Tag Archives: Pikiran Kristus

1 Kor. 2:13-16

Betapa diberkatinya orang-orang rohani

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 2:13-16 [ITB])
13 Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.
14 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
15 Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. 16 Sebab: Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia? Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.

【Yesaya 40:13 [ITB]】
13 Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?

Perikop ini, terutama 1 Kor. 2:15, sepanjang sejarah telah diselewengkan artinya dan disalahgunakan oleh berbagai orang yang memproklamirkan diri sebagai manusia super spiritual yang tidak boleh dipertanyakan dan dimintai tanggung jawabnya. Peneliti Alkitab Gordon D. Fee mengatakan: perikop ini dalam sejarah Gereja telah dipergunakan dengan cara yang paling disayangkan. Maksud Paulus benar-benar menjadi hilang, diganti penjelasan yang sepenuhnya berlawanan. Orang yang salah menafsirkan melihat diri mereka super rohani, jadi tidak ada yang bisa menilai dan menegur mereka.

Untuk memahami paragraf ini dengan hati-hati, pertama-tama kita harus dengan dua kelompok istilah Yunani. Pertama, dalam 1 Korintus penggunaan beberapa kata terkait kata krino menilai, menghakimi, mengadili, mengkritik (judge, condemn, approve), Paulus menghadapi berbagai penilaian yang menghakimi dari jemaat di Korintus, dan dia mengajar mereka agar memiliki penilaian dan penghakiman yang sesuai dengan kehendak Allah, membuat penilaian atau menghakimi yang sesuai rohani, jadi Paulus menggunakan lima kata Yunani yang berhubungan dengan kata krino. Kata krino (17 kali), anakrino (10 kali), diakrino (5 kali), sugkrino (1 kali) dan katakrino (1 kali), total muncul 34 kali merupakan kata yang penting dalam Surat 1 Korintus. Dalam perikop hari ini, kata sugkrino (menafsirkan / menjelaskan) mengandung makna bandingkan dengan (compare with), artinya sebuah penjelasan yang baik memilikiperbandingan yang masuk akal. Kata anakrino (menilai) muncul tiga kali, memiliki makna menyelidiki satu per satu, sering dipakai dalam pengadilan Yunani, mengandung makna menghakimi memeriksa dengan hati-hati dan sungguh-sungguh.

Dalam paragraf ini, Paulus juga menggunakan kata sifat rohaniah (pneumatikos) untuk diperbandingkan merupakan lawan kata duniawi / jasmaniah (psuchikos / alami, fisik). Kata rohaniah (pneumatikos) muncul 16 kali juga merupakan kata yang penting di Surat 1 Korintus ini. Katarohaniah dan surgawi (15:40, 48-49) diperbandingkan merupakan lawan kata duniawi / jasmaniah (2:14),tubuh alamiah (15:44, 46), manusia duniawi (3:1, 3; 9:11), dan berasal dari debu tanah (15:47-49). Dalam 1 Korintus 15:45-46, Paulus menunjukkan: Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Yesus adalah Adam yang akhir, setiap orang yang percaya kepada Tuhan dapat menerima Roh Kudus, dilahirkan dari Roh, dan dibimbing oleh Roh Kudus agar dapat memahami Alkitab, memahami Injil, dan memahami rahasia Allah. Dan manusia yang belum diselamatkan hanyalah keturunan Adam yang jatuh, yakni yang Yesus katakan: Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh (Yoh. 3:6) Maka, orang-orang yang belum diselamatkan, setelah kejatuhan manusia dalam dosa hanya dapat menggunakan mata jasmani fisik dan mata duniawi, dan tidak dapat benar-benar memahami hal-hal rohaniah, oleh karena itu, mereka membenci dan memandang rendah kebenaran tentang inkarnasi, salib, penderitaan, dan kebangkitan. Mereka menganggap kebenaran- kebenaran ini sebagai kebodohan, sama seperti pengalaman Paulus di Atena, ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek … (Kis. 17:32).

Ajaran Paulus tidak bermaksud mengatakan bahwa orang-orang rohani sepenuhnya supra-natural dan dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan (tanpa ada yang boleh menilai)! Tidak begitu! Paulus berkata: pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan!, kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita (1 Kor. 10:15; 11:31). Apa yang Paulus katakan: hanya orang yang memiliki Roh Kudus tinggal di dalam dirinya, dibuka mata rohaninya oleh Roh Kudus, mereka dapat benar-benar memahami Tuhan yang disalibkan dan Injil-Nya; oleh karena itu, manusia duniawi tidak dapat memahami, jadi juga tidak dapat menilai dan menghakimi. Paulus sebelum percaya kepada Tuhan, adalah manusia duniawi, sama sekali tidak dapat memahami kebenaran Tuhan, seorang yang buta secara rohani, ia dipenuhi semangat kosong yang penuh antusias darah daging, yang justru membuat ia menjadi musuh Allah dan kepala penyerang Gereja Tuhan. Tetapi setelah Roh Kudus menggerakkan hati Paulus untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan, dia secara bertahap dapat memahami Injil Kristus, memahami bahwa Kristus harus menanggung hukuman bagi kita dan menjadi anak domba Allah; dan melalui kebangkitan Kristus, kita dapat memiliki kebangkitan dan hidup yang kekal. Sehingga kita dapat memandang ringan penghinaan yang kita terima di dunia, mengikuti jejak Tuhan, dan berlari di jalan surgawi. Orang-orang rohani yang diterangi oleh Roh Kudus memiliki pikiran Kristus. Siapa kita? Kita adalah orang yang memiliki pikiran Kristus! Orang-orang percaya, orang-orang rohani dan memiliki pikiran Kristus! Betapa diberkatinya orang-orang rohani!

Renungkan:
Pernahkah Anda dihakimi oleh orang-orang duniawi? Pernahkah Anda mengalami segala macam ketidakpahaman dan penolakan oleh orang-orang yang tidak percaya? Apakah ada kesenjangan besar antara orang duniawi / jasmaniah dan orang rohaniah?
Renungkan kembali iman Anda! Renungkan kembali hari-hari ketika Anda berjalan dekat dengan Tuhan! Pada hari-hari itu, apakah Anda merasa bahwa Tuhan telah banyak mengubah pandangan rohani dan pandangan hidup Anda? Menurut Anda, apakah ada kesenjangan sikap dan cara pandang Anda dengan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 2:17-18

「Bersukacita Bersama-sama」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 2:17-18 [ITB])
17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. 18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.

Dalam dua ayat sederhana ini, Paulus sepenuhnya mengungkapkan sikap mentalitasnya dalam melayani. Ini adalah salah satu dari serangkaian contoh teladannya di pasal 2. Tindakan dan sikapnya sendiri memungkinkan kita untuk memahami lebih dalam apa artinya memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, dan apa itu pelayanan dalam kerendahan hati yang sejati.

Dalam ayat-ayat di atas, Paulus menyatakan keyakinannya terhadap orang-orang percaya di Filipi, dan ia percaya bahwa mereka akan melakukan yang terbaik di jalan iman dan akan terus bertumbuh. Dia bukan karena melihat atau mengetahui bagaimana penampilan jemaat Filipi sehingga membuat tanggapan tersebut, karena jikalau demikian maka di paragraf berikutnya ia tidak perlu mengutus Timotius pergi kepada mereka untuk melihat kondisi mereka. Tetapi karena ia percaya dengan iman bahwa Allah akan sesuai dengan kesetiaan-Nya sendiri, membuat umat-Nya tumbuh dalam Yesus Kristus dan menghasilkan buah yang baik.

Di sini Paulus menunjukkan bahwa ia rela membayar harga atas iman mereka, jika iman mereka adalah suatu persembahan korban bagi Allah dan Paulus sendiri seperti anggur korban curahan yang dicurahkan di atasnya, yang dalam waktu sangat singkat akan habis, namun dia akan sangat puas dengan sukacita.

Dalam dua ayat ini, Paulus empat kali mengungkapkan pesan sukacita. Dua adalah deskripsi naratif tentang sikapnya sendiri, dan dua lainnya adalah perintahnya kepada jemaat Filipi. Baik dalam narasi atau perintah, ia menggunakan dua kata kerja yang terkait, di satu sisi menunjukkan kegembiraan seseorang, dan di sisi lain untuk menunjukkan bahwa kegembiraan harus dimiliki bersama, dan dinikmati bersama. Jika dibicarakan secara ketatnya, sukacita adalah sikap pribadi seseorang sendiri, yang berarti respons diri seseorang atas situasi ia berada, tetapi dalam komunitas iman, sukacita sejati harus merupakan pengalaman yang dimiliki dan dinikmati dalam kelompok.

Alasan untuk sukacita yang diungkapkan di sini bukanlah hasil yang ada di eksternal luar, jadi sukacita ini tidak dibangun atau didasarkan pada pencapaian atau hasil yang dapat terlihat, tetapi berdasarkan pada iman penuh kepastian bahwa Allah ada di antara manusia, dan Ia akan terus menggenapkan kehendak yang berkenan kepada-Nya. Untuk memiliki sukacita dalam hidup kita, kita juga harus mengandalkan iman yang demikian. Karena di dunia ini, hasil yang dangkal di permukaan kulit seringkali berumur pendek dan tidak dapat dipertahankan. Sukacita yang mereka bawa hanya dapat kesenangan sementara dan dangkal di permukaan kulit, setelah sukacita yang demikian berlalu, harus kembali menghadapi kenyataan yang kejam. Hanya sukacita yang keluar dari iman, adalah yang abadi dan layak untuk saling berbagi.

Renungkan:

Apa dasar dari sukacita kita? Apakah kita mengubah sukacita kita menjadi sukacita yang berbagi dinikmati di dalam komunitas?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 2:5-8

「Teladan Yesus Kristus」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 2:5-8 [ITB])
5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Fil. 2:6-8 dengan jelas menunjukkan kepatuhan Yesus Kristus yang rendah hati. Di sini menekankan dengan sangat kuat: bahwa kerendahan hati Yesus Kristus jelas bukan karena diri-Nya rendah, karena Ia memiliki rupa Allah. Kata rupa menandakan bahwa Dia tidak hanya memiliki esensi dan kualitas yang sama dengan Allah, tetapi juga memiliki gambar yang sama dengan Allah dalam bentuk eksternal. Pada saat menekankan rupa eksternal Yesus Kristus, 2:6 juga menunjukkan bahwa Ia setara dengan Allah. Ungkapan ini jelas menjabarkan keTuhanan yang sempurna dari Yesus Kristus.

Di sini Paulus menggunakan kata yang hanya muncul sekali dalam Alkitab, menggambarkan Yesus Kristus tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah. KJV atau CUV menerjemahkan sebagai memperebutkan tampaknya sudah mencerminkan makna kata tersebut dengan relevan, walau mungkin rentan kesalahpahaman bahwa memang dari awal tidak memiliki sehingga tidak memperebutkan, dan terjemahan ini kurang bisa mengekspresikan makna memegang erat sekuat tenaga (bandingkan ITB memakai kata “mempertahankan”), namun dapat dengan benar mencerminkan bahwa Yesus Kristus setara dengan Allah, tetapi Ia tidak bersikeras datang dengan identitas dan rupa ini.

Fil. 2:7 lebih jauh menggambarkan teladan Yesus yang rendah hati. Istilah mengosongkan diri relatif mudah dimengerti tetapi bagaimana Dia mengosongkan diri-Nya sendiri harus mengacu pada konteks yakni teks berikutnya, terutama dua frasa berikut: mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Pengosongan diri Yesus Kristus bukan membuang keilahian-Nya, tetapi mengambil rupa seorang budak. Paulus tidak sekadar hendak mengekspresikan inkarnasi Yesus Kristus Sang Firman menjelma jadi manusia dan hidup di tengah-tengah manusia, karena jika demikian, dua frasa terakhir dari ayat 7 sudah cukup, Paulus bahkan lebih fokus menitikberatkan Yesus Kristus melepaskan hak yang memang dimiliki-Nya, menjadi hamba bagi manusia, melalui tindakan-Nya agar manusia bisa mendapatkan keselamatan.

Ini dengan jelas dinyatakan dalam ayat 8, bahwa Yesus Kristus tidak hanya menjadi manusia, tetapi juga rendah hati dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Kepada siapa Yesus Kristus taat, tidak secara jelas dinyatakan dalam perikop ini, tetapi dari tanggapan Allah terhadap tindakan Yesus yang dijelaskan di teks di bawah, maka dapat diketahui Yesus menaati kehendak Allah, Ia melalui rupa yang dipandang hina oleh manusia menyelesaikan keselamatan yang dijanjikan-Nya. Kerendahan hati Yesus Kristus membuat manusia mendapatkan keselamatan dan menerima anugerah.

Sebelum rangkaian uraian tentang Yesus Kristus di atas, di ayat 5 Paulus terlebih dahulu menunjukkan bahwa orang percaya perlu memiliki pikiran dan perasaan Kristus Yesus, jadi tujuan Paulus bukanlah sekadar untuk membuat pembaca memahami bagaimana Yesus Kristus setara dengan Allah serta betapa Ia rendah hati dan taat, bahkan sampai mati di kayu salib, terlebih hendaknya kita menjadikan Yesus sebagai teladan, mempelajari sikap hati dan pikiran-Nya. Jika Kristus dapat meletakkan rupa-Nya yang setara dengan Allah, kita bahkan dapat meletakkan apa yang kita anggap mulia dan menjadi hamba bagi orang lain untuk melayani kebutuhan orang lain.

Renungkan:

Bisakah kita menjadikan Yesus sebagai teladan, meletakkan identitas kita, melayani dengan rendah hati agar orang lain mendapatkan manfaat baik?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Roma 15:1-7

「Kuat Sejati: Meneladani Kristus, Hanya Memberkati, Membangun」
Oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Rom. 15:1-7 [ITB])
1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku. 4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.
5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.

Di dalam Kristus, yang kuat tidak boleh menekan yang lemah, kita hendak meniru Kristus, bukan untuk menyenangkan diri sendiri, membangun yang lemah dan membantu mereka demi kebaikannya, untuk memimpin orang agar bersama-sama mengikuti Kristus, dan untuk memuliakan Allah dengan satu suara. Paulus menggunakan Rom. 15:1-6 untuk merangkum paragraf besar 14:1 sampai 15:6 yang berbicara tentang menangani perselisihan di dalam gereja. Kata-kata kunci dalam 15:1-3 adalah mencari kesenangan (aresko), muncul tiga kali: 1) Orang yang kuat seharusnya tidak menyenangkan diri sendiri; 2) Kita mencari kesenangan sesama kita, demi kebaikannya, dibangunkan; 3) Kita meneladani Kristus, Dia tidak mencari kesenangan diri-Nya sendiri, tetapi bersedia menanggung banyak penghinaan dalam menyelamatkan manusia dunia. Level pengajaran Paulus di 15:1-3 meningkat di atas pasal 14; kita bukan hanya tidak boleh dengan jahat menghakimi saudara-saudari, tetapi kita yang memiliki keyakinan yang lebih kuat hendaknya menggunakan kekuatan kita untuk memberkati dan untuk meningkatkan orang. Sama seperti Kristus adalah Anak Allah yang tunggal, lebih tinggi dari kita semua orang berdosa, tetapi Dia bersedia menanggung dosa dan penghinaan bagi orang berdosa, bagi yang lemah. Yesus mengajarkan, Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48).

Tujuan besar Paulus: walau dalam situasi keadaan yang sulit, hendaknya kembali ke pengajaran Alkitab, merenungkan pikiran Kristus; bagaimana Kristus melakukannya, saya juga hendak bagaimana melakukannya! Rom. 15:4-7, Paulus menunjukkan bahwa Alkitab ditulis untuk orang percaya di zaman Perjanjian Baru ini, agar darinya kita mendapatkan pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan. Bahkan kata ketekunan dan penghiburan diulang dua kali, melalui ungkapan ini, Paulus mengingatkan kita bahwa ketika berurusan dengan perselisihan dan ketegangan di gereja, tantangannya akan sangat sulit dan panjang. Karena itu, kita hendaknya mendapat penguatan dari janji, kisah sejarah, dan tokoh karakter dalam Alkitab, untuk pada akhirnya meniru Kristus, memiliki pikiran yang sama seperti Kristus, sehingga kita akhirnya bisa dengan satu hati memuji Tuhan.

Ayat 7, kata terimalah (proslambano) memiliki arti menarik ke sisi. Ketika kita menerima orang, kita membawa orang ke sisi kita, menjadi teman, dan menjadi kawan seperjuangan. Saudara dan saudari bukanlah musuh kita, tetapi teman yang kita bangun, rekan sesama perjalanan dan kawan seperjuangan. Kita pada mulanya adalah orang berdosa, musuh yang akan dihakimi Allah, tetapi Kristus membawa kita ke samping dan berdiri bersama-Nya sebagai anak-anak Allah yang berharga, kita juga harus seperti ini membantu saudara-saudari kita. Hukum dunia adalah yang lemah merupakan makanan bagi yang kuat, yang kuat adalah raja, dan pemenang memiliki semuanya! Ada orang memiliki sikap kehidupan yang egois, orang lain dikorbankan sebagai batu loncatan demi kesuksesan diri sendiri: sukses sendirian boleh mengorbankan puluhan ribu jadi tulang kering. Paulus memakai hidupnya meneladani Kristus, demi kebaikan orang lain, aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun … (Kis. 20:24). Karena hukum Kristus adalah mengorbankan diri bagi orang berdosa, bersinar seumur hidup, dan hanya berkat. Alkitab mengatakan, Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku (Rom. 15:3, Mazmur 69:9), Yesus Sang Firman menjelma menjadi manusia datang membantu manusia, tetapi Ia dipermalukan dan ditertawakan di kayu salib: Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah (Luk. 23:35). Dan bahkan penjahat yang bersama disalib juga mencibir kepadanya:Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami! (Luk. 23:39). Orang-orang yang rela menjadi anak-anak kedamaian akan menanggung konsekuensinya, membayar harga dan mungkin dicelakai, tetapi jika kita tetap bertahan mengikuti Kristus, kita akan meninggalkan aroma wewangian kekal, memuliakan Bapa, dan menyentuh hati generasi baru, menjadi berkat bagi banyak orang.

Paulus mengajar kita untuk memiliki kerukunan … sesuai dengan kehendak Kristus Yesus memiliki pikiran yang sama dengan yang lain, sesuai dengan pikiran Kristus (Rom. 15:5). Beberapa tahun kemudian, Paulus menulis kalimat yang mirip, Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Fil. 2:5). Yesus dikutuk oleh rekan sebangsa, tetapi Dia bersikeras bahwa Ya Bapa, ampunilah mereka … Dia ditinggalkan oleh para murid dan disangkal oleh Petrus, tetapi Dia memanggil ulang Petrus lagi! Kuat yang sejati adalah hanya membawa berkat bagi orang-orang, segala hal meniru Kristus, dan dalam segala hal membangun orang!

Renungkan:
Kepada yang banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut; dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. Jika kita memiliki kemampuan, kita adalah orang yang berutang, kita harus memberkati orang-orang dalam kehidupan, dan membawa kebaikan bagi orang, bukan untuk menggunakan kelebihan, kebijaksanaan atau kefasihan untuk menyakiti orang. Apakah Anda adalah orang yang memiliki hutang rohani? Jika ya, apakah Anda orang yang terus-menerus membawakan berkat kepada orang? Pengingatan apa yang Anda dapatkan hari ini?

Perkataan Kuat yang sejati adalah membawa berkat bagi orang-orang, segala hal meniru Kristus, dan dalam segala hal membangun orang! Apakah Anda setuju dengan ajaran rohani ini? Dalam tokoh-tokoh Alkitab, siapa yang menjadi panutan Anda dalam hal ini, memberi dorongan yang mendalam, mengajari Anda untuk belajar bertahan dalam ketekunan, stabil, dan berpengharapan dalam menghadapi ketegangan antarpribadi?


Renungan pemahaman Surat Roma (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Roma pasal 12-16 ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) yang dipublikasi pada bulan November 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.