah merupakan penyembahan yang menaikkan kekaguman atas kebesaran Allah, keagungan-Nya, bersukacita “Oh betapa mulianya Engkau ya Tuhan.”
Sering kali dalam ibadah kita diajak “ mari kita berikan tepuk tangan untuk Tuhan”, namun perlu hati-hati, bukan tidak boleh tepuk tangan, tetapi kita perlu sesadar-sadarnya dalam status apa kita memberikan tepuk tangan kepada Tuhan?
Apakah kita bertepuk-tangan memberikan pujian kepada Allah, pada dasarnya kita memberikan penilaian “Allah, Kamu sudah melakukan dengan bagus.” Seperti juri bertepuk-tangan menilai peserta Indonesian Idol, “kamu sudah bernyanyi dengan bagus”.
Tetapi siapakah diri kita manusia ciptaan berani menilai Allah Sang Pencipta?
Saat Allah selesai menciptakan alam semesta dan manusia, Allah melihat segala yang diciptakan-Nya dan memberi penilaian “sungguh amat baik”, hanya Dia yang berhak memberikan penilaian.
Hati-hati saat kita salah menempatkan diri tidak sebagai ciptaan. Kita berikan tepuk tangan “Oh Aku bersukacita sebab Allah sungguh amat baik, sudah memberkati saya sesuai harapan aku”, seperti tepuk tangan yang ditujukan kepada team sepak bola yang memasukkan gol ke gawang sesuai keinginan kita.
Kita tidak bersorak-sorai sukacita, ibadah dengan lesu karena Allah tidak melakukan gol ke gawang yang kita mau.
Ibadah yang demikian tidak meninggikan Allah, menjadi penyembahan berhala.
Ibadah penuh sukacita jika kita datang menyembah dengan kerendahan hati, tahu diri, tahu kita adalah manusia ciptaan-Nya. Dengan demikian barulah ada sukacita sejati yakni dalam sukacita Allah yang berkenan.
Akan ada kelegaan, beban yang berat dapat diserahkan kepada TUHAN yang menciptakan kita. Sering kali kita tidak sadar diri kita sebagai ciptaan, sehingga menumpuk semua beban berat di pundak kita sendiri dan kehilangan sukacita.
Mari bertanya pada diri kita masing-masing, apakah saya datang ibadah sudah menempatkan Allah sebagai Allah, Tuan pemilik saya, dan saya menempatkan diri sebagai manusia ciptaan?
(Slide 13) Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, yang tertuju kepada TUHAN, tidak lupa bahwa kita adalah umat milik-Nya
Ayat 3 “Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita, dan punya Dialah kita” lalu disambung “umat-Nya”
Pemazmur lebih lanjut mengingatkan status diri kita yakni umat-Nya.
Kata-kata “punya Dialah … umat-Nya” menunjukkan suatu relasi perjanjian kovenan yang khusus dianugerahkan Allah kepada kita umat-Nya. Merupakan keterlibatan pribadi yang sangat intim dan erat dari Allah, dengan sumpah perjanjian mengikat diri-Nya kepada umat-Nya.
Seperti yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, kovenan perjanjian Allah dengan umat-Nya seperti sebuah relasi pernikahan. Hubungan ini merupakan sebuah komitmen kasih memberikan diri dalam sebuah sumpah, seperti suami dan istri, sangat erat dan pribadi dalam cinta kasih yang besar.
Ibadah penuh sukacita adalah penyembahan penuh komitmen menjaga hubungan perjanjian yang sangat intim antara Allah dan kita sebagai umat-Nya.
(Slide 14) Jika kita memandang ibadah sebagai acara barter, jual rajin ibadah untuk membeli berkat Allah, jika memberi persembahan lebih banyak, untuk barter dengan berkat dari Allah yang lebih besar. Ibadah yang demikian telah mengabaikan kasih Allah, seperti halnya jika suami istri tidak berdasarkan kasih, tetapi jual beli, sukacita itu lenyap.
Mari renungkan ibadah saya hari ini dalam relasi yang bagaimana dengan Allah?
Apakah Ibadah kita di atas dasar kasih yang murni, tulus tanpa motivasi kepentingan?
Seperti realisasi janji pernikahan, sukacita dalam kasih yang tidak dipengaruhi situasi sakit atau sehat, kasih yang tidak dipengaruhi ekonomi miskin atau kaya. Ada sukacita yang tulus dari dalam jiwa kita, puji syukur yang meluap dalam penyembahan kepada TUHAN.
(Slide 15) Imamat 26:11 memberi tahu kita bahwa berkat terbesar adalah TUHAN akan mendirikan kemah-Nya di antara umat-Nya. Kehadiran Allah merupakan berkat sukacita terbesar bagi umat Allah.
Ayat 2b “datanglah ke hadapan-Nya”, hadirat Allah dalam ibadah merupakan pusat dan bagian terpenting.
Sukacita perkenan Allah dicurahkan dalam ibadah umat Allah yang memusatkan perhatiannya pada kehadiran Allah, rindu datang menyembah 「di hadapan TUHAN」. Jika Idola kita adalah Allah, maka yang kita cari adalah sukacita penyembahan yang fokus pada perkenan sukacita Allah, ibadah dari kita di bawah menyembah 「naik ke atas」, berkenan ke 「hadapan hadirat Tuhan」.
Namun jika pentas yang megah atau pendeta yang menjadi sumber sukacita, maka pentas atau pendeta yang menjadi idola kita, itu membuat Allah bukan lagi idola kita, maka ibadah menjadi penyembahan berhala.
(Slide 16) Ibadah yang penuh sukacita, yang tertuju kepada TUHAN, sebab kita adalah kawanan domba gembalaan-Nya
Pemazmur mengingatkan status diri kita yang ketiga: adalah domba gembalaan-Nya.
Umat Allah adalah seperti domba, sifat domba itu dungu mudah tersesat. Oleh karena itu Tuhan sendiri turun tangan menggembalakan kita kawanan domba-Nya, Ia mengatakan “yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.”
Yesus adalah Sang Gembala yang dijanjikan Allah. Ketika Tuhan Yesus melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Kesediaan-Nya mengajarkan jalan-jalan kebenaran kepada umat-Nya, itu adalah sukacita domba-domba yang haus mengenal Yesus.
Tuhan kita Yesus Kristus yang baik datang memberikan nyawanya bagi domba-domba-Nya.
Ini adalah khabar sukacita yang terbesar, sayang banyak orang mulai ngantuk dan tertidur begitu khotbah ngomong soal Yesus Kristus.
Paulus mengatakan hendaknya kita memuji Allah Bapa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita. Sehingga di dalam Yesus Kristus dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa yang menyelamatkan kita dari kebinasaan kekal.
Kita domba-domba-Nya boleh tetap dijaga di dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Sehingga kita mendapatkan sukacita yang sempurna kekal.
(Slide 17) Mari kita renungkan, kata “punya Dialah kita … kawanan domba gembalaan-Nya” menekankan “punya Dialah”. Ini berbeda dengan “ia gembala punyaku”, “ia Allah ku”, hati-hati sering kali merupakan pemahaman yang salah, allah adalah milik aku, aku adalah pemilik, aku adalah tuan dari gembala, aku yang harus dipuaskan.
Puji syukur bahwa Ia adalah Tuan pemilik kita. Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, yang tertuju kepada TUHAN, ibadah yang bersyukur bahwa kita adalah kawanan domba gembalaan-Nya.
Ibadah yang bersukacita karena bersama Allah untuk selama-lamanya
Ayat 5: kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. Apa yang Ia telah lakukan, dahulu, sekarang dan kelak, adalah tetap dalam kebaikan dan kasih yang tidak pernah akan berubah.
Ini adalah ibadah yang penuh pengharapan dan sumber kekuatan: Ia tidak pernah meninggalkan kita. Tetapi Ia menuntut kesetiaan kita fokus kepada Dia.
Penutup
(Slide 18) Sukacita rohaniah dalam Ibadah bukan berasal dari kepuasan pengunjung ibadah, bukan sukacita customer adalah raja yang menilai apakah ia dipuaskan dan merasa nyaman.
Tetapi Allah adalah empunya ibadah. Sukacita kita datang dari sukacita Allah yang berkenan atas penyembahan kita.
Allah yang menilai penyembahan kita.
Sukacita perkenan Allah dalam ibadah berasal dari penyembahan yang setia pada kodrat diri kita sebagai manusia ciptaan milik Allah, datang ke hadirat Allah di dalam kesetiaan sebagai umat milik-Nya, yang mengakui diri adalah domba milik-Nya, mengakui diri yang dungu dan lemah yang rindu bersandar pada pada Sang Gembala, haus mendengarkan suara pengajaran Yesus Kristus Sang Gembala.
Dengan demikian kita terbebaskan dari ibadah penyembahan berhala.
Maka kita akan merasakan penyembahan yang berkenan kepada Allah yang di surga dan merasakan berkat sukacita yang dicurahkan dari surga.
Kata kuncinya: sukacita karena penuh rasa syukur.


