Tag Archives: Sikap Pemimpin

Mikha 1:1-5

「Hakim yang Serius dan Berwibawa」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Mikha 1:1-5 [ITB])
1 Firman TUHAN yang datang kepada Mikha, orang Moresyet, pada zaman Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda, yakni berkenaan dengan yang dilihatnya tentang Samaria dan Yerusalem.
2 Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian! Perhatikanlah, hai bumi serta isinya! Biarlah Tuhan ALLAH menjadi saksi terhadap kamu, yakni Tuhan dari bait-Nya yang kudus. 3 Sebab sesungguhnya, TUHAN keluar dari tempat-Nya dan turun berjejak di atas bukit-bukit bumi. 4 Luluhlah gunung-gunung di bawah kaki-Nya, dan lembah-lembah terbelah seperti lilin di depan api, seperti air tercurah di penurunan. 5 Semuanya ini terjadi karena pelanggaran Yakub, dan karena dosa kaum Israel. Pelanggaran Yakub itu apa? Bukankah itu Samaria? Dosa kaum Yehuda itu apa? Bukankah itu Yerusalem?

Dalam dua belas hari ke depan, kita akan merenungkan pesan kitab Mikha. Ayat 1:1 menyatakan waktu pelayanan Nabi Mikha adalah di akhir abad ke delapan SM, di masa pemerintahan raja-raja Yehuda (kerajaan selatan) yakni Yotam, Ahas dan Hizkia. Abad ke delapan SM adalah masa kemakmuran kerajaan utara Israel, tetapi tiba-tiba diserang oleh Asyur dan menghancurkan negara itu dalam tiga puluh tahun. Ancaman Asyur ini bahkan memengaruhi Yehuda di kerajaan selatan tersebut. Nabi Mikha mungkin pernah mengalami masa Sargon raja Asyur menginvasi Filistin di tahun 720 SM dan 714-711 SM, dan juga tiga kali dalam krisis di tahun 701 SM saat Sanherib mengepung Yehuda dan Yerusalem. Nabi Mikha adalah orang Moresyet, yang mungkin merujuk ke kota asalnya di Moresyet-Gat (ayat 1:14), sekitar 25 mil barat daya Yerusalem. Di era ini, nabi Mikha menerima Firman TUHAN (Yahweh) dan menyampaikan pesan peringatan kepada zaman itu sesuai dengan penglihatan yang didapatkannya. Pesan yang disampaikannya juga merupakan peringatan bagi orang-orang dari segala zaman (generasi).

Pesan kitab Mikha sangat mirip dengan kitab Yesaya, yakni menyatakan penghakiman dan penyelamatan Allah kepada umat pilihannya. Selain itu, kitab Mikha dan kitab Hosea memiliki beberapa kesamaan. Meskipun Hosea adalah seorang nabi dari Kerajaan Utara, tetapi mungkin di masa akhir, terutama saat Kerajaan Utara ditawan, nabi Hosea mungkin berpindah pelayanan ke Yehuda dan di sana ia menuliskan kitab Hosea. Meskipun kitab Hosea menggambarkan penghakiman TUHAN (Yahweh) terhadap Kerajaan Utara, tetapi terdapat juga ajaran dan peringatan yang kuat untuk Yehuda. Demikian juga, kitab Mikha juga berbicara dari utara ke selatan, meskipun fokusnya adalah pada Yehuda, tetapi terdapat juga penghakiman terhadap Kerajaan Utara di 1:2-7, yang dapat dikatakan melanjutkan pesan Hosea dan meneruskan peringatan atas penghakiman terhadap Yehuda. Pesan dalam kitab ini secara khusus ditujukan pada dua kota Samaria dan Yerusalem, yang merupakan pusat politik dan agama di Utara dan Selatan, masing-masing, mencerminkan bahwa kerajaan dan otoritas merupakan unsur penting dalam kitab ini, terutama kejahatan dan kerusakan para pemimpin yang sedang memegang posisi akan mendatangkan penghakiman Allah

Ayat 1:2-5 adalah pembukaan dari pernyataan gugatan TUHAN (Yahweh) terhadap kedua kota. Ayat 3-4 menggambarkan manifestasi kuasa kekuatan TUHAN di alam, dari tempat kudus yang tinggi Dia turun menjejakkan kaki di atas bukit-bukit bumi, sehingga gunung-gunung harus luluh di bawah kaki-Nya. Ini dikutip dari tradisi penggambaran keadaan bagaimana ketika Allah hadir, secara kebiasaan pemakaian deskripsi ini adalah ditujukan kepada musuh Allah dan musuh umat-Nya, menunjukkan keagungan dan kuasa kekuatan TUHAN (Yahweh), sehingga musuh pasti akan gagal di hadapan-Nya. Tetapi sekarang justru digunakan untuk mengekspresikan penghakiman kepada Yehuda dan Israel.

Fokus ayat 1:5 menunjukkan bahwa dosa-dosa mereka adalah pada Samaria dan Yerusalem. Di sini disebutkan dosa kaum Yehuda yang adalah di Yerusalem, sesuai beberapa terjemahan kuno, kata itu diterjemahkan sebagai kaum dosa, yang mencerminkan bahwa itu mungkin tidak hanya gugatan atas penyembahan berhala agama (beberapa terjemahan misal ITL panggung berhala Yehuda atau high place of Judah), maka itu juga menunjuk pada berbagai jenis dosa yang memenuhi di antara mereka. Samaria dan Yerusalem sebagai pusat negara, mewakili mereka yang berkuasa. Tanggung jawab para pemimpin politik dan agama adalah untuk menghargai yang baik dan menghukum yang jahat, namun keadaan korup rusaknya mereka akan memimpin seluruh negara ke dalam dosa, dan mereka akan mendapatkan hukuman yang sangat berat.

Renungkan:
Pemimpin yang jahat harus dihukum oleh Allah. Tetapi hukuman mereka juga akan ikut membuat semua orang menderita, mohon Tuhan untuk membangkitkan pemimpin yang baik di generasi (zaman) kita.


Renungan pemahaman Kitab Mikha

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

20 Maret 2019 ● Rabu Minggu Kedua Pra Paskah

Seharusnya Tidak Begitu Di antara Kalian

Matius 20:17-28
17Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: 18“Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. 19Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

20Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 21Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 22Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 23Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 24Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 25Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 26Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem Dia memberi tahu kepada mereka bahwa Dia akan dikhianati dan diserahkan kepada para pemimpin agama, yang akan mengutuk-Nya dan menyerahkan-Nya kepada penguasa Romawi yang memiliki kuasa untuk menjalankan hukuman mati. Dia akan melalui siksaan ejekan dan cambukan dari mereka, dan mereka akan menyalibkan Dia, tetapi Ia akan bangkit pada hari ketiga.

Ironinya, tidak ada yang peduli tentang penderitaan yang harus dialami Yesus. Ibu Yakobus dan Yohanes, termasuk di antara beberapa wanita yang mengikuti mereka ke Yerusalem (Markus 15:41), memohon kepada Yesus untuk berjanji kepadanya untuk memberikan dua posisi tertinggi di Kerajaan-Nya kepada kedua putranya. Yesus dengan rendah hati menjawab bahwa penetapan posisi adalah keputusan Bapa.

Ibu Yakobus dan Yohanes benar-benar membangkitkan kemarahan murid-murid lain karena mereka juga mengidamkan posisi tertinggi di Kerajaan Yesus (Mrk. 9:33-36; Mat. 18: 1; Luk. 22:24-30). Selwyn Hughes berkomentar, “Betapa menyedihkan bahwa para murid bersedia untuk bertempur memperebutkan sebuah takhta, tetapi tidak untuk sebuah handuk.”

Apakah kita menyerupai para murid yang sibuk dengan ambisi mereka dan tidak memperhatikan apa yang dikatakan Yesus kepada mereka?

Di dunia ini orang berusaha untuk posisi, termasuk juga gengsi, kekuasaan, popularitas dan keistimewaan, tetapi Yesus memperingatkan, “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 20:26). Orang-orang percaya adalah warga dari Kerajaan yang berbeda (Flp. 3:20). Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana para pemimpin Kerajaan-Nya memimpin dengan melayani orang lain. Hamba melayani untuk memenuhi kebutuhan orang lain, dan Yesus melakukan itu dengan hidup-Nya sendiri untuk memenuhi kebutuhan kita akan keselamatan!

Yesus, Tuhan, Raja dan Allah kita menetapkan diri-Nya sebagai teladan bagi kita (Yoh 13: 13-15), bagaimana kita melayani orang lain seperti Dia?

Doa
Jadikan aku seorang pelayan yang rendah hati dan lemah lembut,
Tuhan biarkan saya mengangkat mereka yang lemah
Dan semoga doa dari dalam hatiku selalu
Jadikan aku pelayan
Jadikan aku pelayan
Jadikan aku pelayan hari ini.
(“Make Me A Servant” Lirik oleh Maranatha Music 1982.)

Tindakan
Temukan tindakan pelayanan yang dapat Anda lakukan untuk satu orang setiap hari; dan sebuah area pelayanan yang dapat Anda layani di gereja Anda. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kol. 3:23-24)

Oleh
Rev Chia Beng Hock
Senior Pastor
Bethel Assembly of God

19 Maret 2019 ● Selasa Minggu Kedua Pra Paskah

Jalani ucapanmu!

Matius 23:1-12
1Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 8Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 9Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 10Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 11Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan
Tempat duduk Musa adalah tanda otoritas untuk orang Yahudi. Para pemimpin agama pada masa itu mengambil otoritas itu dan berkhotbah dan mengajar orang-orang, tetapi gagal mempraktikkan ajaran-ajaran itu dalam kehidupan mereka sendiri. Mereka bukan contoh yang bagus dari ajaran mereka sendiri. Hal-hal yang mereka lakukan hanyalah tindakan lahiriah untuk menciptakan persepsi tentang kepentingan mereka di publik. Yesus menolak perilaku munafik seperti itu dan mendesak murid-murid-Nya untuk menjadi hamba Allah yang sejati.

Yesus mencegah niat murid-murid-Nya untuk menginginkan tempat-tempat berkedudukan tinggi karena reputasi buruk para pemimpin agama. Yesus mengundang mereka untuk memandang Kristus sebagai satu-satunya guru mereka yang telah menetapkan diri-Nya sebagai teladan kepemimpinan sejati. Yesus memperbarui pemahaman mereka tentang kepemimpinan pelayanan. Kata-kata Tuhan kita ini, berlaku bagi para pengikut-Nya hari ini.

Untuk mencapai dan melatih kerendahan hati adalah dekat dengan hati Yesus seperti yang terlihat dalam ajaran-Nya dalam Injil. Yesus sendiri adalah contoh sempurna dari kerendahan hati – “Anak Allah, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:6,7). Ia menyerahkan takhta-Nya yang memang menjadi milik-Nya dan menjadi salah satu dari kita untuk melayani dan menyelamatkan kita. Dalam arti, melalui satu tindakan itu, Yesus bertindak menunjukkan kerendahan hati bahkan sebelum Dia mulai berkhotbah tentang hal itu. Di sepanjang kehidupan-Nya di bumi, Dia menetapkan diri-Nya sebagai teladan sebagai hamba Allah yang rendah hati untuk melayani manusia.

Kita sering mendengar ini, “Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata.” Panggilan yang dibuat ketika melihat tindakan yang ditampilkan diperlukan lebih dari sekadar ucapan. Saat ini, tidak ada kekurangan pembicara hebat tentang kepemimpinan dan kehambaan; kerendahan hati dan pengorbanan, tetapi hanya ada sedikit orang yang benar-benar menunjukkan watak yang benar dari kepemimpinan yang melayani. Yesus mengundang kita untuk senantiasa melatih kerendahan hati, terlebih lagi sebelum kita mulai membicarakannya. Kita harus menjadi orang yang menjalankan ucapan kita!

Doa
Ya Tuhan, ajari aku kerendahan hatimu. Biarkan saya menjadi contoh kata-kata-Mu sehingga orang lain dapat melihat tindakan saya dan merindukan-Mu.

Tindakan
Hari ini saya akan melakukan upaya yang dirancang untuk melayani dengan kerendahan hati dan pengorbanan.

Oleh
Rev James Nagulan,
President
Emmanuel Tamil Annual Conference

Yeremia 2:1-8

「Allah Memelihara Israel Walau Dosa Nenek Moyang Israel」

Ditulis oleh 曾錫華 (Zēng Xī Huá) Alliance Bible Seminary H.K.

(Yer. 2:1-8 [ITB])
Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: 2Pergilah memberitahukan kepada penduduk Yerusalem dengan mengatakan: Beginilah firman TUHAN: 『Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya. Ketika itu Israel kudus bagi TUHAN, sebagai buah bungaran dari hasil tanah-Nya. Semua orang yang memakannya menjadi bersalah, malapetaka menimpa mereka, demikianlah firman TUHAN.』
Dengarlah firman TUHAN, hai kaum keturunan Yakub, hai segala kaum keluarga keturunan Israel.
5Beginilah firman TUHAN: Apakah kecurangan yang didapati nenek moyangmu pada-Ku, sehingga mereka menjauh dari pada-Ku, mengikuti dewa kesia-siaan, sampai mereka menjadi sia-sia? Dan mereka tidak lagi bertanya: Di manakah TUHAN, yang menuntun kita keluar dari tanah Mesir; yang memimpin kita di padang gurun, di tanah yang tandus dan yang lekak-lekuk, di tanah yang sangat kering dan gelap, di tanah yang tidak dilintasi orang dan yang tidak didiami manusia?
7Aku telah membawa kamu ke tanah yang subur untuk menikmati buahnya dan segala yang baik dari padanya. Tetapi segera setelah kamu masuk, kamu menajiskan tanah-Ku; tanah milik-Ku telah kamu buat menjadi kekejian. Para imam tidak lagi bertanya: Di manakah TUHAN? Orang-orang yang melaksanakan hukum tidak mengenal Aku lagi, dan para gembala mendurhaka terhadap Aku. Para nabi bernubuat demi Baal, mereka mengikuti apa yang tidak berguna.

Hari ini kita mulai membaca Kitab Yeremia pasal 2, yang merupakan awal dari bagian yang penting. Kitab Yeremia pasal pertama adalah pengantar dari keseluruhan kitab, dan pasal 2 – 25 adalah catatan mengenai nubuat-nubuat di zaman raja Yosia, Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia.

Yosia naik takhta menjadi raja pada usia delapan tahun, delapan tahun kemudian ia mulai mencari Tuhan, dan pada usia 20 pertama kalinya ia mulai membersihkan berhala di dalam negerinya. Satu tahun kemudian, yakni pada tahun ke 13 raja Yosia memerintah, Yeremia dipanggil untuk menjadi seorang nabi. Lima tahun kemudian, ketika Yosia membersihkan Bait Suci, dan menemukan sebuah kitab Taurat Musa, membawakan dorongan baru bagi reformasi iman untuk Yehuda.

Ada beberapa sarjana percaya bahwa Kitab Yeremia pasal 2 – 12 adalah berita yang disampaikan di masa awal Yeremia, berita di zaman pemerintahan raja Yosia. Kitab Yeremia pasal 2 – 6 adalah berita yang disampaikan Yeremia sebelum menemukan kitab Taurat, dan pasal 7 – 9 adalah berita yang disampaikan setelah penyucian Bait Suci dan penemuan kitab Taurat. Pasal 10 – 12 adalah adalah berita yang disampaikan setelah kitab Taurat ditemukan untuk mendorong reformasi dilakukan secara lebih intens.

Ayat 1-3 adalah Tuhan mengingatkan kembali bahwa bangsa Israel pernah memiliki hubungan yang sangat erat dengan dia, seperti kasih seorang pria dan seorang wanita saat menikah. Tuhan memakai gambaran cinta dan perkawinan untuk membantu Israel — terutama mereka yang tinggal di Yerusalem — agar memahami bahwa mereka telah membuat keputusan yang mengkhianati Tuhan. Dengan kenangan sejarah masa lalu, terutama masa bangsa Israel paling lemah, masa sedang berkeliaran di padang belantara, Tuhan hendak mengingatkan orang Israel, pada hari-hari kekurangan air dan makanan, bangsa Israel mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati, dan saat itu kasih sayang Tuhan kepada mereka makin bertambah.

Ayat 2 Tuhan berkata 「Aku teringat …」, itu adalah menunjuk kepada 「perjanjian」 antara Tuhan dengan bangsa Israel, yakni Allah adalah Tuhan mereka, dan mereka adalah umat Tuhan. Tuhan itu setia, dan akan menjaga perjanjian untuk selama-lamanya; Tetapi orang Israel pengantin yang berubah-ubah, dalam sekejap telah melupakan kasih karunia Tuhan, melakukan perbuatan yang menghancurkan pernikahan, tidak setia pada suami, yakni merangkul para dewa kafir dan penyembahan berhala.

Ayat 4-8 adalah tuduhan terhadap orang Israel melupakan budi tidak tahu berterima kasih kepada Tuhan, mereka ternyata mengkhianati Tuhan, dan melupakan Tuhan yang mengasihi mereka, berputar menyembah berhala dan memeluk para dewa bangsa-bangsa. Puisi dalam ayat-ayat ini adalah seperti tuduhan di pengadilan menunjukkan kesalahan dan ketidakadilan terdakwa.

Tuhan dalam ayat 5 terlebih dahulu bertanya 「Apakah kecurangan yang didapati nenek moyangmu pada-Ku, sehingga mereka menjauh dari pada-Ku, mengikuti dewa kesia-siaan, sampai mereka menjadi sia-sia?」 Ini maksudnya mengatakan bahwa tidak ada kesalahan pada Tuhan! Ayat 7-8 menunjukkan banyaknya kesalahan bangsa Israel. Mereka membiarkan berhala dan ilah-ilah asing menajiskan milik pusaka yang diberikan Tuhan kepada mereka, dan mengubah semua yang awalnya baik menjadi kekejian. Ayat 8 memberikan tiga jenis wakil-wakil yang mengepalai mereka berbuat kejahatan: imam, raja dan nabi. Imam adalah orang yang seharusnya memimpin orang-orang kepada Tuhan, tapi mereka justru 「tidak pernah bertanya: 『Di manakah TUHAN?』 Mereka yang mengkhotbahkan Taurat, tidak mengenal Aku lagi.」 (Dalam ITB sebagai 「… Orang-orang yang melaksanakan hukum, tidak mengenal Aku lagi」) 「Para gembala」 (dapat juga sebagai 「rulers / para penguasa」 seperti dalam CUVT dan mayoritas terjemahan Inggris) yakni para raja, pemimpin masyarakat, mereka yang seharusnya membawa masyarakat kembali kepada Tuhan, tetapi mereka telah melanggar hukum dan menyebabkan kejahatan. Bahkan terlebih lagi para nabi, yang seharusnya mematuhi perintah Tuhan sampaikan untuk memberitakan pesan-Nya, justru 「bernubuat demi Baal, mereka mengikuti benda yang tidak berguna」

Renungkan:

1. Berapa lama Anda telah mempercayai Tuhan? Apakah saat ini Anda mencintai Tuhan lebih daripada ketika Anda pertama kali percaya?

2. Apakah Anda tahu bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang 「mengingat?」 Ia ingat cinta Anda pada-Nya, melayani dan penyerahan diri Anda! Bagaimanakah Anda hendak Tuhan mengingat Anda?

3. Apakah Anda sering mengingat kepada Tuhan, khususnya kasih karunia dan cinta-Nya kepada Anda?


Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yeremia 1-17 ditulis oleh 曾錫華 (Zēng Xī Huá) yang dipublikasi pada bulan Juli 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Yesaya 1:21-26

「Kota yang Setia」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 1:21-26 [ITB])
21Bagaimana ini,
kota yang dahulu setia sekarang sudah menjadi sundal! Tadinya penuh keadilan dan di situ selalu diam kebenaran, tetapi sekarang penuh pembunuh. 22Perakmu tidak murni lagi dan arakmu bercampur air. 23Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka.
24Sebab itu demikianlah firman Tuhan, TUHAN semesta alam, Yang Mahakuat pelindung Israel; 「Ha, Aku akan melampiaskan dendam-Ku kepada para lawan-Ku, dan melakukan pembalasan kepada para musuh-Ku. 25Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya. 26Aku akan mengembalikan para hakimmu seperti dahulu, dan para penasihatmu seperti semula. Sesudah itu engkau akan disebutkan kota keadilan, kota yang setia.」

Keberhasilan sebuah kota, bukan ditentukan oleh harta kekayaan, tetapi ditentukan oleh keadilan.

Saat nabi Yesaya mengumumkan nubuat adalah di Yerusalem yang aman dan makmur, ia menunjukkan secara langsung: Allah pasti akan menghakimi kota ini (Yes. 1:21-26). Saat itu kota ini indah menggerakkan hati orang, setiap orang tinggal dengan aman, bekerja dengan bahagia, memiliki uang dan anggur berkecukupan untuk dinikmati rakyat, kekuatan negara juga termasuk kuat dan besar, tidak ada kekuatiran atas sandang pangan. Dalam sudut pandang manusia, kota ini penuh memiliki masa depan. Mengapa nabi Yesaya justru di saat negara aman rakyat tenteram ini mengungkapkan kata penghakiman yang demikian serius tidak empati kepada para pemimpin?

Mungkin kita dapat mempelajari perikop ini dengan menuliskannya dalam sebuah bentuk struktur chiastic (struktur engsel):

Tema: 21a kota yang setia menjadi sundal!
A 21b dahulu penuh keadilan, di situ selalu diam kebenaran, sekarang penuh diam pembunuh.
B 22 perakmu tidak murni lagi penuh ampas dan arakmu bercampur air.
C 23  pemimpinmu hatinya durhaka,
bersekongkol dengan pencuri, semuanya suka menerima suap,
mengejar sogok harta benda yang haram.
Mereka tidak membela hak anak-anak yatim;
perkara yag diajukan para janda tidak sampai kepada mereka.
(Kritik kepada para pemimpin yang tidak benar )
X 24a oleh karena itu, Tuhan ─ TUHAN semesta alam,
Yang Mahakuat pelindung Israel berkata: (Pemberitahuan ilahi )
C’ 24b Ah! Aku akan melampiaskan dendam-Ku kepada para lawan-Ku,
membalas para musuh-Ku. (Penghakiman kepada para pemimpin yang tidak benar)
 B’ 25 Aku akan bertindak terhadap engkau,
memurnikan perakmu,
menyingkirkan segala timah ─ kotoran ─ dari padanya.
A’ 26a Aku akan memulihkan para hakimmu, seperti dahulu,
mengembalikan para penasihatmu, seperti semula.
Lalu, Sesudah itu engkau akan disebutkan kota keadilan, kota yang setia.

A-A’: ayat 21b dan ayat 26a, kata kunci yang berkorespondensi adalah 「keadilan」 (juga kata 「hakim」 yang dari akar kata yang sama) dengan 「kebenaran」. Dilihat dari lima kitab Musa dan tradisi para nabi, keadilan dan kebenaran adalah sama dengan membela orang miskin, anak yatim piatu dan para janda, memperjuangkan orang yang tertindas, juga menjalankan tuntutan hukum Taurat dari lima kitab Musa. Tetapi ayat 21b menjelaskan: di dalam kota yang aslinya memiliki keadilan dan kebenaran ternyata berdiam pembunuh. Pembunuh secara teori pasti mendapatkan hukuman, tetapi sekarang justru ternyata dapat tinggal berdiam dengan aman tenteram, keadilan dan kebenaran sudah tidak ada lagi, sudah tidak ada pembatasan. Ayat 26a menunjukkan Allah pasti akan mengembalikan lagi hakim yang adil, memulihkan kehendak Allah. Teguran dari para nabi bukan memberikan teguran sekedar demi menegur, tetapi memberikan panggilan adalah agar kota mendapatkan kembali keadilan. Oleh karena itu, teguran semacam ini adalah 「panggilan bertobat」 (call to repent). Teguran nabi bukan pandangan mata sinis, tetapi adalah panggilan kepada orang untuk bertobat dengan air mata.

B-B’: kata yang berkorespondensi adalah「tidak murni / penuh ampas」, ayat 22 menunjukkan uang / perak yang membuat orang sombong ternyata ampas tidak berguna. Sebuah kota yang demikian kaya raya sehingga yang tersisa darinya hanyalah harta benda, sebenarnya hanya tersisa ampas, dan keberhasilan yang sesungguhnya malahan seharusnya adalah keadilan dan kebenaran. Ini secara langsung menyindir dengan tajam pejabat pemerintah saat itu, mereka ternyata mengejar uang yang seperti ampas sampah, justru telah menyerah atas keadilan yang seperti mutiara. Ayat 25 menjelaskan penghakiman Allah adalah demi menghilangkan ampas sampah, Allah melakukan penghakiman bukan karena sekedar ingin menghakimi, tetapi adalah demi mendidik kota ini, membuat kota ini bertobat dan menjadi murni.

C-C’: ayat 23 dan 24 adalah penghakiman kepada pemimpin dan pejabat yang tidak benar. Ayat 23 langsung menunjuk pejabat tidak membela komunitas kaum lemah, dan ayat 24b justru menjelaskan Allah pasti akan oleh diri sendiri membela kaum lemah, Dia pasti berdiri di pihak kaum lemah, langsung menunjuk para pejabat ini sebagai 「musuh」, juga hendak 「melampiaskan dendam」 bagi kaum lemah.

X: adalah inti titik pusat dari pengumuman perkataan TUHAN. Nabi Yesaya tidak takut akan kesulitan di depan mata, misinya hanya satu adalah setia sebagai wakil pembawa perkataan, mengumumkan bahwa: penghakiman Allah selamanya tidak akan ada kompromi, pembelaan Allah bagi kaum lemah adalah sedemikian genting.

Renungkan: menghadapi pemberitahuan ilahi ini, pemimpin dan pejabat hendaknya cepat-cepat bertobat, jika tidak demikian maka akan mendapatkan bencana tiada akhir. Karena Allah pasti berdiri di pihak kaum lemah, untuk mendapatkan keadilan bagi mereka, pada hari itu, orang fasik pasti akan menerima penghukuman, keadilan dan kebenaran pasti akan datang. Kita juga hendaknya berdoa bagi diri kita sendiri, memohon agar kita pada hari itu bukan orang yang dihukum Tuhan, tetapi adalah yang bersorak sorai karena keadilan.

Kej. 35:1-4

「Membayar Nazar dan Mentahirkan Diri」

Selangkah lebih maju, Yakub melakukan hal-hal yang perlu untuk membawa orang-orang yang bersama dia untuk datang ke hadirat Allah.

(Kej. 35:1-4 [ITB])
1Allah berfirman kepada Yakub: “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu.”
2Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: “Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. 3Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh.”
4Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem.

(Bacalah Kej. 35) Kitab Kejadian pasal 35 terdapat beberapa kisah, dapat dibagi menjadi 3 bagian sesuai geografis, di antaranya masing-masing mencatat kematian dan penguburan dari satu orang:

  1. Dari Sikhem sampai Betel, inang pengasuh Ribka yaitu Debora meninggal (Kej. 35:1-15)
  2. Dari Betel sampai Efrata, Rahel meninggal karena sulit melahirkan (Kej. 35:16-26)
  3. Hebron, Ishak sampai akhir umurnya (Kej. 35:27-29).

Seluruh pasal bertopik 「kehidupan dan kematian」, mengakhiri catatan yang berfokus pada diri Yakub. Pada pasal-pasal yang akan datang walaupun kadang-kadang menyebutkan Yakub, tetapi semuanya adalah berfokus pada anak-anaknya.

Kitab Kejadian berulang kali berbicara tentang para leluhur membangun mezbah, tetapi hanya ada di pasal ini saja Allah berpesan kepada orang untuk membangun mezbah. Ini adalah karena Yakub pernah bernazar kepada TUHAN (Kej. 28), sekarang TUHAN sudah memenuhi (Allah menyertai dan melindungi, memberikan makan dan pakaian, memimpin selamat kembali ke tanah perjanjian), maka Allah berpesan agar ia membayar nazar.

Terdapat beberapa poin yang berharga diperhatikan:

  1. Nazar harus dibayar, jika tidak maka lebih baik tidak membuat nazar (Bil. 30:2; Pkh. 5:4).
  2. Mendapatkan anugerah kasih harus bersyukur. Perhatian dari Allah melampaui apa yang dimohon, apa yang dipikirkan, Yakub satu keluarga walaupun melalui banyak kesulitan, akhirnya pulang sampai tanah Kanaan. Dan lagi Yakub sendiri mengakui, awal saat ia pergi adalah sebatang kara, sekarang beserta istri dan anak sudah menjadi kelompok, sapi kambing tidak terhitung.
  3. Sepatutnya menyelesaikan dan putus dari hal lama. Yakub berpesan kepada seluruh orang rumah tentang 3 hal: (a) membuang segala dewa asing yang dipunyai mereka, menyatakan iman kepercayaan kepada Allah yang Esa. Di sini termasuk berhala yang didapatkan dari menjarah kota Sikhem, juga patung dewa yang dicuri Rahel dari tengah-tengah rumahnya. (b) mentahirkan diri, dan (c) tukarlah pakaian. Mentahirkan tubuh, mewakili mentahirkan hati; bertukar pakaian mungkin menunjuk membuang lumuran darah kota Sikhem (juga menyerahkan anting-anting yang ada pada telinga mereka yang mungkin jarahan dari kota Sikhem, Kej 35:4). Yakub menanam semua berhala ini di bawah pohon besar yang dekat Sikhem, menunjukkan pembuangan kegunaan dari semua patung dewa tersebut, juga dapat dilihat bahwa Rahel mencuri patung dewa adalah perbuatan sia-sia.

Yakub memimpin seluruh rumah datang sampai Betel, di sana membangun sebuah mezbah, memberi tempat itu nama 「El Betel」 (’ēl bêt ’ēl, artinya yaitu 「Betel milik Allah」), mewakili rohani Yakub yang telah maju satu langkah, dari mengalami tempat yang suci (「Bait Allah」), masuk sampai pertemuan pribadi dengan Allah, masuk ke dalam relasi yang mendalam. Lihatlah, Inang pengasuh Ribka setelah mati dan dimakamkan di bawah pohon besar di sebelah hilir Betel, mewakili semua orang yang ada di tengah-tengah rumah Yakub, termasuk inang pengasuh yang kedudukannya tidak demikian penting juga masuk dan ada di tengah-tengah rumah Allah.

Renungkan: Apakah engkau pernah bernazar kepada Allah? Orang yang beribadah sepatutnya tahir, 「orang yang tidak tahir, tidak boleh mendekati Allah」. Kelak Musa di gunung Sinai memimpin umat membuat perjanjian dengan Allah, berpesan kepada umat harus lebih dahulu mentahirkan diri (Kej. 19:10). Orang sepatutnya dengan kekudusan datang merespon Allah yang kudus, ini tidak hanya merupakan urusan per orang, juga adalah urusan seluruh rumah. Orang yang lebih tua sepatutnya bangkit untuk memproklamasikan: 「Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!」 (Yos. 24:15).

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Titus 1:5-16 (3)

「Perbandingan Dua Macam Pemimpin」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 1:5-16 [ITB])
5Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu, 6yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.
7Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, 8melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri 9dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.
10Karena sudah banyak orang hidup tidak tertib, terutama di antara mereka yang berpegang pada hukum sunat. Dengan omongan yang sia-sia mereka menyesatkan pikiran. 11Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan.
12Seorang dari kalangan mereka, nabi mereka sendiri, pernah berkata: 「Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas.」
13Kesaksian itu benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, 14dan tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran.
15Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis. 16Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.

Selama 4 hari yang sebelumnya, kita telah merenungkan kualifikasi penatua (Titus 1:5-9) dan kesalahan guru palsu (Titus 1:10-16). Hari ini kita mempelajari surat Titus 1:5-16 secara keseluruhan, membandingkan dua macam pemimpin — penatua dan guru palsu.

Paulus di sini membawakan tiga berita yang penting dan kontras.

  1. Kebajikan dan kebiasaan buruk: Paulus di satu sisi mengakui kebajikan adalah penting dan berharga dimiliki, di sisi lain, ia menegur kebiasaan buruk dalam masyarakat. Semua kebajikan atau kebiasaan buruk ini tidak hanya merupakan hal yang perlu diperhatikan pemimpin, namun juga merupakan hal yang sepatutnya ditegakkan atau dihindari oleh orang percaya dengan usaha keras. Kebajikan atau kesalehan adalah hal yang bisa ditegakkan dan dilatih, tepat seperti nasehat Petrus kepada orang percaya: 「sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang」 (2 Pet. 1:5-7).
  2. Pemimpin yang baik dan yang jahat. Pemimpin yang baik bisa memimpin gereja (sedemikian juga pemimpin rumah tangga) berlari menuju pertumbuhan yang sehat, membuat kehidupan rohani orang percaya bertumbuh, kehidupan yang selaras luar dan dalam. Namun, pemimpin yang jahat mengakibatkan perpecahan perselisihan, di antara mereka hanya ada omong kosong, keadilan hanya ada di bagian luar saja dalam kehidupan mereka, di bagian dalam adalah 「penuh tulang belulang orang mati dan pelbagai jenis kotoran」 (Mat. 23:27). Dalam komunitas ini, orang tidak ada kasih karunia, kasih, atau kesucian / kekudusan. Pemimpin baik atau jahat secara langsung mempengarui kelangengan atau keruntuhan komunitas, gereja atau bangsa. Sebagai contoh kerajaan Israel utara dan selatan dalam Perjanjian Lama, para raja Israel utara tidak menjalankan perintah TUHAN, berakhir dimusnahkan oleh Asyur. Yudea yang di selatan, karena di antara mereka ada beberapa orang raja yang bersandar kepada Allah, oleh karena itu membawakan kebangkitan bangsa, sehingga nasib negaranya lebih panjang berapa ratus tahun dibandingkan Israel utara.
  3. Kualifikasi pemimpin dan model penampilan guru palsu. Paulus dengan jelas menggambarkan dua macam penampilan hidup yang sangat berbeda, titik penting perikop ini dapat diringkas dengan perbandingan penampilan hidup pemimpin yang setia dan guru palsu:
Pemimpin yang Setia Guru Palsu
penatalayan yang setia merusak keluarga Allah
tak bercacat Nurani, pikiran dan tingkah laku semuanya najis
tidak menginginkan harta yang haram Serakah akan harta yang haram
tidak pemberang, tidak memukul orang adalah binatang buas
Menerima pengajaran yang murni menyesatkan orang, pengajarannya merusak orang

Perikop ayat 5-16 ini membuat kita dengan jelas melihat pentingnya kehidupan pemimpin (demikian juga pemimpin di rumah tangga, di kantor dll) dan memiliki kebajikan. Moral pemimpin secara langsung mempengarui cara ia bertindak dan tindak tanduknya; bagaimana ia mengurus uang dan harta, menghadapi orang yang berbeda emosi suasana hatinya, bagaimana mengatur rumah Allah, dsb, semua bisa mencerminkan kehidupan seorang pemimpin. Tepat seperti kita sering dengarkan bahwa Allah memandang penting kehidupan seorang pelayan Tuhan lebih daripada pekerjaannya. Jika Tuhan tidak berkenan atas kehidupan kita, apapun yang kita perbuat semuanya adalah sia-sia.

Kiranya orang percaya berusaha keras belajar 「menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;」 (Kol. 3:9-10).

Renungkan: (1) memohon Roh Kudus memeriksa bagian dalam hati saya, mengetahui pikiran dan keinginan saya; (2) memohon Tuhan mengaruniakan rekan rohani, bersama-sama mendirikan kebajikan; (3) memohon Tuhan membuat saya menjadi seorang yang pelayan setia!

Daniel 5:13-31

「Senantiasa Hormat dan Takut」

Sikap seorang yang mendapat mandat dari Allah?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 5:13-31 [ITB])
13Lalu dibawalah Daniel menghadap raja. Bertanyalah raja kepada Daniel: 「Engkaukah Daniel itu, salah seorang buangan yang telah diangkut oleh raja, ayahku, dari tanah Yehuda? 14Telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa, dan bahwa padamu terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa.
15Kepadaku telah dibawa orang-orang bijaksana, para ahli jampi, supaya mereka membaca tulisan ini dan memberitahukan maknanya kepadaku, tetapi mereka tidak sanggup mengatakan makna perkataan itu.
16Tetapi telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau dapat memberikan makna dan dapat menguraikan kekusutan. Oleh sebab itu, jika engkau dapat membaca tulisan itu dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, maka kepadamu akan dikenakan pakaian dari kain ungu dan pada lehermu akan dikalungkan rantai emas, dan dalam kerajaan ini engkau akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga.」
17Kemudian Daniel menjawab raja: 「Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku.」
18「Ya tuanku raja! Allah, Yang Mahatinggi, telah memberikan kekuasaan sebagai raja, kebesaran, kemuliaan dan keluhuran kepada Nebukadnezar, ayah tuanku. 19Dan oleh karena kebesaran yang telah diberikan-Nya kepadanya itu, maka takut dan gentarlah terhadap dia orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa; dibunuhnya siapa yang dikehendakinya dan dibiarkannya hidup siapa yang dikehendakinya, ditinggikannya siapa yang dikehendakinya dan direndahkannya siapa yang dikehendakinya.
20Tetapi ketika ia menjadi tinggi hati dan keras kepala, sehingga berlaku terlalu angkuh, maka ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya dan kemuliaannya diambil dari padanya. 21Ia dihalau dari antara manusia dan hatinya menjadi sama seperti hati binatang, dan tempat tinggalnya ada di antara keledai hutan; kepadanya diberikan makanan rumput seperti kepada lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai ia mengakui, bahwa Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu.」
22「Tetapi tuanku, Belsyazar, anaknya, tidak merendahkan diri, walaupun tuanku mengetahui semuanya ini. 23Tuanku meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga: perkakas dari Bait-Nya dibawa orang kepada tuanku, lalu tuanku serta para pembesar tuanku, para isteri dan para gundik tuanku telah minum anggur dari perkakas itu; tuanku telah memuji-muji dewa-dewa dari perak dan emas, dari tembaga, besi, kayu dan batu, yang tidak dapat melihat atau mendengar atau mengetahui, dan tidak tuanku muliakan Allah, yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku. 24Sebab itu Ia menyuruh punggung tangan itu dan dituliskanlah tulisan ini.」
25Maka inilah tulisan yang tertulis itu: 『Mene, mene, tekel ufarsin.』
26Dan inilah makna perkataan itu:
「Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri;
27Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan;
28Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia.」
29Lalu atas titah Belsyazar dikenakanlah kepada Daniel pakaian dari kain ungu dan pada lehernya dikalungkan rantai emas, dan dimaklumkanlah tentang dia, bahwa di dalam kerajaan ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga.
30Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu.
31Darius, orang Media, menerima pemerintahan ketika ia berumur enam puluh dua tahun.

Sampai fasal kelima, Daniel sekali lagi terlibat bahaya krisis di istana. Daniel adalah berdasarkan mandat Yang Mahatinggi menjelaskan dari mana datangnya jari-jari tangan dan arti tulisan, maka ia menolak hadiah Belsyazar (Daniel 5:17), tentu saja ia sejak awal telah paham apa yang dinamakan hadiahsekejap mata akan berubah sedikitpun tidak punya nilai harganya (Daniel 5:31).

Terdapat ciri spesial dari catatan dalam perikop ini, yakni sebelum Daniel menjelaskan huruf tulisan, lebih dahulu menegur Belsyazar. Salah satu tanggung jawab dari seorang nabi, adalah saat raja berbuat dosa, bersalah kepada Allah, hendak berdasarkan nama Tuhan memberikan teguran dan peringatan (lihat 1 Sam. 13; 1 Sam. 15; 2 Sam. 12; 1 Raj. 18; Yer 36). Daniel memakai Nebukadnezar sebagai contoh, langsung menunjuk dosa Belsyazar. Nebukadnezar jauh agung berwibawa dibandingkan Belsyazar, tetapi saat Allah menghadapi ia yang 「tinggi hati, keras kepala tidak menerima pendapat orang, perbuatannya penuh kesombongan」 (Daniel 5: 20), ia mengerti untuk merendahkan hati, akhirnya memahami 「Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu」 (Daniel 5:21). Sedangkan Belsyazar yang jauh tidak bisa dibandingkan Nebukadnezar, justru tidak saja belum belajar dari pengalaman nenek moyangnya (Daniel 5: 22), ia bahkan melanggar penistaan yang lebih lagi serius: penajisan bejana-bejana Bait Suci, dipakai sebagai alat menyembah berhala (Daniel 5:23). Inilah penyebab munculnya jari-jari tangan yang mengumumkan penghukuman (Daniel 5:24).

「Mene, mene, tekel ufarsin」 adalah tiga kata benda dalam bahasa Aram. Kata「mene」diulang satu kali, memiliki makna penekanan. Ketiga kata benda adalah satuan uang, diterjemahkan secara langsung adalah 「mina, mina, syikal, separuh」 (berdasarkan teks sebelum dan sesudahnya kira-kira maksudnya adalah menunjuk setengah syikal). Hal yang paling istimewa, adalah Daniel menggunakan tiga kata benda dalam bentuk kata kerja pasif , maknanya berubah menjadi 「menghitung」 (jumlah kuantiti), 「menimbang」 (berat), dan「dipisahkan setengah」: 「Mene adalah masa pemerintahan engkau dihitung oleh Allah dan telah diakhiri. Syikal (tekel) adalah engkau ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan. Peres (sinonim ufarsin) adalah kerajaanmu dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia.」 (Daniel 5:26-28) (Perhatikan bahwa terjemahan ITB bernada lunak dengan penggunaaan kata “tuanku” sedangkan KJV serta mayoritas terjemahan Inggris, dan CUVT Mandarin semua menggunakan kata “engkau” sehingga nada teguran lebih keras. Namun kata “tuanku” juga mempunyai keunggulan mengingatkan siapa Tuan yang sebenarnya. Lihat juga renungan Daniel 3:16-18 juga terdapat kontras yang sama.)

Semua ada dalam pegangan kendali Allah. Babel pernah satu kali kerajaan kuat tanpa tanding di seluruh muka bumi, tetapi hanya terbatas dalam batasan waktu yang ditentukan Allah. Sudah tiba waktunya, dinasti raja harus berakhir selesai, digantikan oleh Persia dan Media. Tepat karena Media Persia mendapatkan kekuasaan, kemudian hari barulah ada perintah Cyrus (Koresh) (Ezra 1:1-4), yang mengijinkan umat Israel kembali pulang tanah air, membangun ulang Bait Suci. Allah berdasarkan kehendak-Nya memimpin sejarah bergerak maju. Berita ini sekali lagi membawakan penghiburan dan pengharapan bagi umat yang ditawan.

Pengalaman Nebukadnezar dan Belsyazar, dengan jelas menunjukkan bahwa Allah berdasarkan kehendak-Nya sendiri mengaruniakan kekuasaan kepada raja penguasa di atas bumi; dan pada saat yang sama, Allah meminta mereka menjalankan keadilan dan penuh kebenaran, belas kasihan (Daniel 4:27). Saat raja penguasa berjalan serong di jalan sendiri, Allah akan melalui mimpi, penglihatan berbagai penyataan, memberikan peringatan melalui hamba Allah yang setia. Sayang sekali, Nebukadnezar dan Belsyazar belum meletakkan perintah Allah di dalam mata, orang pertama memandang kejayaan Babel sebagai jasa dirinya sendiri (Daniel 4:30), orang kedua terlebih lagi angkuh sampai secara terbuka menista Allah (Daniel 5:1-4). Ujung fasal lima mencatat akhir dari Belsyazar: 「Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu. Darius, orang Media, menerima pemerintahan ketika ia berumur enam puluh dua tahun」 (Daniel 5:30-31). Ini adalah akhir dari seorang penghina penistaan Allah dan penyembah berhala, juga menyambung seruan berita utama kitab Daniel: Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu (Daniel 4:17, 25, 32; 5:21). Raja yang berkuasa di bawah langit (termasuk 「kepala emas」), pasti ada di bawah kedaulatan absolut Tuhan Allah, juga hanya dapat menuruti rencana-Nya dalam mengangkat dan menurunkan, memegang kuasa hanya dalam masa periode yang Dia tentukan.

Renungkan: angkuh, merasa diri istimewa, tidak hormat takut akan Allah, bukan merupakan hak patent orang yang diluar kepercayaan iman. Pada kenyataannya, orang Kristen sangat mudah terjerumus dalam dosa ini dan tidak menyadarinya. Dengan mulut menyebutkan Yesus sebagai Tuhan, berseru tinggi Allah memegang kendali, dalam tingkah laku justru memandang pikiran diri sendiri sebagai patokan, tidak pernah tunduk di dalam kedaulatan Allah; bergembira atas kesuksessan, merasa diri lebih saleh lebih giat lebih hebat dibandingkan orang percaya yang lain, lupa bahwa semua berkat dan hal yang baik adalah datang dari Allah (Maz. 16:2 “Engkaulah Tuhanku, semua yang baik milik ku tidak ada di luar Engkau!” CUVT). Mohon Tuhan membantu kita, senantiasa memiliki hati yang hormat dan gentar akan Dia, agar kita terhindar dari kesalahan tanpa disadari dalam perkataan, perbuatan, atau pikiran memandang rendah Tuhan, kehilangan hormat dan gentar yang sepatutnya harus ada terhadap Dia (lihat Mat. 21:13; 1 Kor. 10:21-24; 11:17-18, 27-29; Kis. 5:1-5).


Tambahan Penerjemah:

Pengalaman Nebukadnezar dan Belsyazar bukan hanya pelajaran bagi orang yang menjadi pemimpin, tetapi bagi siapapun. Karena setiap orang adalah hamba dari Allah dalam bidang pekerjaan masing-masing.