Tag Archives: kerub

Yehezkiel 28:11-15

Hati mula-mula untuk bertingkah laku tak bercela
Oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yeh. 28:11-15 [ITB])
11 Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 12 Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. 13 Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. 14 Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya.
15 Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu.

Yehezkiel 28:11-19 adalah elegi yang dibuat TUHAN untuk raja Tirus. Ini dapat dibagi menjadi ayat 11-14 dan ayat 15-19. Bagian pertama (ayat 11-14) mengacu pada niat hati mula-mula bertingkah laku tidak bercela dari raja Tirus ketika dia diciptakan, menggunakan banyak metafora yang berbeda untuk mengilustrasikannya. Bagian kedua (ayat 15-19) menyebutkan ketidakadilan dan kejahatan dalam perdagangannya, akhirnya mendatangkan penghakiman Allah dan kehancuran kekalnya.

Pertama-tama, ayat 12 (KJV You seal up the sum, full of wisdom, and perfect in beauty) menyebutkan bahwa raja Tirus pernah menjadi gambar dari kesempurnaan, dalam bahasa teks aslinya meterai keteladanan, pada zaman kuno, meterai (seal) digunakan untuk memberikan jaminan (Kej. 38:18), perhiasan (Kel. 28:11, 21, 36), menyegel surat (1 Raj. 21:8) dan menyegel dokumen hukum (Yer. 32:11-14, Neh. 9:38,10:1), jadi kata ini melambangkan otoritas dan legitimasi. Ketika raja Tirus digambarkan sebagai meterai, itu berarti perilakunya benar-benar lurus dan dapat menjadi keteladanan yang berwibawa. Lebih lanjut, ayat 13 menjelaskan bahwa raja Tirus memakai berbagai permata di Taman Eden, ini mungkin merujuk pada pakaian istana yang dikenakan oleh raja (pakaian istana yang memakai segala macam permata), dan juga mengingatkan orang akan penutup dada imam besar, itu menunjukkan bahwa kebangsawanan raja Tirus bahkan dapat dibandingkan dengan imam besar. Terakhir, ayat 14 (KJV You are the anointed cherub that covers …, ITL Engkaulah seorang kerub yang berkembang sayapnya dan yang menaungi …) menjelaskan bahwa raja Tirus adalah kerub yang diurapi, kemunculan kerub terkait dengan taman Eden yang disebutkan ayat sebelumnya. Kita dapat memahami dari Kitab Kejadian bahwa kerub bertanggung jawab untuk mempertahankan jalan menuju pohon kehidupan di Taman Eden, lalu, raja Tirus bukan hanya kerub biasa, ia juga kerub yang diurapi, sama seperti imam yang diurapi (hanya imam besar yang diurapi), jadi dia lebih tinggi daripada kerub biasa, jadi dia dapat melakukan berjalan-jalan di gunung kudus Allah, di antara batu-batu permata yang bercahaya-cahaya.

Ayat 15 merangkum situasi asli raja Tirus ketika diciptakan sebagai tak bercela di dalam tingkah laku, baik dalam aspek moralitas, status, dan posisinya, ia dicintai dan ditinggikan oleh Allah. Tinggi aslinya bukanlah jenis tinggi yang mengklaim diri sebagai Allah, tetapi ketika Allah menciptakan dia ditugaskan untuk bertanggung jawab atas posisi penting di tempat kudus dan di Taman Eden. Ketinggiannya berasal dari ketetapan dan anugerah Allah, tetapi juga dari integritas dan keberadaan tingkah lakunya menjadi teladan bagi orang lain. Oleh karena itu, dari hakikat asali raja Tirus ketika diciptakan, kita dapat memahami bahwa bukan uang, perdagangan, status, dan banyak harta yang benar-benar membuat orang tinggi, tetapi kualitas hidup kesalehan dan rahmat Allah. Pada saat yang sama, membuat kita memahami agar kita kembali kepada hakikat asali kita diciptakan, melihat di mana Allah menempatkan kita, itu adalah yang tinggi dalam hidup kita. Dengan demikian ini, ditinggikan yang sesuai dengan kehendak Allah, tetapi ditinggikan oleh diri sendiri adalah mencari masalah.

Renungkan:
Jika seseorang dapat menghidupi kehendak Allah saat menciptakan, dan kita memahami bahwa diri kita tidak lain adalah ciptaan, maka ia adalah benar-benar tinggi. Tetapi jika kita meninggikan diri dan memperlakukan diri kita sebagai allah, maka kita semua akan direndahkan.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 21-28 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasikan pada bulan Januari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Kejadian 3:20-24

「Adam dan Hawa diusir keluar Taman Eden」

Oleh Dr. S.W. Patrick Tsang
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kej. 3:20-24 [ITB])
20 Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.
21 Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.
22 Berfirmanlah TUHAN Allah: Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya. 23 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. 24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Kejadian 3 mencatat penghakiman Allah atas dosa dan pernyataan keputusan. Perikop Kitab Suci yang kita baca hari ini, Kejadian 3:20-24, mencatat Adam dan Hawa nenek moyang manusia diusir dari Taman Eden.

Kejadian 3:20-21; ayat 20 adalah pertama kalinya seorang wanita disebut Hawa (sebelumnya disebut wanita 1:27; penolong 2:18), Adam menamai istrinya Hawa karena dialah yang menjadi ibu semua yang hidup artinya ibu dari pemberi kehidupan. Saat itu, Hawa masih belum memiliki anak, jadi perbuatan Adam merupakan respons iman atas janji Allah akan mempersiapkan Sang Juruselamat.

Karena iman yang diungkapkan oleh Adam dalam menamai istrinya, TUHAN Allah Pencipta menyelesaikan masalah ketelanjangan dengan membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk Adam dan untuk istrinya itu ayat 21, karena manusia setelah berbuat dosa membutuhkan pakaian untuk menutupi. Akibat pertama dari dosa atas manusia adalah membuka mata hati manusia membuat Adam dan Hawa melihat bahwa mereka telanjang. Tanggapan mereka adalah menggunakan daun ara untuk membuat pakaian untuk diri mereka sendiri, berharap untuk menutupi rasa malu mereka, tetapi apa yang dibuat orang tidak cukup untuk menyelesaikan masalah manusia (Efesus 2:8-9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri)

Sejak dimulai nenek moyang manusia, manusia telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi rasa malu dan takut yang disebabkan oleh dosa, misalnya, orang akan menggunakan perbuatan baik atau ritual agama untuk menutupi dosa dan aibnya, tetapi ini juga seperti pakaian yang terbuat dari daun ara. Di mata Allah, itu tidak cukup dan tidak berguna (Roma 2:28-29 Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah), karena ini hanya dapat mengubah penampilan dan perilaku orang, tetapi tidak dapat mengubah hati orang.

Pada akhirnya Allah membunuh seekor binatang dan menggunakan kulitnya untuk membuat pakaian sebagai penutup yang diperlukan manusia tersebut (ayat 21). Agar Adam dan Hawa mendapatkan penutup, seekor hewan harus mati untuk menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh kejahatan manusia. Tindakan membunuh hewan untuk menyelesaikan kejahatan manusia melambangkan kebenaran tentang kematian dan penebusan Kristus memberikan pembenaran. Yesus Kristus mati di kayu salib bukan karena dosa-Nya sendiri, tetapi karena dosa dunia, sehingga semua yang percaya kepada-Nya dapat diampuni dosanya. Seperti yang dikatakan Ibrani 9:22 Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Oleh karena itu, hanya anugerah keselamatan Kristus yang dapat menyelamatkan dan menyelesaikan masalah dosa manusia.

Ada dua keyakinan yang berbeda di dunia saat ini, yang pertama adalah keyakinan yang diciptakan oleh manusia sendiri, ketika seseorang seperti Adam memakai pakaian yang terbuat dari daun pohon ara untuk bertemu Allah, hasilnya tetaplah tidak dapat berkenan. Jenis kedua adalah Domba pengganti sempurna Yesus Kristus yang disiapkan oleh Allah. Manusia berdosa hanya berdasarkan iman menerima keselamatan yang diberikan oleh Yesus Kristus barulah dosa-dosa mereka diampuni dan masuk ke rumah surga.

Kejadian 3:22-24 menceritakan tentang manusia terusir dari Taman Eden, adalah dosa yang menyebabkan manusia terusir dari Taman Eden dan jauh dari Sumber kehidupan. Apa artinya meninggalkan Taman Eden? Itu adalah hidup tanpa Allah! Dosa memisahkan dan mengisolasi kita dari Allah, Allah itu kudus suci tidak ada noda, jadi manusia berdosa harus menjauh dari-Nya. Ketika nenek moyang tidak berdosa tinggal di Taman Eden, mereka bisa mendekati Allah dan menerima kehidupan kekal dari Sumber kehidupan; tetapi ketika mereka diusir dari Taman Eden, manusia harus bekerja sepanjang hari untuk mendapatkan makanan, dan wanita harus mengalami sakit saat melahirkan, pada akhirnya mereka semua menghadapi kematian dan kembali ke debu.

Pohon kehidupan yang disebutkan dalam Kejadian 3:22, seperti namanya, jika seseorang mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya, tetapi bagi nenek moyang yang telah tercemar oleh dosa, buah pohon kehidupan itu bukanlah berkat, tapi kutukan. Karena nenek moyang pertama telah memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dan hidup mereka telah mati dalam dosa dan pelanggaran, maka hidup selamanya berarti hidup selamanya dalam kehidupan yang diperbudak oleh dosa dan selamanya hidup di bawah situasi yang diatur oleh dosa, orang jika menjalani kehidupan yang demikian akan berharap lebih baik mati dari pada hidup. Manusia jatuh dalam dosa harus mengalami kematian dan kebangkitan yang sesungguhnya untuk bebas dari dosa.

Renungkan:
• Ketika orang menghadapi masalah, kita biasanya mencoba yang terbaik untuk menutupi dan menghindarinya, tetapi solusi Allah efektif dan menangani masalah dengan benar untuk selamanya. Apakah Anda bersedia untuk mematuhi metode Allah, yang merupakan ajaran Alkitab, untuk menghadapi kesalahan dan keberhutangan Anda sendiri?

(Tambahan penerjemah: perhatikan istilah “tutup” (menutupi), di bagian Alkitab selanjutnya kelak akan bertemu kata “tutup pendamaian”)


Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 1-11 ditulis oleh Dr. S.W. Patrick Tsang (曾錫華) dipublikasi pada bulan Maret 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 10:9-22

「Meninggalkan Bait Suci」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 10:9-22 [ITB])
9 Aku melihat, sungguh, di samping kerub-kerub itu terdapat empat roda, satu roda di samping seorang kerub, dan roda-roda ini kelihatannya seperti kilauan permata pirus. 10 Kelihatannya keempatnya adalah serupa, seolah-olah roda yang satu di tengah-tengah yang lain. 11 Kalau mereka berjalan mereka dapat menuju keempat jurusan tanpa berbalik kalau berjalan; karena tempat mana yang dituju oleh yang di muka, ke situlah pergi yang lain-lain, tanpa berbalik kalau berjalan. 12 Seluruh badan mereka, punggungnya, tangannya, sayapnya, dan roda-rodanya penuh dengan mata sekelilingnya, ya, roda-roda mereka berempat juga.
13 Aku dengar bahwa roda-rodanya disebut puting beliung. 14 Masing-masing mempunyai empat muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka rajawali.
15 Kerub-kerub itu naik ke atas. Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di tepi sungai Kebar. 16 Kalau kerub-kerub itu berjalan, roda-roda itu juga berjalan di samping mereka;
kalau kerub-kerub itu mengangkat sayapnya untuk terbang dari tanah, roda-roda itu tidak bergerak dari samping mereka.
17 Kalau kerub-kerub itu berhenti, roda-roda itu berhenti,
kalau kerub-kerub itu naik ke atas, roda-roda itu sama-sama naik dengan mereka;
sebab roh makhluk-makhluk hidup itu ialah di dalam roda-roda itu.
18 Lalu kemuliaan TUHAN pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas kerub-kerub. 19 Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka, dan waktu mereka pergi, aku lihat, mereka naik dari tanah dan roda-rodanya bersama-sama dengan mereka.
Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka.
20 Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub. 21 Masing-masing mempunyai empat muka dan bagi masing-masing ada empat sayap dan di bawah sayap mereka ada yang berbentuk tangan manusia. 22 Kelihatannya muka mereka adalah serupa dengan muka yang kulihat di tepi sungai Kebar. Masing-masing berjalan lurus ke mukanya.

Kemuliaan TUHAN akan meninggalkan Bait Suci, dan penghakiman Allah akan segera datang. Namun, paragraf ini memiliki banyak deskripsi tentang kemuliaan TUHAN pergi meninggalkan, melibatkan banyak elemen transenden, dan detail setiap elemen memiliki simbolisme khusus. Ayat 9 memulai paragraf baru dengan Aku melihat, sungguh, menjelaskan secara rinci isi penglihatan, termasuk empat roda kerub (ayat 9-17) dan proses perginya kemuliaan TUHAN meninggalkan (ayat 18-20), dan terakhir makhluk hidup yang dilihat nabi Yehezkiel di Sungai Kebar (ayat 21-22).

Pada dasarnya, keadaan empat roda kerub yang dijelaskan dalam ayat 9-17 sesuai dengan empat roda yang disebutkan dalam penglihatan Yehezkiel di Sungai Kebar (Yeh. 1:15-21), dan satu perbedaan adalah bahwa Yehezkiel di waktu yang pertama tidak tidak tahu bahwa makhluk hidup yang dilihatnya adalah kerub, tetapi di perikop ini (ayat 9-17) dijelaskan bahwa itu adalah kerub. Dikatakan dalam ayat 14 masing-masing mempunyai empat muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka rajawali.Dan dalam penglihatan Yehezkiel yang dijelaskan sebelumnya seperti ini muka mereka kelihatan begini: Keempatnya mempunyai muka manusia di depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di belakang(Yeh. 1:10), tampaknya 10:14 muka kerub menggantikan muka lembu di 1:10, dan menempatkan muka Kerub di awal empat wajah. Karena penglihatan Yehezkiel datang dari utara (Yeh. 1:4), kita dapat membayangkan bahwa di depan (muka manusia) yang dijelaskan dalam ayat 10 adalah selatan, dan di sebelah kanan (muka singa) adalah barat, di sebelah kiri (muka lembu) adalah timur, dandi belakang(muka rajawali) adalah utara, tetapi posisi terakhir Yehezkiel yang disebutkan dalam 10:14 adalah di timur (Yeh. 8:16 ) atau di pintu masuk Bait Suci (Yeh. 9:3), keduanya di timur, maka muka kerub yang disebutkan dalam ayat 10:14 harus di timur, muka manusia di selatan, dan muka singa ada di barat, muka rajawali di utara, sama seperti yang dijelaskan di 1:4, hanya saja muka kerub menggantikan muka lembu yang sama di timur. Bisa jadi muka kerub adalah bayangan yang dilihat dari timur, tetapi jika Yehezkiel melihat dari selatan, muka kerub disebutnya sebagai muka lembu. Namun penekanan pada muka kerub dalam ayat 10:14 dengan jelas menunjukkan bahwa ini adalah takhta Allah, dan gambaran roda menunjukkan mobilitas pergerakan takhta Allah, yang berarti bahwa kemuliaan TUHAN tidak hanya mengikuti takhta kerub pergi meninggalkan, bahkan pergi menyertai bersama orang-orang yang diasingkan.

Ayat 18 menjelaskan kemuliaan TUHAN meninggalkan pintu masuk Bait Suci yang berada di sebelah timur Bait Suci, kerub siap menyambut kemuliaan Allah di pintu masuk (timur) Bait Suci. Ayat 19 menggambarkan kerub melebarkan sayapnya dan bangkit dari tanah, secara resmi bersama dengan kemuliaan Allah. meninggalkan Bait Suci.

Ayat 20 mengembalikan pandangan ke Sungai Kebar. Di awal pasal 8 disebutkan saat Yehezkiel berada di antara para tua-tua Yehuda, ia diangkat oleh roh Allah dibawa dalam penglihatan ilahi ke Yerusalem, dan akhirnya Yehezkiel kembali ke komunitas orang-orang di penawanan, dan memahami bahwa makhluk hidup dilihat di Sungai Kebar adalah kerub, artinya setelah TUHAN meninggalkan Bait Suci, kemuliaan-Nya tetap menyertai orang-orang di penawanan, dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub (ayat 20). Kalimat ini menunjukkan bahwa TUHAN yang duduk di atas takhta kerub dan TUHAN yang meninggalkan Bait Suci adalah Allah yang sama. Sekalipun Yehezkiel setelah ditawan ke pengasingan tidak bisa melayani sebagai imam di Bait Suci seumur hidupnya, namun dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan rekan-rekan para imam yang lain, ia lebih memahami hati dan realitas Allah lebih baik daripada mereka yang tidak pernah ditawan. Ternyata meskipun penawanan telah merampas masa depan Yehezkiel sebagai imam, namun tidak bisa merampas Allah Imanuel, Allah selalu menyertai orang-orang yang terserak dan orang-orang yang menumpang hidup.

Renungkan:
TUHAN meninggalkan Bait Suci karena kejahatan yang dilakukan oleh para pemimpin Yehuda, dan karena hukuman TUHAN semakin dekat, kepergian Allah berarti awal dari hukuman itu. Di tempat suci tanpa Allah, semua pengorbanan dan ibadah yang dilakukan menjadi tidak berarti, walau betapa indah dan hebatnya proses penyembahan itu, tidak ada gunanya. Namun, inilah awal dari pengalaman kelompok pengasingan akan Allah, Allah meninggalkan Bait Suci, tetapi Dia tidak meninggalkan orang-orang di pengasingan ini. Mobilitas pergerakan roda kerub menunjukkan bahwa Allah beserta orang-orang di diaspora dan orang-orang yang menumpang hidup. Ternyata meskipun orang berdosa itu ditawan, kehadiran Allah tidak berubah, ironisnya tidak ada Allah di Bait Suci yang indah itu, sedangkan kelompok yang terasing dan terlantar bisa merasakan Allah secara mendalam.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 1- 11 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Januari 202 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 16:8-19

Kambing jantan yang mati di hari mengadakan pendamaian

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 16:8-19 [ITB])
8 dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi TUHAN dan sebuah bagi Azazel.
9 Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi TUHAN itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa.
10 Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan TUHAN untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun.
11 Harun harus mempersembahkan lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya; ia harus menyembelih lembu jantan itu.
12 Dan ia harus mengambil perbaraan berisi penuh bara api dari atas mezbah yang di hadapan TUHAN, serta serangkup penuh ukupan dari wangi-wangian yang digiling sampai halus, lalu membawanya masuk ke belakang tabir. 13 Kemudian ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian yang di atas hukum Allah, supaya ia jangan mati.
14 Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali.
15 Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah itu seperti yang diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikkannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu.
16 Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.
17 Seorangpun tidak boleh hadir di dalam Kemah Pertemuan, bila Harun masuk untuk mengadakan pendamaian di tempat kudus, sampai ia keluar, setelah mengadakan pendamaian baginya sendiri, bagi keluarganya dan bagi seluruh jemaah orang Israel.
18 Kemudian haruslah ia pergi ke luar ke mezbah yang ada di hadapan TUHAN, dan mengadakan pendamaian bagi mezbah itu. Ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan dan dari darah domba jantan itu dan membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya. 19 Kemudian ia harus memercikkan sedikit dari darah itu ke mezbah itu dengan jarinya tujuh kali dan mentahirkan serta menguduskannya dari segala kenajisan orang Israel.

Imamat 16 menjelaskan prosedur ritual pengorbanan di hari mengadakan pendamaian, ini adalah satu tahu satu kali hari mengadakan pendamaian, hal yang paling penting dalam ritual ini melibatkan dua ekor kambing jantan, imam akan membuang undi (cast lots) atas dua ekor kambing jantan ini, agar Allah yang menentukan kambing jantan mana yang dipersembahkan mati sebagai korban penghapus dosa, mana yang akan hidup-hidup dilepaskan ke padang gurun. Ayat 16:8 menjelaskan adalah kambing jantan yang diundi mati dipersembahkan untuk TUHAN, kambing jantan yang diundi hidup adalah untuk Azazel. Hari ini kita akan merenungkan kambing jantan yang diundi mati, dan besok kita akan merenungkan kambing jantan yang hidup.

Seperti Imamat pasal 4 tentang korban penghapus dosa, demikian juga darah kambing jantan melalui tata cara darah untuk menahirkan tempat kudus atas semua dosa dan kecemaran kenajisan umat Israel (16:16), ritual tata cara penggunaan darah (16:18-19) secara dasarnya sama dengan yang dijelaskan di Imamat 4. Namun, Imamat 16:12-15 mencatat peraturan persembahan korban penghapus dosa yang tidak disebutkan dalam Imamat 4, yakni tentang imam setahun sekali di hari mengadakan pendamaian akan memasuki Ruang Mahakudus, pertama-tama ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian agar imam tidak bisa langsung melihat tabut perjanjian, untuk menjamin keselamatan imam. Kemudian imam harus harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas di bagian muka dan ke depan tutup pendamaian tujuh kali, lalu dengan jarinya memercikkan darah kambing jantan korban penghapus dosa ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu tujuh kali, yang merupakan salah satu tata cara ritual penggunaan darah yang paling mendalam, menahirkan membersihkan tempat kudus terdalam, menghapuskan noda dosa yang terdalam.

Kata tutup pendamaian berasal dari kata kĭppěr, seperti yang dijelaskan dalam renungan Imamat 1:2-9 (2), kata kĭppěr memiliki makna suci kudus dan mengadakan pendamaian, tetapi ketika digunakan pada tutup pendamaian maka kata kĭppěr juga memiliki makna penutup (cover), oleh karena itu takhta pendamaian terdapat dua kerub yang terbuat dari emas murni, kedua kerub ini merentangkan sayapnya untuk menutupi tabut perjanjian, melambangkan takhta hadirat penyertaan Allah, dan juga menghubungkan tabut perjanjian, melambangkan Perjanjian yang dibuat Allah dengan umat Israel. Dengan demikian, tutup pendamaian / takhta pendamaian yang dalam bahasa Inggris mercy seat tidak ada kaitan secara langsung dengan konsep mercy belas kasih kemurahan, dan sulit bagi para peneliti untuk menerjemahkan kata ini. Namun, tutup pendamaian / takhta pendamaian terkait dengan takhta kehadiran Allah, dan juga terkait perjanjian antara Allah dan umat-Nya, yang juga merupakan inti iman kitab Imamat, inti yang harus dilaksanakan setahun sekali mendapatkan penahiran, untuk memastikan kehadiran penyertaan kekal Allah.

Renungkan:
Dengan demikian, darah kambing jantan yang mati membawa kita ke inti iman: kehadiran penyertaan dan perjanjian. Allah hadir di tempat maha kudus, dan tabut perjanjian di tempat maha kudus melambangkan perjanjian antara Allah dan manusia. Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus adalah kambing jantan yang mati itu. Darah-Nya membawa kita ke hadirat penyertaan dan perjanjian Allah. Dia membersihkan tempat kudus dengan darah-Nya, memungkinkan setiap penyembah mengalami berkat hadirat penyertaan Allah selamanya. Kita juga telah mengalami keselamatan dalam perjanjian kekal. Di hadapan domba yang mati ini, kita hanya bisa mengucap syukur berterima kasih, dan tidak melupakan anugerah Allah ini!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 25:10-22

「Tabut Perjanjian dan Takhta Mulia」

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 25:10-22 [ITB])
10 Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. 11 Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya.
12 Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua.
13 Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. 14 Haruslah engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut. 15 Kayu pengusung itu haruslah tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya.
16 Dalam tabut itu haruslah kautaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu.
17 Juga engkau harus membuat tutup pendamaian dari emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya.
18 Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. 19 Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. 20 Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu.
21 Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu.
22 Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.

Pembangunan Tabernakel, pertama-tama dibicarakan tentang Tabut Perjanjian, ini merupakan satu-satunya instrumen ritual yang ditempatkan di ruang maha kudus, menjelaskan status dan kepentingannya yang sakral. Tabut perjanjian dibagi menjadi tiga bagian: (1) tabut itu sendiri, (2) tutup pendamaian, dan (3) kerub.

Tabut perjanjian itu sendiri adalah kotak kayu persegi panjang yang terbuat dari kayu penaga (kayu akasia), bagian luar dan dalamnya disalut dengan emas murni yang berharga. Tabut ini bentuknya sederhana dan berukuran kecil, panjangnya sekitar 122 cm, lebar 76 cm, dan tinggi 76 cm (dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya). Di sisi atas ada bingkai emas sekelilingnya, empat gelang emas pada keempat kaki, kedua sisi terdapat kayu pengusung yang disalut dengan emas, kayu pengusung terpasang untuk mengangkut memindahkan tabut.

Bagian atas tabut perjanjian adalah tutup pendamaian, yang panjang dan lebarnya sama dengan tabut, sebagai penutup atas tabut. Tutup pendamaian juga dapat diartikan sebagai takhta pendamaian, setiap tahun pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh adalah hari Pendamaian, imam besar akan memasuki tempat maha kudus untuk mengadakan pendamaian di depan tabut perjanjian (Imamat 16:15-16).

Di atas tutup pendamaian (takhta pendamaian), ada dua kerub, malaikat Allah, terbuat dari emas murni. Kedua kerub itu terhubung satu sama lain di kedua ujung takhta pendamaian, yang menunjukkan bahwa mereka bekerja sama untuk menyelesaikan tugas dari Allah. Kedua kerub itu melebarkan sayapnya tinggi-tinggi dan dalam postur terbang, yang melambangkan tindakan cepat dan jarak tak terbatas. Kedua kerub itu muka menghadap ke arah tutup pendamaian, menunjukkan bahwa mereka mengabdikan diri untuk melayani dan tidak ada yang bisa mengganggu.

Renungkan:
(1) Takhta dan tumpuan kaki: kemuliaan Allah dinyatakan pada tutup pendamaian, setara dengan takhta-Nya, dan tabut perjanjian adalah tumpuan kaki-Nya. TUHAN adalah Raja Agung, dari sini Ia memberi perintah dan memerintah Kerajaan.

(2) Tinggi melampaui (transenden) dan datang dekat: Allah ada di surga, dan kemuliaan-Nya melebihi langit. Tetapi Ia rela meninggalkan kemuliaan, datang di antara manusia. Kemuliaan-Nya antara kedua kerub di tutup pendamaian. Ini adalah manifestasi konkret yang paling nyata dari penyertaan kehadiran TUHAN terhadap umat-Nya.

(3) Kemuliaan dan sederhana: tabut perjanjian dari kayu akasia disalut emas, emas murni simbol kemuliaan Allah, tetapi bentuk yang sederhana, menjelaskan bahwa tidak ada apa pun yang dapat menambah kemuliaan Allah.

(4) Hukum dan kasih karunia: di atas tabut perjanjian ada tutup pendamaian yang melambangkan penebusan dan keselamatan, dan di dalam tabut perjanjian ada kedua loh yang mewakili hukum Taurat Allah. Keduanya dianugerahkan oleh Allah, berada di kedalaman tempat maha kudus, mereka menunjukkan sifat suci Allah, inti dari iman dan etika.

(5) Ibadah penyembahan dan wahyu penyataan: tabut perjanjian dan takhta pendamaian adalah tempat di mana Allah dan manusia bertemu. Takhta pendamaian juga merupakan tempat Allah mengungkapkan dan menyatakan wahyu kebenaran, Musa sering masuk datang ke hadapan takhta pendamaian tabut perjanjian untuk mendapatkan makanan rohani dan membagikannya kepada umat-Nya.


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 19-40 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.