Tag Archives: Kitab Imamat

Imamat 17:10-14

Nyawa ada di dalam darah, darah mengadakan pendamaian

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 17:10-14 [ITB])
10 「Setiap orang dari bangsa Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, yang makan darah apapun juga Aku sendiri akan menentang dia dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya. 11 Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.
12 Itulah sebabnya Aku berfirman kepada orang Israel: Seorangpun di antaramu janganlah makan darah. Demikian juga orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu tidak boleh makan darah. 13 Setiap orang dari orang Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, yang menangkap dalam perburuan seekor binatang atau burung yang boleh dimakan, haruslah mencurahkan darahnya, lalu menimbunnya dengan tanah. 14 Karena darah itulah nyawa segala makhluk. Sebab itu Aku telah berfirman kepada orang Israel: Darah makhluk apapun janganlah kamu makan, karena darah itulah nyawa segala makhluk: setiap orang yang memakannya haruslah dilenyapkan.

Imamat 17:10-14 mencatat teologi darah, yang merupakan ayat paling sentral dari ajaran Imamat tentang darah. Perikop ini tidak hanya menjelaskan mengapa orang tidak boleh makan darah, tetapi juga menjelaskan makna simbolis darah dan fungsi darah dalam ritual pengorbanan. Jika ingin memahami konsep Imamat tentang darah tidak boleh mengabaikan Imamat 17:10-14.

Pertama-tama, Imamat 17:11 mengatakan ini: karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya. Ini mengingatkan kita bahwa saat Allah menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu, Allah memberikan kehidupan kepada semua makhluk hidup (Kejadian 1), ini tentu membuat orang Yahudi mengerti bahwa nyawa kehidupan makhluk hidup adalah pemberian Allah dan di dalam tangan kendali Allah, tidak ada seorang pun yang dapat mengambil nyawa orang lain tanpa izin, jika tidak maka sama Ketika Kain membunuh Habel, Allah berfirman: Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah (Kejadian 4:10), yang melambangkan darah Habel adalah perpanjangan hidup Habel dan berseru meneriakkan sendiri perkabungan kepada Allah, dan karena Allah adalah Pemberi kehidupan, Dia harus mendengar suara teriakan darah dan menegakkan keadilan bagi nyawa yang diwakili oleh darah ini. Dengan demikian, karena nyawa makhluk hidup ada di dalam darah, kalimat ini tepat menunjukkan bahwa kedaulatan hidup berasal dari Allah, ketika seseorang berani untuk mengambil nyawa orang lain tanpa izin, darah orang yang terbunuh akan meratap dan berteriak kepada Allah, dan Allah akan meminta keadilan untuknya. Oleh karena itu, darah melambangkan nyawa kehidupan. Orang Yahudi tidak boleh makan darah adalah karena nyawa yang diwakili oleh darah harus dikembalikan kepada Allah dan tidak boleh ditelan manusia.

Kedua, Imamat 17:11 menjelaskan: Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu … Ini adalah satu-satunya alasan mengapa Allah bersedia memberikan darah kepada manusia, ini adalah untuk tata ritual persembahan korban, darah harus dioleskan di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa hidup kita. Karena darah melambangkan kehidupan, maka nyawa menggantikan nyawa barulah dapat terjadi dan persembahan korban di atas mezbah dapat mengadakan pendamaian bagi orang. Apa sebenarnya pendamaian itu? Pendamaian dapat diartikan sebagai penyucian penahiran, yaitu membersihkan menahirkan tempat kudus bagi seseorang, karena dosa dan kenajisan orang ini mencemari tempat kudus, sehingga diperlukan darah untuk pembersihan. Penjelasan lain adalah tebusan pengganti (ransom), yang berarti bahwa orang ini pada awalnya sebenarnya diharuskan membayar hutang atas dosa-dosanya, tetapi sekarang karena hewan korban mengalirkan darah membayar tebusan pengganti untuk orang ini, dan orang ini dibebaskan dari hukuman. Dengan demikian, ini adalah alasan lain mengapa darah tidak dapat dimakan adalah karena darah hanya dapat dianugerahkan oleh Allah dalam ritual pengorbanan, dan memiliki satu-satunya fungsi, yaitu penyucian penahiran dan tebusan pengganti.

Renungkan:
Darah adalah nyawa dan dapat mengadakan pendamaian tebusan pengganti, yang pertama melambangkan kedaulatan hidup terletak di tangan Allah, dan yang kedua melambangkan prinsip dasar nyawa ganti nyawa. Sebagai orang Kristen, kita memahami bahwa Yesus Kristus menumpahkan darah untuk kita, darah-Nya yang tercurah dapat menyucikan dan menebus, sehingga kita dapat memiliki hidup yang baru. Sering kali, ketika kita berdosa, kita melupakan darah yang dicurahkan oleh Yesus Kristus dan harga yang Ia bayar, sehingga kita membiarkan dosa berkuasa dalam hidup kita, alih-alih membiarkan Allah memerintah dalam hidup kita. Mulai sekarang, kita harus merenungkannya, apakah kita bisa merampas kedaulatan atas hidup kita atau apakah kita bersedia mendedikasikan hidup kita agar Allah menjadi Tuan dan Tuhan atas hidup kita. Jika kita dapat menghormati bahwa kedaulatan hidup ada di tangan Allah, kita dapat memahami bahwa kita tidak dapat sesuka hati berbuat dosa, sehingga darah Kristus jangan mengalir dengan sia-sia, dan memahami pengampunan penuh belas kasihan yang diberikan oleh Dia.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 17:1-7

Hanya boleh menyembelih di depan Kemah Pertemuan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 17:1-7 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 「Berbicaralah kepada Harun dan kepada anak-anaknya dan kepada seluruh orang Israel, dan katakan kepada mereka: Inilah firman yang diperintahkan Allah:
3 Setiap orang dari kaum Israel yang menyembelih lembu atau domba atau kambing di dalam perkemahan atau di luarnya, 4 tetapi tidak membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, untuk dipersembahkan sebagai persembahan kepada Allah di depan Kemah Pertemuan Allah, hal itu harus dihitungkan kepada orang itu sebagai hutang darah, karena ia telah menumpahkan darah, dan orang itu haruslah dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya.
5 Maksudnya supaya orang Israel membawa korban sembelihan mereka, yang biasa dipersembahkan mereka di padang, kepada Allah ke pintu Kemah Pertemuan dengan menyerahkannya kepada imam, untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai korban keselamatan. 6 Imam harus menyiramkan darahnya pada mezbah Allah di depan pintu Kemah Pertemuan dan membakar lemaknya menjadi bau yang menyenangkan bagi Allah.
7 Janganlah mereka mempersembahkan lagi korban mereka kepada jin-jin, sebab menyembah jin-jin itu adalah zinah. Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi mereka turun-temurun.
8 Dan haruslah kaukatakan kepada mereka:
Setiap orang dari kaum Israel atau dari orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, yang mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan, 9 tetapi tidak membawanya ke pintu Kemah Pertemuan supaya dipersembahkan kepada TUHAN, maka orang itu haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya.

Imamat 17 terutama menjelaskan teologi darah. Teologi darah ini memberi tahu kita bahwa hanya Allah saja yang memiliki hak untuk mengambil kehidupan, dan hanya Dialah yang dapat memberi kehidupan, dan Dialah penguasa kehidupan.

Imamat 17:3-4 menjelaskan bahwa jika orang-orang dalam keluarga Israel ingin menyembelih lembu, domba, dan kambing, mereka harus membawanya ke depan pintu Kemah Pertemuan. Hewan-hewan ini termasuk hewan yang dikorbankan, hanya hewan- hewan ini saja yang bisa dipakai sebagai persembahan korban kepada Allah, dan hanya Allah yang berdaulat yang mengatur hidup hewan-hewan ini. Oleh karena itu, Imamat 17:3-4 menunjukkan bahwa jika ada orang yang tidak membawa hewan-hewan ini ke pintu Kemah Pertemuan dan menyembelihnya, pertumpahan darah akan dihitungkan kepada orang-orang itu, dan orang-orang itu akan dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya. Membawa hewan-hewan ini ke pintu Kemah Pertemuan berarti mereka dibawa ke hadapan Allah, ketika mereka disembelih dan darahnya ditumpahkan di hadapan Allah, itu melambangkan bahwa hanya Allah yang dapat mengambil nyawa mereka. Ini juga melambangkan bahwa Allah adalah sumber dari segala hidup dan Dia memiliki kedaulatan mutlak atas hidup. Oleh karena itu, ketika seseorang membawa hewan ke pintu Kemah Pertemuan, itu juga berarti bahwa orang tersebut menyatakan bahwa hanya Allah yang mengatur kehidupan. Imamat 17:5 menunjukkan bahwa fungsi hewan-hewan ini adalah untuk diberikan sebagai persembahan kepada Allah, sehingga manusia tidak berkuasa mengontrol hari depan mereka, hanya Allah yang memiliki keputusan akhir. Terakhir, darah dipercik di depan pintu Kemah Pertemuan dan di hadapan Allah (Im. 17:6), ini adalah deklarasi pernyataan kehidupan, karena darah melambangkan kehidupan (Im. 17:11), tindakan tata cara / ritual ini memiliki makna bahwa kehidupan yang dikembalikan kepada Allah (milik Allah).

Merepotkan untuk membawa hewan ke pintu masuk Kemah Pertemuan, kita sering berpikir bahwa langkah-langkah ritual pengorbanan terlalu mengganggu dan tidak praktis, tidak ada manfaat ekonomi. Cara yang paling mudah adalah dengan menyembelih hewan-hewan ini di rumah dan memotongnya menjadi ukuran lebih kecil sebelum membawanya ke Kemah Pertemuan untuk persembahan korban. Namun, Alkitab menunjukkan bahwa ini dilarang. Penyembelihan apa pun harus dilakukan di depan Kemah Pertemuan, dan kedaulatan Allah atas kehidupan harus dideklarasikan sebelum penumpahan darah. Pertama pengakuan deklarasi, lalu penyembelihan, dan kemudian penumpahan darah, ini adalah langkah yang harus dilakukan. Orang-orang yang mencari kemudahan menganggap langkah ini merepotkan, tetapi ketika mereka menganggapnya merepotkan, itu berarti mengambil kembali kedaulatan “mengambil nyawa” dari tangan Allah, mereka percaya bahwa mereka memiliki otoritas untuk mengendalikan masa depan hewan-hewan ini dan menanganinya dengan cara yang mereka pikir paling efektif. Mentalitas ini telah menyangkal kedaulatan Allah, yang artinya tidak lagi mengakui diri sebagai umat Allah, dan harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya (digunting, tidak lagi menjadi bagian umat Allah, penjelasan lebih lengkap lihat renungan Imamat 7:20-27 Dilenyapkan dari antara bangsanya klik untuk membuka).

Renungkan:
Berdoa memohon agar Allah membantu kita meninggalkan sikap egois ini, mengembalikan kedaulatan hidup kepada Allah, menyatakan kedaulatan-Nya dalam hidup kita sendiri, sehingga kita tidak lagi mengendalikan masa depan kita sendiri, dan membiarkan Allah yang mengendalikannya. Dia adalah penguasa hidup kita! Berdoa memohon agar Allah mengizinkan kita mendedikasikan kedaulatan atas hidup kita kepada-Nya dan menjalani kehidupan yang menjadi milik-Nya. Apakah Anda bersedia?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 17-27

Peraturan Kekudusan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 17:1-2 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa: 2 “Berbicaralah kepada Harun dan kepada anak-anaknya dan kepada seluruh orang Israel, dan katakan kepada mereka: Inilah firman yang diperintahkan TUHAN

Sebelumnya kita sudah merenungkan Imamat 1-16, dan kita akan melanjutkan merenungkan Imamat pasal 17 sampai 27. Para peneliti sepakat bahwa Kitab Imamat dapat dibagi menjadi dua bagian besar ini, bagian pertama (Imamat 1-16) dikenal sebagai Taurat Imamat (Priestly Torah), sedangkan bagian kedua (Imamat 17-27) disebut Peraturan Kekudusan (Holiness Code). Kedua bagian ini memiliki pendekatan yang berbeda tentang bagaimana menyatakan kekudusan Allah, tetapi keduanya setuju dengan pentingnya kesucian tahirnya tempat kudus dan hadirat penyertaan Allah. Apa perbedaan teologis antara keduanya?

Taurat Imamat / Priestly Torah (Imamat 1-16) berfokus utama pada kesucian tahirnya tempat kudus, bagian besar peraturan digunakan untuk menghilangkan kenajisan ritual (ritual impurity). Kenajisan ritual tidak ada hubungannya dengan kenajisan moral tetapi hal-hal yang mempengaruhi keadaan tahir dan keutuhan tempat kudus, yakni termasuk mayat, penyakit kulit, lelehan tubuh (seperti air mani dan darah menstruasi), makanan haram, dll, yang mempengaruhi keutuhan ritual, juga mempengaruhi operasi dan keadaan tahir tempat suci, maka membutuhkan air, api, dan darah untuk membuang kontaminasi dan menjaga kesucian tahirnya tempat kudus, sehingga Allah dapat menyertai Israel di dalam Kemah Pertemuan. Tetapi fokus utama dari Peraturan Kekudusan (Holiness Code) (Imamat 17-27) adalah kesucian tahir selain tempat kudus, melalui menghilangkan kenajisan moral (moral impurity) sehingga kesucian tahirnya tempat kudus diperluas ke arah luar. Kecemaran moral ini mencakup perilaku seksual yang tidak etis, ketidakadilan sosial, penindasan orang miskin dan penduduk asing, dll. Ketika orang Israel mematuhi Peraturan Kekudusan, mereka dapat menghidupi kesucian tahirnya tempat kudus, menjalani kehidupan yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain, maka menjadi saksi di antara bangsa-bangsa.

Akulah TUHAN, Allahmu, yang memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain (Im. 20:24) Kalimat emas ini merupakan kalimat penting dari Peraturan Kekudusan (Holiness Code) (tentu juga termasuk ayat 19:2 Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus, yang juga akan kita renungkan nanti). Kalimat ini menunjukkan bahwa orang Israel sebagai umat anugerah, harus hidup berbeda dari bangsa-bangsa, mereka tidak boleh memiliki perilaku seksual yang tidak pantas seperti bangsa-bangsa lain, mereka tidak boleh seperti bangsa-bangsa asing menindas orang miskin. Berada di antara budaya Kanaan di tanah Palestina mereka hendaknya menghidupi menghayati cahaya kemuliaan Allah, harus mematuhi Peraturan Kekudusan. Diperintahkan. Dengan demikian, umat Israel dapat menjadi umat yang suci tahir, dan cara hidup mereka menjadi saksi atas kekudusan Allah.

Renungkan:
Kita hidup di zaman kegelapan, dan berbagai gaya hidup dunia mungkin tidak sesuai dengan kehidupan orang Kristen. Apakah kita memiliki keberanian moral untuk menjalani kehidupan suci tahir yang berbeda dari bangsa-bangsa dunia? Ketika kita melakukan demikian, dunia tidak akan menyukai kita, dunia akan mencoba yang terbaik untuk menyerang kita dan bahkan menganiaya kita. Pada saat ini, orang Kristen memiliki dua pilihan. Apakah kita akan diasimilasi oleh dunia dan tidak dapat dibedakan lagi dari orang-orang dunia, ataukah kita akan menghidupi menghayati kekudusan yang dituntut oleh Allah, berbeda dari orang-orang dunia. Yang pertama mudah dan yang kedua sulit, tetapi yang kedua adalah misi Peraturan Kekudusan, yaitu agar orang dapat melihat cahaya kekudusan Allah dalam hidup kita Apakah Anda bersedia?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 16:8-19

Kambing jantan yang mati di hari mengadakan pendamaian

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 16:8-19 [ITB])
8 dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi TUHAN dan sebuah bagi Azazel.
9 Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi TUHAN itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa.
10 Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan TUHAN untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun.
11 Harun harus mempersembahkan lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya; ia harus menyembelih lembu jantan itu.
12 Dan ia harus mengambil perbaraan berisi penuh bara api dari atas mezbah yang di hadapan TUHAN, serta serangkup penuh ukupan dari wangi-wangian yang digiling sampai halus, lalu membawanya masuk ke belakang tabir. 13 Kemudian ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian yang di atas hukum Allah, supaya ia jangan mati.
14 Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali.
15 Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah itu seperti yang diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikkannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu.
16 Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.
17 Seorangpun tidak boleh hadir di dalam Kemah Pertemuan, bila Harun masuk untuk mengadakan pendamaian di tempat kudus, sampai ia keluar, setelah mengadakan pendamaian baginya sendiri, bagi keluarganya dan bagi seluruh jemaah orang Israel.
18 Kemudian haruslah ia pergi ke luar ke mezbah yang ada di hadapan TUHAN, dan mengadakan pendamaian bagi mezbah itu. Ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan dan dari darah domba jantan itu dan membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya. 19 Kemudian ia harus memercikkan sedikit dari darah itu ke mezbah itu dengan jarinya tujuh kali dan mentahirkan serta menguduskannya dari segala kenajisan orang Israel.

Imamat 16 menjelaskan prosedur ritual pengorbanan di hari mengadakan pendamaian, ini adalah satu tahu satu kali hari mengadakan pendamaian, hal yang paling penting dalam ritual ini melibatkan dua ekor kambing jantan, imam akan membuang undi (cast lots) atas dua ekor kambing jantan ini, agar Allah yang menentukan kambing jantan mana yang dipersembahkan mati sebagai korban penghapus dosa, mana yang akan hidup-hidup dilepaskan ke padang gurun. Ayat 16:8 menjelaskan adalah kambing jantan yang diundi mati dipersembahkan untuk TUHAN, kambing jantan yang diundi hidup adalah untuk Azazel. Hari ini kita akan merenungkan kambing jantan yang diundi mati, dan besok kita akan merenungkan kambing jantan yang hidup.

Seperti Imamat pasal 4 tentang korban penghapus dosa, demikian juga darah kambing jantan melalui tata cara darah untuk menahirkan tempat kudus atas semua dosa dan kecemaran kenajisan umat Israel (16:16), ritual tata cara penggunaan darah (16:18-19) secara dasarnya sama dengan yang dijelaskan di Imamat 4. Namun, Imamat 16:12-15 mencatat peraturan persembahan korban penghapus dosa yang tidak disebutkan dalam Imamat 4, yakni tentang imam setahun sekali di hari mengadakan pendamaian akan memasuki Ruang Mahakudus, pertama-tama ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian agar imam tidak bisa langsung melihat tabut perjanjian, untuk menjamin keselamatan imam. Kemudian imam harus harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas di bagian muka dan ke depan tutup pendamaian tujuh kali, lalu dengan jarinya memercikkan darah kambing jantan korban penghapus dosa ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu tujuh kali, yang merupakan salah satu tata cara ritual penggunaan darah yang paling mendalam, menahirkan membersihkan tempat kudus terdalam, menghapuskan noda dosa yang terdalam.

Kata tutup pendamaian berasal dari kata kĭppěr, seperti yang dijelaskan dalam renungan Imamat 1:2-9 (2), kata kĭppěr memiliki makna suci kudus dan mengadakan pendamaian, tetapi ketika digunakan pada tutup pendamaian maka kata kĭppěr juga memiliki makna penutup (cover), oleh karena itu takhta pendamaian terdapat dua kerub yang terbuat dari emas murni, kedua kerub ini merentangkan sayapnya untuk menutupi tabut perjanjian, melambangkan takhta hadirat penyertaan Allah, dan juga menghubungkan tabut perjanjian, melambangkan Perjanjian yang dibuat Allah dengan umat Israel. Dengan demikian, tutup pendamaian / takhta pendamaian yang dalam bahasa Inggris mercy seat tidak ada kaitan secara langsung dengan konsep mercy belas kasih kemurahan, dan sulit bagi para peneliti untuk menerjemahkan kata ini. Namun, tutup pendamaian / takhta pendamaian terkait dengan takhta kehadiran Allah, dan juga terkait perjanjian antara Allah dan umat-Nya, yang juga merupakan inti iman kitab Imamat, inti yang harus dilaksanakan setahun sekali mendapatkan penahiran, untuk memastikan kehadiran penyertaan kekal Allah.

Renungkan:
Dengan demikian, darah kambing jantan yang mati membawa kita ke inti iman: kehadiran penyertaan dan perjanjian. Allah hadir di tempat maha kudus, dan tabut perjanjian di tempat maha kudus melambangkan perjanjian antara Allah dan manusia. Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus adalah kambing jantan yang mati itu. Darah-Nya membawa kita ke hadirat penyertaan dan perjanjian Allah. Dia membersihkan tempat kudus dengan darah-Nya, memungkinkan setiap penyembah mengalami berkat hadirat penyertaan Allah selamanya. Kita juga telah mengalami keselamatan dalam perjanjian kekal. Di hadapan domba yang mati ini, kita hanya bisa mengucap syukur berterima kasih, dan tidak melupakan anugerah Allah ini!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 16:20-22

Kambing jantan yang hidup, di hari mengadakan pendamaian

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 16:20-22 [ITB])
20 Setelah selesai mengadakan pendamaian bagi tempat kudus dan Kemah Pertemuan serta mezbah,
ia harus mempersembahkan kambing jantan yang masih hidup itu, 21 dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka;
ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu.
22 Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun.

Darah kambing jantan yang mati itu membawa kita melangkah menuju kehadiran dan perjanjian Allah; kambing jantan yang hidup tidak perlu menumpahkan darah, tapi imam harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu (16:21), semua dosa dan kecemaran orang-orang Israel dipindahkan ke atas kambing jantan hidup ini, kambing jantan yang hidup ini menanggung dosa seluruh Israel, berjalan ke padang gurun, berjalan ke arah Azazel, ini adalah nasib kambing jantan hidup tersebut. Karena menjauhnya kambing ini, dosa-dosa orang-orang Israel juga menjauh. Sejauh langit dari bumi, demikian kambing jantan ini juga membuat pelanggaran kita dijauhkan dari kita.

Azazel adalah tempat apa? Para peneliti telah banyak membahas kata itu, kata ini tampaknya mewakili tempat sepenuhnya penawanan pembuangan dan yang jauh terpisah, mungkin mewakili tempat yang sepenuhnya gelap di mana tidak ada seorang pun hidup, dan argumen yang lebih meyakinkan adalah melambangkan iblis padang gurun (dessert demon), melambangkan kekuatan gelap yang sepenuhnya, juga sebuah tempat yang sepenuhnya najis.

Kambing jantan hidup walau tanpa pertumpahan darah, tetapi ia berjalan menuju kepada setan membawa dosa semua orang, itu adalah seekor kambing pengganti pembawa dosa (scapegoat), membawa dosa najis ke tempat paling najis tempat iblis, agar dosa selama-lamanya menjauh dari umat Allah. Dengan demikian, kambing jantan yang hidup membimbing orang-orang menjauh dari dosa, melambangkan bahwa Yesus Kristus menanggung dosa kita dan berjalan di jalan Kalvari, berjalan menuju ke salib kematian. Dia membawa pergi dosa kita sehingga dosa menjauh dari kita selamanya, sehingga kita tidak perlu menerima buah jahat dari dosa kita dan tidak perlu berbuat dosa lagi. Kambing jantan hidup ini telah ditetapkan menjadi kambing hitam, kambing pengganti pembawa dosa (scapegoat), adalah karena hasil membuang undi yang mewakili kedaulatan Allah menetapkan bahwa kambing jantan hidup ini menderita, menanggung dosa, situasinya sedikit seperti Yesaya53 hamba yang menderita, Allah menetapkan Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita dan menebus hidup kita. Kambing jantan ini tidak memiliki kedaulatan di hadapan Allah. Ia tidak dapat menentukan nasibnya sendiri, juga tidak dapat memilih dosa apa yang hendak ditanggungnya, ia hanya dapat secara pasif menanggung semua dosa, menanggung dosa seluruh Israel.

Renungkan:
TU


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 15:33

Aturan tentang lelehan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 15:33 [ITB])
33 dan tentang seorang perempuan yang bercemar kain dan tentang seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengeluarkan lelehan, dan tentang laki-laki yang tidur dengan perempuan yang najis.

Bacalah seluruh Imamat pasal 15.

Imamat 15 mencatat aturan tentang bahwa lelehan pria dan wanita, kata yang umum digunakan lelehan (discharge) (zûb) mengacu pada air mani dan menstruasi. Alkitab menjelaskan jika ini terjadi maka pria ataupun wanita sama-sama ditetapkan sebagai najis, tempat yang terkena lelehan tersebut juga menjadi najis, tempat yang disentuh orang tersebut juga menjadi najis, siapapun yang disentuh orang tersebut juga menjadi najis. Mengapa menjadi najis?

Kenajisan mereka tidak ada hubungannya dengan moralitas mereka, ini semacam kenajisan ritual (ritual impurity) bukan kenajisan moral (moral impurity). Alasan mereka ditetapkan sebagai najis, mungkin karena sifat dari lelehan, yakni berada dalam keadaan berpotensi kehidupan (potential to life). Di satu sisi lelehan tidak termasuk sepenuhnya kehidupan, di sisi lain terkait dengan kehidupan: lelehan adalah masa transisi (in transit) sebelum bayi terbentuk, dan dengan demikian berada dalam situasi melintasi garis batas, tidak dapat diklasifikasikan sepenuhnya. Lelehan lebih cocok berada di dalam tubuh, dalam hal air mani pria yang terbaik adalah tinggal di dalam rahim wanita, sehingga orang tidak karena lelehan air mani dan memikirkan hal-hal yang melintasi garis batas; dalam hal lelehan wanita lebih sulit untuk dihindari, karena ada unsur banyak darah, membuat orang memikirkan kematian dan kehidupan, jadi untuk zaman tersebut idealnya adalah tinggal di rumah selama masa menstruasi. Jadi tradisi imamat menetapkan sebagai najis, menyimbolkan tidak dapat diklasifikasikan sepenuhnya, berada dalam situasi kacau campur aduk.

Cara mengatasi kenajisan ini adalah membasuhnya dengan air dan menunggu waktunya, juga perlu mempersembahkan korban penghapus dosa dan korban bakaran untuk menahirkan tempat kudus dan berkenan penyertaan Allah. Ini mengingatkan kita pada umat Israel sebelum mereka menyambut kehadiran Allah di Gunung Sinai, pria dan wanita tidak boleh melakukan hubungan suami istri, ini bukan berarti bahwa hubungan suami istri itu sendiri menyebabkan masalah moral, tetapi agar pikiran orang terfokus sepenuhnya kepada kehadiran Allah bukan pada lelehan tubuh.

Renungkan:
Apakah Anda selalu memikirkan hadirat penyertaan Allah, atau membiarkan seks selalu mengisi pikiran Anda? Kita hidup di era hasrat seksual yang merajalela, baik iklan maupun serial TV, tidak sulit bagi kita untuk mendapatkan akses informasi tentang seks. Seks bukanlah dosa itu sendiri, itu adalah hadiah yang Tuhan berikan kepada suami dan istri dalam pernikahan. Namun, zaman / generasi ini telah membuat seks menjadi tontonan publik, membuat orang berpikir tentang seks sepanjang waktu. Namun, perikop ini mengingatkan kita bahwa kita harus menempatkan pikiran kita pada Allah di posisi yang penting. Selama penyembahan Kemah Pertemuan dan ketika Tuhan bersama kita, kita tidak boleh memikirkan seks agar hati pikiran kita sepenuhnya menyembah dan melayani Allah. Ini bukan mengatakan bahwa hubungan suami istri itu jahat, tetapi karena kita harus menempatkan Allah pada posisi yang paling utama pada saat beribadah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 14:10-20

Peraturan penahiran setelah penyakit kulit (2)

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 14:10-20 [ITB])
10 Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor domba jantan yang tidak bercela dan seekor domba betina berumur setahun yang tidak bercela dan tiga persepuluh efa tepung yang terbaik diolah dengan minyak sebagai korban sajian, serta satu log minyak.
11 Imam yang melakukan pentahiran itu harus menempatkan orang yang akan ditahirkan bersama-sama dengan persembahannya di hadapan TUHAN di depan pintu Kemah Pertemuan.
12 Dan ia harus mengambil domba jantan yang seekor dan mempersembahkannya sebagai tebusan salah bersama-sama dengan minyak yang satu log itu, dan ia harus mempersembahkannya sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN.
13 Domba jantan itu harus disembelihnya di tempat orang menyembelih korban penghapus dosa dan korban bakaran, di tempat kudus, karena korban penebus salah, begitu juga korban penghapus dosa, adalah bagian imam; itulah bagian maha kudus.
14 Imam harus mengambil sedikit dari darah tebusan salah itu dan harus membubuhnya pada cuping telinga kanan dari orang yang akan ditahirkan dan pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanannya.
15 Imam harus mengambil sedikit dari minyak yang satu log itu dan menuangnya ke telapak tangan kiri imam sendiri; 16 ia harus mencelupkan jari kanannya ke dalam minyak yang di telapak tangan kirinya itu dan sedikit dari minyak itu haruslah dipercikkannya dengan jarinya tujuh kali di hadapan TUHAN.
17 Dari minyak selebihnya imam harus membubuh sedikit pada cuping telinga kanan orang itu, pada ibu jari tangan kanannya dan pada ibu jari kaki kanannya, di tempat mana darah tebusan salah dibubuhkan. 18 Dan apa yang tinggal dari minyak itu haruslah dibubuhnya pada kepala orang yang akan ditahirkan.
Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN.
19 Imam harus mempersembahkan korban penghapus dosa dan dengan demikian mengadakan pendamaian bagi orang yang akan ditahirkan dari kenajisannya, dan sesudah itu ia harus menyembelih korban bakaran.
20 Kemudian imam harus mempersembahkan korban bakaran dan korban sajian di atas mezbah. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu, maka ia menjadi tahir.

Bagian ini menjelaskan tata cara kedua tentang penahiran setelah sembuh penyakit kulit. Tata cara ini sangat istimewa, selain persembahan unjukan, korban penghapus dosa, dan korban penebus salah, ada juga tindakan untuk membubuhkan darah dan minyak. Pertama-tama, menggunakan sedikit dari darah tebusan salah dibubuhkan pada cuping telinga kanan dan pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan orang yang akan ditahirkan, lalu mengoleskan minyak sama-sama pada cuping telinga kanan dan pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan orang yang akan ditahirkan. Banyak peneliti berpendapat bahwa minyak ini adalah minyak urapan, situasinya seperti Imamat 8 minyak urapan untuk penahbisan imam, tetapi tata cara penggunaan minyak di sini dituliskan lebih rinci. Jadi apa makna simbolis dari tata cara ritual minyak dan darah ini?

Pertama-tama, para ahli berpendapat bahwa minyak urapan melambangkan kehidupan, kedamaian dan kesehatan (Mazmur 23:5; Amsal 27:9), dan sering digunakan untuk tujuan pembersihan (Rut 3:3; Yeh. 16:9), terutama setelah berpuasa penggunaan minyak adalah simbol seseorang memasuki kehidupan normal setelah puasa (2 Sam. 12:20). Oleh karena itu, minyak dipakai dalam pengubahan kehidupan tidak normal menjadi kehidupan normal. Karena itu, ketika minyak urapan dibubuhkan pada diri orang yang perlu ditahirkan, simbol bahwa orang ini akan diubahkan dari hidup tidak normal penyakit kulit memasuki ke dalam kehidupan sosial yang normal; kedua, ini minyak urapan dibubuhkan di bagian kanan dari tubuh orang tersebut, simbol bagian tubuh orang umumnya yang relatif lebih kuat, menyatakan orang tersebut dipulihkan dan sehat kembali; ketiga, darah memiliki fungsi membersihkan, darah dibubuhkan pada tubuh orang tersebut artinya menahirkan untuk orang tersebut; keempat, ayat 18 menyebutkan bahwa minyak urapan dibubuhnya pada kepala orang yang akan ditahirkan, situasi sama dengan penahbisan imam besar dengan diurapi, tidak berarti orang ini menjadi imam, tetapi merupakan simbol bahwa orang tersebut ditahirkan dibersihkan dan dipulihkan dari kepala sampai kaki yang belum pernah terjadi sebelumnya, menunjukkan bahwa orang tersebut tidak lagi seperti di masa lalu hidup dalam keputusasaan, tetapi hidup dalam penerimaan perkenan Allah dan penegasan pengakuan komunitas umat Allah.

Renungkan:
Apakah Anda berpendapat hidup sekarang adalah normal? Penyakit kulit walau sudah sembuh, juga tidak dapat otomatis diterima di komunitas, harus melalui imam yang memimpin ritual barulah bisa tahir. Sering kali kita terbiasa hidup dalam kehidupan yang mengabaikan hubungan dengan Allah, dan kita tidak aktif memohon penyucian yang datang dari Tuhan, bahkan rahmat anugerah Tuhan menunggu di hadapan, namun kita mungkin karena dengan berbagai alasan tidak mau hidup dalam komunitas yang tahir, mungkin juga kita terbiasa hidup dalam kegelapan dan ketertutupan, tidak melihat kuasa penahiran pembersihan dari minyak urapan menunggu Anda.

Berdoa memohon Tuhan membantu kita meninggalkan kehidupan yang tertutup dan datang kepada Kristus Imam Besar, dan biarkan Dia melakukan pengurapan raja untuk Anda, sehingga Anda dapat menjadi anak Allah dan menjalani kehidupan kelimpahan.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 14:1-9

Peraturan penahiran setelah penyakit kulit (1)

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 14:1-9 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa: 2 「Inilah yang harus menjadi hukum tentang orang yang sakit kusta pada hari pentahirannya:
ia harus dibawa kepada imam, 3 dan imam harus pergi ke luar perkemahan;
kalau menurut pemeriksaan imam penyakit kusta itu telah sembuh dari padanya, 4 maka imam harus memerintahkan, supaya bagi orang yang akan ditahirkan itu diambil dua ekor burung yang hidup dan yang tidak haram, juga kayu aras, kain kirmizi dan hisop.
5 Imam harus memerintahkan supaya burung yang seekor disembelih di atas belanga tanah berisi air mengalir.
6 Tetapi burung yang masih hidup haruslah diambilnya bersama-sama dengan kayu aras, kain kirmizi dan hisop, lalu bersama-sama dengan burung itu semuanya harus dicelupkannya ke dalam darah burung yang sudah disembelih di atas air mengalir itu.
7 Kemudian ia harus memercik tujuh kali kepada orang yang akan ditahirkan dari kusta itu dan dengan demikian mentahirkan dia, lalu burung yang hidup itu haruslah dilepaskannya ke padang.
8 Orang yang akan ditahirkan itu haruslah mencuci pakaiannya, mencukur seluruh rambutnya dan membasuh tubuhnya dengan air, maka ia menjadi tahir. Sesudah itu ia boleh masuk ke dalam perkemahan, tetapi harus tinggal di luar kemahnya sendiri tujuh hari lamanya.
9 Maka pada hari yang ketujuh ia harus mencukur seluruh rambutnya: rambut kepala, janggut, alis, bahkan segala bulunya harus dicukur, pakaiannya dicuci, dan tubuhnya dibasuh dengan air; maka ia menjadi tahir.

Orang yang terkena penyakit kulit setelah sembuh, tidak berarti orang itu secara otomatis dapat bersatu dengan umat Israel, tidak berarti bahwa orang secara otomatis telah tahir. Orang itu harus tetap di luar perkemahan, imam keluar perkemahan untuk memeriksa dia (Im. 14:3), setelah melakukan serangkaian ritual penahiran yang kompleks untuk dia, orang ini mendapatkan penahiran, tujuannya adalah agar dia dapat memasuki kembali hubungan sosial normal di perkemahan Israel. Ritual yang kompleks membuat kita orang modern bingung, tapi simbolik yang memiliki makna teologis yang mendalam, membuat kita merenungkan anugerah kasih karunia menahirkan dari Allah.

Pertama-tama, dalam ayat-ayat ini muncul tiga kali maka ia menjadi tahir (ayat 8, 9, 20), menunjukkan bahwa tujuan utama dari ritual ini adalah untuk membuat orang tersebut menjadi tahir. Kedua, ritual ini membutuhkan dua ekor burung, satu ekor ditetapkan untuk disembelih, satu ekor ditetapkan untuk dilepaskan hidup. Burung yang disembelih di atas belanga tanah sehingga darahnya menetes ke air mengalir yang ada di dalam belanga itu (living water atau running water), kemudian burung seekor yang hidup bersama-sama dengan kayu aras, kain kirmizi dan hisop, dicelupkan ke dalam darah burung yang disembelih di atas air mengalir di dalam belanga itu, dan memercikkannya di depan orang ini tujuh kali, dan orang ini menjadi tahir. kita tidak yakin apakah air dan darah bercampur atau terpisah di atasnya, tetapi kita tahu bahwa ritual ini adalah untuk menahirkan orang ini. Ketiga, burung mati dan burung hidup mengingatkan kita pada kambing jantan mati dan hidup di Hari mengadakan pendamaian (Im. 16), dan burung hidup seperti domba hidup, membawa pergi kenajisan orang ini ke kegelapan di luar perkemahan, dan bahkan ke tempat yang dikendalikan oleh iblis, melambangkan bahwa burung yang hidup menanggung kenajisan orang ini, sedangkan burung yang mati bagi penahiran untuk orang ini, darah yang terlibat memiliki efek pembersihan.

Renungkan:
Burung yang hidup dan burung yang mati mengingatkan kita akan Kristus, Dia menjadi burung yang mati karena dosa-dosa kita, dan darah-Nya membersihkan dosa-dosa kita; dan Dia juga adalah burung yang hidup, berjalan mendaki bukit Kalvari dan menanggung dosa-dosa kita, sehingga kita bisa jadi bersih, karena itu semata-mata hanya karena anugerah Allah bagi kita dan segalanya yang Ia lakukan demi kita. Memang benar bahwa orang yang memiliki penyakit kulit mendapat kesembuhan, mungkin mendapatkan perawatan dokter, disembuhkan tidak berarti otomatis dapat membuat orang ini menjadi tahir, hanya melalui ritual ini saja orang itu dapat memasuki kehidupan sosial yang normal, dan terhubung lagi dengan orang-orang. Demikian pula, hanya karena ditanggung Kristus dan darah Kristus yang membuat kita dapat memiliki hubungan kehidupan yang normal dalam komunitas gereja dan menjadikan gereja sebagai umat yang kudus, berbeda dari bangsa-bangsa duniawi. Berdoa memohon agar Tuhan membantu kita setiap saat ingat bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang telah mendapatkan anugerah, alih-alih menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih, dan gereja akan menjadi komunitas yang mendapatkan anugerah, memancarkan kemuliaan yang kudus, dan hidup bagi Tuhan.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 13:9-17

Kulit yang tahir

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 13:9-17 [ITB])
9 Apabila seseorang kena kusta, ia harus dibawa kepada imam.
10 Kalau menurut pemeriksaan imam pada kulitnya ada bengkak yang putih, yang mengubah bulunya menjadi putih, dan ada daging liar timbul pada bengkak itu, 11 maka kusta idapanlah yang ada pada kulitnya.
Imam harus menyatakan dia najis dengan tidak usah mengurung dia, karena orang itu memang sudah najis.
12 Jikalau kusta itu timbul di mana-mana pada kulit, sehingga menutupi seluruh kulit orang sakit itu, dari kepala sampai kakinya, seberapa dapat dilihat oleh imam, 13 dan kalau menurut pemeriksaannya kusta itu menutupi seluruh tubuh orang itu, maka ia harus dinyatakan tahir oleh imam; ia seluruhnya telah berubah menjadi putih, jadi ia tahir.
14 Tetapi pada waktu ada tampak daging liar padanya, najislah ia.
15 Kalau daging liar itu dilihat oleh imam, ia harus menyatakan orang itu najis, karena daging liar itu najis, dan itu penyakit kusta.
16 Atau apabila daging liar itu susut dan berubah menjadi putih, haruslah orang itu datang kepada imam.
17 Kalau menurut pemeriksaannya penyakit itu telah berubah menjadi putih, haruslah imam menyatakan orang itu tahir; memang ia tahir.

Imamat 13 menjelaskan secara rinci peraturan dan pedoman memeriksa kulit apakah tahir atau tidak, dan Imamat 13:9-17 memegang peran penting, mencatat pedoman yang paling penting menentukan apakah kulit tahir atau tidak: keutuhan (completeness).

Banyak orang berpendapat bahwa Imamat 13 yang berhubungan dengan peraturan kusta, tapi bahasa aslinya kata ṣāră’ăt ini merujuk pada penyakit kulit biasa yang umum, bukan apa yang kita anggap sebagai kusta, Imamat 13:2 buat daftar contoh penyakit kulit ini, termasuk bengkak, bintil-bintil, atau panau, karakteristik utamanya adalah menjadi berwarna putih, daging liar (raw flesh), dan mempengaruhi bulu rambut.

Imamat 13:9-17 seolah-olah menetapkan pedoman yang aneh, menyatakan bahwa jika penyakit kulit ini ada dari kepala sampai kaki, sehingga seluruh tubuh menjadi putih, orang ini malahan tidak najis, tetapi tahir. Tapi jika tumbuh daging liar, maka orang ini akan dari tahir berubah menjadi najis, mengapa begitu? Para ahli berpendapat bahwa ini karena konsep keutuhan (completeness). Penyakit kulit membuat kulit itu sendiri tidak utuh, menyebabkan beberapa area menjadi putih dan beberapa area memiliki daging liar. Karena tradisi imamat menganggap keutuhan (completeness) sebagai kriteria tahir, tidak diperbolehkan adanya situasi kekacauan (hilangnya keteraturan). Maka keadaan tidak utuhnya kulit melanggar pedoman tradisi imam tentang tahir, maka tumbuhnya daging liar menjadikan kondisi najis. Sebaliknya, ketika seluruh kulit menjadi putih, orang ini justru mencapai keutuhan (completeness) jenis lain, dari kondisi tidak ada penyakit berubah menjadi kondisi benar-benar berpenyakit secara total seutuhnya. Karena kulit telah seluruhnya menjadi putih, maka ini melambangkan sejenis keutuhan, maka ditetapkan sebagai tahir. Dengan demikian, seseorang apakah tahir atau tidak, sepenuhnya terhubung dengan konsep keutuhan (completeness) (integritas), dan tidak ditentukan berdasarkan kriteria apakah orang tersebut memiliki penyakit atau tidak.

Tahir atau tidaknya kulit tidak ada hubungannya dengan moralitas, ini adalah sejenis ketidakmurnian dalam kriteria ritual (ritual impurity), menyatakan bahwa orang ini tidak sesuai untuk masuk dalam ritual pengorbanan, sehingga orang yang terlibat dalam ritual pengorbanan adalah yang seutuhnya benar-benar tahir. Orang yang utuh kulit melambangkan orang yang dapat berpartisipasi dalam ritual pengorbanan, melambangkan orang yang bertemu Allah, tahir kulitnya mengingatkan orang ini bahwa ia sepenuhnya dan seutuhnya milik Allah, dan hidupnya tidak boleh ada kenajisan, dan karena tahir atau tidaknya kulit tidak dapat dikendalikan oleh diri manusia sendiri, maka manusia akan memahami bahwa memiliki kulit yang tahir dan bisa memasuki ibadah ritual korban, itu sepenuhnya merupakan anugerah dari Allah, sepenuhnya hanya karena anugerah saja, sama seperti kita memiliki napas kehidupan untuk masuk dalam ibadah tersebut sepenuhnya hanya karena anugerah Allah saja.

Renungkan:
Minta pertolongan Tuhan agar kita memiliki hati bersyukur, hanya karena anugerah keselamatan Kristus saja yang membuat kita tahir bersih di mata Allah. Ini juga berarti kita harus bersyukur karena bisa dekat dengan Allah, bukan karena itu adalah hak yang memang sepatutnya milik kita.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 12:1-8

Perempuan bersalin harus ditahirkan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 12:1-8 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa, demikian: 2 Katakanlah kepada orang Israel:
Apabila seorang perempuan bersalin dan melahirkan anak laki-laki, maka najislah ia selama tujuh hari. Sama seperti pada hari-hari ia bercemar kain ia najis.
3 Dan pada hari yang kedelapan haruslah dikerat daging kulit khatan anak itu.
4 Selanjutnya tiga puluh tiga hari lamanya perempuan itu harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas, tidak boleh ia kena kepada sesuatu apapun yang kudus dan tidak boleh ia masuk ke tempat kudus, sampai sudah genap hari-hari pentahirannya.
5 Tetapi jikalau ia melahirkan anak perempuan, maka najislah ia selama dua minggu, sama seperti pada waktu ia bercemar kain; selanjutnya enam puluh enam hari lamanya ia harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas.
6 Bila sudah genap hari-hari pentahirannya, maka untuk anak laki-laki atau anak perempuan haruslah dibawanya seekor domba berumur setahun sebagai korban bakaran dan seekor anak burung merpati atau burung tekukur sebagai korban penghapus dosa ke pintu Kemah Pertemuan, dengan menyerahkannya kepada imam.
7 Imam itu harus mempersembahkannya ke hadapan TUHAN dan mengadakan pendamaian bagi perempuan itu. Demikianlah perempuan itu ditahirkan dari leleran darahnya. Itulah hukum tentang perempuan yang melahirkan anak laki-laki atau anak perempuan.
8 Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk menyediakan seekor kambing atau domba, maka haruslah ia mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, yang seekor sebagai korban bakaran dan yang seekor lagi sebagai korban penghapus dosa, dan imam itu harus mengadakan pendamaian bagi perempuan itu, maka tahirlah ia.

Peraturan tentang perempuan bersalin harus ditahirkan terutama ada dua bagian, bagian pertama adalah memakai waktu untuk penahiran (Im. 12:1-5), bagian kedua adalah korban penghapus dosa untuk penahiran (Im. 12:6-8). Bagian pertama, jika melahirkan anak laki-laki maka akan najislah ia selama tujuh hari, dan jika melahirkan anak perempuan akan najislah ia selama dua kali tujuh hari, dan lamanya ia harus tinggal di rumah menantikan penahiran dari darah nifas selama 33 hari jika melahirkan anak laki-laki dan 66 jika melahirkan anak perempuan. Ini memberi orang seperti adanya ketidaksetaraan antara anak laki-laki dan anak perempuan, tetapi ketika kita dengan cermat mempelajarinya, kita akan mengerti bahwa ini terkait darah dan hidup.

Pada dasarnya darah melambangkan kehidupan (Im. 17:11), wanita bersalin banyak mengeluarkan darah, kehidupan datang bersama darah, di sini darah dan kehidupan terhubung jadi satu, membuat orang berpikir awal dimulainya kehidupan, bahkan darah itu sendiri juga membuat orang berpikir akhir hidup, kelahiran kehidupan baru ini bagi tradisi imamat adalah perubahan pada garis batas, keadaan tidak ada darah dan tidak ada hidup berubah menjadi ada darah dan ada kehidupan, membawa simbol melintasi garis batas, oleh karena melintasi garis batas untuk sementara bercampur aduk antara hidup (kelahiran bayi) dengan kematian (keluar darah), situasi campur baur ini membuat wanita bersalin menjadi keadaan najis. Dan jika yang dilahirkan adalah bayi perempuan, setelah anak perempuan ini tumbuh dewasa di masa depan akan menghadapi pengalaman yang sama melintasi garis batas, menjadi najis ganda, maka perlu dua kali tujuh hari untuk mengakhiri keadaan najis. Dengan demikian, peraturan imamat ini bukan merupakan ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan, tetapi pandangan atas hidup dan mati. Bersamaan merayakan kelahiran hidup baru, pada saat yang sama juga mengingat melintasi garis batas antara kehidupan dan kematian, dengan demikian kembali ke tatanan yang diciptakan oleh Allah.

Di bagian kedua, wanita bersalin perlu mempersembahkan korban penghapus dosa. Tujuan utama korban penghapus dosa bukan untuk berurusan dengan dosa moral, sebenarnya, wanita melahirkan anak yang tidak melibatkan soal kekotoran moral, tetapi kotor secara ritual (ritual impurity), tidak ada hubungan dengan moralitas individu. Im. 12:7 mencatat bahwa korban penghapus dosa ini adalah untuk mengadakan pendamaian, itu adalah untuk mengadakan penahiran baginya, dan hasil penahiran adalah ia ditahirkan dari leleran darahnya, leleran darah melambangkan sumber kehidupan, sumber seorang wanita melahirkan, kata ini juga muncul Im. 20:18 Bila seorang laki-laki tidur dengan seorang perempuan yang bercemar kain, jadi ia menyingkapkan aurat perempuan itu dan membuka tutup lelerannya sedang perempuan itupun membiarkan tutup leleran darahnya itu disingkapkan, keduanya harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya. Tampaknya tradisi imamat sangat serius mengenai leleran darah wanita dan karena leleran darah terkait tentang hidup dan mati, memasuki simbol melintasi garis batas, hanya korban penghapus dosa dapat menahirkan leleran darah, mengembalikan hidup yang ada keteraturan dan tahir.

Renungkan:
Pada saat bersamaan merayakan kelahiran kehidupan baru, kita juga harus memikirkan hidup dan mati, dalam keadaan melintasi garis batas, sepertinya membuat hidup kita kehilangan keteraturan. Bagi pasangan yang baru saja menjadi orang tua, keluarga juga memasuki keadaan hilangnya keteraturan. Tetapi imam harus menemani setiap ibu mengalami hidup dan mati, keadaan kehilangan keteraturan dibawa kembali kepada kehidupan yang teratur melalui persembahan korban, imam menyaksikan hidup dan kematian, pada titik penting dalam hidup, berkata: tahirlah ia! seperti malaikat mengantarkan ucapan berkat, dia dengan tegas menyatakan: Tidak peduli berapa banyak kekacauan dalam hidup, dengan teguh mengumumkan walau seberapa banyak kekacauan hilangnya keteraturan dalam hidup, pada akhirnya pasti akan ada keteraturan. Bersediakah Anda percaya?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.