Tag Archives: Peraturan Kekudusan / Holiness Code

Bilangan 6:1-2

「Tinggalkan Hal-hal Dunia, Menjadi Milik Tuhan」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 6:1-2 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa: 2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila seseorang, laki-laki atau perempuan, mengucapkan nazar khusus, yakni nazar orang nazir, untuk mengkhususkan dirinya bagi TUHAN

Bilangan pasal 6 (klik untuk membaca). Ada orang yang bersedia menjalani kehidupan yang mengkhususkan dirinya bagi TUHAN di dalam masyarakat sekuler, dan mereka berbeda dari orang banyak pada umumnya. Mereka dikenang oleh Allah dan manusia, bukan karena pencapaian dan perbuatan mereka yang hebat, tetapi karena sikap mereka terhadap kehidupan dan kesaksian hidup mereka. Sebenarnya, karakter spiritual mereka yang luar biasa dan kaya berkelimpahan adalah pelayanan yang paling kuat. Orang-orang semacam itu dalam Perjanjian Lama secara khusus disebut orang nazir.

Kata orang nazir (nezer) berasal dari kata dipisahkan (nāzar) adalah sebuah nazar yang terdapat dalam Alkitab yang disediakan untuk orang secara sukarela menjalani kehidupan suci yang setara dengan kehidupan seorang imam. Bilangan pasal 6 mencatat tentang orang-orang nazir : (1) Boleh pria maupun wanita: mungkin termasuk para pelayan perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan (Kel. 38:8). Kontras dibandingkan dengan imam-imam yang dibatasi hanya untuk keturunan laki-laki Harun. (2) Boleh hanya untuk suatu tenggat waktu atau seumur hidup untuk Tuhan: namun, untuk menghindari ketidakseriusan, tradisi Yahudi mensyaratkan bahwa nazar kaum nazir setidaknya satu bulan. (3) Meninggalkan hal-hal dunia: dalam kehidupan dan penampilan, mereka berbeda dari orang pada umum. (4) Menjadi milik Tuhan: yang terlebih penting adalah menjalani kehidupan yang mengikuti kehendak Tuhan, dan hidup hanya untuk Tuhan. Ini adalah nazar hidup, bukan nazar pekerjaan. Tidak peduli apa yang dilakukan, tetapi peduli apa yang tidak dilakukan.

Ada tiga tidak dari nazar kaum nazir:

1) Larangan anggur: merupakan kesediaan untuk menjalani kehidupan sederhana. Anggur melambangkan sukacita yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tetapi orang-orang nazir tidak menginginkan sukacita di dalam dosa atau kesenangan dunia, tetapi hanya senang akan Allah.

2) Larangan cukur rambut: artinya kepatuhan mutlak kepada Tuhan. Orang-orang nazir harus seperti imam besar, dengan tanda yang mudah terlihat di kepala mereka. Imam besar memiliki patam suatu lempengan emas semacam mahkota di dahi dan tertulis kata-kata Kudus (dikhususkan) bagi TUHAN. Orang nazir harus membiarkan rambut mereka tumbuh sepanjang-panjangnya, tidak peduli sebulan atau tiga atau tiga puluh tahun, tidak peduli nyaman atau tidak, apalagi layak atau tidak secara sopan santun. Kepala mewakili pendapat pribadi, dan seseorang yang bahkan tidak memiliki pendapat tentang rambutnya sendiri, mewakili taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Mencintai apa yang Tuhan cintai, membenci apa yang Tuhan benci, dan patuh absolut pada Tuhan. Ini adalah tanda paling menarik mata dari orang-orang nazir, berjalan sampai di mana, bersaksi sampai di sana.

3) Larangan menyentuh mayat: melambangkan kehidupan kudus, karena kematian berasal dari dosa. Dia harus mengikuti standar imam besar, dan dia tidak boleh menyentuh orang mati kapan saja, bahkan ketika kerabat dekatnya sendiri mati (Bil. 6:7; Im. 21:11). Dosa tidak diperbolehkan mencemari kehidupannya

Renungkan:

Terlebih dahulu ada keberadaan (being) lalu melakukan (doing), apakah Anda ingin menjalani kehidupan yang dikhususkan untuk Tuhan?


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Imamat 19:1-2

Kuduslah kamu

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 19:1-2 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 「Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, Allah, Allahmu, kudus.

Imamat 19:2 adalah pusat pemikiran dari seluruh Peraturan Kekudusan / Holiness Code (Imamat 17-27). Terjemahan literal adalah Kamu harus berbicara kepada seluruh jemaat umat Israel, kamu juga harus mengatakan kepada mereka: kamu sekalian harus menjadi yang kudus, karena Aku TUHAN, Allah kamu sekalian, adalah Kudus.

Pertama-tama, kitab suci menggunakan kata-kata segenap jemaah Israel, mereka dan Allah kamu sekalian untuk menunjukkan bahwa perintah ini adalah perintah kolektif (perintah yang bersifat komunitas). Pihak yang dituntut untuk kudus bukan hanya para imam atau orang Lewi, pelayan-pelayan tugas suci ini memang harus kudus, tetapi jemaat tidak boleh membenarkan kenajisan mereka sendiri karena kekudusan orang-orang tersebut, seseorang pernah berkata Jangan gunakan kriteria hamba Tuhan untuk menuntut saya! Tetapi pernyataan ini tidak dapat lulus uji, karena tuntutan kekudusan adalah untuk semua umat Allah juga ditujukan kepada Anda hari ini. Lebih jauh, ayat Alkitab menyatakan bahwa TUHAN adalah Allahmu, Dia bukan Allah milik golongan orang tertentu, tetapi Allah dari seluruh komunitas umat, TUHAN memiliki hubungan perjanjian yang tidak dapat dipatahkan dengan umat Israel secara keseluruhan, dan identitas orang Israel terikat pada-Nya. Oleh karena itu, tanpa Allah, tidak akan ada orang Israel, alasannya sederhana seperti itu. Oleh karena itu, berdasarkan hubungan perjanjian ini, kekudusan adalah tuntutan Allah kepada seluruh komunitas umat.

Kedua, inti dari keseluruhan adalah Kuduslah kamu. Perintah ini lebih abstrak, karena dalam hal tuntutan kekudusan sering kali orang hanya teringat akan kekudusan moral, sekadar memenuhi tuntutan kekudusan moral dalam perilaku seksual (Imamat 18 dan 20) dan keadilan sosial (Im. 19). Perilaku moral ini penting, tetapi itu bukan definisi kekudusan sejati. Untuk memahami alasan dan definisi di balik tuntutan kekudusan, kita harus melihat alasan yang diberikan oleh Allah: sebab Aku, Allah, Allahmu, kudus Di sini tidak dikatakan bahwa kekudusan akan membawa manfaat apa pun bagi orang-orang, juga tidak menganjurkan mempertahankan nilai inti tertentu, dan tidak mengejar kekudusan demi menjaga kelangsungan diri. Alasan umat Allah harus menjadi kudus adalah karena Allah yang mereka percaya adalah kudus. Paling tidak kita harus memperhatikan dua hal: (1) Pengertian kekudusan itu sendiri berkaitan dengan esensi Allah. Para ahli berpendapat bahwa pengertian kekudusan adalah secara utuh memasuki watak dan ranah ilahi, dan oleh karena itu tidak dapat didefinisikan dengan apa pun di dunia, itu dapat didefinisikan oleh esensi Allah; (2) Ketika orang Israel menjadi kudus, itu berarti mereka berbagi watak Allah. Para ahli menyebut situasi ini meneladani Allah (imitatio Dei), yaitu ketika orang Israel merealisasikan mempraktikkan berbagai aturan moral dan menjaga kekudusan dalam gaya hidup mereka, mereka dapat berbagi watak Allah dan membuat dunia melihat Allah di belakang mereka.

Renungkan:
Hari ini Allah memerintahkan umat-Nya untuk menjadi kudus, ini bukan usul pendapat tentang hidup, tetapi perintah yang harus dipatuhi. Perintah itu sendiri menuntut umat Allah untuk berbagi watak Allah, karena Allah dan umat itu sendiri memiliki hubungan perjanjian. Ketika umat Allah itu kudus, mereka bisa disebut bangsa yang kudus. Apakah hidup Anda juga memiliki watak Allah? Dapatkah orang lain menemukan cahaya kemuliaan ilahi dalam diri Anda? Mulai hari ini, mari kita meneladani kekudusan Allah dan agar orang melihat Allah yang tidak terlihat di dalam diri kita.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 18:1-5 (2)

Jangan meniru perilaku mereka

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 18:1-5 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 「Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Akulah Allah, Allahmu.
3 Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu;
janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka.
4 Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu;
Akulah Allah, Allahmu.
5 Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya;
Akulah Allah.

Sebagaimana dinyatakan dalam renungan kemarin, Imamat 18:1-5 menjelaskan bahwa orang Israel harus mematuhi ketetapan aturan dalam pasal 18 – 20 adalah karena dua alasan: (1) Karena Akulah TUHAN, Allahmu (Im. 18:2, 5); (2) Karena harus ada perbedaan dari bangsa-bangsa lain (Im. 18:3-5). Hari ini, kita akan merenungkan alasan kedua.

Imamat 18:3 menunjukkan bahwa ada dua jenis orang yang perilakunya tidak boleh diikuti oleh orang Israel, yang pertama adalah orang Mesir, yang kedua adalah orang Kanaan, yang pertama adalah bangsa di awal perjalanan Keluaran, dan yang terakhir adalah bangsa di akhir perjalanan Keluaran. Baik itu awal atau akhir perjalanan, baik itu Mesir tempat mereka keluar atau Kanaan tempat yang mereka masuki, orang Israel tidak boleh meniru mengikuti perilaku orang-orang di sana.

Orang Israel tidak boleh meniru mengikuti perilaku orang Mesir, tuntutan ini menunjukkan bahwa orang Israel tidak boleh lagi merindukan cara mereka hidup di Mesir. Di jalan belantara, orang Israel akan menghadapi kesulitan. Kesulitan-kesulitan ini akan dengan mudah membuat mereka mengingat apa yang dahulu mereka hidupi dan merasa itu lebih indah, melihat ke belakang seperti ini menyebabkan mereka bersungut-sungut kepada Allah dan melakukan dosa yang serius terhadap Allah. Oleh karena itu, apa pun kesulitan yang dihadapi orang Israel di masa depan, mereka tidak boleh melihat ke belakang pada masa lalu, dan selalu percaya bahwa jalan di depan adalah TUHAN persiapkan untuk mereka, dan bertekad untuk melepaskan cara hidup dalam perbudakan di Mesir dan merangkul masa depan yang telah TUHAN siapkan untuk mereka.

Orang Israel tidak boleh meniru orang Kanaan. Orang-orang Israel akan mewarisi tanah perjanjian. Penduduk asli tanah ini memiliki kebiasaan jahat, semua kebiasaan jahat ini akan mencari kesempatan untuk mengasimilasi orang-orang Israel dan mencegah mereka menjalani cara hidup yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang perjanjian. Intensitas kekuatan asimilasi ini jauh lebih kuat daripada kerinduan dan melihat kembali kehidupan Mesir, karena orang Israel mau tidak mau hidup dengan penduduk setempat dan berada di bawah berbagai tekanan dari budaya dan cara hidup setempat, sehingga mereka tidak bisa menghidupi cara kehidupan kudus di antara orang-orang itu. Oleh karena itu, Imamat 18:3 meminta umat Israel untuk tidak meniru perilaku penduduk setempat agar membedakan mereka dari orang-orang itu, sehingga pemisahan gaya hidup mereka akan menjadi kesaksian penduduk setempat, sehingga mereka dapat memahami seperti apa gaya hidup umat Allah.

Apa sebenarnya perilaku orang Mesir dan Kanaan? Mungkin kita dapat menyimpulkan perilaku mereka berdasarkan rincian yang dijelaskan dalam Imamat 18:6-23. Ini termasuk berhubungan seks dengan kerabat sedarah (Im. 18:6-18), berhubungan seks dengan seorang wanita selama menstruasi (Im. 18:19), berhubungan seks dengan istri orang lain (Im. 18:20), dan anak dipersembahkan sebagai korban bakaran (Im. 18:21), perilaku seksual sesama jenis (Im. 18:22) dan perilaku seksual dengan binatang (Im. 18:23). Perilaku-perilaku ini adalah kejahatan berat, dosa besar (Im. 18:17), kekejian (Im. 18:22), dan perbuatan keji (Im. 18:23). Oleh karena itu, orang Israel tidak boleh meniru perilaku tersebut, sehingga mereka dapat dipisahkan dari orang-orang itu dan menjalani kehidupan yang kudus.

Renungkan:
Dunia yang kita tinggali ini penuh dengan kejahatan, hal-hal yang keji, dan hal-hal yang memberontak Allah. Akankah kita sebagai orang Kristen meniru perilaku dunia sehingga kita tidak dapat menghayati menghidupi kualitas-kualitas suci? Apakah Anda berani hidup berbeda dari orang-orang? Ketika Anda menghadapi tekanan kelompok dalam masyarakat, apakah Anda bersedia untuk tetap berpegang pada garis dasar Kekristenan?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 18:1-5

Akulah TUHAN, Allahmu

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 18:1-5 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 「Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Akulah Allah, Allahmu.
3 Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu;
janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka.
4 Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu;
Akulah Allah, Allahmu.
5 Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya;
Akulah Allah.

Imamat pasal 18 dan pasal 20 sangat mirip dalam struktur sastra, kata-kata dan topik, umumnya memandang kedua pasal ini sebagai di bagian akhir menggemakan bagian awal, menekankan pasal 19 yang ada di tengah (struktur chiastik). Ayat kunci dari Peraturan Kekudusan (Holiness Code) adalah Im.19:2, ayat kunci ini tepat berada di pasal 19 dan mendominasi teologi dalam Imamat pasal 17-27. Dalam beberapa hari ke depan, kita akan merenungkan ayat-ayat dari Imamat pasal 18 – pasal 20 satu per satu, yang merupakan, pusat pemikiran dari seluruh Peraturan Kekudusan.

Imamat pasal 18 dan pasal 20 adalah peraturan yang diwajibkan bagi orang Israel. Sebagian besar merupakan peraturan terkait moral perilaku seksual, secara rinci menetapkan pria Israel tidak boleh berhubungan seksual dengan orang-orang yang tersebut, sehingga orang Israel dapat menjadi umat kudus, menyingkirkan segala kenajisan moral. Sebelum peraturan ini mulai dijabarkan, penulis Imamat menulis ayat 18:1-5 yang merupakan ayat yang sangat penting, lima ayat ini menjelaskan mengapa orang Israel harus mematuhi peraturan moral ini karena dua alasan: (1) Karena Akulah TUHAN, Allahmu (Im. 18:2, 5); (2) Karena harus ada perbedaan dari bangsa-bangsa lain (Im. 18:3-5). Hari ini kita akan merenungkan alasan pertama, dan besok kita akan merenungkan alasan kedua.

Imamat 18:2-5 adalah apa yang Allah katakan kepada Musa, dimulai dengan Akulah TUHAN, Allahmu (ayat 2) dan diakhiri dengan Akulah TUHAN (ayat 5). TUHAN memakai awal dan akhir yang saling bergema Akulah TUHAN untuk menjelaskan mengapa orang Israel harus mematuhi peraturan moral tentang perilaku seksual ini bukan karena peraturan ini dapat membantu mereka menghindari nasib buruk, atau karena mereka dapat mempertahankan nilai keluarga, dan bukan karena mereka bisa mendapat manfaat ekonomi, atau stabilitas hubungan, tetapi adalah karena alasan teologis Akulah TUHAN. Sebutan Akulah TUHAN menunjukkan bahwa kedudukan TUHAN di hati orang Israel haruslah menempati posisi paling tinggi, alasan mengapa mereka harus menaati perintah Allah bukan hanya karena perintah itu sendiri baik untuk mereka, tetapi juga karena pemberi perintah aturan ini adalah TUHAN sendiri, Allah mereka, Allah ini membuat perjanjian yang tidak dapat dipisahkan dengan orang Israel, ini adalah perjanjian yang kekal. Hanya karena terdapat hubungan perjanjian antara satu sama lain, maka secara alami merupakan alasan mengapa orang Israel mematuhi peraturan.

Oleh karena itu, ketika mereka mendengar suara Akulah TUHAN, seolah-olah mereka mendengar suara Raja yang mengeluarkan perintah, orang Israel tidak boleh mengurangi perintah ini menjadi sebuah masukan pendapat, karena ini adalah perkataan ilahi yang dikeluarkan oleh Raja agung.

Renungkan:
Apakah Anda menghormati menaati perintah Allah? Apakah perkataan Anda kepada Akulah TUHAN, Allahmu membawa penghormatan tertinggi? Sering kali, kita menutup mata terhadap firman Allah, dan ketika dihadapkan dengan begitu banyak kode moral di masyarakat yang kelihatannya seperti ya namun sebenarnya tidak, kita malah terlalu banyak berkompromi dan mengabaikan tuntutan kekudusan dan perintah kudus. Mulai hari ini dan seterusnya, saya memohon kepada Allah agar membantu saya memiliki hati yang menghormati Allah, mengakui bahwa saya adalah umat pilihan Allah, dan saya tidak dapat memiliki pilihan lain ketika menghadapi perintah Allah, karena saya memiliki perjanjian kekal dengan Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 17-27

Peraturan Kekudusan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 17:1-2 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa: 2 “Berbicaralah kepada Harun dan kepada anak-anaknya dan kepada seluruh orang Israel, dan katakan kepada mereka: Inilah firman yang diperintahkan TUHAN

Sebelumnya kita sudah merenungkan Imamat 1-16, dan kita akan melanjutkan merenungkan Imamat pasal 17 sampai 27. Para peneliti sepakat bahwa Kitab Imamat dapat dibagi menjadi dua bagian besar ini, bagian pertama (Imamat 1-16) dikenal sebagai Taurat Imamat (Priestly Torah), sedangkan bagian kedua (Imamat 17-27) disebut Peraturan Kekudusan (Holiness Code). Kedua bagian ini memiliki pendekatan yang berbeda tentang bagaimana menyatakan kekudusan Allah, tetapi keduanya setuju dengan pentingnya kesucian tahirnya tempat kudus dan hadirat penyertaan Allah. Apa perbedaan teologis antara keduanya?

Taurat Imamat / Priestly Torah (Imamat 1-16) berfokus utama pada kesucian tahirnya tempat kudus, bagian besar peraturan digunakan untuk menghilangkan kenajisan ritual (ritual impurity). Kenajisan ritual tidak ada hubungannya dengan kenajisan moral tetapi hal-hal yang mempengaruhi keadaan tahir dan keutuhan tempat kudus, yakni termasuk mayat, penyakit kulit, lelehan tubuh (seperti air mani dan darah menstruasi), makanan haram, dll, yang mempengaruhi keutuhan ritual, juga mempengaruhi operasi dan keadaan tahir tempat suci, maka membutuhkan air, api, dan darah untuk membuang kontaminasi dan menjaga kesucian tahirnya tempat kudus, sehingga Allah dapat menyertai Israel di dalam Kemah Pertemuan. Tetapi fokus utama dari Peraturan Kekudusan (Holiness Code) (Imamat 17-27) adalah kesucian tahir selain tempat kudus, melalui menghilangkan kenajisan moral (moral impurity) sehingga kesucian tahirnya tempat kudus diperluas ke arah luar. Kecemaran moral ini mencakup perilaku seksual yang tidak etis, ketidakadilan sosial, penindasan orang miskin dan penduduk asing, dll. Ketika orang Israel mematuhi Peraturan Kekudusan, mereka dapat menghidupi kesucian tahirnya tempat kudus, menjalani kehidupan yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain, maka menjadi saksi di antara bangsa-bangsa.

Akulah TUHAN, Allahmu, yang memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain (Im. 20:24) Kalimat emas ini merupakan kalimat penting dari Peraturan Kekudusan (Holiness Code) (tentu juga termasuk ayat 19:2 Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus, yang juga akan kita renungkan nanti). Kalimat ini menunjukkan bahwa orang Israel sebagai umat anugerah, harus hidup berbeda dari bangsa-bangsa, mereka tidak boleh memiliki perilaku seksual yang tidak pantas seperti bangsa-bangsa lain, mereka tidak boleh seperti bangsa-bangsa asing menindas orang miskin. Berada di antara budaya Kanaan di tanah Palestina mereka hendaknya menghidupi menghayati cahaya kemuliaan Allah, harus mematuhi Peraturan Kekudusan. Diperintahkan. Dengan demikian, umat Israel dapat menjadi umat yang suci tahir, dan cara hidup mereka menjadi saksi atas kekudusan Allah.

Renungkan:
Kita hidup di zaman kegelapan, dan berbagai gaya hidup dunia mungkin tidak sesuai dengan kehidupan orang Kristen. Apakah kita memiliki keberanian moral untuk menjalani kehidupan suci tahir yang berbeda dari bangsa-bangsa dunia? Ketika kita melakukan demikian, dunia tidak akan menyukai kita, dunia akan mencoba yang terbaik untuk menyerang kita dan bahkan menganiaya kita. Pada saat ini, orang Kristen memiliki dua pilihan. Apakah kita akan diasimilasi oleh dunia dan tidak dapat dibedakan lagi dari orang-orang dunia, ataukah kita akan menghidupi menghayati kekudusan yang dituntut oleh Allah, berbeda dari orang-orang dunia. Yang pertama mudah dan yang kedua sulit, tetapi yang kedua adalah misi Peraturan Kekudusan, yaitu agar orang dapat melihat cahaya kekudusan Allah dalam hidup kita Apakah Anda bersedia?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.