Tag Archives: Pra-Paskah 2019

21 April 2019 ● Kebangkitan Tuhan Kita: Minggu PASKAH

Ini Ditulis Bahwa Dengan Percaya Kamu Akan Hidup di dalam Nama-Nya

Yohanes 20:19-31
19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” 20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. 21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” 22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”
26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” 28 Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” 29 Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, 31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Renungan

Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Ayat 31)

Tujuan Rasul Yohanes dalam semua tulisannya di Injil Yohanes adalah agar kita percaya bahwa Yesus benar-benar Mesias, Anak Allah dan bahwa oleh karena iman kita dapat beroleh hidup (kekal) dalam nama-Nya. “Tulisan ini” tentu saja termasuk narasi di dalam bacaan kita hari ini yang menunjukkan keraguan Tomas ditransformasikan menjadi iman.

Menyaksikan kematian dan penguburan Yesus, wajar bagi Tomas untuk meragukan pernyataan para rasul yang telah melihat bahwa Yesus hidup. Saya dapat melihat diri saya menanggapi seperti yang dia lakukan, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Dengan demikian, ini sangat menghibur saya ketika Yesus menampakkan diri kepada Tomas delapan hari kemudian, Dia tidak menegurnya karena keraguannya, tetapi dengan penuh kasih mengundang dia untuk “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku. Janganlah engkau tidak percaya, tetapi percayalah.”

Ini menghibur karena seperti Tomas, saya menemukan diri saya di situasi-situasi di mana saya mau percaya tapi merasakan kesulitan karena apa yang saya lihat dan ketahui di sekeliling saya. Ini menghibur karena Tuhan tahu dan mengerti pergumulan-pergumulan kita. Ini menghibur mengetahui kalau Tuhan sendiri ingin membantu kita untuk mengatasi ketidakpercayaan kita.

Saya juga disemangati oleh perkataan Yesus kepada Tomas, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”. Saya iri dengan mereka yang memiliki iman sederhana seperti iman seorang anak kecil. Mereka sungguh terberkati. Sebaliknya, saya harus terus bergumul dengan keraguan lagi dan lagi di dalam hidup saya. Saya harus datang dengan kerendahan hati kepada-Nya lagi dan lagi dengan doa, “Tuhan, aku ingin percaya. Bantulah ketidakpercayaanku.”

Saya bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Dia lakukan kepada Tomas, dengan penuh kasih Dia membantu saya dan mentransformasikan keraguan saya menjadi iman. Saya percaya Dia juga akan melakukan yang sama untuk Anda jika Anda dengan rendah hati dan jujur membawa pergumulan dan keraguan Anda kepada-Nya, memohon pada-Nya untuk menolong ketidakpercayaan Anda. Saya percaya Tuhan akan datang dengan penuh kasih kepada Anda seperti Dia datang kepada Tomas, kepada saya dan kepada yang lainnya bahwa melalui seperti yang tertulis dan yang telah dialami, Anda akan sungguh percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, dan melalui percaya, Anda akan mendapatkan kehidupan yang berkelimpahan dan kekal.

Doa

O Tuhan Yesus, terima kasih atas kasih-Mu untukku dan hasrat-Mu untukku agar memiliki hidup berkelimpahan dan kekal. Aku mengakui keraguan itu terus menerus menggangguku. Aku berdoa di dalam kasih-Mu dan anugerah-Mu, Engkau menolongku untuk mengatasi keraguan-keraguanku seperti yang Kau lakukan pada Tomas. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin

Tindakan

  1. Ambil waktu untuk merenungkan hal-hal di dalam ayat-ayat itu yang Anda anggap sulit untuk percaya atau yang benar bahkan sampai saat ini.
  2. Bawalah itu ke hadapan Tuhan di dalam doa, mintalah pada-Nya untuk membantu Anda akan ketidakpercayaan Anda.
  3. Ingat semua itu di dalam perjalanan Anda dan lihat bagaimana Tuhan menolong Anda mengatasi hal itu di hari-hari yang akan datang.
  4. Mintalah pada Tuhan kesempatan-kesempatan untuk menceritakan pengalaman Anda sehingga banyak orang yang memiliki keraguan-keraguan dapat ditransformasikan oleh Tuhan menjadi beriman.

Oleh
Bishop Terry Kee
Bishop, Lutheran Church in Singapore
President, National Council of Churches of Singapore

20 April 2019 ● Sabtu Suci

Iman Yang Patuh di dalam Yesus

Yohanes 19:38-42
38Sesudah itu Yusuf dari Arimatea – ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang yahudi – meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. 39Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. 40Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. 41Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. 42Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

Renungan

Yesus mati. Dia “Anak Domba Allah yang menebus dosa dunia” secara total.

Pencela-pencela Yesus Kristus selalu berusaha menunjukkan bahwa Ia tidak mati (Dia sadar kembali dari pingsan, atau orang lain yang meninggal); atau Dia mati tapi tidak bangkit (para murid-murid-Nya yang mengambil jasad-Nya).

Kematian Yesus adalah sebuah fakta, sesuai dengan Firman dan sumber-sumber sejarah yang membuktikannya. Pengakuan iman rasuli menyatakan: “Dia menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan.” Anak Allah, Firman yang kekal menjelma menjadi manusia, mati di kayu salib dalam kepatuhan-Nya kepada Bapa.

Jika Kristus tidak mati, kutukan dosa dan kematian atas diri Anda dan saya akan tetap ada; jika Kristus tidak bangkit, Dia bukanlah Anak Allah yang berkuasa, tapi hanya seorang manusia yang dikutuk sesuai dengan dosanya yaitu kematian. Memang, Kristus telah mati! Kristus telah bangkit! Selama berabad-abad, dua mercusuar iman Kristen bersinar dengan kasih dan kuasa Tuhan – Pendamaian oleh perantara Yesus, pengganti kematian dan Kebangkitan-Nya yang mulia. Haleluyah!

Sekarang Yesus memanggil kita untuk memiliki iman yang patuh, hidup dengan berani memberi diri sepenuhnya untuk melayani Tuhan dan sesama. Jadi Yusuf Arimatea, yang takut pada orang Yahudi, memiliki keberanian untuk meminta mayat Yesus kepada Pilatus (Markus 15:43). Nikodemus, yang pernah mencari Yesus diam-diam pada malam hari, datang secara terang-terangan untuk membalsem dam menguburkan Yesus.

Mereka melihat “matinya dari kematian melalui kematian Kristus” seperti yang dikatakan John Owen, dan mereka mempercayai perkataan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” Hari ini Yesus menanyakan kita pertanyaan yang sama yang Dia tanyakan pada Martha: “Percayakah engkau akan hal ini?” (Yohanes 11:25)

Ya! Malam Jumat Agung sudah berlalu; matahari Paskah telah terbit!

Doa

O Anak Domba Allah, yang telah menghapus dosa-dosa dunia, kasihanilah kami.
O Anak Domba Allah, yang telah menghapus dosa-dosa dunia, berilah kami damai-Mu,
O Yesus Kristus yang telah bangkit, jadikan kami alat damai-Mu. Amin.

Tindakan

Sebagai murid Yesus, kita belajar dari Nikodemus dan Yusuf untuk mengatasi ketakutan manusia (Yohanes 12:43) dengan percaya dan taat pada Yesus. Mari kita bertumbuh seperti Nikodemus dalam proses pemuridan: yaitu mencari Yesus (Yohanes 3), berbicara mewakili Yesus kepada orang-orang yang memusuhi-Nya, dan layani Yesus dengan bersama murid Yesus sekalipun penuh risiko terhadap diri kita.

Oleh
Rev Dr Michael Shen
Principal Emeritus
Singapore Bible College

19 April 2019 ● Jumat Agung

Dia Ditusuk … Supaya Kita Percaya

Yesaya 52:13 – 53:12
52:13 Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. 14 Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi 15 demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.

53:1 Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?
2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. 3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. 7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.
8 Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. 9 Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.
10 Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. 11 Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.
12 Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak

Renungan

Ayat-ayat Yesaya 53:4-5 tertanam dalam Nyanyian Hamba Keempat dalam Kitab Yesaya.

Anda mungkin menemukan lukisan-lukisan Manusia Kesedihan (Man of Sorrows) dengan Tuhan Yesus yang terlihat sedih dan tertekan. Ada juga kidung-kidung pujian terkenal yang mengungkapkan gagasan yang sama. Jika Anda membaca ayat 4 tanpa merujuk pada ayat berikutnya, Anda dapat dengan mudah berpikir bahwa Yesus memiliki temperamen depresi dan melankolis. Namun, ayat 4 memberi kita gambaran yang lebih lengkap. Alex Motyer menjelaskan:

“Hamba itu bukan seorang yang dirundung kesedihan dan kesengsaraan yang tak henti-hentinya, tetapi memang demikian, bukan karena konstitusi, tetapi karena dia menganggap kesedihan dan kelemahan kita sebagai miliknya.” (The prophecy of Isaiah: an introduction & commentary (hal. 428). Downers Grove, IL: Inter Varsity Press)

Dalam ayat 5, Yesaya bernubuat bahwa Hamba akan berurusan dengan keadaan kita yang berdosa (pelanggaran, kedurhakaan), keterasingan kita dari Allah (damai) dan kehancuran (luka) kita.

Dia menanggung rasa sakit kita (menggantikan, ayat 4) dan mengambil rasa sakit kita (hukuman, ayat 5).

Faktanya, Dia menderita untuk kita. Anda dapat menanggapinya dengan kagum dan beribadah. Anda bahkan dapat berkata, aku ingin hidup seperti Dia. Respons ini tentu sesuai, terutama dalam masa Pra Paskah. Namun, kita tahu bahwa Hamba tidak menderita dan mati untuk mendapatkan belas kasihan dari kita.

Karena Dia melakukannya demi kita (2 Korintus 5:15; 1 Tesalonika 5:10)

Seperti dinaikkan dalam Doa Persembahan Ibadah Perjamuan Kudus, kematian Kristus di kayu salib adalah “pengorbanan, persembahan, dan tebusan yang penuh, sempurna, dan cukup, bagi dosa-dosa seluruh dunia”.

Respons kita harus berupa iman dan kepercayaan pada apa yang telah dilakukan Kristus bagi kita. Kami akan terus berjuang atas kejahatan, luka dan keterasingan dalam berbagai bentuknya. Hampiri Salib Kristus hari ini.

Doa

Yesus, Juru Selamat dunia,
datanglah kepada kami dalam belas kasihan-Mu:
kami mengharapkan Engkau untuk menyelamatkan dan menolong kami.

Oleh salib-Mu dan hidup-Mu yang diserahkan,
Engkau membebaskan umat-Mu:
kami mengharapkan Engkau untuk menyelamatkan dan menolong kami.

Ketika mereka siap binasa, Engkau menyelamatkan murid-murid-Mu:
kami mengharapkan Engkau untuk datang pertolongan kami.

Dalam kebesaran belas kasihan-Mu, lepaskan kami dari belenggu-belenggu kami,
ampunilah dosa-dosa semua umat-Mu.

Biarlah Engkau dikenal sebagai Juruselamat dan pembebas kami yang perkasa;
selamatkan dan tolonglah kami agar kami dapat memuji-Mu.

Datanglah sekarang dan tinggallah bersama kami, Tuhan Yesus Kristus:
dengarlah doa kami dan selalulah bersama kami.

Ketika Engkau datang dalam kemuliaan-Mu:
jadikan aku satu dengan-Mu
dan berbagi kehidupan kerajaan-Mu.

Dari Common Worship 

Tindakan

Luangkan waktu minggu ini untuk berbagi cerita dengan seseorang tentang Mesias yang menderita. Undang dia ke kebaktian gereja, acara gereja, kelompok komsel, program pemberitaan Injil Alpha atau KKR Celebration of Hope

Oleh
Revd Canon Terry Wong
Vicar
St Andrew’s Cathedral

18 April 2019 ● Kamis Putih

Setiap Kali Engkau Memakan Roti ini… Kamu memberitakan Kematian Tuhan Sampai Ia Datang

1 Korintus 11:23-26
23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti 24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diseraahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” 25 Demikian juga ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” 25 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.

Renungan

Seberapa pentingkah dapat mengingat peristiwa-peristiwa signifikan dalam kehidupan seseorang? Ini dapat menjadi sumber motivasi dan membawa HARAPAN bagi orang yang sedang menghadapi kesulitan serta tantangan dalam hidupnya. Anda mungkin mau mengingat beberapa peristiwa atau pengalaman signifikan dalam hidup Anda … dan Anda berkata ”Ini suatu pengalaman yang indah untuk diingat.” Kita membenci graffiti (seni jalanan yang biasa dilakukan secara ilegal dan menggunakan cat semprot) tapi bagi orang yang membuatnya berpikir itu adalah cara yang baik untuk mengingat atau meninggalkan sebuah pesan. Kita mendirikan monumen-monumen untuk memperingati sebuah peristiwa bersejarah, sehingga generasi yang akan datang dapat diingatkan tentang pahlawan atau peristiwa itu.

Perjamuan Paskah adalah perjamuan memorial tentang peristiwa ajaib bangsa Israel pada malam keberangkatan mereka keluar dari Mesir. Keluaran 12 (klik untuk membaca), Anda mungkin ingin membacanya untuk membantu Anda memahami apa yang ditetapkan Perjamuan Tuhan pada malam ketika Ia dikhianati.

Tuhan kita menciptakan gambaran atas penderitaan-Nya sebagai Anak Domba Paskah sejati yang merupakan korban yang rela dan tidak berdosa, pengorbanan-Nya atas nama orang berdosa. Roti (tubuh-Nya yang terpecah), anggur (darah-Nya) tercurah. Ia adalah korban suci “sekali dan hanya sekali dan sekali untuk semua” karena “tidak mungkin bagi darah lembu dan kambing menghapus dosa-dosa.” (Ibrani 10:4)

Doa

Tuhan, dalam dunia yang hancur dan dalam kehancuran, kami melihat diri kami apa adanya: orang berdosa yang begitu besar dosanya sehingga Engkau datang untuk menebus kami dengan darah-Mu. Kami tidak berdaya dan gelisah tanpa Engkau. Terima kasih karena telah memerintahkan kami untuk “melakukan ini sebagai pengingat satu-satunya pengorbanan diri-Mu di Kalvari untuk semua orang berdosa termasuk aku.” Amin.

Tindakan

Aku ingin datang ke Perjamuan dengan sungguh-sungguh dengan persiapan yang benar dalam hati dan pikiran sesuai dengan firman-Nya, mengakui bahwa aku telah berdosa dan membutuhkan kasih karunia keselamatan Allah dalam Kristus. Aku telah menerimanya secara cuma-cuma dan aku juga harus memberikannya cuma-cuma.

Oleh
The Right Reverend Solomon Cheong (retired)
Assistant Bishop of the Diocese of Kuching

17 April 2019 ● Rabu Pekan Suci

Di Dalam Nama-Nya Semua Bangsa-bangsa akan Berharap

Matius 12:15-21
15 Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.
16 Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, 17 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 18 “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. 19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. 20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. 21 Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.”

Renungan

Kata “kafir” mungkin telah merugikan pembaca modern mengingat banyak dari kita yang tidak akrab dengan istilah tersebut. Istilah ini sebenarnya berasal dari bahasa latin yang berarti ‘bangsa-bangsa’. Ketika makna ini disisipkan kembali di teks, arti dari bagian teks itu menjadi jelas.

Yesus melayani di Israel. Kehadiran-Nya di sana membawa berkat besar bagi bangsa Yahudi. Hal ini dapat meninggalkan kesan bagi sebagian dari kita iri pada bangsa Yahudi, dan membuat kita berpikir : “Andaikan saja kita termasuk dalam kelompok yang diberkati itu”. Namun demikian Matius mencegah semua pikiran ini dengan mengutip Yesaya 42:1-4, dan dengan demikian menunjukkan bahwa apa yang dimaksud dengan bangsa Yahudi juga dimaksudkan untuk segala bangsa. Tidak ada satu bangsapun yang dibuang (yang tidak masuk hitungan); batas-batas kebangsaan tidak menjadi masalah lagi pada saat kita berurusan dengan berkat Tuhan yang besar! Dalam nama Yesus semua bangsa dan warga negara manapun di dunia ini boleh mempunyai pengharapan.

Dengan melakukan demikian, Yesus menggenapi Perjanjian Lama. Walaupun Perjanjian lama terutama tentang Tuhan dan bangsa Yahudi, kita menemukan beberapa bagian – khususnya bagian-bagian yang berbicara mengenai rencana akhir Tuhan – yaitu memperluas jangkauan untuk menjangkau seluruh bangsa-bangsa. Artinya selalu merupakan maksud Tuhan untuk memberkati semua bangsa-bangsa tanpa pengecualian ras atau bahasa. Ini disampaikan dalam cara yang sangat nyata melalui Yesus Kristus.

Bacaan ini juga menunjukkan kalau rencana Yesus tidak akan gagal. Keadilan dan kebenaran akan memenangkan segalanya. Apa yang dimunculkan menjadi keajaiban yang lebih besar adalah cara bagaimana itu diwujudkan. Yesus tidak akan berteriak keras atau berseteru; buluh yang terkulai tak dipatahkan-Nya. Segala kuasa Tuhan dilakukan dengan lembut pada kita! Akhir dari tujuan kita bukan di mana kita jatuh dalam malapetaka, tapi pada kelembutan tangan Tuhan yang memegang kita. Kalau kita hanya mempercayai ini dan melepaskan segala keamanan dunia, dan sebaliknya membiarkan diri kita beristirahat di dalam pelukan tangan-Nya yang abadi.

Doa

Aku seperti buluh yang patah dan sumbu yang pudar, tapi di dalam Engkau ya Tuhan, aku masih berharap. Aku tahu Engkau tidak akan mengingkari janji-Mu, dan oleh karena itu pengharapanku pada-Mu tidak akan pernah mengecewakan. Ajari aku untuk mempercayakan pada-Mu segala hal yang aku lakukan sepanjang hidupku. Amin.

Tindakan

Lepaskan hal-hal duniawi yang Anda yakini tidak dapat Anda lakukan tanpa hal-hal tersebut, tetapi percayalah sepenuhnya kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Anda akan menemukan kebebasan sejati. Cobalah hari ini dengan memulai dengan satu hal.

Oleh
Dr Tan Kim Huat
Academic Dean
Trinity Theological College

16 April 2019 ● Selasa Pekan Suci

Dan Aku, Apabila Aku Ditinggikan…

Yohanes 12:20-36
20 Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. 21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” 22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus.
23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. 24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.
26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
27 Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.
28 Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!”
29 Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata: “Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.”
30 Jawab Yesus: “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. 31 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; 32 dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.”
33 Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.
34 Lalu jawab orang banyak itu: “Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?”
35 Kata Yesus kepada mereka: “Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. 36 Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.” Sesudah berkata demikian, Yesus pergi bersembunyi dari antara mereka.

Renungan

“Dan Aku, Apabila Aku ditinggikan…..”
Kita hidup di dalam dunia yang bermasalah di dalam segala bidang. Pada masa pra-Paskah ini, ini tradisi untuk mengambil waktu untuk merenungkan dan menggunakan kesempatan untuk fokus pada apa yang penting. Di mana kita dapat memberikan pengaruh ketika nampaknya begitu banyak yang di luar otoritas kita?

Injil Yohanes memanggil kita “Waktunya telah tiba. Sekaranglah waktunya untuk fokus dan mengikuti Yesus.” Setiap suku kata dari Injil Yohanes memancarkan sinar terang Kristus. Terang yang bersinar di dalam dunia yang penuh kesusahan. Kristus adalah Terang dunia, Kristus dan tidak ada lagi lahir ke dalam kegelapan, Dia menjadi saudara kita.

Baca dan nikmati kata-kata ini dan dipenuhilah dengan terang untuk bersinar. Dapatkah Anda mendengar kata itu, dan apakah Anda merasakannya?

Yesus tidak menahan diri, dia memberi tahu kita dengan jelas: Suara ini (perkataan) ini datang untuk Anda. Akan ada banyak kesengsaraan dan dunia ini hidup di bawah penghakiman banyak kekuatan duniawi, tetapi firman-Ku akan bertahan selamanya, melampaui dunia ini. Dan Aku, ketika Aku ditinggikan ….”

Inilah waktunya untuk fokus, saudara-saudari. Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Yesus mengingatkan kita berkali-kali, suara-Nya memanggil demi dunia. Bagaimana mereka akan mendengarkan? Bagaimana mereka akan melihat bahwa Yesus adalah satu-satunya harapan kita?

Yesus berkata, ”Dan Aku, pada saat Aku ditinggikan…. “ Biarlah orang-orang melihat terang Kristus di dalam Anda. Minumlah dalam-dalam perkataan-Nya selama masa pra-paskah ini. Tinggikanlah Dia dan terangmu akan bercahaya. Di dalam dunia yang penuh kesukaran ini yang sedang berseru mencari pengharapan dan kebenaran, ungkapkanlah misteri dari Firman Tuhan yang hidup di dalam Yesus Kristus.

Doa

Yesus, Anak Manusia, terangkatlah di dalamku.
Yesus, Firman yang Hidup, Aku memilih untuk fokus pada-Mu
Yesus, Terang Dunia, ajar aku untuk menyinarkan Terang-Mu bagi orang lain.

Tindakan

Cari waktu hari ini untuk bersyukur bahwa Tuhan Yesus memberikan diri-Nya untuk ditinggikan demi dunia. Gunakan kesempatan ini untuk mendengar dari Tuhan dan fokuskan pada apa yang paling penting. Pertimbangkan bagaimana Anda dapat menjadi Terang Kristus yang abadi bagi orang-orang di sekeliling Anda hari ini.

Oleh
Mr Michael Perreau
Director General, United Bible Societies

15 April 2019 ● Senin Pekan Suci

Akulah TUHAN; Aku Telah Memanggilmu

Yesaya 42:1-9
1 Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.
5 Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya: 6 “Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, 7 untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara. 8 Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.
9 Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.”

Renungan

Dipanggil untuk menjadi Hamba TUHAN, bangsa Israel gagal menghidupi panggilan itu. Akankah dan mampukah TUHAN membebaskan Israel, hambanya itu? Apakah masih ada pengharapan bagi bangsa Israel yang dihakimi dan diasingkan hidup di Babel? Lewat nabi Yesaya, TUHAN mendeklarasikan suatu hal baru yaitu bahwa Dia akan membangkitkan seorang Hamba Sejati. Tetapi Hamba ini akan ditolak, dipukuli dan dibunuh. Namun melalui penderitaan dan kematian Hamba-Nya inilah dosa bangsa Israel ditebus dan keadilan TUHAN ditegakkan, memberikan pengharapan baru bagi bangsa Israel untuk sekali lagi menjadi Hamba TUHAN. Namun pengharapan ini bukan untuk mereka yang berkeras mencari jalan dan keuntungan sendiri. Bagi mereka yang demikian, tidak ada damai. (Yesaya 56:11; 57:21)

Dalam Yesaya 42:1-4, Hamba ini diperkenalkan sebagai yang diurapi oleh Roh, lemah (ayat 2-3) dan berkemenangan (ayat 4) serta sebagai seorang yang akan membawa dan membangun keadilan (ayat 1, 3-4), yang telah Dia wujudkan dengan mati di kayu salib menebus dosa manusia. Dalam Yesaya 42:5-9, Dia ditugaskan membawa keselamatan bagi orang Yahudi dan orang asing non Yahudi, ”Akulah TUHAN, Aku telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan…(ayat 6) dan memberi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang bagi bangsa-bangsa.

Seperti bangsa Israel, kita mungkin tidak menghidupi panggilan kita sebagai Hamba Tuhan. Kita mungkin telah menempatkan pengejaran keegoisan kita di atas Tuhan, atau kita mungkin belum bertindak secara adil setiap saat. Sekarang mungkin kita merasa tidak layak dan tidak ada harapan bagi kita untuk kembali menjadi hamba-Nya yang sejati.

Pengharapan yang dipresentasikan lewat pelayanan Kristus, Hamba yang menderita, kepada bangsa Israel untuk menjadi Hamba Tuhan sekali lagi juga dipersembahkan kepada kita hari ini. Karena karya Kristus di kayu salib, Tuhan dapat memanggil kita di dalam kebenaran. Akankah Anda menjawab panggilan untuk menjadi hamba Tuhan dan menyambut pengharapan yang kita miliki di dalam Kristus? Atau akankah Anda tetap berkeras memaksa hidup di dalam jalan Anda sendiri?

Doa

Tuhan, berikan kami iman untuk mempercayai bahwa Engkau sedang memberikan kami kesempatan lagi dan memanggil kami lagi menjadi hamba-Mu hari ini. Tolong kami untuk melepaskan pengejaran kami atas keegoisan kami, dan jadikan kami hamba-hamba yang benar yang membawa sesama kami kepada anugerah keselamatan di dalam Kristus. Amin.

Tindakan

Singkirkan semua yang berhala di dalam hidup kita apapun itu. Doakan untuk keberanian dan kebijaksanaan untuk berbicara dengan keluarga dan teman-teman yang masih hidup di dalam kegelapan. Beritakan kabar baik bahwa Yesus Kristus dapat membawa mereka keluar dari “kegelapan” untuk masuk kepada “Terang”

Oleh
Revd. Steven Seah
Associate Dean of Cambodia
Diocese of Singapore

14 April 2019 ● Minggu Palem

TUHAN memerlukannya

Lukas 19:28-40
28 Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. 29 Ketika Ia telah dekat Betfage dan Betania, yang terletak di gunung yang bernama Bukit Zaitun, Yesus menuruh dua orang murid-Nya. 30 dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu: Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan mendapati seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah ke mari. 31 Dan jika ada orang bertanya kepadamu: Mengapa kamu melepaskannya? Jawablah begini: Tuhan memerlukannya.” 32 Lalu pergilah ereka yang disuruh itu, dan mereka mendapati segala sesuatu seperti yang telah dikatakan Yesus. 33 Ketika mereka melepaskan keledai itu, berkatalah orang yang empunya keledai itu: “Mengapa kamu melepaskan keledai itu?” 34 Kata mereka: “Tuhan emerlukannya.” 35Mereka membawa keledai itu kepada Yesus, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan menolong Yesus naik ke atasnya. 36 Dan sementara Yesus mengendarai keledai itu mereka menghamparkan pakaiannya di jalan. 37 Ketika Ia dekat Yerusalem, di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi ia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mujizat yang telah mereka lihat. 38 Kata mereka: “Diberkatilah Dia yang dating sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemulian di tempat yang mahatingi!” 39Beberapa orang Farisi yang turut dengan orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu.” 40 Jawab-Nya: “Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.”

Renungan

Saya pernah melihat video pendek tentang dua keledai muda mengobrol di jalan-jalan Yerusalem. Salah satu dari mereka menghela nafas dan berkata, “Baru kemarin saya membawa Yesus ke kota. Orang banyak bersukacita, dan bahkan membiarkan saya melalui jalan yang ditutupi oleh jubah mereka. Namun hari ini, tidak ada yang mengenal saya! Keledai muda lainnya menjawab, “Teman, ini adalah realita. Tanpa Yesus, kamu dan saya bukan apa-apa! ”

Tuhan Yesus menunggang seekor keledai muda ke Yerusalem, berjalan menuju salib dan bersiap untuk mati bagi dosa-dosa dunia. Ini adalah karya penebusan yang Bapa berikan untuk Dia selesaikan di dunia ini. Perjalanan ke kota itu sensasional dan ramai di permukaan, tetapi penuh dengan bahaya dan ancaman di bawah permukaan. Para pemimpin agama di sepanjang jalan sudah berusaha membungkam suara murid-murid yang bersukacita dalam meninggikan Yesus. Tanggapan Yesus adalah: jika murid-murid Tuhan tetap diam, batu-batu di sepanjang jalan akan memuji Dia. Tampaknya itu menjadi pengingat bagi para murid bahwa jika mereka menolak untuk menghormati dan meninggikan Yesus, Tuhan masih dapat menggunakan batu yang diam dan rendah hati untuk memuji dan melayani Dia!

Saat merenung selama Pekan Suci, mari kita fokus pada panggilan Tuhan Yesus kepada para murid: Dia mengirim dua murid ke desa untuk membawa keledai muda yang telah dia siapkan. Kedua murid itu mengikuti instruksi Yesus dan pergi. Yesus tidak memberikan instruksi terperinci kepada mereka, tetapi para murid dengan tegas percaya apa yang Dia perintahkan dan mengikutinya. Benar saja, semuanya berjalan lancar dan Yesus memasuki kota dengan kemuliaan, menggenapi nubuat nabi Zakharia.

Hal yang sama berlaku untuk keledai muda. Siapa yang dibawanya hari itu berbeda dari hari-hari lain – ini adalah Putra Allah, Yesus dari Nazaret! Sungguh suatu hak istimewa!

Ya, selama kita bersedia untuk digunakan oleh Tuhan, terang-Nya akan bersinar dari kita dan membawa kemuliaan bagi diri-Nya.

Doa

Ya Tuhan, biarkan saya belajar dari keledai muda dalam mengikuti panggilan dan undangan-Mu. Kirim saya dan gunakan saya.

Tindakan
Keledai muda pada dasarnya patuh, pendiam, dan dengan setia menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka. Mari kita juga melayani orang lain dengan tenang dan melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan kita di bidang kehidupan kita masing-masing.

Oleh
Bishop Dr Chong Chin Chung
The Methodist Church in Singapore

13 April 2019 ● Sabtu Minggu Kelima Pra Paskah

Dia menubuatkan bahwa Yesus akan mati

Yohanes 11:45-57
45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. 46 Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceritakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. 47 Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. 48 Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” 49 Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa, 50 dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.” 51 Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, 52 dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. 53 Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.
54 Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka uum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efrai, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.
55 Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. 56 Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?” 57 Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia.

Renungan

Dia bernubuat bahwa Yesus akan mati.

Khalil Gibran, si Penyair Persia menceritakan sebuah kisah; Pernah seseorang berjalan-jalan di ladang. Di ladang-ladang itu, ia bertemu dengan sosok orang-orangan sawah untuk mengusir burung-burung. Suatu hari, dia bertanya kepadanya, “Kamu sudah lama di sini, tidakkah kamu bosan?” Orang-orangan sawah itu menjawab, “Tidak, aku bahkan senang berada di sini.” “Kalau begitu, apa alasannya kebahagiaan itu?”, dia bertanya. “Saya di sini untuk menakut-nakuti orang lain, terutama burung-burung dan hewan-hewan lain yang datang untuk memakan tanaman. Jadi mereka akan takut dan lari. Jadi saya satu-satunya pemimpin di tempat ini. Dengan menggunakan otoritas yang saya miliki, saya jauh lebih bahagia berada di sini. Sukacita Kayafas, Imam Besar dan orang-orangan sawah adalah satu dan sama.

Mengapa Kayafas, Imam Besar, mengatakan pernyataan yang memberikan efek menjadikan Yesus Kristus sebagai martir? Bukankah dia adalah bagian dari struktur dan pejabat berwenang yang menempatkan Yesus Kristus kepada kematian?

Beberapa asumsi dapat diturunkan dari pernyataannya:

  • Lebih baik mengorbankan satu orang demi suatu bangsa.
  • Kayafas, Imam Besar, menubuatkan bahwa dengan mengorbankan Yesus Kristus, dia akan memenuhi Pendamaian Pergantian bagi semua.
  • Untuk membawa pergolakan politik yang akan memicu pengikut Yesus untuk mengadakan rapat umum dan kemudian pengaduan dari Pemerintah Romawi.

Apa pun kesimpulannya, Kayafas ingin menghancurkan Yesus Kristus. Orang yang memberikan hidup-Nya bagi dunia, mereka berencana untuk mengambil nyawa-Nya. Tetapi kebenaran tetap tidak berubah dengan Kayafas memberikan interpretasi baru tentang kematian ini adalah satu orang mengorbankan hidupnya untuk semua. Perlu dicatat bahwa dalam Yohanes 11:47 Dewan Sanhedrin “bertemu” untuk mengambil kehidupan Yesus, tetapi dalam Yohanes 11:52, anak-anak Allah “berkumpul bersama” untuk “menciptakan kehidupan”.

Doa

Semoga Tuhan Yang Mahakuasa melanjutkan karya penebusan-Nya di dalam diri kita semua untuk mewujudkan integrasi dan persatuan.

Tindakan
Pelajaran yang kita dapat dari peristiwa-peristiwa ini yang terjadi:

  • Tuhan memilih orang yang paling tidak disangka, Kayafas untuk mengucapkan makna baru untuk penderitaan dan kematian, yaitu, ada penebusan dan harapan melalui Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya di salib.
  • Ketika Aku ditinggikan, Aku akan menarik semua orang kepada diri-Ku sendiri. (Yohanes 12:32). Alih-alih disintegrasi, yang diharapkan oleh banyak lawan Yesus, penderitaan dan kematian-Nya di salib membawa integrasi seluruh umat manusia, harapan dan kehidupan untuk semua ciptaan.

Oleh
Rev Mathew K Punnoose
General Secretary
The Bible Society of Malaysia

12 April 2019 ● Jumat Minggu Kelima Pra Paskah

Tetapi Engkau, O Tuhan, Memerintah Selamanya

Ratapan 5:1-3, 15-22
1 Ingatlah, ya TUHAN, apa yang terjadi atas kami, pandanglah dan lihatlah akan kehinaan kami.
2 Milik pusaka kami beralih kepada orang lain, rumah-rumah kami kepada orang asing.
3 Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda.

15 Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan.
16 Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Whai kami, karena kami telah berbuat dosa!
17 Karena inilah hati kami sakit, karena inilah mata kami jadi kabur:
18 Karena bukit Sion yang tandus, di mana anjing-anjing hutan berkeliaran.
19 Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa!
20 Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama?
21 Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala!
22Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?

Renungan

Ratapan kelima oleh nabi Yeremia ini sebenarnya adalah doa. Dalam ayat 1, ia memohon kepada Tuhan untuk ‘mengingat’, untuk memandang dan ‘melihat’ nasib buruk orang-orang (Israel). KJV menggunakan kata-kata ‘ingat’, ‘lihatlah’ dan ‘pertimbangkan’ yang merupakan kata-kata yang jauh lebih pedih untuk digunakan mengingat kejadian dan situasi yang ada. Babel telah menaklukkan Yerusalem. Kota suci dan Bait Suci yang indah telah dihancurkan, orang-orang berada dalam pengasingan. Yeremia tahu bahwa penawanan ini akan berlanjut selama 70 tahun namun ia ‘meratap’ kepada Tuhan untuk belas kasihan dan kasih karunia.

Demikian juga dalam situasi kita sehari-hari apa pun itu (baik, buruk atau jelek), kita dapat mengikuti teladan Yeremia dan meminta Tuhan untuk ‘mengingat’ kita dan ‘memandang’ dan ‘melihat’ kesengsaraan kita.

Tetapi kita juga harus ‘mengingat’ Tuhan dalam masa sulit kita. Kita perlu mengingat tangan baik-Nya kepada kita sejauh ini karena dalam mengingat, kita dapat memperbarui dan menyegarkan pandangan kita tentang Allah yang selalu setia. Saya baru-baru ini diingatkan akan janji Tuhan sekitar 18 tahun yang lalu bahwa Dia akan merawat putra saya ketika dia didiagnosa menderita meningitis yang menyebabkan dia menjadi anak yang istimewa walaupun hanya untuk beberapa tahun. Anak saya baru saja memulai universitas di Inggris dengan beasiswa penuh. Puji Tuhan !! Dia memang benar dalam kata-kata-Nya!

Kita juga harus ‘memandang’ ke atas dan ‘melihat’ di mana Tuhan berada. Yeremia jelas di mana Tuhan berada. Dalam ayat 19, ia berkata, “Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa.” Nabi Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah dinobatkan di surga dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya (Yesaya 66: 1). Ya, Dia duduk di sana namun Dia ada di sini di antara umat-Nya melalui Roh-Nya dan Dia sangat detil di dalam kehidupan kita. Dia tahu dan melihat apa yang terjadi dengan kita, dan dalam waktu dan cara-Nya, Dia pasti akan menyelamatkan kita.

Selama masa perenungan ‘diri’ ini yaitu pengujian diri, refleksi diri dan persiapan diri dalam mengingat dan merayakan Tuhan Yang Telah Bangkit, marilah kita ‘mengingat’, marilah kita ‘melihat’ dan membiarkan kita ‘melihat’ Dia yang bertakhta ‘untuk selama-lamanya’ (Mazmur 45:6).

Doa

Bapa Surgawi, Engkau adalah benar-benar Sang ‘Aku adalah Aku’ – Pribadi yang selalu hadir yang melihat semua yang terjadi di semua tempat dan di mana saja. Saya memohon Engkau untuk membantu saya mengingat siapa Engkau. Saya mudah menjadi lupa. Saya meminta Engkau untuk membantu saya melihat ke atas. Saya biasanya melihat sekeliling dan melihat ke bawah. Saya meminta Engkau untuk membantu saya melihat bahwa Engkau bertakhta dalam setiap dan semua situasi. Saya perlu melihat di mana Engkau berada. Engkau berdaulat dan dalam waktu-Mu dan dengan cara-Mu, Engkau akan membawa keadilan, kelegaan dan keselamatan bagi mereka yang mencari-Mu. Bantu saya untuk mencari Engkau lebih dan lebih. Saya meminta ini dalam nama Yesus, Amin.

Tindakan
Tuliskan janji atau ayat yang Allah telah berikan kepada Anda di masa lalu (mungkin Anda telah melupakannya) dan gunakan untuk mengingatkan diri Anda tentang siapa Dia. Jika Dia mengatakannya, pasti Dia akan memenuhinya. Lagipula Dia sama baik kemarin, hari ini dan besok.

Oleh
The Revd Canon Andrew Shie
Priest-in-Charge
St. James’s Church, Kuala Belait and St. Margaret’s Church, Seria
Diocese of Kuching (Sarawak and Brunei Darussalam)