Tag Archives: Kitab Imamat

Imamat 19:33-37

Kamu dahulu juga orang asing di tanah Mesir

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 19:33-37 [ITB])
33 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. 34 Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir;
Akulah Allah, Allahmu.
35 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan, mengenai ukuran, timbangan dan sukatan. 36 Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu pakai;
Akulah Allah, Allahmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir.
37 Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu;
Akulah Allah.

Imamat 19:33-37 dapat dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama adalah ayat 19:33-34, topiknya tentang peraturan bagi orang asing yang tinggal di negeri itu, bagian kedua adalah ayat 19:35-36, topiknya adalah tentang peradilan dan ukuran timbangan yang benar dan adil. Terakhir ayat 37 adalah kalimat penutup, sekali lagi meminta umat Israel untuk mematuhi semua hukum dan peraturan TUHAN, dan menjelaskan bahwa alasan ketaatan adalah Akulah TUHAN.

Pada bagian pertama (19:33-34) menyatakan bahwa jika ada orang asing (gēr) yang tinggal (gûr) di antara orang Israel (tinggal bersama), orang Israel harus memperlakukan mereka seperti penduduk negeri ini. Mengapa orang Israel harus memperlakukan mereka seperti diri mereka sendiri? Ayat 34 memberikan dua alasan: (1) karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; (2) Akulah TUHAN ── Allahmu. Orang Israel harus memperlakukan orang asing seperti diri mereka sendiri, karena orang Israel sendiri pernah menjadi sekelompok pendatang di tanah Mesir. Di Mesir mereka telah ditindas oleh penduduk setempat, bekerja keras, dan bahkan anak laki-laki mereka yang baru lahir dibunuh, sepatutnya mereka paham bagaimana perasaan menjadi orang yang tertindas, oleh karena itu, bangsa Israel lebih memiliki syarat untuk memahami mengapa penindasan yang sama tidak boleh dikenakan kepada orang lain. Ini menjadi dasar bagi mereka untuk mengasihi orang asing seperti dirinya sendiri. Sama seperti kita adalah orang berdosa, kita pernah berada tertindas dalam dosa, kita harus lebih bisa mengerti orang-orang di sekitar kita yang melakukan kesalahan dan memberi mereka kesempatan untuk memperbarui.

Pada bagian kedua (19:35-36) menunjukkan bahwa harus adil benar dalam peradilan dan ukuran timbangan, dalam ayat 36 kata sifat keadilan kebenaran (ṣěděq) ini muncul berulang kali (ITB sebagai yang betul), menunjuk orang Israel harus menggunakan neraca, batu timbangan, efa dan hin yang adil benar. Apa arti dari adil benar? Menurut pengertian teks sebelumnya di atas, adil benar termasuk tidak memperlakukan menyimpang bias terhadap orang lain, baik itu orang asing maupun orang dalam negeri, semua harus diperlakukan dengan ukuran, timbangan dan sukatan yang sama. Ayat 35 juga menyatakan bahwa harus ada kebenaran dalam hal peradilan, dalam bahasa aslinya, peradilan ini mengacu pada bertindak sesuai dengan hukum, yang melibatkan penghakiman bersalah atau tidak (lihat NASB diterjemahkan sebagai judgement), keputusan hakim tidak boleh dipengaruhi apapun karena identitas dan status pihak lain. Dengan demikian, umat Israel dapat menghidupi kesaksian umat anugerah, dan agar dunia melihat adil benar dimanifestasikan di dunia pada zaman (generasi) yang tidak adil.

Renungkan:
Bagaimana prinsip memperlakukan orang asing seperti diri Anda sendiri membantu Anda memahami bagaimana memperlakukan pembantu rumah tangga asing dan imigran baru dalam keluarga Anda? Akankah kita memperlakukan pihak lain sebagai warga negara yang lebih rendah karena mereka adalah orang asing? Di sini, kita harus memahami bahwa kita mungkin pernah hidup di tempat asing, dan kita dapat memahami secara mendalam betapa tidak nyamannya ditindas, dan kita tidak akan pernah memberikan penderitaan yang sama kepada orang lain lagi. Dan apakah Anda bersedia mengasihi orang asing seperti diri sendiri?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 19:28-29

Jangan melakukan perbudakan dan persundalan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 19:28-29 [ITB])
28 Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu;
Akulah Allah.
29 Janganlah engkau merusak kesucian anakmu perempuan dengan menjadikan dia perempuan sundal, supaya negeri itu jangan melakukan persundalan, sehingga negeri itu penuh dengan perbuatan mesum.

Larangan Imamat 19:28-29 membawakan semacam perlindungan bagi orang.

Pertama-tama, kalimat asli Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati, dalam bahasa aslinya tidak ada kata orang mati, terjemahan literal dari bahasa aslinya adalah janganlah menggores yang hidup, yang kamu berikan kepada dagingmu, mengingatkan kita pada ritual para nabi Baal waktu menyembah Baal (1 Raj. 18, … barangkali ia tidur, dan belum terjaga. Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak), jadi ayat ini terutama melarang penyembahan berhala, menunjukkan bahwa orang-orang Israel tidak boleh berpartisipasi dalam penyembahan dewa asing. Ritual pemujaan Baal semacam ini adalah memakai cara melukai tubuh sendiri untuk membangunkan Baal yang sedang tidur. Ini juga merupakan bentuk penghinaan terhadap tubuh dan penghinaan terhadap kodrat manusia, oleh karena itu hukum Allah melarangnya.

Kedua, janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu agak sulit untuk dipahami. Jacob Milgrom berpendapat bahwa ayat ini harus dipahami dalam sistem budak. Di Timur Dekat kuno, jika seseorang dijual sebagai budak, ia harus ditato di tubuh menunjukkan bahwa orang tersebut milik tuan tertentu. Dengan demikian, larangan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu adalah larangan terhadap orang Israel menjadi budak, itu berlaku untuk budaya dan latar belakang perbudakan pada saat itu. [1] Oleh karena itu, sebenarnya larangan ini adalah mencegah memperlakukan orang Israel sebagai budak. Perbudakan mengubah karakter seseorang menjadi benda milik seseorang, merupakan penyangkalan sifat manusia. Larangan ini menentang perbudakan, tujuannya adalah untuk membuat orang Israel menjadi orang merdeka dan menjalani kemanusiaan yang layak.

Ketiga, Imamat 19:28 terdapat Akulah Allah, menjelaskan alasan mengapa orang Israel harus mematuhi larangan ini bukan karena faktor sosial dan politik lainnya, tetapi karena TUHAN adalah Allah Israel, Dia mengharapkan Israel untuk menghidupi kekudusan-Nya (Im. 19:2), dengan mematuhi larangan ini memasukkan kekudusan Allah ke dalam umat Israel. Karena itu, ketika orang-orang Israel tidak berpartisipasi dalam penyembahan dewa-dewa asing dan tidak menjadikan saudara-saudara mereka sebagai budak, mereka dapat menghidupi sebagai umat kudus.

Imamat 19:29 memerintahkan semua ayah untuk tidak menjadikan putrinya menjadi perempuan sundal, karena ayah yang ingin mendapat keuntungan membuat putrinya menjadi alat untuk mencari uang. Ayat ini mengatakan bahwa aktivitas pelacuran adalah kejahatan besar, kejahatan besar ini mengacu pada fakta bahwa ayah menjadikan putrinya menjadi budak seks demi mendapatkan keuntungan, dan kejahatan besar juga mengacu pada percabulan yang dibawa oleh pelacuran. Dua kejahatan besar ini membuat negeri itu najis, dan pada saat yang sama membuat manusia menjadi benda, menjadi budak seks dan alat.

Renungkan:
Hukum Allah adalah untuk melindungi kodrat manusia. Sebenarnya, kita sekarang ini mungkin tidak begitu buruk menyembah Baal atau menjadikan orang budak dan pelacur, tetapi apakah kita memperlakukan orang lain dan karyawan kita sebagai budak serta hanya alat untuk menghasilkan uang? Apakah kita tanpa sadar memandang orang-orang di sekitar kita sebagai alat / benda? Mohon Tuhan membantu kita menghayati menghidupi kemanusiaan yang diharapkan oleh hukum Allah.

[1] Jacob Milgrom, Leviticus 17-22, Anchor Bible 3A (New York: Doubleday, 2000), 1694-5.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 19:18, 34

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 19:18, 34 [ITB])
18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu,
melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri;
Akulah Allah.
34 Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu,
kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir;
Akulah Allah, Allahmu.

Bagi penulis Imamat, kasih bukanlah perasaan, tetapi tindakan yang dapat diperintahkan, dan keputusan tekad untuk mematuhi perintah. Kasih adalah motivasi utama dalam mematuhi semua hukum Allah, dan itu juga merupakan ekspresi konkret dari hormat takut dan mengasihi Allah.

Imamat 19:18 dan 34 adalah ringkasan perintah kepada umat Israel untuk mematuhi Peraturan Kekudusan, menunjukkan bahwa kasih adalah poin utama dari semua hukum. Ayat 19:18 adalah terhadap sesama orang sebangsa, sedangkan 19:34 adalah terhadap orang asing yang menumpang tinggal.

Terhadap sesama sebangsa, ayat 19:18 dengan jelas menyatakan bahwa harus memperlakukan orang lain seperti mengasihi diri sendiri, dan ayat 16-17 adalah tindakan kasih yang spesifik, termasuk janganlah menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah mengancam hidup sesamamu manusia; janganlah membenci saudaramu di dalam hatimu; ini adalah ekspresi kasih, tetapi ayat 17 juga menjelaskan harus berterus terang menegur orang sesamamu, tetapi kata orang sesamamu (‘ămîtěkā) di ayat 17 ini berbeda dengan sesamamu manusia (rēa’) di ayat 18, yang pertama menekankan persahabatan yang lebih dalam (YLT sebagai fellow), hanya persahabatan yang lebih dalam yang dapat saling mengasihi menggunakan berterus terang menegur, sedangkan yang kedua adalah relasi sesama yang lebih umum (YLT sebagai neighbour); hubungan ini ada yang dekat dan jauh. Dengan demikian, mengasihi sesama seperti diri sendiri untuk sesama yang secara umum, tentu saja itu juga mencakup sesama yang sifatnya teman akrab, dan teman-teman yang akrab ini harus lebih mendalam menggunakan terus terang menegur untuk mencapai tujuan mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Mengenai orang asing yang menumpang tinggal, ayat 19:34 dengan jelas menyatakan bahwa orang asing ini harus diperlakukan sebagai penduduk setempat. Bila orang Israel memperlakukan orang asing ini secara adil dan membuang prasangka, itu sama dengan memasukkan mereka ke dalam kategori warga sebangsanya sendiri (19:18), kasihilah mereka seperti sesamamu. Oleh karena itu, ayat 34 sebenarnya adalah perpanjangan mengasihi sesama seperti diri sendiri yang diperluas terhadap orang asing, melindungi mereka dari penindasan.

Renungkan:
Kasih adalah sikap hidup dan keputusan. Keputusan ini menyatakan bahwa tidak peduli seberapa tidak patut dikasihinya orang asing, tetapi tidak akan berhenti berbagi kasih karena kualitas orang lain. Dalam Alkitab, kasih tidak pernah merupakan kata perasaan, tetapi perintah, bukan masukan pendapat yang bisa dilakukan atau tidak, tetapi tuntutan kudus, untuk meningkatkan ranah iman kita, kebenaran menghidupi iman dengan cara mengasihi. Ketika orang-orang Israel mengasihi, itu menjadi tanda yang membedakan dari bangsa-bangsa lain, menunjukkan bahwa bahkan jika beberapa orang di zaman Timur Dekat kuno dianggap sebagai kelompok yang hilang, mereka tetap dapat menemukan kasih ilahi di antara umat perjanjian ini. Dan kita, apakah saya, Anda memiliki kasih ini?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 19:13-15

Menjamin keadilan sosial

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 19:13-15 [ITB])
Akulah Allah.
13 Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.
14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu;
Akulah Allah.
15 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. 16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia;
Akulah Allah.

Imamat 19:13-15 membahas tentang keadilan sosial. Dalam hal ini, Allah memerintahkan umat-Nya untuk menaati hukum-hukum ini agar mereka menjadi umat kudus.

Ayat 13 menyatakan bahwa tidak boleh menindas sesamamu, dan tidak boleh merampas barang sesamamu. Hukum ini diyakini diberikan kepada orang kaya dan tuan tanah, karena mereka ini memiliki kemampuan untuk menindas orang lain, dan kekayaan mereka mungkin juga berasal dari merampas tetangga mereka. Bagaimana perampasan ini terjadi? Jawabannya adalah menunda atau menelan upah pekerja harian. Oleh karena itu, ayat 13b mengajukan tuntutan serius untuk tidak menahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya, tuntutan ini bahkan lebih tinggi dari aturan Departemen Tenaga Kerja Hongkong masa ini (tempat penulis renungan berada).

Ayat 14 menyebutkan dua jenis orang, yang satu tuli dan yang lainnya buta. Kedua jenis orang ini adalah kelompok yang kurang beruntung dalam masyarakat, dan banyak orang akan menggunakan kelemahan mereka untuk mempermainkan mereka. Dalam ayat 14 diwajibkan untuk tidak mengutuk orang tuli, karena orang tuli tidak dapat mendengar isi kutukan, dan karena itu tidak dapat menanggapi isi kutukan; Ayat 14 juga menuntut agar jangan meletakkan batu sandungan di depan orang buta, karena orang buta tidak dapat melihat batu sandungan di depannya, sehingga ia tersandung jatuh. Kedua tuntutan ini mencerminkan bahwa beberapa orang mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain pada saat itu, itu adalah dilarang oleh hukum Allah. Tentu saja, orang tuli dan orang buta merupakan contoh perumpamaan atas semua orang yang lemah, kelemahan mereka sering dimanfaatkan dan diserang oleh orang lain, dan mereka membutuhkan perlindungan hukum.

Ayat 15 mengacu pada tuntutan untuk peradilan dan hakim. Mereka tidak boleh bias memihak orang miskin atau menghargai orang yang berkuasa. Artinya penilaian mereka sepenuhnya bergantung pada keadilan dan prinsip-prinsip hukum, dan bukan melihat siapa dia. Bukan untuk menyenangkan siapa pun, agar keadilan kebenaran Allah ada dalam kelompok umat Allah. Praktik bias mendukung yang miskin mungkin didasarkan pada belas kasihan pada orang miskin, tetapi mengasihani orang miskin tidak berarti bahwa orang miskin selalu berdiri di sisi keadilan, kadang-kadang orang miskin bisa menggunakan kemiskinan mereka untuk menutupi kesalahan mereka, sehingga ayat 15 adalah untuk mencegah ketidakadilan dalam hal ini. Bias menghargai orang-orang yang berkuasa adalah relasi kepentingan interes pribadi, mereka yang melakukan ini untuk menyenangkan orang-orang yang berkuasa agar memperoleh keuntungan atau kemudahan, takut jika orang-orang kuat itu dihukum bisa menimbulkan masalah bagi diri mereka sendiri. Oleh karena itu, hukum di ayat 15 di samping mencegah kepentingan interes pribadi, juga menuntut hakim untuk berani mengadili secara adil.

Renungkan:
Ketiga peraturan ini membawa keadilan bagi masyarakat. Dalam menghadapi orang-orang yang kurang beruntung, kita tidak boleh menindas mereka, dan kita tidak boleh menggunakan kelemahan orang lain untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Kita tidak boleh melihat orang dalam peradilan, dan hendaknya memperjuangkan keadilan untuk dimanifestasikan di bumi. Apakah kita bersedia untuk membawa keadilan bagi yang kurang beruntung? Ketika kita menilai sesuatu, bagaimana agar kita tidak melihat orang agar tidak bias? Apakah kita mengorbankan tuntutan keadilan demi menyenangkan orang lain?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 19:9-10

Janganlah kausabit ladangmu habis sampai ke tepi

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 19:9-10 [ITB])
9 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. 10 Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah Allah, Allahmu.

Imamat 19 terletak di pusat antara pasal 18 sampai pasal 20, kemarin sudah dibicarakan bahwa pusat bagian kunci dari pasal 19 ada di ayat 19:2, menunjukkan bahwa segenap jemaah Israel harus menjadi kudus, karena Allah itu kudus pada dirinya sendiri. Di bawah kerangka teologis menjadi kudus ini, perintah-perintah dalam Imamat 19 menunjukkan tindakan-tindakan konkret untuk mencapai tujuan menjadi suci. Dengan demikian, menjadi suci bukan lagi konsep abstrak, tetapi tujuan konkret yang dapat dicapai dengan mematuhi perintah.

Imamat 19:9 memulai serangkaian tuntutan moral tentang keadilan sosial, dan Imamat 19:9-10 menjelaskan bagaimana pemilik tanah mengejar kekudusan dalam memperhatikan memelihara orang miskin dan orang asing. Ayat 9 menginstruksikan para pemilik tanah ini untuk tidak menyabit ladang habis sampai ke tepinya saat memanen tanaman, artinya mereka harus menyisakan sebagian panen, dan mereka tidak dapat menghasilkan semua pendapatan yang seharusnya ada, dan tidak memungut apa yang ketinggalan dari penuaian. Memandang hasil tanam di sudut-sudut ladang dan yang jatuh di tanah sebagai meninggalkan kesempatan bagi orang lain untuk bertahan hidup. Dalam ayat 10, pemilik kebun anggur juga diperintahkan untuk tidak memungut buah anggur yang jatuh di kebun anggur, alasannya sama seperti pada ayat 9, untuk tidak mengambil habis semua keuntungan, tetapi meninggalkannya kepada orang miskin dan pendatang.

Menurut penelitian beberapa sarjana, orang miskin dan orang asing ini tidak akan bertahan tanpa kemurahan hati pemilik tanah yang proaktif, mereka adalah kelompok yang diabaikan dalam masyarakat, dan merupakan komunitas yang kurang beruntung. Oleh karena itu, perintah dalam Imamat 19:9-10 memberikan jaminan sosial kepada kelompok masyarakat ini, menegaskan hak mereka untuk bertahan hidup, dan juga memastikan bahwa mereka dapat memperoleh makanan. Ini adalah hukum mencintai sesama (Im. 19:18).

Bagi tuan tanah, mengapa mereka harus meninggalkan sudut-sudut ladang dan apa yang ketinggalan kepada orang miskin dan orang asing? Di sini tidak menjelaskan dari sudut pandang tuan tanah adalah karena kasih, atau orang miskin dan orang asing berharga, juga tidak menjelaskan motif belas kasihan, tetapi karena fakta bahwa Akulah TUHAN, Allahmu (Im. 19:10). Pemilik tanah Israel adalah umat Allah, dan TUHAN adalah Allah mereka, mereka harus hormat takut akan Allah. Dalam hubungan perjanjian dengan Allah, tuan tanah Israel tidak punya pilihan selain mematuhi kuasa kedaulatan Allah dan melindungi kelangsungan hidup orang miskin serta orang asing. Oleh karena itu, dasar perintah dalam Imamat 19:9-10 adalah bahwa Akulah TUHAN, Allahmu. Hanya pemilik tanah yang kudus, akan hormat takut akan Allah dan menaati Allah, merekalah yang tidak akan menyabit ladang habis sampai ke tepinya sebagai tanda cara mengelola tanah untuk menunjukkan bahwa TUHAN adalah Allah mereka.

Renungkan:
Menghadapi orang miskin dan pendatang menumpang tinggal, terutama pembantu rumah tangga dan tetangga Anda, apakah Anda telah menyisakan sebagian keuangan untuk membantu mereka? Jika Anda dapat melakukan ini, Anda akan memulai jalan pengudusan dan memiliki bagian dalam kekudusan Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 19:1-2

Kuduslah kamu

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 19:1-2 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 「Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, Allah, Allahmu, kudus.

Imamat 19:2 adalah pusat pemikiran dari seluruh Peraturan Kekudusan / Holiness Code (Imamat 17-27). Terjemahan literal adalah Kamu harus berbicara kepada seluruh jemaat umat Israel, kamu juga harus mengatakan kepada mereka: kamu sekalian harus menjadi yang kudus, karena Aku TUHAN, Allah kamu sekalian, adalah Kudus.

Pertama-tama, kitab suci menggunakan kata-kata segenap jemaah Israel, mereka dan Allah kamu sekalian untuk menunjukkan bahwa perintah ini adalah perintah kolektif (perintah yang bersifat komunitas). Pihak yang dituntut untuk kudus bukan hanya para imam atau orang Lewi, pelayan-pelayan tugas suci ini memang harus kudus, tetapi jemaat tidak boleh membenarkan kenajisan mereka sendiri karena kekudusan orang-orang tersebut, seseorang pernah berkata Jangan gunakan kriteria hamba Tuhan untuk menuntut saya! Tetapi pernyataan ini tidak dapat lulus uji, karena tuntutan kekudusan adalah untuk semua umat Allah juga ditujukan kepada Anda hari ini. Lebih jauh, ayat Alkitab menyatakan bahwa TUHAN adalah Allahmu, Dia bukan Allah milik golongan orang tertentu, tetapi Allah dari seluruh komunitas umat, TUHAN memiliki hubungan perjanjian yang tidak dapat dipatahkan dengan umat Israel secara keseluruhan, dan identitas orang Israel terikat pada-Nya. Oleh karena itu, tanpa Allah, tidak akan ada orang Israel, alasannya sederhana seperti itu. Oleh karena itu, berdasarkan hubungan perjanjian ini, kekudusan adalah tuntutan Allah kepada seluruh komunitas umat.

Kedua, inti dari keseluruhan adalah Kuduslah kamu. Perintah ini lebih abstrak, karena dalam hal tuntutan kekudusan sering kali orang hanya teringat akan kekudusan moral, sekadar memenuhi tuntutan kekudusan moral dalam perilaku seksual (Imamat 18 dan 20) dan keadilan sosial (Im. 19). Perilaku moral ini penting, tetapi itu bukan definisi kekudusan sejati. Untuk memahami alasan dan definisi di balik tuntutan kekudusan, kita harus melihat alasan yang diberikan oleh Allah: sebab Aku, Allah, Allahmu, kudus Di sini tidak dikatakan bahwa kekudusan akan membawa manfaat apa pun bagi orang-orang, juga tidak menganjurkan mempertahankan nilai inti tertentu, dan tidak mengejar kekudusan demi menjaga kelangsungan diri. Alasan umat Allah harus menjadi kudus adalah karena Allah yang mereka percaya adalah kudus. Paling tidak kita harus memperhatikan dua hal: (1) Pengertian kekudusan itu sendiri berkaitan dengan esensi Allah. Para ahli berpendapat bahwa pengertian kekudusan adalah secara utuh memasuki watak dan ranah ilahi, dan oleh karena itu tidak dapat didefinisikan dengan apa pun di dunia, itu dapat didefinisikan oleh esensi Allah; (2) Ketika orang Israel menjadi kudus, itu berarti mereka berbagi watak Allah. Para ahli menyebut situasi ini meneladani Allah (imitatio Dei), yaitu ketika orang Israel merealisasikan mempraktikkan berbagai aturan moral dan menjaga kekudusan dalam gaya hidup mereka, mereka dapat berbagi watak Allah dan membuat dunia melihat Allah di belakang mereka.

Renungkan:
Hari ini Allah memerintahkan umat-Nya untuk menjadi kudus, ini bukan usul pendapat tentang hidup, tetapi perintah yang harus dipatuhi. Perintah itu sendiri menuntut umat Allah untuk berbagi watak Allah, karena Allah dan umat itu sendiri memiliki hubungan perjanjian. Ketika umat Allah itu kudus, mereka bisa disebut bangsa yang kudus. Apakah hidup Anda juga memiliki watak Allah? Dapatkah orang lain menemukan cahaya kemuliaan ilahi dalam diri Anda? Mulai hari ini, mari kita meneladani kekudusan Allah dan agar orang melihat Allah yang tidak terlihat di dalam diri kita.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 18:24-30

Janganlah kamu menajiskan dirimu

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 18:24-30 [ITB])
24 Janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu, sebab dengan semuanya itu bangsa-bangsa yang akan Kuhalaukan dari depanmu telah menjadi najis. 25 Negeri itu telah menjadi najis dan Aku telah membalaskan kesalahannya kepadanya, sehingga negeri itu memuntahkan penduduknya.
26 Tetapi kamu ini haruslah tetap berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku dan jangan melakukan sesuatupun dari segala kekejian itu, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, 27 karena segala kekejian itu telah dilakukan oleh penghuni negeri yang sebelum kamu, sehingga negeri itu sudah menjadi najis, 28 supaya kamu jangan dimuntahkan oleh negeri itu, apabila kamu menajiskannya, seperti telah dimuntahkannya bangsa yang sebelum kamu.
29 Karena setiap orang yang melakukan sesuatupun dari segala kekejian itu, orang itu harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya. 30 Dengan demikian kamu harus tetap berpegang pada kewajibanmu terhadap Aku, dan jangan kamu melakukan sesuatu dari kebiasaan yang keji itu, yang dilakukan sebelum kamu, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu;
Akulah Allah, Allahmu.

Imamat 18:24-30 adalah akhir dari pasal 18, membentuk awal dan akhir yang saling menggemakan dengan Imamat 18:1-5, keduanya menjelaskan alasan mengapa umat Allah harus mematuhi aturan hukum Allah. Alasan yang disebutkan dalam Imamat 18:1-5 adalah bahwa umat Allah harus berbeda dari bangsa-bangsa, tidak boleh mengikuti kebiasaan orang Kanaan yang jahat, dan alasan yang disebutkan dalam Imamat 18:24-30 juga terkait dengan orang Kanaan, tetapi lebih dari itu di sini menjelaskan bahwa orang Kanaan tidak dapat tinggal di Kanaan terkait dengan kebiasaan kejahatan mereka.

Imamat 18:24, 30 terdapat frasa menajiskan diri, merupakan pesan utama dari seluruh paragraf, yang menunjukkan bahwa umat Israel tidak boleh menajiskan diri mereka sendiri karena kebiasaan jahat orang Kanaan. Kemudian, penulis Imamat mengajukan bukti alasan, ayat 24 menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang sebelumnya tinggal di tanah Kanaan sebelum orang Israel datang, mereka menajiskan diri karena kebiasaan jahat, sehingga seluruh tanah najis (ayat 25), sehingga tanah itu memuntahkan mereka keluar. Semua peneliti sepakat bahwa memuntahkan berarti ditawan atau dibuang (diusir), yaitu karena orang Kanaan sendiri menajiskan diri mereka di tanah Kanaan, sehingga mereka juga membuat tanah itu menjadi najis, dan tanah seperti manusia akan memuntahkan keluar yang najis, tidak tahan jika orang-orang ini tinggal di atasnya, jadi mereka diizinkan diusir keluar oleh orang Israel, ini adalah dari kata dimuntahkan.

Sekarang, Imamat 18:24-30 dengan jelas menggunakan fakta bahwa orang Kanaan dimuntahkan itu sebagai peringatan kepada orang Israel, memperingatkan mereka untuk tidak berpuas diri karena mampu mengusir orang Kanaan. Jika orang Israel mengikuti orang Kanaan, ikut menajiskan diri melakukan segala macam kejahatan mereka, maka mereka akan dimuntahkan seperti orang Kanaan. Oleh karena itu, orang Israel harus belajar peringatan dari penghuni negeri yang sebelum kamu, sehingga negeri itu sudah menjadi najis (ayat 27). Tidak boleh melakukan sesuatu pun dari segala kekejian itu, karena ini bukan hanya perkara dosa satu individu pribadi, tetapi juga menyangkut kesejahteraan dan nasib komunitas. Dalam Kitab Imamat, semua dosa memiliki pengaruh kolektif terhadap komunitas.

Oleh karena itu, ayat 29 dengan jelas menyatakan bahwa barang siapa pun melakukan salah satu kekejian itu, ia harus dilenyapkan dari masyarakat. Pemusnahan bukanlah hukuman mati, tetapi memandang bahwa orang ini tidak lagi memiliki bagian dengan umat perjanjian, sehingga dia tidak lagi menjadi anggota umat perjanjian, agar dia tidak dapat mempengaruhi ketenteraman sejahtera komunitas itu di tanah itu. Dengan demikian, kejahatan seksual yang disebutkan dalam Imamat 18:7-23 adalah praktik jahat yang dilakukan oleh orang Kanaan, dan orang Israel tidak boleh melakukannya. Jika ada yang melakukan praktik kekejian ini, mereka harus ditangani dengan serius, agar komunitas dan tanah itu jangan dinajiskan. Ini mencerminkan keseriusan dan sifat kolektif dosa, dan kekudusan moral sangat penting dalam pandangan Peraturan Kekudusan / Holiness Code (Imamat pasal 17-27).

Renungkan:
Sering kali kita berbuat dosa karena kita meremehkan akibat dosa dan juga mengabaikan sifat kolektif dari dosa. Kita berpikir bahwa dosa hanya memiliki pengaruh pribadi. Apalagi dalam dunia individualisme, kita sering kurang komitmen dan tanggung jawab kepada orang lain. Kita menggunakan alasan satu orang yang melakukan, satu orang yang menanggung untuk membuat kejahatan terlihat remeh. Siapa tahu ini sangat mempengaruhi kekudusan seluruh komunitas, tidak dapat menjalani cara hidup yang seharusnya dimiliki oleh umat anugerah. Mulai hari ini dan seterusnya, kita bertobat secara mendalam dari semua dosa, mengenali konsekuensi dosa, dan memutuskan memiliki cara hidup berbeda dari dunia dan tidak menajiskan diri oleh kejahatan.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 18:7-23

Kekudusan dalam seksualitas

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 18:7-23 [ITB])
6 Siapapun di antaramu janganlah menghampiri seorang kerabatnya yang terdekat untuk menyingkapkan auratnya;
Akulah Allah.
7 Janganlah kausingkapkan aurat isteri ayahmu, karena ia hak ayahmu;
………dia ibumu, jadi janganlah singkapkan auratnya.
8 Janganlah kausingkapkan aurat seorang isteri ayahmu,
………karena ia hak ayahmu.
9 Mengenai aurat saudaramu perempuan, anak ayahmu atau anak ibumu, baik yang lahir di rumah ayahmu maupun yang lahir di luar, janganlah kausingkapkan auratnya.
10 Mengenai aurat anak perempuan dari anakmu laki-laki atau anakmu perempuan, janganlah kausingkapkan auratnya,
………karena dengan begitu engkau menodai keturunanmu.
11 Mengenai aurat anak perempuan dari seorang isteri ayahmu, yang lahir pada ayahmu sendiri, janganlah kausingkapkan auratnya,
………karena ia saudaramu perempuan.
12 Janganlah kausingkapkan aurat saudara perempuan ayahmu,
………karena ia kerabat ayahmu.
13 Janganlah kausingkapkan aurat saudara perempuan ibumu,
………karena ia kerabat ibumu.
14 Janganlah kausingkapkan aurat isteri saudara laki-laki ayahmu, janganlah kauhampiri isterinya,
………karena ia isteri saudara ayahmu.
15 Janganlah kausingkapkan aurat menantumu perempuan,
………karena ia isteri anakmu laki-laki, maka janganlah kausingkapkan auratnya.
16 Janganlah kausingkapkan aurat isteri saudaramu laki-laki,
………karena itu hak saudaramu laki-laki.
17 Janganlah kausingkapkan aurat seorang perempuan dan anaknya perempuan.
Janganlah kauambil anak perempuan dari anaknya laki-laki atau dari anaknya perempuan untuk menyingkapkan auratnya,
………karena mereka adalah kerabatmu; itulah perbuatan mesum.
18 Janganlah kauambil seorang perempuan sebagai madu kakaknya untuk menyingkapkan auratnya di samping kakaknya selama kakaknya itu masih hidup.
19 Janganlah kauhampiri seorang perempuan pada waktu cemar kainnya yang menajiskan untuk menyingkapkan auratnya.
20 Dan janganlah engkau bersetubuh dengan isteri sesamamu, sehingga engkau menjadi najis dengan dia.
21 Janganlah kauserahkan seorang dari anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh,
supaya jangan engkau melanggar kekudusan nama Allahmu;
Akulah Allah.
22 Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan,
………karena itu suatu kekejian.
23 Janganlah engkau berkelamin dengan binatang apapun,
………sehingga engkau menjadi najis dengan binatang itu.
Seorang perempuan janganlah berdiri di depan seekor binatang untuk berkelamin,
………karena itu suatu perbuatan keji.

Imamat 18:1-6 dan Imamat 18:24-30 adalah bingkai depan dan belakang yang mengapit di Imamat 18:7-23. Bingkai depan dan belakang ini memimpin konsep teologis dalam Imamat 18:7-23 dan menjelaskan mengapa orang Israel harus menaati perintah Allah, dan penulisan bingkai depan dan belakang ini adalah tertuju kepada jemaat Allah (congregation), ayat-ayat ini sering menggunakan kamu sebagai tujuan dari firman ini, dan target penulisan Imamat 18:7-23 adalah tertuju kepada laki-laki individu (individual), deskripsi perempuan dalam ayat 23 adalah aturan tambahan. Ayat-ayat tersebut sering menggunakan kata kamu maskulin sebagai targetnya. Dari segi konten, Imamat 18:7-23 mencatat larangan perilaku seksual, yang terutama dibagi menjadi dua paragraf: 18:7-19 dan 18:20-23, yang keduanya ditujukan untuk perilaku seksual pria dewasa di Israel. Paragraf pertama adalah hubungan antara orang dan kerabat, paragraf terakhir adalah hubungan antara non-kerabat.

Kata-kata dan format yang paling sering digunakan dalam Imamat 18:6-23 adalah janganlah kausingkapkan aurat XX, ini jelas mengacu pada perilaku seksual, menunjukkan bahwa pria dewasa dilarang berhubungan seks dengan orang-orang itu. Kata lain yang sering digunakan adalah kerabat (שְׁאֵר sheh-ayr’, flesh / sedaging 18:6, 12, 13, 17), menjelaskan tidak diperbolehkan berhubungan seks dengan kerabat. Kenyataannya, hasrat seksual adalah hasrat yang sangat kuat, terlebih dahulu perlu dihilangkan perilaku seksual dengan kerabat (sedaging), dan dengan sekuat tenaga menjelaskan bahwa perilaku tersebut harus dilarang dalam ketetapan aturan, agar tidak menyebabkan kerusakan serius dalam relasi hubungan. Intinya laki-laki hanya boleh berhubungan seks dengan istrinya, yang merupakan prinsip dasar dari semua ketetapan larangan tersebut. Selanjutnya seluruh perikop 18:7-17 ditulis dari sudut pandang laki-laki, karena pada zaman itu dalam masyarakat patriark, integritas laki-laki dalam seks menjamin integritas perempuan dalam seks, maka Alkitab hanya mewakili dari perspektif laki-laki.

Mengenai larangan non-kerabat (18:18-23), terutama ditujukan untuk keharmonisan dan stabilitas masyarakat, karena dalam masyarakat patriark, status perempuan relatif rendah, dan mereka perlu dilindungi oleh hukum, agar mereka terlindungi dari pelecehan secara seksual oleh laki-laki. Hukum adalah untuk melindungi yang kurang beruntung dari penindasan oleh orang lain. Larangan-larangan ini termasuk tidak mengizinkan anak-anak dibakar dipersembahkan kepada Molokh (18:21), perilaku homoseksual (18:22), dan perilaku seksual kebinatangan (18:23). Ketiganya adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan mempersembahkan anak sebagai korban adalah menghujat menista Allah (18:21), perilaku homoseksual sesama jenis adalah kekejian (18:22), dan perilaku seksual dengan binatang adalah hal yang memberontak (18:23), semua ini lebih serius daripada kejahatan seksual sebelumnya dan harus dilarang hukum agar umat pilihan Allah dapat menghayati menghidupi kekudusan moral.

Renungkan:
Allah menciptakan sistem pernikahan satu pria dan satu wanita, satu suami dan satu istri selama seumur hidup, dengan tujuan agar umat Allah menjaga kehidupan kudus dalam perilaku seksual. 「Seks」 bukanlah sesuatu yang najis, itu adalah hadiah yang diberikan oleh Allah berdasarkan hubungan perjanjian antara suami dan istri. Namun, jika seseorang secara sewenang-wenang berhubungan seks dengan orang lain yang bukan pasangan perjanjiannya, Allah akan menganggapnya sebagai kejahatan besar dan kekejian, karena akan sangat merusak hubungan suami istri dan membawa kerugian besar dalam hubungan manusia. Hukum Allah dibuat untuk melindungi manusia dari bahaya semacam ini, dan pada saat yang sama menjadi kewaspadaan untuk dijaga oleh masyarakat. Bagaimana cara Anda mengatasi hasrat seksual Anda? Apakah Anda memiliki hubungan terlalu dekat (baik secara emosional atau fisik) dengan orang yang bukan pasangan perjanjian Anda? Berdoa memohon agar Allah memampukan kita untuk tetap kudus dan menjalani cara hidup yang seharusnya dimiliki umat perjanjian.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 18:1-5 (2)

Jangan meniru perilaku mereka

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 18:1-5 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 「Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Akulah Allah, Allahmu.
3 Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu;
janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka.
4 Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu;
Akulah Allah, Allahmu.
5 Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya;
Akulah Allah.

Sebagaimana dinyatakan dalam renungan kemarin, Imamat 18:1-5 menjelaskan bahwa orang Israel harus mematuhi ketetapan aturan dalam pasal 18 – 20 adalah karena dua alasan: (1) Karena Akulah TUHAN, Allahmu (Im. 18:2, 5); (2) Karena harus ada perbedaan dari bangsa-bangsa lain (Im. 18:3-5). Hari ini, kita akan merenungkan alasan kedua.

Imamat 18:3 menunjukkan bahwa ada dua jenis orang yang perilakunya tidak boleh diikuti oleh orang Israel, yang pertama adalah orang Mesir, yang kedua adalah orang Kanaan, yang pertama adalah bangsa di awal perjalanan Keluaran, dan yang terakhir adalah bangsa di akhir perjalanan Keluaran. Baik itu awal atau akhir perjalanan, baik itu Mesir tempat mereka keluar atau Kanaan tempat yang mereka masuki, orang Israel tidak boleh meniru mengikuti perilaku orang-orang di sana.

Orang Israel tidak boleh meniru mengikuti perilaku orang Mesir, tuntutan ini menunjukkan bahwa orang Israel tidak boleh lagi merindukan cara mereka hidup di Mesir. Di jalan belantara, orang Israel akan menghadapi kesulitan. Kesulitan-kesulitan ini akan dengan mudah membuat mereka mengingat apa yang dahulu mereka hidupi dan merasa itu lebih indah, melihat ke belakang seperti ini menyebabkan mereka bersungut-sungut kepada Allah dan melakukan dosa yang serius terhadap Allah. Oleh karena itu, apa pun kesulitan yang dihadapi orang Israel di masa depan, mereka tidak boleh melihat ke belakang pada masa lalu, dan selalu percaya bahwa jalan di depan adalah TUHAN persiapkan untuk mereka, dan bertekad untuk melepaskan cara hidup dalam perbudakan di Mesir dan merangkul masa depan yang telah TUHAN siapkan untuk mereka.

Orang Israel tidak boleh meniru orang Kanaan. Orang-orang Israel akan mewarisi tanah perjanjian. Penduduk asli tanah ini memiliki kebiasaan jahat, semua kebiasaan jahat ini akan mencari kesempatan untuk mengasimilasi orang-orang Israel dan mencegah mereka menjalani cara hidup yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang perjanjian. Intensitas kekuatan asimilasi ini jauh lebih kuat daripada kerinduan dan melihat kembali kehidupan Mesir, karena orang Israel mau tidak mau hidup dengan penduduk setempat dan berada di bawah berbagai tekanan dari budaya dan cara hidup setempat, sehingga mereka tidak bisa menghidupi cara kehidupan kudus di antara orang-orang itu. Oleh karena itu, Imamat 18:3 meminta umat Israel untuk tidak meniru perilaku penduduk setempat agar membedakan mereka dari orang-orang itu, sehingga pemisahan gaya hidup mereka akan menjadi kesaksian penduduk setempat, sehingga mereka dapat memahami seperti apa gaya hidup umat Allah.

Apa sebenarnya perilaku orang Mesir dan Kanaan? Mungkin kita dapat menyimpulkan perilaku mereka berdasarkan rincian yang dijelaskan dalam Imamat 18:6-23. Ini termasuk berhubungan seks dengan kerabat sedarah (Im. 18:6-18), berhubungan seks dengan seorang wanita selama menstruasi (Im. 18:19), berhubungan seks dengan istri orang lain (Im. 18:20), dan anak dipersembahkan sebagai korban bakaran (Im. 18:21), perilaku seksual sesama jenis (Im. 18:22) dan perilaku seksual dengan binatang (Im. 18:23). Perilaku-perilaku ini adalah kejahatan berat, dosa besar (Im. 18:17), kekejian (Im. 18:22), dan perbuatan keji (Im. 18:23). Oleh karena itu, orang Israel tidak boleh meniru perilaku tersebut, sehingga mereka dapat dipisahkan dari orang-orang itu dan menjalani kehidupan yang kudus.

Renungkan:
Dunia yang kita tinggali ini penuh dengan kejahatan, hal-hal yang keji, dan hal-hal yang memberontak Allah. Akankah kita sebagai orang Kristen meniru perilaku dunia sehingga kita tidak dapat menghayati menghidupi kualitas-kualitas suci? Apakah Anda berani hidup berbeda dari orang-orang? Ketika Anda menghadapi tekanan kelompok dalam masyarakat, apakah Anda bersedia untuk tetap berpegang pada garis dasar Kekristenan?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 18:1-5

Akulah TUHAN, Allahmu

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 18:1-5 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 「Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Akulah Allah, Allahmu.
3 Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu;
janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka.
4 Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu;
Akulah Allah, Allahmu.
5 Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya;
Akulah Allah.

Imamat pasal 18 dan pasal 20 sangat mirip dalam struktur sastra, kata-kata dan topik, umumnya memandang kedua pasal ini sebagai di bagian akhir menggemakan bagian awal, menekankan pasal 19 yang ada di tengah (struktur chiastik). Ayat kunci dari Peraturan Kekudusan (Holiness Code) adalah Im.19:2, ayat kunci ini tepat berada di pasal 19 dan mendominasi teologi dalam Imamat pasal 17-27. Dalam beberapa hari ke depan, kita akan merenungkan ayat-ayat dari Imamat pasal 18 – pasal 20 satu per satu, yang merupakan, pusat pemikiran dari seluruh Peraturan Kekudusan.

Imamat pasal 18 dan pasal 20 adalah peraturan yang diwajibkan bagi orang Israel. Sebagian besar merupakan peraturan terkait moral perilaku seksual, secara rinci menetapkan pria Israel tidak boleh berhubungan seksual dengan orang-orang yang tersebut, sehingga orang Israel dapat menjadi umat kudus, menyingkirkan segala kenajisan moral. Sebelum peraturan ini mulai dijabarkan, penulis Imamat menulis ayat 18:1-5 yang merupakan ayat yang sangat penting, lima ayat ini menjelaskan mengapa orang Israel harus mematuhi peraturan moral ini karena dua alasan: (1) Karena Akulah TUHAN, Allahmu (Im. 18:2, 5); (2) Karena harus ada perbedaan dari bangsa-bangsa lain (Im. 18:3-5). Hari ini kita akan merenungkan alasan pertama, dan besok kita akan merenungkan alasan kedua.

Imamat 18:2-5 adalah apa yang Allah katakan kepada Musa, dimulai dengan Akulah TUHAN, Allahmu (ayat 2) dan diakhiri dengan Akulah TUHAN (ayat 5). TUHAN memakai awal dan akhir yang saling bergema Akulah TUHAN untuk menjelaskan mengapa orang Israel harus mematuhi peraturan moral tentang perilaku seksual ini bukan karena peraturan ini dapat membantu mereka menghindari nasib buruk, atau karena mereka dapat mempertahankan nilai keluarga, dan bukan karena mereka bisa mendapat manfaat ekonomi, atau stabilitas hubungan, tetapi adalah karena alasan teologis Akulah TUHAN. Sebutan Akulah TUHAN menunjukkan bahwa kedudukan TUHAN di hati orang Israel haruslah menempati posisi paling tinggi, alasan mengapa mereka harus menaati perintah Allah bukan hanya karena perintah itu sendiri baik untuk mereka, tetapi juga karena pemberi perintah aturan ini adalah TUHAN sendiri, Allah mereka, Allah ini membuat perjanjian yang tidak dapat dipisahkan dengan orang Israel, ini adalah perjanjian yang kekal. Hanya karena terdapat hubungan perjanjian antara satu sama lain, maka secara alami merupakan alasan mengapa orang Israel mematuhi peraturan.

Oleh karena itu, ketika mereka mendengar suara Akulah TUHAN, seolah-olah mereka mendengar suara Raja yang mengeluarkan perintah, orang Israel tidak boleh mengurangi perintah ini menjadi sebuah masukan pendapat, karena ini adalah perkataan ilahi yang dikeluarkan oleh Raja agung.

Renungkan:
Apakah Anda menghormati menaati perintah Allah? Apakah perkataan Anda kepada Akulah TUHAN, Allahmu membawa penghormatan tertinggi? Sering kali, kita menutup mata terhadap firman Allah, dan ketika dihadapkan dengan begitu banyak kode moral di masyarakat yang kelihatannya seperti ya namun sebenarnya tidak, kita malah terlalu banyak berkompromi dan mengabaikan tuntutan kekudusan dan perintah kudus. Mulai hari ini dan seterusnya, saya memohon kepada Allah agar membantu saya memiliki hati yang menghormati Allah, mengakui bahwa saya adalah umat pilihan Allah, dan saya tidak dapat memiliki pilihan lain ketika menghadapi perintah Allah, karena saya memiliki perjanjian kekal dengan Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.