Tag Archives: kusta

Bilangan 5:5-10

「Tahir dan tebusan salah」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 5:5-10 [ITB])
5 TUHAN berfirman kepada Musa: 6 Berbicaralah kepada orang Israel: Apabila seseorang, laki-laki atau perempuan, melakukan sesuatu dosa terhadap sesamanya manusia, dan oleh karena itu berubah setia terhadap TUHAN, sehingga orang itu menjadi bersalah, 7 maka haruslah ia mengakui dosa yang telah dilakukannya itu; kemudian membayar tebusan sepenuhnya dengan menambah seperlima, lalu menyerahkannya kepada orang terhadap siapa ia bersalah. 8 Tetapi apabila orang itu tidak ada kaumnya, kepada siapa dapat dibayar tebusan salah itu, maka tebusan salah yang harus dibayar itu menjadi kepunyaan TUHAN, dan adalah bagian imam, belum terhitung domba jantan pendamaian yang dipakai untuk mengadakan pendamaian bagi orang itu.
9 Dari persembahan-persembahan kudus yang disampaikan orang Israel kepada imam, persembahan khususnya adalah bagian imam. 10 Sedang persembahan-persembahan kudus yang dibawa oleh seseorang adalah bagian orang itu sendiri; hanya apa yang diserahkannya kepada seorang imam adalah bagian imam itu.

Bilangan pasal 5 (klik untuk membaca). Sebelum Israel pergi ke Tanah Perjanjian, ada beberapa hal yang harus diatur, sebelum mereka melakukan kesalahan yang dapat menyebabkan kerusakan serius. Bilangan pasal lima membahas masalah-masalah ini, dan secara khusus menggambarkan tiga hal: 1) menyingkirkan kenajisan tubuh, 2) penghapusan dosa terhadap sesama, dan 3) menghilangkan perlakuan tidak setia terhadap pernikahan.

1) Menyingkirkan kecemaran tubuh (ayat 1-4): pertama-tama, ada tiga jenis orang yang tidak diperbolehkan tinggal di perkemahan Israel: (1) kusta, (2) orang yang berpenyakit mengeluarkan lelehan, dan (3) orang yang najis oleh mayat.

Alkitab berbicara tentang kusta (ṣāra‘at), bukan penyakit Hansen leprosy seperti yang disebut secara kedokteran masa kini, tetapi penyakit kulit serius yang dapat menyebabkan infeksi. Tetapi makna simbolis sangat jelas, selama kulit tubuh tidak lengkap, maka secara ritual dianggap tidak bersih, harus diisolasi di luar perkemahan, ​​seperti Miryam.

Hal yang sama berlaku untuk yang berpenyakit mengeluarkan lelehan, jika organ seksual seseorang mengeluarkan lelehan dalam waktu jangka panjang (seperti menstruasi yang tidak henti), lelehan tubuh semacam itu membuatnya najis secara ritual. Dan kenajisan terbesar adalah menyentuh mayat, karena kematian berasal dari dosa, dan menyentuh mayat mewakili dicemari oleh dosa. Inilah sebabnya mengapa para imam maupun kaum Nazar tidak diizinkan menyentuh mayat.

Alasan utama untuk kenajisan yang disebutkan di atas adalah bahwa TUHAN (Yahweh) hidup di antara umat Israel. Ia adalah Tuhan yang kudus dan tidak akan membiarkan kecemaran ada di perkemahan Israel.

2) Penghapusan dosa terhadap sesama (ayat 5-10): siapa pun, baik laki-laki atau perempuan, yang menimbulkan kerugian terhadap orang lain (termasuk pencurian), menyebabkan kerugian finansial kepada orang lain, tidak hanya harus membayarkan kompensasi secara penuh, tetapi juga harus ditambahkan 20%. Ini adalah kutipan dari Im. 5:14-19 tentang aturan penebusan kesalahan (lihat renungan Imamat 5:14-19), yang menjelaskan bagaimana membayarkan kompensasi secara lebih rinci. Jika orang yang dirugikan telah meninggal, maka kompensasi harus dibayarkan kepada kerabatnya. Jika dia tidak lagi memiliki kerabat, maka diterima oleh imam mewakili nama TUHAN. Selain itu, korban penghapus dosa harus ditawarkan sebagai pendamaian bagi orang tersebut, untuk menunjukkan bahwa ia harus terlebih dahulu menghilangkan hutang terhadap orang tersebut dan memperbaiki hubungan yang hancur dengan orang itu sebelum ia dapat menyembah Allah yang sejati dan benar. Ini sebenarnya adalah gerbang rahmat yang telah Allah buka bagi orang berdosa.

Renungkan:

Yesus membawa orde baru. Dia menyembuhkan penderita kusta, menyembuhkan wanita yang bocor darah, dan membangkitkan orang dari kematian. Dia juga mengatakan bahwa jika seseorang membawa persembahan kepada Allah dan teringat akan kesalahan terhadap orang lain, maka selagi di tengah jalan (mewakili masih ada kesempatan) segeralah berdamai dengan dia, barulah mempersembahkan persembahan di atas mezbah (Mat. 5:25). Yesus datang untuk membangun kehidupan baru yang bersih dan masyarakat baru yang harmonis.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Imamat 13:9-17

Kulit yang tahir

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 13:9-17 [ITB])
9 Apabila seseorang kena kusta, ia harus dibawa kepada imam.
10 Kalau menurut pemeriksaan imam pada kulitnya ada bengkak yang putih, yang mengubah bulunya menjadi putih, dan ada daging liar timbul pada bengkak itu, 11 maka kusta idapanlah yang ada pada kulitnya.
Imam harus menyatakan dia najis dengan tidak usah mengurung dia, karena orang itu memang sudah najis.
12 Jikalau kusta itu timbul di mana-mana pada kulit, sehingga menutupi seluruh kulit orang sakit itu, dari kepala sampai kakinya, seberapa dapat dilihat oleh imam, 13 dan kalau menurut pemeriksaannya kusta itu menutupi seluruh tubuh orang itu, maka ia harus dinyatakan tahir oleh imam; ia seluruhnya telah berubah menjadi putih, jadi ia tahir.
14 Tetapi pada waktu ada tampak daging liar padanya, najislah ia.
15 Kalau daging liar itu dilihat oleh imam, ia harus menyatakan orang itu najis, karena daging liar itu najis, dan itu penyakit kusta.
16 Atau apabila daging liar itu susut dan berubah menjadi putih, haruslah orang itu datang kepada imam.
17 Kalau menurut pemeriksaannya penyakit itu telah berubah menjadi putih, haruslah imam menyatakan orang itu tahir; memang ia tahir.

Imamat 13 menjelaskan secara rinci peraturan dan pedoman memeriksa kulit apakah tahir atau tidak, dan Imamat 13:9-17 memegang peran penting, mencatat pedoman yang paling penting menentukan apakah kulit tahir atau tidak: keutuhan (completeness).

Banyak orang berpendapat bahwa Imamat 13 yang berhubungan dengan peraturan kusta, tapi bahasa aslinya kata ṣāră’ăt ini merujuk pada penyakit kulit biasa yang umum, bukan apa yang kita anggap sebagai kusta, Imamat 13:2 buat daftar contoh penyakit kulit ini, termasuk bengkak, bintil-bintil, atau panau, karakteristik utamanya adalah menjadi berwarna putih, daging liar (raw flesh), dan mempengaruhi bulu rambut.

Imamat 13:9-17 seolah-olah menetapkan pedoman yang aneh, menyatakan bahwa jika penyakit kulit ini ada dari kepala sampai kaki, sehingga seluruh tubuh menjadi putih, orang ini malahan tidak najis, tetapi tahir. Tapi jika tumbuh daging liar, maka orang ini akan dari tahir berubah menjadi najis, mengapa begitu? Para ahli berpendapat bahwa ini karena konsep keutuhan (completeness). Penyakit kulit membuat kulit itu sendiri tidak utuh, menyebabkan beberapa area menjadi putih dan beberapa area memiliki daging liar. Karena tradisi imamat menganggap keutuhan (completeness) sebagai kriteria tahir, tidak diperbolehkan adanya situasi kekacauan (hilangnya keteraturan). Maka keadaan tidak utuhnya kulit melanggar pedoman tradisi imam tentang tahir, maka tumbuhnya daging liar menjadikan kondisi najis. Sebaliknya, ketika seluruh kulit menjadi putih, orang ini justru mencapai keutuhan (completeness) jenis lain, dari kondisi tidak ada penyakit berubah menjadi kondisi benar-benar berpenyakit secara total seutuhnya. Karena kulit telah seluruhnya menjadi putih, maka ini melambangkan sejenis keutuhan, maka ditetapkan sebagai tahir. Dengan demikian, seseorang apakah tahir atau tidak, sepenuhnya terhubung dengan konsep keutuhan (completeness) (integritas), dan tidak ditentukan berdasarkan kriteria apakah orang tersebut memiliki penyakit atau tidak.

Tahir atau tidaknya kulit tidak ada hubungannya dengan moralitas, ini adalah sejenis ketidakmurnian dalam kriteria ritual (ritual impurity), menyatakan bahwa orang ini tidak sesuai untuk masuk dalam ritual pengorbanan, sehingga orang yang terlibat dalam ritual pengorbanan adalah yang seutuhnya benar-benar tahir. Orang yang utuh kulit melambangkan orang yang dapat berpartisipasi dalam ritual pengorbanan, melambangkan orang yang bertemu Allah, tahir kulitnya mengingatkan orang ini bahwa ia sepenuhnya dan seutuhnya milik Allah, dan hidupnya tidak boleh ada kenajisan, dan karena tahir atau tidaknya kulit tidak dapat dikendalikan oleh diri manusia sendiri, maka manusia akan memahami bahwa memiliki kulit yang tahir dan bisa memasuki ibadah ritual korban, itu sepenuhnya merupakan anugerah dari Allah, sepenuhnya hanya karena anugerah saja, sama seperti kita memiliki napas kehidupan untuk masuk dalam ibadah tersebut sepenuhnya hanya karena anugerah Allah saja.

Renungkan:
Minta pertolongan Tuhan agar kita memiliki hati bersyukur, hanya karena anugerah keselamatan Kristus saja yang membuat kita tahir bersih di mata Allah. Ini juga berarti kita harus bersyukur karena bisa dekat dengan Allah, bukan karena itu adalah hak yang memang sepatutnya milik kita.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.