Tag Archives: Sukacita

Ibadah penuh sukacita

Pendahuluan: Ibadah penuh sukacita

Apakah bapa ibu pernah mengalami gejala-gejala ibadah yang dingin, muram tidak ada semangat? Datang terlambat, pulang sebelum selesai?

Anda pilih yang mana, ibadah penuh sukacita? Atau lebih suka ibadah yang lesu, muram dan dingin?

Kita rata-rata pasti pilih ibadah penuh sukacita.

Ibadah yang penuh sukacita itu bagaimana sih? Ini penting untuk kita renungkan.

Mari kita mempelajari apa yang dikatakan Alkitab.

Pembacaan Ayat Mazmur 100

(Slide 7) Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

(Slide 8) Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Secara garis besar kita bisa melihat bahwa Mazmur 100 memberikan kita suatu gambaran tentang “Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai”.

(Slide 9) Ibadah yang penuh sukacita, harus jelas ditujukan kepada siapa dan mengapa

Bersorak-sorak harus jelas apa penyebab dan tujuannya. Misal saya tiba-tiba tertawa dan bersorak-sorak tanpa kejelasan, itu aneh.

(Slide 10) Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, harus dengan jelas tertuju kepada TUHAN

(Slide 11) Dari ayat 1-2 berulang “Bersorak-soraklah” bagi siapa? “Bagi TUHAN”. Berikutnya “Beribadahlah” kepada siapa? Kepada “TUHAN”. Dan “datanglah” ke mana? “ke hadapan-Nya”

Pengulangan tiga kali ini menunjukkan ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai haruslah hanya satu fokus tertuju kepada TUHAN dan untuk TUHAN saja.

Aplikasi: Saat bapa ibu datang ke ibadah ini apakah bapa ibu jelas tertuju kepada siapa kita menyembah?

(Slide 12) Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, fokus utama tertuju kepada TUHAN, sebab Dialah yang menjadikan kita

Ayat 3 memperingatkan bahwa penyembah dalam ibadah harus tahu dan mengingat-ingat status TUHAN yang kita sembah bahwa “Tuhanlah Allah” dan “Dialah yang menjadikan kita dan Dialah Tuan pemilik kita”

Karena status TUHAN adalah Raja Tuan pemilik alam semesta, maka sorak sorai yang tertuju kepada-Nya harus keluar dari sikap rendah hati dari penyembah yang sadar bahwa dirinya adalah manusia ciptaan-Nya, sehingga ibadah merupakan penyembahan yang menaikkan kekaguman atas kebesaran Allah, keagungan-Nya, bersukacita “Oh betapa mulianya Engkau ya Tuhan.”

Sering kali dalam ibadah kita diajak “ mari kita berikan tepuk tangan untuk Tuhan”, namun perlu hati-hati, bukan tidak boleh tepuk tangan, tetapi kita perlu sesadar-sadarnya dalam status apa kita memberikan tepuk tangan kepada Tuhan?

Apakah kita bertepuk-tangan memberikan pujian kepada Allah, pada dasarnya kita memberikan penilaian “Allah, Kamu sudah melakukan dengan bagus.” Seperti juri bertepuk-tangan menilai peserta Indonesian Idol, “kamu sudah bernyanyi dengan bagus”.

Tetapi siapakah diri kita manusia ciptaan berani menilai Allah Sang Pencipta?

Saat Allah selesai menciptakan alam semesta dan manusia, Allah melihat segala yang diciptakan-Nya dan memberi penilaian “sungguh amat baik”, hanya Dia yang berhak memberikan penilaian.

Hati-hati saat kita salah menempatkan diri tidak sebagai ciptaan. Kita berikan tepuk tangan “Oh Aku bersukacita sebab Allah sungguh amat baik, sudah memberkati saya sesuai harapan aku”, seperti tepuk tangan yang ditujukan kepada team sepak bola yang memasukkan gol ke gawang sesuai keinginan kita.

Kita tidak bersorak-sorai sukacita, ibadah dengan lesu karena Allah tidak melakukan gol ke gawang yang kita mau.

Ibadah yang demikian tidak meninggikan Allah, menjadi penyembahan berhala.

Ibadah penuh sukacita jika kita datang menyembah dengan kerendahan hati, tahu diri, tahu kita adalah manusia ciptaan-Nya. Dengan demikian barulah ada sukacita sejati yakni dalam sukacita Allah yang berkenan.

Akan ada kelegaan, beban yang berat dapat diserahkan kepada TUHAN yang menciptakan kita. Sering kali kita tidak sadar diri kita sebagai ciptaan, sehingga menumpuk semua beban berat di pundak kita sendiri dan kehilangan sukacita.

Mari bertanya pada diri kita masing-masing, apakah saya datang ibadah sudah menempatkan Allah sebagai Allah, Tuan pemilik saya, dan saya menempatkan diri sebagai manusia ciptaan?

(Slide 13) Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, yang tertuju kepada TUHAN, tidak lupa bahwa kita adalah umat milik-Nya

Ayat 3 “Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita, dan punya Dialah kita” lalu disambung “umat-Nya”

Pemazmur lebih lanjut mengingatkan status diri kita yakni umat-Nya.

Kata-kata “punya Dialah … umat-Nya” menunjukkan suatu relasi perjanjian kovenan yang khusus dianugerahkan Allah kepada kita umat-Nya. Merupakan keterlibatan pribadi yang sangat intim dan erat dari Allah, dengan sumpah perjanjian mengikat diri-Nya kepada umat-Nya.

Seperti yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, kovenan perjanjian Allah dengan umat-Nya seperti sebuah relasi pernikahan. Hubungan ini merupakan sebuah komitmen kasih memberikan diri dalam sebuah sumpah, seperti suami dan istri, sangat erat dan pribadi dalam cinta kasih yang besar.

Ibadah penuh sukacita adalah penyembahan penuh komitmen menjaga hubungan perjanjian yang sangat intim antara Allah dan kita sebagai umat-Nya.

(Slide 14) Jika kita memandang ibadah sebagai acara barter, jual rajin ibadah untuk membeli berkat Allah, jika memberi persembahan lebih banyak, untuk barter dengan berkat dari Allah yang lebih besar. Ibadah yang demikian telah mengabaikan kasih Allah, seperti halnya jika suami istri tidak berdasarkan kasih, tetapi jual beli, sukacita itu lenyap.

Mari renungkan ibadah saya hari ini dalam relasi yang bagaimana dengan Allah?

Apakah Ibadah kita di atas dasar kasih yang murni, tulus tanpa motivasi kepentingan?

Seperti realisasi janji pernikahan, sukacita dalam kasih yang tidak dipengaruhi situasi sakit atau sehat, kasih yang tidak dipengaruhi ekonomi miskin atau kaya. Ada sukacita yang tulus dari dalam jiwa kita, puji syukur yang meluap dalam penyembahan kepada TUHAN.

(Slide 15) Imamat 26:11 memberi tahu kita bahwa berkat terbesar adalah TUHAN akan mendirikan kemah-Nya di antara umat-Nya. Kehadiran Allah merupakan berkat sukacita terbesar bagi umat Allah.

Ayat 2b “datanglah ke hadapan-Nya”, hadirat Allah dalam ibadah merupakan pusat dan bagian terpenting.

Sukacita perkenan Allah dicurahkan dalam ibadah umat Allah yang memusatkan perhatiannya pada kehadiran Allah, rindu datang menyembah 「di hadapan TUHAN」. Jika Idola kita adalah Allah, maka yang kita cari adalah sukacita penyembahan yang fokus pada perkenan sukacita Allah, ibadah dari kita di bawah menyembah 「naik ke atas」, berkenan ke 「hadapan hadirat Tuhan」.

Namun jika pentas yang megah atau pendeta yang menjadi sumber sukacita, maka pentas atau pendeta yang menjadi idola kita, itu membuat Allah bukan lagi idola kita, maka ibadah menjadi penyembahan berhala.

(Slide 16) Ibadah yang penuh sukacita, yang tertuju kepada TUHAN, sebab kita adalah kawanan domba gembalaan-Nya

Pemazmur mengingatkan status diri kita yang ketiga: adalah domba gembalaan-Nya.

Umat Allah adalah seperti domba, sifat domba itu dungu mudah tersesat. Oleh karena itu Tuhan sendiri turun tangan menggembalakan kita kawanan domba-Nya, Ia mengatakan “yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.”

Yesus adalah Sang Gembala yang dijanjikan Allah. Ketika Tuhan Yesus melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Kesediaan-Nya mengajarkan jalan-jalan kebenaran kepada umat-Nya, itu adalah sukacita domba-domba yang haus mengenal Yesus.

Tuhan kita Yesus Kristus yang baik datang memberikan nyawanya bagi domba-domba-Nya.

Ini adalah khabar sukacita yang terbesar, sayang banyak orang mulai ngantuk dan tertidur begitu khotbah ngomong soal Yesus Kristus.

Paulus mengatakan hendaknya kita memuji Allah Bapa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita. Sehingga di dalam Yesus Kristus dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa yang menyelamatkan kita dari kebinasaan kekal.

Kita domba-domba-Nya boleh tetap dijaga di dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Sehingga kita mendapatkan sukacita yang sempurna kekal.

(Slide 17) Mari kita renungkan, kata “punya Dialah kita … kawanan domba gembalaan-Nya” menekankan “punya Dialah”. Ini berbeda dengan “ia gembala punyaku”, “ia Allah ku”, hati-hati sering kali merupakan pemahaman yang salah, allah adalah milik aku, aku adalah pemilik, aku adalah tuan dari gembala, aku yang harus dipuaskan.

Puji syukur bahwa Ia adalah Tuan pemilik kita. Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, yang tertuju kepada TUHAN, ibadah yang bersyukur bahwa kita adalah kawanan domba gembalaan-Nya.

Ibadah yang bersukacita karena bersama Allah untuk selama-lamanya

Ayat 5: kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. Apa yang Ia telah lakukan, dahulu, sekarang dan kelak, adalah tetap dalam kebaikan dan kasih yang tidak pernah akan berubah.

Ini adalah ibadah yang penuh pengharapan dan sumber kekuatan: Ia tidak pernah meninggalkan kita. Tetapi Ia menuntut kesetiaan kita fokus kepada Dia.

Penutup

(Slide 18) Sukacita rohaniah dalam Ibadah bukan berasal dari kepuasan pengunjung ibadah, bukan sukacita customer adalah raja yang menilai apakah ia dipuaskan dan merasa nyaman.

Tetapi Allah adalah empunya ibadah. Sukacita kita datang dari sukacita Allah yang berkenan atas penyembahan kita.

Allah yang menilai penyembahan kita.

Sukacita perkenan Allah dalam ibadah berasal dari penyembahan yang setia pada kodrat diri kita sebagai manusia ciptaan milik Allah, datang ke hadirat Allah di dalam kesetiaan sebagai umat milik-Nya, yang mengakui diri adalah domba milik-Nya, mengakui diri yang dungu dan lemah yang rindu bersandar pada pada Sang Gembala, haus mendengarkan suara pengajaran Yesus Kristus Sang Gembala.

Dengan demikian kita terbebaskan dari ibadah penyembahan berhala.

Maka kita akan merasakan penyembahan yang berkenan kepada Allah yang di surga dan merasakan berkat sukacita yang dicurahkan dari surga.

Kata kuncinya: sukacita karena penuh rasa syukur.

Amsal 10:17-32

Kehidupan orang benar
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 10:17-32 [ITB])
17 Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan,
…….tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat.
18 Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah orang bebal.
19 Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran,
…….tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.
20 Lidah orang benar seperti perak pilihan,
…….tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya.
21 Bibir orang benar menggembalakan banyak orang,
…….tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi.
22 Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.
23 Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal, sebagaimana melakukan hikmat bagi orang yang pandai.
24 Apa yang menggentarkan orang fasik, itulah yang akan menimpa dia,
…….tetapi keinginan orang benar akan diluluskan.
25 Bila taufan melanda, lenyaplah orang fasik,
…….tetapi orang benar adalah alas yang abadi.
26 Seperti cuka bagi gigi dan asap bagi mata, demikian si pemalas bagi orang yang menyuruhnya.
27 Takut akan TUHAN memperpanjang umur,
…….tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek.
28 Harapan orang benar akan menjadi sukacita,
…….tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.
29 Jalan TUHAN adalah perlindungan bagi orang yang tulus,
…….tetapi kebinasaan bagi orang yang berbuat jahat.
30 Orang benar tidak terombang-ambing untuk selama-lamanya,
…….tetapi orang fasik tidak akan mendiami negeri.
31 Mulut orang benar mengeluarkan hikmat,
…….tetapi lidah bercabang akan dikerat.
32 Bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan,
…….tetapi mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat.

Dalam enam belas ayat hari ini, kita melanjutkan melihat kontras antara yang benar dan yang fasik (fasik KBBI: tidak peduli terhadap perintah Tuhan, tidak melakukannya, berarti: kelakuan buruk, jahat, berdosa). Demikian pula muncul berkali-kali deskripsi kata-kata seperti mulut / lidah / mulut / bibir, dan jika mencakup kata-kata seperti ucapan / bicara / bahasa, lebih dari sepuluh kali. Dari perikop ini, kita melihat kualitas hidup orang benar, sikap orang benar dalam hidup adalah takut hormat akan Tuhan dan menantikan kehendak Tuhan; orang benar akan mempraktikkan iman mereka, mereka akan menaati firman Tuhan dan berjalan di jalan kehidupan; orang benar menghasilkan buah hikmat kebijaksanaan, pengendalian diri, dan berbicara kata-kata yang membangunkan orang. Tetapi orang fasik akan menderita kebinasaan kekal yang tidak dapat ditolong lagi (ayat 25, 30), dan akan sangat menderita dan kecewa (ayat 24, 28). Mereka memiliki akhir yang demikian adalah hasil dari perbuatan jahat mereka. Pertama ayat 18 menuliskan kejahatan mereka: menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat (menyebarkan desas-desus bohong) adalah orang bebal, kalimat ini mengandung antonim yang paralel, sangat menarik, yaitu menyembunyikan (conceal) versus menyebarkan (reveal). Perikop kemarin muncul kata-kata menyembunyikan, menutupi sebanyak tiga kali (ayat 6, 11, 12), perikop hari ini menunjukkan bahwa apa yang disembunyikan orang jahat adalah kebencian; dan apa yang disebarkan dan diungkapkan adalah fitnah desas-desus bohong. Mereka merugikan orang lain dan kelompok, dan akhirnya mereka harus menanggung hukuman dari Allah.

Nama TUHAN pertama kali muncul di pasal 10 (ayat 3, 22, 27, 29). Nama Allah disebutkan 55 kali dalam kumpulan bagian kedua ini, dan rata-rata disebutkan setiap 7 ayat. Namun, kemunculan nama TUHAN terkonsentrasi di pasal 15 dan 16, dua pasal. Kita akan memiliki kesempatan merenungkannya yang lebih rinci di minggu ke depan. Setelah kemunculan nama TUHAN (Yahweh) di ayat 3, lalu di perikop ini berbicara tentang tiga aspek dari nama Allah, yaitu berkat Tuhan (the blessing of the Lord, ayat 22) dan takut akan TUHAN (the fear of the Lord, ayat 27), dan jalan TUHAN (the way of the Lord, ayat 29). Setiap kali nama Allah muncul, akan membawa pahala, yakni kaya, dan umur panjang dan perlindungan Tuhan kepada orang benar. Perikop ini juga menunjukkan bahwa orang-orang benar diberkati dapat hidup dalam sukacita (ayat 28) dan menetap dengan tidak terombang-ambing (ayat 30).

10:6-32 dimulai dengan mulut orang fasik dan diakhiri dengan frasa mulut orang benar. Alkitab menyatakan bahwa bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan bibir orang benar berkata-kata yang membawakan sukacita. Sukacita (favor) dalam 《Kitab Amsal》 muncul 14 kali, semua menunjuk kepada sukacita yang melingkupi, di mana 10 kali berarti berkenan kepada Allah, 4 kali sukacita rajawi, dan tidak pernah merupakan sukacita biasa-biasa. Ini adalah jelas memberitahu kita bahwa kehidupan Kristen adalah mencari sukacita perkenan Allah.

Renungkan:
(1) Kata-kata orang benar memiliki tiga ciri, yaitu, lidah orang benar seperti perak pilihan (ayat 20), bibir orang benar menggembalakan (memelihara) banyak orang (ayat 21), dan Mulut orang benar mengeluarkan hikmat menghasilkan buah kebijaksanaan (ayat 31), kita dapat menggunakannya untuk meninjau dan introspeksi perkataan diri kita;
(2) Petrus berkata kepada Yesus:Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh. 6:68), orang benar menuju jalan kehidupan (Amsal 10:17), bagaimana Anda hendak menjaga dan merealisasikan Firman ini?


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 10-22 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Juni 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:6-9 (4)

Firman Kebenaran yang Membangun Orang (4)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:6-9 [ITB])
6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. 7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, 9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

  • Maka engkau hendak sukacita besar,
    • sekalipun sekarang butuh sedikit waktu lagi sedih oleh berbagai penderitaan
      • agar imanmu yang tulus lebih berharga daripada emas yang bisa rusak
        • bahkan melalui ujian api; ketika Yesus Kristus menyatakan diri,
          • pada akhirnya menerima pujian, kemuliaan, kehormatan
    • Sekalipun engkau belum pernah melihat Dia, tetapi engkau tetap mengasihi-Nya.
    • Sekalipun engkau belum pernah melihat Dia sekarang ini, tetapi engkau tetap percaya kepada-Nya.
    • Engkau hendak sukacita besar di dalam sukacita yang tidak dapat diucapkan dan yang mulia itu,
      • dan mendapatkan efek buah imanmu dan keselamatan jiwa.

sukacita besar yang tidak dapat diucapkan dan yang mulia

Kemarin, kita berbicara tentang salah satu poin utama dari perikop ini yakni tentang perbandingan antara waktu yang terbatas dan yang singkat dengan kekekalan tanpa batasan waktu untuk mengingatkan para murid bahwa yang dilihat bukan kesulitan dan penderitaan yang di depan mereka, tetapi untuk menempatkan semua pelayanan hidup dalam konsep nilai kekekalan, itu pewarisan Injil yakni Firman kebenaran yang membangun orang dapat dilanjutkan kepada generasi yang baru!

Sampailah kita di dua frasa terakhir dari paragraf ini: Engkau hendak sukacita besar di dalam sukacita yang tidak dapat diucapkan dan yang mulia itu, dan mendapatkan efek buah imanmu dan keselamatan jiwa.

Pertama-tama, Petrus menggunakan kata sifat yang tidak dapat diucapkan (ἀνεκλαλήτῳ aneklalíto) untuk menggambarkan sukacita yang seharusnya kita miliki di dalam hati. Kata ini menunjukkan bahwa sukacita ini sulit untuk diberitakan melalui mulut, karena ini menjungkirbalikkan pemikiran manusia: yang kelihatan di depan mata dipandang sebagai yang sementara, sebaliknya yang tidak kelihatan mata dipandang sebagai yang kekal, itu menjadi sukacita yang tak terkatakan bagi orang percaya yang pada waktu itu menerima aniaya sedemikian banyak yang sungguh merupakan tantangan yang sangat sulit.

Ternyata sukacita ini tidak pernah merupakan semacam gairah dan kegembiraan psikologi dari tradisi kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal lahiriah, tetapi keluar dari perjuangan di hati dan penderitaan akibat terus-menerus memilih apa yang benar, inilah inti dari sukacita besar. Ini seperti sepasang orang tua melakukan yang terbaik untuk merawat anak-anak mereka, sukacita kegembiraan besar mereka bukan karena tidak ada tekanan sosial, sebaliknya mereka harus berusaha menghindari untuk membandingkan anak mereka dengan orang lain, namun ketika mereka melihat rahmat anugerah Tuhan masih menyertai di rumah mereka (terutama ketika anak-anak dan orang tua bergaul secara intensif di masa epidemi), sukacita yang tidak dapat diucapkan merupakan buah dari kegigihan dan kerja keras, bukankah demikian?

Dalam tata bahasa Yunani, Petrus menggunakan partisip lain mulia (δεδοξασμένῃ dedoxasméni) bersama dengan yang tidak dapat diucapkanuntuk menggambarkan kata sukacita, kali ini dinyatakan dengan tata bahasa bentuk sudah terjadi (perfect), berdasarkan teori tata bahasa Yunani (Aspect theory), penggunaan ini untuk menggambarkan sesuatu yang terutama berfokus pada titik tertentu, sehingga pembaca dapat memahami dan memahami penekanannya. Di sini, sukacita yang tak terkatakan ini selain merupakan sebuah konsep yang menjungkirbalikkan pemikiran manusia, tetapi yang lebih penting, itu merupakan sukacita mulia. Sesuai renungan tentang kemuliaan di ayat 7, ini mengacu pada puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan yang diperoleh pada hari Yesus Kristus datang lagi menyatakan diri-Nya, diperoleh orang yang telah mengalami ujian kemurnian dengan api. Petrus sekali lagi memusatkan perhatian kita pada kemuliaan akhir zaman ini, bukan pada kemuliaan yang di depan mata kita dan reputasi diri kita sendiri, ini yang membuat orang-orang percaya untuk tidak mau terjerat kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, tidak akan menempatkan diri dalam kemuliaan dunia sekarang.

Renungkan:
Membangun orang tidak pernah hanya tentang mewariskan keterampilan teknis dan cara-cara, tetapi seperti yang dikatakan dalam Kitab Suci: keselamatan jiwa (σωτηρίαν ψυχῶν sotirían psychón), bentuk genitive ini paling baik diterjemahkan sebagai keselamatan yang totalitas, yang berarti : keselamatan yang sejati tidak hanya untuk mengubah penampilan dan perilaku keagamaan, atau hanya penampilan luar yang hampa munafik, senyum hormat di bibir, tetapi pembaruan yang totalitas dan perubahan lengkap di dalam. Hanya dengan demikian saja kebenaran yang membangun orang dapat terus dilanjutkan, bahkan jika menerima penolakan atau pengkhianatan, kita tidak akan menyerah, bukankah demikian?

Dalam masa yang sulit ini, meskipun orang hidup dalam kesulitan, tetapi terdapat sukacita berkualitas adalah kebenaran yang sangat perlu kita beritakan di waktu ini!

Mana yang Anda pilih 「Firman kebenaran」 ataukah cara-cara teknik / seni untuk membangun orang?

Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 66:7-14

「Yerusalem adalah Ibumu」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 66:7-14 [ITB])
7Sebelum menggeliat sakit,
ia sudah bersalin,
sebelum mengalami sakit beranak,
ia sudah melahirkan anak laki-laki.
8 Siapakah yang telah mendengar hal yang seperti itu,
siapakah yang telah melihat hal yang demikian?
Masakan suatu negeri diperanakkan dalam satu hari,
atau suatu bangsa dilahirkan dalam satu kali?
Namun baru saja menggeliat sakit,
Sion sudah melahirkan anak-anaknya.
9 Masakan Aku membukakan rahim orang, dan
tidak membuatnya melahirkan? firman TUHAN.
Atau masakan Aku membuat orang melahirkan, dan
menutup rahimnya pula? firman Allahmu.
10Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem,
dan bersorak-soraklah karenanya,
hai semua orang yang mencintainya!
Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya,
hai semua orang yang berkabung karenanya!
11 supaya kamu mengisap dan
menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu,
supaya kamu menghirup dan
menikmati dari dadanya yang bernas.
12Sebab beginilah firman TUHAN:
Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai,
dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir;
kamu akan menyusu, akan digendong,
akan dibelai-belai di pangkuan.
13 Seperti seseorang yang dihibur ibunya,
demikianlah Aku ini akan menghibur kamu;
kamu akan dihibur di Yerusalem.
14 Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang, dan
kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat;
maka tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya,
dan amarah-Nya kepada musuh-musuh-Nya.

Yesaya 66:7-14 menggunakan gambaran Yerusalem sebagai ibu untuk menunjukkan betapa bahagianya umat Kota Suci. Sion sebagai seorang ibu, dia mengandung melahirkan anak-anaknya, dan mengalami rasa sakit bersalin, gambar ini juga digunakan di tempat lain dalam Yesaya (Yes. 26:16-18; 51:18-20), lalu Yes. 66:7-9 menunjukkan proses bersalin dan rasa sakit yang terkait dalam proses itu. Ayat 7-8 menunjukkan bahwa jika Sion melahirkan umat Sion dalam sekejap tanpa rasa sakit, ini adalah pekerjaan Tuhan, sebuah keajaiban, karena penderitaan bersalin itu sendiri adalah kutukan atas dosa kejatuhan manusia (Kejadian 3:16), dan sekarang melahirkan tanpa rasa sakit itu adalah gambaran Sion yang meninggalkan kutukan atas dosa kejahatan, yang juga menunjukkan bahwa Allah tidak dapat menemukan dosa kejahatan apa pun di Sion, sehingga ia melahirkan semua umatnya dengan mudah dan tanpa kesulitan, melambangkan berkat besar dari Allah.

Ayat 10-11 menunjukkan bahwa umat Sion akan bersukacita bersama-sama Yerusalem, karena Sion seperti seorang ibu yang memberikan susu yang berkecukupan untuk memenuhi semua kebutuhan umatnya, dan mereka akan minum susu dengan kenyang sejahtera dalam pelukan penuh penghiburan damai, susu ini adalah metafora dari kemuliaan yang berkelimpahan (tidak eksplisit dalam ITB, lihat ITL sampai puas-puas dengan mengisap pancaran kemuliaannya, KJV be delighted with the abundance of her glory), dan kemuliaan ini adalah kemuliaan Allah (Yes. 60:1-3), umat kota itu mendapatkan kemuliaan oleh karena mempraktikkan (merealisasikan) keadilan dan kebenaran, oleh karena itu, umatnya bersukacita karena firman Allah dan pemeliharaan-Nya melalui Sion, ini bukan sukacita secara material, tetapi sukacita spiritual rohani, bersukacita karena menjalankan keadilan dan kebenaran yang didefinisikan (ditentukan) oleh hukum Taurat Allah.

Akhirnya, ayat 12-14 menunjukkan bahwa di bawah berkat Sion sang ibu, umatnya dapat mendapatkan berkat, ada kedamaian dan kemuliaan segala bangsa-bangsa (ayat 12), mendapatkan penghiburan (ayat 13), dan musuh mendapat pembalasan (ayat 14). Ayat 14 menunjukkan bahwa tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya, tangan ini adalah tangan yang memukul musuh, menunjukkan bahwa Injil sejati adalah untuk menghukum musuh yang menindas umat dan umat semuanya berjalan serta menjalani dalam keadilan dan kebenaran, oleh karena itu, Yes. 66:7-14 menggunakan gambar Sion sebagai ibu untuk menjelaskan pemandangan indah Yerusalem di hari akhir.

Renungkan:
Setiap orang memiliki ibu, dan setiap anak mengharapkan pemeliharaan, peneguhan, kemuliaan, dan kekuatan dari ibu. Tetapi ketika kita memiliki pengharapan seperti itu, pada saat yang sama kita juga harus merenungkan apakah kita mengenali dosa kita, meninggalkan jalan orang fasik, dan dengan rendah hati menghidupi firman Allah sebagai penuntun, dan hormat takut akan Allah serta menaati kata-kata-Nya, barulah kita dapat menikmati kedamaian dan sukacita. Apakah Anda bersedia?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 3:6-13

「Akhir Penuh Sukacita」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Tes. 3:6-13 [ITB])
6 Tetapi sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu, 7 maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. 8 Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan. 9 Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita? 10 Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. 11 Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu. 12 Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. 13 Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.

Tulisan Paulus menyimpang dari topik utama karena sukacita yang bergelora, selanjutnya ia kembali ke topik rencana cadangan untuk Gereja Tesalonika: Itulah sebabnya, maka aku, karena tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia (3:5)
Di luar dugaan Paulus, ternyata Timotius membawa kabar baik:Tetapi sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu (3: 6)

Kabar baik di sini ada dua: Pertama, orang-orang percaya di Tesalonika berdiri teguh, tanpa bantuan dari luar mampu menghadapi kesengsaraan besar masih menjaga kokoh iman mereka. Pekerjaan yang pernah dilakukan Paulus di antara mereka tidaklah sia-sia. Kedua, mereka tidak menggerutu atas kepergian Paulus yang tiba-tiba, tidak berpikir bahwa Paulus bersalah kepada mereka dan membentuk jurang pemisah dengan dia, tetapi mereka masih sangat merindukannya, berharap untuk bertemu dia lagi. Dengan kata lain, persahabatan di antara mereka tidak berkurang.
Bagi Paulus, kabar baik pertama itu penting, tetapi orang tua selalu ingin anak-anak mereka tumbuh dan menjadi lebih baik bukan menjadi buruk, tetapi kabar baik kedua juga sangat penting baginya, meskipun kepergiannya bukan karena kemauannya, tetapi hatinya memang penuh dengan rasa bersalah terhadap anak-anak yang ia tinggalkan pergi. Sekarang anak-anak tidak membencinya, tetapi masih merindukannya, bagaimana mungkin dia tidak diliputi kegembiraan sukacita yang demikian besar!
Tak perlu dikatakan lagi bahwa orang tua peduli dengan anak-anak mereka, tetapi mereka sering khawatir bahwa anak-anak tidak peduli terhadap mereka. Saya biasanya menelepon ibu saya dua hari sekali dan mengunjunginya seminggu sekali. Jika saya tidak dapat membuat panggilan telepon atau kunjungan sesuai jadwal karena bepergian keluar atau alasan lain, ibu saya akan melakukan segala kemungkinan untuk meminta orang yang berbeda untuk mengirim pesan kepada saya: Ibu sangat merindukanmu. Saya percaya pesan ini benar. Tentu saja, ibu merindukan anak-anak. Tetapi saya juga mendengar pesan tersembunyi lain yang lebih penting dalam pesan ini: Ibu khawatir saya tidak lagi peduli padanya. Orang tua paling khawatir bahwa anak-anak tidak akan lagi peduli dengan mereka atau bahkan meninggalkan mereka. Karena itu, jika orang tua tahu bahwa anak-anak memikirkan mereka, kegembiraan di dalam hati mereka tak terlukiskan.

Paulus menyatakan respons langsung dirinya: maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan (3:7-8). Pada saat ini Paulus sendiri juga menghadapi berbagai kesulitan dan kesengsaraan, dan hidupnya tidak mudah; tetapi setelah mendengar kabar baik dari orang percaya Tesalonika, hatinya lega seperti melepaskan beban batu besar, merasa bahwa ada harapan di depan, karya-karya Allah sangat indah dan ajaib. Pada saat orang berpikir sudah putus asa, Tuhan membuka jalan lain bagi orang. Tidak ada jalan buntu bagi Allah, ini membawa penghiburan dan kekuatan bagi iman mereka. Paulus mengarahkan penghargaannya terhadap Tesalonika menjadi pujian kepada Allah: Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita? (3:9) Itulah sebabnya ia banyak mencurahkan waktu untuk memuji dan berterima kasih kepada Allah dalam bagian Alkitab ini.
Pada akhirnya, Paulus berkata dengan penuh cinta kasih: rencana cadangan bukanlah rencana semula, dia masih berdoa kepada Tuhan untuk membuka jalan baginya untuk kembali ke Tesalonika, bersatu kembali dengan saudara-saudaranya, dan membimbing mereka secara pribadi, sehingga iman mereka dapat menjadi Kokoh. Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu (3:10-11)

Kita tahu bahwa keinginan Paulus untuk mengunjungi kembali Gereja Tesalonika akhirnya dipenuhi oleh Allah. Menurut kelanjutan dari Kisah Para Rasul, setelah pekerjaan pengabaran Paulus di Korintus dan Efesus selesai satu tahap, dan ia kembali ke Makedonia (Kis. 19:21; 20:1-2), dan kemudian di lain waktu ia pergi satu kali lagi (Kis. 22:2-6). Dalam kedua perjalanan ke Makedonia, semestinya ia meluangkan waktu untuk mengunjungi orang-orang percaya di Tesalonika dan menggembalakan mereka secara langsung. Terakhir Kisah Para Rasul mencatat bahwa ketika Paulus bepergian ke Asia, dua orang Tesalonika menemani dia (Kis. 20:4). Ini membuktikan bahwa ia menjaga hubungan dekat dengan orang-orang percaya Tesalonika, dan bahkan bekerja sama dalam pelayanan. Bagaimanapun, Tuhan telah menjawab doa Paulus.
Paulus juga menyebutkan harapan lain bahwa kasih mereka akan tumbuh cukup untuk mengasihi anggota tubuh gereja dan orang-orang di luar gereja. Dengan cara ini, iman mereka sempurna. Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya. (3:12-13)
Dimulai dari ayat 1:5, pujian dan syafaat Paulus untuk gereja Tesalonika terus berlanjut sampai di sini.

Renungkan:
Hal-hal yang tidak sesuai kehendak sering terjadi, dan hidup serta pelayanan kita sering mengalami kesulitan. Namun, Tuhan tidak akan berpangku tangan diam hanya menonton kita dalam situasi yang sulit; Ia selalu di waktu yang tepat akan membuka jalan bagi kita, ataupun memberi kita penegasan dan pengharapan dalam situasi yang sulit.
Oleh karena itu, bahkan jika itu hanya senyum ramah, dorongan dan penghargaan yang tidak disengaja dari orang-orang di sekitar kita, kita semua harus menerimanya sebagai berkat dari Tuhan dan penegasan jaminan dari-Nya bahwa kita dapat bertahan dalam kesulitan (assurance). Kita menolak kesulitan yang mengamuk dan depresi serta putus asa yang muncul dari hati kita, karena ada malaikat di sisi kita yang diutus Allah, sering kali meletakkan bunga kecil yang mekar di pinggir jalan di depan kita.
Kita juga sengaja menjadi malaikat bagi orang lain, membawakan sedikit bunga untuknya. Sengaja tanpa sengaja.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 4:10-11, 14

「Perhatian dan Berbagi Beban Kesusahan」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 4:10-11, 14 [ITB])
10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. 11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. … 14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.

Dalam ayat-ayat ini, Paulus mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaannya kepada gereja Filipi atas dukungan finansial dari mereka, yang mencerminkan bahwa gereja Filipi telah terlibat secara finansial dalam pelayanan Paulus sejak awal. Meskipun di 2 Korintus 8:1 Paulus menggambarkan gereja di Makedonia berantusias memberi persembahan, tetapi gereja Filipi sebagai gereja pertama yang didirikan oleh Paulus di Makedonia dan kota Filipi juga merupakan kota utama di daerah sana, memperlihatkan upaya ketekunan gereja Filipi untuk berpartisipasi dalam mendukung pelayanan Paulus.

Di 4:10, Paulus berkata, akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku, beberapa ahli berpendapat ini adalah pernyataan keluhan bernada menegur bahwa untuk suatu jangka waktu yang lama mereka gagal memenuhi komitmen mereka mendukung dia, tetapi penjelasan ini tidak sesuai dengan perkataan yang segera ditambahkan Paulus yang menekankan bahwa mereka bukan tidak memberikan perhatian, tetapi hanya belum ada kesempatan. Mungkin Paulus ditangkap tidak lama setelah ia meninggalkan Makedonia dan kembali ke Yerusalem, ia dipenjara di Kaisarea selama beberapa waktu dan dikirim sebagai tahanan ke Roma. Gereja Filipi di kurun waktu ini tidak mendapat kesempatan mengutus orang ke tempat Paulus berada.

Paulus menggunakan kata kerja yang sangat simbolis untuk menggambarkan tindakan gereja Filipi. Di ayat 10, kata bertumbuh kembali hanya muncul di sini dalam Perjanjian Baru, di luar Alkitab dapat dipakai untuk menjelaskan bahwa tanaman bertunas dan tumbuh lagi di musim semi, dan bumi sekali lagi penuh dengan kehidupan. Ini mungkin menyiratkan bahwa kasih gereja Filipi seperti benih terkubur di dalam tanah dan ketika kesempatan itu matang maka ia bertumbuh keluar. Ungkapan ini juga tampaknya mencerminkan penilaian positif Paulus terhadap gereja di Filipi.

Dalam generasi sekarang, kita pasti tidak akan kekurangan kesempatan untuk mendukung penginjilan, tetapi kadang-kadang dibatasi oleh kemampuan kita sendiri, tetapi kita masih perlu mempertahankan hati untuk ikut ambil bagian dalam Injil ini seperti benih disimpan di dalam hati, sampai peluang datang atau ada kemampuan, maka kita dapat menyatakan hati yang bertekad ikut berpartisipasi itu.

Dalam 4:11-13, Paulus menyatakan bahwa ia bukan karena kebutuhan dirinya sehingga menyatakan kegembiraannya menerima dukungan persembahan, tetapi dalam 4:14, ia mengajarkan bahwa itu adalah perbuatan baik, bahwa mereka telah mengambil bagian dalam kesusahan dirinya. Meskipun Paulus tidak menjelaskan mengapa ini adalah perbuatan yang baik, tetapi jika kita meninjau pesan dari seluruh surat ini, kita bisa melihat bahwa orang percaya dapat memiliki kesempatan ikut ambil peran di dalam Injil, merupakan hal yang patut disyukuri. Kita dapat berpartisipasi dalam pekerjaan Injil, adalah karena Allah memulai pekerjaan-Nya dalam diri kita, Ia juga menuntun kita untuk bertumbuh dalam aspek ini. Injil adalah pekerjaan Allah, dan kita dapat berperan serta di dalamnya adalah anugerah-Nya. Seperti yang dikatakan Paulus 1:29 sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia

Renungkan:

Kita tidak sering memiliki kesempatan untuk berperan serta dalam pekerjaan Injil, kita juga tidak selalu dapat secara langsung mendukung perluasan pekerjaan Injil, mohon Tuhan memberi kita hati yang peka, untuk mengenali kebutuhan berbagai pekerjaan pelayanan, dan dengan sungguh-sungguh setia berdoa syafaat untuk pengembangan pelayanan ini. Berdoa memohon Tuhan memperlengkapi dan mengirim pekerja ke tempat-tempat di mana saksi Injil dibutuhkan.


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 2:17-18

「Bersukacita Bersama-sama」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 2:17-18 [ITB])
17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. 18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.

Dalam dua ayat sederhana ini, Paulus sepenuhnya mengungkapkan sikap mentalitasnya dalam melayani. Ini adalah salah satu dari serangkaian contoh teladannya di pasal 2. Tindakan dan sikapnya sendiri memungkinkan kita untuk memahami lebih dalam apa artinya memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, dan apa itu pelayanan dalam kerendahan hati yang sejati.

Dalam ayat-ayat di atas, Paulus menyatakan keyakinannya terhadap orang-orang percaya di Filipi, dan ia percaya bahwa mereka akan melakukan yang terbaik di jalan iman dan akan terus bertumbuh. Dia bukan karena melihat atau mengetahui bagaimana penampilan jemaat Filipi sehingga membuat tanggapan tersebut, karena jikalau demikian maka di paragraf berikutnya ia tidak perlu mengutus Timotius pergi kepada mereka untuk melihat kondisi mereka. Tetapi karena ia percaya dengan iman bahwa Allah akan sesuai dengan kesetiaan-Nya sendiri, membuat umat-Nya tumbuh dalam Yesus Kristus dan menghasilkan buah yang baik.

Di sini Paulus menunjukkan bahwa ia rela membayar harga atas iman mereka, jika iman mereka adalah suatu persembahan korban bagi Allah dan Paulus sendiri seperti anggur korban curahan yang dicurahkan di atasnya, yang dalam waktu sangat singkat akan habis, namun dia akan sangat puas dengan sukacita.

Dalam dua ayat ini, Paulus empat kali mengungkapkan pesan sukacita. Dua adalah deskripsi naratif tentang sikapnya sendiri, dan dua lainnya adalah perintahnya kepada jemaat Filipi. Baik dalam narasi atau perintah, ia menggunakan dua kata kerja yang terkait, di satu sisi menunjukkan kegembiraan seseorang, dan di sisi lain untuk menunjukkan bahwa kegembiraan harus dimiliki bersama, dan dinikmati bersama. Jika dibicarakan secara ketatnya, sukacita adalah sikap pribadi seseorang sendiri, yang berarti respons diri seseorang atas situasi ia berada, tetapi dalam komunitas iman, sukacita sejati harus merupakan pengalaman yang dimiliki dan dinikmati dalam kelompok.

Alasan untuk sukacita yang diungkapkan di sini bukanlah hasil yang ada di eksternal luar, jadi sukacita ini tidak dibangun atau didasarkan pada pencapaian atau hasil yang dapat terlihat, tetapi berdasarkan pada iman penuh kepastian bahwa Allah ada di antara manusia, dan Ia akan terus menggenapkan kehendak yang berkenan kepada-Nya. Untuk memiliki sukacita dalam hidup kita, kita juga harus mengandalkan iman yang demikian. Karena di dunia ini, hasil yang dangkal di permukaan kulit seringkali berumur pendek dan tidak dapat dipertahankan. Sukacita yang mereka bawa hanya dapat kesenangan sementara dan dangkal di permukaan kulit, setelah sukacita yang demikian berlalu, harus kembali menghadapi kenyataan yang kejam. Hanya sukacita yang keluar dari iman, adalah yang abadi dan layak untuk saling berbagi.

Renungkan:

Apa dasar dari sukacita kita? Apakah kita mengubah sukacita kita menjadi sukacita yang berbagi dinikmati di dalam komunitas?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yeremia 15:1-21

「Nasib Buruk Umat Yehuda dan Keluh Yeremia Kepada TUHAN」

Ditulis oleh 曾錫華 (Zēng Xī Huá) Alliance Bible Seminary H.K.

(Yer. 15:1-21 [ITB])
1 Tuhan berfirman kepadaku: Sekalipun Musa dan Samuel berdiri di hadapan-Ku, hati-Ku tidak akan berbalik kepada bangsa ini. Usirlah mereka dari hadapan-Ku, biarlah mereka pergi! 2 Dan apabila mereka bertanya kepadamu: 『Ke manakah kami harus pergi?』, maka jawablah mereka: Beginilah firman TUHAN: Yang ke maut, ke mautlah! Yang ke pedang, ke pedanglah! Yang ke kelaparan, ke kelaparanlah! dan yang ke tawanan, ke tawananlah!』 3 Aku akan mendatangkan atas mereka empat hukuman, demikianlah firman TUHAN: pedang untuk membunuh, anjing-anjing untuk menyeret-nyeret, burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi untuk memakan dan menghabiskan. 4 Dengan demikian Aku akan membuat mereka menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi, oleh karena segala apa yang dilakukan Manasye bin Hizkia, raja Yehuda, di Yerusalem. 5 Siapakah yang akan merasa kasihan terhadap engkau, hai Yerusalem, dan siapakah yang akan turut berdukacita dengan engkau? Siapakah yang akan singgah untuk menanyakan perihal kesehatanmu? 6 Engkau sendiri telah menolak Aku, demikianlah firman TUHAN, telah pergi meninggalkan Aku. Maka Aku mengacungkan tangan-Ku dan membinasakan engkau; Aku sudah jemu untuk merasa sesal. 7 Aku menampi mereka dengan tampi di kota-kota negeri; Aku membuat umat-Ku kehilangan anak dan membinasakan mereka, karena mereka tidak berbalik dari tingkah langkah mereka. 8 Janda-janda di antara mereka Kubuat lebih besar jumlahnya dari pada pasir laut. Aku mendatangkan ke atas ibu dan teruna suatu pembinasa pada tengah hari. Dengan tiba-tiba Aku menurunkan ke atas mereka kegelisahan dan kekejutan. 9 Maka meranalah perempuan yang sudah tujuh kali melahirkan, nafasnya mengap-mengap, baginya matahari sudah terbenam selagi hari siang, ia menjadi malu dan tersipu-sipu. Sisa mereka akan Kuserahkan kepada pedang di depan musuh-musuh mereka, demikianlah firman TUHAN.
10 Celaka aku, ya ibuku, bahwa engkau melahirkan aku, seorang yang menjadi buah perbantahan dan buah percederaan bagi seluruh negeri. Aku bukan orang yang menghutangkan ataupun orang yang menghutang kepada siapapun, tetapi mereka semuanya mengutuki aku. 11 Sungguh, ya TUHAN, aku telah melayani Engkau dengan sebaik-baiknya, dan telah membela musuh di depan-Mu pada masa kecelakaannya dan kesesakannya! 12 Dapatkah orang mematahkan besi, besi dari utara dan tembaga? 13 Harta kekayaanmu dan barang-barang perbendaharaanmu akan Kuberikan dirampas sebagai ganjaran atas segala dosamu di segenap daerahmu. 14 Aku akan membuat engkau menjadi budak musuhmu di negeri yang tidak kaukenal, sebab dalam murka-Ku telah mencetus api yang akan menyala atasmu. 15 Engkau mengetahuinya; ya TUHAN, ingatlah aku dan perhatikanlah aku, lakukanlah pembalasan untukku terhadap orang-orang yang mengejar aku. Janganlah membiarkan aku diambil, karena panjang sabar-Mu, ketahuilah bagaimana aku menanggung celaan oleh karena Engkau! 16 Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam. 17 Tidak pernah aku duduk beria-ria dalam pertemuan orang-orang yang bersenda gurau; karena tekanan tangan-Mu aku duduk sendirian, sebab Engkau telah memenuhi aku dengan geram. 18 Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai. 19 Karena itu beginilah jawab TUHAN: Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku, dan jika engkau mengucapkan apa yang berharga dan tidak hina, maka engkau akan menjadi penyambung lidah bagi-Ku. Biarpun mereka akan kembali kepadamu, namun engkau tidak perlu kembali kepada mereka. 20 Terhadap bangsa ini Aku akan membuat engkau sebagai tembok berkubu dari tembaga; mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN. 21 Aku akan melepaskan engkau dari tangan orang-orang jahat dan membebaskan engkau dari genggaman orang-orang lalim.

Dalam perikop Yeremia 15 yang kita baca hari ini, Tuhan jelas memberitahu Yeremia bahwa Ia bertekad menghukum kerajaan Yehuda dan tidak akan berubah oleh doanya.

Tuhan selanjutnya menunjukkan bahwa Ia menghakimi orang Israel dengan cara yang paling keras, dalam ayat 3 Ia mengatakan 「Aku akan mendatangkan atas mereka empat hukuman, demikianlah firman TUHAN: pedang untuk membunuh, anjing-anjing untuk menyeret-nyeret, burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi untuk memakan dan menghabiskan.」 Ayat 4 menjelaskan mengapa Tuhan menghukum orang Israel seperti ini 「… oleh karena segala apa yang dilakukan Manasye bin Hizkia, raja Yehuda, di Yerusalem.」 Ini adalah Manasye yang memimpin orang Israel meninggalkan Tuhan untuk melayani ilah lain, dan menghancurkan perjanjian yang Tuhan adakan dengan mereka.

Manasye adalah raja yang memerintah dengan waktu terpanjang dalam sejarah Yehuda, mencapai 55 tahun lamanya, juga merupakan raja yang paling jahat. Pemerintahannya tercatat dengan rinci dalam 2 Raj. 21:1-17. Dalam hal agama, dia memimpin umat Israel pindah dari penyembahan kepada Tuhan menjadi penyembahan berhala palsu buatan tangan manusia. Ia membuat relasi Tuhan dan umat-Nya menjadi putus, tangannya yang diwarnai dengan darah orang tak berdosa (2 Raj. 24:4). Dalam 2 Taw. 33:9-10 mengatakan 「9 Tetapi Manasye menyesatkan Yehuda dan penduduk Yerusalem, sehingga mereka melakukan yang jahat lebih dari pada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan TUHAN dari depan orang Israel. 10 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Manasye dan rakyatnya, tetapi mereka tidak menghiraukannya.」 Tuhan menghendaki keturunan Israel jangan melupakan hal ini, karena hukumannya sangat berat! Orang percaya hari ini juga harus memperhatikan: Allah yang kita layani adalah Tuhan yang membenci kejahatan!

Dalam 2 Taw. 33:12-13 dicatat raja Manasye yang brutal akhirnya bertobat, tetapi juga mendapatkan pengampunan tuhan; Tetapi efek dari dosa-dosanya tidak bisa dihilangkan dalam semalam. Darah orang yang tidak bersalah, penyembahan berhala, dosa dan pengaruhnya terus mengikuti Israel pada generasi saat itu dan masa depan, dan pada akhirnya menyebabkan pemusnahan kerajaan Yehuda dan penawanan rakyatnya.

Ayat 10-21 adalah catatan dialog antara Yeremia dan Tuhan. Ayat 10 Yeremia menyampaikan mengeluh kepada Tuhan bahwa ia tidak bersalah namun dikutuk oleh publik; ayat 11-12 agak sulit untuk ditangani karena versi terjemahan Alkitab yang berbeda memiliki interpretasi yang berbeda. Kita memilih versi CUVT yang telah direvisi, berpendapat bahwa dua kalimat ini adalah jawaban Tuhan atas perkataan Yeremia, tujuannya adalah untuk memperkuat imannya. Ada terjemahan lainnya yang mengatakan kedua adalah pertanyaan dari Yeremia kepada Tuhan, sehingga arti terjemahannya menjadi agak berbeda.

Ayat 13-14 sangat jelas adalah jawaban dari Tuhan, Tuhan menyatakan bahwa Ia akan menggunakan kerajaan Babel yang di utara untuk menyerang Yehuda, dan menghancurkan negara dan bangsa Israel, karena kejahatan orang Israel adalah fakta yang dapat ditemukan di mana-mana di seluruh negara itu, yakni ditunjukkan dalam ayat 13 「… segala dosamu di segenap daerahmu」 yang demikian nyata jelas.

Di ayat 15-18, Yeremia yang terus berseru kepada Tuhan. Jelas di sini bahwa Yeremia berada dalam situasi berbahaya: menghadapi pembunuhan dari musuhnya. Yeremia menyebutkan bahwa ada dua jenis orang yang mungkin hendak membunuh dia, yang pertama adalah saudara-saudaranya orang Anatot yang disebutkan dalam Yer. 11:18-23, yang kedua para nabi palsu dan imam-imam yang menyampaikan berita palsu (Yer. 18:18).

Dalam situasi sulit dan berbahaya ini, di ayat 16 Yeremia menyatakan kepada Tuhan: 「Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam」 Membuat kita tahu berharga dan kuasa dari Firman perkataan Tuhan.

Dalam ayat 19-21, Tuhan menjawab pertanyaan-pertanyaan Yeremia dan meneguhkan imannya. Tuhan mendorong nabi Yeremia untuk bertobat, sepenuh hati percaya bersandar kepada-Nya, dan menegaskan kembali janji-Nya kepada Yeremia: 「… Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau 」(ayat 20).

Renungkan:

1. Sebagian orang percaya percaya bahwa asal bersandar darah Kristus, asal mengakui dosa dan bertobat, maka dosa akan diampuni, sehingga mengabaikan keseriusan kejahatan dosa, memberikan kesempatan kepada iblis. Mereka mengabaikan konsekuensi yang sangat serius dari dosa, pengampunan dosa adalah fakta; Tetapi konsekuensi dan efek dari dosa dan perbuatan jahat adalah hal lain, harus ada orang yang menanggung. Apakah kita bersedia untuk menjadi orang yang meninggalkan buah konsekuensi dosa, atau yang membersihkan konsekuensi dosa?

2. Dalam keadaan yang sulit, Yeremia bersandar pada Firman perkataan Tuhan untuk mendapatkan sukacita dan kekuatan. Apakah Anda bersedia belajar memakai Alkitab sebagai makanan rohani kita setiap hari?


Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yeremia 1-17 ditulis oleh 曾錫華 (Zēng Xī Huá) yang dipublikasi pada bulan Juli 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Mazmur 122:1-2

「Sukacita」 Berdiri Di Bagian Dalam Pintu Gerbang

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 122:1-9 [ITB])
1Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: 「Mari kita pergi ke rumah TUHAN.」
2Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.
3Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, 4ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. 5Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud.
6Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: 「Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. 7Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!」
8Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: 「Semoga kesejahteraan ada di dalammu!」
9Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.

Sebagai 「Mazmur Ziarah」 yang ketiga, Maz. 122:1-2 menyajikan situasi dari mazmur ini di hadapan kita yakni para peziarah telah tiba di Yerusalem dan juga sudah 「berdiri di bagian dalam pintu gerbang」. Dalam bahasa asli Alkitab, pembukaan dari ayat 1 adalah kata 「sukacita」, dengan tepat mencerminkan suasana hati peziarah yang telah sampai di tahap ini. Tetapi berharga kita renungkan bahwa perjalanan ziarah bagi orang Israel sebenarnya adalah urusan yang sangat normal biasa, jikalau demikian lalu di manakah letak 「sukacita」 mereka? Dan juga apa alasannya bahwa hanya dengan 「berdiri di bagian dalam pintu gerbang」 sudah sedemikian gembira bersemangat?

Jika kita ingat Mazmur 120 dan Mazmur 121, mungkin kita dapat memahami di manakah letak 「sukacita」 para peziarah. Mari kita bayangkan, apa yang digambarkan dalam pasal 120 tentang betapa besar tantangan dibawakan kepada peziarah oleh 「kesesakan」, 「perang」, bahkan 「bibir pembohong dan lidah penipu」? Dan bagaimana dengan pasal 121? Sesuai yang dikatakan Pemazmur, bahkan matahari dan bulan akan menjadi kekuatan pengganggu peziarah di jalan. Dengan kata lain, para peziarah begitu memulai perjalanan, bahkan di tengah perjalanan terus menerus walaupun tindakan mereka adalah yang kudus, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa mereka telah mengalami penderitaan dan kesulitan yang tak terhitung jumlahnya. Tetapi bagaimana dengan hari ini? Mereka akhirya telah tiba sampai, akhirnya benar-benar bisa bernapas lega!

Dari sini dilihat, mereka penuh 「sukacita」 bukan sederhana hanya karena mereka sudah 「berdiri」 di 「bagian dalam pintu gerbang」Yerusalem, justru karena setelah mereka mengalami perjalanan ziarah, mendapatkan pengertian bahwa hanya hendaklah bersandar kepada TUHAN Allah yang mereka percaya, maka mereka benar-benar mampu tetap 「berdiri teguh」 walau telah berjalan melewati jalan yang penuh kesulitan.

Renungkan: Apakah kita memiliki 「sukacita」 yang sama? Memandang kembali pada hari-hari yang telah lalu, berharga direnungkan apakah sebenarnya kita juga telah dengan 「sukacita」 berjalan melewati begitu banyak perjalanan yang sangat berat, sampai sekarang masih tetap mampu 「berdiri di bagian dalam pintu gerbang」? Atau mungkin kita pernah jatuh di suatu bagian di jalan, menyimpang, bahkan hilang kepercayaan terhadap Allah? Ada orang karena 「kesesakan」, 「perang」, bahkan berbagai macam permasalahan sehingga telah meninggalkan barisan, tidak dapat tekun bertahan; ada orang pernah jatuh, pernah merasakan sakit, justru oleh karena keyakinan yang pasti terhadap 「Penjaga」 Allah kita (Maz. 121), sehingga tetap mampu teguh berjalan maju meneruskan perjalanan. Hari ini, apakah kita semua oleh karena diri sendiri sehingga mampu 「berdiri di bagian dalam pintu gerbang」 dan 「sukacita」?